The Real Destiny (Chapter 2)

Title                 : The Real Destiny (Chapter 2)

Author             : @claraKHB

Rating             : T

Length             : Chaptered

Genre              : AU, Romance, School Life

Main Cast        : Park Ji Eun

Xi Luhan

Other Cast       : Kim Jong In

And Other

DC                    : FF ini milik author dan jangan sampai meng-copast FF ini tanpa izin. RCL, gomawo ^^ maaf untuk typo(s). Happy reading.

 The Real Destiny

Preview:

“Pergilah.  Aku.. tak mau melihatmu.” Sae Ri yang mendengarnya begitu terkejut dan menggeleng-gelengkan kepalanya tanda ia tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Begitu pun dengan Jong In.

“Ka.. kau tidak serius kan, Ji Eun-ah?” tanya Sae Ri yang masih memeluk Ji Eun. Sedetik kemudian Ji Eun melepaskan pelukan Sae Ri terhadapnya.

“Hentikan itu. Berhenti memanggilku Ji Eun-ah. Aku tidak suka panggilan itu lagi.”

———————————————–

Aku tidak pernah menyangka akan seperih ini rasanya. Entah mana yang harus kupilih? Persahabatankah? Perasaankukah? Atau… lebih baik aku berlari dengan menyisakan semua pertanyaan ini?

