For You in My Heart (Chapter 1)

For You in My Heart

Chapter 1

CASTS:  Kris Li (Wu Yi Fan), Tiffany Kim (Stephanie Hwang), Kim Min Seok (XiuMin), Lee Jae Hee (OC), and others

Author: Elsa Yuni Kartika

Genre : romance, friendship

Length: multi chapter

Rating: Teenager

NB : Kalo belum baca teasernya, silakan klik link berikut J https://exofanfiction.wordpress.com/2013/06/06/for-you-in-my-heart-teaser/

 

It’s just a dream, but It’s like a reality.

When I see you beside me, I know you’ll leave me alone.

 

HARI INI, di tempat ini, matahari bersinar seperti biasanya, meskipun cahayanya terhalang oleh kabut di musim dingin seperti ini, jadi cahayanya tidak terlalu terik untuk ukuran orang Korea. Tiffany Kim—gadis keturunan Prancis-Korea ini senang memandangi jalanan di Yeoksam-dong, ditambah kerumunan orang dengan baju hangat yang mereka kenakan. Seulas senyum tersungging di bibirnya ketika ia mendengar dentingan bel yang menandakan ada seseorang yang datang ke apartemennya. Tiffany meletakkan barang-barang yang baru akan dirapikannya, lalu keluar kamar untuk membuka pintu.

“Min Seok Oppa (panggilan yang ditujukan untuk kakak laki-laki oleh perempuan)!” seru Tiffany senang, seolah ia tak pernah memiliki tamu bertahun-tahun.

Namja yang dipanggil Min Seok tersebut mengulurkan buket bunga pada Tiffany. Dengan senang hati gadis itu menerima bingkisan pagi harinya itu.

“Tiffany, Oppa ingin mengatakan sesuatu,” kata Min Seok.

“Ada apa, Oppa?” Tiffany meletakkan buket bunga tersebut, lalu menggandeng tangan Min Seok untuk masuk ke ruangan di apartemennya.

“Aku ingin memutuskan hubungan kita,” lanjut Min Seok.

Tiffany terdiam, ia tak bisa menangis sekarang. Min Seok akan khawatir bila ia menangis sekarang. Yang ia harus lakukan adalah berusaha tersenyum agar ia tidak terluka.

“Tiffany, maafkan aku, kau baik-baik saja, kan?” Min Seok merengkuh wajah Tiffany dengan kedua tangannya, wajahnya dipenuhi antara rasa sesal dan khawatir.

Tiffany melepaskan rengkuhan Min Seok dan tersenyum. “Oppa, aku tahu maksud Oppa kesini, karena Oppa pasti akan meminta hal ini padaku. Jadi, aku baik-baik saja, kok.”

“Kau yakin?” Min Seok memeluk Tiffany yang bersusah payah menahan air matanya keluar.

Akhirnya Tiffany tak bisa lagi membendung air matanya. Kali ini ia terpaksa menangis di pelukan Min Seok. Bagaimanapun, Tiffany tak bisa memaksa Min Seok untuk kembali menjadi miliknya. Ia terlalu lemah untuk menghadapinya. Ia terlalu mencintai Min Seok.

Min Seok melepas pelukannya, lalu menyeka air mata Tiffany. Min Seok tidak tega melihat gadis itu menangis di hadapannya. Ia tidak tega melihat seorang gadis menangis, siapa pun gadis itu. Ia memberikan sebuah ciuman di kening Tiffany.

Oppa, kau bisa pergi sekarang. Bukankah Oppa ingin pulang dan mengejar cita-cita Oppa? Lebih baik Oppa pulang. Aku baik-baik saja disini,” kata Tiffany, berusaha mengatur napasnya yang tersendat-sendat akibat menangis.

Tiffany melepas tangan Min Seok, dan kembali merapikan perabotannya dan meninggalkan Min Seok sendirian, bimbang apakah keputusannya benar atau salah. Akhirnya ia memutuskan meninggalkan Tiffany yang sebenarnya berpura-pura sibuk merapikan perabotannya. Lalu setelah itu Tiffany menangis sekencang-kencangnya. Namun seseorang menepuk-nepuk bahu Tiffany saat ia sedang menangis. Dan seolah dunia berputar dihadapan Tiffany, lalu kembali gelap.

“Tiffany? Kau baik-baik saja? Bangunlah!” sayup-sayup terdengar suara seorang gadis, wajahnya tampak kuatir melihat Tiffany tidak tenang ketika tidur.

Tiffany membuka matanya yang berat, dan menyadari bahwa matanya bengkak akibat menangis ketika tidur.

“Kau mimpi buruk, ya?” tanya Lee Jae Hee, gadis yang membangunkan Tiffany.

“Eh? Iya,” Tiffany masih linglung. Ia masih bingung dengan mimpi buruknya itu.

“Minumlah air putih supaya kau tenang,” kata Jae Hee.

“Baiklah,” balas Tiffany.

Apa maksud mimpi tadi? Ia melihat Min Seok merengkuh wajahnya, lalu memutuskan hubungan mereka. Ah, ini pasti gara-gara ketakutanku sendiri, batin Tiffany. Ia memijat keningnya sendiri. Sungguh, mimpi buruk tadi seperti menggambarkan ketakutannya sendiri selama ini. Ia terlalu takut jika Min Seok meninggalkannya. Berhubungan selama dua tahun bukanlah suatu hal yang mudah. Tiffany pernah dengan sukarela ditinggal Min Seok untuk pergi ke Jepang demi menyelesaikan program pertukaran pelajar. Tiffany percaya pada Min Seok, dan Min Seok juga memercayainya.

“Fany? Kau sedang memikirkan sesuatu, ya,” Jae Hee membuyarkan lamunan Tiffany. Bahkan Tiffany hampir lupa kalau Jae Hee berada disampingnya.

“Ah, tidak. Aku sedikit pusing. Kau tidur duluan saja. Ini masih malam,” Tiffany menepuk pundak teman satu apartemennya.

“Ya sudahlah. Aku tidur dulu, ya. Daahh,” ucap Jae Hee sambil melambaikan tangannya.

“Daah.”

Setelah Jae Hee menutup pintu kamarnya, Tiffany kembali memikirkan mimpi yang baru saja dialaminya. Namun hanya sesaat, ia kembali tertidur lelap, menantikan esok hari.

***

Tiffany menatap pantulan wajahnya di cermin. Seharian ini, ia banyak memikirkan mimpi buruknya semalam. Memang, itu hanyalah sebuah mimpi, namun hal yang paling ia takutkan saat mimpi itu benar-benar menjadi kenyataan. Ketakutan terbesarnya tak pernah hilang, meskipun ia mencoba mengenyahkannya.

Tatapannya berhenti pada sebuah figura yang berisi foto dirinya dengan Min Seok. Di dalam foto tersebut, tampak ia mengenakan pakaian khas musim panas dengan wajah tampak memerah dengan tangannya digamit Min Seok yang tampan dengan wajah imutnya. Tiffany tersenyum melihat foto itu.  Ia beralih memandang kalender. Tanggal 9 Desember, hari ulang tahunnya. Ia tak berniat untuk memberitahu Min Seok bahwa hari ini ia berulang tahun ke dua puluh dua tahun. Bahkan ia berharap Min Seok tidak menyinggung ulang tahunnya.

Pintu kamarnya terbuka, dan Tiffany mengalihkan pandangan dari fotonya ke pintu yang terbuka. Wajahnya langsung berbinar ketika ia mengetahui orang yang membuka pintu kamarnya.

“Tiffany?”

Oppa!” seru Tiffany saat melihat Min Seok-lah yang berkunjung ke apartemennya. Namun senyum bahagianya berangsur lenyap saat ia mengingat mimpinya.

“Kenapa kau jadi sedih? Apa kau sedang sakit?” tanya Min Seok saat melihat Tiffany menjadi muram.

Oppa, semalam aku bermimpi. Di dalam mimpi itu, Oppa memutuskan hubungan kita. Saat aku terbangun, aku terus memikirkan mimpi itu. Dan aku jadi takut kalau Oppa akan meninggalkanku seperti didalam mimpi tadi. Oppa tak akan meninggalkan Fany sendirian, kan?” ucap Tiffany.

“Fany, itu hanyalah mimpi. Kau tidak usah takut. Jika kau menakutkan suatu hal yang tak kau inginkan, pasti mimpi buruk itu akan menjadi kenyataan,” kata Min Seok sambil mengacak-acak rambut Tiffany.

Seulas senyum kembali menghias bibir Tiffany. Ia percaya apa yang dikatakan Min Seok. Lalu ia memeluk Min Seok, namun Min Seok segera melepas pelukan gadis itu dan mengeluarkan sesuatu dari sakunya.

“Tiffany, Oppa ingin kau memakai ini,” kata Min Seok seraya memperlihatkan sebuah kalung berhiaskan gandul bintang berwarna emas.

Oppa…” Tiffany terbata-bata saat Min Seok mengalungkan kalung itu ke lehernya.

“Nah, Fany-ku jadi cantik sekali kalau memakai kalung ini. Jangan dilepas, ya,” Min Seok merengkuh wajah Tiffany.

Wajah Min Seok mendekat pada wajah Tiffany hingga kemudian wajah mereka hanya berjarak dua sentimeter. Hidung mereka bersentuhan, lalu keduanya tersenyum dan mereka berciuman dengan lembut.

“Terima kasih, Oppa,” gumam Tiffany setelah mereka berciuman.

“Sama-sama, Fany-ku. Aku pulang dulu. Selamat pagi,” Min Seok memberikan ciuman di kening Tiffany.

Tiffany mendadak sadar ciuman Min Seok tadi mengingatkannya pada mimpinya: musim dingin ini, ketika ia sedang menatap jalanan yang penuh kerumunan orang sibuk, Min Seok datang padanya dan memberikan ciuman perpisahan, tidak tahu kapan—atau apakah—mereka akan bertemu lagi. Ciuman tadi juga nyaris terasa menyakitkan, seperti ciuman itu, meski entah untuk alasan apa, ia tak bisa membayangkannya. Ia bergidik dan terlalu takut memikirkannya, seolah-olah ia kembali dalam mimpi buruknya kemarin malam.

Tiffany menggelengkan kepalanya, berusaha mengenyahkan pikiran tersebut. Tak akan ada ciuman perpisahan bila kau tidak menakutkannya, ia meyakinkan dirinya. Lalu ia menyambar long coat hitamnya dan beranjak dari kamar.

***

Tiffany menjejalkan tangannya ke saku coat-nya yang hangat, udara musim dingin sedikit tidak menyenangkan—namun ia juga tidak terlalu suka musim panas, jadi musim gugurlah yang paling ia sukai. Dua minggu sebelum natal ini ia sibuk mencari kado yang cocok untuk Min Seok, tapi berkali-kali ia mencari-cari barang yang ia rasa cocok untuk kekasihnya itu. Saat ia menyerah, ia malah berharap Santa Klaus datang dan memberinya hadiah untuk Min Seok, tapi itu mustahil juga. Mana mungkin Santa Klaus mau datang begitu saja.

Tiffany terkejut saat ponselnya berbunyi. Lalu ia mengeluarkan ponsel tersebut dan membaca kontak yang tertera. Min Seok? Kenapa ia mengirim pesan? Batinnya. Tanpa membuang waktu ia membuka pesan dari Min Seok.

From: Min Seokki Oppa

            Fany, bisakah kau nanti malam ke rumahku? Keluargaku ingin bertemu denganmu dan ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Kalau kau bisa, datanglah jam 7 malam nanti.

Tiffany tak memercayai penglihatannya. Sekali lagi ia membaca pesan tersebut. Ia hampir melompat kegirangan seperti anak kecil yang baru mendapat permen sebagai hadiah natal. Ia tersenyum membaca pesan tersebut. Tiffany membayangkan Min Seok akan melamarnya, namun pikirannya mengatakan itu terlalu cepat untuk hal ini. Butuh komitmen yang kuat dan prinsip yang sama bila sepasang cinta disatukan menjadi sebuah keabadian.

Tiffany berjalan lagi menyusuri sepanjang toko-toko yang tersebar di kawasan Yeoksam-dong. Banyak toko yang menjual bermacam-macam aksesori untuk pria, tapi ia tidak yakin Min Seok akan menyukainya. Ia terpana ketika ia melihat sepasang mannequin yang memakai gaun pengantin berwarna peach berhiaskan renda dan lipatan-lipatan kain yang rapi untuk mannequin wanita dan tuksedo untuk mannequin pria yang dipajang sebuah toko yang menjual berbagai persiapan pernikahan.

Ia teringat kamera digital yang ada didalam tasnya, lalu mengeluarkannya dan memotret mannequin tersebut. “Andaikan akulah yang memakai gaun cantik itu,” gumam Tiffany sambil menyentuh kaca tempat mannequin tersebut dipajang.

“Tiffany-ssi?” sapa seseorang.

Tiffany menoleh pada orang yang memanggilnya.

