Unpredictable Love (Chapter 4) – END

Unpredictable Love

“CINTA PERTAMA MENGUBAH SEGALANYA”

Title : Unpredictable Love

Genre : Romance, Friendship

Length : Chaptered

Rating : PG 15+

 Cast    : Lee Jin Sil

             :  Kai EXO

             : Lee Yoora

             : Kim Joon Myeon (Suho) EXO

             : Jung Soojung (Krystal) F(X)

by: gboyaction

Pagi yang indah kembali hadir di hidupku. Hari ini hari terakhir aku belajar di sekolah, dan besok aku akan mengikuti ujian selama 3 hari. Walaupun nanti malam adalah hari terberatku, karena aku harus belajar keras untuk besok, tetapi aku mencoba mengawali hari ini dengan senyuman. Aku pun pergi sekolah dengan senyum bahagia, dan berlari kecil di jalanan seoul yang dihiasi mentari pagi yang sangat hangat. Aku sampai di sekolah lebih awal, aku masuk ke kelas dan seperti biasa aku menemukan sebotol yoghurt di laciku.

“ Semangat!!! untuk ujianmu besok!!

lee jin sil”

 

Kata-kata yang tertulis di kertas itu membuat aku tersenyum. Kata-kata itu menguatkan kakiku untuk semakin kuat berdiri, seakan menopang diriku, dan membangun semangatku. Walaupun aku tidak mengetahui siapa dia, tetapi aku sangat berterimakasih kepadanya. Aku sangat menghargai perhatian yang telah ia berikan selama ini, walaupun aku tidak tahu siapa dia dan apa alasannya. Aku pun mengeluarkan bukuku, dan mengawali pagi hari yang indah ini, dengan membaca. Beberapa menit aku membaca, suara yoora yang lantang menyapaku, “jin sil ya!! pagi!”, ucapnya dengan ceria. “Pagi! kau sangat bersemangat” ucapku membalas sapaannya. “Benarkah? tetapi sepertinya kau lebih bersemangat karena, kemarin kau……”, ucapannya membuatku mendelik, aku segera membekap mulutnya yang nakal, agar ia tidak melanjutkan ucapannya. “Yoora ya!” tegasku kepada yoora, ia pun melepaskan bekapan tanganku dari mulutnya. “Jin sil ya, apakah kau menikmati harimu kemarin?”, ucapnya menggodaku. Aku hanya tertunduk menyembunyikan wajahku yang memerah.  “Ya ! wajahmu itu! mengisyaratkan bahwa kau menyu…”, mendengar perkataannya, membuatku membekap kembali mulutnya dan menyeretnya keluar kelas, agar tidak ada orang yang mendengar perkataan anehnya. Aku membawa yoora keluar dengan membekap mulutnya, dan merangkulnya, seperti seorang sandera. Saat kami keluar kelas, jongin berada tepat 1 meter didepanku, ia hendak masuk ke dalam kelas. Jongin menatapku dan yoora dengan tatapan heran. Aku hanya bisa terdiam dengan wajah polos dan mata bulatku yang menatap raut wajah jongin, raut wajah yang menampakkan keheranan saat menyaksikan keanehan di depan matanya. Wajahku memerah, karena malu, aku pun memasang senyum tipis, dan segera berlalu dari hadapannya. Aku membawa yoora ke taman, dan yoora meyelidiku seperti seorang penjahat. “Jadi, sudah berapa lama?”, tanya yoora tegas. “Ya! kau berkata apa? aku tidak mengerti”, jawabku dengan tidak menatapnya. “Kau menyukai orang itu kan? aku melihatnya dengan sangat jelas dari awal”, ucap yoora, dan membuatku menoleh, mendekatkan diriku pada yoora. “Apakah itu sangat jelas?” jawabku, aku sudah tertangkap sekarang, dan aku tidak bisa mengelak kali ini. “Ne, sangat jelas” ucapnya mantap. “ Yoora, bisakah kau menutup mulutmu kali ini” ucapku memohon. “Ahahah tentu saja, apa aku sejahat itu membeberkan rahasia sahabatku sendiri, tapi apakah aku tidak berarti bagimu? bagaimanapun juga aku sahabatmu, mengapa kau hanya memendamnya sendiri? dasar anak aneh!”, ucapnya. “mian yoora ya, aku hanya ingin menyimpannya”, Aku pun merangkulnya, karena akhirnya aku menemukan seseorang yang bisa mengerti perasaanku. “Tapi apa itu?” tanyanya sambil menunjuk benda kecil yang ada di saku rokku. “Ahhhh ini handphone ku, oppaku membelikannya kemarin” jawabku. “Oppa? oppa yang waktu itu?”, tanyanya kepadaku. “Ne”, jawabku senang. “Dia melakukan itu? “, tanyanya heran. “Ne, mengapa?” tanyaku kembali. “Tidakkah kau merasa bahwa dia bukan hanya sekedar oppa?” pertanyaanya membuat senyumku hilang. “Jin sil ya! kau bilang dia teman kecilmu, dan kau sangat dekat padanya, dia sangat perhatian kepadamu, tidakkah kau memandangnya sebagai seorang pria? walau hanya sekali?”,  perkataan yoora membuatku terdiam sesaat. Suara bel pun berdering, yoora pun mengajakku untuk kembali ke kelas, dan memintaku untuk berhenti memikirkannya sekarang, karena kami akan memulai pelajaran. Dan tentunya aku memerlukan kosentrasi saat pelajaran berlangsung.

