Time to Leave You (Chapter 2)

Author : AllRisemoon | Twitter : @Lestaritama

Judul : Time to Leave You (Trilogy of Brother Complex)

Genre : Romance, AU, Comfort | PG : 15

Cast : Do Kyungsoo  | Wu Yong Ra | Wu Yi Fan | Lu Han and other

Leght : Twoshot

Author’s Note :

Bertemu lagi dengan saya… author AllRisemoon kembali hadir dengan kelanjutan FF Time to Leave You (Trilogy of Brother Complex) chapter terakhir^^. Yang sudah komentar terimakasih banyak ya.. yang Cuma baca dan komentar dalam hati juga terimakasih. Semoga selanjutnya kalian bisa komentar langsung biar lebih bermanfaat lagi oke?

Ceritanya sudah masuk konflik berat… jadi tetep Stay and Happy Reading^^

 

 Poster EXO

 

Before Story

Yong Ra sedikit berlari setelah mmendapatkan ruang rawat Kyungsoo dari resepsionis rumah sakit. VIP 306.

Gadis itu perlahan membuka pintu ruang rawat Kyungsoo dan mendapati kekasihnya dengan wajah pucat pasi, tergeletak ta berdaya di ranjangnya.

                “Kyungsoo oppa ……” panggilnya pelan, pemilik nama itu mendongak tanpa seulas senyum yang selalu ia pamerkan pada Yong Ra. gadis itu mendekat kearah Kyungsoo dengan mengeratkan pegangan di tas selempang cream miliknya.

                “Oppa … kau baik-baik saja ??” sapanya pelan dengan senyum khawatir tetap terpatri di wajahnya.

                “Kau mau apa??” sejenak Yong Ra terhenyak kaget, tapi sebisa mungkin gadis itu mengendalikan perasaanya sehingga tidak membuat Kyungsoo jauh lebih buruk dari ini.

                “Tentu saja menjengukmu, aku mendapat kabar dari Baekhyun, kau kecelakaan, jadi aku kesini untuk menjengukmu …..” jelas Yong Ra tenang, meskipun hatinya sudah tak karuan rasanya melihat kalimat pendek Kyungsoo yang menusuk dadanya sekali telak.

Kyungsoo sama sekali tak peduli dengan apa yang dikatakan gadis yang harus ia anggap apa saat ini. batin Kyungsoo tersiksa, tak bisa memutuskan sesuatu dengan jernih.

                “Ahh iya, aku hampir lupa sebenarnya aku sudah membawakan panekuk untukmu oppa untuk bekal makan siangmu di kampus, tapi aku mendengar berita ini … jadi aku membawanya kesini ….” Jelas Yong Ra dan langsung membuka tas selempangnya, wajah Kyungsoo sama sekali tak berubah dari sebelumnya, wajahnya benar-benar membuat Yong Ra bingung. Baru pertama kalinya Kyungsoo bersikap seperti ini padanya.

Yong Ra memotong kecil Panekuk dan menusuknya dengan garpu

                “Oppa … ayo makan ini, ini sesuai resep yang kau berikan ….” Bujuk Yong Ra sangat manis, berbanding terbalik dengan wajah Kyungsoo yang sekarang mirip orang divonis mati.

                “Singkirkan ini dariku!!!”

 

‘Prang’

Kyungsoo menyambar garpu yang sudah hampir masuk ke dalam mulutnya, menjadikan potongan panekuk itu berceceran di lantai marmer ruangan VIP itu.

Dada Yong Ra bergejolak hebat, gadis itu berusaha menahan diri dari tadi, mencoba mengulang peristiwa akhir-akhir ini. Yong Ra sama sekali tak melakukan kesalahan, Yong Ra juga sama sekali tak menghubungi Kyungsoo karena gadis itu mengira Kyungsoo sibuk dengan latihan vokalnya. Lalu? Apa yang membuat Kyungsoo semarah ini?

 

Story Begin …….

Author’s side

“Kyungsoo oppa? apa yang kau lakukan ?” kesal Yong Ra sambil memunguti sisa panekuk yang tercecer di lantai. Gadis itu membersihkan sisa panekuk dengan hati gusar, ia menghembuskan nafas panjang dan mengeluarkannya, berharap air matanya tak akan tumpah di depan Kyungsoo. Ia tidak mau kekasihnya itu jika ia menahan perasaan.

Selanjutnya, Yong Ra berdiri dan membuang sisa makanan itu di sudut kanan ruangan VIP itu, lalu menghampiri Kyungsoo yang masih tak bergeming dari tadi.

Yong Ra duduk di kursi dekat ranjang Kyungsoo, gadis itu meraih tangan Kyungsoo yang masih terbalut infuse.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi beberapa hari ini padamu oppa …..”

“Tapi, di hadapanku sekarang bukanlah Do Kyungsoo yang kukenal, dia berbeda, dia marah sekali padaku tanpa sebab yang tak kuketahui ……”

Yong Ra tertunduk, Kyungsoo menoleh kearah kekasihnya itu, lelaki itu sebenarnya tak mau marah, sama sekali tak mau marah.  Tapi ia harus bagaimana?? Ia terlalu takut dengan kenyataan pahit yang rasanya begitu cepat menghantamnya, apa ia harus melepaskan Yong Ra? Kyungsoo bersikap seperti ini, hanya karena ia bingung harus melakukan apa dan ia perlu waktu untuk berpikir. Itu saja.

“Aku mau makan panekuk” lirih Kyungsoo, membuat Yong Ra mendongakkan kepalanya menatap Kyungsoo yang masih memasang wajah datar untuknya, namun kesempatan ini tak akan dibuang begitu saja oleh Yong Ra, ia dengan segera menyuapi Kyungsoo dengan sisa panekuk yang ada.

“Ini … ayo makan ….” Kyungsoo mulai membuka mulutnya, setitik air mata jatuh dari sudut mata Yong Ra.

“Kau menangis ??”

“……” tidak ada jawaban dari Yong Ra, gadis itu hanya sesenggukan dan sesekali bernapas panjang.

“Boleh aku memelukmu ???”

Kyungsoo tampak bingung dengan permintaan yang diajukan oleh Yong Ra padanya, namun seketika hatinya bergejolak, ingin menolak permintaan Yong Ra.

Tanpa jawaban yang pasti dari mulut Kyungsoo, gadis itu merangkul Kyungsoo begitu saja, meletakkan dagunya di bahu Kyungsoo. Membuatnya merasa tenang.

“Kyungsoo Oppa….. kau boleh tidak menghubungiku, kau boleh memintaku memasakkan apapun untukmu, bahkan kau boleh memarahiku sesukamu, tapi kumohon, jangan mendiamkan aku seperi ini … Kumohon!! Aku tidak akan bisa…..” desis Yong Ra sambil mengeratkan pelukannya di leher Kyungsoo. Seharusnya ini tak terjadi bukan? Seharusnya ini tidak boleh! Tapi Kyungsoo seperti lumpuh mendadak dengan perlakuan Yong Ra yang memohon padanya.

Lelaki itu merasa dirinya begtu bersalah, semua ini bukan salah gadis sekaligus adik kandungnya itu.

