Looking Forward (Chapter 3)

Title                  : Looking Forward (Chapter3)

Author              : Claraapr / @claraKHB

Rating               : PG – 15

Length              : Chaptered

Genre               : AU, Romance, School Life

Main Cast        : Oh Sehun

Kang Ha Na (OC)

Kim Jong In

Seo Na Ri

Other Cast       : Kang Hye Bin (OC)

Byun Baek Hyun

DC                    : FF ini milik author dan jangan sampai meng-copast FF ini tanpa izin. RCL, gomawo ^^ maaf untuk typo(s). Happy reading.

Looking Forward

 

Preview:

“Neo nuguya?!” kini ia meninggikan nada bicaranya padaku dan semakin menatapku tak berkedip.

“Naneun… Oh Sehun. Wae?”

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”

“Mwo?”

Jangan-jangan dia…

***Looking Forward***

Kumohon meski itu sulit,

Pandanglah aku beserta isi hatiku

Aku yang selama ini kau tunggu~

— Oh Sehun —

(Ha Na POV)

Aku tak bisa tidur semalam. Entah mengapa hatiku terus berkecamuk memikirkan hal kemarin. Siapa dia sesungguhnya? Siapa Oh Sehun sesungguhnya? Apa ini lelucon? Pagi itu seakan memutar kembali memori yang pernah singgah meski hanya sementara.

“Chankammanyo~ siapa namamu?”

Seperti itu. Mungkinkah dia berbohong? Tapi sepertinya ia begitu yakin mengucapkan penjelasannya. Dan.. tidak mungkin dia namja yang ada di masa lalu itu. Ahaha ya, tak mungkin.

—– Flashback —–

“Neo nuguya?!” nada bicaraku meninggi. Aku rasa ada yang tak beres disini. Mataku tak bisa berkonsentrasi. Aku seperti mengenal mata itu.

“Naneun… Oh Sehun. Wae?” tolong sembunyikan matamu. Pejamkan kumohon.

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” aku tak tahan. Kutanyakan langsung padanya, ini membuatku penasaran.

“Mwo?” ia nampak begitu terkejut karena pertanyaanku.

“A..anni. Itu.. bagaimana bisa? Aku tinggal di London sejak kecil, aku bahkan baru melihatmu pertama kali saat hari pertamaku sekolah disini. Mana mungkin, bukan? Hehe..” lanjutnya dengan tawa yang terasa seperti dipaksakan.

“Oh..kau yakin?”

“Tentu. Aku yakin.” Ucapnya lantang.

Oh.

Ya, mungkin ini hanya perasaanku saja. Mana mungkin aku bisa menilainya sebagai seseorang yang pernah bertemu denganku di waktu yang lampau?

—– Flashback End —–

Kulangkahkan kakiku menyusuri jalanan Seoul. Ya, hari ini hari Senin dan itu artinya aku harus kembali sekolah seperti biasa. Ck, bosan juga. Belum lagi semalam aku tak bisa tidur. Omo.. kepalaku pusing sekali. Aish.

“Ya!” sebuah tangan tiba-tiba menepuk pundakku.

“Wae? Aku sedang malas hari ini. Jadi, tolong jangan ganggu aku, arra?” cercaku.

“Apa yang terjadi? Ada apa dengan matamu itu? Lingkaran hitam dibawah matamu terlihat jelas. Kau tidak cukup tidur tadi malam?” ya, orang itu adalah Oh Sehun. Lagi-lagi dia.

“Itu bukan urusanmu, Tuan Oh Sehun.” Aku pun melenggang acuh tak menghiraukannya.

“Ya! Mari ke sekolah bersama!” ia berseru dan mengejarku. Mau tidak mau aku mengikuti perkataannya untuk pergi bersama.

“Kau.. ada waktu akhir minggu ini?” tiba-tiba Sehun bertanya ditengah-tengah perjalanan kami.

“Eum.. sepertinya tidak. Memangnya kenapa?”

“Itu.. aku mau mengajakmu pergi mencari buku. Kau mau?” ucapnya tertunduk dan menatap jalan dibawahnya.

“Haha~ bukan masalah. Hari Minggu, jam?”