“Astaga—Kris! Kau sudah pulang dari Kanada?” seru Tiffany.

Kris Li—sahabat Tiffany sejak ia kuliah. Ia adalah lelaki kelahiran Cina namun menetap di Vancouver, Kanada, setelah lulus kuliah. Ia bersahabat dengan Tiffany karena menurutnya gadis itu baik dan mau menerimanya sebagai teman baiknya.

Tiffany dan Kris berpelukan seakan-akan mereka telah berpisah selama seratus tahun tanpa pernah bertemu sekalipun—yah, mereka memang dekat sekali. Tapi, tetap saja, hanya berstatus sebagai “sahabat”.

“Kapan kau kembali ke Seoul? Aku merindukanmu, bocah,” Tiffany meraih kepala Kris dan mengacak-acak rambutnya, sementara selisih tinggi badannya dengan Kris berbeda jauh.

“Sehari lalu. Lalu hari ini aku pergi jalan-jalan. Aku merindukan Seoul, jadi mumpung ini liburan, lebih baik aku kesini saja. Hei, kau membuat rambutku berantakan. Kasihan sekali kau, berjinjit untuk menjambakku. Aku lebih tinggi daripada kau,” ledek Kris yang langsung disambut cubitan di lengannya.

“Hei, beraninya kau meledekku. Apakah kau sudah punya kekasih disana? Jujurlah,” kata Tiffany penuh semangat.

“Eh? Oh, aku belum punya pacar, karena tidak ada yang menggantikan posisimu—“ Kris langsung menutup mulutnya dan bergumam merutuki dirinya sendiri.

“Apa?” selidik Tiffany, berharap ia tidak salah dengar.

“Ah, tidak. Aku belum punya pacar,” kilah Kris.

Tiffany nyengir dan melihat arlojinya. “Astaga! Sudah jam enam sore! Apa yang harus kulakukan?!”

“Apa sih yang kau bicarakan? Kau ini kenapa? Seperti kesetanan saja,” Kris tak kalah panik melihat sahabatnya yang tiba-tiba saja histeris setelah melihat arloji.

“Kau ingat Min Seok?” tanya Tiffany, paniknya mereda.

“Min Seok?”

Pikiran Kris berkelana, mencoba mengingat wajah Min Seok. Anak lelaki berwajah lumayan imut dan mata yang sipit namun lebih mirip orang Cina… Min Seok?

“Aku ingat. Kenapa? Kau… pacarnya?” selidik Kris.

“Benar. Dan jam tujuh nanti aku harus ke rumahnya,” jawab Tiffany dengan senyum bahagia.

Diam-diam, Kris mendengus. Entah apa yang sedang dipikirkannya, ia malah merasa bimbang setelah mendengar Tiffany menyebut Min Seok dengan nada bahagia. Seharusnya ia merasa senang Tiffany berpacaran dengan Min Seok. Seharusnya ia membiarkan sahabatnya mencintai Min Seok.

Seharusnya… ia melepas Tiffany dan tidak mengejarnya lagi. Namun ada satu hal yang membuatnya tidak rela melepas gadis itu. Apakah itu cinta? Kris menggelengkan kepalanya. Mengharapkan cinta Tiffany sama saja mencoba terbang ke langit biru, namun jatuh dengan keras saat gagal terbang.

“Kris, aku pergi dulu, ya. Maaf kalau aku meninggalkanmu disini. Tapi kau lebih leluasa untuk melihat-lihat sekeliling Yeoksam. Daah,” kata Tiffany. Seketika Kris tersadar dari lamunannya.

“Hati-hati, Fany,” Kris mengucapkan salam perpisahan.

Diam-diam, ia merogoh kamera digitalnya dan memotret Tiffany yang sedang berjalan dengan kedua tangan dijejalkan ke dalam saku jaketnya. Ia memandang hasil potretannya dengan senyuman namun tercampur dengan rasa sakit yang menghujam hatinya. Lalu ia berjalan lagi setelah Tiffany menghilang dari pandangannya.

***

Tiffany melangkah mantap, berjalan menuju rumah bergaya vintage, dengan dinding batu bata yang tertata dengan apik, bercat warna merah menyala. Halaman depannya banyak bunga-bunga cantik. Diantara bunga-bunga yang cantik itu, Tiffany paling menyukai bunga Tulip merah khas Belanda. Pagar-pagar yang berada di gapura dicat warna putih, sehingga tampak menonjol dengan dinding batu bata merah tadi.

“Tiffany, kukira kau tidak akan datang karena kau tidak membalas pesanku,” seru Min Seok, membukakan pintu untuk Tiffany.

“Ah, aku lupa membalasnya, Oppa. Tadi aku jalan-jalan sebentar di Yeoksam, jadi aku hanya membaca pesanmu,” kata Tiffany.

“Tidak apa-apa. Kau cantik dengan gaun itu,” Min Seok menggandeng tangan Tiffany.

Wajah Tiffany memanas dan menyadari bahwa wajahnya memerah karena salah tingkah. “Jangan buat aku gugup, Oppa.”

“Min Seok, siapa yang datang—“

Suara Kim Jin Seok—ayah Min Seok mengagetkan Tiffany. Dengan refleks ia membungkuk—cara orang Korea ketika bersikap sopan santun. “Selamat malam, Ahjeossi.”

“Ayah, ini Tiffany Kim, kami sudah berpacaran selama dua tahun. Dia sangat baik dan aku menyukainya,” Min Seok memperkenalkan Tiffany pada ayahnya.

Kim Jin Seok memandang Tiffany lekat-lekat, membuat jantung gadis itu berdegup kencang. Ia hanya berharap ia sudah sopan dengan penampilannya malam ini. Gaun lengan panjang ditambah coat yang hangat, bukankah sudah lebih baik?

Kim Jin Seok tersenyum ramah pada Tiffany. “Selamat datang di rumah kami. Kami senang bertemu denganmu.”

Tiffany membungkuk pada Kim Jin Seok lagi. Ia diterima di keluarga ini pun sudah cukup rasanya.

Mereka masuk ke bagian dalam rumah. Min Seok menggandeng Tiffany, berusaha agar gadis itu tidak gugup. Keluarga Min Seok menunggu di ruang duduk yang besar dan berwarna putih. Begitu mereka melangkah masuk, keluarga Min Seok menyambut Tiffany dengan gembira seakan-akan Tiffany telah hilang bertahun-tahun.

Tiffany membalas sambutan-sambutan tersebut dengan menjabat tangan, atau paling tidak memeluk mereka satu per satu. Ia berasumsi Kim Hye Rin—adik perempuan Min Seok yang telah menutup semua bagian yang permukaannya datar dengan lilin pink dan lusinan mangkuk Kristal berisi ratusan bunga mawar. Ada meja bertaplak putih diletakkan di sebelah grand piano Min Seok, dengan kue tart pink di atasnya, bunga tulip dan bunga mawar, pohon natal di pojok sebelah kursi tamu, tumpukan piring kaca, dan gundukan kecil hadiah terbungkus kertas berbagai warna.

Ini ratusan kali lebih parah daripada yang bisa Tiffany bayangkan. Ternyata Min Seok mengetahui hari ulang tahunnya.

Min Seok merasakan kegalauan Tiffany, merangkul pinggangnya dengan sikap menyemangati, lalu mengecup puncak kepalanya. Hye Rin berdiri di sebelah grand piano dengan wajah penuh semangat dan bahagia, sementara Tiffany terlalu malas untuk merayakan ulang tahunnya sendiri. Namun, untuk menghargai usaha Min Seok yang telah menghabiskan banyak waktu untuknya, ia berusaha tersenyum dan memasang wajah berbinar-binar.

“Kakak sama sekali tidak berubah. Tetap cantik dan mempesona. Aku iri sekali,” kata Hye Rin, berlagak seolah-olah kecewa. “Sebenarnya aku berharap Kak Tiffany sedikit berubah, tapi ternyata wajah kakak tetap merah, seperti biasa.”

“Terima kasih banyak, Hye Rin,” kata Tiffany, semakin merah padam.

“Waktunya buka kado!” seru Hye Rin. Ia menggamit siku Tiffany dengan tangannya yang kecil dan menariknya ke meja penuh tart dan kado-kado mengilap.

Tiffany memasang wajah berbahagia yang terbaik. “Hye Rin, sudah kubilang aku tidak menginginkan apa-apa—“

“Tapi aku tidak mendengarkan. Ini hari spesial kakak, dan kakak harus menurutiku,” sela Hye Rin, senyum puas tersungging di bibirnya. “Bukalah.” Hye Rin mengambil sebuah kotak segiempat warna perak.

Tiffany membuka kotak itu, berharap mengetahui isinya. Ia menemukan sebuah CD yang bertuliskan “From Min Seok, To Tiffany”. Tiffany tersenyum. Ia tahu CD itu berisikan lagu ninabobo untuknya. Ia tahu benar Min Seok pandai bermain piano dan berpikir akan lebih baik jika itu direkam menjadi sebuah lagu untuknya.

Oppa? Terima kasih,” kata Tiffany sambil menggoyangkan kotak tersebut.

Min Seok hanya tersenyum simpul.

“Karena kado-kado ini sangat banyak, lebih baik Kak Tiffany bawa pulang saja,” kata Hye Rin. Tiffany bernapas lega karena ia dibebaskan dari acara membuka kado.

“Kak Tiffany, berdirilah disamping Oppa. Kalian akan kupotret,” tiba-tiba Hye Rin memegang sebuah kamera.

“Apa? Hye Rin—“
“Tolonglah, Kak. Satu kali ini saja. Aku yakin Oppa juga mau berfoto dengan kakak,” sela Hye Rin. Tiffany tak bisa menolak permintaan Hye Rin demi menyenangkan gadis itu.

Min Seok meraih tangan Tiffany dan menggenggamnya erat, lalu tangannya yang masih bebas menggamit pinggang Tiffany. Hye Rin menyalakan kamera dan memotret mereka berdua.

“Kalian serasi sekali,” desah Hye Rin. Semua yang ada di ruangan tertawa. Mau tak mau Tiffany ikut tertawa. Sekarang perasaannya menjadi ringan karena keluarga Min Seok dengan senang hati merayakan ulang tahunnya.

Min Seok mengecup kening Tiffany sekilas, lalu membawanya ke halaman depan rumah.

Halaman rumah Min Seok sangat luas—dengan taman yang terletak di samping rumahnya. Tiffany sangat menyukai berada di rumah ini, baginya ia merasa nyaman ketika berada dengan keluarga Min Seok meski ini adalah kali pertamanya.

“Ayo jalan-jalan,” ajak Min Seok, suaranya tanpa emosi. Ia meraih tangan Tiffany.

Mereka berjalan menuju taman yang dipenuhi dengan bunga-bunga yang indah, serta lampu bundar dengan tiang panjang juga menghiasi setiap sudut taman hingga taman itu tampak indah, ditambah dengan dua bangku panjang yang diletakkan secara berhadapan namun terpisah agak jauh oleh tiang dengan sebuah lampu kecil di puncaknya.

“Tiffany, kami akan pindah.”

Tiffany menghela napas dalam-dalam. Ia menyangka ia sudah siap untuk hal ini.

“Mengapa sekarang? Aku—“

“Fany, kami harus pergi ke Paris dan tinggal disana beberapa tahun. Dan aku tak bisa menjalani hubungan jarak jauh denganmu. Jadi, aku yakin kau tahu maksudku.”

Jawaban Min Seok membuat Tiffany bingung. Ia memandangi Min Seok, berusaha memahami maksudnya.

Dengan perasaan mual, ia memahami maksudnya. Ia menggeleng-gelengkan kepala, berusaha menjernihkan pikiran. Min Seok menunggu tanpa sedikit pun tanda tidak sabar. Min Seok hanya menatapnya dengan sedikit dingin. Butuh beberapa menit baru Tiffany bisa bicara.

“Oke,” kata Tiffany. “Aku ikut.”

“Tidak bisa, Fany. Itu bukan tempat yang tepat untukmu.”

“Di mana kau berada, di situlah tempat yang tepat untukku.”

“Aku tidak baik untukmu, Fany.”

“Jangan konyol.” Tiffany ingin terdengar marah, tapi kedengarannya malah seperti memohon. “Kau hal terbaik dalam hidupku.”

“Aku bukan orang yang tepat untukmu,” ucap Min Seok muram.

Min Seok menarik napas dalam-dalam dan beberapa saat menerawang menatap tanah. Waktu akhirnya ia mendongak, matanya tampak berbeda, lebih keras—kecoklatan dengan warna lebih terang.

“Fany, aku tidak bisa membiarkanmu ikut denganku.” Min Seok mengucapkan kata-kata itu lambat-lambat dan jelas, matanya yang dingin menatap wajah Tiffany, memerhatikan sementara Tiffany menyerap semua perkataan Min Seok.

Sunyi sejenak saat Tiffany mengulangi kata-kata itu berkali-kali dalam pikirannya, memilah-milah untuk mendapatkan maksud yang sesungguhnya. Perkataan itu jauh lebih menyakitinya ketimbang tertusuk pisau.