Aku menuruti perkataan yoora, dan mecoba untuk tidak memikirkan hal itu saat pelajaran. Bel istirahat pun berdering, dan yoora mengajakku ke kantin. Aku mengiyakan tawaran yoora. “Jin sil, maaf atas perkataanku tadi yang membuatmu terguncang” ucap yoora, berusaha menenangkan diriku. Aku terkejut akan pertanyaan yoora tadi pagi, seperti ada kilat yang menghantamku. kami pun, duduk di pojok kantin, dan ia mencoba untuk berkata empat mata kepadaku. “Apa artinya joon oppa bagimu?” tanya yoora pelan, untuk menenangkan perasaanku. “Segalanya, ia adalah kakak bagiku, seorang yang lembut, yang selalu ada untukku” jelasku kepada yoora. “Kakak? apakah kau tau bahwa, dia juga seorang pria?”, tanya yoora lagi. “Ne, tapi…” jawabku ragu. “Kau menganggapnya sebagai kakak, tapi apakah dia menganggapmu sebagai seorang adik? kau bilang dia tidak pernah memperdulikan gadis-gadis yang menyukainya, dan memanjakanmu dengan perhatiaaannya, tidakkah kau mengaggapnya sebagai seorang pria? seorang pria yang diam-diam mengaggumi seorang gadis, dan gadis itu hanya mengangggapnya sebagai seorang oppa”, pernyataan yoora membuatku sedikit tersadar, tetapi aku berusaha mengelaknya. “Tidak mungkin ia mengaggapku sebagai wanita, aku tahu oppaku!” jawabku tegas. “Jin sil ya, berhentilah berpikir dengan pikiran polosmu.” ucapnya kepadaku. “Yoora ya, itu sangatlah tidak mungkin” jawabku dengan meyakinkan diriku dan tentunya yoora. “Berhentilah memandangnya seperti itu, dan cobalah mengerti perasaannya” aku terdiam mendengar perkataannya. Yoora pun, menyambung perkataannya, “aku tahu kau menyukai jongin semenjak pertama kau melihatnya, dan joon sangat berarti bagi hidupmu. tegaskanlah langkahmu, kau tidak ingin kan ji hoo oppa tersakiti, akibat kelakuanmu. tidak ada yang tahu hati manusia, perkataan dan perasaan bisa saja berbeda”, aku berusaha untuk mengerti tapi, aku sama sekali tidak pernah memikirkan hal itu. Yang aku tahu ji hoo adalah oppaku. tetapi, aku menyadari apa yang telah terjadi selama ini. Oppa tidak pernah mengencani wanita mana pun. Aku adalah satu-satunya wanita yang ia temani selama ini. Aku selalu berada di sisinya, begitu juga dia. Aku menganggapnya sebagai seorang kakak tetapi dia?. Benar kata yoora, jika aku terus menunjukan sikap seperti ini kepada oppa, nantinya oppa yang akan terluka, dan aku tidak mengingini itu terjadi. Jam istirahat pun usai, aku dan yoora kembali ke kelas. Aku melangkahkan kakiku yang terasa berat, wajahku menampakkan kekhawatiran yang amat jelas. Melihat itu semua, yoora menepuk pungungku lembut, dan memberikan senyuman terbaiknya kepadaku, seolah memberikanku kekuatan. Kami pun, tiba di kelas, aku mencoba menguatkan diriku untuk mengikuti pelajaran guru kang. Guru kang masuk ke dalam kelas, dan ia mengatakan bahwa kami harus mempresentasikan tugas kami di depan kelas. Aku hanya terdiam mendengar perkataan guru kang, seolah pikiranku tidak bisa terlepas dari perkataan yoora tadi. Guru kang pun memanggil satu kelompok yang menjadi pasangan pertama, kedepan kelas. Semua anak terlihat gugup, tetapi berbeda denganku. Pikiranku tidak bisa lepas dari joon oppa. Guru kang pun memulai, kata-katanya, “Kelompok pertama yang akan maju adalah, kelompok…. kelompok 2”, mendengar ucapan guru kang,  membuatku sontak menegakkan kepalaku dan melihat ke arah jongin, ia menoleh ke arahku dan segera berdiri, aku pun melakukan hal yang sama. Wajahku memperlihatkan kegugupan saat sampai di depan kelas, mungkin karena semua mata mengarah  ke arah kami, atau karena hal tadi. Aku menunduk dan mencoba untuk memberanikan diriku. Aku pun memulai perkataanku, “se..la..mat pa..”, ucapku gugup. Aku sempat menghentikan perkataanku dan diam sejenak, mencoba untuk menenangkan diriku. “Selamat pagi semua”, sela jongin dengan senyum yang cerah. Dia menutupi kesalahanku, dan aku merasa tidak berguna, aku hanya terdiam dan mencoba menenangkan diriku. Ia mempresentasikan tugas kami seorang diri. Saat aku ingin mencoba memepresentasikan bagianku, jongin selalu menahanku. Ia menatapku, dengan senyum tipisnya dan ia mencoba untuk menampilkan yang terbaik seorang diri. Hal itu membuat ku tidak enak hati, mungkin aku bodoh ya aku sangat bodoh, mementingkan perasaanku dan membuat jongin yang sama sekali tidak tahu, ikut bertanggung jawab. Aku terus membebani jongin, dan aku sangat bersalah akan itu.