———————————————————————————–

~~~ The Real Destiny ~~~

(Author POV)

Dua hari berlalu sejak kejadian Sae Ri yang mengakui kesalahannya pada Ji Eun dan Jong In. Dan selama itu pula Sae Ri dan Ji Eun saling berdiam diri tanpa memulai berbicara terlebih dulu. Ji Eun yang masih merasa sakit hati sangat tidak nyaman oleh kehadiran Sae Ri sebagai teman sebangkunya.

“Ji Eun-ah. Kau mau sekelompok denganku untuk observasi tanaman paku besok?” Sae Ri bertanya dengan sedikit ragu di sela waktu istirahat mereka.

“Maaf, aku akan melakukannya dengan Soo Yeon. Kau dengan yang lain saja.” Ucap Ji Eun tanpa melihat kearah Sae Ri sedikitpun.

Seketika hati Sae Ri terasa sakit seakan tersayat pisau tajam. Dia.. tidak tinggal diam.

“Oh, baiklah.”

‘Kau yang memulai ini semua, jangan salahkan aku jika aku menjadi kejam padamu!’ batin Kim Sae Ri. Ya, batin yang salah.

Namun Ji Eun sama sekali telah menutup dan mengubur kenangan pahit yang sama sekali tidak ia harapkan terjadi dua hari lalu.

 

(Ji Eun POV)

Apa yang kau lakukan, Sae Ri? Mengapa kau masih saja menyapaku? Aku benci. Aku benci melihatmu yang seperti itu. Seakan-akan tidak terjadi apapun diantara kita. Apa kau berusaha mengambil hatiku? Apa kau berusaha mengobati luka di hatiku? Apa seperti itu?

“Oh, baiklah.” Suara lembut yang selalu membuatku nyaman. Namun suara itu menjadi bumerang dengan racun di setiap lekuknya, racun di setiap kata yang diucapnya.

Diam. Ya, aku memilih diam tanpa bergeming. Aku tidak mau bicara dengannya saat ini. Aku tak peduli jika dia akan membenciku nantinya, yang aku tahu aku tidak sungguh-sungguh membencinya. Namun.. aku juga pasti akan sulit untuk memaafkannya.

“Mau kemana kau, Ji Eun-ah?” geram. Ya, aku sangat geram saat ini. Aku tidak suka panggilan itu lagi.

“Kau tidak mendengarku? Aku tidak suka kau memanggilku seperti itu! Apa pedulimu? Entah aku mau pergi ke ujung dunia pun itu bukan urusanmu, mengerti?! Oh, satu lagi. Jangan pernah berbicara padaku lagi, meski hanya sebuah bisikan sekalipun. Aku tidak suka.” Ada apa denganku? Apa yang aku katakan barusan?  Mulut bodoh! Ji Eun bodoh!

“Kalau memang seperti itu..” kuhentikan langkahku dan mendengarkan apa yang hendak ia ucapkan tanpa menoleh kearahnya.

“Aku janji tak akan berbicara lagi denganmu.” Lanjutnya. Dan itu sukses membuatku hampir terkena serangan jantung.

“Ya. Aku harap kau akan menepati janjimu..” lirihku dan kemudian beranjak pergi dari kelas.

Aku berjalan di lorong sekolah yang nampak sepi dan menuju ke arah taman. Bel masuk telah berbunyi sekitar dua menit lalu.

“Park Ji Eun~” sahut seseorang yang aku yakin siapa dirinya.

“Ada apa?”

“Kau.. tak apa? Aku hanya ingin kau menjelaskan semuanya padaku.”

“Apa yang harus kujelaskan? Tidak  ada yang perlu kujelaskan padamu, Jong In. Maaf telah membuatmu memikirkan hal ini.” Baru saja aku akan melangkah pergi hingga tiba-tiba..

“Tunggu. Jangan pergi, jangan sebelum kau menjelaskan semuanya..”

“Apapun yang aku katakan tak akan membuatmu membelaku, bukan? Tenang saja, aku tak akan mengganggumu lagi.”

“Tunggu~” aku tak mendengarnya, aku tak mendengarnya, aku tak mendengarnya.. haah.. ada apa  denganku? Mengapa rasa sakit itu terasa begitu memilukan? Aku tak tahu jawabannya. Aku tak tahu mengapa.

Don’t try to make me stay or ask if i’m okay

I don’t have the answer~

 

(Author POV)

“Ya! Kau lihat dia? Tidak tahu malu. Wajahnya boleh polos, tapi hatinya? Aish. Kejam sekali.”

“Bukankah dia si pandai itu? Ckckck dia juga pandai membuat orang lain menangis rupanya.”

“Eh eh, lihat itu.. dia yang tadi bersitegang di kelas 1-E, bukan?”

Terlihat beberapa murid sedang berbisik satu sama lain sambil memperhatikan Ji Eun yang sedang berjalan di koridor.

“Apa yang kalian lihat?” tanya Ji Eun dengan perasaan yang diselimuti kekhawatiran yang amat sangat.

“Ya! Kalau mau menyakiti orang lain tidak perlu memasang wajah polos seperti itu. Kami sudah tahu siapa kau yang sebenarnya. Kau tak perlu memakai topeng itu lagi.” Hardik seorang murid laki-laki dengan lantang dan diikuti sorakan dari murid-murid yang lain.

“A..apa maksud kalian sebenarnya?” kini perasaan Ji Eun benar-benar tak karuan.

