Disaster Day

Disaster Day

Author : Jojen (@jeanrahma)

Blog : twelfasdfghjkl.wordpress.com

Genre : School life, Comedy (kayaknya juga garing -_-) , -little bit- romance

Length : Oneshoot

Rating : Teen

Cast : Kimball Cho (OC), Hyeora Kwang (OC), Kim Joon Myeon or Suho, Park Chanyeol, Do Kyungsoo

 

-________________-

Aku remas kertas ulanganku. Antara kesal, ingin mengamuk, dan khawatir bercampur menjadi satu di dadaku.

Aku heran, kenapa ada anak sengotot dia mesti jadi teman satu ekskulku. Parahnya, malah satu tim denganku.

Dengan muka ala-ala tanpa dosa, dia lambaikan tangannya di jendela. Tak lama, dia tonjolkan kepalanya dengan cengiran penuh kebahagiaan. Tak tahu kenapa senyumnya sebahagia itu; mungkin bahagia karena guru pada ulangan kimia-ku kali ini adalah Pak Suhotriawan.

Dari lambaian tangan dan WATADOS-nya itu, aku tau dia bermaksud menyuruhku keluar kelas.

Kupelototkan mataku seperti Deddy Corbuzier dan kugertakkan gigiku seperti singa yang mengamuk karena mangsa yang keburu diambil hewan lain, dan kuacungkan pensilku padanya. Kuisyaratkan dia untuk ‘berhenti-melakukan-hal-bodoh-seperti-itu-atau-akan-kutusuk-kau-dengan-pensilku-ini’.

Aku yakin dia pasti mengerti maksudku yang sebenarnya alih-alih dari ancaman konyolku itu.

Dasar mantan ondel-ondel Dufan! (?) Udah tau gurunya model Pak Ho begini, masih nekad menyuruhku keluar. Memang benar-benar tidak ber peri ke-Kimball Cho-an! Eh, maksudnya ber peri-kemanusiaan.

Aku kembali menekuni kertas ulanganku, berusaha sok antusias dengan soal-soal mematikan hasil ciptaan Pak Ho ini. Lebih tepatnya, agar Kyungsoo segera mengerti bahwa aku harus menyelesaikan soal-soal ini dengan konsentrasi penuh tanpa ada gangguan dari orang lain. Alih-alih mengerti maksudku, wajah amit-amit itu masih menclok di jendela persis burung gelatiknya A.T. Mahmud. Gimana mau konsentrasi, coba?!

Diam-diam, kulirik cowok feminin itu. Berharap si pemilik mata yang lebih besar dibanding kacamata nerd ala Harry Potter yang dipakainya itu sudah dibawa lari oleh angin puting beliung-nya Sehun (?).

TET TOT!

ANDA SALAH BESAR!

Ternyata anak keras kepala itu masih tetap disitu. Eh, malah pasang tampang garang kayak Mpok Nori. Aku terkikik geli karena wajah polos Kyungsoo benar-benar mirip Mpok Nori, bukan hanya ekspresinya yang mirip, tapi caranya memelotkan matanya yang seperti Deddy Corbuzier keselek biji durian, hihihi… *gak nyambung*

“Ehm!”

Dehaman Pak Ho melonjakkan dudukku dan membuatku menjatuhkan pensilku seperti Valentino Rossi yang menyodok tukang nasi goreng dengan motornya dalam kecepatan tinggi tanpa sengaja. Dan ibaratkan saja aku adalah tukang nasi goreng itu.

Aku langsung mengambil pensilku yang jatuh dan segera mencoret-coret kertas coretanku asal. Argh! Pasti kikikanku nyelonong tanpa permisi ke telinga Pak Ho. Memang nggak sopan banget sih, dan aku tau diri. Bilang assalamualaikum dulu kek, punten kek, excuse me kek, annyeong haseyo dulu kek, kakek-kakek lagi encok kek…

ASDFGHZJREHGFRTYUIOIUYTRFG! Hye sialan! Ia menginjak kakiku penuh semangat ’45 tanpa rasa bersalah dan mengakibatkan penderitaan bagiku untuk yang kesekian kalinya hari ini. Hampir saja aku berteriak seperti Tarzan yang sedang loncat dari pohon yang satu ke pohon yang lain. Untung saja aku ingat kalau ini sedang ulangan pelajaran KIMIA!