“Oh? Jam 11 siang.” Raut wajahnya terlihat begitu senang. Aneh.

“Baiklah, hari Minggu jam 11 siang. Kita bertemu dimana?”

“Aku akan menunggu di taman kemarin. Aku akan menghubungimu.”

“Okey, sampai bertemu hari Minggu.”

“Itu masih enam hari lagi, Ha Na-ya~”

“Lalu?”

“Oh, tidak. Tidak apa-apa. Hehe, gomawo.” Ia tersenyum dan menunjukkan eyesmilenya yang terlampau menawan tersebut.

(Author POV)

“Kuharap ini bisa menjadi awal yang baik untuk kau dapat megetahui siapa diriku disaat yang tepat nanti. Disaat kau telah sepenuhnya memepercayaiku. Disaat kau labuhkan hatimu padaku.” Lirih Sehun dalam hati.

Lima hari berlalu dan itu tandanya esok Sehun dan Ha Na akan pergi bersama untuk mencari buku seperti yang Sehun katakan.

“Ha Na-ya~ sampai bertemu besok, ne?” sahut Sehun sambil tersenyum tulus.

“Ne, jangan sampai terlambat datang.”

“Pasti. Gomawo.”

Mereka pun pulang ke rumah masing-masing, namun Ha Na berubah pikiran dan berencana untuk pergi ke taman sebelum pulang. Dan sesampainya di taman ia pun duduk di bangku taman favoritnya.

“Haah sudah delapan tahun, ya? Sudah lama sekali aku tak melihatnya.” Ucap Ha Na seraya menyentuh ukiran tangannya pada bangku taman yang sedang ia duduki. Entah apa yang membuatnya begitu nyaman berada di taman.

“Hh.. mana mungkin dirinya, kan? Aku pasti sedang kehilangan akal sehatku saat mengatakan hal itu kemarin. Haha~ Oh Sehun. Tidak mungkin kan?” lirihnya dengan senyuman getir.

Mata Ha Na memandang ke seluruh penjuru taman dan tak ada satu pun yang luput dari penglihatannya. Namun tiba-tiba sesuatu membuat hatinya senang.

“Bukankah itu.. Jong In sunbae?” kejutnya.

Ha Na pun berjalan menuju tempat dimana Jong In memarkirkan sepeda motor besarnya itu dan mulai bersuara.

“Jong In sunbae?” sahut Ha Na dengan senyum manisnya yang tak pernah luput ketika bertemu dengan Jong In.

“Ck, lagi-lagi dirimu. Mengapa kau selalu menggangguku? Mengapa kau selalu terlihat di depanku setiap saat? Di sekolah, di pusat perbelanjaan, dan sekarang? Kau membuntutiku?”

“Oh, tidak. Bukan seperti itu, sunbae. Aku hanya..”

“Hanya apa? Kau menyukaiku?” Deg! Hati Ha Na mencelos seketika saat sunbae yang selalu diidamkannya mengetakan hal itu. Memang itu tak salah, hanya nada bicaranya saja yang sedikit.. meremehkan?

“Ak.. aku.. eum..”

“Katakan saja. Kau menyukaiku kan? Maka dari itu kau selalu mencari perhatian dariku dengan berbagai cara. Kau tahu? Itu memuakkan.”

Mata Ha Na membulat sempurna mendengar pernyataan Jong In dan hatinya semakin tertekan.

“Jong In sunbae. Aku memang telah lama menyukaimu, bahkan sangat menyukaimu.” Ha Na menghela nafas panjang sebelum ia kembali berucap.

“Aku selalu mengikuti kabar tentangmu, aku memperhatikanmu diam-diam dan dari kejauhan. Aku tidak ingin mengganggumu sehingga kau membenciku. Tapi memang beginilah keadaanku. Setiap pertemuan kita pun diluar kesengajaanku. Aku tak pernah membuntutimu, aku hanya tertarik padamu. Namun.. jika kau merasa sangat ternganggu oleh kehadiranku, maka aku tidak akan muncul lagi di hadapanmu.” Ujar Ha Na lantang dan mulai mengeluarkan setetes air mata, namun ia menggigit bibir bawahnya yang bergetar untuk menahan tangisnya yang akan pecah.

