Behind Reality (Chapter 1)

Title     : [Showers of Tears Sequel] Behind Reality

Author : lollicino

Cast     : Byun Baekhyun, Park Yongri, L.Joe, Kim Mirae [New Cast]

Genre  : Romance, Family, Sad

Rating  : PG, banyak bagian yang gaboleh ditiru pasangan ._.

Length : Sequel, Chapter fanfic

Poster via : cocolollipop by Cafe Poster

“Oh, the reality isn’t the real reality.”

-Behind Reality…-

lollicino-behindreality

.

.

= = =

Los Angeles, 16.39 P.M

Musim panas di Los Angeles tidak pernah seburuk musim panas di Korea. Baik, sebenarnya semua musim panas sama saja. Matahari bersinar terik menimpa kulit, membakar, dan membuat berkeringat. Ini sebabnya yeoja bernama Park Yongri yang tengah duduk didalam cafe itu selalu membenci kata panas.

Tapi setidaknya Los Angeles masih lebih baik, baginya. Matahari bersikap baik padanya dan tidak menunjukkan dirinya sepenuhnya. Jadi, dia bisa menikmati segelas ice blended cappuccino seraya membaca buku Catching Fire yang dibelinya siang tadi.

Yah!”

Yongri mendongak cepat mendengar suara itu. Memang tidak memanggil namanya, tapi dari suaranya, jelas Park Yongri sangat mengenalnya dan tidak akan pernah melupakannya sampai kapanpun. Yang berlebihan adalah, bahkan yeoja itu menghapalkan bagaimana cara namja itu bernafas dan langkah kakinya.

Lee Byunghun tiba.

“Lee Joe!” Yongri melambaikan tangannya kegirangan melihat Lee Byunghun sudah tiba. Sebenarnya dia ingin menjitak namja itu karena sudah membuatnya menunggu selama 3 jam di cafe itu, dasar.

Waiting for a long time?”

Yeah. I’m waiting for you for 3 hundred years.” Balas Yongri dengan nada membunuh, tangannnya benar-benar gatal ingin menjambak rambut pirang Byunghun yang selalu memiliki model yang sama. Jadi, Yongri hanya menjitak Byunghun. Tentu saja dengan kekuatan yang tidak terkira. Old bad habbit.

Ryss! It’s hurt.” Byunghun mengelus-elus pelipisnya yang terasa nyeri akibat jitakan yang cukup keren tadi. “Rissky girl.” Gumam Byunghun dalam hatinya. Tak berani berbicara langsung karena dia masih ingin melindungi bagian-bagian tubuhnya yang lain dan tak ingin langsung masuk rumah sakit setelah beberapa jam dia sampai di Amerika.

Byunghun meminum caramel macchiatonya yang masih mengepul asapnya sedikit demi sedikit. Perjalanan Korea-Amerika bukan perjalanan mudah, belum lagi memohon pada agensinya untuk memberi cuti beberapa minggu hanya untuk yeoja ababil –sama saja dengannya- yang ada di depannya ini. Belum lagi data-data lain, Lee Byunghun sudah seperti butler khusus untuk Park Yongri, ck.

So…?”

Byunghun sedikit tersedak caramel macchiatonya yang masih panas, sakit. Tidak pernah berubah, gerutunya dalam hati. Yongri masih saja suka mengagetkan orang tanpa sengaja. Menyebalkan.

“Ah, yah, about that.” Byunghun mengambil Galaxy Note 10.1 dari dalam tas, membukanya, dan menunjukkan suatu gambar pada Yongri. “He looks like a poor boy, you know? Lihat wajahnya, terlihat sangat sedih.” Byunghun merasa kasihan dalam hatinya, namun yang keluar malah kekehan kecil dari bibirnya karena baginya, Baekhyun yang ada di dalam foto itu benar-benar terlihat kekanakan. Pantas Yongri begitu menyukainya.

Yongri pun sama saja, merasa kasihan namun malah terkekeh kecil melihat foto itu. Byunghun memang bisa diandalkan. Sepertinya dia punya mata-mata yang selalu memperhatikan Baekhyun di Korea sana, entah siapa. Efek akibat terlalu banyak belajar dan menuruti orang tuanya. Dampak yang bagus dan berguna sekali, pikir Yongri.

Are you sure? Kau yakin akan meneruskan permainan ini?” tanya Byunghun sedikit khawatir. Masalahnya, sudah ada dua orang yang terjebak dalam permainan mengerikan ini. Byunghun, dan satu orang lagi. Rasanya… menyeramkan. Dengan mata kepalamu sendiri, kau akan melihat orang yang kau cintai –pura pura- bersanding dengan orang lain dan bahkan hendak menikah. Namja mana yang tidak akan terkena serangan jantung mendadak jika yeojanya bersikap seperti ini?

Dan yang berhasil hanya Byunghun. Yang lainnya tidak berhasil. Dan sekarang Baekhyun.

What? This game? Yah, Lee Byunghun, i’m doing it because of you. Kau yang menyarankan game ini kepadaku saat itu, dan aku terdesak untuk melakukannya. Aku akan terlihat lemah jika aku membatalkan ini dan kembali padanya. You know me, i hate being so weak, Joe.” Ucap Yongri, “But i recognize it. I miss him. Damn so much.” Lanjutnya lagi, kemudian menatap lurus, menerawang. Menebak-nebak apa yang sedang dilakukan Baekhyun di Korea sana.

“Aku merindukan Baekhyun.”

