Monalisa (Chapter 6)

Monalisa (Part 6)

Author : FebrinaFR

Genre : Romance, family and I don’t know 😀

Rating : T

Length : MultiChapter

Cast : -Monalisa (OC)

-Kim Jongin

-Oh Sehun

-Nd Others

MONALISAAA

Nb :        Ini FF perdana saya^^ dan milik saya. mohon jangan  bash, kalo mau kritik boleh, tapi baik-       baik ya 😀 Semua castnya milik Tuhan, kecuali kkamjong , He is mine ! ^^ Typo tersebar dmana-mana,  Alurnya abstrak. biarpun ini FF gaje tetap RCL yaaa^^

HAPPY READING !

 

Part 6

 

Monalisa POV

Aku mencintaimu, tapi kenapa kau bersikap seperti itu padaku. Kau bahkan membenciku. Tidak pernahkah kau melihat perasaanku. Aku sadar, aku sudah terlalu jauh menyukaimu. Ketika appa dan eomma pergi, aku tidak mengangis, namun ketika aku melihatmu hampir mati, aku menangis begitu keras. Apa yang harus aku lakukan dengan perasaan ini, mempertahankannya atau melupakannya, melihat sikapmu yang begitu dingin terhadapku.

Aku menatap Kosong jendela di depanku. Mataku bengkak sekarang. Aku baru menyadari bahwa tadi aku sangat panik dan menangis. Bahkan dinginnya udara malam ini tidak dapat aku rasakan ketika melihatnya tengah sekarat.

Malam ini langit begitu sepi, hanya ada beberapa bintang yang masih setia disana. Aku merindukan Jeju dan Halmeoni. Aku ingin bilang padanya bahwa aku telah menangisi seseorang, dia pasti akan tertawa mendengarnya.

Seandainya malam itu aku tetap tinggal dirumah, seandainya malam itu aku tidak bertemu dengannya, seandainya Lee Harabeoji bukan kerabat halmeoni, dan seandainya aku tidak menuruti keinginan harabeoji dan halmeoni untuk pergi ke Seoul, aku pasti masih bahagia di Jeju. Aku tidak bermaksud mengatakan bahwa aku tidak bahagia disini, aku bahagia, sangat bahagia. Tapi, di lain sisi aku juga sakit. aku sakit ketika melihat tatapan bencinya terhadapku, aku juga sakit terhadap sikap dinginya yang hanya diberlakukan kepadaku. Tidak bisakah dia memaafkanku?

Kutenggelamkan wajahku di antara kedua tanganku. Air mataku kembali menetes. Aku ingin pulang. Sekarang aku menjadi gadis yang cengeng. Kuhapus air mata yang mulai membasahi pipiku. Aku tidak ingin terlihat lemah, meskipun sebenarnya lemah. Aku harus bisa tersenyum untuk besok.

 

Author POV

Pagi telah tiba, saatnya kembali beraktifitas. Monalisa tengah menatap dirinya di depan cermin, seperti dugaannya, matanya bengkak. Ia mencoba menggunakan bedak untuk menutupinya, namun sayangnya dia sangat payah dalam hal make up.

Monalisa berdesis kesal, dan melirik jam weker di depannya, dia tidak ingin membuang-buang waktu untuk hal yang tidak penting, termasuk make up. Di ambilnya tas selempang di atas meja dan beranjak keluar.

“Sehun-ah?” Sehun telah berada di depan kamar Monalisa dengan senyuman manisnya yang mengembang.

“Good Morning !” Ucapnya ramah. Monalisa tersenyum melihat tingkah Sehun.

Sehun mengamati wajah Monalisa, dia dapat melihat mata Monalisa yang sedikit membengkak.

“Matamu kenapa? Apa kau menangis semalaman?” Tanya Sehun panik.

“Nde, aku hanya merindukan Halmeoni jadi aku menangis” Sebuah senyuman kembali mengembang dibibir Monalisa.

Sehun menggerakkan tanggannya menyentuh pelupuk mata Monalisa dan mengusapnya pelan, “Semoga ini menjadi lebih baik”

Monalisa terpaku melihat sikap Sehun, dia merasa jauh lebih nyaman setelah Sehun Mengusap matanya.

“Ayo kita pergi kuliah” Sehun menarik tangan Monalisa. Sebuah senyuman menghias di bibir keduanya.

 

Seoul National University..

“jadi kau benar-benar menyukainya???!!” Tanya Soo Eun setengah berteriak. Monalisa mendekap Mulut Soo Eun berusaha menenangkannya. Karena sikap Soo Eun dapat membuatnya malu.