“Kapan pun itu.” Lanjutnya yang kemudian berjalan berbalik arah dan pergi meninggalkan sunbaenya dengan perasaan yang kacau. Ia merasa hetinya telah diinjak-injak oleh seseorang yang begitu ia dambakan, dan itu sukses membuatnya benci pada Jong In.

“Aku.. tidak akan muncul kembali sebagai seseorang yang begitu menyukaimu, Kim Jong In.” lirihnya sambil mengusap air mata yang mengalir di pipinya dengan punggung telapak tangannya.

***Looking Forward***

Matahari bersinar dengan cukup terik di Minggu siang ini. Ha Na mencoba menghilangkan pikiran tentang hal kemarin. Sudah 20 menit berlalu dari jam perjanjian mereka. Namun Oh Sehun belum juga muncul.

“Aish.. Jinjja. Lihat saja kalau dia datang, akan kupenggal kepalanya.” Runtuk Ha Na kesal. Namun tiba-tiba matanya menangkap bayangan seseorang. Ia pun menyipitkan matanya untuk memperjelas pandangannya.

“Kim Jong In?” matanya pun terbelalak begitu melihat Jong In sedang berjalan-jalan di sekitar taman dan menggandeng seorang gadis yang ia ketahui adalah Na Ri, Seo Na Ri.

Ha Na menjadi salah tingkah dan panik. Masalahnya ia telah berjanji tidak akan pernah muncul di hadapan sunbaenya itu. Akan tetapi Sehun datang dan terengah-engah karena berlari.

“Mianhae. Aku terlambat. Kita pergi sekarang?” ucap Sehun dengan nada bicara yang kencang karena tidak bisa mengontrol nafas.

“Ya! Kecilkan suaramu!” Ha Na berbisik dan mencubit lengan Sehun. Namun terlambat, usaha Ha Na sia-sia.

“Oh? Sehun-ah!” seru seseorang. Dan ‘It’s Done!’ pikir Ha Na.

“Na Ri? Apa yang kau lakukan disini?” Sehun tak menyangka akan bertemu teman masa kecilnya disini.

“Oh? Bukankah kau.. Ha Na? Jadi.. kalian sedang berkencan juga?” tanya Na Ri dengan senyum yang meremehkan.

“Tidak. Aku mengajaknya untuk pergi membeli buku. Kau sendiri?” Sehun dan Na Ri semakin asyik mengobrol satu sama lain sedang Ha Na dan Jong In hanya diam dan saling memalingkan wajah.

“Ne. Kami berkencan. Aku dan Jong In oppa baru saja menjadi sepasang kekasih kemarin sore, dan ini kencan pertama kami.” Nada suara Na Ri terdengar begitu senang dan girang. Sangat berbanding terbalik dengan hati Ha Na saat ini.

“Oh? Chukkae. Kami harus segera pergi. Annyeong.” Sehun pun mulai berjalan dan diikuti Ha Na yang mengekor di belakangnya.

Nampak Jong In yang sedikit menoleh kearah Sehun dan Ha Na. Ia merasa.. bersalah karena memperlakukan Ha Na begitu kasar kemarin.

(Ha Na POV)

Apakah aku terlihat bodoh tadi? Apa aku terlihat salah tingkah? Tidak, kan? Aku biasa saja, kan? Aku sama sekali tak melihat kearahnya. Hanya tanah dan batu-batu kecil yang mengisi pandangan mataku sedari tadi. Aku benar-benar tak berani menatap kearahnya.

“Ada apa denganmu? Kau sakit?” suara Sehun tiba-tiba menyadarkan lamunanku akan Jong In sunbae.

“Anni. Aku hanya.. eum.. lupakan. Palli! Cari buku yang mau kau beli.”

“Kau ini aneh. Baru saja aku melihatmu berekspresi seperti orang yang sedang patah hati, sedangkan sekarang? berubah menjadi penjahat!”

“Aku akan pulang sekarang.”

“Ya! Ya! Ya! Jangan marah, Ha Na-ya~ aku hanya bercanda. Kajja” Igeo mwoya? Sehun menarik tanganku dan berlari menuju toko buku di ujung jalan raya ini.