Oppa… tidak menginginkanku?” Tiffany mencoba mengucapkan kata-kata itu, bingung mendengarnya diucapkan dalam urutan seperti itu.

“Tidak.”

Ia menatap mata Min Seok, tak mengerti. Min Seok balas menatap Tiffany tanpa ampun. Matanya tampak berapi-api—tampak mengilat, keras dan jernih dan sangat dalam. Tiffany merasa seolah-olah bisa memandang ke dalamnya hingga berkilo-kilometer jauhnya, namun di kedalaman tak berdasar itu ia tidak melihat adanya kontradiksi dari kata yang diucapkannya tadi.

“Baiklah.. kalau itu yang Oppa inginkan. Aku tidak akan ikut ke Paris, dan akan melupakan Oppa.”

Min Seok mengangguk satu kali.

Sekujur tubuh Tiffany terasa lumpuh. Ia tak bisa merasakan apa-apa dari leher ke bawah.

“Tapi aku ingin meminta sesuatu, kalau boleh,” kata Min Seok.

Entah apa yang dilihatnya di wajah Tiffany, karena sesuatu yang berkelebat di wajahnya sebagai respons. Tapi sebelum Tiffany sempat memahaminya, ia telah mengubah ekspresinya menjadi topeng tenang yang sama.

“Apa saja,” Tiffany bersumpah, suaranya sedikit lebih kuat.

Sementara Tiffany menatapnya, mata beku Min Seok mencair. Mata yang semula berapi-api itu melebur, membakar mata Tiffany dengan kekuatan teramat besar.

“Tetaplah menjadi Tiffany yang periang,” perintah Min Seok, tak lagi dingin. “Kau mengerti maksudku?”

Tiffany mengangguk tak berdaya.

Mata Min Seok mendingin, sikapnya seperti sedang menjaga jarak. “Akan kuantar kau pulang.”

Lutut Tiffany mulai bergetar. Tidak, ia tidak ingin terlihat lemah sekarang. Ia memandang Min Seok yang sedang berjalan menuju garasi mobil. Sebuah wind chime berbunyi karena tertiup angin, dan suara dari wind chime itu menenangkan.

Di dalam mobil pun, Min Seok tetap tenang, mengemudi mobil tanpa bersuara sedikit pun dan pandangannya lurus. Sesekali Tiffany melirik Min Seok dengan hati-hati agar laki-laki itu tidak ikut menoleh padanya. Jelas sekali ada suasana tegang diantara kedua manusia itu. Nyaris kesunyian menghinggapi mereka. Bagi Tiffany, ini adalah perpisahan yang teramat menyakitkan.

Saat mobil Min Seok tiba di halaman apartemen Tiffany, keheningan kembali menyelimuti. Sesaat setelah sadar dari pikirannya yang kalut, Tiffany turun tanpa menoleh sedikit pun pada Min Seok.

Min Seok ikut turun dari mobilnya, mengikuti Tiffany yang sudah lebih dulu berjalan memasuki apartemen. “Tiffany?”

Tiffany berhenti, namun tidak berbalik menghadap Min Seok.

“Senang bisa bertemu denganmu kali ini. Terima kasih.”

Tiffany mengangguk tak berdaya, masih dalam keadaan memunggungi Min Seok. Ia menggigit bibir agar tak ada air mata yang membasahi pipinya malam ini.

Min Seok berjalan lagi menuju mobilnya, lalu sekilas memandang Tiffany yang sedang bersusah payah menahan air matanya. Min Seok tak kalah sakitnya, ia bisa merasakan hatinya nyeri menghadapi kenyataan ini. Ia jauh lebih parah dibandingkan Tiffany. Meninggalkannya sama saja membuang kebahagiaannya. Tapi ia tetap berpegang pada keputusannya. Ia yakin gadis itu akan lebih baik tanpanya.

Setetes cairan bening keluar dari mata Tiffany, lalu diikuti oleh setetes air mata lainnya dan kemudian mengalir deras membasahi pipinya. Ia mengatupkan bibirnya agar tidak terisak lebih keras—entah kenapa ia ingin menumpahkan semua air matanya. Hatinya mencelos, sebuah lubang menganga telah terbentuk di dalam hatinya, terasa berdenyut-denyut seolah itu luka yang nyata.

Min Seok tahu gadis itu terisak—sesekali sesenggukan mencoba menahan untuk tidak menangis. Perasaannya tak keruan, antara berbalik lagi atau meninggalkan. Ia memilih opsi yang kedua. Jika ia berbalik, ia akan memeluk gadis itu erat dan tidak akan lagi meninggalkannya. Jika ia meninggalkan, ia tak akan merasakan kepedihan yang dirasakan gadis itu dan tak akan pernah kembali kesini. Dengan langkah terburu-buru ia masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat tersebut.

***

Tiffany mendapati tempat tidurnya dipenuhi kado-kado dari keluarga Min Seok—kado-kado ulang tahunnya kemarin, dan berpikir bahwa mungkin kado-kado itu diantar oleh Hye Rin. Lalu ia segera teringat pada CD yang berisi lagu ninabobo dari Min Seok, dan ia dengan mudah menemukan CD itu berada di tumpukan paling atas kotak-kotak kado yang menumpuk. Ia menyalakan DVD player dan memasukkan CD tersebut, lalu memutarnya. Tak lama kemudian terdengar alunan nada yang tak lain adalah permainan piano Min Seok. Entah kenapa ia merasa damai bila mendengar alunan merdu piano itu. Ia merasa hatinya terhubung dengan hati Min Seok. Namun ia segera teringat perkataannya saat di taman. Aku tidak menginginkanmu. Lubang menganga di dadanya tiba-tiba terasa nyeri dan berdenyut-denyut lagi. Ia mematikan DVD, lalu beranjak mengambil figura fotonya dengan Min Seok. Beberapa detik Tiffany memandangi foto itu, kemudian membantingnya hingga pecah dan kacanya berserakan.

Tiffany berusaha menahan kepedihan yang menghujam hatinya, yang menusuk hatinya. Luka menganga itu terlalu menyakitinya, telanjur menyebar ke seluruh bagian tubuhnya hingga mencapai ke otak. Ia meyakinkan bahwa suatu saat ia bisa melupakan semua memori tentang Min Seok dengan dirinya. Ia merasakan lantai kayu halus di bawah lututnya, lalu di telapak tangannya, kemudian menempel di kulit pipinya. Ia berharap bakal pingsan, tapi sayangnya, ternyata ia tidak kehilangan kesadaran. Gelombang kepedihan yang tadi hanya menerpanya kini menerjang tinggi, menggulung kepalanya, menyeretnya ke bawah.

Dan ia tak muncul lagi di permukaan.

***

When I woke up, everything’s vanished.

If I keep remember about you, then slowly it will be killed me.

            WAKTU berlalu. Bahkan saat rasanya mustahil, waktu tetap terus berjalan. Bahkan di saat setiap detik pergerakan jarum jam terasa menyakitkan, bagaikan denyut nadi di balik luka memar. Waktu seakan berlalu di jalan yang tidak rata, bergejolak dan diseret-seret, namun terus berjalan. Bahkan baginya.

 

JAE HEE seolah sudah tidak sabar. “Baiklah, Tiffany! Aku akan mengantarmu pulang.”

Tiffany mendongak dari serealnya, yang sejak tadi hanya dipandanginya tanpa dimakan sesendok pun, dan menatap Jae Hee dengan shock. Ia tidak menyimak pembicaraan—sebenarnya, ia malah tidak sadar mereka sedang berbicara—jadi ia tidak mengerti maksud perkataannya.

“Aku kan sudah di rumah, maksudku, apartemen,” gumam Tiffany, bingung.

“Aku akan mengantarmu pulang ke kampung halamanmu,” Jae Hee menjelaskan maksudnya.

Jae Hee memandang putus asa saat Tiffany lambat laun mencerna maksudnya.

“Apa salahku?” ia merasakan wajahnya mengernyit. Benar-benar tidak adil. Kelakuannya selama empat tahun terakhir ini benar-benar tak bercela. Setelah minggu pertama setelah itu, ia berusaha berkelakuan layaknya manusia normal dan berusaha bersikap baik, tanpa ada apa pun yang disembunyikan. Ia juga tak melanggar jam malam—toh ia juga tidak pergi ke mana-mana sehingga harus melanggar jam malam di apartemen.

Jae Hee merengut.

“Kau tidak melakukan apa-apa. Justru itulah masalahnya. Kau tidak pernah melakukan apa-apa.”

“Kau mau aku bikin ulah?” Tiffany keheranan, alisnya bertaut saking bingungnya. Ia berusaha keras memerhatikan. Itu tidak mudah. Ia sudah sangat terbiasa mengabaikan semuanya sehingga sepertinya telinganya berhenti berfungsi.

“Yah, bikin ulah lebih baik daripada kau harus bermuram durja seperti ini.”

Perkataan Jae Hee sedikit menyinggungnya. Padahal ia sudah menghindari segala bentuk kesedihan, termasuk bermuram durja.

“Aku tidak bermuram durja kok.”

“Itu bukan kata yang tepat,” Jae Hee menyimpulkan dengan enggan. “Bermuram durja masih lebih baik—itu berarti melakukan sesuatu. Kau sekarang… tanpa kehidupan, Fany. Kurasa itulah istilah yang paling tepat.”

Tuduhan itu tepat mengenai sasaran. Tiffany menghela napas dan berusaha memperdengarkan nada ceria.

“Maafkan aku, Jae Hee.” Permintaan maafnya terdengar agak datar, bahkan di telinganya sendiri. Ia menyangka selama ini ia berhasil menipunya. Berusaha agar Jae Hee tidak merasa prihatin atas apa yang telah ia alami pada waktu itu.

“Aku tidak ingin kau minta maaf.”

Tiffany mendesah. “Kalau begitu, katakan apa yang kau ingin aku lakukan supaya aku bisa hidup lagi.”

“Fany,” Jae Hee ragu-ragu, dengan cermat menelaah reaksi sahabatnya terhadap kata-katanya selanjutnya. “Kau bukan orang pertama yang mengalami hal semacam ini, tahu.”

“Aku tahu.” Cengiran yang menyertai kata-kata Tiffany tadi lemah dan tak meyakinkan.

Jae Hee tak menggubris cengiran Tiffany. “Mungkin, well, mungkin kalau kau bicara dengan orang lain tentang masalah ini. Seorang professional.”

“Kau mau aku berkonsultasi ke psikiater? Kau pikir aku ini sakit jiwa atau semacamnya—“ suara Tiffany terdengar sedikit lebih tajam saat menyadari maksud Jae Hee.

“Tidak. Bukan begitu. Kau tidak sakit jiwa—tapi kau sedang mengalami masalah hati yang aku tak tahu bagaimana caranya agar kau bisa kembali sembuh dari itu. Mungkin berkonsultasi bisa membantu.”

“Dan mungkin itu sama sekali takkan membantu.”

Tiffany tidak begitu paham soal psikoanalisis, tapi ia sangat yakin itu tidak bakal efektif kecuali subjeknya relatif jujur. Tentu, ia bisa mengatakan hal sebenarnya—kalau ia ingin menghabiskan sisa hidupnya di sel untuk orang gila yang dindingnya dilapisi busa pengaman.

Jae Hee mengamati ekspresi Tiffany yang keras kepala, dan beralih menggunakan senjata lain.

“Ini diluar kemampuanku, Fany. Mungkin Kris—“

“Dengar,” sergah Tiffany datar. “Aku akan keluar malam ini, kalau memang itu yang kau inginkan. Aku akan menelepon Kris atau mungkin kau bisa menemaniku.”

“Bukan itu yang kuinginkan,” bantah Jae Hee, frustrasi. “Rasanya aku tak sanggup melihatmu berusaha lebih keras lagi. Belum pernah aku melihat orang berusaha sekeras itu. Aku sedih melihatnya.”

Tiffany pura-pura bodoh, menunduk memandangi meja. “Aku tidak mengerti, Jae Hee. Pertama kau marah karena aku tidak melakukan apa-apa, kemudian kau bilang tidak ingin aku keluar.”

“Aku ingin melihatmu bahagia—sudahlah, jangan pikirkan semua tentang Min Seok itu. Dia sudah pergi. Saatnya kau harus move on. Percayalah, masih banyak laki-laki yang mau denganmu.”

Dengan sentakan cepat, Tiffany langsung merasa goyah saat Jae Hee menyebut nama itu. Nama yang belum siap ia dengarkan untuk sementara ini. Namun entah mengapa nama itu kembali menyergapnya, walau tidak langsung, perlahan-lahan bisa membunuhnya dalam sekejap.

“Kenapa kau menyebut namanya? Aku sudah melupakannya kok.”

“Kalau kau sudah berhasil melupakannya, kenapa sampai saat ini kau masih duduk dengan melamun, lalu memandang ke jendela dengan pandangan kosong? Apakah itu yang disebut sudah melupakan?”

