My Pretty Teacher (Chapter 1)

Title                : My Pretty Teacher #1

Scriptwriter   : sarahdeha (sarahdeha.wordpress.com)

Length            : Two-shots

Genre             : Romance, school life

Main Cast     :

–          Tiffany Hwang (SNSD)

–          Oh Sehun (EXO-K)

Support Cast   :

–          Kim Taeyeon (SNSD)

–          Choi Siwon (Super Junior)

cover-pretty-teacher

 

***********************

“Anyyeong hashimnikka haksaengdeul, namaku Tiffany Hwang, usiaku 22 tahun dan aku adalah guru Bimbingan Konseling yang baru. Mohon bantuannya.” Ucapku memberi salam pada saat hari pertama aku mengajar di SMA Honggyu ini.

“Ya, ini adalah guru kalian yang baru. Karena kebijakan sekolah kita yang baru, maka mulai sekarang Bimbingan Konseling akan dimasukkan sebagai pelajaran sehari-hari.” Jelas Kim songsaengnim pada anak-anak kelas 3C ini. Mereka langsung bertepuk tangan senang akan kehadiranku dan aku hanya tersenyum melihat wajah-wajah siswa itu.

“Hwang songsaengnim sudah menikah belum?” seru seorang siswa iseng, semua tertawa dan suasana menjadi ramai.

“Hei, jaga sikapmu itu.” Tegas Kim songsaengnim pada anak yang bertanya tadi.

Aku tersenyum, lucu. “Tidak apa-apa, Bu. Itu wajar. Saya belum menikah. Mungkin ada pertanyaan lain?”

“Sudah punya pacar?” suasana kelas jadi bertambah ramai karena aku mentoleransi perbuatan mereka yang aneh-aneh.

“Belum.” Aku tersenyum lagi.

“Email? Nomer ponsel?” anak-anak semakin semangat, terutama para siswa. Para siswi nya ada yang kagum, dan ada juga yang melirik sebal ke arahku.

“Sudah, Hwang songsaenim, perkenalannya cukup. Baiklah, sekarang jika ada masalah atau keluh kesah yang ingin kalian sampaikan kalian bisa langsung menghubungi Hawng songsaengnim di ruang Konseling.”

**********************

“Selamat pagi, Hwang sam.” Sapa siswa-siswi SMA Honggyu saat aku memasuki gerbang sekolah. “Pagi, juga.”

Sudah 1 minggu aku mengajar di SMA ini dan menurutku lancar-lancar saja. Justru siswa-siswi disini sangat akrab denganku karena perilaku ku yang manis, bersahabat dan juga tegas. Meski anak-anak sangat menyukaiku, tapi mereka juga sangat sopan terhadapku karena saat aku mengajar aku menunjukkan bahwa aku adalah guru yang tegas dan tidak pantas untuk diremehkan. Bermodal keahlian berbicara dan wajah yang cantik, aku menjadi guru termuda dan tercantik disini. Itu benar-benar membuatku senang.

Namun, ada 1 kendala yang membuatku kurang nyaman saat mengajar di kelas 3C. kelas nya anak-anak kaya, keren, berprestasi dan sombong. Anak-anak kelas ini tidak mau bergaul dengan kelas lain karena merasa diri mereka lah yang terbaik. Tapi saat aku mengajar disana, mereka semua sangat bersahabat denganku dan sepertinya mereka menyukaiku. Kecuali 1 orang siswa, Oh Sehun.

“Jadi, perilaku manusia itu berubah-ubah. Tergantung dari usia, lingkungan maupun keturunan dari keluarganya…” aku menerangkan tentang sifat dasar manusia. Bimbingan konseling ini memang mirip dengan psikologi. Tapi lagi-lagi anak itu menatapku. Siapa lagi kalau bukan Oh Sehun, saat aku mengajar dia selalu menatapku. “Oh Sehun, coba baca bukumu halaman 43.”

Ia lalu membacanya, tapi sesekali ia melirikku dari balik bukunya. Aku tahu dia adalah anak yang lumayan populer di antara siswi-siswi karena dia adalah jagoan dari klub basket. Hampir setiap pagi kulihat ia mendapat kiriman seperti kue dan coklat.

“Baik, cukup sampai disini pertemuan hari ini. Selamat siang.” Aku melangkah keluar kelas. Sampai di koridor, tiba-tiba ada yang menarik lenganku. Ternyata Sehun.

“Ada apa, Oh Sehun?” kataku halus sambil melepas genggamannya di lenganku.

“Aku ingin ke ruang konseling sekarang.” Ia lalu dengan seenaknya memaksaku mengikutinya ke kantorku sendiri.

