Unpredictable Love (Chapter 2)

Unpredictable Love

“CINTA PERTAMA MENGUBAH SEGALANYA”

Title : Unpredictable Love

Genre : Romance, Friendship

Length : Chaptered

Rating : PG 15+

 Cast    : Lee Jin Sil

             :  Kai EXO

             : Lee Yoora

             : Kim Joon Myeon (Suho) EXO

             : Jung Soojung (Krystal) F(X)

by: gboyaction

ul

Sinar mentari dari celah jendela membangunkanku. Aku pun memulai hari ini dengan senyuman. Pagi yang sangat indah bagiku, aku berharap dapat melalui hari ini dengan baik. Wajahku yang ceria pagi ini merupakan senjataku untuk melewati hari ini, dan tentunya untuk memperjuangkan cintaku. Aku pun, sampai di sekolah. Aku disambut oleh teman-temanku yang sudah ramai di lorong. Mereka terheran melihat ku tersenyum secerah ini. Aku pun menyapa mereka, lalu aku memasuki kelas, dan segera menempati tempat dudukku. Saat aku memasukkan buku di laci, tanganku menyenggol sebuah benda. Aku pun terkejut karena ada benda asing di laciku, lalu aku menengok ke laciku. Dan aku menemukan sebotol yoghurt rasa pisang, dan ada kertas yang bertuliskan,

“aku berharap, aku dapat melihat senyummu hari ini.

lee jin sil”

Aku terkejut dengan kata-kata itu. Wajahku memerah, mataku membulat, dan tanganku gemetar membaca tulisan itu. Aku mencoba untuk menenangkan diriku, agar teman-temanku dan terutama yoora tidak melihat kejanggalan dari wajahku. Selama pelajaran aku hanya termenung memikirkan kejadian tadi pagi. Orang ini sangat pintar, tulisan itu bukan tulisan tangan, tetapi  tulisan komputer, dan juga ia tahu bahwa aku suka yoghurt pisang, hal itu menambah kemisteriusan surat itu. Aku termenung sambil melihat keluar jendela. Aku tidak tahu siapa dia, mungkinkah orang jail?, tetapi kata-katanya sangat menyentuh, atau mungkin salah orang?, tetapi namaku tertera sangat jelas di kertas itu. Secret admirer? aku mencoba memikirkan itu. Tetapi, pikiran ku tidak akan berujung. Aku pun memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan kejadian ini, aku hanya akan memikirkan berjuang untuk cintaku dan, itu membuatku tersenyum kembali.

Pelajaran guru kang pun akhirnya dimulai, dan sesuai dengan perintah guru kang, kami harus bergabung dengan kelompok yang sudah ditentukan kemarin. Aku menantikan saat-saat ini dengan senang dan gugup tentunya. Aku tidak ingin mencari-cari perhatian dengan jong ini, aku hanya akan menunjukan diriku apa adanya dan menghilangkan kegugupanku. Aku pun, duduk disebelah jong in, dia menyodorkan catatan, yang sudah ia buat semalam. Aku pun, menerimanya, dan aku memberanikan diri untuk menyampaikan kata-kataku kepadanya, “apakah, kau menulisnya tadi malam?” aku berusaha membuat bibirnya berkata. “mm” dia menjawab dengan gaya dinginnya. “Maaf, aku menyusahkanmu” kataku, karena aku tidak enak hati. “Gwenchana” dan dia hanya menjawab singkat dengan muka datarnya. Aku pun terdiam, dan selama 1 jam, dia hanya mengeluarkan 2 kata, tapi apakah mmm bisa dibilang sebagai satu kata? tetapi, bagaimanapun juga, aku bersyukur karena aku telah mendengar suaranya untuk pertama kalinya.