Sebenarnya, bukan pelajarannya yang menjadi soal. Tapi, GURUNYA itu loh! Meski sudah berumur sekitar 30 lebih, kemudaan tetap tersirat di wajahnya. Putih, kinclong kayak baju habis dicuci pakai So Klin campur formalin. Dan wajahnya itu asli! Benar-benar menunjukkan sikap orang yang lemah lembut, baik, de el el. Bukan wajah ala-ala guru killer gitu,lah.

Lha, bagus dong kalau gurunya kayak gitu?

Ganteng sih ganteng, wajah juga ala-ala malaikat gitu, cuman… hatinya kayak ALGOJO broh! Jika kau berani menantangnya dengan tertawa saat ulangan, berbicara saat pelajaran, dan mendapat nilai kurang dari 70 untuk ulangannya⎼ siap-siap saja merelakan lehermu di meja untuk dieksekusi oleh golok kepunyaan Bang Jali (?)

Sebalnya lagi, kenapa mesti ada manusia kayak Einstein yang menemukan rumus-rumus rumit seperti ini? Eh, bener nggak ya, Einstein? Atau Archimides? Yang jelas nama mereka sama-sama SUSAH! Yang satu harus menekukkan lidah, yang satu harus melibatkan rongga hidung.

Dan coba kita analisis sama-sama; kenapa mereka begitu peduli dengan jumlah molekul udara, dan tentang kekekalan energi? Remaja zaman sekarang saja mungkin bakal lebih peduli sama harga tas di Mangga 2.

Kulirik untuk yang kesekian kalinya jendela yang bisa jadi eksekusi algojo ulanganku itu. ARFGKJHBNKHBHJOLKNH! Ini anak! Udah ngotot, matanya malah dipelototin lagi.

Kemudian dia menirukan gaya Pak Ho setiap marah-marah dengan menunjuk-nunjuk sambil memonyongkan mulutnya seperti Angry Bird salah fokus. Tangan satunya dia kacakkan di pinggangnya. Ya Tuhan, bantulah aku. Tahan tawamu, Cho… tahan… ASDFGHJKL! Kyungsoo lebih mirip ibu-ibu PKK lagi demo harga cabai yang naik drastis daripada marah-marahnya Pak Ho!

GUBRAK!!!

Eh, copot! Aku berlatah dalam hati. Itu suara pintu dibanting.

Tidak bisa dibilang dibanting juga sih. Kalau dibanting, berarti pintunya dilepas dulu lalu dihempaskan ke lantai seperti orang yudo, kan? Nah berarti yang benar adalah daun pintu yang ditutup secara kasar!

Tersadarlah aku dari celetukan-celetukan yang berseliweran di dalam otakku; ternyata Pak Ho-lah yang telah membuat emak-emak jadian pengganggu tadi ngacir.

Dan inilah saatnya algojo beraksi.

Mata Pak Ho mulai berpatroli seperti kamtib lagi razia. Dan mata itu siap meluncur (emang album lagu) dan menggelinding betulan! Dan nggak tau apa karena sebentar lagi masa liburan sekolah, jadinya beli satu gratis 29 pasang, yang artinya bukan cuma aku yang dapat bagian; tapi juga seluruh siswa di kelasku.

GREK!

Suara penggaris yang dihantamkan ke meja mulai terdengar keras di penjuru kelas dan membuat semua anak spontan menunduk.

Hal yang membuat penggaris tercinta Pak Ho harus ‘berteriak’ ternyata adalah suara riuh tawa gara-gara ulah pelawak dadakan tadi. Ya, siapa lagi coba kalau bukan Doni Kyungsutriwawan?

Dan suara riuh tawa tadi, kini tergantikan oleh suara jangkrik.

“Sudah tau ulangan masih sempat-sempatnya tertawa! Siapa yang kalian lihat disana tadi, hah?!”

Sepi. Yap, benar-benar kuburan dadakan di sekolah.

Aku memilin-milin ujung rokku, berusaha menghilangkan segenap perasaan gelisah dan takut di dadaku.

Hyeora kembali menyepak tumitku. WHAT THE?!? Memangnya aku bola apa?! Tapi ternyata bukan hanya Hyeora yang menyepak tumitku, tapi juga mata seluruh teman-teman sekelas yang menyepaki wajahku. Mereka semua tahu kepada siapa pantomim Kyungsoo ditujukan.

“JAWAB!”