Sejenak dapat kulupakan rasa perih yang menyambar hatiku. Seakan semua hanya angin lalu yang tidak cukup penting untuk dipikirkan. Dia.. Oh Sehun, mampu membuatku tersenyum bahkan hingga tertawa saat hati yang pilu sedang menyergahku.

Seusai Sehun membeli beberapa buku yang ia perlukan, kami pun pergi ke taman. Yah, tenpat paling ramai saat  hari libur seperti ini. Ia berjalan mendahuluiku dan menuju kedai es krim yang berada tak jauh dari tempatku berdiri saat ini.

“Dingin!” seketika kusentuh pipiku yang terasa dingin karena Sehun tiba-tiba menempelkan es krim yang ia beli di pipiku.

“Hahaha, maka dari itu. Jangan suka melamun! Arra?”

“Ck, jinjja. Ne, arraseo!” decakku kesal.

Kami pun mencari tempat untuk duduk, beruntung ada sebuah bangku taman yang letaknya lumayan jauh karena taman ini begitu luas. Yah, ini hari Minggu, bukan? Sudah pasti banyak yang datang kemari untuk menghabiskan akhir pekan bersama keluarga atau kekasih mereka.

Saat kami duduk, ia pun memberiku es krim rasa coklat kesukaanku. Bagaimana ia bisa tahu? Ah, itu tidak penting.

“Igeo.” Sahutnya singkat seraya mengulurkan tangannya untuk memberikanku es krim tersebut.

“Gomawo~” jawabku dengan tersenyum.

Ehm.

Tidak ada yang membuka percakapan setelahnya. Kami  pun hanya diam dan itu berhasil membuatku memikirkan kembali tentang apa yang terjadi kemarin. Ya, bagaimana lagi? Hanya itu yang menyibukkan pikiranku sejak kemarin.

“Apa yang mengganggu pikiranmu sebenarnya?” suaranya yang tiba-tiba menyeruak masuk kedalam telingaku sukses membuatku terkejut.

“Oh? Itu.. tidak. Tidak ada.”

“Geotjimal. Cepat katakan! Mungkin aku bisa membantu menyelesaikan?” aku pun langsung menoleh keras ke arahnya.

“Hh? Kau?” tanyaku dengan pandangan yang seolah-olah menyepelekan. Dan ia pun hanya mengangguk penuh keyakinan.

“Kau tidak akan bisa, Oh Sehun.” Lanjutku seraya kembali menatap lurus ke depan.

“Ya itu karena kau belum menceritakan apa masalahmu padaku, Kim Ha Na.”

Aku berpikir sejenak untuk mempertimbangkan kembali. Mungkinkah aku harus menceritakan masalahku padanya? Ah, aku tidak mau ditertawakan olehnya nanti.

“Tidak. Kau tidak perlu tahu. Kajja kita pulang, aku lelah sekali.” Ucapku kemudian sambil berdiri dari tempat dudukku saat ini.

“Kau berhutang cerita padaku, Ha Na-ya~”

“Eyy.. kau ini. Lain kali saja kalau masalahnya sudah selesai! Aku mau pulang!” seruku yang langsung melenggang meninggalkannya.

(Sehun POV)

“Apa yang sebenarnya kau pikirkan, Kang Ha Na?” gumamku dalam hati seraya melihatnya yang mulai berjalan meninggalkanku.

“Ya! Tunggu aku!” teriakku dan mulai mengejarnya. Aku inginkan sebuah awal. Awal yang baik, awal yang membuatnya kembali mengingatku. Ia menungguku, bukan? Aku tak akan melewatkan kesempatan ini.

Kami berjalan menuju halte bus yang tidak jauh dari taman. Ini masih terlalu siang untuk pulang. Akan kukerjai dia.

“Kau tahu?” tanyaku singkat.

“Mwo?”

“Aku mendapat telepon dari temanku yang rumahnya tidak jauh dari tempat tinggalmu. Dia bilang ada kasus pencurian di dekat rumahnya saat ini. Jadi, sebaiknya kau jangan pulang sekarang.

“Jinjja? Kalau begitu aku justru harus pulang secepatnya.” Wajahnya panik seketika. Ah, aku salah memakai alasan.

