Double Disaster Date 2

loveloveau2a story by violetkecil & septaaa

Cast: Luhan & girl; Kai & girl┇ Length: Oneshot/Series
Genre: Romance, Fluff ┇ Rating: PG-
17
NO silent reader and Plagiarize please. DO NOT take ideas/plagiarize, dialogues and others from our story. Comments are very welcome.

Love Love Series: Love LoveSweet RecipeDouble Disaster Date

{double disaster date2}


Waktu menjelang siang, mereka memutuskan untuk mengunjungi Lotte World dengan mobil milik Luhan. Sesekali Minah melirik dua manusia—Jo dan Jongin itu—yang berada di bangku belakang tengah berbisik satu sama lain dan tersenyum jahil.

“Apa yang lucu?” Minah memutar kepalanya dan menatap Jo dengan tatapan—‘apaan kalian ini’, namun Jo hanya mengacuhkannya dan kembali berbisik pada Jongin.

“Demi Tuhan Jo—kau tahu aku, jangan mengacuhkanku!” Minah menarik rambut Jo dengan bibirnya yang mengerucut. Sedangkan Jo meringis kesakitan.

“Tidak Onnie-ku tersayang. Tidak ada yang lucu!”

“Lalu? Mengapa kalian tertawa seperti itu? Itu mengganggu!”

Jo menghempaskan tubuhnya di bangku mobil dan menyilangkan tangannya di dada, “Huff… iya-iya kami tidak tertawa lagi.”

“Nah, jauh lebih baik.” Minah kembali menghadap ke depan namun gerakannya terhenti saat Luhan terus menatapnya.

“Apa?! Perhatikan jalanmu, kau sedang menyetir!”

Aigooo baby… kau ini kenapa, hum? Tenanglah…” Luhan mencubit pipi Minah dengan sesekali pandangannya menatap ke arah jalan.

“Mungkin lagi PMS,” celetuk Jo yang berada di belakang.

“Diam kau bocah!”

“Haha… Kau lucu sekali,” kembali, Luhan mencubit pipi Minah lebih keras, dengan diikuti tawa dari arah belakang mereka—Jongin dan Jo.

Minah kembali menekuk wajahnya. Ia mengabaikan Luhan yang sesekali menggodanya. Mungkin benar kata Jo, ia jadi sangat sensitif.

Here we are!!!” teriak Jo girang. Ia selalu suka taman bermain dan Lotte World adalah salah satu tempat favoritnya. Ia bersyukur justru Onnie-nya yang hari ini justru mengusulkan untuk pergi ke tempat itu. Ia tahu bagaimana Onnie yang terlihat seumuran dengannya itu sangat tidak suka dengan wahana bermain yang melibatkan ketinggian. Dan Jo, sebagai dongsaeng yang jahil selalu menantang Onnie-nya.

Jo melirik Onnie-nya yang berjalan di belakang mereka dengan Luhan menggenggam tangannya.

Oppa!!! Onnie!!! Cepatlah!!!” teriak Jo dengan dua telapak tangan di sisi bibir—seolah-olah pengeras suara. Jongin terkekeh pelan di sampingnya.

Ia melihat wajah Onnie-nya merengut. Jo tertawa dengan evil-nya. Ia memikirkan ide yang sangat brilian—mungkin.

Minah membisikkan sesuatu ke telinga Luhan dan kekasihnya itu menjawab dengan elusan lembut di rambut. “I’m here baby.” Kali ini suara Luhan tidak terdengar yakin. Oh God, ia menyesal pergi ke tempat ini dan lebih menyesal mengapa ia harus mengusulkan tempat ini. Ia bisa merasakan hawa jahat mengalir dari pikiran Jo couple. Ia tahu itu.

Lotte World siang itu terlihat ramai seperti biasa. Beberapa anak kecil berlarian dengan permen kapas di tangan. Dan beberapa menggunakan bando yang lucu. Minah tersenyum kecil melihatnya. Ia selalu suka anak kecil.

You want to have a baby?” bisik Luhan di telinga Minah. Minah mencubit pinggang Luhan. Pipinya memerah. Dan oh Luhan, pria itu sempat saja mengecup sekilas pipi Minah—menghasilkan teriakan dari Jo, lagi.