Setelah pelajaran guru kang berakhir, aku berniat untuk menghampiri jongin. Aku mencarinya ke sudut-sudut sekolah, dan seperti biasa aku menemukannya saat ia sedang membaca buku kesayangannya. Aku melangkahkan kakiku untuk menghampirinya, aku mencoba untuk memberanikan diriku. “Jongin, maaf tadi aku..aku membiarkanmu melakukannya sendiri”, ucapku dengan wajah yang menunduk, “tadi? aku hanya melihatmu tidak siap,” jawabnya sambil menatap setiap barisan kata dibukunya. “Maaf aku terlalu memikirkan diriku”, ucapku bersalah. Ia bangkit dari bangku, menghampiriku lalu, ia memegang bahuku, “gwenchana” ucapnya pelan. Dan ia hanya berlalu seperti angin, angin yang menenangkan hatiku. Aku memegang bahuku yang dipegang jongin tadi, dengan wajahku yang memerah. Ucapannya membuat hatiku damai, pikiranku yang kacau seakan hilan. Tatapannya membuat aku percaya bahwa ia adalah cinta pertamaku. Aku terhanyut untuk beberapa menit, karena jongin. “Kau”, tiba-tiba ucapan itu menghentikan lamunanku, dan aku pun segera menoleh ke arah sumber suara itu. Seorang wanita cantik, dengan rambut panjang dan, mata yang tajam bagikan elang, sedang berdiri di hadapanku. “Jung soojung unnie” ucapku terbata, seakan tidak percaya siapa yang sedang ada di depanku sekarang. “Kau, lee jin sil?” tanyanya kepadaku. “Ne” ucapku mengiyakan perkataannya. Soojung unnie, ia adalah kakak kelasku, ia berada satu tingkatan di atasku. Dan ia adalah wanita yang selama ini digosipkan dengan jongin. “Kau tidak cantik, dan kau sangat biasa”, ucapnya sambil memandangku dari kepalaku sampai ujung kakiku. Aku sedikit risih dengan kelakuannya, tetapi aku mencoba untuk menahannya. “Kau, apakah kau tau yang dipikirkan jongin tentangmu?”, tanyanya kepadaku, sontak aku menoleh kepadanya. “Ne”, ucapku meminta ia memperjelas perkataannya. “Kau adalah wanita yang sangat merepotkan, kau tidak tahu jongin selalu belajar untuk tugas itu”. Kilat kedua pada hari ini yang menghantamku, hatiku terpukul saat mendengar perkataannya. “Ck, kau tidak berguna”, ucapnya. Aku semakin merasa bersalah mendengar perkataan yang keluar dari mulutnya itu. “Sadarlah kau bukan siapa-siapa, kau hanya membuatnya mengeluh”, dan ucapannya yang terakhir membuat, aku  tersadar bahwa kejadian yang telah berlalu selama ini hanyalah sebuah bayangan. Aku lenyap akan perkataanya, dan aku hanya terdiam mendengar semua itu. “Nuna”,suara jongin menghampiri kami, dan membuatku semakin takut untuk menoleh ke sumber suara itu. “Jongin” ucap wanita itu terkejut, dan tanpa pikir panjang jongin segera menarik pergi wanita itu, dan mereka berdua pergi berlalu seperti angin di padang gurun yang membuat perih mataku. Aku meneteskan air mataku, sesaat mereka berlalu. Aku bukanlah jin sil yang membuat jongin tersenyum, aku bukanlah jin sil yang membuatnya mengerti akan arti hujan, aku bukanlah jinsil yang menunjukan keindahan bintang kepadanya. Akhir-akhir ini bahkan, aku merasa bahwa jongin ada di jangkauanku, tapi itu semua hanyalah ilusi. Semua itu hanya bayangan, dan aku tersadar itu tidak berarti apa-apa baginya, aku hanyalah jin sil, yang menjadi beban untuknnya, mungkin aku terlalu polos, dan membuatnya merasa kasihan kepadaku, sehingga ia berperilaku seperti itu kepadaku. Hari ini aku tersadar, akan semuanya dan aku tidak tahu harus berdiri setegar apa lagi. Hatiku hancur karena semuanya, semuanya yang terlihat nyata, tetapi bukanlah kenyataan. Tidak ada yang tahu hati manusia, hati manusia bagai batu permata yang tersembunyi di dalam jutaan butiran pasir.