Perlahan namun pasti, Kyungsoo membalas pelukan Yong Ra, dan mereka berdua sama-sama berlinang air mata.

Mianhae .. aku tidak akan melakukannya lagi ….. Mian” balasnya degan suara lembutnya. Membentuk senyuman tipis di wajah Yong Ra.

“Kau berjanji tidak akan menjadi Mosnter Do lagi ….. ??” Bisik Yong Ra dengan menampakkan satu jari kelingkingnya dengan harapan dibalas oleh tautan jari dari Kyungsoo.

Kyungsoo menjawab dengan anggukan ringan dan menautkan jari kelingkingnya dengan jari Yong Ra. pertahannya runtuh sudah. Setidaknya Kyungsoo tidak akan menyakiti Yong Ra dengan cara tolol ini.

“….Sebab mencintaimu adalah tugasku sejak dulu , Sejak kau mengatakan ‘I Love U’ Dan aku menjawab ‘I Love U too’…”

Yong Ra to Kyungsoo

~xXx~

 

Kris menatap wajahnya yang terlihat sempurna karena gaya rambutnya berwarna Hitam, menggambarkannya sebagai pria Asia yang menawan dan berwibawa, tidak lagi dikejar-kejar bule prancis yang meminta tanda tangannya setiap hari ia berjalan-jalan di sekitar Eiffel Tower.

Kris berjalan santai menuju plataran apartement Yong Ra dan membuka gagang pintu dengan perlahan. Matanya melihat kearah Ruang tamu minimais berwarna Fresh Cytrus itu dengan senyum gingsulnya.

“Ibu …. Apakah tidak ke kantor ???” Tanya Kris yang dibalas dengan tatapan serius dari Nyonya Wu. Kris merasa kalah telak dengan tatapan mata dari Ummanya yang syarat akan misteri seperti tantangan menyelesaikan Puzzle 3G saja.

“Ibu ingin bicara …. Duduklah di sini Kris..” balas Nyoya Wu sambil menepuk area kosong di sampingnya

“Kau sudah mengerti sejak dulu kan, jika adikmu itu bukan dari keluarga Wu ….??”

“Kenapa ibu berbicara seperti itu ? bukankah kita sudah berjanji tidak akan membahas ini Bu? Apa ibu berniat mengatakan semua ini dan membuat Yong Ra mencari-cari kelarganya yang lama? Yang sesungguhnya sudah melahirkannya …..” argument Kris membuat Nyonya Wu menggeleng keras dan menatap mata tajam anaknya itu yang sudah menunjukkan kilatan merah.

“Ibu sama sekali tak berniat melakukan hal bodoh itu, karena rahasia ini sudah tersimpan rapi sejak Yong Ra berganti marga menjadi Wu, Ibu juga sudah mencintai gadis itu seperti anak Ibu sendiri, dia akan terus menjadi adikmu sampai kapanpun …..”

“Yong Ra adalah penolong keluarga kita Nak….”

Kris yag mendengar ucapan Ummanya itu semakin heran dan penasaran, sebenarnya apa yang terjadi? Apa ada sesuatu yang mengancam adik kesayangannya itu?

“Ibu…. Apa yang terjadi sebenarnya? Apa maksud Ibu dengan dia akan terus menjadi adikku? Memangnya Yong Ra akan kemana?” seru Kris dengan nada kesal yang sudah hampir tak terukur lagi.

“Dia sudah menemukan kakak kandung laki-lakinya Kris …..” Alis Kris membentuk sebuah kerutan dan siap mendengarkan keadaan yang bisa membuat berbalik seluruhnya.

“Dan ….. kakak kandung Yong Ra yang sebenarnya…. Adalah kekasihnya sendiri”

 

“…..Rahasia itu mulai muncul ke permukaan, Tapi satu yang kutahu sampai kapanpun kau tetap adikku, adik kesayanganku…”

Kris to yong Ra

 

 

~xXx~

Louvre hari ini tidak begitu ramai karena jam tutup akan diumumkan beberapa jam lagi, dan Gallery seni besar ini menjadi salah satu tempat favorit Kyungsoo karena mungkin pada akhirnya dia juga akan terjun di bidang seni dan sejenisnya.

“Yong Ra … aku ingin berfoto di sini” tunjuk Kyungsoo ke salah satu ruangan besar dengan hiasan yang semuanya berwarna keemasan, Gallery Apollo

“Baiklah .. berdiri di sana …” tunjuk Yong Ra kesalah satu sudut ruangan untuk melayani Kyungsoo dan mendapatkan angel yang bagus.

“Are you Ready ?? 1 2 3 …..”

‘KLIK’

Tepat! Yong Ra membidik dengan kamera Nikonnya yang satu bulan yang lalu sudah meng-update lensanya.

“Bagaimana??”

“Selalu bagus jika kau yang menjadi objeknya Oppa …” ucapnya sambil tersenyum melihat hasil jepretannya sendiri

“Benarkah? Aku akan memberimu hadiah ….”

“Cup…..” Kyungsoo mencium pipi Yong Ra, namja itu kemudia berlari sebelum Yong Ra melemparinya dengan kamera mahalnya itu dan melihat galaknya jika sedang marah.

Ya!! Kyungsoo kau kurang ajar!! Beraninya menciumku di depan umum!!” teriak Yong Ra sambil berjalan mengikuti Kyungsoo yang terus berlari.

Kyungsoo berlari di pelataran Louvre dan duduk manis di salah satu kursi yang memang disediakan untuk pengunjung.

Ya! Apa yang kau lakukan” Kyungsoo dikagetkan oleh jawilan tangan Yong Ra

“Hihihihi .. hanya menggodamu ….” Kekehnya sambil menunjukkkan senyum innocentnya. Mendadak Kyungsoo memandang wajah Yong Ra, pria itu menerawang apa yang dikatakan ibunya dan semua rahasia yang sekarang sudah ia ketahui. Apa benar gadis di depannya ini adalah adiknya? bagaimana bisa? Dunia begitu sempit sehingga mereka dipertemukan kembali dalam ikatan cinta yang terlarang. Kyungsoo berusaha menolak keinginan yang bergejolak pada dirinya untuk menganggap Yong Ra lebih. Namun, Kyngsoo tidak bisa, mati-matian dia tidak menghubungi Yong Ra semenjak pria itu tahu kenyataan pahit yang menjadikannya seperti prajurit yang mundur sebelum berperang. Nalurinya tetap seperti dulu, mencintai Wu Yong Ra sebagai kekasih bukan adiknya.

Oppa ….” Panggil Yong Ra padanya yang mendadak memasang wajah khawatir

“Ada apa denganmu?” Yong Ra menyentuh pipi Kyungsoo agar pria iyu menoleh  kearahnya.

“Hentikan!” ucap Kyungsoo menepis tangan Yong Ra membuat gadis itu bergidik seram dengn perubahan Kyungsoo yang akhir-akhir ini berubg menurutnya

“sebaiknya kita pulang saja……” ajak Kyungsoo sambil berlalu begitu saja meninggalkan Yong Ra yang asih bingung dengan perubahan sikapnya yang begitu mendadak. Gadis itu segera mengejar Kyungsoo

“Bukankah kita ada rencana ke Disneyland?” ucapnya antusias, namun Kyungsoo tidak menanggapinya, pria itu hanya menggelang dan langsung menuju Halte untuk mendapatkan bis. Hari ini mereka berdua tidak membawa mobil karena ingin melihat arak-arakan besar yang ada di Disneyland.