“Oke cukup lovey dovey. Mari bersenang-senang,” ucap Jo sambil menarik tangan Jongin—yang dengan pasrah mengikuti kemauan kekasihnya itu.

Wait!” ucap Jo mendadak tiba-tiba. Seringai yang sangat dikenal Minah terpampang di sana. Minah memelototi Jo—memberi peringatan untuk tidak memberikan ide konyol.

“Mari bertaruh,” celetuk Jo. “Ferris wheel, what do you say Onnie?” Jo mengangkat alis dengan senyuman. Minah menyembunyikan wajah di dada Luhan dengan rengekan ‘honeeeey’.

“Yang keluar dari farris wheel dengan wajah pucat akan mendapatkan hukuman,” Jongin membuka suara. Smirk andalannya menghiasi wajah. Ingin rasanya Luhan menghapus smirk itu.

Hyung, kamu tidak takut ‘kan?” Jongin tahu Luhan takut ketinggian. Ia berteriak senang dalam hati. Akhirnya ia bisa membalas dendam.

Good. Okay let’s go,” sahut Luhan. Minah memandangi Luhan heran. Ia tahu mereka berdua sama-sama takut ketinggian.

Luhan mengerti padangan Minah. Ia mengecup puncak kepala Minah sambil meremas tangan gadis kesayangannya itu. Mereka mengekor di belakang  Jo couple yang berjalan riang. Pasrah dan sangat menyesal.

Minah yang berjalan beriringan dengan Luhan pun berbisik pelan pada kekasihnya itu, “Honey~ kau yakin?” untuk sejenak, Luhan menghentikan langkahnya dan menatap Minah.

Everything’s gonna be okay, ne?” dan Minah pun hanya dapat mengangguk dan kembali mengikuti Jo couple yang berjalan jauh di depan mereka.

Luhan dapat merasakan genggaman Minah di lengannya yang semakin kencang saat mereka tepat berada di depan pintu masuk ke farris wheel. Luhan paham, tentu—ia sendiri pun sudah bergidik ngeri saat menatap mesin bak kincir angin raksasa itu berputar-putar. Luhan dan Minah dapat merasakan dunianya berputar kala itu juga.

Well,” tiba-tiba Jo dan Jongin berada di depan mereka dengan empat karcis dalam genggamannya. Diam, dengan seringai mulus di bibirnya, Jo menarik Minah lepas dari Luhan. “Ayo Onnie~”

Jongin dan Jo harus bersusah-payah menarik Luhan serta Minah yang sedari tadi hanya menatap farris wheel itu. “Ayo Hyung! Saatnya tunjukan kejantananmu.” Seringai apik muncul di sudut bibir Jongin saat Luhan beralih menatapnya dengan mendesah berat dan bergumam, ‘baiklah.’

Minah ingin sekali menarik diri saat Jo mendudukannya di dalam kurungan mesin besar ini. ya Tuhan—rasanya ia sudah mual walau baru memasukinya. Jo dan Jongin hanya cekikikan menatap duo older itu. Sungguh mereka sangat tidak pantas di sebut lebih tua dari Jo couple.

Alih-alih, Luhan pun tengah mencoba perpegangan pada dinding di sampingnya. Dan bibirnya yang mungil tanpa sadar tergigit kuat, dan oh—sama halnya dengan Minah. Dua sejoli itu begidik dan melonjak saat kurungan mulai mengayun sedikit demi sedikit untuk mengangkut penumpang di bawah mereka.

Minah tidak ingin mengingat bagaimana ia bisa bertahan di dalam box berwarna merah itu. Terombang-ambing dan gadis itu bersumpah ia tidak akan membuatkan Jo makanan selama sebulan. Tulang kakinya seakan lenyap dan ia tidak tahu harus bagaimana menopang tubuh ketika berjalan keluar wahana. Luhan melingkarkan lengan di pinggangnya dan Minah bisa melihat bibir pucat pria itu. Dari jarak beberapa meter ia bisa melihat Jo dengan tawa di wajah sedang bergelayut manja di lengan Jongin. Dengan wajah ceria, berbanding terbalik dengan wajah pucat Minah dan Luhan.