Tiffany terdiam. Jae Hee benar. Ia mengatakan hal itu dengan tepat apa yang saat ini sedang menyangkut di otaknya. Berkali-kali ia berusaha untuk melupakannya, tapi entah kenapa ia kembali memikirkannya. Otaknya dengan permanen terus mengingat hal yang tak ingin ia pikirkan.

“Aku pergi dulu.”

“Hei, Fany. Kau mau ke mana?”

“Pergi ke suatu tempat. Aku takkan lama.”

Dan sesaat kemudian Tiffany berlalu meninggalkan Jae Hee yang masih heran dengan kelakuan sahabatnya.

***

Kenangan yang lebih menyakitkan adalah ketika kau tidak bisa melupakannya dan mengenyahkannya dari pikiranmu.

Lubang menganga di dadanya terasa makin jelas, makin berdenyut-denyut. Ketika Jae Hee menyebut nama itu, seketika otaknya kembali memutar kenangan terdalam, menyakitkan. Seharusnya kenangan itu tak lagi muncul di otaknya. Dan entah kenapa, saat ia tak ingin memikirkannya, kenangan itu telah meracuni hampir semua organ di dalam tubuhnya.

Matanya tertuju pada kalung bergandul bintang emas yang tergantung di lehernya. Bintang itu tampak berpendar-pendar, tak lagi bersinar cerah, seperti dirinya. Bintang itu menyiratkan apa yang saat ini dirasakannya. Semakin ia lemah, bintang itu tak akan lagi bersinar dengan terang, malah bersinar dengan tidak bersemangat.

Ia tahu ini kelihatan dramatis baginya, tapi ia tak menganggap hal ini adalah sebuah hal dramatis. Banyak yang pernah mengalami hal serupa dengannya. Banyak yang pernah merasakan kehilangan orang yang tidak ingin mereka menghilang. Kehilangan saat tak ingin kehilangan. Ditinggalkan saat tak ingin ditinggalkan.

Dengan paksa ia melepas kalung yang selama ini ia kenakan di lehernya. Kalung itu hanya akan menyakiti lukanya, semakin membuat luka itu menganga lebar, seperti bernanah dan dipenuhi tusukan yang pedih.

Ia berjalan dengan tenang, tanpa suara sedikit pun. Ia pandangi kalung bergandul bintang tersebut. Hanya dengan memandangi kalung itu, perlahan air matanya berlinang, menggenangi pelupuk matanya. Dengan sentakan keras dan emosi yang keluar tanpa kendali dari tubuhnya, ia langsung melempar kalung itu ke sungai Han. Hanya itu yang bisa ia lakukan. Lebih baik ia merasa harus membuang semua hal yang menyangkut tentang dia. Ia merasa ini adalah cara ampuh untuk bisa melenyapkan semua kenangan itu.

Jae Hee benar. Ia harus melupakannya—ia tidak bisa lama-lama tenggelam dalam mimpi buruk yang telah merasuki raganya. Ya, sahabatnya itu benar. Mimpi buruk itu benar-benar terjadi dan benar-benar nyata seperti yang selama ini ia mimpikan. Air mata kesedihan, mimpi buruk yang nyata, kenangan yang menyakitkan, seperti peluru yang menembus jantungnya dan berhasil membunuhnya. Ia tak tahu bagaimana itu bisa terjadi. Sungguh, ia tidak berani untuk membayangkannya.

Ia harus memastikan mimpi buruk itu benar-benar lenyap, sehingga ia bisa terbangun dengan tenang.

***

“Apa?! Kau membuang kalung itu?” Kris terlalu terkejut saat mendengar Tiffany telah membuang kalung pemberian Min Seok.

Tiffany mengangguk lemah. “Hanya itu yang bisa kulakukan supaya aku bisa melupakannya.”

“Tunggu. Kau putus dengan Min Seok?” selidik Kris penuh rasa ingin tahu.

Tenggorokan Tiffany tercekat. Berapa lama ia harus terbiasa mendengar nama itu? Sampai saat ini ia masih belum terbiasa. Seharusnya ia menuruti perkataan Jae Hee. Pergi ke psikiater dan memeriksa kondisi kejiwaannya, dan memastikan bahwa kondisi kejiwaannya benar-benar baik dan ia takkan masuk sel untuk orang gila.

“Kau tahu karena kau melihat kondisiku seperti ini.”

Kris terdiam. Suasana canggung kembali memenuhi atmosfir yang ada di sekitar mereka. Hanya ada suara berisik orang yang berlalu-lalang yang memenuhi jalan.

Tanpa sadar, Kris melingkarkan lengannya di bahu Tiffany. Dengan cara ini, ia merasa bisa melindungi Tiffany dan melenyapkan kepedihannya. Seharusnya aku berada disana juga saat ia ditinggalkan, batin Kris.

Tiffany baru menyadari bahwa lengan Kris merangkulnya. Tanpa ia bisa kendalikan, jantungnya berdegup terlalu kencang, bahkan ia berharap Kris tidak mendengar detak jantung yang terlalu keras berdegup. Sejenak pelukan sekilas itu bisa menenangkannya, dan ia mengakui itu sebagai perlindungan untuknya. Pelukan itu memang bukan pelukan paling romantis yang pernah ia dapatkan, namun ia merasa itu pelukan terhangat yang pernah ia alami. Kadang manusia tak menyadari bahwa mereka bisa terperangkap dalam perasaan yang sama. Jantung yang berdegup sama kencangnya, dan wajah bersemu sama merahnya. Namun Tiffany buru-buru mengenyahkan semua itu. Ia tidak siap untuk jatuh cinta lagi.

“Tiffany, jangan biarkan semuanya menyakitimu. Kau hanya akan semakin tersakiti saat kau terlalu dalam menapaki semua hal tentangnya.”

“Oh, ya, kau mau kado natal apa? Biar aku belikan untukmu.” Tiffany mengalihkan pembicaraan supaya Kris tidak menyinggungnya lagi.

“Tiffany—“

“Ada jam tangan keren yang cocok untukmu—“

“Tiffany, dengarkan—“

“Ada kemeja yang sangat bagus, dan pastinya kau semakin tampan—“

“Tiffany Kim. Dengarkan aku!”

Kata-kata Kris yang tegas, dengan cepat menunjukkan efeknya. Tiffany terdiam dan tidak melanjutkan obrolannya tentang kado natal.

“Dengar, aku tidak ingin kado natal atau semacamnya darimu, terutama hal yang membuatmu mengeluarkan uangmu, satu sen pun itu.”

“Kau mau apa? Aku tak merasa menghabiskan uangku—“

“Aku hanya mau, kau tetap bersamaku.”

Tiffany hanya tercengang mendengar perkataan Kris yang hampir membuatnya terjatuh. Bahkan ia tak mengerti maksud Kris. Lambat laun ia berusaha memahami maksud itu, supaya ia tidak mengambil keputusan yang salah.

“Tidak. Lupakan saja, Fany.”

Kris mengatur napasnya, dan perlahan ia meraih tangan Tiffany, lalu menggandengnya dan meletakkan sebuah kalung berhiaskan gandul berbentuk batu berlian yang berwarna-warni di telapak tangan Tiffany.

“Apa ini?”

“Pakai saja. Kalung itu hadiah dariku. Maaf terlambat, kukira ulang tahunmu masih lama.”

Seulas senyuman menghiasi sudut bibir Tiffany. Ia seakan tak percaya bahwa ia senang mendapat kejutan dari Kris.

“Terima kasih!”

Tiffany memeluk Kris sekilas kemudian mengenakan kalung itu. “Cantik sekali.”

“Kau tampak lebih cantik, tahu. Tersenyumlah dan jangan bermuram durja.”

“Aku tahu.”

Seketika Tiffany langsung teringat kata-katanya, disaat malam ulang tahunnya sekaligus malam perpisahan. Tetaplah menjadi Tiffany yang periang. Hatinya mencelos. Luka di dadanya berdenyut-denyut kembali, dan saat itulah luka itu kembali menghujam seperti tusukan. Namun ini berjuta kali lebih menyedihkan. Seperti tak ada kehidupan, kata Jae Hee.

Tersenyumlah dan jangan bermuram durja.

Otaknya seakan telah menjadi rol film kali ini. Bayangan dipenuhi memori-memori, memutar semua kenangan yang ada di dalam memori tersebut. Tiffany bergidik membayangkannya. Tanpa sadar ia telah menggandeng lengan Kris saking ngerinya.

“Kau baik-baik saja?” Kris menyadarkan Tiffany.

“Cukup baik.”

Tiffany berpura-pura antusias, dengan memandangi orang yang berlalu-lalang di jalanan. Hari minus lima menjelang Natal makin banyak saja keramaian yang hampir membuat jalanan penuh. Banyak badut sinterklas yang bertebaran sepanjang pinggir jalan di Samdeok-dong. Tiba-tiba ia merasa kelaparan. Ia belum sempat makan dari pagi tadi.

“Kris, aku lapar. Sebaiknya kita cari makan di sekitar sini,” rengek Tiffany seperti anak kecil.

Kris tersenyum. “Baiklah. Biarkan aku yang mentraktirmu.”

Tanpa berpikir lama mereka kembali berjalan menuju restoran yang bisa mereka temukan di sepanjang jalan di Samdeok-dong. Mereka berjalan dari stasiun rumah sakit Kyungpook, kemudian berjalan lurus sekitar tiga puluh meter menuju persimpangan empat jalan, dan berbelok ke arah kanan. Tak lama kemudian mereka menemukan restoran yang ada di sebelah kanan jalan yang berjarak 150 meter dari tempat mereka berdiri.

“Sepertinya itu restoran yang terbaik,” Kris berpendapat, dan disetujui Tiffany.

Pintu restoran itu terbuka otomatis, dan dipenuhi poster-poster promosi restoran yang dinamai Daebaek Son-kalguksu ini. Interior restoran tersebut bertemakan seperti dapur yang berada di taman. Restoran tersebut sangat bersih, tanpa cela sedikit pun. Rumput-rumput sintetis yang menjadi lantai restoran itu juga membuat penampilan restoran Daebaek Son-kalguksu menjadi semakin terlihat mewah. Bahkan meja makan untuk pengunjung sengaja dibuat tampak alami, di cat senada dengan warna kayu hingga benar-benar seperti di taman yang sesungguhnya. Tiffany berulang kali bilang, “Wah!”

“Ada yang bisa saya bantu? Mau pesan apa?” pelayan restoran menghampiri mereka berdua.

“Um… aku pesan suyuk saja. Kau mau pesan apa?” Tiffany menyikut lengan Kris.

“Aku pesan haemul pajeon.”

Setelah mencatat semua pesanan, pelayan itu berlalu menuju dapur restoran. Tak henti-hentinya Tiffany mengagumi desain interior restoran tersebut.

“Aku belum pernah ke sini. Aku tak menyangka kita bakal dapat restoran sebagus ini,” Tiffany berdecak kagum.

“Aku pernah ke sini dua kali,” balas Kris.

“Kenapa kau tak pernah mengajakku?” sahut Tiffany, nadanya dibuat-buat seperti nada kesal.

“Yah.. kupikir kalau aku mengajakmu, nanti makanan disini habis semua—hei!” Kris berhenti berbicara setelah Tiffany akan menimpuk kepalanya dengan tempat tisu.

“Kau pikir aku rakus? Kalau aku rakus, aku tak mungkin sekurus ini, bodoh,” ledek Tiffany.

“Ya, ya.. baiklah.”

“Hei, sebelum makanan datang, kita main saja dulu.”

“Apa? Kita bukan anak kecil lagi—“

“Bukan.. bukan permainan anak kecil. Tapi kita bermain pertanyaan.”

“Silakan saja. Kau dulu.”

Tiffany menghela napas. Bukan napas berat, namun mengatur agar napasnya tetap terkontrol.

“Apa yang membuatmu bahagia akhir-akhir ini?” Tiffany melemparkan pertanyaan pada Kris.

“Ehm. Liburan, Seoul, dan seseorang.”

“Ah, kau pasti sedang jatuh cinta, ya? Ceritakan padaku.”

Kris menahan napasnya. Mungkin berbohong sedikit lebih baik daripada harus berkata jujur sekarang.

“Seorang wanita, kau tahu—“

“Kau pikir kau akan menyukai seorang pria? Dasar kau ini. Yah, lanjutkan saja,” ucap Tiffany, setelah melihat ketidaksabaran Kris.

“Aku menyukai seseorang yang telah lama kukenal. Ah, jangan sekarang. Nanti saja ceritanya.”

Tiffany terlihat kecewa saat Kris tidak melanjutkan ceritanya. Namun di dalam dirinya ada sesuatu yang mengisyaratkan bahwa ia sedang merasakan sesuatu yang ganjil. Bukan ganjil yang aneh, tapi lebih ke perasaan cemburu. Mungkinkah ia… cemburu pada Kris dan wanita yang disukainya? Ah, tidak mungkin. Tiffany buru-buru menggeleng-gelengkan kepalanya dan merutuki dalam hati.