Jam istirahat, pun telah tiba aku memegang yoghurt banana menuju perpustakaan. Yoora mengajakku ke kantin, tetapi aku menolaknya, karena aku ingin mencari buku, untuk mempelajari tugasku dengan jong in. Aku melangkah dengan penuh semangat menuju perpustakaan. Langkah ku terhenti mendengar suara pukulan, dan tangisan seorang wanita dari sebuah lorong. Aku pun mencoba melihat apa yang sedang terjadi. Dan itu adalah pemandangan yang sangat mengejutkanku. Seorang pria dengan mulut yang berdarah tersungkur lemah, didepan seorang pria yang sedang menatapnya dengan tatapan marah, dan seorang wanita yang menangis lirih. Pria dengan tatapan marah itu adalah jongin. Aku terkejut dan tanganku gemetar seakan tidak percaya dengan apa yang kulihat. Seorang wanita yang sejak tadi menangis, berlindung di belakang jong in. Pria itu membalas pukulan jong ini, dan jong in tidak bisa mengelak. Tangan ku semakin gemetar melihat jong in terluka. Jong in pun membalasnya, dan pria itu menatapnya dengan tatapan yang sangat mengerikan, saat pria itu ingin membalasnya lagi, perempuan itu menghalanginya, lalu pria itu berlalu pergi. Jongin menatap kepergian pria itu dengan tatapan yang sangat marah. “Jong in ya..” ucap wanita itu lirih. “Maafkan aku, membuatmu seperti ini”, ucap wanita itu dengan menangis. “Gwenchana, nuna” ucap jong in dengan senyum tipis, seakan senyumnya bertujuan untuk menenangkan hati wanita itu. Ia pun berlalu pergi meninggalkan wanita itu. Melihat jongin yang melangkahkan kakinya ke arahku, membuat aku segera meninggalkan tempat itu, dan segera memasuki perpustakaan.

Aku terdiam memikirkan pemandangan yang ku lihat tadi. Aku duduk di pojok perpustakaan dengan menggenggam erat yoghurtku, seolah-olah yoghurt itulah satu-satunya kekuatanku saat ini. Siapa wanita itu? jongin memanggilnya dengan nuna, dan yang ku tahu wanita dan pria itu adalah kakak kelas kami. Lalu mengapa jongin terlibat? apa hubungan mereka? pertanyaan-pernyataan yang bukanlah hak ku, muncul di kepalaku. dan seakan-akan kepala ini akan meledak, oleh karenanya. “Ahhhhhh” aku menghela nafas, mencoba menenangkan diriku. Itu bukan hak ku, aku menegaskan kepada diriku, bahwa aku tidak mempunyai hak apapun untuk mengetahuinya. Tetapi hatiku bergetar saat jongin mengatakan gwenchana pada wanita itu, dia tersenyum tipis saat itu, berbeda dengan cara ia mengatakannya kepadaku, ia mengatakannya dengan wajah datar. Aku pun kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran tuan kang, aku duduk di bangku sebelah jong in, dan saat itu bangku jongin kosong. Aku menghela nafas dan melihat yoghurt yang sejak tadi kupegang dengan erat. Jongin pun, tiba di kelas dan ia segera duduk disebelahku. Aku memberinya rangkuman yang ku dapat dari buku diperpustakaan tadi, “aku telah merangkumnya, tolong kau memeriksanya sekali lagi.”, kataku dengan hati-hati. Dan tanpa sengaja aku melihat mulutnya yang memar. Dengan sigap aku pun, mengambil tisu dari tasku, aku memberi selembar tisu dan yoghurtku kepadanya. Ia heran dengan sikapku. Aku hanya tersenyum tipis, dan untuk menghilangkan kekhawatiranku, aku mengambil bukuku, dan berpura-pura membacanya. Jongin pun, meminum yoghurt itu, aku sangat senang melihatnya. Hanya itu yang bisa aku lakukan, aku tidak bisa masuk ke dalam hidupnya. Karena aku hanya lee jin sil seorang secret admirer.

 

Aku hanya ingin mengikuti aliran ini, entah aliran ini membawaku kemana, aku tidak bisa melompat ke aliran yang terlalu jauh, aku harus mengkuti aliran itu satu per satu, dan aku pun akan menemukan ujung dari aliran itu.”