Semua murid menundukkan wajahnya.

“Ternyata kalian lebih mementingkan ondel-ondel Dufan daripada ulangan kalian, HAH?!?”

Lho, kok julukan Pak Ho untuk Kyungsoo sama sepertiku? ._.

Meski menunduk, kami dapat membayangkan apa yang terjadi dengan wajah angelic-nya Pak Kim Suhotriawan. Rahangnya tegang dengan alis yang ditekuk ke bawah semakin seperti ingin memberikan dorongan pada matanya yang siap meluncur bagaikan pesawat Challenger. Bibir seksinya mengerucut seperti cone es krim.

“Oke… baiklah. BAIK!”

Pak Ho manggut-manggut seperti orang dugem sambil berjalan mondar-mandir. Mulutnya menyunggingkan sebuah senyuman, eh bukan senyuman ding, tepatnya adalah seringai licik.

“Bapak hitung sampai tiga!” tegasnya, “jika tidak ada yang mau menjawab…”

Hening.

“Jangan salahkan bapak…”

Tentu aja mesti menyalahkan bapak.

“Kalau nilai kimia kalian di rapor…”

Seratus ya, Pak? Bapak ganteng deh.

“Bapak beri nilai…”

Tujuh lima deh, Pak… please

“TIGA!” Pak Ho menyeringai puas.

ASDFGQWERTYUJBVBN! Lima puluh deh pak…

“Bagaimana?” Pak Ho mulai mengitari tempat duduk kami.

Dalam hitungan dua limaaaaa aja pak…

“Tidak ada yang berani? Baik. BAIK.”

Hitungan sepuluh Pak, sepuluh. Peliiiiiisssssss deh pak…

“Baiklah. SATU!”

RTYUIOPLOKJHG! Mati aku!

“DUA….!”

“Kamu tega mengorbankan teman-temanmu, Cho? Keterlaluan! Lebih baik jisatsu daripada tidak jujur!”

Apa?! Eomma menyuruhku bunuh diri agar menghilangkan malu kayak orang-orang Jepang itu?! Eh, kenapa suara Eomma terdengar di telingaku?

“TIIII…”

PENGECUT!”

Suara Aboji! Suara Aboji memecut punggungku hingga tanpa sadari aku berdiri.

“WAWAN, PAK!”

“KYUNGSOO, PAK!”

Lho, kok suaranya jadi ada dua gini?

Jantungku langsung bekerja dua kali lebih keras setelah kutengok sumber suara itu; si Paijo Abdul Chanyeol?! Ngapain dia ikut-ikutan?!

Orang yang selama ini sudah membuat jantungku berdegup keras ketika melihatnya, kini ikut-ikutan membelaku? Emm… mungkin lebih tepatnya ikut menanggung hukuman yang akan diterima teman-teman.

“Wawan siapa, Kyungsoo siapa?! Jangan permainkan bapak, kalian ya!”

“Maksudnya si Doni Kyungsutriwawan anak dua IPA tiga itu pak,” Chanyeol berucap seraya menengok ke arahku. Aku langsung menunduk pasrah; takut wajahku yang memanas terlihat olehnya.

Kulihat Hyeora mengedipkan sebelah matanya padaku dan berdeham kecil. Apa gara-gara angin puting beliung Sehun tadi makanya dia jadi kelilipan sama batuk-batuk gitu? Aku berdecak kesal karena olokannya.

“Wawan yang culun itu?”

“Iya, Pak.” Aku mulai bersuara. Pak Ho hanya manggut-manggut seperti orang dugem (lagi).

“Sekarang kalian maju! Bawa kertas ulangan kalian!”

Aku dan Chanyeol segera maju ke depan. Kurasakan peluhku mulai jatuh dan membasahi kertas ulangan Kimia-ku yang lecek.

Pak Ho mengambil kertas ulangan ku dan Paijo⎼ ehm maksudku Chanyeol secara kasar. Dia acung-acungkan kertas ulangan itu.

“BAIK. HANYA KERTAS ULANGAN INI YANG BAPAK NILAI! Yang lain, silahkan buang kertas ulangan kalian di tong sampah! TIDAK ADA ULANGAN SUSULAN!”

Aku dan Chanyeol saling berpandangan secara spontan. DAFUQ?!? Bisa-bisa besok di sekolah⎼ atau pulangan ini⎼ aku akan dapat eksekusi dari teman-teman sekelas! Oh no!