“Kau yang telah membuat Sae Ri menangis, bukan? Kau tega sekali pada sahabatmu sendiri. Padahal Sae Ri sangat baik sekali padamu. Aku tak menyangka.”

“Oh.. jadi karena itu? Dan kalian mempercayainya?”

“Bicara apa kau? Kau bersikap seolah-olah maaf tidak akan pernah kau berikan padanya. Kau sendiri yang membuat keadaan semakin memburuk. Kau yang tidak bisa mengontrol emosimu. Dan yang terpenting kau begitu pengecut!” seru murid yang lain dan berhasil membuat pertahanan Ji Eun yang sedari tadi ia tahan runtuh.

“Kalian tahu apa? Kalian bahkan tak mengerti apapun dalam hal ini!  Aku tak menyangka kalian bisa dibodohi oleh gadis itu!”

“Hentikan, Park Ji Eun! Sekarang kau minta maaflah pada Sae Ri! Aku pun tak akan sudi menerima kata maafmu jika aku menjadi seorang Kim Sae Ri, huh.” Salah seorang murid datang dan mendengus kesal sambil melipat kedua tangannya di depan.

“Aku tidak mau.” Tiga kata yang diucapkan Ji Eun berhasil menjadi ‘senjata makan tuan’ baginya. Para murid tersebut justru semakin geram dan mulai melempari Ji Eun dengan sampah yang ada di tangan mereka. Botol air mineral, pembungkus snack, dan beberapa kertas berhasil mendarat sempurna di tubuh Ji Eun dengan keras. Namun mereka tercengang atas apa yang mereka lihat saat ini. Ji Eun tidak membela diri ataupun menghindar.

“Apa? Ada apa? Mengapa kalian berhenti? Apa kalian lelah, huh?” mendengar Ji Eun yang begitu lantang berbicara hal yang menantang mereka seperti itu, para murid justru semakin geram dan melanjutkan aktivitasnya melempari Ji Eun dengan sampah-sampah yang berserakan.

Merasa jenuh dengan apa yang mereka lakukan, satu per satu murid pun mulai menghentikan aktivitas mereka dan pergi dari tempat mereka saat ini.

“Kalian.. lelah?” lirih Ji Eun.

“Aku bertanya, apa kalian lelah? Hah? Apa kalian lelah?” sudah tak dapat ditahannya lagi. Ji Eun menangis dan terduduk sambil menundukkan kepalanya dalam setelah berteriak kepada murid-murid yang telah melemparinya dengan sampah.

“Kalian tak mendengarku.. kalian sama sekali tak tahu.. kalian.. jahat.” Suaranya terdengar begitu serak dan hampir tak terdengar. Perlahan ia bangkit dan mulai memunguti sampah yang ada disekitarnya dan membuangnya ke tempat sampah.

Ia kembali ke kelas setelah jam pelajaran hari itu usai dan tanpa disangkanya, Kim Jong In ada disana. Tidak sendiri tentu, juga Kim Sae Ri yang sedang menundukkan kepalanya. Ji Eun berusaha setenang mungkin berjalan kearah bangkunya. Dirinya begitu kacau saat ini.

“Aku tak tahu kau adalah orang yang kejam, Park Ji Eun.” Apa lagi ini? Pikir Ji Eun.

“Apa kau juga mau mencaci maki diriku, Kim Jong In?” tanya Ji Eun santai sambil mengemasi buku-bukunya yang sejak istirahat tadi tak terjamah oleh tangannya.

“Kau.. minta maaf sekarang!” sentak Jong In dan seketika Ji Eun menghentikan aktivitasnya mengemasi buku.

“Untuk apa?” kini mata Ji Eun telah menatap manik mata milik Jong In dan mulai mencari ketulusan. Namun nihil, yang ia temukan hanyalah mata yang menatapnya begitu dingin.

“Kau bertanya untuk apa? Kau jelas-jelas membuat skenario ini. Kau gadis yang tak punya perasaan.” Jelasnya dengan raut wajah yang mengeras.

“Apa yang telah kau katakan padanya, Kim Sae Ri?” tanya Ji Eun dan menatap Sae Ri lekat.

“Aku sudah berjanji.” Sae Ri justru balik bertanya.

“Oh? Ya, memang. Aku tak mau bicara lagi padamu, bukan? Tenang saja, aku masih mengingatnya. Aku.. minta maaf. Dan kau, Kim Jong In, kau puas?”

“Aku tak habis pikir.” Gumam Jong In.

“Aku akan pergi. Aku harap kalian berbahagia.  Aku tak akan mengganggu kalian lagi.”

Ji Eun pergi meninggalkan Sae Ri dan Jong In di kelas. Hari ini merupakan hari yang berat bagi Ji Eun, ia tak pernah berharap hari ini berlalu seperti ini.

“Park Ji Eun?”

Langkah Ji Eun terhenti ketika mendengar seseorang yang memanggil namanya. Sekolah sudah teramat sepi sejak setengah jam yang lalu dan hari mulai terlihat gelap.

“Siapa? Siapa itu?” Ji Eun berteriak sambil mencari-cari siapa yang telah memanggilnya.

“Kau.. tak apa?”

“Oh.. kau?” matanya menerka siapa yang baru saja memanggilnya.

Don’t make me stay the night or ask if i’m alright

I don’t have the answer~

 