.

.

.

= = =

YA!”

Baekhyun terlonjak kaget dan tersadar dari lamunannya. Matanya melemparkan tatapan membunuh pada bocah tinggi berkulit putih di depannya yang sedang tersenyum tanpa dosa, seperti tidak menyadari bahwa dia baru saja meneriaki Byun Baekhyun.

“Oh Sehun, neo micheosseo? Jukgeosseo?” mungkin Baekhyun terlalu banyak terinspirasi dari Yongri, karena suaranya terdengar seperti aku-akan-membunuhmu-sekarang. Persis seperti Yong- ah, jangan nama itu lagi.

“Kau yang gila, hyung. Aku heran, kau sudah hampir lebih dari lima menit melamun dan tidak ada satupun gwishin yang menghampirimu. Aku meneriakimu untuk memeriksa apakah gwishin sudah mendata-“

Pletak.

“OUH! HYUNG, ITU SAKIT! Kenapa sikapmu semakin lama sama kejamnya seperti Yongri noona?!” geram Sehun sebal. Baekhyun terdiam lama.

Park Yongri.

“Ah, hy-hyung, aku tidak bermaksud untuk mengingatkanmu pa-“

“Menyingkir, Oh Sehun. Aku lelah sekali. Aku akan tidur, jangan bangunkan aku!” Baekhyun berlalu begitu saja kedalam kamarnya, menguncinya, dan melempar tubuhnya keatas kasur yang empuk.

Ironisnya, dia terbangun kembali mendengar suara Chanyeol diluar.

Ya! Byun Baekhyun, buka pintunya!” suara Chanyeol diluar terdengar sampai dalam. Baekhyun membiarkan Chanyeol terus berteriak, dia berusaha memejamkan matanya. Sampai lebih dari sepuluh detik Chanyeol berteriak,

YA! PARK CHANYEOL, NEO JEONGMAL MICHEOSSEO? AKU LELAH, TINGGALKAN AKU SENDIRI!” teriakan Baekhyun dari dalam menggema dalam kamarnya, mungkin terdengar sampai dapur diluar kamarnya. Tidak ada suara apa-apa lagi diluar, mungkin mereka sudah mengerti.

Baekhyun berusaha untuk menutup matanya, lebih dari lima menit dan tidak ada hasil apa-apa. Mengesalkan. Dia terus menggeliat diatas kasurnya, sampai akhirnya dia berhenti, dan tangannya memegang handphonenya. Dia mengambil handphonenya, berpikir mungkin dengan bermain game dia bisa lelah dan tertidur. Baekhyun membuka layarnya, dan gerakkannya kembali terhenti.

Foto Park Yongri, Baekhyun tidak sadar kalau dia belum mengganti wallpaper handphonenya sama sekali, masih foto Park Yongri yang sudah sebulan ini membayanginya. Baekhyun tidak melempar handphonenya, seperti dia melempar bingkai foto putih yang berisi fotonya dengan Yongri, ataupun album berisi foto polaroid dan kisah mereka. Baekhyun justru menatap lama foto itu, bahkan mengelusnya sesekali.

Bogoshipeo.” Bisiknya.

Matanya terasa panas. Air matanya hendak turun, tapi dia menahannya. Baekhyun menarik nafasnya, dan rasa sakit yang terasa menyerang dadanya diabaikan. Dia memiliki pendiriannya, bahwa namja tidak boleh menangis.

Baekhyun kembali memejamkan matanya, berusaha untuk mengosongkan pikiran dan berusaha untuk tidur.

“Jadi… kita putus?”

Baekhyun membuka matanya lagi, terkejut. Bayangan itu, suara Park Yongri… terasa begitu jelas terngiang di kepalanya. Begitu asli, begitu… menyakitkan. Baekhyun mendengus kasar, karena matanya terasa panas lagi. Sekali lagi, dia menahan air matanya dan tetap pada pendiriannya.

Tapi itu tidak lama.

Baekhyun menyadarinya, bahwa dia tidak pernah bisa melupakan yeoja itu. Park Yongri sudah memasuki hatinya, bahkan jiwanya, terlalu dalam. Segalanya tentang yeoja itu masuk begitu saja kedalam hidupnya, dan dengan spontan dia menghafal tentang yeoja itu diluar kepalanya.

Park Yongri… adalah sebagian dari hidupnya.

“Kenapa kau tidak bisa pergi dari pikiranku?”

Pertanyaan yang begitu menghantui.

Matanya terasa panas lagi, dan dia membiarkan air mata itu mengalir dari pelipir matanya. Membiarkan rasa sakit itu mengalir dalam dirinya, menyakitinya, membunuhnya perlahan-lahan. Mengajarinya tentang berusaha untuk tegar, namun tidak sepenuhnya berhasil. Dia benar-benar jatuh, dan dia sulit untuk bangun kembali. Sulit untuk mengobati rasa sakit itu.

“Aku merindukanmu.” Isaknya. Dan dia menangis dalam diam, sendirian didalam kamar itu.

.

.

.

= = =

“What’s the plan now?”

. To Be Continued .

Bener-bener niru Cruel ya? Ficlet aneh, kemudian dibuatlah sequel yang berchapter. Mian, pasti bosen banget sama pairing BaekYong. Lagi krisis feel nih ._.

Tapi ga janji ya, moga-moga aja nanti berhasil buat ff chapter yang castnya bukan BaekYong 😀

Iklan

4 pemikiran pada “Behind Reality (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s