“TERIMAKASIH, DAN WASSALAM BUAT ULANGAN KALIAN!”

Setelah Pak Ho mencambuk meja dengan penggaris kesayangannya, Pak Ho segera keluar kelas dan memberikan penyiksaan bagi properti kelas kami yang lain; pintu yang ditutup secara keras untuk kedua kalinya hari ini.

Aku dan Chanyeol menganga berkepanjangan. Sebelum air liurku membanjiri kelas ini, segera kukejar Pak Ho yang kembali ke ruang guru. TEGANYA, TEGANYA, TEGANYA!

Saat itu ruang guru sedang kosong karena hampir semua guru sedang mengajar. Jadi, mudah saja untuk menemukan tempat duduk Pak Ho. Pak Ho sedang duduk sambil membaca buku kimia. Aku pun menghampiri mejanya ragu.

Saat aku menghampiri mejanya dengan nafas memburu, tiba-tiba kurasakan ada orang disebelahku. Dan dari sudut mataku, dia adalah Chanyeol.

Paijo?! Kayak hantu aja dia, langsung berada tepat disebelahku tanpa kulihat? Bagaimana bisa dia melewati eagle eyes-ku?!?

JojoJoesonghamnida, Songsaenim. Maafkan kami.”

Aku menengok Chanyeol. Kulihat dia menaikkan sebelah alisnya seperti mengatakan, ‘bukannya-aku-tidak-terlibat-kenapa-kau-mengungkitkan-padaku-juga’. Aku segera mengkoreksi kalimatku.

“Ehm… maksud saya maafkan saya, Pak. Saya tau saya telah mengacaukan ulangan kali ini.”

Pak Ho tetap terdiam. Ia melirik melalui celah-celah bukunya. Dia turunkan bukunya dan menutupnya kasar.

Chanyeol tetap bersikap cool meski napasnya patah-patah sepertiku. Tak ada rasa takut atau gugup dalam ekspresi wajahnya. Ia mulai bersuara.

“Maaf jika kami dan teman-teman sekelas telah menentang kebijaksanaan Songsaenim, seharusnya kami lebih patuh lagi.” Chanyeol dengan suara cool-nya menjawab. Mengapa suaranya⎼ bahkan badannya tidak bergemetar sepertiku?

“Tidak perlu banyak basa-basi. Apa mau kalian?”

“Menurut saya… tidak tepat jika teman-teman sekelas yang harus menanggung semua akibatnya.”

Pak Ho tergelitik. “Mau jadi pahlawan kamu ternyata, ya?”

Mau dong pak. Siapa sih yang di dunia ini nggak mau jadi pahlawan?

“Tidak, Pak. Ka…kami…”

“Seharusnya saya yang patut menanggung hukuman Bapak.” Aku mulai bersuara. Akhirnya aku menghadapi wajah ganteng garang Pak Ho.

“Oh, ternyata kamu juga ingin menjadi pahlawan kesiangan rupanya?”

“Ti…tidak Pak! Saya memang harus mendapatkannya karena saya penyebabnya.”

Pak Ho tetap terdiam. Matanya yang sipit semakin membuat bola matanya tak terlihat lagi ketika dia menatap sinis padaku dan Chanyeol.

“Ja…jadi Kyungsoo datang ke kelas saya itu bermaksud memberitahu saya ada pasien di UKS. Hari ini saya memang seharusnya kebagian piket, tapi saya ingin mengikuti ulangan dulu. Karena itu Kyungsoo mencari saya. Maafkan saya, Pak.”

Pak Ho mulai mengutuhkan keberadaan bola matanya yang sempat tenggelam setelah dia sipitkan hingga setengah inci. Mungkin karena ekspresiku yang memelas atau bagaimana, suaranya dia turunkan hingga 4 oktaf⎼ oh, mungkin terlalu berlebihan juga. Lebih tepatnya, dia melunakkan caranya berbicara pada kami.

“Bukannya ada dispensasi khusus untuk PMR?”

“Iya sih, Pak. Tapi saya ingin mengikuti ulangan dulu sehingga saya tidak mengambil dispensasi itu.”

Secara tiba-tiba, Pak Ho melonjak dari tempat duduknya dan mendorong aku dan Chanyeol menuju pintu ruang guru. Pak Ho tersenyum riang sambil mengacakkan kedua tangannya di pinggang.