“Itu.. jangan! Sudah ada polisi yang mengatasinya, kau tenang saja. Justru kalau kau sekarang, kau bisa-bisa jadi sandera si pencuri seperti di drama-drama, kau mengerti?” saat ini dirinya justru heran sambil menimbang-nimbang apa yang akan ia putuskan.

“Benarkah? Untung saja eomma sedang berada di Busan. Ini membuatku cemas.” Gumamnya sambil menggigit bibir bawahnya.

“Emhem. Jadi, kau sebaiknya jangan pulang dulu. Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar?”

“Kenapa jadi kau yang terkesan menyanderaku?” ia bertanya dengan menyipitkan matanya.

“Ah, itu.. menenangkanmu lebih tepatnya. Supaya kau tidak terbebani oleh pikiranmu sendiri. Hehe.”

“Alibi.” Terserah dia mau bicara apa. Yang terpenting adalah sekarang aku akan menghabiskan akhir pekanku bersamanya. Ini pasti menyenangkan.

‘Aku akan menunggu, menunggu sampai kau kembali mengingat diriku. Menunggumu untuk diriku dapat mengatakannya, untuk mengatakan saranghae’

—–

(Author POV)

Indah.

Itulah yang sedang ada di pikiran Sehun, entah mengapa ia merasa sangat senang berada di dekat Ha Na. Buatnya waktu-waktu seperti inilah yang tidak boleh dilewatkan. Ia menyukai Ha Na, tidak. Sehun mencintai Ha Na hingga saat ini.

“Ha Na-ya~” sahut Sehun di tengah perjalanan mereka di dalam bus.

“Ne?”

“Pernahkah kau bertemu seseorang yang membuat hidupmu menjadi sangat indah?”

“Aku tak paham maksudmu?”

“Pernahkah kau merasakan.. cinta pada pandangan pertama?” Sehun bertanya dengan pandangan lurus ke depan tanpa menoleh kearah Ha Na.

“Cinta pada pandangan pertama?” tiba-tiba jantung Ha Na berdetak amat cepat.

Keduanya saling diam. Sehun tidak bertanya kembali sedang Ha Na belum juga menjawab pertanyaan Sehun.

“Sehun-ah~” tiba-tiba Ha Na membuka mulutnya dan memanggil nama Sehun dengan sebutan ‘Sehun-ah’ untuk yang pertama kalinya.

“Ha.. Ha Na-ya? Kau memanggilku apa?” tanya Sehun sedikit terbata.

“Sehun-ah? Tidak perlu kau pikirkan panggilan itu. Bukankah itu sudah biasa? Lagipula aku hanya ingin menjawab pertanyaanmu.” Mata Sehun terlihat berbinar menunggu jawaban dari Ha Na.

“Ne, aku pernah mengalaminya. Tapi itu dulu, saat aku masih kecil. Laki-laki itu sekaligus menjadi cinta pertamaku dan mungkin sedikit demi sedikit aku akan melupakannya, aku tak akan pernah bertemu orang itu. Hh.” Lanjut Ha Na dengan diakhiri lenguhan singkat.

“Melupakannya? Andwae! Kau tak boleh melakukannya. Bukankah dia cinta pertamamu?”

“Untuk apa? Jika aku tak melupakan laki-laki itu aku akan terjebak oleh perasaanku sendiri, bukan?” ucap Ha Na dengan poker facenya

“Mengapa kau tidak mencoba untuk mencari tahu?”

“Anniyo, dulu aku selalu menunggunya datang ke taman dimana kami bertemu pertama kali. Tapi, dia tak pernah datang lagi.” Keadaan menjadi hening untuk beberapa saat.

“Apa yang akan kau lakukan jika saja orang yang kau nanti dulu kembali? Akankah kau tetap mencintaiya seperti dulu?”

“Mungkin..”

Aku akan segera mengatakannya. Kang Ha Na~ tunggulah sebentar lagi. Kumohon, jangan pernah lupakan aku, jangan pernah lupakan cinta pertamamu~

—– To Be Continue —–

Iklan

21 pemikiran pada “Looking Forward (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s