Apa yang kulihat, apa yang kurasakan, bukanlah kebenaran. Aku tidak bisa menyalahkan siapapun, dirikulah yang terlalu berani untuk mengenalmu, walaupun kau tidak pernah mau mengenalku.

*

Aku duduk di balkon, menatap bulan purnama yang muncul di malam seoul. Aku telah melewati ujianku, dan aku melakukannya dengan kemampuanku semaksimal mungkin. Aku melakukannya dengan otakku, bukan dengan hatiku. 3 hari ini nampaknya aku sangat terlihat tidak baik. Appa, omma, oppa, yoora, dan joon oppa juga merasakan hal yang sama. Mereka bilang aku nampak berbeda dari sebelumnya, dan aku pun merasakan itu. Sudah 3 hari ini aku tidak melihat jongin, aku terus menghindarinya, aku tidak berani menatapnya, untuk saat ini aku sangat takut bertemu dengannya. Jongin bagaimana kabarmu? sempat aku berpikir sejenak tentang itu. Dan aku kembali meneteskan air mataku, saat mengingat hal itu. Tetes demi tetes air mata mengalir di pipiku, dadaku sesak, dan aku merasakan hatiku yang sangat terluka. Melupakannya adalah satu jalan yang tepat untuk saat ini. Tetapi hatiku terlalu berat untuk melepasnya, dia sudah sangat berarti bagiku selama ini. Dan aku tidak bisa dengan mudah melakukan hal itu. Rasa bersalah yang amat sangat, memabayang di pikiranku saat ini.