“…..Semua tingkah gerakmu adalah pelajaran bagiku, sayang…. Jangan pernah membuatku bingung dengan rumusan sikap yang dalam beberapa detik bisa berubah itu…”

 

~xXx~

 

                “Dari mana saja ?” cercah Kris dengan suara beratnya, ia menyenderkan tubuh jangkungnya di dinding menuju ruang tengah apartemen Yong Ra.

“hanya berjalan-jalan di Louvre oppa ….”

“Dengan siapa?”

“Tentu saja dengan kekasihku .. Kyungsoo, apa ada masalah ?” ucap Yong Ra yang membuat Kris menajamkan matanya kea rah adiknya itu, pria maskulin itu langsung beranjak pergi.

Oppa …..” pangil Yong Ra dari pintu masuk, tapi Oppa-nya itu sama sekali tidak mengindahkan panggilannya.

“Yong Ra … kau sudah pulang sayang?” Nyonya Wu menepuk pundak Yong Ra setelah memutuskan mengakhiri perbincangan berat dengan Kris sekitar dua jam yang lalu, dan melanjutkan untuk pergi ke kantor megah di distrik La Défense tempat perusahaan baru keluarga Wu dibangun.

“uhmm … baru saja datang ….. tapi tiba-tiba Oppa bersikap aneh padaku, biasanya saat aku datang, dia akan menyambutuku dengan sejuta godaan yang ia tawarkan setiap hari atau menceritakan bagaimana maskuliannya dirinya seingga selalu dikejar-kejar oleh bule-bule di sini” tutur Yong Ra sambil menenteng bootsnya menuju rak sepatu pribadinya.

“Memangnya kau dari mana sayang?” Tanya Nyonya Wu selanjutnya, dengan sigap Yong Ra menghampiri Ibunya dengan senyuman lebar dan menunjukkan foto Kyungsoo hasil jepretannya di Louvre tadi.

“Kekasihmu? Kyungsoo?” tebak Nyonya Wu dan hanya dibalas anggukan mantap oleh putrinya itu.

Yang benar saja, hari ini berganti keadaan begitu cepat, pantas saja Kris langsung tak mengindahkan panggilan Yong Ra, pria itu tahu betul, Kyungsoo-lah yang jadi bahan pembicaraan sensitive tadi siang.

“Mungkin oppamu itu sedang kesepian, jarang sekali dia mengunjungimu Yong Ra, mungkin dia butuh teman-teman jalan-jalan mengelilngi Kota Mode ini..” Lanjut Nyonya Wu dan langsung berlalu menuju pantry untuk memasak makan malam.

Yong Ra terdiam sejenak, gadis itu berpikir, mungkin jalan-jalan ke Arc de Triomphe untuk mengenang jasa pahlawan di Paris atau Montmartre salah satu distrik terkenal di Paris, terletak di bukit dan memiliki Basilica of the Sacré Cœur dan Place du Tertre untuk melihat matahari terbenam, ide yang tidak terlalu buruk untuk seorang kakak beradik seperti mereka.

~xXx~

 

                “Oppa … bangunlah!! Ini sudah jam 3 sore, bagaimana bisa seorang pria maskulin sepertimu tidur siang? Hah?” tutur Yong Ra sambil duduk di tepian ranjang Kris dengan menggembungkan pipinya.

Ya! Apa yang kau lakukan, mengganggu acara tidur siangku? Kau tahu adikku, aura kakakmu ini akan semakin keluar jika siang hari! Kau mengerti tidak?” ucap Kris malas sambil melengos membuang muka dari Yong Ra.

“Ayo kita jalan-jalan! Bukankah kita tidak pernah jalan-jalan sebelum ini? aku ingin mengajakmu ke Arc de Triomphe!” Yong Ra menarik kemeje tipis milik Kris berharap pria itu akan menampakkan wajahnya.

“Kenapa tidak ke Eiffel tower saja?” gugat Kris sambil membalikkan badan dan menatap adiknya yang sudah siap dengan tas selempang berlabel Mickey Mousenya. Kekanakan sekali, pikir Kris dalam hatinya.

“Apa? Eiffel Tower? Yang benar saja, kita kesana, kita kan bukan pasangan kekasih Oppa?? kau pergi saja dengan kekasihmu! Aku tidak mau kesana denganmu!!” tuturnya sambil berlaru keluar membiarkan Kris dengan khayalannya sendiri.

“Sudahlah, ganti bajumu, kita akan berangkat 10 menit lagi” timpal Yong Ra selanjutnya dan menutup pintu kamar Kris dan menghilang setelahnya.

“wanita memang merepotkan!”

 

~xXx~

                “Adikku …. Tempat ini sama sekali tidak menarik” bisik Kris pada Yong Ra yang masih asyik memfoto setiap ukuran yang tertpampang di dinding Arc de Triomphe

“ini kan monumen kebangsaan Prancis oppa, kau tidak seharusnya berbicara seperti itu…” tutur Yong Ra yang harus mendongak menatap kakaknya yang super tinggi itu, seperti galah.

“Kita pergi ke tempat lain saja… aku tidak suka di sini…”

Yong Ra menutup kamera-nya dengan penutup kemudian mengangguk setuju.

“Kurasa lebih baik jika kita pergi ke Palais Garnier, saat ini, di sana sedang ada pertujukkan opera yang bagus, bagaimana?”

“kenapa kau tidak bilang dari tadi Yong Ra, ayo kita pergi…” Kris menarik tangan Yong Ra segera pergi dari Arc de Triomphe, sebelum bule-bule prancis mengajarnya dan mengajaknya foto bersama.

 

“……Kadang, saat aku bersamamu… Aku merasa sangat terlindungi dari apapun….”

Yong Ra to Kris

 

~xXx~

 

Yong Ra masih mengantre tiket untuk masuk ke Palais Garnier, sedangkan Kris duduk dengan tampang coolnya di seberang Yong Ra, menunggu adiknya itu dengan tatapan khasnya.

“Ayo oppa kita masuk, aku sudah dapatkan tiketnya…” senyum Yong Ra mengembang dengan membawa 2 kertas persegipanjang di tangannya, Kris berdiri dan merapikan kemeja putihnya dan berjalan kearah Yong Ra.

“Kau ada di….” Suara wanita paruh baya mengagetkan Kris dan Yong Ra yang hendak masuk menuju ruang teater. Wanita dengan senyum meremehkan itu datang menghampiri Kris dengan sepatu Boot tinggi dan mantel bulunya.

“Lama sekali kita tidak berjumpa Kris…..” sahutnya dengan raut wajah tenang, mata Kris makin tajam menatapnya, seolah akan ada sesuatu yang besar yang akan terjadi selanjutnya.

“Tentu Wang Ahjumma… sayangnya, aku tidak pernah merindukanmu…” Kris dengan ketus menjawab pertanyaan wanita paruh baya di hadapannya yang tidak lain adalah bibinya sendiri.