You’re lost Hyung,” celetuk Jongin. Luhan ingin rasanya menjitak dongsaeng-nya itu. Ia bahkan belum bisa menangkan diri ketika Jongin memberitahu hukuman dari kalah taruhan.

Hot kiss.”

There!”

Minah melihat ke arah tangan Jo terulur. Mata bulat gadis itu membesar. ‘There’ yang dimaksud adalah area dekat ‘merry-go-round’ yang artinya banyak anak-anak.

Mwo?” teriak Luhan dan Minah bersamaan.

Jo couple mengangguk mantap, “Hot kiss there.”

For a minute,” tambah Jo. Ia kemudian menarik tangan Minah yang masih berdiri kaku. Jongin menarik tangan Luhan. Beberapa orang di sekitar mereka mulai menatap heran.

“Ayolah Hyung, ini bukan seperti kalian tidak pernah berciuman. Bukankan kalian sudah melakukan yang lebih dari itu?”

Minah melempar tas kecilnya ke arah Jongin sambil melotot. Jongin hanya tertawa—berhasil menangkap tas itu sebelum mengenai wajahnya.

Luhan meletakkan kedua tangan di pundak Minah. Ia mendekatkan wajah—berbisik pelan di telinga Minah, “You okay?”

“Honeeeeey,” Minah merengek sambil meremas pelan depan kaos Luhan. “Ini memalukan.”

It’s just me. Me and you, noone else.” Luhan menatap mata bulat yang menatapnya balik dengan padangan memohon. Luhan tahu Minah tipe yang pemalu dan itu semakin membuatnya gemas. Pelan, Luhan memajukan wajahnya. Nafas beraroma mint menyapu pipi Minah. Luhan mengecup pelan pipi yang mulai bersemu merah itu. Pria itu kemudian menyentuhkan ujung hidung mereka. Minah memejamkan matanya rapat. Luhan terkekeh pelan dan membuatnya mendapatkan cubitan dari gadisnya.

Jo couple menyiapkan kamera masing-masing. Jongin siap merekam dan Jo dengan kamera polaroid-nya. Dan mereka berdua mulai tidak sabar.

Luhan menyentuh bibir Minah, chaste kiss. Tapi kemudian ia memiringkan wajahnya dan mulai melumat pelan bibir bawah Minah. Sejenak kemudian hanya ada mereka berdua. Dunia di sekitar mereka tidak lagi eksis. Lengan Minah beralih—melingkar di leher Luhan, sedangkan tangan kanan pria itu menangkup wajah Minah dan lengan kiri melingkar di pinggang. Mereka tidak memperdulikan tatapan orang-orang di sekeliling mereka, atau pandangan menilai, atau bahkan para ibu yang menutup mata anak-anaknya dengan telapak tangan sambil bergumam ‘omooo oh my’.

“Woow,” celetuk Jo couple kompak.

Jo yang tengah memegang kamera polaroidnya hanya melongo hebat menatap Minah dan Luhan yang dapat di bilang tengah ‘bercumbu’ di depan umum. Tak menghiraukan Jongin yang berada di sampingnya tengah menyeringai dan mematikan rekamannya sejenak.

Di dekatinya gadis itu pelan-pelan, “Jo~” Jongin melingkarkan tangannya di pinggang Jo dan menariknya, membuat Jo bergidik.

Sukses, Jongin ikut melancarkan aksinya—mencium bibir Jo. Sedangkan gadis itu hanya mengedipkan  matanya beberapa-kali. Saat jemari Jongin naik menuju rambut Jo baru gadis itu ikut memejamkan matanya dan menikmati lumatan lembut di bibir Jongin.

Namun, sepertinya keberuntungan tak berpihak kepada mereka. Baru saja Jo menikmati sentuhan Jongin, ia sudah merasakan pukulan di kepalannya dan menyebabkan ia mengaduh dan melepaskan tautannya pada Jongin.