“Ssstt ! pelankan Suaramu”

“Baiklahh, maafkan aku” Keduanya kini saling berbisik dengan suara yang amat pelan.

“Aku menyukainya Soo Eun-ah. Aku semakin yakin ketika aku menangis karena dia” Monalisa tampak tidak bersemangat. Dia menyangga kepalanya dengan kedua tangannya di atas meja.

“Kalau kau suka, katakan saja”Ujar Soo Eun. Jawaban Soo Eun tidak membuat keadaan Monalisa menjadi lebih baik.

“Dia bahkan tidak mau melihatku, bagaimana aku menyatakan perasaanku?”

Soo Eun mengusap punggung Monalisa, dia bingung terhadap masalah yang terjadi pada sahabatnya itu. “Kau buat surat Cinta saja !!!” Ujarnya bersemangat.

“Dia pasti akan membakarnya..” Monalisa bergidik ngeri ketika membayangkan hal itu.

“Ini terlalu Rumit. Kau menyukai pria seperti dia. pria kasar, pemarah, dan.. pokonya semua sifat buruk ada pada pria itu. dia memang tampan, tapi bukan itu saja yang menjadi modal. Jika kau menyatakan perasaanmu, dia pasti akan menolakmu. Syukur-syukur kau tidak dipermalukan di depan umum” Jelas Soo Eun.

“Jawabanmu seolah-olah menyalahkanku. Kau bahkan membuatku semakin terpuruk” Monalisa mengenggelamkan wajahnya. Sahabatnya itu benar-benar membuatnya semakin down.

***

Selama di kampus Monalisa tidak melihat Jongin, di kelas pun tidak. Jangan-jangan jongin mengganti jurusannya agar tidak melihatku??tanya Monalisa pada diri sendiri.

Soo Eun sedang bersama Chanyeol, sehingga dia terpaksa berjalan sendiri. Chanyeol pun sedang tidak bersama Jongin.

“Kau sedang mencari siapa?” Tanya Sehun ntah sejak kapan dia telah berada di belakang Monalisa. Monalisa menengadahkan kepalanya dan menatap Sehun,”Aku tidak mencari siapa-siapa” Jawabnya berbohong.

“Jongin sedang tidak disini” Lanjut Sehun. Monalisa menatap Sehun tak percaya, bagaimana Sehun tahu apa yang sedang dipikirkannya.

“Kenapa kau mengira aku sedang mencarinya?”

Sehun memperbaiki tas ranselnya, “Karena hanya dia yang tidak terlihat sejak pagi”

“Ohh, begitu ya” Jawab Monalisa, Berusaha santai.

“Jongin sedang melakukan persiapan, karena sebentar lagi akan ada pameran Lukisan. Dan beberapa pelukis ternama dunia akan hadir. Tentunya Jongin ingin melakukan yang terbaik” Sehun menjelaskan dan hanya mendapat tanggapan biasa dari Monalisa.

Syukurlah, setidaknya dia tidak pindah jurusan. batin Monalisa cukup senang.

***

 

Monalisa POV

Aku senang mendengar kabar dari Sehun bahwa Jongin akan mengikuti pameran Lukisan. Lukisannya pasti akan menjadi lukisan yang terbaik.

“Monalisa, ada telepon untukmu” Sebuah suara memanggilku dari dalam Rumah. Ternyata itu suara Hyori ahjumma.

“Halmeoni menelponmu. Aku akan menghubungkannya dengan telepon yang ada dikamarmu saja” Ujar Hyori ahjumma kemudian memencet beberapa tombol pada telepon.

Aku sangat senang mengetahui Halmeoni menelponku, aku berlari menuju kamarku dengan tidak sabar. Kuletakkan task u di atas kasur dan mengangkat telepon.

“Yeoboseyo Halmeoni” sapaku senang, bahkan sangat senang.

-“Yeobeoseyo chagi.. bagaimana kabarmu?”- Tanya Halmeoni di sebrang. Aku merindukan Suara ini.

“Aku sangat baik Halmeoni. Halmeoni sendiri?”

-“Jika kau baik, Halmeoni akan jauh lebih baik” –aku tersenyum mendengar ucapannya, Halmeoni sangat tahu bagaimana agar tidak membuatku khawatir.

“Halmeoni tahu saja bahwa aku sedang merindukan Halmeoni”

-“Tentu saja, karena Halmeoni juga merindukanmu, chagi”-

“Halmeoni aku ingin menanyakan sesuatu?”

-“Tanya saja, Halmeoni akan menjawabnya”-

“Jika seseorang jatuh cinta untuk pertama kalinya, apa yang harus dia lakukan?”