Pagi pun, menjelang menyambutku untuk memulai hariku yang baru. Doa ku setiap pagi selalu sama, agar aku bisa melewati hari ini dengan baik, setelah kejadian-kejadian kemarin yang membuatku terkejut. Ditengah perjalanan menuju sekolah langkah ku berhenti, aku melihat daun musim semi yang sangat indah, aku menghirup udara yang sangat sejuk, aku pun menutup mata dan merasakan hembusan angin yang dengan lembut membelai tanganku. Seolah-olah angin itu masuk ke dalam tubuh ku, dan memberiku semangat untuk melewati hari ini. Aku pun membuka mata dan melangkah dengan senyum diwajahku. Senyuman membuat ku kuat, karena aku harus berjuang untuk cinta gilaku. Aku melihat gerbang sekolah yang masih sepi, dan aku tersadar bahwa aku terlalu bersemangat untuk ke sekolah. Belum banyak anak-anak yang ada di lorong, dan saat aku memasuki kelas pun sama. Lalu seperti biasa aku menempati bangku kesayanganku. Aku memasukkan buku ke laci dan, tanganku menyentuh benda itu lagi, dan benda itu adalah yoghurt pisang yang sama seperti kemarin dengan kertas yang bertuliskan,

“Aku harap kau meminumnya, dengan perasaan senang

lee jin sil”

Aku tersenyum kecil, dan aku teringat, bahwa kemarin aku tidak meminum yoghurt orang ini. Lalu aku segera meminum yoghurt itu dengan tawa kecil. Aku merasa bersalah karena tidak meminumnya kemarin, dan malah memebrinya kepada orang yang kucintai. Perasaan orang ini sama dengan perasaanku, kami sama-sama seorang secret admirer. Secret admirer? ya aku pun, mengakui bahwa orang ini adalah seorang secret admirer. Aku sedikit bangga dengan itu, tetapi aku tidak ingin hal itu, membuat ku terlalu banyak berpikir tentang siapa orang dibalik yoghurt pisang ini. Aku pun menikmatinya karena ini rasa kesukaanku, aku menikmatinya sambil memandang jendela. Aku pun teringat tugas guru kang yang telah aku rangkum semalam, dan aku akan memberikannya pada jong in nanti. Saat aku berbalik, jong in sudah ada di bangkunya, Aku pun mengambil buku rangkumanku, dan memberikannya pada jong in. “Ini, aku harap aku tidak melakukan kesalahan.” kataku dengan tenang. Dan ia meraih buku dari tanganku dengan wajah coolnya . Ya itulah jong in, sikap dinginnya yang merupakan identitasnya. Aku pun tersenyum tipis dan kembali ke bangkuku. “Jin sil..lee jin sil” nama itu terucap dari bibirnya dan langkahku terhenti karenanya. Aku pun berbalik, “gomawo” dia mengucapkannya dengan wajah datarnya, lalu ia berlalu pergi meninggalkanku yang mematung. Hatiku tersentuh saat ia memanggil namaku. Ia mengucapkan namaku dengan sangat jelas.