“Wah…. Kau semakin dewasa Wu Yi Fan, apa salahnya memeluk Ahjummamu sendiri” Kris hanya menatap Ahjummanya itu dengan tatapan tak biasa. Benci!

Nyonya Wang hanya tersenyum melihat tatapan Kris yang seperti ingin membunuhnya itu, mata sipitnya beralih menuju gadis di samping Kris yang membuat wanita in penasaran.

“Oh… siapa gadis manis ini? kekasihmu?” ucapnya dengan nada setenang mungkin

“Aku Wu Yong Ra, adik Wu Yi Fan ….” Nyonya Wang memiringkan bibirnya, wanita itu mengingat dengan jelas apa yang terjadi sekitar 21 tahun yang lalu.

“Selama ini, keluarga Wu, hanya memiliki satu anak.. yaitu Wu Yi Fan…. Tidak memiliki adik ataupun kakak, kecuali ….” Nyonya Wang menggantungkan kalimatnya kali ini ia menatap Kris dengan tatapan mengancamnya yang khas, membuat Kris memegang tangan Yong Ra dan siap membawa adiknya itu keluar dari Palais Garnier secepatnya.

“Kau tidak perlu terburu-buru Kris, sudah saatnya adikmu tahu apapun yang terjadi pada keluargamu dulu…..”

“Apa maksud anda? Aku anak dari keluarga Wu, aku Wu Yong Ra dan sampai kapanpun akan seperti itu…. Kris oppa juga selalu mengatakan hal itu! anda jangan asal bicara!!” Yong Ra melepaskan tangannya dari cengkraman Kris, gadis itu maju beberapa langkah seperti ingin menantang Nyonya Wang yang masih tersenyum manis meremehkan dua bersaudara ini.

“Semua orang di keluarga Wu juga megetahui kau hanyalah anak yang dijual oleh keluargamu untuk mengatasi pailit pada perusahaannya…..”

“Apa??” lirih yong Ra sambil menyentuh dadanya yang terasa sesak

“Cukup!! Ahjumma…. Kau sama sekali tidak tahu keluargaku, jangan asal bicara!!” Kris menjulurkan jari telunjuknya pada Nyonya Wang, nafasnya menderu mendengar perkataan Nyonya Wang yang membuatnya menyulutkan api amarah.

“Simpan saja setelah opera di Palais Garnier selesai, Tuan Wu Yi Fan ….” Tanpa ragu Nyonya Wang masuk kedalam gedung teater tanpa memperdulikan ekspresi wajah Kris yang bisa mencekiknya jika dia tidak mengingat ini adalah tempat umum.

“….. Rahasia itu akan terasa lelah jika disembunyikan terlalu lama, ia akan muncul ke permukaan di saat semuanya sudah sempurna dan dijaga sejak dulu…”

~xXx~

 

Nyonya Do berjalan gontai menuju kamar Kyungsoo, memanggil pria yang sejak tadi bergelut dengan selimut menimati tidur siangnya atau bermain game di kamar kesayangannya. Jemarinya menggapai gagang pintu dan membukanya perlahan, agar tidak membangunkan Kyungsoo.

“Kyungsoo……” Nyonya Do tersnyum simpul melihat anaknya yang sudah berumur 20 tahun itu tidur lelap di kamarnya. Pria ini tidak biasanya tidur siang, mungkin karena jadwal latihan vocal hari ini cukup padat.

Perlahan Nyonya Do mendekati Kyungsoo, wanita paruh baya itu duduk di tepi bed Kyungsoo dan mendapati sesuatu yang dipeluk anaknya di dadanya. Nyonya Do perlahan mengambil benda yang ia lansir adalah sebuah bingkai foto.

“Yong Ra?” Nyonya Do menutup mulutnya dengan satu tangannya. Kemudian Nyonya Do memikirkan spekulasi-spekulasi yang terjadi setelah ini. Bukankah Kyungsoo sudah mengetahui yang sebenarnya terjadi? Apa pria ini masih berani berhubungan dengan Yong Ra?

Sadar akan apa yang dilihatnya, Nyonya Do langsung keluar dari kamar Kyungsoo dan mengembaikan bingkai coklat kayu itu pada tempatnya. Di pelukan Kyungsoo.

Beberapa saat saat Nyonya Do keluar, ponsel Kyungsoo berbunyi membuat siempunya sadar dan mengerjap sebal, bibir kisablenya tampak lucu, tangannya bergerak menuju sumber suara.

Yeobseyo….”

“Kyungsoo oppa…..”

Ya! Kau menganggu tidurku saja…..”

“Maaf…..” mendengar kata tulus itu, Kyungsoo mulai membiarkan Yong Ra bicara.

“Ada apa? Apa ada masalah?” balasnya kemudian

“Bisa menemuiku di Place des Vosges, aku benar-benar membutuhkanmu”

“….sekuat apapun aku berusaha, kenyataan itu tak akan bisa aku rubah sekuat kemampuanku….”

 

 

~xXx~

 

                “Ada tamu untuk Ibu Presdir….”

“Suruh masuk saja Pak Lee” ujar Nyonya Wu yang notabene adalah Presdir perusahaan keluarga Wu.

“Tapi.. yang datang adalah Nyonya Wang, Ibu Presdir….” Ujar Pak Lee selanjutnya,  Pak Lee adalah tangan kanan keluarga Wu sejak lama. Dan pria 50 tahun itu mengerti benar sejarah tentang keluarga Wu sekaligus carut marutnya.

“Tidak apa-apa Pak Lee, mungkin ada hal yang penting yang akan ia sampaikan….. Mungkin ia sedang membawa berita besar” Pak Lee segera membungkuk keluar ruangan. Baru saja Pak Lee akan memegang gagang pintu, tiba-tiba saja Nyonya Wang sudah masuk ruangan itu tanpa permisi.

“Selamat siang Ibu Presdir Wu…..”

 

 

~xXx~

 

                “Terimakasih telah mengantarku Oppa….” Yong Ra mengucapkan terimakasih pada Kyungsoo yang sudah mengantarnya pulang setelah menangis memeluk Kyungsoo di taman Place des Vosges,

“Tidak masalah asal kau tidak bersedih lagi… tapi kuharap, kau mau bercerita sesuatu padaku…” ucap Kyungsoo sedikit kecewa karena Yong Ra sama sekali tidak memberinya alasan Konkrit sebab ia menangis di pelukan Kyungsoo.

“Tidak hari ini Oppa…..” tutur Yong Ra sambil membelai pipi Kyungsoo perlahan, pria itu tersenyum.

“Yong Ra!!” Panggil seseorang dari dalam Apartement Yong Ra, gadis itu menghela napas.  Kris dengan langkah tergesa menghampiri Yong Ra dan Kyungsoo di depan pintu apartement mereka.

Kris menatap Kyungsoo dengan tatapan tajam khas miliknya. Memang, selama dua tahun ini Yong Ra tak pernah mengenlkan Kyungsoo pada keluarganya, dan Yong Ra tak pernah berpikir bahwa pertemuan mereka akan menjadi seperti ini.

“Kau pasti Kris, kakak Yong Ra… Perkenalkan aku Do….”