Kudengar Halmeoni tertawa di sebrang sana, -“Apakah orang itu adalah kau???wah, cucu Halmeoni sudah besar rupanya”- Halmeoni meledekku.

“Tidak, bu..bukan begitu. tapi,  yah..memang aku” Jawabku terdengar pasrah. Jika aku berbohong pun Halmeoni akan mengetahuinya.

-“Benar dugaan Halmeoni. Menurutmu bagaimana perasaan ‘namja’ itu terhadapmu ?” – ujar Halmeoni

perasaan? Dia membenciku.

“dia tidak menyukaiku, bahkan bisa dibilang dia membenciku” Jawabku tak semangat.

-“Chagi, Tidak masalah dia mencintaimu atau tidak, yang penting dia tahu kau mencintainya”-

Benar juga kata Helmeoni.  “Apa, tidak apa seorang yeoja menyatakan perasannya terlebih dahulu?” Tanyaku sedikit ragu.

-“Kau tidak akan dipenjara jika menyatakannya kan”-

“Halmeoni,  tapi aku takut. Bagaimana jika responnya buruk?”

-“kemungkinan terburuknya dia tidak memiliki perasaan yang sama denganmu. Tapi, hal itu tidak akan membuat cucu Halmeoni yang kuat ini menjadi patah semangat kan”

Aku tersenyum mendengar ucapan Halmeoni, “Baiklah, Aku siap !” Ucapku yakin.

-“Itu baru cucu Halmeoni, selalu ceria, berani dan tidak pernah takut mengambil resiko”-

“Halmeoni, terima kasih. Aku tahu Halmeoni adalah teman curhat terbaikku. Saranghae”

– “Nado Saranghaeyo, chagi”-

-“jika Halmeoni boleh tahu, seperti apa namja beruntung yang berhasil membuatmu jatuh cinta chagi?”-

“Hmmm, dia..pria yang kasar, pemarah dan hobinya itu berbicara dengan nada lantang. Dia sangat tidak bisa memelankan suaranya, terutama kepadaku. Sikapnya begitu buruk terhadap wanita. Tapi Halmeoni, dia sangat mencintai lukisan, meskipun tangannya kotor karena cat dia tidak pernah memperdulikannya. Dia sangat tampan Halmeoni, walaupun ekspresi dinginnya selalu mendominasi. Dia juga selalu membuat jantungku bernyanyi, hmmm seperti dag dig dug dag dig dug….”

Aku memegang dadaku, ketika aku menceritakan dirinya saja, jantungku kembali bernyanyi seperti sekarang.

-“Dia namja yang sangat hebat, dan dari nada bicaramu kau sangat menyukainya?”-

Aku hanya mengangguk, aku tahu Halmeoni tidak akan melihatnya, tapi aku tidak tau lagi bagaimana menggambarkan perasaanku kepadanya.

Aku berbicara banyak hal kepada Halmeoni, ketika aku pertama kali masuk Universitas hingga kehidupanku saat ini di Seoul. Sampai akhirnya kami menyudahi pembicaraan kami.

Tiiitt..

Halmeoni menutup teleponnya, aku merasa jauh lebih baik setelah menerima telepon dari Halmeoni.

***

Bagaimana aku akan menyatakan perasaanku, jika selama 5 hari ini saja aku tidak bertemu dengannya. ketika dirumah pun begitu, dia pulang ketika aku tidur dan pergi ketika aku belum bangun. Aku jadi ragu terhadap rencanaku, resikonya pasti akan sangat besar, bisa jadi dia akan membentak-bentakku, mengeluarkan cacian kasarnya padaku. hufftt, aku selalu bergidik ketika memikirkan hal itu.

“Monalisa kenapa kau diam saja?” Tanya Soo Eun. Dari tadi aku memang mendiamkannya.

“Tidak ada, aku hanya..” ucapku menggantung.

“Kau merindukannya?” Soo Eun berhasil menebak pikiranku. Aku hanya mengangguk.

“Dia sedang berusaha membuat Lukisan yang indah agar tidak mengecewakan ketika pameran nanti, lebih baik kau berdoa untuknya” Soo Eun Menatapku dengan kedua mata bulatnya. Pipinya yang sedikit chubby membuat aku gemas. Biarpun persahabatan kami bisa dibilang baru, tapi dia selalu mengerti keadaannku walaupun terkadang tidak.