“Apa maksudmu Oh Sehun?” tanyaku tegas setelah ia melepas genggamannya dan duduk di sebelahku.

“Aku hanya ingin berdua denganmu lebih lama.” Dia menggunakan banmal dan terdengar kasar sekali karena aku gurunya.

“Aku gurumu dan kau harus bersikap sopan.”

Ia tersenyum manis. “Jinjaeyo? Kau tidak terlihat seperti guru, tuh.”

“Jika kau ada masalah, katakan saja. Aku akan membantumu sebisaku.” Tumben ia tersenyum padaku tapi aku harus tetap sabar sebagai seorang guru bimbingan konseling.

“Masalahku adalah, aku menyukai guruku sendiri. Apa kau bisa membantuku?” ia mendekatkan wajahnya hingga aku bisa mencium aroma parfum nya.

Aku berdiri dan duduk di hadapannya untuk menghindarinya, aku tidak akan tergoda oleh anak kecil sepertinya. “Dia gurumu sendiri? Kau tidak boleh melakukannya karena itu akan merugikan kalian sendiri. Konsekuensinya adalah….”

“Kau tidak ingin tahu siapa orangnya?” potongnya sambil nyengir.

“Kau mau memberitahuku?” aku tersenyum palsu padanya. Jangan main-main denganku, aku adalah guru yang tidak bisa diremehkan, dan selamanya image itu tidak akan pernah hancur.

Tiba-tiba ia berdiri dan entah bagaimana bibirnya yang lembut mencium bibirku begitu saja. “Kau orangnya Tiffany.”

Ia lalu keluar ruangan dengan santainya meninggalkan aku yang shock. Bukan karena pernyataannya, tapi aku sangat tidak bisa mentolerir perbuatan tidak sopannya ini. Dia menciumku!

**************************

“Anyyeonghaseyo Hwang sam.” Sapa anak-anak padaku. Seperti biasa, aku tersenyum hangat. “Anyyeonghaseyo.”

Sepanjang jalan menuju gerbang aku terus membalas sapaan anak-anak, image yang bagus ini sangat menguntungkan untukku. Saat aku membuka loker, sesuatu jatuh dari dalam lokerku. Ternyata sepucuk surat.

            ‘Nanti pulang sekolah kutunggu di gerbang. Makanlah, ini enak. Sehun.’

Ternyata surat itu disertakan dengan sekotak kecil brownies yang ada di dalam lokerku. “Darimana dia bisa memasukkannya? Dan bagaimana dia tahu aku suka brownies? Yah, hal-hal seperti ini lumayan imut sih.”

Aku hanya tersenyum melihat ‘kado’ itu. Dasar anak kecil, pikirku.

************************

“Haduh, capeknya aku hari ini. Mungkin karena aku harus mengurus dokumen-dokumen siswa milik Kim songsaengnim juga…” keluhku saat memasuki ruang konseling.

“Capek sekali, ya?”

“Omo! Oh Sehun, kau mengagetkanku.” Aku sangat kaget melihatnya sudah duduk manis di sofa kantorku. Kancing bajunya juga sedikit terbuka. “Benahi dulu kancingmu, itu tidak sopan.”

Ia tertawa ringan lalu mengancingkan bajunya. “Kue nya bagaimana? Enak?”

“Ah, ne.” Aku lalu mengembalikan sekotak brownies yang isinya masih utuh yang ia kirimkan padaku tadi pagi. “Jangan memberi barang-barang seperti ini pada gurumu. Nanti kau dikira menyuap agar nilaimu baik.”

Ia terlihat kecewa. “Apa-apaan ini? Aku memberikannya pada orang yang kusukai, bukan untuk menyuap nilai!”

Aku tidak menghiraukannya. “Dan juga, jangan menungguku sepulang sekolah. Aku akan pulang larut. Lagipula, tidak pantas jika ada yang tahu.”

Ia diam beberapa saat dan terlihat marah. “Tidak peduli kau pulang larut atau bahkan pagi sekalipun, aku akan menunggumu disana sampai kau muncul menjemputku. Aku tidak main-main, Tiffany.”

Aku mulai merasa emosi, anak ini susah sekali diperintah! “Kau tidak boleh melakukannya, aku gurumu, Oh Sehun-haksaeng. Kau tidak boleh menyukaiku.”

Tapi ia tidak mendengar kata-kataku dan langsung keluar ruangan begitu saja. “Bagaimana cara mengatasi anak seperti itu! Padahal aku sudah susah payah membuat image tegas agar anak-anak bersikap sopan padaku tapi anak itu malah seperti ini.”