“Jangan pernah mengganggu Yong Ra lagi …..” Kris tiba-tiba memotong kalimat Kyungsoo dengan suara dinginnya.  Yong Ra sudah membau atmosfir yang tidak menyenangkan ini hanya membulatkan matanya.

“Aku tidak mengerti apa maksudmu…..” ucap Kyungsoo membela diri, bahkan ia belum mengenalkan diri pada keluarga Wu.

“Tidak penting kau mengerti atau tidak, yang jelas, jangan datang lagi kesini dan jangan mengganggu adikku lagi… mengerti?” Kyungsoo memejamkan mata dan mengepalkan tangannya. Kyungsoo merasa kehadirannya tidak dianggap oleh keluarga Yong Ra.

“Ayo masuk!!” tangan kekar Kris menarik tangan Yong Ra masuk apartement dan segera mengunci pintunya, membiarkan Kyungsoo dengan segala kekesalannya yang tak terbalas.

“seharusnya aku yang bilang seperti itu…. Wu Yi Fan…. Akulah kakak kandungnya” Cercah Kyungsoo di depan pintu apartemet Yong Ra. Kyungsoo sadar kehadirannya akan sangat di enggani oleh keluarga besar Wu. Tapi sebenarnya Kyungsoo juga memiliki hak yang sama dengan Kris, bahkan lebih dari itu.

Seharusnya, Kyungsoo tidak mencintai Yong Ra sedalam ini…. inilah kesalahan yang tidak bisa ia hapus sampai sekarang.

 

~xXx~

 

                “Apa yang kau katakan pada anak-anakku?”

“Hanya kebenaran yang selalu diasingkan dari anak terkasihmu, Wu Yong Ra…”

“Apa maksudmu!!” Nyonya Wu menatapnya geram. Nyonya Wang hanya menampilkan smirknya.

“Semua orang juga tahu kau memungut anak itu hanya untuk menyelamatkan keluargamu agar perusahaan tidak jatuh ke keluarga Wang …”

“Aku hanya menyelamatkan perusahaan agar tidak jatuh ketangan yang salah….. aku menghargai kesuksesan Ayah, dan kurasa yang kulakukan adalah yang benar….” Jawab Nyonya Wu tak kalah santai

“Rupanya… kau sudah menjadi Nyonya Presdir yang sombong sekarang….” Tutur Nyonya Wang yang tidak lain adalah kakak Iparnya sendiri, semua orang tahu bahwa keluarga ini tidak berhubungan baik.

“Aku permisi….” Nyonya Wang menenteng tas Hermesnya dan keluar menuju ruangan Nyonya Wu.

“Apa yang harus kulakukan …..” lirih Nyonya Wu perlahan, wanita paruh baya itu sudah memikirkan spekulasi-spekulasi yang akan ia terima setelah kabar burul yang tersirat dari iparnya itu.

 

~xXx~

 

 

                “Apa yang kaulakukan Oppa…”

“hanya ingin melindungimu ….” Jawab Kris tenang dengan mata tajamnya yang masih menjadi ciri khasnya.

“Tidak seharusnya kau melakukan ini…..!!!” bentak Yong Ra dan air matanya ikut keluar begitu saja.

“Kutanya satu hal padamu! Apa benar aku bukan anak dari keluarga ini? apa benar yang dikatakan Ahjumma di depan Palais Garnier tadi?” lirih Yong Ra yang membuat Kris mengalihkan pandangannya kearah lain, mata Yong Ra memicing tajam.

“Tidak seharusnya aku menjawab pertanyaan konyolmu itu…..”

“Apa ? pertanyaan konyol? Oppa kira kebenaran tentang asal usul diriku sendiri kau anggap Konyol??” sentak Yong Ra pada Kris yang masih enggan melihat wajah frustasinya.

“Sejak dulu, aku selalu tidak dihargai oleh temann-temanmu, aku tidak pantas menjadi adikmu karena kita sama sekali tidak mirip… dari saat itulah aku berpikir aku  hanyalah anak angkat keluarga Wu, tapi kau selalu meyakinkan diriku kalau aku adalah adikmu!! Dan sampai saat ini kuyakini itu…!! Tapi, pada akhirnya? Heh! Aku memang bukan anak keluarga ini…..”

Yong Ra berlari menuju kamarnya, mengumpulkan sejuta kenangan manis yang ia jalani di keluarga ini.

Sedangkan Kris langsung memecahkan barang-barang yang ada di dekatnya karena tak bisa mengendalikan emosinya sendiri.

“Arghh…….”

 

“……aku tidak bisa membaca masa depan, tapi akan aku pertahankan apa yang telah ada sekarang, dan meninggalkan serpihan masa laluku yang tak ingin aku bicarakan lagi…”

Kris Wu

 

~xXx~

 

“Yong Ra? Yong Ra? Buka pintunya Nak…..” Nyonya Wu mengetuk pintu kamar Yong Ra yang masih terkunci sejak kemarin sore hingga malam ini. Gadis itu tidak menampakkan dirinya, baik makan siang ataupun kuliah. Ia masih mengurung dirinya di kamar pribadinya.

Namun, tidak ada balasan dari Yong Ra. entah apa yang dilakukan gadis itu di dalam ruangan pribadinya itu. Yang jelas, Nyonya Wu tahu anak angkatnya itu sedang terpukul, Yong Ra dalam keadaan tidak baik.

“Yong Ra…. kau harus makan sayang… jangan biarkan Maag-mu kambuh Nak….” Tetap saja nihil, panggilan itu tidak digubris sama sekali oleh Yong Ra. Nyonya Wu menghela napas. Dan masih menatap penuh harap pintu kayu yang ada di depannya saat ini.

“Yong Ra….. Maafka Ibu tidak memberitahumu yang sebenarnya sayang, tolong biarkan Ibu masuk sebentar saja…..” Nyonya Wu hampir saja menyerah dan pada akhirnya pintu coklat itu terbuka sedikit. Membuat Nyonya Wu membentuk sebuah senyuman di bibirnya.

 

 

~xXx~

 

Kyungsoo sedang berlatih vocal di kelas bersama junior-junior yang baru saja masuk tahun ajaran baru di Sourbonne University. Kyungsoo dengan bijak memperhatikan setiap lirik dan suara yang menggema di ruangan kelas itu. Baekhyun yang memainkan Piano di seberang juga terlihat sangat menikmati pekerjaannya saat ini.

Namun, soeorang pria jangkung sedang memperhatikannya dengan seksama.

“Kau…….”

“Kau maestro Vokal di sini?” ucap Kris dengan tatapan khasnya. Pria itu tersenyum kepada Kyungsoo.

“Hanya pemimpin kelas Vokal….belum menjadi seorang maestro….” ucap Kyungsoo sambil memberikan satu cup cappucino latte pada Kris.

“Aku ingin bicara denganmu… ini mengenai Yong Ra….” ujar Kris dengan meneguk cappuccino lattenya dengan gayanya yang santai namun serius.

 

~xXx~

 

“Waktu itu perusahaan sedang terlibat perang saudara……. Perang dingi antara keluarga Wu dan keluarga Wang keluarga dari Ayah Kris…”

Jelas Nyonya Wu pada Yong Ra yang masih mendengarkan dengan mata yang juga sembab.