 

Author POV

Pameran akan diadakan lusa,Jongin harus melakukan yang terbaik. Seandainya mereka menyukai Lukisan Jongin, mereka akan membawa Jongin ke Paris untuk belajar melukis disana. Jika Jongin pergi ke Paris, itu berarti Jongin tidak akan bertemu lagi dengan Monalisa dan bisa melupakannya, alasan itulah yang membuat Jongin harus melakukan yang terbaik dan mengorbankan waktu istirahatnya.

“Kenapa kau selalu menghindarinya?”

Chanyeol membuka pembicaraan. Dia sedang menemani Jongin di Lokasi akan diadakannya pameran.

“Aku tidak menghindarinya” Jongin berusaha mengelak.

“Kau akan mendapat masalah karena kau tidak mengungkapkan perasaanmu. Pura-pura membenci atau pura-pura mencintai” Chanyeol memincingkan matanya, menatap Jongin dengan tatapan menyelidik.

“Terkadang seseorang berani berbohong karena ia terlalu mencintai, dan tidak berani untuk menyakiti” balas Jongin.

Jongin menatap Chanyeol penuh arti, dan Chanyeol balas menatap Jongin. mereka saling bertatapan tanpa ada yang bicara, seolah-olah tatapan mereka mewakili perasaan masing-masing.

Jongin pergi meninggalkan Chanyeol untuk melihat bagian lain Lokasi pameran, sedangkan Chanyeol masih diam ditempat sembari menatap punggung Jongin yang mulai menjauh.

“Ini pertama kalinya dia jatuh cinta, tapi kenapa seperti ini keadaan yang harus dihadapinya ..” Ujar Chanyeol menatap Jongin nanar dan segera menyusul Jongin.

 

Monalisa POV

Hujan deras sedang menggenangi Kota Seoul, beberapa orang mulai berhamburan untuk menyelamatkan diri dari tetesan air itu. Ada yang membawa payung, ada yang menggunakan jaket mereka sebagai penutup kepala dan ada juga yang lebih memilih menunggu hingga hujannya berhenti. Sama halnya denganku, aku sedang duduk di halte dengan mengusap kedua tanganku dan badanku menggigil sekarang. Kalian dapat melihat asap-asap keluar dari mulutku ketika aku berbicara atau bahkan bernafas.

Seusai kuliah aku mampir ke Toko Buku dan meminta Sehun pulang duluan. Hampir sebulan aku di Seoul, jadi bisa kupastikan aku tidak akan tersesat. Walaupun cukup sulit meminta izin dari Sehun, tapi akhirnya dia mengizinkan juga.

Udara semakin dingin disini, dan bus yang aku tunggu tidak kunjung datang, aku juga tidak membawa payung. Aku mencoba menghangatkan tanganku dengan memasukannya ke dalam jaket, tapi itu tetap tidak dapat menghangatkan tubuhku karena aku hanya memakai jaket tipis atau lebih tepatnya kardigan.

Tiittt..

Mobil berwarna hitam berhenti di depan Halte, aku mengetahui itu mobil siapa karena setiap hari aku selalu menaikinya. Yap, itu mobil Sehun. Aku segera memasukinya dan udara di sampingku berubah menjadi lebih hangat.

“Bagaimana kau tahu aku berada di Halte?” tanyaku pada Sehun.

Sehun menancap gas dan segera kami meninggalkan tempat itu.

“Seseorang memberitahuku bahwa kau sedang kedinginan di Halte” Sehun memberikan senyumnya kepadaku.

 

Author POV

Jongin baru saja mengantarkan Chanyeol pulang, ia mengendarai mobilnya dengan pelan karena jalanan sedang basah karena hujan sehingga ia tidak mau mengambil resiko. Jongin menghentikkan mobilnya ketika melihat sosok seseorang yang sangat ia kenal. Itu Monalisa. Jongin melihat Monalisa yang sedang duduk di halte sembari mengusap dua telapak tangannya, terlihat jelas bahwa ia sedang kedinginan.

“Dia kedinginan.. “ Jongin hampir turun dari mobilnya namun hal tersebut urung dilakukannya.

“Jika aku menghampirinya, usahaku selama ini menjauhinya akan sia-sia” Katanya, Jongin mengacak rambutnya pelan. “Si bodoh itu, sudah tahu hujan, kenapa dia masih berkeliaran disini sih ! sekarang dia kedinginan, aku yang merasa frustasi” Jongin mengomel sendiri di dalam Mobil. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

“Ah ! Sehun!” setelah mengucapnya, Jongin mengambil handphone dan segera menghubungi Sehun untuk menjemput Monalisa.

Tak berapa lama, Mobil Sehun datang. Jongin masih memperhatikan Monalisa yang menaiki Mobil Sehun. Mobil Sehun telah melaju pergi tapi tidak dengan Mobil Jongin. Ia merasa sedih karena tidak dapat menolong langsung Monalisa, padahal dengan jelas Monalisa sedang kedinginan di depan matanya.