~~~ The Real Destiny ~~~

— Five months later —

(Ji Eun POV)

Aku lega. Ini tidak terlalu buruk. Aku akan segera menjadi murid kelas dua dan kelas akan di acak kembali. Peluang satu kelas dengan Sae Ri akan semakin kecil. Haah.. ini membuatku bernafas dengan begitu bebas.

Dua minggu berlalu dan dengan begitu artinya aku telah resmi menjadi murid kelas dua. Aku berada di kelas 2-D. Ah, setidaknya aku tahu bahwa aku tak sekelas dengan Sae Ri. Berat memang. Hari-hari kulalui hanya saling berdiam diri dengannya. Bahkan tak ada yang membelaku saat di kelas. Aku hanya percaya pada Ji Hyun saat ini. Ya, dialah sahabatku sejak kami berada di tingkat pertama. Dan aku sedikit menyesal karena tidak bisa meluangkan waktuku untuknya. Yah.. karena hal itu.

“Ji Eun-ah!”

“Ji Hyun? Aku merindukanmu~” ucapku yang langsung menghambur dalam pelukannya.

“Aku juga merindukanmu~ ini sudah tahun kedua dan kita tidak satu kelas lagi.” Sahutnya dengan ekspresi yang dibuat-buat.

“Kita kan masih satu sekolah. Kita bisa bertemu setiap hari, bukan?”

“Ya, tapi itu tidak asik.”

“Sudahlah. Oh, bagaimana kelasmu? Menyenangkan?”

“Hmm.. begitulah~ aku.. sekelas dengan Jong In, menyebalkan. Bagaimana denganmu?”

“Aku belum tahu. Banyak yang tidak kukenal. Tapi sepertinya.. akan menyenangkan.”

“Oh..” kulihat Ji Hyun hanya ber-oh ria dan menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya karena cuaca yang dingin dan kami sedang berbicara di dekat lapangan basket outdoor.

“Emm.. Ji Eun-ah~” lanjutnya.

“Hmm?”

“Mengenai hal itu.. bagaimana perasaanmu saat ini? Lebih baik?”

“Kau tahu siapa aku, kan? Bukan Ji Eun namanya kalau tidak bisa melewati hal-hal kecil seperti itu.” Ucapku santai.

“Tapi.. kau pasti sangat terbebani. Maafkan aku tak bisa selalu berada di dekatmu. Tak bisa menjadi orang pertama yang membelamu ketika masalah datang dan banyak orang menghinamu. Maafkan aku, Ji Eun-ah..” ujarnya seraya menggapai tanganku dan menggenggamnya erat.

“Kau tidak perlu seperti itu, Cho Ji Hyun. Aku sudah merasa lebih baik. Kau bersedia menjadi temanku saja aku sudah sangat senang. Jangan khawatir.” Aku berusaha mengubur kenangan pahit beberapa bulan lalu dan berusaha memulai suatu perjalanan hidup baru dengan sejuta senyuman yang akan kubagikan kepada semua orang yang kukasihi.

“Gomawo~ kau memang orang yang baik, Ji Eun-ah.. aku tak akan membiarkan Jong In bahagia begitu saja. Kejam sekali.”

“Sudah, itu tidak perlu. Nanti justru kau menyukainya, Ji Hyun-ah~ hati-hatilah.”

“Tidak akan aku menyukainya.”

Dan berjalan seperti itu setiap hariku. Aku juga mendapat banyak teman baru, karena kebanyakan dari mereka tidak mengetahui masalahku yang lalu. Kubenamkan wajahku kedalam air yang ada di kolam renang sekolah ini. Sepi, mungkin tak ada ekstrakurikuler renang hari ini.

“Sudah satu semester kulalui hari-hariku sebagai murid kelas dua. Tidak terasa.” Lirihku dalam hati dan tersenyum.

1..2..3.. detik terasa begitu menyejukkan, air kolam yang segar membelai setiap permukaan wajah dan rambutku.

“Sae Ri, Kim Sae Ri imnida.”

…… 4 detik

“Kau menyukainya kan?”

“Bersedia menerima bantuanku?”

…… 5 detik

“Ji Eun-ah. Aku akan melakukannya untukmu. Jadi kau tak perlu khawatir, mengerti?”

…… 6 detik

“Maafkan aku, Ji Eun-ah. Aku.. tidak bisa menghubunginya.”

…… 7 detik

“Ah, tidak. Ini hanya temanku di Seoul, aku merindukannya.”

…… 8 detik

“Kau sudah menemukannya, Ji Eun-ah?”

“Nama kalian..”

…… 9 detik

 “Ji Eun-ah~ maafkan aku.. aku tidak bermaksud seperti ini. Sungguh.. hiks.. aku tak bermaksud menyakitimu..”

…… 10 detik

“Kalau memang seperti itu..”

“Aku janji tak akan berbicara lagi denganmu.”

……. 11 detik

12..13.. detik

“Bicara apa kau? Kau bersikap seolah-olah maaf tidak akan pernah kau berikan padanya. Kau sendiri yang membuat keadaan semakin memburuk. Kau yang tidak bisa mengontrol emosimu. Dan yang terpenting kau begitu pengecut!”

“Kau.. minta maaf sekarang!”

…… 14 detik

“Park Ji Eun?”

“Kau.. tak apa?”

…… 15 detik

 

“Haah.. hh hh..” kepalaku pun menyembul dari dalam air dan mulai mengatur nafasku yang  seketika tercekat sehingga aku memegang dadaku erat. Aku tak tahu? Mengapa rasanya jantungku berdebar tak karuan saat mengingat kembali suaranya?