“Dan gantian kau. Apakah kau sedang sedih atau gembira?” Kris ganti bertanya.

Butuh waktu yang sedikit lama untuk memikirkan jawabannya. Tiffany tak tahu apakah ia sedang sedih atau gembira. Bahkan ia tak berharap bisa memilih salah satu dari dua pilihan tersebut. Kalau ia gembira, ia tak tahu apa alasan yang membuatnya gembira saat ini jika Kris menanyakannya. Kalau ia sedih, ia akan kembali mengingat seseorang yang telah menciptakan luka menganga yang berdenyut-denyut yang selama ini ia derita. Dan ia juga tak bisa memberikan alasan kenapa ia bersedih. “Bisakah aku tidak memilih dua-duanya?” Tiffany berdalih.

“Yah, bisa saja sih.”

“Aku tidak sedang sedih atau pun gembira. Jadi jawabannya… biasa saja.” Tiffany memaksakan dirinya untuk tersenyum.

“Jawaban yang terdengar biasa juga. Hei, makanan kita sudah datang,” Kris mencium aroma makanan yang datang dari penjuru dapur yang mendekati mereka.

Sang pelayan meletakkan makanan pesanan mereka dan tersenyum sekilas lalu pergi lagi dan kembali melayani pengunjung yang baru datang. Restoran itu tampak ramai sekali, bahkan orang asing juga ikut berkumpul dengan sekumpulan orang Korea.

Dulu, saat pertama kali ia menginjakkan kakinya di Korea pertama kali—saat usianya masih tujuh tahun—ia mengira bahwa orang Korea bukan orang yang mudah didekati. Prasangkanya sama sekali tidak beralasan. Ternyata saat ia mengenali lebih dalam lagi, orang-orang dengan budaya Timur ini sangat menjunjung tinggi sopan santun dibandingkan dengan orang dengan budaya barat. Ia memang bukan orang Korea asli, namun Ibunya yang berasal dari Korea menurunkan gen asianya di darahnya, sementara matanya yang coklat terang didapatnya dari ayahnya yang Parisian asli. Kulitnya putih, seperti orang Korea lainnya, bukan putih pucat seperti kulit orang Prancis.

“Kenapa kau tidak makan?” Tiffany baru tersadar setelah suara Kris membuatnya kaget.

“Ah, maaf. Aku pasti melamun.”

Kris memakan makanannya dengan lahap, sementara Tiffany dengan lambat menyendok makanannya tanpa semangat, padahal jelas-jelas ia kelaparan. Susah payah ia menelan makanannya sampai ke perutnya. Ia semakin merasa lumpuh ketika ia melihat sosok familier yang dikenalnya. Ia mengucek matanya, berharap tidak salah lihat. Namun sosok itu tidak berubah. Sejenak ia merasa itu Jae Hee, namun Jae Hee tidak sependek itu. Sosok itu lebih mirip Hye Rin. Tiffany seakan tergugah mendengar nama itu. Bukankah Hye Rin sudah di Paris bersama dengan keluarganya? Lalu kenapa anak itu masih di Seoul? Tiffany mengangkat bahu. Ia berusaha melupakan semuanya. Semua tentang yang berhubungan dengannya.

“Kau kenal orang itu?” tanya Kris saat menyadari Tiffany terus memandangi sosok yang ia sebut Hye Rin.

“Kurasa aku kenal dia,” sahut Tiffany tanpa kehidupan. “Aku ke toilet dulu. Takkan lama.”

Tiffany beranjak dari kursi, lalu pergi menuju toilet diikuti pandangan heran Kris yang sejak tadi menyadari ada sesuatu yang mengganjal dalam hati sahabatnya tersebut.

***

Berulang kali Tiffany membasuh muka hingga sampai dua puluh lima kali bila ia menghitung tiap basuhan air pada mukanya. Entah kenapa ia seakan kembali pada mimpi buruk itu. Mimpi di musim dingin yang mencekam—ketika ia merasakan ciuman perpisahan tersebut.

“Kau harus melupakannya, Fany,” gumam Tiffany sambil mengepalkan tangannya di wastafel panjang toilet restoran.

Dengan muram, ia kembali ke meja dimana Kris duduk dengan menyangga kepalanya. Ia yakin Kris pasti bosan menunggunya. Tapi ia bisa merasakan Kris pasti tulus, hingga mau menunggunya selama di toilet. Ia memandang ke meja di seberang yang berada jauh dari mejanya dan Kris, dimana sosok Hye Rin duduk dengan seseorang yang Tiffany duga seorang temannya. Hye Rin tampak sibuk bermain dengan laptopnya dan menyeruput jus jeruknya, sementara temannya itu sesekali melihat apa yang dilakukan Hye Rin dengan laptopnya, sesekali mengangguk dan tersenyum.

“Ada apa? Kenapa kau menelepon dengan wajah sedih?” Tiffany menoleh pada Kris yang menutup ponsel setelah menelepon.

“Ayahku tidak bisa ke sini,” jawab Kris muram.

Tiffany ragu-ragu sedetik, kemudian instingnya menyuruhnya merangkulnya, memeluk pinggang Kris dan menempelkan wajahnya ke punggungnya. Entah kenapa ia merasa nyaman bersentuhan dengan Kris. Berbeda sama sekali dengan saat terakhir kali seseorang memeluknya seperti itu. Ini pelukan persahabatan. Dan Kris orangnya sangat hangat.

“Jangan sedih, masih ada aku. Lagi pula, ayahmu kan bisa datang ke sini kapan saja,” hibur Tiffany, melepaskan pelukannya. Ia takut pengunjung lainnya tengah memandangi dirinya memeluk Kris.

Wajah Kris memerah. “Trims, Fany.”

Aneh juga bagi Tiffany, bisa sedekat ini—lebih secara emosional daripada fisik, meski kedekatan fisik juga merupakan hal yang aneh baginya—dengan sesama manusia. Itu bukan gayanya yang biasa. Baru pertama kali ini ia memeluk sahabatnya, terutama Kris. Normalnya, tidak mudah baginya berhubungan dengan manusia, dalam tahapan yang sangat mendasar.

“Ayo kita pulang. Tinggalkan saja uangnya di meja.”

Kris meninggalkan uang 22 ribu won di meja makan lalu meninggalkan restoran bersama Tiffany. Udara hangat sejenak menjalar di tubuhnya saat Tiffany memeluknya tadi. Ia bisa merasakan seolah pelukan itu masih tertinggal.

Saat mereka mencapai pintu keluar restoran, seseorang memanggil nama Tiffany.

Tiffany menoleh. “Hye Rin?”

Melihat tampang shock Tiffany, sosok Hye Rin terlihat jelas sedang menghampirinya.

“Kak Tiffany! Kebetulan sekali kita bertemu. Oh, kak Fany kencan, ya?” goda Hye Rin.

Sssh. Kami bersahabat kok.”

Hye Rin mengangguk dengan bersemangat.

“Hye Rin, kenapa kau tidak di Paris?” inilah yang Tiffany tunggu, berharap ia dapat menemukan alasannya.

“Oh, itu, aku masih di sini karena harus mengurus beberapa hal. Ya sudah, kakak pulang saja. Sudah malam,” kata Hye Rin, diikuti anggukan kecil Tiffany.

Setelah sosok Tiffany dan Kris menghilang dari pandangannya, Hye Rin langsung mengeluarkan ponselnya.

“Kak Min Seok?”

***

From: hyerinkim@yahoo.com

            To: minseokkim@ymail.com

            Kak, baru saja aku melihat kak Tiffany di restoran Daebaek!

From: minseokkim@ymail.com

            To: hyerinkim@ymail.com

            Kau yakin? Apakah dia terlihat baik-baik saja?

            From: hyerinkim@yahoo.com

            To: minseokkim@ymail.com

            Kak Tiffany terlihat sedikit pucat, tapi dia tampak baik-baik saja. Dia makan dengan seorang sahabatnya tadi. Kalau tidak salah, sahabatnya itu namanya Kris Li.

Min Seok menatap layar laptopnya. Ia tak menyangka bahwa Hye Rin nekat menjadi mata-matanya untuk mengawasi kegiatan Tiffany. Ia bersandar pada kursi empuk yang didudukinya dan memandang langit sore kota Paris yang indah. Ia mengaduk cangkir kecil berisi espresso yang hampir dingin.

“Kau pasti sedang memikirkan Tiffany, kan?” sahut seseorang yang tiba-tiba muncul menghampiri Min Seok.

“Tidak juga. Aku hanya capek,” balas Min Seok. “Yak, Dennis, kau meminum espresso-ku!”

Dennis kemudian meletakkan cangkir espresso milik Min Seok yang sudah setengah diminumnya.

Dennis Lee adalah teman Min Seok yang sudah lama menetap di Paris untuk bekerja di sebuah perusahaan Event Organizer. Berperawakan tinggi di atas rata-rata seperti kebanyakan orang Eropa.

“Kau terlalu banyak melamun. Lebih baik kau pulang saja,” kata Dennis.

Min Seok menerawang ke jendela, memandangi jalanan kota Paris yang tertutup salju dengan wajah muram.

“Aku baik-baik saja,” sahut Min Seok.

Setelah meninggalkan Seoul, separuh dari jiwanya seakan menghilang entah ke mana. Ia seakan tak ada kehidupan, tak ada nyawa. Beberapa waktu lalu, saat keluarganya memutuskan untuk pindah ke Paris, Min Seok merasa itu adalah hari paling kelam yang pernah ia jalani. Saat itulah ia memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungannya dengan Tiffany. Meskipun begitu, ia tetap menyayangi gadis itu. Ia tetap tidak bisa melupakannya, walaupun ia sudah berusaha sekeras apa pun.

“Permisi, saya ingin menyampaikan surat dari klien yang ingin menyelenggarakan lomba untuk designer pemula,” seorang pegawai wanita membuka pintu ruangan Min Seok.

Min Seok memeriksa surat tersebut. “Baiklah. Konfirmasikan pada klien itu dan kita bisa melaksanakan perencanaan untuk dekorasi tempat lomba.”

Pegawai wanita itu mengangguk dan tersenyum, lalu pergi keluar ruangan.

Drrt. Drrt. Ponsel Min Seok berdering. Telepon dari Hye Rin.

“Halo?”

Hye Rin berkata bahwa ia benar-benar bertemu dengan Tiffany dan sahabatnya, Kris Li di restoran Daebaek Son-kalguksu. “Terima kasih atas infonya, Hye Rin. Kukira kau tidak berguna.”

Min Seok memutuskan telepon dan memasukkan ponselnya kembali ke saku kemejanya.

“Kau tahu, kau bisa membiarkan gadis itu ke sini,” kata Dennis.

“Apa? Jangan konyol,” sergah Min Seok.

“Yah, itu hanya pendapat,” Dennis menyerah.

“Kau membuatnya tampak mudah. Nyatanya itu terlalu sulit untuk dilakukan.”

Min Seok memandang keluar dari jendela kantornya di lantai 5. Dari jauh Menara Eiffel mengerlipkan pesona yang telah menarik berjuta turis dari seluruh dunia, namun urung membuat Min Seok bersemangat.

Min Seok mendesah, di tangannya tergenggam foto-foto masa lalu, dimana Tiffany yang menjadi objek fotonya. Ia diam-diam mengambil foto tersebut saat Tiffany tidak sadar dirinya sedang dipotret. Dari tumpukan itu, foto Tiffany sangat mendominasi. Tiffany, dengan senyumnya yang manis dan lesung pipitnya membuat gadis itu semakin menarik. Tiffany yang sedang tertawa bahagia saat memperoleh kado natal setahun yang lalu.

Sama dengan perasaan Tiffany saat ia ditinggalkan, Min Seok juga merasa seakan hidupnya hampa. Ia merasakan fase dimana ia sedang merindukan wanita yang amat ia sayangi.

Namun ia takkan pernah mencapai semua itu.

***

Tiffany sedang berjalan-jalan ketika ia menemukan sebuah brosur. Lomba designer pemula. Bagi yang mengirimkan gambar hasil karyanya ke email penyelenggara acara, dan masuk 5 besar, peserta akan dikirim ke Paris untuk mengikuti beasiswa. Begitu tulisan yang tertera di brosur.

Paris. Kota kelahirannya. Sudah lama sekali ia tidak ke sana. Bakat mendesainnya juga tidak terlalu jelek. Dulu saat kecil ia ingin sekali menjadi designer muda. Sekarang ia harus memanfaatkan kesempatan itu. Ia pernah mengikuti lomba melukis dan mendapat juara dua, bisa dibilang itu lumayan.

“Kau yakin kau ingin ikut lomba itu?” tiba-tiba Jae Hee ada di belakang Tiffany.

“Kau ini, bikin aku kaget saja. Oh, tentu saja. Aku ingin menggali potensiku,” sahut Tiffany.

“Yah, apa boleh buat.”