Saat pelajaran berlangsung, aku terus mengingat bagaimana nada suaranya saat memanggilku, bagaimana bibirnya mengucapkan namaku, mengingatnya saja sudah membuatku seperti ini. Cinta ini memang gila, cinta ini membuat ku keluar dari kepribadianku, keluar dari kebiasaanku. Jam istrihat pun tiba, dengan sigap aku mengambil bukuku dan pergi ke perpustakaan. Saat menuju perpustakaan, ada suara yang memanggilku. “Jin sil ya!” suara yoora yang tidak asing lagi bagiku memanggilku dan ia menarik tanganku. “Ada apa? mengapa napasmu terengah-engah?” tanyaku kepada yoora. “Jongin bermain basket satu lawan satu dengan kakak kelas” kata yoora. “kakak kelas?” tanyaku, dan aku langsung mengingat kejadian kemarin. “Iya, cepatlah” ia menarik tanganku ke lapangan yang sudah dipenuhi siswa, aku melihat jongin dengan matanya yang penuh keberanian menantang pria dihadapannya. Mereka pun beradu kemampuan. Rasa khawatir dan takut, memenuhi hati ku. Mataku hanya tertuju kepada jongin seorang. Jongin pun, terjatuh karena kakinya disandung oleh pria itu,  dan hatiku lirih melihatnya. Tanganku gemetar, hal yang paling ku benci adalah melihat orang yang kucintai terluka didepanku. Sedetik aku berpikir untuk melangkah dan berbuat sesuatu. Tetapi, kenyataan bahwa itu bukanlah hak ku, yang membuat ku mundur. Dan aku pun memilih pergi, dari tempat itu. Rasa khawatir, dan bersalah memenuhi hatiku. Dadaku sesak memikirkannya. Adakah sesuatu yang bisa kuperbuat untuk melihatnya tidak menderita? tapi, sekali lagi aku menegaskan pada diriku sendiri bahwa aku bukanlah siapa-siapa. Aku pun, mencoba menenangkan diriku bahwa, ini semua diluar hak ku. Dengan langkah gontai aku pergi meninggalkan lapangan dan melangkah ke perpustakaan, aku duduk di pojok perpustakaan. Aku menutup mataku mencoba menenangkan hatiku, dan berharap tidak terjadi hal buruk terhadap jong in. Aku hanya bisa mencintainya di satu sisi, dan di sisi lain dia menjalani hidupnya sendiri, dan aku tidak bisa mengetahui, ataupun mencampurinya. Tapi, cinta ini selalu bertumbuh, seperti bunga yang mekar. Di awal aku mungkin hanya ingin mengangguminya, di tengah aku ingin mengenalnya, dan pada akhhirnya aku ingin memasuki hidupnya. Dan yang ingin kulakukan sekarang adalah berbuat sesuatu untuk dirinya.

*

Jam istirahat pun selesai, dan aku pun kembali ke kelas, aku menundukan kepalaku, aku menyandarkan kepalaku di meja dan memandang langit di luar jendela. Pikiran ku tidak bisa lepas dari jong in. Apakah dia baik-baik saja?, aku pun menoleh melihat bangkunya, dan pandanganku terhalang oleh seorang pria. Aku menatapnya dari kaki hingga wajahnya, dan ia adalah jongin. Sontak aku menegakkan tubuhku. “Aku telah memeriksanya tadi, dan aku telah menyalinnya, terimakasih” katanya, sambil menyodorkan buku rangkuman milikku, ia pun berbalik. “Tunggu” kataku, menghentikan langkahnya. Dia pun menoleh kepadaku, “Ini terimalah, kau membutuhkannya” pintaku dengan terbata-bata, sambil menyodorkan sebungkus tisu kepadanya. Aku melihat jelas keringat di wajahnya dan luka di sikutnya, tanganku bergetar saat menyodorkan sebungkus tisu itu, dan ia pun menerima tisu itu tanpa mengatakan satu kata pun. Lalu ia meninggalkan bangkuku. Mungkin ini perbuatan sederhana baginya, tapi bagiku itu adalah perbuatan sederhana yang terbentuk dari pikiran rumitku. Hanya itu yang bisa kulakukan sekarang.