Aku mencoba tegar, dan menghapus air mataku. Aku berbalik ke meja belajarku, dan aku menemukan 3 carik kertas yang aku terima tiga hari ini. Kertas-kertas yang masih kusimpan, kertas dari seseorang yang selalu mengantar yoghurt di laci mejaku.

“Kau warna yang berbeda dalam hidupku

lee jin sil”

“Menemukanmu adalah sebuah keajaiban bagiku

lee jin sil”

“Senyumanmu membuat ku bahagia sebagai seorang pria,

lee jin sil”

Aku menatap, kertas-kertas itu dengan senyum tipis di wajahku. Orang ini senasib denganku, ia merasakan apa yang kurasakan. Menginginkan kebahagiaan untuk seseorang yang berarti bagi hidupnnya. Aku mengusap lembut kertas-kertas itu dengan sayang, “aku sangat menghargaimu, aku sangat berterimakasih kepadamu, karena kau membuatku berarti untuk pertama kalinya”, ucapku menatap kertas-kertas itu.

*

Satu hari baru yang harus kulewati, ada di depan mataku. Aku masih sama seperti, 3 hari yang lalu, persaanku masih sama dan sikapku yang berubah, membuat orang lain keheranan melihatku. Aku melangkah menuju kelas dengan langkah gontai. Aku berjalan di sepanjang lorong, aku menatap jendela-jendela yang berjejer di pinggir lorong. Tiba-tiba aku merasakan getaran handphone dari saku rokku. Aku segera merogoh sakuku, dan saat aku melihat layar handphone, nama joon opaa tertera jelas di layar handphoneku. Aku pun, menghentikan langkahku, dan segera mengangkat telepon oppa, “anyeong oppa”. “Jin sil, kau sudah di sekolah”, tanyanya. “Ne aku di sekolah sekarang”, ”aku akan menjemputmu nanti, ada yang ingin kusampaikan kepadamu”, “ne, aku akan menunggumu nanti”, ucapku dengan nada datar, tanpa rasa ingin tahu aku hanya mengiyakan perkataannya. “Ini sangat penting kau tahu”, “ne”, “baiklah, jangan murung dan jalanilah harimu dengan baik hari ini, oppa akan mentraktirmu nanti”, “ne oppa”, “baiklah sampai nanti”, “ne oppa, sampai nanti” jawabku, dan aku segera menutup pembicaraan kami. Aku berpikir sejenak, tentang apa yang akan oppa bicarakan nanti. Aku pun, mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya, dan meneruskan langkahku yang terhenti, 4 lanngkah telah aku lewati, dan seketika, jongin ada di depanku, ia berdiri menatapku tepat 1 meter di depanku. Aku segera mempercepat langkahku dan aku berlalu dari hadapannya dengan wajahku yang tertunduk. “Jin sil, ada hal yang ingin kusampaikan”, ucapanya membuat langkahku terhenti, tetapi tidak membuatku berani untuk menoleh menatapnya. aku hanya terhenti untuk beberapa detik, dan segera masuk ke kelas, meninggalkannya sendiri. Aku tidak mempunyai kekuatan untuk melihatnya, menatapnya, bahkan mengucapkan sepatah katapun kepadanya. Aku terlalu takut, aku takut ia membenciku. Aku pun duduk, di bangkuku dan untuk kesekian kalinya aku menemukan yoghurt dan secarik kertas.

