The Conqueror (Chapter 7)

Annabel’s Present:

The Conqueror [Sec.7; TOM N TOMS!]

Cast: Kim Jong In [EXO], Song Airi, EXO, et al.

Genre: Schoollife, Romance and Family.

Rating: General || Length: Series

 conqueror

 

Disclaimer : Aku bertemu dengan sesosok malaikat. Sepasang mata cokelat bening yang berhasil membuatku benar-benar menyukainya. Lelaki itu adalah Kai. Semenjak bersekolah di Hannyoung, hari-hariku selalu memiliki kisah dengannya. Kai membuatku nyaman dan aksi penyelamatan Kai yang membuat rasa kagumku bertambah. Dia cinta pertamaku.

Apakah perasaanku padanya sungguh nyata? Apakah Kai benar-benar menyukaiku? Apa yang akan Kris lakukan mengetahui ketertarikanku pada Kai?

Dilema itu semakin memuncak saat sesuatu yang besar dan mengerikan terjadi. Ketika aku meragukan cinta seorang Kapten Sekolah.

District Gyonggo, 19.45 KST

Song Airi

 

Kris berusaha keras menutupi kekhawatirannya ketika aku mengutarakan rencanaku bertemu dengan Kai di akhir pekan.

“Apakah itu ide yang bagus?” tanya Kris.

“Mengapa tidak?” tantangku. Aku bertekad untuk mengambil keputusan sendiri. Kris sudah berjanji akan kebebasanku.

“Airi, pikirkanlah konsekuensi tindakan itu.” Dahinya berkerut dan wajahnya tampak sedikit khawatir.

“Tidak ada yang perlu dipikirkan. Kau selalu berlebihan.” Aku merasa kurang yakin dengan argumenku yang asal-asalan itu. Tetapi aku tidak ingin punya alasan untuk berhati-hati. “Apa masalahnya?”

“Dia masih terlalu asing untukmu,” kata Kris. “Jangan katakan karena lelaki itu pernah menolongmu, lalu sudah yakin merasa diterima?” Suaranya tajam dan tatapannya dingin. Aku tahu, ucapanku itu hanya membuatnya meragukan kemampuanku dalam menjaga diri dan kupikir Kris akan menarik kata ‘kebebasan’ yang ia berikan untuku. Aku begitu mudah larut dalam hasrat dan khayalanku tentang Kai. Sebuah suara dalam kepalaku menyuruhku mundur ke belakang dan merenung. Aku seharusnya menerima bahwa ikatan dengan Kai berbahaya dan egois, mengingat kondisi yang pernah kuhadapi. Tetapi ada suara yang lebih keras lagi. Suara itu menenggelamkan pikiran yang lain dan mendesakku untuk bertemu lagi dengan Kai.

“Mungkin sebaiknya kita tidak menonjolkan diri dulu,” saran Kris dengan nada yang tidak sekeras tadi. “Bagaimana kalau kita membantu gagasan untuk meningkatkan kewaspadaan sosial di kota ini. Karena cepat atau lambat mereka akan mengetahui keberadaanmu disini.”

Cara bicaranya seperti guru yang membangkitkan antusiasme muridnya dalam mengerjakan proyek sekolah.

“Itu gagasanmu, bukan gagasanku.”

“Tidak ada bedanya,” desak Kris.

“Aku ingin mencari jalanku sendiri.”

“Bagaimana kalau diskusi ini kita lanjutkan setelah pikiranmu jernih?” kata Kris.

“Aku tidak ingin terus-menerus diperlakukan seperti anak kecil.” Bentakku, lalu membalikkan badan dengan sikap keras kepala, dan berdecak kepada Hunter agar mengikutiku.

Kami duduk di anak tangga teratas. Aku berusaha meredakan kemarahan dan Hunter menggosok-gosokkan hidungnya di pangkuanku. Merasa aku sudah terlalu jauh untuk bisa mendengar, Kris melanjutkan pembicaraan dengan Natt di telepon.

“Sulit dipercaya, ia membahayakan segalanya hanya karena dorongan hasrat,” kata Kris. Terdengar bunyi langkahnya mondar-mandir di dapur.

“Airi tidak akan melakukannya dengan sengaja.” Samar-samar aku medengar suara Natt. Ia berusaha mendinginkan suasana. Natt memang tidak suka jika ada perselisihan di antara kami.

“Lalu, mengapa ia bersikap seperti itu? Apakah ia tidak menyadari alasan kepindahan kita di sini? Aku tahu, kita harus memaklumi dirinya karena belum berpengalaman. Tetapi ia memberontak dan bersikap keras kepala dengan sengaja. Ini bukan Airi yang kukenal. Baru beberapa hari di sini, Airi sudah tidak sanggup bertahan dari pesona seorang pemuda tampan!”

“Sabarlah, Kris. Mungkin keadaan ini akan membaik…”

“Ia menguji kesabaranku!” kata Kris, tapi cepat-cepat menenangkan diri. “Apa saranmu?”