************************

Jam sudah menunjukkan pukul sembilan. Aku pulang larut karena harus membantu Kim songsaengnim mengurus dokumen-dokumen siswa. Kubereskan meja dan beranjak pulang. Sekilas aku melihat kotak brownies itu sudah kosong, tadi kuputuskan memakannya untuk menyenangkan hati Sehun dan mulai memberikan nasihat-nasihat supaya ia tidak melakukan hal-hal konyol padaku lagi. Sebenarnya aku agak senang ada siswa yang menyukaiku, berarti aku benar-benar populer dan cantik.

Tiba-tiba aku teringat kata-kata Sehun tadi siang bahwa ia akan menungguku di gerbang, jangan-jangan…..

Aku segera berlari keluar kantor dan menuju gerbang luar sekolah, berharap Ichinose tidak serius dengan kata-katanya tadi. Aku terus berlari dan menemukan seorang namja berseragam SMA sedang duduk tertidur di sisi luar gerbang sekolah. Itu Sehun, di sampingnya ia memarkir motornya. Ia terlihat lelah dan kepayahan karena terlalu lama berada di luar.

Aku mendekatinya, ada perasaan bersalah dalam diriku karena sebagai guru yang seharusnya melindungi siswa nya aku malah membuatnya seperti ini. “Sehun-ssi, hei, bangunlah. Sudah waktunya pulang.”

Ia mengerjapkan matanya dan melihatku, ia langsung memelukku. “Tiffany, kau baru pulang?”

Aku memaksanya melepas pelukannya, tidak sopan! “Kenapa kau benar-benar menunggu disini? Sudahlah, cepat pulang. Nanti kau bisa sakit.”

Ia menarik tanganku dan tiba-tiba memakaikan helm di kepalaku. “Ayo kuantar pulang. Kau kan sudah datang menemuiku.”

“Enak saja, aku tidak menemuimu. Kebetulan saja lewat sini dan melihatmu.” Aku malu sekali menyadari aku berlari tunggang langgang untuk menemuinya. “Tidak perlu kau antar, aku pulang naik bis.”

“Kalau kau membantahku sekali lagi, aku akan melakukan tindakan yang lebih parah dari sekedar menunggu selama 5 jam.”

Aku terkejut dan cepat-cepat naik ke motornya. “Jangan aneh-aneh! Cepat antar aku kalau begitu.”

Sepanjang jalan kami hanya diam. Aku terus merasa bersalah karena selalu menuruti kemauannya dan itu artinya aku memberinya harapan! Aku tidak bermaksud begitu, tapi aku bisa apa. Ia terus memaksakan kehendaknya dan aku sudah menolaknya sebisaku.

“Hati-hati anginnya kencang. Pegangan saja padaku.” Ia meraih tanganku dan melingkarkannya ke pinggangnya. Saat aku mencoba melepasnya, ia terus menggenggam tanganku sehingga aku tidak bisa berkutik.

10 menit kemudian aku sampai di depan apartemenku. “Naik motorku jauh lebih cepat kan daripada naik bis.”

“Pulanglah.” Jawabku cepat. Aku benar-benar merasa bahwa ‘hubungan’ antara guru dan siswa sangat tidak benar.

“Lain kali kita ke taman hiburan ya.” Ia tersenyum manis sekali. Tampangnya memang sangat cakep kok, pantas populer.

“Kau tidak boleh begini terus. Suka padaku dan memaksaku sesuai kehendakmu seperti ini, Oh Sehun-haksaeng.” Kataku ketus. Anak seperti ini jika dibiarkan akan semakin menjadi-jadi. Lalu aku masuk begitu saja ke dalam gedung apartemen tanpa mengucapkan apapun.

***********************

Hari ini ada kejadian besar menimpaku. Bisa dikatakan besar karena aku termasuk guru baru disini. Aku dipanggil ke ruang kepala sekolah dan diinterogasi perihal kelalaianku mengunci ruang konseling kemarin sore. Aku tidak ingat betul bagaimana aku bisa lupa, hanya saja aku menduga aku bisa lupa pasti ada hubungannya saat aku berlari-lari menemui Sehun di depan gerbang kemarin.

“Anda kan salah satu guru Bimbingan konseling yang diberi wewenang menggunakan ruang konseling sebagai kantor anda, kenapa anda malah membuat kelalaian seperti ini? Untung saja tidak ada barang berharga yang hilang.” Tanya kepala sekolah, Choi songsaengnim kecewa.