“Kau yang pertama bagiku

lee jin sil”

Aku menatap kertas itu dengan, tatapan penuh arti. Aku yang pertama baginya, jongin juga yang pertama bagiku. Cinta pertama yang menyakitkan, yang pernah aku rasakan.

Istirahat pun tiba, setelah istirahat kami diperbolehkan pulang, karena ujian telah berakhir, dan aku ke sekolah karena ada beberapa mata pelajaran yang harus ku susul. Aku melangkah keluar kelas dengan wajah penuh beban. Aku pun teringat perkataan jongin tadi, apa yang ingin dia katakan?,  aku rasa itu adalah hal buruk, dan lebih baik aku tidak mendengarnya. Aku takut patah hati untuk yang kedua kalinya, tapi aku lebih takut lagi untuk melupakannya. Walaupun, menyimpan perasaan ini dalam hatiku sangatlah berat. Menumbuhkan perasaan ini pun, sangatlah tidak mungkin, aku hanya berserah dan pasrah akan keadaan. Akankah aku kembali menjadi seorang pengagum, keluar dari kehidupannya, dan menatapnya dari jauh. Akankah aku kembali kepada diriku yang dulu? seorang pengagum yang hanya bisa melihat. Tidak terasa, selagi aku termenung bel selesai istirahat pun berbunyi, aku segera mengambil tasku dan bergegas untuk pulang, seketika aku teringat perkataan oppa. Dan aku segera melangkahkan kakiku untuk keluar kelas. Aku keluar dari kelas dengan langkah tergesa-gesa, tetapi ada sebuah tangan yang menahanku untuk berhenti melangkah. Tangan itu menarikku dengan kasar, sosok itu menyeretku pergi dari situ. Aku mencoba untuk melihat dengan jelas, siapa sosok itu. Dan, aku sangat terkejut saat mengetahui bahwa ia adalah jongin, ia memeganng tanganku erat dan membawaku pergi. Aku sempat mengelak, tetapi aku tidak mempunyai kekuatan untuk melepaskan tanganku dari genggamannya. Ia membawaku ke taman di belakang sekolah. Nafasnya terengah-engah, ia terlihat emosi dan, itu sangat terlihat dari caranya menyeretku. Setelah beberapa saat akhirnya ia melepaskan tanganku, yang sudah mulai memerah. Aku memegang tanganku yang memerah, dan aku hanya bisa mengusap tanganku lembut. “Kenapa kau menghindariku?” tanyanya kepadaku, dan membuatku terdiam memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaanya. “Aku..aku…” jawabku bingung. “Berhentilah bersikap seperti itu”, ia mengatakannya dengan suara yang tegas. “Aku tidak ingin kau membenciku”, ucapku memberanikan diri, dan ucapanku membuatnya terdiam. “Aku tidak ingin kau memandangku sebagai beban” kali ini aku menngatakannya dengan menatap wajahnya. “Beban?”, ucapnya, “jin sil, aku akan mengatakannya kepadamu”, ucapnya dan membuatku semakin takut untuk mendengarnya. “Tidak, aku tidak mau mendengarnya, aku tahu kau membenciku, aku tahu itu, aku akan pergi dari kehidupanmu!”, ucapku dengan mata yang berkaca-kaca. “Aku akan pergi dari hidupmu, mulai sekarang aku bukanlah orang yang kau kenal”, ucapku dengan menatap matanya, aku mencoba untuk menahan air mata ini, tapi aku tidak mampu. Tiba-tiba ia, mendaratkan ciuman di bibirku. Bibir hangat yang menyentuh bibirku, aku merasakan kecupan lembut itu dibibirku dan aku terkejut akan sikapnya, aku hanya bisa terdiam, mematung, aku tidak mengerti mengapa ia melakukan ini. Kami terdiam untuk waktu yang lama dengan posisi itu. Jantungku seakan berhenti berdetak, hal yang sama sekali tidak pernah kuduga, terjadi kepadaku sekarang. Lalu, setelah beberapa lama ia melepaskan bibirnya dari bibirku. “Kau berarti bagiku”, ucapnya dengan senyum di bibirnya. Aku hanya bisa terdiam, mendengar ucapan itu. Seluruh tubuhku seakan tidak bisa bergerak, aku tidak bisa berkata apapun. Kemudian, ia mengeluarkan sebotol yoghurt pisang dari sakunya, dan ia memberikannya kepadaku, “untuk pertama kalinya hatiku bergetar saat melihatmu, aku tidak tahu perasaan apa ini, aku mencoba untuk menghindar tetapi, semakin aku mencobanya semakin aku tidak bisa lepas dari perasaan itu, kau hadir dalam hidupku adalah sebuah keajaiban bagiku, senyumanmu memberi warna baru bagi kehidupanku, kau sangatlah berarti bagiku, kau membuatku merasakan cinta untuk pertama kalinya, kau membuatku merasakan hidup sebagai seorang pria. Jin sil ya, aku mencintaimu”. Aku hanya terdiam mendengar ucapannya, seakan tidak percaya bahwa ini adalah kenyataan yang sesungguhnya. Setiap ucapan yangan keluar dari mulutnya sama dengan kertas-kertas itu. Hal yang tidak pernah kusangka terjadi secara tiba-tiba dalam hidupku. “Kau, orang itu?”, tanyaku memastikan dugaanku. “Ya, aku adalah si pengantar yoghurt”, ucapnya tersenyum. “Maaf aku menjadi seorang pengecut, aku hanya tidak siap menerima penolakan darimu”, jelasnya kepadaku. Aku pun mendekapnya, memeluknya dengan erat. “Aku mencintaimu”, ucapku dengan air mata haru yang menetes di pipiku. Aku mengungkapkan perasaan yang selama ini kupendam, kata-kata yang keluar dari bibirku tidak kusangka akan terucap dengan situasi yang seperti ini. “Aku tidak ingin kau keluar dari hidupku, aku tidak akan memafkanmu jika kau pergi dengan sengaja dari kehhidupanku, aku mencintaimu lee jin sil”, ucapnya sambil mendekapku dengan erat, dan mengusap lembut rambutku. “Tidak akan, aku akan selalu ada di sisimu” ucapku meyakinkannya, dan ia membalasnya dengan mengecup lembut keningku.