“Apa-apaan kalian ini?! Menyuruh kami melakukan hal yang bukan-bukan di depan umum. Dan, kalian malah melakukannya sendiri. Omoo~ ingat umurmu Jo!!!” Minah menarik kuping Jo keras-keras dan berdecak kesal.

“Aduh-duh Onnieyaaaa sakit!!” Jo mencoba melepaskan tangan Minah dari telinganya dan menata rambutnya yang berantakan.

“Sekali lagi Onnie melihatmu seperti ini, Onnie tidak segan-segan memberitahu orang tuamu. Dan oh—sebagai balasan…” Minah menggantungkan ucapannya dan menatap Luhan dengan alis yang terangkat naik-turun, seolah memberikan kode pada kekasihnya itu. Dan Luhan tersenyum serta mengangguk.

“Kita bertanding berpose cute di depan sana bagaimana?” Minah menyilangkan tangannya di dada dengan gaya menantang.

“APA?!!!” Tersentak, Jo couple mendelikkan matanya dengan tatapan tak percaya, secara bersamaan.

“Oh ayolah Onnie… Kau tahu kan aku tidak bisa ber-aegyo, Onnie please~” Jo merengek memohon pada Minah yang masih menatap mereka dengan pandangan meremehkan.

“Nah. Itu dia kelemahan kalian!” celetuk Luhan dengan di ikuti tawa Minah. “Kami tidak akan memaksa kalian kok. Let’s go there.”

Jo melengos lega—setengah pasrah ia dan Jongin mengekor di belakang Luhan dan Minah. Mereka menuju toko yang menjual souvenir-souvenir imut. Tipikal Luhan dan Minah. Tapi sangat bukan Jo couple.

Toko souvenir yang masih berada di kawasan Lottle World itu terlihat lebih ramai dari biasanya. Minah berjinjit—melongok ke arah remaja-remaja yang tampak berkumpul di salah satu sudut toko. Ia melihat papan bertuliskan ‘act cute here and get special prize’ tergantung di samping area kecil yang sepertinya khusus disediakan untuk event itu. Ia menoleh ke belakang dan Jo couple terlihat sedang melihat-lihat kaos. Minah dan Luhan berbagi padangan—got it, pikir mereka bersamaan.

Onnieeyaaaaa, aku tidak mau,” rengek Jo. Minah menariknya paksa berdiri di barisan antrian untuk berfoto dengan gaya imut.

“Kalian berhasil jadi terbaik yang ketiga saja, maka kalian bebas dari hukuman,” celetuk Luhan.

Jongin tidak bisa berkata apa-apa. Jo memukul lengan Jongin kesal, “Waeee?” protes dancer itu.

“Kau tahu aku tidak bisa bergaya imut dan kamu juga Jongin,” sahut Jo kesal.

“Lalu?”

Oh God KIM JONGIN!!! Apa yang ada di pikiranmu?” Jo mulai kesal. Sangat kesal, terlebih melihat bagaimana Luhan dan Minah sekarang sedang tertawa.

“Kita pasti kalah dan kau tahu dua orang itu,” tunjuknya pada Luhan dan Minah yang memasang wajah polos. “Kau tidak tahu apa yang ada di pikiran mereka. Oh God, memikirkan berpose dengan wajah imut saja membuatku mual.”

“Tenanglah, jika hukumannya sama seperti hukuman yang kita berikan, aku menerimanya kok.”

Pervert!” Jo menjitak kepala Jongin. Cukup keras hingga pria itu meringis.

Luhan dan Minah sama-sama mengepalkan tangan—memberi semangat.

Jongin hanya menyeringai menanggapi segala rengekan Jo. Sejujurnya, ia juga was-was. Well, selama ini saja image seorang Kim Jongin adalah sexy dancer dan tampan. Lalu apa yang harus ia lakukan sekarang ini? Ber-aegyo saja dia tidak bisa. “Oh God help us…” doa Jo dalam hati.

Minah dan Luhan mendorong Jo couple yang sedari tadi hanya mematung menatap kerumunan para remaja itu. Tangan Jo ikut memegang tangan Minah yang ada di pundaknya, meremasnya pelan. “Onnie~” bisiknya—atau lebih terdengar rengekan.