“Arrgghh !” Jongin memukul setir Mobil di depannya dengan keras. Ia benar-benar tersiksa dengan keadaannya saat ini.

 

***

Seoul National University, hari ini keadaannya cukup ramai dibanding biasanya. Beberapa orang terlihat berlalu lalang ada juga beberapa yang sedang asik bercengkrama dengan temannya. Diantara banyaknya Mahasiswa, ada seorang mahasiswa yang sedang berjalan amat pelan dan terus memandangi setiap langkah kakinya. Soo Eun sedang bersama Chanyeol, sehingga membuat Monalisa harus kembali merasakan kesendirian. Biasanya dia bersama Sehun, tapi saat ini Sehun sedang sibuk dengan mata kuliahnya dan Monalisa tidak mau mengganggunya. Langkah Monalisa terhenti ketika ia melewati sebuah ruangan yang sangat ingin didatanginya, Galery seni. Di dalam gallery ini ada berbagai benda benda seni karya Mahasiswa dan mahasiswi SNU, termasuk Lukisan Jongin.

Monalisa membuka pintu gallery dan menimbulkan suara decitan yang cukup menggema di seluruh ruangan. Galery seni ini sangat besar, ada banyak Lukisan di setiap bagian sisi gallery dan ada juga lukisan yang di pajang di meja-meja. Bukan hanya lukisan, di galery ini juga terdapat beberapa jenis tembikar yang sangat indah. Monalisa memperhatikan setiap karya buatan tangan manusia itu dengan tatapan kagum. Jari-jarinya berjalan menelusuri setiap benda yang ia lihat.

Tangannya terhenti dan tatapannya mengarah pada sebuah lukisan penampakan aurora yang sangat indah. Di bagian bawah bingkai lukisan tertera nama Kim Jongin. Monalisa memandangi lukisan itu dengan senyum yang mengembang. Dia tahu, Jongin mampu membuat lukisan yang jauh lebih indah dari yang ia bayangkan.

“Hai, kita bertemu lagi” sapa seseorang menepuk pundak Monalisa.

Monalisa membalikkan badan dan menemukan sosok yeoja berambut bob yang waktu itu membantunya.

“Eoh, iya” jawabnya sembari melempar senyuman kepada Yeoja yang tidak ia ketahui namanya itu.

“Eh, itu..Lukisannya Jongin?” yeoja itu memperhatikan Lukisan yang sedang di pegang Monalisa.

Monalisa hanya berdehem dengan bibir yang masih tersenyum. Yeoja itu menyeringai, seringaian yang mencurigakan tapi Monalisa tidak menyadarinya.

“Kau mau kopi? Cuaca sedang cukup dingin” tawar yeoja itu dengan segelas kopi di tangannya.

Monalisa memandanginya bingung, “Ini ambilah, tadi aku sudah minum satu” ia memberikan kopi itu secara paksa dengan menarik tangan Monalisa dan membuat Kopi tersebut tumpah ke lantai dan mengenai Lukisan Jongin.

Mata Monalisa membelalak ketika menyaksikan Lukisan yang semula indah kini berwarna hitam. Tangannya memegang bagian Lukisan yang basah, dan tidak mungkin untuk dikeringkan. Jantungnya kini berdetak dengan keras, ia menelan ludahnya takut bahwa peristiwa di jeju akan terulang kembali.

“Kopinya tumpah ! bagaimana ini? kau tunggu disini, aku akan mengambil sesuatu yang dapat digunakan untuk membersihkan lantai dan lukisan ini. kau jangan kemana-mana” yeoja berambut bob tersebut berlari meninggalkan Monalisa yang hanya memandanginya dengan wajah ketakutan.

Monalisa kembali meraba Lukisan yang basah itu, ia menundukan kepalanya merasa takut sekaligus bersalah. Ia kemudian megangkat kembali kepalanya ketika mendengar langkah kaki berjalan ke arahnya. Langkah ini, apakah itu dia? batin Monalisa. Monalisa memberanikan diri untuk menoleh kebelakang, matanya kembali membelalak ketika melihat Jongin yang telah berada di belakangnya.

Jongin melihat lantai gallery yang telah kotor dan kemudian tatapannya beralih ke benda yang sedang di pegang Monalisa. Lukisannya menjadi tak berbentuk, hal itu membuat Jongin shock. Jongin menatap tajam Monalisa, tatapannya kali ini menggambarkan bahwa ia benar-benar marah. Kedua tangan Jongin mengepal.