“Mereka berniat untuk merebut perusahaan kakek Kris dan menjual seluruh saham untuk mendirikan perusahaan baru……”

“Ayah Kris dan Aku tak akan membiarkan hal ini terjadi… kami berdua sangat menghargai jerih payah kakek Kris yang sekuat tenaga mendirikan perusahaan sampai keseluruh Korea dan Jepang…”

Yong Ra masih menyimak dengan seksama penjelasan dari Nyonya Wu yang berhadapan dengan jati dirinya.

“entah apa yang dilakukan oleh keluarga Wang, kakak Ayah Kris. Sampai Kakek mau menandatangani surat perjanjian jika perusahaan akan akan terbagi menjadi dua bagian 20 dan 80 % , dan parahnya 80 % akan menjadi milik keluarga Wang….. Kakek Kris tidak memiliki rencana lain karena beliau pikir dengan menandatangani surat perjanjian itu, perseteruan dua keluarga ini akan segera berakhir…”

“Namun kakek menyebutkan syarat lain…..”

 

 

~xXx~

 

“Jika ibuku memiliki anak lagi dalam kurun waktu dua tahun, perusahaan akan terbagi secara adil yaitu 50% akan menjadi milik Ayahku” kelakar Kris sambil meminum sisa cappuccino latte pemberian Kyungsoo

“Kakek tidak mengetahui rencana keluarga Wang yang akan menjual seluruh saham kakek, Ayahku tidak memberitahunya karena kakek pasti akan mendapati sakit jantung lagi….”

Kyungsoo masih focus dengan cerita Kris, karena final cerita ini belum bisa ia tebak.

“Sayangnya setelah melahirkanku, rahim Ibuku diangkat karena mengalami komplikasi saat melahirkanku… keadaan ini sungguh membuat Ibu dan Ayahku bernyali ciut untuk mengehentikan sepak terjang keluarga Wang yang tidak diketahui oleh kakekku…”

“Ayah dan Ibuku sempat kehabisan akal untuk menyelesaikan syarat dari kekek… tapi mereka melakukan sebuah rencana besar…..”

~xXx~

                “Aku dan Ayah Kris berlibur ke Kanada dengan alasan mengunjungi keluargaku yang berada di Ottawa…” Nyonya Wu tersenyum mengingat masa-masa di mana mereka berdua memperjuangkan jerih payah kakek Kris.

“Selanjutnya.. kami langsung ke Korea karena mendapat mandat langsung dari kakek Kris untuk menjelankan cabang baru di Seoul…… di sanalah kami mematangkan rencana ….. dan kami menemukan sebuah keluarga kecil yang sedang mengalami pailit perusahaan…. Sedangkan mereka juga sedang menunggu lahirnya seorang bayi di tengah-tengah kesenjangan ekonomi mereka”

“Jadi .. siapa sebenarnya keluargaku Bu?” Tanya Yong Ra tak tertahankan.

“keluargamu adalah …… bermarga Do …. Do Hwe Ji adalah nama Ibumu dan Do Kyungsoo adalah saudara kandungmu …..”

Yong Ra menutup mulutnya…. Air matanya berlinang begitu saja. Diikuti dengan air mata Nyonya Wu yang juga ikut merebak.

~xXx~

                “Bayi itu adalah Yong Ra… anak bungsu dari keluarga Do……” Kyungsoo memejamkan matanya sementara Kris terus bercerita tentang pahitnya kenyataan sekarang.

“Ayah dan Ibuku pulang dengan membawa malaikat kecil yang cantik… ”

“Yong Ra adalah penolong keluarga kami….”

“Mungkin kau bertanya-tanya bagaimana keluarga Wang tidak mengetahui gerak-gerik keluargaku… Yah! itu karena mereka terlalu sibuk menganakemaskan kehidupan mereka selanjutnya yang sepertinya akan bersinar seperti mutiara Cina…”

“hentikan.. !!” ujar Kyungsoo sambil menahan air matanya.

“Kau harus tahu semuanya…..” Kris menatap tajam Kyungsoo yang hendak pergi meninggalkan perbincangan berat ini.

“Yong Ra tumbuh menjadi gadis pintar dan mandiri… sejak kecil ia selalu tidak dihargai oleh teman-temannya karena ia tidak mirip denganku, aku begitu populer sedangkan Yong Ra tidak, sejak Sekolah Dasar sampai SMA kami selalu satu sekolah, dan selama itulah dia terus menjadi bahan ejekan, karena tidak sepopuler aku, dan tentu saja … karena aku selalu berangkat sekolah bersamanya, mereka pikir aku adalah pacar Yong Ra….” senyum menyesal Kris terpatri jelas di wajahnya. Kris merasa kurang bisa melindungi Yong Ra.

~xXx~

                “Ibu sangat menyayangimu sama dengan Ibu menyayangi Kris, Kris tumbuh menjadi anak yang tidak manja lagi setelah memiliki adik sepertimu, dulu Kris selalu bilang, ‘adikku sangat cantik ya Ibu’… lalu dia akan mencium pipimu saking bahagianya…” nyonya Wu memeluk Yong Ra yang masih terisak di dalam pelukan Ibunya.

“Kau selalu membanggakan Ibu, dengan memperoleh beasiswa di Sourbonne…. Ibu jadi lebih merasa bersalah padamu karena tidak bisa menjagamu Nak….. Maafkan Ibu Yong Ra….” Yong ra semakin mengeratkan pelukannya. Gadis itu merasa dipermainkan oleh takdir yang begitu menyayat perasaanya.

“Kau penyelamat keluarga kami Sayang ….. Bahkan jika Ibu memberikan seluruh harta itu, tak akan cukup membalas rasa terimakasihku padamu……”

“Tapi kenapa harus Kyungsoo bu… kenapa harus dia yang menjadi kakakku? Kenapa harus kekasihku sendiri!! Ini tidak adil Bu….!! Tidak Adil bagiku dan juga Kyungsoo!! Hiks” Yong Ra memprotes ketidakadilan ini pada Ibunya. Membuat Nyonya Do makin teriris meilihat anaknya dipermainkan oleh perbuatnnya terdahulu.

~xXx~

 

                “Kau memanfaatkan ketidakmampuan perusahaan Ayahku hanya untuk menyelamatkan perusahaanmu?? Manusia macam apa kalian!” cercah Kyungsoo tegang sambil meremas cup cappuccino lattenya.

“Maafkan keluarga kami Kyungsoo…. Kami tidak memikirkan jangka panjang dari kejadian lalu….”

“Apa?? Heh! Apa kalian tidak memikirkan perasaanku dan Yong Ra saat ini…!! kami yang menjadi korban dari semua ini!” protes Kyungsoo sambil memegang kerah kemeja putih Kris.

“Aku tahu ini sulit …… tapi ini takdir yang harus kalian jalani…. Kita semua tidak menginginkan hal ini terjadi dan sama sekali tidak terprediksi….. maafkan kesalahan keluargaku terdahulu Do Kyungsoo…”

‘BUG’

Kyungsoo melayangkan pukulan pada pipi kanan Kris, Kris hanya mengusap pinggiran bibirnya tanpa membalas pukulan Kyungsoo. Kris rasa ini tak sebanding dengan kesalahan yang dilakukan oleh keluarganya terhadap keluarga Kyungsoo.