“Sudah, sudah, sana! Kesehatan pasien yang nomor satu!”

Gamsahamnida, Songsaenim, Chanyeol-ssi” Aku membungkukkan badan pada Pak Ho dan Chanyeol. Pak Ho pun tersenyum dan menutup pintu ruang guru yang sesejuk Kutub Utara; beda sekali dengan kelasku yang sepanas wilayah Mesir. Chanyeol masih berdiri di depan pintu; seperti memikirkan sesuatu.

Aku hampir saja lari cepat ke UKS sebelum aku ingat;

Nasib ulangan kimianya begimana? ._.

Aku dan Chanyeol segera membuka pintu ruang guru yang baru saja ditutup oleh Pak Ho berbarengan. Pak Ho menengok spontan.

“Lalu bagaimana dengan ulangannya, Pak?”

“Diundur minggu depan! Tenang saja!” Pak Ho tersenyum riang menampakkan deretan gigi-giginya yang putih. Aduh, bisa-bisa langsung meleleh daku melihat dikau begitu, Pak Suhotriwawan.

Tiba-tiba saja kurasakan lagu We Are The Champion-nya Queen mengalun di telingaku. Yes! Algojo tak akan menghampiriku lagi!

Aku dan Chanyeol yang berada di ambang pintu langsung menghampiri beliau dan langsung menciumi tangannya.

“Terimakasih, Pak! Bapak yang the best, deh! Bapak baik deh! Gamsahamnida, Gamsahamnida! Cup…cup…cup!”

“Eits… apa-apaan kalian?! Sudah sana!”

“Baik!”

Aku pun langsung melesat meninggalkan Chanyeol menuju ruang UKS. Saaaat…. melesat lebih cepat daripada sapu terbangnya Harry Potter, apalagi angin puting beliung-nya Sehun (?)

Akhirnya sampai juga aku di depan pintu UKS. Saat kutengok ke dalam…

Sunyi. Sepi.

ASDFGHJIUYWERTYUJNBVCXSWERTGYH! Kemana si Wawan sialan itu?! Enak saja mempermainkanku seenak udel bodong-nya! Aku pun menendang tong sampah depan ruang UKS. Mungkin terlalu berlebihan sih, tapi, dia sudah menimbulkan bencana bagiku hari ini dan mempermainkanku setelahnya?!

“Eh…eh…eh! Baru aja dapat rejeki setahun sekali dari Pak Ho malah marah-marah. Santai dikit, Mbak!”

“Chanyeol?! Kau ini penguntit atau apa sih?!” Aku mendecak kesal. Udah tau bikin orang jantungan, tetap saja begitu.

“Bukan apa-apa. Masalahnya, kau kelihatan kacau sekali. Seperti habis kerja kuli aja, hahaha.” Chanyeol segera mengacungkan kaca kecil tepat di depan wajahku. What? Cowok macam-macam bad boy kayak dia, bawa hal beginian? Geez.

Kulihat penampilanku di depan kaca. Memang benar apa yang dikatakannya. Peluh dimana-mana, rambut berantakan, poni arahnya kemana-kemana seperti ditiup angin puting beliung-nya Sehun (?) *ini lagi ini lagi*. Spontan aku membuka kuncir rambutku dan kurapikan rambutku.

“Hahaha… benar, kan? Kau dan Kyungsoo memang serasi, yang satu kayak tukang bangunan saking penampilannya nggak keruan, yang satu kayak Ibu PKK gara-gara cerewetnya minta ampun. Ckckck.”

Aku menatap sinis padanya. Cih, dasar sok perfek.

“Tapi jika kau memang kuli bangunan, mungkin cuma kamu kuli bangunan paling cantik yang pernah kulihat.”

Tiba-tiba kurasakan pipiku memanas. Geez, demi apa dia menggombaliku seperti itu?! Kuharap semburat malu di wajahku tak terlihat. Eh, tapi memang ada kuli bangunan diprofesikan oleh perempuan?

“Aku curiga mantanmu dulu macam-macam kuli bangunan juga makanya kamu berkata begitu.”

Chanyeol menjitak kepalaku pelan. Segera dia gandeng tanganku. Kurasakan jantungku mulai berdegup kencang lagi. Aku melawan sekuat tenaga. “Lepaskan atau kau…”

“Kenapa? Ayo kita ke kantin. Mungkin es coklat bisa menetralkan wajahmu yang memerah, hahaha.”