“Jawab dengan jujur, apa kau yang membuat ini semua?!” Tanya Jongin sedikit membentak

Monalisa bergidik melihat respon Jongin, dia benar-benar takut melihat Jongin saat ini, “Bu..bukan aku..se..seseorang memberikan kopi kepadaku, dan..kemudian ko..kopinya tum…tumpah” Monalisa menundukan kepalanya, ia tak berani menatap jongin. Tubuh Monalisa sedikit bergetar, takut Jongin akan memarahinya lagi.

“Apa tanganmu terlibat dalam hal ini?!!!!!” ucapan Jongin semakin dingin, bahkan semakin keras.

“I..i..iya, ta..tapi-”

Plaakkkk !!!!

Monalisa merasakan sebuah pukulan mendarat di pipi putihnya, pukulan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, pukulan yang membuat hatinya terasa sangat sakit.

Jongin menampar Monalisa.

Tamparan tersebut cukup kuat, sehingga membuat pipi Monalisa menjadi merah. Monalisa memegangi pipi kirinya yang di tampar Jongin, matanya mulai berkaca-kaca.

Ia bahkan belum menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tapi Jongin sudah mendaratkan  tangannya di pipi Monalisa.

“Kau tidak tahu betapa berharganya lukisan ini untukku?! Besok akan ada pameran, dan lukisan ini yang akan menentukan nasibku pada pameran itu. dan sekarang, kau lihat apa yang kau perbuat ! kau merusaknya ! kau..kau benar-benar membuatku MUAK, aku berharap aku tidak akan melihatmu lagi. Aku selalu bernasib sial jika dekat denganmu !!” Jongin mengeluarkan cacian kasarnya kepada yeoja dihadapannya itu. darahnya serasa mendidih saat ini.

Monalisa menatap Jongin nanar, dia tidak percaya Jongin akan melakukan hal ini. menamparnya sekaligus menghinanya. Hal ini benar-benar menusuknya.

“Kenapa kau tidak pernah percaya padaku? aku belum menjelaskannya, kau sudah memukulku. kau juga selalu menyalahkanku atas semua hal yang tidak sengaja aku lakukan. Sedikit aku melakukan kesalahan, kau tidak mau memaafkanku. Dan cacianmu, terima kasih, sekarang aku sadar seperti apa aku dimatamu.aku sangat berterima kasih, Kau orang pertama yang membuatku merasakan apa itu sakit” monalisa terisak. ia berlari meninggalkan Jongin. Sulit baginya menahan air matanya karena kali ini rasanya benar-benar sakit.Monalisa tidak pernah tahu akan seperti ini akibatnya mencintai seorang kim Jongin, harus selalu siap merasakan sakit.

Beberapa mahasiswa memandangi Monalisa yang berlari sembari memegangi pipi kirinya, Monalisa tidak menghiraukannya. Saat ini hal itu tidak penting lagi.

 

Monalisa  POV

Aku terisak menyadari apa yang Jongin lakukan padaku.  Aku tidak menyangka resiko yang aku tanggung akan seperti ini, bahkan aku belum menyatakan perasaanku tapi dia sudah memberiku jawaban. Ini di luar dugaanku,menyedihkan sekali. Kemudian Pukulan ini, ini terasa sangat sakit. aku selalu menerima setiap kata-kata kasarnya padaku tapi kali ini aku sudah tidak kuat, sekarang aku tahu sebesar apa dia membenciku.

Aku terus berlari dengan air mata yang menetes, aku tidak peduli apa yang akan orang katakan tentangku, bagiku itu sudah tidak penting. Aku masuk ke dalam bus dan duduk di salah satu bangku yang kosong. Aku kembali terisak, seberapa kuat aku menahannya, tetap tidak bisa. Ku hapus air mata yang mengalir dipipiku dengan punggung tanganku. Kusandarkan kepalaku pada kaca bus.

Seperti inikah rasanya Ditolak seseorang. di matamu aku selalu buruk. Tidak pernahkah kau mencoba melihat perasaanku sedikit saja? aku mencintaimu, sangat. Tapi bagaimana aku bisa mengatakannya, jika kau terus menutup matamu dariku. Kau menjadi sebuah teka-teki di hatiku,kau adalah misteri yang tidak pisa kupecahkan, dan  hal yang paling sulit aku lakukan adalah mencintaimu, mencintaimu, dan mencintaimu..

 

Someone POV

“Yes ! yes ! yes ! rencanaku berhasil. Monalisa, rasakan akibatnya jika kau berani mendekati Sehunku” aku bersorak senang ketika melihat Jongin menampar Monalisa. meskipun ini jauh dari perkiraanku sebelumnya, tapi ini lebih baik.