Tiffany meraih secarik kertas gambar, lalu mulai berpikir tentang ide desain pakaian yang unik. Ia bisa memanfaatkan kain tenun khas Rote dari Indonesia. Ia pernah mendapat hadiah dari sepupunya yang ada di Indonesia dan hadiah itu berisi baju dari kain tenun Rote. Ia sangat menyukai baju itu.

Selesai sudah rancangan yang digambar Tiffany. Ia menyukai rancangan bajunya. Gaun dengan kain tenun Indonesia, dengan model yang sedikit unik. Aksen ruffle yang terdapat di kerah gaun membuat rancangan gaun itu terlihat stunning. Sedikit lagi warna yang bisa ditambahkan. Ia masih lelah walaupun hanya menggambar satu rancangan. Setelah itu ia akan mengirimkan rancangannya ke email panitia lomba yang berada di Paris. Hadiahnya saja sangat menggiurkan, mendapat beasiswa untuk kursus fashion design di sekolah fashion L’Etoile Paris. Tiffany sangat senang membayangkannya.

Drrt. Drrt. Ponsel Tiffany bergetar. Pesan dari Kris.

From : Kris    

            Fany, bisakah kau ke halaman apartemenmu? Aku tunggu.

Tumben sekali Kris mengirimnya pesan pagi-pagi seperti itu. Tiffany penasaran sekali dengan sahabatnya tersebut.

Tiffany mendongak ke bawah, menemukan Kris yang ada di bawah. Tiffany langsung tersenyum ketika mendapati Kris sedang berdiri di halaman apartemen.

“Hei, Kris! Tumben kau datang sepagi ini. Astaga, ini baru jam setengah enam pagi,” sembur Tiffany begitu bertemu dengan Kris.

“Lihat apa yang kubawakan untukmu,” Kris mengulurkan sebuah kotak persegi panjang kecil berhiaskan kertas kado berwarna hijau mengilap.

Tiffany mengocok kotak tersebut, sangat ringan. “Ringan sekali.”

“Buka nanti saja. Ini masih terlalu pagi untuk bisa terkejut saat diberi kejutan.”

Tiffany mengangkat bahu dan menaruh kotak kecil itu di saku coat-nya.

“Ini sudah tanggal berapa, sih? Oh, ya, ngomong-ngomong, aku ikut lomba desain baju di Paris,” kata Tiffany.

“Sungguh? Wah, kau bisa ajak aku! Ini tanggal 24, kenapa? Apa kau tidak punya kalender atau apa—“

Tiffany mendecak kesal sekaligus terkejut bahwa hari-hari sangat cepat berlalu. Dan besok sudah hari Natal!

“Aku sama sekali belum beli kado natal,” sesal Tiffany.

“Aku bisa menemanimu belanja sore ini,” balas Kris.

Tiffany mengangguk lemah. “Baiklah. Nanti sore.”

Kris kembali ke mobilnya dan pergi meninggalkan apartemen Tiffany. Tiffany kembali mengeluarkan kotak kecil dari Kris. Ia penasaran sekali untuk mengetahui isi kado tersebut. Perlahan ia menyobek kertas pembungkus kotak dan membuka kotak yang sudah tidak terbungkus lalu memekik karena ia mendapati dua buah tiket perjalanan ke Paris.

Sesaat ia merasa senang, sekaligus merasa tidak enak hati. Pemberian Kris ini terlalu mahal. Pasti ia menghabiskan banyak uang hanya untuknya.

To: Kris

            Yak, kau pasti menghabiskan banyak uangmu untuk membeli tiket ke Paris! Tapi, terima kasih Kris! Kau benar-benar sahabat yang takkan kulupakan.

            Tiffany mengirimkan pesan tersebut pada Kris. Ia terlalu senang hari ini. Ia tidak sabar untuk mencari kado terkeren untuk Kris pada saat Natal besok.

***

Setelah sibuk mencari barang yang tepat untuk dijadikan sebuah kado, akhirnya Kris dan Tiffany keluar dari Lotte Young Plaza. Sebenarnya Tiffany masih ingin pergi ke Myeongdong, namun waktu tidak memungkinkan disertai hujan salju yang terus menerus turun tanpa henti. Tiffany menyembunyikan salah satu barang untuk dijadikan kado khusus untuk Kris.

“Apa yang kau pegang itu?”

“Bukan apa-apa. Ini milikku.”

Tiffany menggosokkan kedua telapak tangannya, mencoba mencari kehangatan namun gagal. Udara terlalu dingin untuk bisa mendapatkan kehangatan.

“Kau kedinginan?” tanya Kris saat melihat Tiffany menggigil.

“Sedikit,” Tiffany sedikit berbohong padahal giginya bergemeletuk saking kedinginan.

Kris melepas jaketnya, sehingga hanya tersisa baju lengan panjang yang hangat yang menempel di tubuhnya. “Ini. Pakailah.”

“Apa? Memangnya kau tidak kedinginan? Pakai saja, lagipula aku sudah pakai jaketku sendiri,” Tiffany menolak, ia juga tak tega bila harus melihat Kris ikut kedinginan.

Kris tidak mendengarkan Tiffany. “Aissh, kau ini. Yasudahlah, tapi nanti kalau kau kedinginan, akan kukembalikan padamu,” kata Tiffany, menyerah.

Tiba-tiba Tiffany merasa ada bagian tubuhnya yang sedang bereaksi kencang. Entah itu apa, sesuatu itu berdetak sangat kencang ketika Kris memakaikan jaketnya ke tubuh Tiffany. Tangan Tiffany meraih sesuatu itu. Ia menempelkan tangannya ke dadanya, tempat benda itu berdetak. Seketika ia menyadari bahwa jantungnya-lah yang berdetak teramat kencang. Ada apa ini? Mengapa jantung ini berdetak kencang?

Sama dengan Tiffany, Kris juga mengalami hal yang sama. Jantungnya berdegup sangat keras dan kencang, serta berirama. Pikirannya terpecah saat itu juga karena Tiffany menyadarkannya.

Yak, Kris, kenapa kau melamun di jalan seperti itu? Ayolah, jangan memalukanku. Cepat jalan,” cerocos Tiffany.

Kris tersenyum lalu berkata, “Iya, iya, Miss cerewet.”

***

“Sejak kapan kau pintar menggambar?” Kris berkata sambil mengambil buku gambar dari tangan Tiffany. Dibalik-baliknya buku gambar polos berukuran A3. Isinya gambar-gambar rancangan baju yang dibuat Tiffany sejak mengetahui pengumuman lomba merancang baju.

Tiffany hanya merengut. “Itu bakatku sejak kecil, bodoh.”

Kris hanya cengar-cengir. “Ini bagus lho,” Kris menunjuk sebuah gambar pria dan wanita mengenakan busana resmi. Yang pria mengenakan tuksedo, bagian kerahnya memiliki aksen batik dari Indonesia. Sedangkan yang wanita mengenakan gaun putih, bermotifkan bunga dengan tone warna-warna yang kontras di setiap motifnya, menampilkan kesan yang unik sekaligus elegan.

“Itu kurancang waktu aku mengantuk, jadi kelihatan aneh.”

“Kau tahu, orang Paris lebih menyukai hal yang aneh,” Kris tersenyum sambil memberikan buku itu kembali.

“Kau tahu dari mana?” tanya Tiffany.

“Yah, hanya melihat saja. Lihat saja orang-orang Paris, mereka lebih suka memakai pakaian yang terlihat unik,” kata Kris.

Selama sesaat Tiffany asyik menggambar rancangan, diam-diam Kris mencuri pandang ke Tiffany. Dalam hatinya, ia mengagumi kecantikan Tiffany. Mata cokelat Tiffany seakan menambah nilai bila Kris bisa menilai kecantikan Tiffany. Ia memang menyukai sahabatnya tersebut. Entah berapa lama ia akan memendam perasaannya seorang diri, dan entah kapan ia akan mengutarakan perasaannya tersebut. Mungkinkah Tiffany mau menerimanya? Bukankah ia lebih mencintai Min Seok dibandingkan dirinya? Bagaimana perasaan Tiffany padanya? Apakah ia menyukainya? Berbagai pikiran tentang Tiffany berkecamuk di otaknya, dan membuncah di dadanya.

Hening.

Badai salju yang terjadi di langit malam Korea membuat malam ini menjadi semakin dingin menusuk hingga ke tulang. Dinginnya udara membuat mesin penghangat yang dinyalakan Tiffany seakan menjadi tak berguna, karena udara tetap dingin. Sesekali Tiffany menggosokkan telapak tangannya, mencari kehangatan yang ada. Udara dingin Seoul membuat ia ingin segera naik ke kasurnya dan tidur dilindungi oleh selimut tebalnya.

Tiffany mencuri pandang pada Kris. Pria itu sangat setia menemaninya belanja tadi sore hingga malam saat ia merancag desain busananya. Ia melihat mata Kris memerah, seperti mata orang mengantuk. Kris juga tampak kelelahan. Akhirnya Tiffany meletakkan pensilnya dan menutup buku gambarnya, lalu menghampiri Kris yang tengah duduk sambil bermain gitar kepunyaan Tiffany yang sudah lama tidak ia mainkan.

“Wah, kau bisa bermain gitar? Mainkan buat aku, dong,” kata Tiffany.

“Boleh, kau mau lagu apa?”

“Terserah kau saja, yang penting lagu itu harus romantis,”

“Kenapa tiba-tiba kau suka lagu romantis?” tanya Kris.

“Memangnya kenapa? Aku suka, kok.”

“Baiklah.”

Kris mulai memetik gitarnya, mengalunkan nada merdu yang mengalir dari setiap string yang ia petik. Kris memutuskan memainkan lagu lullaby yang terdengar indah. Tiffany ikut duduk bersamanya di sofa panjang yang empuk di kamar Tiffany.

Mendengar lantunan nada yang merdu dari gitar yang dimainkan Kris, atmosfir hangat menjalari seluruh tubuh Tiffany dengan cepat. Ia seolah berada dalam lantunan nada tersebut, ikut mengalun di dalamnya. Dengan begitu, luka menganga di dadanya seperti sembuh, tidak berdenyut-denyut lagi. Kenangan-kenangan yang pernah membuatnya seperti ditusuk jarum, kini seakan telah lenyap, yang ada hanyalah harapan baru untuk membuka lembaran baru, dan hidup seutuhnya tanpa gangguan kenangan-kenangan itu lagi.

Kris masih memainkan lagu lullaby itu, membuat Tiffany menguap karena ikut terhanyut dalam lagu itu. Tiffany merasa ia ingin tidur dalam dekapan seseorang, penuh perlindungan dan kasih sayang. Namun, sekali lagi ia merasa, bahwa mengimpikan hal tersebut hanya akan membuat ia semakin terombang-ambing dalam gelombang dahsyat, yang akan menghempaskannya ke dalam lautan luka yang dalam.

Dan luka yang menganga itu kembali berdenyut-denyut.

***

            No, it’s not a nightmare anymore.

I should forget you, even it will be injured.

 

Seoul, December 25th

 

TIFFANY berulang kali melirik arlojinya, menunggu kedatangan Kris. Sudah tiga puluh menit ia menunggunya di ruang tunggu di bandara Incheon. Tepat hari Natal ini, ia dan Kris akan berlibur ke Paris dengan tiket hadiah dari Kris kemarin. Tiffany senang karena sampai saat ini, masih ada orang yang selalu memberinya perhatian yang lebih padanya, terutama Kris. Baginya pria itu adalah sosok penting dalam hidupnya. Bila tak ada Kris, mungkin ia takkan sanggup menahan kepedihan yang ia rasakan saat ini.

Waktu keberangkatan masih sedikit lama. Tiffany sedikit menyesal karena terlalu bersemangat hingga ia memutuskan untuk pergi ke bandara lebih awal agar tidak terlambat satu menit pun. Sekarang ia harus menunggu Kris dengan sabar. Berulang kali ia mengecek arlojinya. Akhirnya ia tak tahan lagi untuk menelepon Kris.

“Halo?” sambut suara dari ujung telepon.

“Berangkatlah ke bandara sekarang, aku hampir mati kedinginan, tahu!” seru Tiffany dengan suara yang memekikkan telinga.

“Yak! Jangan berteriak seperti itu, aku belum tuli,” gerutu Kris. “Baiklah. Aku akan berangkat sekarang.”

Kris memutuskan sambungan.

Tiffany melipat tangannya di dada, sekaligus untuk melindungi tangannya dari hawa dingin yang menyelimuti. Sesekali ia memandangi orang-orang yang sibuk berlalu-lalang, memandangi pesawat yang sedang take-off, dan melihat para pramugari sedang tergesa-gesa berjalan untuk menuju pesawat yang akan mereka naiki.

Setelah dua puluh menit, akhirnya Kris muncul dengan menenteng koper. Tiffany berdiri, seolah sedang menyambut seorang raja yang sedang berjalan memasuki istana.