Semenjak saat itu jongin, menjadi satu-satunya lelaki bagiku, begitu juga dengan aku. Aku adalah seorang perempuan yang ada di hati seorang kim jongin. Dan itu membuatku sangat bahagia. Dirinya merupakan keajaiban dalam hidupku.

Tentang joon oppa, aku sangat menyesal akan itu. Aku tahu apa yang ia rasakan, dan aku sangatlah menyesal akan itu. Aku mengerti apa yang ia rasakan. Dan aku mencoba untuk menjadi seorang adik yang baik baginya.

*****************************************************************************

Lee Jin Sil prolog:

“Dia ada disampingku, senyumannya menyinari hidupku, senyum yang tidak pernah berubah semenjak aku pertama kali melihatnya. Ia milikku, lelaki yang berhasil merebut hatiku.”

Kim Jongin prolog:

“Lee Jin Sil, sebuah nama yang sangat mengubah hidupku. Seseorang yang membuatku merasa sebagai seorang pria yang sesungguhnya. Saat pintu itu terbuka, ia masuk dan memperkenalkan dirinya, dan saat itu hatiku terbuka untuk pertama kalinya. kata-kata indahnya membua hatiku damai, senyumnya, bahkan sosoknya membuatku  merasakan cinta pertama ini. Aku akan menjaganya, aku mencintainya untuk pertama kalinya. cinta pertama yang membuatku tidak bisa tidur, tidak bisa berpikir normal, ia mengubah diriku, cinta pertama yang terus tumbuh, dan akan selalu bertumbuh.”

 

 

THE END 😀

 

 

 

21 pemikiran pada “Unpredictable Love (Chapter 4) – END

  1. Good!! Gak biasanya aku koment ff , tp ff ini udh menarik perhatian aku . Bikin degdegan sendiri, ngebayangin klo aku diposisi jinsil 😀 Authornya daebak !! Semangat buat ff nya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s