“Kelihatannya kau sangat senang !” seseorang telah berada dibelakangku, sontak kedua mataku membelalak.

“Se..Sehun????”

 

Jongin POV

Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja aku lakukan. Aku menampar yeoja yang paling aku kasihi, karena tamparanku juga yeoja itu meneteskan air mata. Bahkan aku juga mengeluarkan cacian kasar yang sejujurnya itu bukan dari hatiku.

“Apa yang kau lakukan kim Jongin ! apa kau sudah gila?!” aku mengacak rambutku. Tanganku mengepal, aku merasa kakiku sudah tidak kuat menopang tubuhku. Aku tidak mempunyai kekuatan lagi karena telah menyakitinya.

“Arrrggghh !” aku kembali menggeram kesal pada diriku sendiri. Kenapa aku tidak bisa menahan amarahku, bahkan padanya sekalipun. Air mataku menetes, aku merasa sangat bersalah padanya. Tamparan yang aku berikan padanya masih sangat membekas di ingatanku dan juga menimbulkan rasa perih di hatiku.

“Monalisa mianheyo..mianheyo..”

 

Author Pov

Disinilah dia, tempat dimana kapal-kapal berlabuh untuk istirahat. Monalisa berjalan sendiri menuju salah satu loket. Air matanya telah berhenti mengalir, tetapi tangis dihatinya masih terus mendengung. Sampai di depan loket, ia memesan tiket untuk ke jeju. Monalisa memang ingin pulang ke Jeju,Ia merasa tidak ada muka untuk bertemu dengan Jongin terlebih lagi untuk tinggal di rumah Lee Harabeoji yang notabenenya kakek Jongin. Monalisa belum meminta izin sebelumnya kepada Lee Harabeoji karena ia tahu pasti Lee Harabeoji tidak mengizinkannya.

Selesai membeli tiket, Monalisa membawa dirinya menuju kesebuah batu yang cukup besar di pinggir laut. Deburan ombak dapat membuat hatinya sedikit tenang. Dibiarkannya angin bertiup di sekililing rambutnya dan membuatnya tampak berantakan. Suasana ini sudah lama tidak ia rasakan ketika di Seoul.

“Kau terlihat cengeng” seseorang telah menyadarkan Monalisa dari lamunannya. Monalisa membalikkan badannya dan melihat Sehun sedang menatapnya.

“Sehun-ah, bagaimana kau tahu aku ada disini?” Tanya Monalisa sembari menatap Sehun tak percaya.

“Aku melihat air matamu yang menetes di sepanjang jalan” Jawabnya setengah tertawa. Sehun mengambil posisi di samping monalisa.

Monalisa hanya tersenyum mendengar jawaban Sehun.

“Tidak usah tersenyum jika tidak bisa” nada bicara Sehun berubah menjadi serius.

Senyuman di bibir Monalisa seketika hilang mendengar ucapan Sehun. Monalisa menatap sehun seolah meminta penjelasan dari ucapannya.

“Aku melihat semuanya, jadi tidak usah berpura-pura kuat lagi” Sehun membalas tatapan Monalisa,ia dapat melihat mata sembab milik gadis dihadapannya itu.

Monalisa mengalihkan pandangannya dari Sehun, ia kembali menatap lurus bentangan air asin dihadapannya.

“Jadi kau melihatnya, menyedihkan sekali ya” monalisa terkekeh pelan, ia merasa malu kepada Sehun.

“Ani, aku tidak berpikir demikian. Kau terlihat lebih menyedihkan ketika kau berusaha kuat seperti sekarang”

Monalisa tidak membalas ucapan Sehun, kejadian-kejadian tadi siang kembali membekas dalam ingatannya.

“Aku baik-baik saja. Kau tahu, aku ini gadis pulau, jadi karena hal sepele itu tidak akan membuatku patah semangat. Aku malah bersyukur karena hal itu aku jadi lebih kuat. Hufffttt, cukup menegangkan sebenarnya…” Monalisa mencoba tertawa dan berusaha menyembunyikan perasaan sedihnya.

Sehun membawa Monalisa dalam dekapannya, dia tidak tega melihat keadaan Monalisa saat ini. Hal itu membuat perasaan Sehun semakin tersayat.

“Menangislah..tidak apa.. aku tidak akan menyebutmu gadis cengeng. Aku mohon, menangislah.. seseorang tidak akan melihatmu menangis sekarang, karena tubuhku dapat menutupinya”.

Seolah tersugesti oleh perkataan Sehun, air mata Monalisa kembali menetes. Ia kembali terisak.