“Akhirnya kau datang juga, kita berangkat sebentar lagi,” sambut Tiffany begitu Kris datang.

“Sepuluh menit lagi, ya? Wah, pasti perjalanan ke Paris sangat seru,” kata Kris tak kalah bersemangat.

Kris dan Tiffany menunggu keberangkatan dengan sabar. Mereka tak ingin terlihat norak hanya karena terlalu bersemangat untuk berlibur ke Paris. Memang, ini bukan pertama kalinya untuk Tiffany, namun tetap saja perjalanan ke Paris adalah hal yang menyenangkan.

Tak lama kemudian, Kris dan Tiffany menuju ke pintu keberangkatan setelah pemberitahuan keberangkatan ke Paris diumumkan. Mereka seolah tak sabar ingin segera menaiki pesawat. Ini adalah pertama kalinya Tiffany melakukan perjalanan bersama Kris.

Mereka memasuki gate untuk memasuki pesawat yang akan terbang menuju Paris.

Pesawat!

Jantung Tiffany berdegup kencang.

“Silakan cari tempat duduk nomor 22A dan 22B,” petugas maskapai berkata dengan sopan.

Tiffany mengangguk dan tersenyum. Ia dan Kris masuk ke dalam pesawat diiringi tatapan pramugari yang ramah.

Akhirnya mereka menemukan tempat duduk sesuai nomor kursi yang dikatakan petugas tadi.

Dan akhirnya, pesawat pun mulai take-off.

***

Setelah entah berapa belas jam perjalanan, Tiffany dan Kris tiba juga di bandara Charles de Gaulle, Paris. Mereka berdua dengan wajah capek, menyeret koper yang super berat kemudian berjalan sempoyongan menuju pintu keluar. Setelah keluar dari pesawat, mereka terseret arus dalam sebuah terowongan putih yang bermuara ke sebuah ruangan yang lebih besar. Di sinilah akhirnya Tiffany mendengar suara ‘Bonjour Madame’ dari seorang petugas.

Setelah bertanya pada bagian informasi, yang kemudian bersemangat menunjukkan Tiffany dan Kris jalan menuju deretan taksi, mereka akhirnya mendapatkan transportasi menuju ke Paris. Sebuah taksi yang supirnya mirip Eminem dan selalu sibuk dengan iPod putihnya.

Kris berulang kali mengucapkan terimakasih pada petugas informasi yang hanya menjawab ‘C’ est normal’, seakan-akan setiap hari ia berlari-lari dengan hak tinggi menyusuri jalan di airport menuju tempat mangkalnya taksi. Tiffany kagum pada kebaikan petugas tersebut.

Bonjour Monsieur…” Tiffany menyapa supir taksi dengan sopan. Belakangan Tiffany menjelaskan kalau orang Prancis selalu memulai semuanya dengan sapaan ramah Bonjour, dan jika menginginkan sesuatu selalu menambahkan S’il vous plaȋt di belakang kalimatnya. Jika lupa menggunakan kalimat magical itu, kita harus terima jika diperlakukan lebih kasar dari seharusnya.

Tiffany membaca alamat apartemen yang telah ia siapkan sebelumnya di secarik kertas.

“Residence Rene Dubois 25, Rue Lecourbe, s’il vous plaȋt,” Tiffany mengatakan tujuannya sambil memberikan secarik kertas yang dipegangnya bertuliskan ‘Residence Rene Dubois’. Karena banyak tempat bernama mirip di Paris, dan aksen Prancis Tiffany tidak terlalu jelas—padahal ia keturunan Prancis—seperti aksen asli orang Paris, Tiffany merasa lebih aman jika nama tujuan mereka ditulis dalam secarik kertas.

Taksi berjalan maju dengan kasar hingga Kris dan Tiffany bertubrukan keras. Kris menggerutu namun sang supir terlihat cuek.

Daerah di dekat bandara terlihat lebih lengang dan bangunannya tidak terlalu istimewa. Namun perlahan, semakin dekat ke kota, Paris yang sebenarnya mulai terlihat. Gedung-gedung klasik penuh ukiran bersejarah, boulevard, café di pinggir jalan, patung-patung marmer yang indah… masih persis seperti yang dulu pernah ia lihat saat terakhir kali mengunjungi Paris.

Paris. Paris yang dirindukannya, yang selama ini ingin selalu ia kunjungi, kini sudah ada di depan matanya lagi. Kota penuh cinta dan keindahan yang tersimpan yang selalu membuatnya ingin datang lagi dan lagi.

Tiffany, yang memang sudah pernah ke Paris berkali-kali sebelumnya, banyak bercerita pada Kris.

Sungai Seine membagi dua Paris menjadi Rive Droite dan Rive Gauche. Paris dimulai dengan Ile de la Cité, sebuah pulau di sungai Seine yang masih menjadi pusat kota dan rumah untuk Cathédrale de Notre-Dame.

Tiffany juga bercerita bahwa di Paris ada 20 distrik yang disebut arrondissements membagi kota Paris. Distrik-distrik ini dimulai dengan arrondissement pertama kemudian memutar dari sana. Biasanya tiap akhir alamat di Paris, akan terlihat sebuah nomor diikuti dengan huruf e. Seperti 8e atau 5e. Nomor itulah yang disebut arrondissement. Alamat Paris tidak lengkap tanpa itu. Biasanya nomor arrondissement diletakkan di dalam kode pos. Seperti, “Paris 75003”, berarti dia terletak pada arrondissement ketiga.

“Kris?”

“Hm?”

“Terima kasih, ya.”

“Hah?”

“Atas hadiahmu, akhirnya aku berada di Paris lagi.”

“Tidak usah begitu. Aku takkan membuang uangku secara percuma kalau itu hadiah untukmu.”

Seketika Tiffany merasakan pipinya memanas setelah Kris mengucapkan kata-kata itu. Tiffany tahu, Kris sangat menyayanginya, namun untuk mengucapkan kata-kata seperti tadi terlalu membuatnya salah tingkah.

Ah, Paris. Kota dimana ada Min Seok disini. Kota cinta.

***

Residence Rene Dubois

25, Rue Lecourbe

75015 Paris

Akhirnya mereka sampai di apartemen yang telah disewa Tiffany. Perjalanan yang cukup melelahkan telah berakhir begitu mereka tiba di apartemen. Apartemen itu terlihat mewah. Seakan tak cukup, Tiffany memandangi semua orang yang hilir mudik di jalanan dengan dandanan yang chic dan stylish. Sambil menenteng tas besar yang bergaya retro, semua orang terlihat percaya diri. Tiffany memperhatikan dandanan mereka dan membandingkan dengan dirinya yang lusuh.

Mademoiselle Kim, comment allez-vous?”

Seorang pria Prancis dengan gaya resmi menyambut Tiffany dan Kris yang terbengong-bengong. Kris menyikut Tiffany dan berbisik, “Siapa dia?”

“Jean-Lucas.” Pria Prancis yang sepertinya petugas apartemen itu tersenyum seperti mengerti.

“Ah, Je m’apelle Tiffany Kim.” Tiffany buru-buru menyodorkan tangan.

Et, Monsieur…?” tatapan Jean-Lucas diarahkan ke Kris.

“Kris,” jawab Kris pendek.

Mon ami,” sambung Tiffany buru-buru.

Bon. Bagaimana, perjalanan anda lancar?”

“Lancar sekali. Merci.”

            “Wah, sepertinya perjalanan anda menyenangkan sekali. Yah, Paris memang selalu membuat orang ingin kemari lagi!” Jean-Lucas tampak berapi-api. Tiffany hanya melongo melihatnya.

“Maafkan saya yang terlalu bersemangat. Untuk selanjutnya mari saya tunjukkan ruangan kalian. Allez!

Mereka berjalan beriringan mengikuti Jean-Lucas, dan diperhatikan oleh beberapa pasang mata yang penasaran.

***

Tiffany membuka pintu lebar-lebar dan berjalan memasuki ruangan apartemennya. Kris dan Tiffany ragu-ragu memasuki apartemen tersebut.

Aroma laut dari pengharum ruangan langsung semerbak menyerbu ke hidung mereka. Tiffany terpesona pada pandangan pertama. Tidak salah lagi, ini tempat tinggal ideal dan paling nyaman untuk berlibur di Paris selama beberapa minggu.

Sofa berwarna merah marun kontras dengan dinding yang berwarna krem. Karpetnya bermotif kotak-kotak ala Skotlandia. Di atas sofa ada lukisan Menara Eiffel yang gagah sekaligus cantik. Televise berada di pojokan beserta bantal-bantal besar yang ditaruh di atas karpet. Dari ruang tamu, Tiffany melihat sebuah dapur yang putih bersih.

“Tempat tinggal yang nyaman bukan?” Kris berpendapat.

“Kau suka? Baguslah. Kita akan tinggal di sini. Di ruangan ini ada dua kamar, satu untukku dan satu untukmu. Dan kau akan tidur di kamar sebelah ruang tamu ini.”

Tiffany berjalan menuju dapur yang teramat bersih tersebut untuk membuatkan sirup. Ruangan itu memang telah dilengkapi fasilitas yang memadai.

“Terima kasih,” sahut Kris saat Tiffany membawa dua gelas sirup orange.

“Selamat Natal! Ini hadiahmu,” seru Tiffany sambil menyodorkan sebuah bingkisan berwarna perak.

“Apa ini?” tanya Kris.

“Kau bercanda? Itu hadiahmu, bodoh,” ledek Tiffany.

“Apa? Aku tahu ini hadiahku, maksudku, isinya apa?”

“Buka saja.”

Tanpa pikir panjang Kris langsung membuka bingkisan tersebut.

Sebuah audio mobil. Kris terperangah selama beberapa detik, lalu ekspresinya menjadi normal kembali.

“Astaga, terima kasih. Ini pasti sangat mahal. Apa? Masih ada lagi?”

Kris merogoh-rogoh lebih dalam kotak bingkisan itu. Sebuah jam tangan merk GUESS.

Dengan refleks, Kris memeluk Tiffany.

***

Paris, 25th December 2012

            Hari ini adalah hari dimana aku bisa bersama Tiffany selama dua minggu di Paris. Dia memberiku hadiah Natal berupa audio mobil dan sebuah jam tangan keren. Arrggh, tapi dengan refleks aku langsung memeluk dia. Ya, ampun, bagiku ini sangatlah memalukan. Wajahnya memerah setelah aku memeluknya. Sulit sekali membuatnya mengangkat muka sampai sekarang.

Kris mematikan iPad-nya. Entah kenapa ia begitu refleks memeluk Tiffany. Pertama kalinya ia memeluk Tiffany dengan erat seperti tadi.

Ia benar-benar sudah gila. Sangat sulit mengakui perasaan ini, padahal jelas-jelas perasaan itu sudah terlihat jelas di depan mata. Ia hanya ragu akan keberaniannya untuk mengungkapkannya. Ia tahu gadis itu teramat sangat mencintai seseorang. Seseorang yang pastinya bukan dirinya. Gadis itu masih mencintai seseorang yang telah meninggalkannya… yang telah membuat hati gadis itu menjadi rapuh dan tidak berdaya. Gadis itu masih menyayangi orang itu. Padahal orang itu sudah meninggalkan bekas luka yang mendalam di hati gadis itu.

Pikirannya berkecamuk memikirkan Tiffany. Ia yakin Tiffany masih terluka. Dan saatnya ia harus menyembuhkan luka di hati Tiffany yang telanjur melepuh. Ia tahu ia terlambat untuk menyelamatkan hati gadis itu, namun ia tak akan pernah terlambat untuk menyayangi dan mencintai gadis itu. Yang ada di hatinya hanyalah Tiffany seorang.

Berulang kali ia menyebut nama Tiffany di dalam hati. Perasaan itu sudah lebih jauh berkembang. Tiap kali ia menyebut nama Tiffany, hatinya terasa damai. Nama itu seakan telah menyiraminya dengan kesejukan bagaikan embun yang baru menetes dari ujung dedaunan yang baru diguyur hujan.

Sudah saatnya untuk terus melindungi Tiffany.

***

Tiffany masih tak percaya saat Kris memeluknya tadi. Bukan, bukannya ia tak suka dengan pelukan itu, namun pelukan itu kembali membuat jantungnya berdegup teramat kencang. Pelukan itulah yang membuatnya kembali mengingat kenangan-kenangan yang masih membekas.

Tidak. Ia harus bertekad melupakan masa lalu itu, apapun caranya. Ia takkan sanggup lagi untuk merasakan kepedihan yang teramat perih.

Kris, kenapa dia selalu membuat jantungnya berdegup kencang?? Kenapa dia selalu membuatnya gugup saat dia ada di dekatnya? Mungkinkah ada perasaan aneh setelah hatinya sakit? Oh, tidak.

Yang harus ia pikirkan saat ini adalah, tidur dan terpejam dengan lelap. Ya, ia harus tidur nyenyak.

Karena ia tidak bisa tidur, akhirnya ia menghitung sampai seratus.