“Kau tidak akan merubah kenyataan Kyungsoo, Yong Ra tetap adikmu… kau harus berhenti mencintainya sebagai kekasihmu….”

“aku akan membawanya pulang…..” jawab Kyungsoo datar.

“Kau tidak bisa mengambil keputusan sepihak…”

“Apa maksudmu….?”

“Biarkan Yong Ra yang memilih dengan siapa nanti ia akan tinggal… apa kau tidak memikirkan perasaan Yong Ra setelah tahu kau adalah kakak kandungya?”

~xXx~

                “Sudah siap? Ayo kita berangkat….” Ajak Nyonya Wu sambil menggandeng tangan Yong Ra menuju mobil. Mereka berdua akan pergi kesuatu tempat.

Sepanjang perjalanan Yong Ra hanya menengok kearah jalanan. Gadis itu memikirkan hal-hal yang terjadi selanjutnya. Tentang kehidupan yang akan ia jalani berikutnya. Apakah bisa Yong Ra melupakan kenangan manis dua tahun ini. Apa bisa dia melepaskan status Do Kyungsoo sebagai kakak kandungnya?

“Mari kita masuk …..” Yong Ra menahan tangan Nyonya Wu, ia mengisyaratkan agar dirinya saja yang masuk duluan.

Tok-Tok-Tok

Ceklek

“Ibu……” Yong Ra langsung memeluk nyonya Do dengan erat. Bahkan Nyonya Do belum sempat menyapanya seperti biasa. Gadis itu sudah menghambur di pelukannya dengan isakannya.

Nyonya Do yang masih bingung menoleh kearah samping. Di sana sudah ada Nyonya Wu yang berdiri dengan pakaian kantor berbulu tak lupa dengan Heel’snya. Nyonya Wu tersenyum dan mengangguk. Nyonya Do tersenyum dan membalas pelukan Yong Ra. Pelukan pertama dari anak bungsunya, setelah 21 tahun mereka berpisah.

“Ibu…..” panggil Yong Ra lagi. Nyonya Do semakin mengeratkan pelukannya. Wanita paruh baya itu masih belum mempercayai. Yong Ra memanggilnya dengan sebutan yang ia idamkan sejak pertama bertemu gadis ini.

Ne, Yong Ra…. Yong Ra anakku…..” Nyonya Do menangis. Begitupun Yong Ra yang sudah bermata sembab sejak tadi. Akhirnya pasangan ibu dan anak ini dipertemukan kembali dengan cara Tuhan yang begitu indah dan dengan cerita yang berliku di belakangnya.

~xXx~

 

“Sulit untuk menghilangkan rasa yang seharusnya tidak ada ini…..” Kyungsoo menatap langit yang cerah taman Fakultas Art Performance itu.

“Kau hanya belum mencobanya ……” jawab Kris lalu menepuk pundak Kyungsoo perlahan.

“Terkadang aku berpikir… bagaimana jika aku tidak bersama Yong Ra lagi, kurasa aku akan sulit bernapas… berlebihan sekali bukan?” Kyungsoo tersenyum miris atas takdir yang ia terima.

“Jangan berpikir begitu, dari sisi manapun, kau jauh lebih berharga bagi Yong Ra dibanding dengan ku yang sudah hidup bersamanya selama 21 tahun lebih…. ” Kyungsoo lalu berdiri. Pria itu tersenyum.

“Terimakasih atas segala penjelasanmu Kris….. kurasa aku mau mencobanya, sampai nanti….” Ucap Kyungsoo berbalik.

“Tunggu sebentar….”Kyungsoo berbalik, membuat Kris menautkan alisnya.

‘BUG’

“Itu pukulan karena kau tidak melindungi Yong Ra dengan maksimal……” Kris kembali mengelus ujung bibirnya, dan tersenyum.

~xXx~

 

                “Aku masih belum percaya dengan hal ini…. Nyonya Wu….?”

“Yong Ra sudah tahu semuanya….  Maafkan keluarga kami atas perbuatan kami terdahulu….”

Yong Ra masih memegang tangan Nyonya Do dan tersenyum. Tidakkah keadaan ini jauh lebih baik?

“Sebenarnya…. Aku masih bingung mengenai….. Kyungsoo” Yong Ra tersentak dan berpandangan dengan Nyonya Wu.

“Aku sudah memikirkannya Bu….. keputusanku ini semoga menjadi yang terbaik….” Jawab Yong Ra sambil tersenyum kepada Nyonya Do. Ibu kandungnya. Begitupun Nyonya Wu, ia mendukung apapun yang dilakukan putrinya saat ini.

~xXx~

Kyungsoo sedang duduk di areal kebun Ilalang yang indah. Sepatu dan mantel hitam menghiasi tubuh mungilnya. Pria itu duduk sambil melihat genangan air yang ada di sekitar padang ilalang ini. Kyungsoo sedang menunggu seseorang.

“Kyungsoo Oppa…” panggil seseorang dari arah seberang. Pria itu masih terdiam dengan balutan syal hitam dan mata yang tajam sayu. Bibir kisablenya mengatup, berusaha menahan sesuatu.

“Jalur cinta ini sudah terlalu jauh” ucap Yong Ra yang masih terdengar jelas oleh Kyungsoo.

“Mari kita berpisah ……” Kyungsoo menutup matanya terpaksa, tangannya mengepal keras.

“kalau kau tidak bisa melupakan kisah ini, bawa saja kemanapun Oppa berada, ajak saja dia kemanapun dia pergi dengan tangan kirimu…. Dan jika Oppa sudah menemukan cinta yang baru, lepaskan cinta yang ada di tangan kirimu, karena tangan kananmu akan berpegangan pada cinta yang akan datang pada pria kucintai di dunia ini” senyum Yong Ra terukir bersamaan dengan air matanya yang juga jatuh.

“sampai Jumpa Oppa…kita akan bertemu sebagai sepasang adik-kakak”
tersadar kekasihnya itu akan meninggalkannya, kepala dan mata Kyungsoo yang terpejam segera mengejarnya. Menepis rumput ilalang yang menghalangi jalannya.

Belahan jiwanya akan pergi. Meninggalkannya dengan sejuta kenangan yang terpahat sempurna. Tidak! Kyungsoo tidak akan membiarkannya. Walaupun ia sudah bernji pada Kris tapi ia masih berat, ia ingin mendengar sekali lagi dari mulut kekasihnya. Tangan kecilnya meraih pergelangan tangan Yong Ra, kemudian menariknya membuat Yong Ra beralih kebelakang, kini Yong Ra sudah ada di pelukan Kyungsoo.

“Bisakah kau tinggal lebih lama…..”

Kyungsoo memeluk Yong Ra erat, menahan gadis itu agar tidak pergi. Menempelkan dagunya pada bahu Yong Ra. Giginya bergetar, pria ini nampak sangat lemah.

Oppa….” perlahan Yong Ra membalas pelukan Kyungsoo dia anggap ini adalah pelukan terakhir sebagai seorang sepasang kekasih, gadis itu juga menangis sejadi-jadinya. Mereka berdua meresapi kenyataan bersama, apapun yang terjadi, mereka adalah sepasang kakak dan adik kandung. Selamanya tidak akan bisa menjadi lebih dari itu, walau sebelumnya cerita cinta itu pernah bergulir di antara keduanya.