“Aku mencintainya Sehun ah, aku sangat mencintainya. Tapi kenapa dia seperti itu padaku.. kenapa?!” tangisan Monalisa semakin kuat. Ia berusaha menumpahkan rasa pedihnya saat ini. Monalisa semakin erat memeluk Sehun bersamaan dengan semakin derasnya air mata yang ia keluarkan.

Sehun merasa sesuatu tengah menusuk hatinya, pernyataan Monalisa seolah menjadi jawaban dari kecurigaannya selama ini. Beruntunglah Sehun memiliki sikap yang bijak dan tenang sehingga ia tidak terbawa emosi saat ini, ia malah melakukan hal sebaliknya, mencoba menenangkan Monalisa.

“Menangislah..menangislah hingga semua perasaan itu hilang. Aku akan menemanimu disini. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian, aku janji”.

Sehun menguatkan pelukannya, dapat dirasakan bajunya basah akibat air mata Monalisa.

 

Jongin POV

 

Aku kembali kerumah dengan perasaan kesal sekaligus sedih yang masih memburuku. Kuparkirkan Mobilku asal ketika sampai dirumah.

“Jongin-ah, ada apa denganmu?” Tanya eomma. kurasa eomma dapat merasakan perasaanku saat ini.

“Hanya..melakukan sedikit kesalahan eomma..” aku pergi meninggalkan eommaku. Dia pasti akan bertanya lebih banyak jika aku tetap diam disana.

Kubanting pintu kamarku hingga menimbulkan bunyi yang sangat kuat, aku meletakkan tasku asal. Aku merasa sangat frustasi sekarang. Beberapa perabotan kamar juga menjadi Korban amarahku.

Tok..tok..tok..

“Jongin-ah, ada apa denganmu?”

Itu suara eomma, dia pasti menghawatirkanku.

Tok..tok..tokk..

“Jongin-ah, eomma mohon buka pintunya !” eomma semakin kuat mengetuk pintu kamarku. mau tak mau aku harus membukakannya.

Ceklek..

“Jongin-ah, kenapa kau menangis??”

Eomma mengusap air mataku, sebenarnya aku malu menangis dihadapannya, ini pertama kalinya. Tapi, aku memang sudah tidak sanggup  berpura-pura kuat lagi.

Eomma terperangah melihat keadaan kamarku yang amat berantakkan, seluruh barang teretak pada posisi yang tak semestinya. Eomma kembali menatapku dengan tatapan bertanya, tapi aku tak menggubrisnya.

“Cerita pada eomma, apa yang terjadi? Kesalahan apa yang membuatmu menjadi seperti ini?” eomma menatapku khawatir.

“Eomma, aku..aku mencintai Monalisa eomma..tapi aku juga telah menyakitinya..”

Eomma memelukku, hal ini membuatku semakin sedih.

“Ceritakan semuanya pada eomma..”

Aku menarik nafas panjang sebelum menceritakannya, “Eomma, aku menyukainya. Tapi aku membuat sebuah kesalahan. Aku terlambat menyadari perasaanku padanya. Ketika aku sadar, Sehun telah menyukainya terlebih dahulu. Aku menyayangi Sehun eomma, aku tidak mungkin menghianatinya…”

Aku menghentikan ucapanku, ini semakin berat. Eomma menguatkan pelukannya, seolah olah memberiku kekuatan lebih.

“Aku..aku berusaha menjauhinya, tapi itu malah membuatku semakin sakit eomma..dan tadi siang, aku..aku menamparnya, aku telah menyakitinya eomma…apa yang harus aku lakukan. Aku telah melangkah terlalu jauh terhadap perasaan ini. Bagaimana aku dapat menghentikannya??!”

Air mataku semakin deras, aku menangis dalam diam. Hanya air mata yang dapat mewakili perasaanku saat ini.

Eomma hanya diam, dia mengusap punggungku pelan berusaha menenangkanku. Dia juga tidak membalas ucapanku tadi. Lihatlah, bahkan eommaku saja tidak tahu solusi apa yang harus aku ambil.

Tidak ada yang bicara diantara kami, hanya air mata yang masih mengalir.

 

Author POV

Dua sijoli sedang saling terisak. Di dua tempat yang berbeda, suasana yang berbeda, tetapi dengan hati dan perasaan yang sama.

 

Tbc..tbc..tbc..

Terima kasih sudah membaca FF saya ^^ maaf jika banyak typo, dan kegajean yang lain *bow.

Coment please.. ^^

 

Iklan

26 pemikiran pada “Monalisa (Chapter 6)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s