*

Yoora mengajakku, untuk mengikuti kelas tambahan sepulang sekolah karena, kami akan mengikuti ujian seminggu lagi. Aku pun, menyetujuinya tanpa pikir panjang. Saat bel pulang sekolah berbunyi aku tetap pada tempatku, dan aku melihat jongin tengah membereskan barang-barangnya. Apakah dia tidak ikut pelajaran tambahan? pikirku. Kemana dia akan pergi? apakah dia tidak apa-apa? pertanyaan itu bermunculan satu-persatu. Aku berusaha menyadarkan diriku dan menghilangkan semua rasa penasaranku. Dan aku pun hanya melihat punggungnya yang pergi menjauh keluar kelas. Aku pun mengikuti pelajaran tambahan itu. Aku sangat lelah, otak ku rasanya akan meledak. Setelah mengikuti pelajaran tambahan, aku segera membereskan bukuku, untuk segera pulang karena hari sudah malam. Aku pun berpamitan dengan yoora. Karena yoora tidak bisa pulang bersamaku. Sebelum pulang aku menyempatkan diri untuk membeli yoghurt pisang di toko dekat rumahku. Aku melangkah dengan perasaan lelah di tubuhku sambil meminum sebotol yoghurt, yang saat ini merupakan sumber energiku satu-satunya. Sesaat aku sedang melangkah, ada seekor anjing yang menghampiriku. Anjing manis itu berhenti di depanku, ia menggonggong dengan wajah lucunya, ia menjulurkan lidahnya, dengan ekor yang bergoyang-goyang. Melihat tingkahnya yang sangat lucu, aku pun menggendongnya ke dalam pelukanku. “Ya bayi kecil, kenapa kau bertingkah seperti itu” Aku mengekspresikan rasa senangku terhadap anjing kecil itu, dan seakan-akan mengerti bahasaku, ia mengonggong membalas setiap perkataanku. “Prince ya, dimana kau?” suara laki-laki itu menghentikanku, dan suara itu semakin mendekat. “Prince” ucap laki-laki itu lagi. saat aku melihat sosok dari suara itu, aku terdiam terpaku. Sosok jongin  berdiri heran didepanku. “jongin?” ucapku dengan mata membulat. Ia hanya terdiam melihatku yang terkejut akan keberadaannya. Mugkin ia juga terkejut melihatku berdiri di depannya. Etah ini suatu kebetulan atau apapun, aku senang bisa melihatnya ada dihadapanku saat ini. “Ini anjingmu?” tanyaku kepadanya. “Maaf merepotkanmu, namanya prince” jawabnya canggung. “Ahh prince,” ucapku dengan senyum guna memecahkan segala kekakuan diantara kami. Dia pun mengambil prince dari pelukanku. “Biasanya dia tidak langsung akrab dengan orang asing” ucapnya kepadaku. “Benarkah?” ucapku karena aku pun merasa terkesan dengan perlakuan prince kepadaku. “Ne” jawabnya singkat. Aku pun, hanya terdiam untuk beberapa detik, dan ia langsung bertanya kepadaku. “Kau tinggal dimana?” ia bertanya tentang hal pribadiku untuk pertama kali. “Dekat dari sini” ucapku singkat. “Karena, ini sudah malam aku akan mengantarmu” ucapannya membuat ku tersenyum untuk beberapa detik. “Apakah tidak apa-apa?” tanyaku, walaupun aku senang dalam hati, tetapi tetap saja ada perasaan tidak enak, aku takut menyusahkannya. “Gwenchana” jawabnya dengan wajah datar. Kami pun menyusuri jalanan sepi di malam seoul yang indah. Prince berkali-kali menggonggong kepadaku, mencoba untuk mengajakku bermain. Dan aku hanya membalasnya dengan senyum dan sesesekali aku mengelus kepalanya. Kami hanya diam sepanjang jalan, walaupun begitu aku sangat senang karena setidaknya aku bisa berjalan bersamanya. Langkahku seketika terhenti karena ada satu bintang yang sangat ternag bersinar di malam seoul, aku terus memperhatikannya. “Indah sekali” aku terpana dengan kelap-kelip bintang itu. Menyadari tingkahku, jong in pun menghentikan langkahnya dan ikut melihat bintang itu. “Apakah itu sangat indah?” tanyaku kepadanya. “Bintang indah yang hanya bisa dilihat” ucapnya dingin membalas perkataanku. “aku bisa merasakan bintang itu, jika aku melihat kelap-kelip dari sinarnya ,hatiku akan damai, keindahan itu bermula