“aku tidak mau kau pergi….ikutlah pulang bersamaku” cercah Kyungsoo semakin mengeratkan pelukannya, seakan-akan itu adalah pelukan yang terakhir.

Yong Ra mengelus kepala belakang Kyungsoo menyisipkan jemarinya di rambut hitam Kyungsoo, desah tangisnya belum bisa ia hentikan. Setelah beberapa saat mereka masih tenggelam dalam sebuah pelukan perpisahan, Yong Ra melepas pelukannya.

“Dengar, Do Kyungsoo… Aku tidak akan bisa melupakanmu sedikitpun, karena kau kakakku….” Kyungsoo masih tertunduk, menahan tangisnya. Ia masih sesenggukan menahan Yong Ra agar tidak pergi.

“jangan menangis lagi….” Jemari Yong Ra menghapus air mata Kyungsoo membuat pria itu kemudian mengentikan tangisnya perlahan-lahan.

“Kita akan berpisah di sini, kadang kita tidak bisa merubah sesuatu walau sekuat tenaga kita berusaha” ucap Yong Ra, Kyungsoo mendongak menatap Yong Ra yang tersenyum kearahnya.

Yong Ra memegang tangan Kyungsoo erat. Memandang mata bulat Kyungsoo dalam, perlahan-lahan Yong Ra melepaskan genggaman tangannya dari Kyungsoo, sampai akhirnya genggaman itu terlepas.

“sampai jumpa….” Yong Ra kemudian menjauh, sedikit berlari dan tidak menoleh, jika gadis itu menoleh, Kyungsoo akan mengerti bahwa gadisnya itu sebetulnya lebih tersaikiti.

”…..Everything is gonna be fine. Am I right?…..”

 

7 Years Later…..

Beijing China

Yong Ra Side

-Do Kyungsoo’s Orchestra- Palais Garnier, France

Undangan merah maroon itu tak lupa dibawa kumasukkan sebelum menyeret koper Hijau mint-ku untuk masuk bagasi mobil. Yah, 7 tahun berlalu setelah kenyataan pahit itu hampir saja menghancurkan hidupku. Kini semuanya sudah membaik, sejak perpisahanku dengan Kyungsoo di Perancis, Aku memilih untuk mengulang studiku di Oxford University UK, dan mengambil jurusan Psikologi. Sedangkan Kyungsoo tetap di Sourbonne University, pria itu berhasil menyelesaikan study art permonce-nya dengan sangat baik. Bahkan sudah memiliki orkhestra sendiri dan Managemen Musik. Takdir yang buruk tak selamanya membuat insannya juga semakin hancur bukan?

Sedangkan aku? Aku memilih hidup bersama keluarga Wu, bersama Kris dan Juga Ibu. Aku tidak mau memperparah keadaan. Tentu saja ini menyangkut perasaanku terhadap Kyungsoo oppa. Hidup dengan jalan masing-masih akan menjadikan kami lebih bijak menghadapi kehidupan.

“Sudah siap… Ayo berangkat”

Suara Luhan mengagetkanku, kembali aku menata urat syarafku pada panggilannya yang terdengar manis. Memory itu memang masih berputar dalam otakku. Aku tersenyum melihat Luhan yang sudah menggamit tanganku menuju mobil yang siap mengantar kamuimenuju banndara untuk terbang menuju Perancis, menghadiri undangan Kyungsoo oppa di Festival orkhestra solonya. Aku lupa memperkenalkan Luhan, dia adalah salah satu pria yang berpengaruh dalam hidpupku selain Kyungsoo dan Kris Oppa, aku bertemu dengannya saat pernikahan Kris 5 tahun yang lalu. Kami sudah menikah 2 bulan yang lalu. Sedangkan Kyungsoo Oppa?? yah kami sering berkirim surat pasca berpisah kudengar dia sudah bertunangan dengan salah satu mahasiswa Art performance yang memikat hatinya saat pertunjukkan tari spektakuler di Juilliard.

”sedang memikirkan apa?” Luhan mencium pipiku sekilas dan tersenyum menampilkan giginya yang terbaris rapi. Aku menggeleng singkat, dan membalas senyumnya.

“Ayo pergi….” Luhan menarik tanganku menuju mobil. Sepanjang perjalanan aku pasti akan terus tersenyum melihat tingkahnya yang lucu. Hadirnya Luhan memberikanku semacam obat penawar.

“….percayalah bahwa ada harapan di setiap kejadian, walaupun hanya setitik…. Jika ia bersinar akan merubah semuanya……”

EPILOG

Author side

Daddy….. Aku ingin bertemu bibi Yong Ra dan Paman Luhan…..”  teriak seorang anak laki-laki kecil bermata tajam dan bermulut mungil.

“Mungkin mereka ada di kamar…. Stevan” Stevan menjentikkan jarinya seperti mendapatkan ide anak kecil berumur 5 itu berlari menuju kamar Yong Ra dan Luhan.

“Bibi Yong Ra, aku ingin makan spagetti buatanmu…” Stevan yang tidak lain adalah anak Kris itu mengerutkan dahinya ketika melihat Yong Ra dan Luhan berbalut selimut berdua di kamar bergaya Klasik Eropa itu.

“Stev, kau sudah menemukannya…”

“Dad…. Kenapa paman Luhan dan bibi Yong Ra tidak memakai baju? Apa mereka mandi bersama… mengapa mereka tidak mengajakku…”

Kris yang melihat anaknya hendak masuk selimut berlari dan mengangkatnya.

“Stev… Daddy rasa Paman Luhan dan bibi Yong Ra akan membuatkanmu sepupu…” Kris menggendong Stevan keluar kamar. Sedangkan Stevan kecil masih berpikir bagaimana caranya membuat sepupu dengan cara tidur tanpa memakai baju.

~END~

Brother Complex berakhir bahagia …:^)

Terimakasih yang sudah membaca apalagi memberi komentar :^)

Semoga dapat menghibur semua…

Satu fakta dari cerita ini adalah Kyungsoo yang imut dan berkharisma lalu Kris yang luar biasa tampan :^)

Good bye for the next FF mungkin saya akan membawa Kim Jong In dan Kim Suho untuk hadir selanjutnya. Aamiin :^) menyusul duo magnae Sehun dan Tao

Iklan

19 pemikiran pada “Time to Leave You (Chapter 2)

  1. author sukses meluluh lantahkan perasaan saya. baca ff ini sambil denger baekyeol love song sukses membuat saya mentihkan air mata dipagi hari. great job d-,-b

  2. Suka bgt sama ff ini…
    Astaga… Luhan nyelip dibagian akhir…
    Thorr buat ff ttg brother complex lagi dong..
    Aku suka bgt sama ff ini
    Pleaseㅠㅠㅠㅠ /maksa.wkwk

  3. Icchhhhh sukses thor mmbuat bulir2 bening tumpah dari mata kecilku #pakegayaauthor
    Keren bgt loooooo aku aj nangis smpe guling basah smua .*** great job thor FIGHTING THOR !!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s