“Park Ji Eun?”

“Kau.. tak apa?”

Ada apa sebenarnya denganku? Begitu sesak hanya dengan mengingatnya saja. Ini semua seperti sebuah kotak memori yang tertutup dengan rapatnya dan akan melukai tangan siapa pun yang mencoba membukanya. Ini terlalu sulit dan apakah dia…

 

~~~ The Real Destiny ~~~

 

(Author POV)

Ji Eun memang telah berterus terang perihal masalah yang dialaminya dengan Sae Ri dan Jong In pada salah satu teman karibnya, Kang Hye Bin. Ia tak bisa menyembunyikan perihal ini meskipun ia ingin menyembunyikannya. Ia tak mampu menyimpan perkara ini sendiri dalam hatinya. Dan selain daripada itu, Hye Bin telah mencium adanya kejanggalan pada diri Ji Eun tiap kali bertemu dengan Sae Ri.

“Ya! Ji Eun-ah. Sst.. kemari!” panggil Hye Bin dengan berbisik.

“Ada apa?”

“Kau mau lihat ini?” dan begitu Hye Bin menyelesaikan ucapannya, sebuah tali karet telah berhasil mendarat di kepala Kim Jong In dengan mulus.

“Ya! Apa yang kau lakukan? Aduuh..bagaimana ini?” Ji Eun yang merasa cemas hanya ditanggapi oleh tawa milik Kang Hye Bin. Keduanya sesigap mungkin bersembunyi di balik tembok yang membatasi kelas mereka dan kelas Jong In.

“Hahaha.. kau lihat tadi? Wajahnya? Ahahaha menggelikan. Aku sampai mau muntah melihatnya. Ahahah” suara Kang Hye Bin yang terdengar tak jelas karena Ji Eun yang dengan cepat menutup mulut Hye Bin agar tak didengar oleh Jong In.

Sekilas senyum pun terukir dari bibir Ji Eun. Ia merasa tak pernah melakukan hal yang seperti itu.

‘Kurasa aku telah tertular virus gila darinya~’

 

Sepulang sekolah Ji Eun berniat mengunjungi kelas Ji Hyun dan mengajaknya pulang bersama. Namun sesuatu yang ia lihat membuatnya tercengang.

“Aku.. aku mau. Tapi kumohon jangan katakan pada Ji Eun soal ini. Aku tak mau melihatnya terluka.”

“Aku tahu. Aku akan menjadikan ini rahasia, rahasia kita berdua saja.”

“Gomawo..”

Terdengar samar-samar suara kedua insan yang sedang berbicara di kesunyian kelas seusai jam pelajaran hari itu. Namun tidak bagi Ji Eun. Ia dapat mendengarnya dengan jelas. Bahkan teramat jelas karena ia mengenali suara itu. Suara yang tidak ingin ia dengar dan suara yang amat ingin ia dengar.

‘Ada apa dengan semua ini? Mengapa ini terjadi kembali? Mengapa luka hatiku terasa seakan robek kembali? Apa ini memang jalanku? Selalu tersakiti di setiap kisah. Bak cinderella yang tak menemukan akhir kisah yang bahagia..’

“Kau.. jangan melihatnya. Kau tak boleh sakit hati lagi, mengerti?” suara itu kembali menyeruak masuk kedalam telinga Ji Eun. Kali ini ia lebih tenang dalam menyadari kehadiran seseorang yang selalu ada di saat ia hampir menangis karena seorang pria.

“Kau.. siapa? Mengapa selalu mendapatiku seperti ini?” tanya Ji Eun sepelan mungkin agar suaranya tak terdengar sampai ke kelas Ji Hyun.

“Aku.. aku yang akan selalu bersamamu. Aku temanmu.” Singkat. Begitu singkat ia menjawab pertanyaan Ji Eun dan berhasil membuat Ji Eun untuk yang kedua kalinya merasa aman dan tenang.

“Terimakasih~” lirih seorang Park Ji Eun seraya tersenyum penuh ketulusan.

“Aku harap kita akan bertemu lagi..” gumam Ji Eun pelan.

Heartache doesn’t last forever i’ll say i’m fine

I’ve tried to ask myself, should i see someone else?

I wish i knew the answer~

—– To Be Continue —–

 

 

19 pemikiran pada “The Real Destiny (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s