“Kamu pasti bisa. Ayo! Tunjukan kalau dongsaeng-ku ini sangat manis,” balas Minah dengan mencubit pipi Jo yang memerah karena malu.

Onnie stop! Ini berlebihan.” Jo menghentikan tangan Minah yang sedang memoles pipinya dengan blush on.

Haha well, kau terlihat lebih cute.” Minah menahan tawanya yang di balas lemparan tas dari Jo. Sedangkan Luhan dan Jongin dari tadi—mereka hanya berdebat tentang…

Hyung—aku benar-benar membencimu hari ini,” ucap Jongin lagi. Entah sudah yang keberapa kali ia mengumpat seperti itu.

“Nomor  22 dengan pasangan Jo dan Jongin?” Suara teriakan menyadarkan mereka yang tengah bertengkar.

Keringat mulai muncul pada pori-pori kepala Jongin. Sungguh, ia memang biasa di tatap sebanyak remaja seperti ini. Tapi—ini beda, kali ini ia tidak di tonton karenatengah menari. Dan sialnya, kenyataan membawanya di tengah remaja-remaja ini untuk berpose cute? Oh damn.

Minah menarik tangan Luhan untuk menerobos para remaja itu menuju ke depan Jo couple. Ditatapnya dua orang yang hanya tersenyum kikuk dan menggaruk tengkuk mereka masing-masing.

“Ayo semangat!!!” Minah men-support Jo couple dengan senyum mengembang di bibirnya. Sedangkan Luhan terus tertawa dengan evil-nya.

“Oke, mari kita mulai…” Jo berbisik pada Jongin. Dan mereka mulai mengalihkan pandangan mereka pada sang fotografer yang siap menfoto mereka berdua.

Hana, dul, set—” blitz—suara kamera mulai terdengar seiring Jo couple yang tengah berpose asal. Lihat saja, Jo hanya mengembungkan pipinya dengan Jongin yang mengarahkan dua telunjuk jarinya di pipi.

Pose pemotretan selesai, Jo couple bernapas lega.

Buingbuing please!!! Buingbuing!!!”

WHAT?!!” Jo dan Jongin tersentak karena teriakan para remaja itu—yang Jo yakini telah di pengaruhi oleh Onnie-nya yang sekarang berkacak pinggang dengan memeletkan lidahnya.

NOOOOO!!!!!!” Jo couple berteriak secara bersamaan, menolak keras. Tak dihiraukannya Luhan dan Minah yang kini mendelik dan beraura mengancam.

Jo menghentakan kaki kesal keluar dari toko yang entah kenapa serasa seperti neraka. Minah meletakkan tangan di bahu Jo sambil mencubit pipi dongsaeng-nya itu.

Cheers~ you did well. Sekarang mari kita makan. Satu jam lagi mereka akan mengumumkan pemenangnya,” Minah mengajak mereka ke salah satu restoran yang tidak jauh dari toko souvenir tadi.

Mereka memilih cheese burger yang praktis untuk mengisi perut. Dan kemudian waktu satu jam yang tidak Jo harapkan justru datang begitu cepat. Minah menarik tangan Jo dengan antusias menuju toko tadi. Luhan hanya menepuk-nepuk pundak Jongin.

“Aku membencimu Hyung.”

Aigoooo,” suara Minah terdengar dengan nada kecewa. Wajah Jo semakin tertekuk. Ingin rasanya ia membenturkan kepala di dinding.

Well, well, well, sekarang saatnya hukuman,” ucap Luhan.

“Hmm,” Minah mengetuk ujung jari di dagu. Matanya menangkap ice cream parlor yang teletak tidak jauh di depan mereka. “There.”

Jo couple mengikuti arah telunjuk Minah. “Ice cream parlor?”

“Belikan aku ice cream. Vanilla and mint chocolate ice cream,” Minah memberi uang ke Jo.

That’s easy,” Jongin menarik tangan Jo—berjalan menuju ice cream parlor. Mereka tidak mencek jumlah uang yang diberikan Minah hingga mereka berada di depan tempat itu dan Minah berteriak jahil.