Tak tahu mengapa aku menjadi terdiam; benar-benar seperti hewan yang telah dijinakkan oleh pawang. Aku menatapnya sinis; lebih tepatnya penuh kecurigaan.

“Kenapa? Kau pikir aku main-main? Mari kubuktikan.”

Chanyeol mendekati wajahku dan menempelkan bibirnya di bibirku sekilas. Aku tersentak kaget. Chanyeol mulai kabur berlari menuju ke arah kantin.

“Dasar Paijoooo!”

Aku pun mengejarnya. Astogeh! Bagaimana bisa jantungku dugem mendadak begini? Aku tak dapat menahan senyumku. Yah, mungkin memang benar, ulangan kimia hari ini tidak sepenuhnya bencana bagiku. What a wonderful day!

-___________-

Dari dinding luar ruangan UKS, terlihat seorang lelaki berkacamata bulat persis Harry Potter menunduk dengan ekspresi tak keruan⎼atau lebih tepatnya memelas. Dia tarik napas panjang untuk kesekian kalinya. What a disaster day…

Pecahan hati yang tak terlihat mulai jatuh ke tanah. Kyungsoo memukul dinding di belakangnya. Aku bodoh….

Flashback Start

Terdengar langkah kaki berderap lantang di lantai satu tempat ruang UKS juga berada. Kyungsoo dapat menebak langkah kaki terburu-buru siapa yang dia dengar. Setelah bercermin sebentar dan merapikan penampilannya yang dia anggap kece (tapi memble), dia segera bersembunyi di balik pintu UKS.

Cho dengan nafas patah-patahnya mulai menengok ke dalam ruang UKS. Matanya terbelalak karena tak ada seorang pun di dalam. “Wawan sialan! Tau begini aku tidak perlu capek-capek berkorban! Arrggh!”

Kyungsoo tersenyum puas karena tau rencananya berhasil. Sesaat kemudian, terdengar bunyi tong sampah terjatuh. Pasti Cho menendangnya, hihihi. Dasar gadis pemarah. Baiklah, saatnya aku keluar…

“Eh…eh…eh! Baru aja dapat rejeki setahun sekali dari Pak Ho malah marah-marah. Santai dikit, Mbak!”

Suara lelaki? Siapa dia?

Kyungsoo segera menghentikan langkahnya yang hampir keluar dari balik pintu. Dia pun bersembunyi lagi dan menengok dari celah pintu. Chanyeol?! Kok dia…

Setelah mereka berbincang dan pergi menjauh dari UKS, Kyungsoo keluar dan bersembunyi di balik dinding luar ruangan UKS. Dilihatnya Chanyeol mengecup bibir Cho sekilas. What the?!

Tiba-tiba pecahan-pecahan hati Kyungsoo mulai jatuh ke tanah dan menghancurkan segalanya.

-Flashback End

Kyungsoo terduduk lemas dan menyembunyikan matanya yang memanas di balik kedua kakinya. Saranghaeyo, Cho…

END

A/N : Anyyeong semua! ‘-‘)/ Gimana dengan fanficnya? ._.  Ini fanfic pertama aku, jadi kalau bahasanya gak bagus, penggabungan genre-nya nggak tepat, comedy-nya juga terlalu garing, ya… dimohon maafnya Ada beberapa bagian yang kukutip dari cerita yang ada di buku b. Indo-ku, tapi cuma 3% aja kok. Makasih banget udah mau baca, komennya juga sangat diperlukan lho, agar yang selanjutnya lebih baik lagi. Sekian, Gamsahamnida, dan Wassalam! Selamat berlebaran 😀 *bow bareng Chanyeol dan Dyo*

7 pemikiran pada “Disaster Day

  1. sabar dio ada owe /plak/ doh chanyeol selingkuh dariku tidak akan kubiarkan/? chanyeol: hey emangnya yu siapa owe? .oke abaikan. garing kriuk kriuk. haha xD ditunggu epep selanjutnya

  2. suhotriawan? -_-
    tapi bagus kok, ga masalah ama bahasanya. malah bagus. engga terlalu formal xD
    suka.
    sekuel boleh doong xD

  3. Awal awal pertamanya kyak penggalan cerita di buku bahasa indonesiaku deh ._. Serius ._.v mirip deh , sama sama kimia ._. Tapi endingnya gak sama ._.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s