“Iya, maafkan atas kelalaian saya. Saya sangat menyesal.” Aku membungkukkan badan, merasa bersalah dan malu sekali. “Saya akan menanggung konsekuensinya.”

“Sebelum anda mendapat hukuman dari pihak sekolah, saya ingin tahu bagaimana detil ceritanya pada saat itu. Anda darimana kemana hingga bisa lupa mengunci ruangan?”

“Eh…cho neun…” aku terbata-bata, aku tidak bisa berkata bahwa saat itu ada seorang siswa yang menyukaiku sedang menungguku di gerbang, kan. “Ceritanya…”

“Biar saya yang menjelaskan semuanya, pak.” Sebuah suara datang. Suara Sehun, si pembuat ulah.

“Oh Sehun? Kenapa kau bisa disini? Ini tidak ada hubungannya denganmu.” Choi sam terkejut.

“Tentu ada, pak. Karena saya yang telah membuat Hwang songsaegnim lupa mengunci pintunya.”

“Apa maksudmu sebenarnya?” aku pun penasaran sekaligus takut, takut ia akan menjelaskan semua dengan jujur. Jika begitu, ‘hubungan’ku dengannya bisa terbongkar.

“Begini pak, kemarin saya pulang dari sekolah pukul sembilan malam karena ada urusan klub. Lalu saat saya akan mengambil motor saya, kaki saya tergelincir dan tubuh saya terhimpit motor.” Ia sedikit memperagakan kejadiannya seolah benar-benar terjadi. “Lalu karena saya tidak bisa berdiri, saya berteriak meminta tolong dan Hwang sam berlari-lari untuk menyelamatkan saya.”

Choi songsaengnim menyimak cerita Sehun dengan raut muka serius dan tampak tidak puas. “Apa Hwang songsaengnim ini bisa membantumu mengangkat motor?”

Mataku terbelalak, benar juga ya. Ceritanya sama sekali tidak logis. Tapi raut wajah Sehun tetap tenang. “Buktinya ia bisa, dan saya ada disini sekarang. Kecil-kecil begini, Tiffa…Maksud saya Hwang sam kuat lho.”

Aku menahan tawa. Choi songsaengnim memandang Sehun kemudian padaku. “Apakah itu benar, Hwang songsaengnim?”

Aku mengangguk dan tersenyum, “Benar pak. Tadi saya ingin menjelaskan seperti itu tapi saya tidak enak pada bapak.”

“Yah, baiklah kalau begitu. Menurut saya masalah ini sudah jelas sekarang karena sudah ada saksi juga. Masalah ini juga tidak perlu dirapatkan dengan dewan guru. Baiklah Hwang songsaengnim, Oh Sehun, kalian bisa keluar.” Kata Choi sam akhirnya.

Saat berjalan bersama di koridor aku merasa bahwa Sehun mencoba melindungiku. Aku merasa senang, ternyata dia bisa berguna juga. “Gomapdago, Sehun-ssi.”

“Terimakasih saja tidak cukup.”

“Jangan mulai lagi.”

“Bukankah wajar jika aku mendapat balasan yang setimpal?”

“Iya, tapi aku tidak mau menuruti kemauanmu yang aneh-aneh lagi. Aku akan membantumu jika kau kesulitan dalam pelajaran, itu saja.” Aku tidak bisa membayangkan ia meminta hal-hal lagi konyol padaku.

“Aku tidak mau. Enak saja, mengarang cerita seperti itu tidak mudah tahu.” Ia berlagak marah.

“Andwe.”

“Harus. Kau harus mau menuruti satu permintaanku.”

Aku tertawa kecil. “Hal itu berlaku saat kau masih SMP.”

“Siapa peduli?” Ia memegang kedua lenganku dan mengarahkan tubuhku menghadapnya. “Aku tidak akan memintanya sekarang, akan kusimpan untuk suatu saat nanti.”

********************* To be continued****************

 

17 pemikiran pada “My Pretty Teacher (Chapter 1)

  1. oyyy chingu aku udah lama baca ff kamu diblog yg lain#lupa nama blogny
    yg jelas aku tunggu ff mu yg lainny yach^^^
    hunfany n’ exofany lainny yach^^

  2. Hwaa,cwok populer
    *jelasss,ganteng n cool gtu aslinya.hehe..
    Jgan galak2 y guru hwang.xixixi
    Tpi ngarang critanya emang agak ngawur.
    Lnjut dlu ne..:)

  3. yehet akhirnya ada ff pairing nya exofany apalagi hunfany, suka deh. 。^‿^。 ditunggu ff exofany lagi, klo bisa hunfany atau yeolfany atau krissfany hhehe gomawoo. (*‿*✿)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s