“Mintalah diskon dengan ber-aegyo!!!”

Oh God, Jo sangat ingin mencubit Onnie-nya itu. Aegyo lagi? No. Big no no.

Jo menghentakkan kakinya kesal, sedari tadi ia merasakan hawa-hawa setan di sekelilingnya. Sedangkan Jongin terus saja bergumam tak jalas.

“Ini adalah hari tersialku,” bisik Jongin pada dirinya sendiri, namun—sepertinya Jo mendengarnya dan ia langsung mendelik pada Jongin.

“Jadi kau menyesal datang kerumahku hari ini?!!” Jo menyilangkan tangannya di dada.

Jongin reflek menutp mulutnya dan menarik tangan Jo yang di silangkan di dadanya. “Oh tentu saja tidak sayang~ ayo kita lakukan ini dan lekas selesai.” Alih Jongin.

Dengan helaan nafas berat Jo couple melangkan menuju penjual es krim. “Pak, kami pesan  es krim. Vanilla and mint chocolate ice cream.”

“Oh baiklah tunggu sebentar.”

“Tapi—” tukang es krim itu menghentikan gerakannya saat ingin memberikan es krim itu kepada Jo couple. Alisnya terangkat dan bergumam, “Ya? Ada apa?”

“Uang kami tidak cukup.”

“Oh kalau begitu es krimnya saya tarik kembali.”

“Jangan!!”

Buingbuingg… bbuing… bbuing…

Ish! Apa-apaan kalian ini? Sudah hentikan aegyo itu tidak dapat meluluhkanku!” Namun, Jo couple masih saja keras kepala dan melanjutkan buingbuing-nya hingga penjual itu kesal.

“Sudah sudah!! Ini ambil saja dan pergi!”

Haha yey!!” teriak Jo senang dan berlari menuju Minah dan Luhan yang tertawa cekikan—menatap penjual es krim yang bertampang kesal atas kelakuan Jo couple.

Jongin mengendurkan otot punggungnya yang terasa kaku—tekanan akibat harus ber-aegyo. Jo berjalan sambil mengobrol dengan Minah sambil sesekali menunjuk pada ornamen yang lucu. Luhan berjalan di samping Jongin dengan tangan di saku celana.

Oh crap!” pekik Luhan tiba-tiba. Minah dan Jo sontak menoleh ke belakang bersamaan.

“Ada apa Honey?”

“Sepertinya kita harus pulang. Ada deadline flyer promotion yang harus aku selesaikan malam ini, dan juga project blog.”

“Yaaaaaaah.” Seru Jo couple bersamaan-dengan nada kecewa.

Sorry, nanti aku traktir kalian sebagai ganti harinya.”

“Kapan?” tanya Jo. Ia paling suka dengan kata ‘traktiran’ dan ia tahu calon kakak iparnya itu tidak pernah pelit dalam hal mentraktir makanan.

Eung, maybe next time,” Luhan memasang cengiran. “Lets go,” Ia menarik tangan Minah dan mereka berjalan menuju mobil.

“Honey?”

“Hmm?”

Project blog itu yang kau bicarakan waktu itu?”

“Iya,” sahut Luhan sambil mencubit ujung hidung Minah. Hal favoritnya yang biasa ia lakukan.

“Serius?”

Luhan mengangguk.

“Aww, aku penasaran. Apakah kau akan melibatkan mereka?” Minah melirik Jo couple dengan ekor mata.

“Hmm, belum yakin. Aku akan memberitamu nanti.”

“Kapan?”

Maybe next time,” celetuk Luhan jahil.

our note: violetkecil and septaaa back~ sorry lama baru bisa posting lanjutannya. kami berterima kasih banget buat respon positif dan komentar kalian semua. Maaf gak bisa balas komennya satu-satu, tapi percaya deh, kami baca semua komen kalian kok. So, what’s for next? Mission: Jika komentar mencapai 100+ kami akan memposting ‘ff spesial‘ masih Love Love AU ini. So, kami tunggu~

Iklan

126 pemikiran pada “Double Disaster Date 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s