Tak lama kemudian, sampai hitungan ke tujuh puluh, akhirnya ia terlelap.

***

Tiffany dan Kris berjalan beriringan di pagi yang indah melintasi seputar Menara Eiffel. Setelah sekian lama tidak berkunjung ke Paris, akhirnya Tiffany mempunyai kesempatan untuk pergi ke Menara Eiffel bersama Kris.

“Nah, selamat datang di Menara Eiffel!” Tiffany langsung bergaya seolah-olah sedang menyambut tamu kerajaan.

Oui, Mademoiselle. Sekarang kau harus jadi tour guide-ku,” Kris menyikut Tiffany yang berdiri di sebelahnya, sama-sama mengagumi Menara Eiffel yang tidak pernah membosankan untuk dilihat.

Oui. Maintenant vouz regardez la Tour Eiffel!” Tiffany bertingkah layaknya pemandu wisata.

Kris pun tertawa melihat tingkah lucu Tiffany yang membuat ia gemas.

“Menara ini dibuat oleh Gustave Eiffel, pada tahun 1889. Sebenarnya menara ini hanya dibangun untuk sementara, karena dibuat untuk memeriahkan Pameran Dunia dan peringatan Revolusi Prancis. Seusai pameran, menara setinggi 320 meter ini harusnya dirubuhkan kembali.”

“Wah, untung saja tidak jadi,” Kris terpekik kaget. “Ngomong-ngomong, kata-katamu meyakinkan sekali untuk bisa jadi pemandu wisata. Cocok, lho, untuk kerja sampingan.”

Tiffany nyengir. Ia mengitarkan pandangan ke sekeliling. Menara Eiffel, Champs-de-Mars, Trocadéro, dan École Militaire berada dalam satu kompleks besar. Kabarnya, pada musim panas, Menara Eiffel bisa dikunjungi tiga puluh ribu turis sehari. Tiffany dan Kris merasa beruntung karena turis tidak terlalu banyak saat musim dingin seperti ini hingga mereka bisa lebih menikmati keindahan Menara Eiffel. Tiffany dan Kris mulai berjalan dari Trocadéro, menyeberangi Sungai Seine dan berjalan dengan sukacita melewati rerumputan di Parc du Champ-de-Mars, sekitar Menara Eiffel. Tiffany berhenti sebentar dan mencermati menara kokoh di depannya. Kepalanya mendongak dengan antusias, mencari ujung dari menara raksasa ini.

“Bagaimana kalau kita naik ke puncak?” tawar Kris. Tiffany mengangguk dengan bersemangat. Sudah lama ia memendam keinginan untuk melihat kota Paris dari atas Menara Eiffel, namun hal itu urung dilakukannya karena memang ia tidak terlalu sering mengunjungi Menara Eiffel.

Setelah mengantri selama kurang lebih dua jam, Tiffany dan Kris menaiki lift menuju pelataran kedua Menara Eiffel. Di situ, toko-toko cenderamata telah buka meskipun masih pagi. Tiffany langsung memilih-milih aksesori standar yang pasti dibeli orang jika ke luar negeri, gantungan kunci berbentuk Menara Eiffel. Kris tampak mengagumi hiasan dinding berbentuk papan selancar dengan aksen Menara Eiffel.

“Kris, kemarilah!” Tiffany melambaikan tangannya ke arah Kris, menyuruhnya mendekat.

Kris dengan wajah bingung, mendekat. “Kenapa?”

“Kris.. ini indah sekali.”

Tiffany menunjuk ke sebuah cincin perak bertuliskan ‘Paris’.

“Ah, itu biasa saja.” Kris ngeloyor pergi. Tiffany berlari mengejar Kris dan mencubitnya dengan gemas.

“Hehe.. sudahlah, ayo ke atas lagi.” Kris menarik tangan Tiffany.

Tiffany dan Kris kembali menaiki lift yang lain untuk menuju puncak. Dinding lift yang terbuat dari kaca membuat pemandangan menakjubkan langsung tersaji di depan mereka.

“Wah.. beruntung sekali kita bisa naik ke puncak,” Tiffany berdecak kagum.

“Aku suka melihatmu tersenyum bahagia seperti itu,” puji Kris, yang langsung membuat pipi Tiffany merah merona seketika.

“Kita tidak bawa kamera.. harusnya tadi di Champs-de-Mars kita foto-foto,” gerutu Tiffany.

“Itu tidak terlalu penting, Fany. Yang penting adalah foto-foto yang terekam di dalam kepala kita,” Kris menunjuk kepalanya.

Just enjoy the moment!” Kris mengacak rambut Tiffany dengan lembut.

Pada saat Kris selesai bicara, elevator yang membawa mereka berhenti. Kota Paris yang cerah terlihat jelas dari atas. Gedung-gedung artistik, museum, taman-taman yang indah… Tiffany ingin membagi semua ini dengan keluarganya, dan… Min Seok. Namun itu hal mustahil untuk dilakukan.

“Fany..” Kris memanggil dengan suara pelan.

“Hm…?” Tiffany masih sibuk menikmati pemandangan.

“Mmm… tadi aku menemukan sesuatu…” Kris dengan canggung berbicara sambil meremas sesuatu di tangan kanannya.

“Apa yang kau temukan? Uang? Lumayan untuk makan siang nanti! Haha..” Tiffany terdengar seribu kali lebih antusias.

“Bukan itu..” Kris memandang dengan tatapan gemas.

“Lalu?”

Kris meraih tangan Tiffany dan meletakkan sesuatu di telapak tangan Tiffany.

“Ini, aku menemukannya di angkasa, di antara sinar matahari dan awan pagi. Di antara kerlip sinar wajahmu.”

Tiffany membuka tangannya pelan. Di sana, tergeletak cincin yang ia sukai tadi, tetap dengan ukuran kata ‘Paris’.

“Kris..” Tiffany berkaca-kaca. “Terima kasih..”

Kris tersenyum simpul. “Kau suka?”

“Aku suka sekali.. tapi, Kris! Kau dapat kata-kata tadi dari mana?!”

***

Min Seok sibuk menulis sesuatu di buku catatannya, sambil melihat ke tumpukan sketsa baju yang merupakan kiriman dari semua peserta lomba fashion design yang bertebaran di atas meja.

“Semuanya sudah lengkap? Lalu, bagaimana dengan dekorasi yang anda inginkan untuk acara pesta nantinya?”

“Semua sudah lengkap, tinggal di seleksi. Ah, ya, dan untuk dekorasinya, saya ingin yang simple, tapi tetap terlihat menonjol,” sahut Elise Marc, klien milik Min Seok.

Min Seok kembali mencatat, lalu kembali memperhatikan sketsa rancangan para peserta lomba fashion design tersebut. Pandangannya tertuju pada sketsa yang terdapat tulisan ‘Tiffany Kim’. Ia terbelalak kaget, tak menyangka Tiffany akan mengikuti lomba ini. Kalau ia menang, akan ada kesempatan aku bertemu dengannya, pikir Min Seok. Ya, ia berharap Tiffany akan menyusulnya ke Paris.

***

Layar pada laptop Tiffany menyala. Ia membuka e-mail-nya, berharap ada e-mail masuk ke inbox-nya. Dan ia berharap itu e-mail pengumuman 5 peserta terbaik untuk lomba fashion design. Ia mengecek inbox dan ada satu mail yang masuk.

Tiffany terbelalak setelah membaca tulisan pada e-mail itu. Ia tak percaya bahwa dirinya lolos sebagai lima peserta terbaik lomba fashion design. Ia tak sabar untuk segera memberitahukan ini pada Kris.

“Kris! Aku lolos! Aku berhasil masuk lima besar peserta terbaik!” seru Tiffany pada Kris yang sibuk melahap kentang goreng.

Kris ikut terkejut. “Benarkah? Wah, kau memang hebat!”

Tiffany tersenyum, dan tanpa ia rencanakan, ia memeluk Kris dengan erat. “Akhirnya mimpiku berhasil!”

Kris mengacak-acak rambut Tiffany. “Yak! Rambutku jadi berantakan.”

***

Betapa indahnya masa-masa seperti ini ketika bersama Tiffany. Berdua. Hanya berdua, tanpa ada yang mengusik. Kris bahagia bisa menjadi bagian hidup Tiffany. Tiffany. Tiffany. Tiffany. Yang ada di hatinya sekarang hanyalah Tiffany. Ia tahu banyak hal tentang Tiffany. Warna kesukaannya, barang kesayangannya, dan perasaannya. Ia tak pernah menyangka Tiffany mampir di kehidupannya.

Dan sekarang, Tiffany sedang tertidur pulas di bahunya. Gadis itu tertidur saat mereka menonton TV. Kris menikmati saat-saat bersama Tiffany. Ia takkan pernah melepaskan Tiffany. Karena gadis itulah yang mengubah dunianya menjadi lebih indah.

Terdengar suara napas Tiffany yang lembut, membuat Kris menjadi nyaman berada di dekat gadis itu. Tiffany terlihat lebih cantik bila ia sedang tertidur dengan damai. Wajah Tiffany menjadi dua kali lebih menawan.

Kris mengusap lembut kepala Tiffany dengan hati-hati agar gadis itu tidak terbangun. Kris lebih suka memandangi Tiffany saat gadis itu tertidur. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Tiffany hingga wajah mereka hanya berjarak lima sentimeter saja. Ia memandang Tiffany dalam-dalam, berusaha meyakinkan bahwa ia sangat menyayangi gadis itu. Sudah terlalu lama ia memendam perasaannya. Tiffany adalah mataharinya. Tanpa Tiffany, mungkin dunianya kembali gelap seperti semula. Tiffany adalah napasnya. Tanpa Tiffany, mungkin hidupnya tak ada apa-apanya jika dibandingkan sekarang.

Kris selalu membuat Tiffany tertawa tanpa Tiffany perlu menyuruhnya. Ia selalu tahu semua tentang Tiffany tanpa gadis itu perlu mengatakannya. Ia berjanji ia akan selalu ada kapan pun Tiffany membutuhkannya. Ia siap menjadi penghibur disaat Tiffany sedih. Meskipun di dalam hati ia tahu, dan mengerti, Tiffany masih menyimpan perasaan pada Min Seok. Kenyataan itulah yang membuat hati Kris merasa cemburu. Nyatanya, Tiffany menganggapnya sebagai seorang sahabat. Hanya sahabat.

Namun, ia tak akan menyerah. Cinta harus diperjuangkan, bukan? Cinta hanya akan sia-sia jika ia tidak berusaha untuk mengejarnya. Ia harus berusaha sebisa mungkin demi cinta itu. Tapi cinta tak perlu dipaksakan. Ia biarkan saja cinta mengalir dengan sendirinya, tanpa harus diatur.

Tanpa suara, Kris mengucapkan kata, ‘I Love You’ pada Tiffany dengan hati-hati. Perasaan itu tulus dari hatinya yang paling dalam.

“Tiffany Kim, aku menyayangimu. Aku mencintaimu. Ini bukan sekedar perasaan, namun ini adalah kata hatiku dari relung yang paling dalam. Aku tahu kau tidak mendengarku, tapi aku yakin suatu saat nanti kau mau menerimaku. Saranghaeyo.”

Dengan dada berdebar-debar, Kris mencium kening Tiffany dengan lembut sekali.

 

CHAPTER 2 TO BE CONTINUED… J

Hai hai gimana nih kabarnya semua? Aku udah kembali lagi dengan FF For You In My Heart ini 😀 akhirnya seneng bisa nulis FF lagi buat kalian setelah disibukkan dengan sekolah 😀 please look forward to the next chapter J

 

Iklan

9 pemikiran pada “For You in My Heart (Chapter 1)

  1. Mian nggak comment di teasernya ne ._.v
    seneng banget bac ff ini 😀 udah panjang & banyak adegan romantisnya >_<
    nah lo, fany eonni udah mulai suka sama kris oppa kan?? 🙂
    keep write ya!

  2. huwaaaa akhirnya part 1 nya di post
    sukaaaa………tapi kalo bisa momentny krisfany aza yach wkwkwk
    soalny my fav couple sich hihihi….perfect couple gitu loch…..
    oh ya chingu next part jgn lama” yach…..n’ kalo asaran aku sich dikasih poster supaya lbih keren hihihi kalo gak bisa bikin pster req aza kan banyak tuh yg mau….di exoshidae bloh juga bisa req…..sayang bgt ff bagus kya gini trlebih my fav kopel gak pake pster hihihi

  3. hwa!!! daebak thor ff’nya…..!!
    oh ya aku siti fauziah new reader..
    salam kenal ya thor..
    lagi iseng2 eh ktemu ff ini..
    critanya menarik… ^^
    di tnggu chap 2’nya ya thor..

  4. chapter 2 chapter 2 chapter 2 *orasialaburuh” haha 😀 thor sukaaaaaa banget *pelukauthor* chapter 2 udah ada belom sii? kalo belom cepet update yaa tor *wink* suka banget sama KrisFany soalnya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s