dari mata, dan memasuki hatiku” jelasku kepadanya dengan senyumku yang mengembang, aku sangat terpana dengan bintang itu, dan aku sangat senang karena bisa berbagi perasaanku dengannya. jongin hanya diam mendengar perkataanku dan, aku pun tersadar bahwa, ia menunjukan senyum tipisnya sambil memandang bintang. Aku senang karena ia membalas perkataanku dengan senyuman. Kami pun melanjutkan perjalanan kami. Aku tersenyum selama perjalanan, rasa tidak percaya kadang muncul di otakku. Sosoknya yang ada di sampingku sekarang, dan juga siluet wajahnya yang diterangi sinar bintang malam membuatku seakan ingin terbang. Tidak terasa ternyata, kami sudah sampai di depan rumahku, “Disini, kita sudah sampai, apakah kau mau mampir dulu?” tawarku kepadanya. “Tidak usah” jawabnya singkat. “Baiklah, terimakasih” ucapku dengan senyum. Lalu ia pun berlalu meninggalkan tempatku berdiri. Aku melambaikan tanganku kepada prince yang saat itu mengonggong, mengucapkan selamat tinggalnya kepadaku. Aku pun menatapi sosok jong in, yang berlalu semakin jauh. Melihat jongin yang semakin menjauh aku pun berbalik, masuk menuju rumah. Aku memasuki rumah dengan perasaan yang sangat senang, “aku pulang” salamku dengan rasa bahagia di dadaku. Saat memasuki rumah, aku dikejutkan oleh suara yang tidak asing bagiku, “jin sil” suara khas itu menyambutku. “oppa!” sontak aku berteriak saat melihat sosok itu. Dia membalasnya dengan senyuman. Orang yang ku sebut oppa adalah Kim joon myun,teman masa kecilku. Aku menghabiskan masa kecilku dengannya, ia sangat berarti bagiku. Saat di busan aku selalu menempel dengannya. Aku menganggapnya sebagai oppaku sendiri. Dan saat aku pindah ke seoul kami tidak pernah bertemu, dan kami dipertemukan kembali sekarang. “Ya! kenapa kau pulang semalam ini, kau tidak tahu aku sudah menunggu mu dari tadi”, protesnya kepadaku dengan wajah manisnya. “Kau menungguku? miannae oppa”, jawabku dengan senyum. Kami pun berjalan ke ruang tengah. “Ajhussi, sudah lama tidak bertemu” ucapku menyambut Kim ajhussi. “Ya, gadis ini sudah tumbuh dengan baik” jawabnya membalas salamku. “Aniya, dia masih sama seperti dulu, gadis kecil yang sering menangis”, canda appaku. “Ya! appa walaupun begitu aku anakmu” jawabku dengan senyum. Kami pun tertawa, dan kami pun menyatu dalam kehangatan. Joon oppa akan tinggal di seoul bersama appanya, dan mereka akan tinggal di appartement dekat sekolahku. Aku pun, sangat senang mendengar hal itu, sebuah keluarga kecil yang tidak mempunyai hubungan darah denganku, tetapi sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri, akan kembali mengisi hidupku. Dulu saat aku pindah ke seoul, aku takut tidak bisa melewati hariku dengan baik. Aku sangat bergantung dengan joon oppa. Aku mempunyai seorang oppa, tetapi aku lebih dekat dengan joon oppa, memang aneh tetapi itulah yang terjadi. Hari dimana ibu joon oppa meninggal, di hari itulah aku mulai mengenalnya. Kami selalu bermain bersama, tidak ada perasaan canggung sama sekali, dia merangkulku dan membuatku nyaman, seperti seorang kakak. Hari yang indah ini pun terlewat, hari dimana aku mulai berani mendekati, dan bahkan berbagi perasaan dengan jongin. dan juga hari dimana oppaku kembali mengisi hidupku. Hidupku yang indah semakin bertambah indah. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan tentang diriku, aku tidak berniat untuk membuatnya menyukai diriku, aku hanya ingin mencintainya dengan tulus.

Sinar itu ada padamu, dan aku takjub akan sinar dimatamu. Sinar yang membuka pintu hatiku yang sudah lama tertutup. Sinar yang mengubah hidupku, dan membuat hidupku lebih berwarna.”

 

 

Iklan

12 pemikiran pada “Unpredictable Love (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s