“Kita rintangi saja, dan persoalan ini akan lenyap dengan sendirinya. Ia akan mengerti apa sebenarnya yang sedang kita perjuangkan.”

Tidak terdengar suara Kris. Sepertinya ia sedang mempertimbangkan usul Natt.

“Pada waktunya, ia akan sadar bahwa yang dikejarnya itu adalah sesuatu yang mustahil.”

“Kuharap kau benar,” kata Kris. “Apakah sekarang kau paham, mengapa aku khawatir dengan kalian berdua setelah ayah dan ibu menelantarkan kita?”

“Airi tidak membangkang dengan sengaja,” sahut Natt.

“Tidak. Tetapi kedalaman perasaannya bukan ide yang bagus bagi orang seperti kita,” ujar Kris. “Seharusnya kita tidak berteman dengan siapa pun di sini. Apalagi yang bersifat pribadi. Siapa yang mencintai  seseorang hanya untuk meninggalkannya? Aku, kau dan juga Airi.”

“Aku juga berpendapat begitu,” kata kakakku. “Jika cintanya lebih kuat dibandingkan keselamatan dirinya, itu jauh lebih berbahaya.”

“Persis,” kata Kris. “Dan, seharusnya kita paham, bahwa kita tidak bisa menetap di suatu lingkungan lebih dari dua tahun.”

 

Aku tidak sanggup mendenger lebih lama lagi dan memutuskan masuk ke kamar. Kulemparkan diriku ke ranjang sambil bersimbah air mata. aku tidak menyangka kedua kakakku akan bereaksi seperti ini. Gejolak emosi membuatku tersengal seperti kehabisan udara. Aku tahu titik persoalannya. Aku sudah membiarkan diriku membaur dengan teman-temanku di sekolah. Aku seolah berada di roller coaster yang goyah. Bisa kurasakan pembuluh darahku berdenyut-denyut. Berbagai pikiran berputar dalam kepalaku. Perutku seolah dipelintir oleh rasa frustasi. Aku benar-benar jengkel dijadikan bahan diskusi. Seolah-olah aku ini bahan eksperimen di laboratorium.

Aku juga resah karena mereka sepertinya menuduhku melakukan kesalahan. Belum lagi ketidakpercayaan mereka kepadaku. Mengapa mereka begitu bersikeras mengurungku dari interaksi manusiawi yang sangat kudambakan? Apa maksud Natt mengatakan ‘mustahil’? mereka bersikap seolah-olah Kai adalah seorang pelamar yang tidak memenuhi kriteria. Memangnya siapa mereka sehingga menempatkan diri di kursi hakim dalam perkara yang tidak menyangkut mereka?

Aku menyukai Kai. Perasaanku kepadanya tumbuh luar biasa cepat, dan aku tidak ingin mencegahnya. Seharusnya ini membuatku takut. Tetapi aku malah terdorong oleh kekosongan yang menyakitkan di dadaku apabila aku membayangkan untuk melepasnya. Setiap otot tubuhku menegang apabila aku teringat kata-kata Kris. Apa yang terjadi padaku?

Malam itu aku mengalami mimpi buruk yang kesekian kalinya. Aku sudah terbiasa dengan kebiasaan mimpi buruk. Tetapi yang satu ini berbeda. Yang kuketahui adalah aku terjatuh. Di sekelilingku, semua yang kukenal hancur menjadi debu. Mula-mula sebuah tiang besar, lalu sosok-sosok berbaju hitam, dan terakhir wajah Kris dan Natt. Aku masih terjatuh. Berguling-guling dalam perjalanan tak terputus, entah sampai kapan. Kemudian semuanya diam tak bergerak. Aku dipenjara dalam kehampaan. Aku tersungkur, kepalaku menunduk, kedua kakiku tergores dan berdarah. Tak sanggup aku berdiri. Cahaya mulai redup hingga akhirnya kegelapan mengelilingiku. Begitu pekatnya hingga aku tidak bisa melihat tanganku sendiri yang kuangat ke wajah. Aku sendirian dalam dunia antah berantah ini.

Suatu sosok kelam mendekat. Pada mulanya hatiku melambung karena harapan bahwa itu adalah Kai yang datang untuk menyelamatkanku. Tetapi harapan itu hancur ketika secara naluriah aku sadar bahwa sosok itu menakutkan. Meskipun kakiku sakit, aku merangkak sejauh mungkin. Aku berusaha mengangkat kakiku, tetapi sia-sia karena sobekannya terlalu parah. Tidak ada yang tersisa, tidak ada siapapun selain terisap oleh bayangan itu. Inilah bencana yang sesungguhnya.

 

.

.

 

Pagi harinya, segala sesuatu sepertinya berbeda. Suatu perasaan mantap mengalir dalam diriku. Kris masuk untuk membangunkanku. Aroma freesia mengikutinya seperti dayang-dayang.

“Kupikir barangkali kau ingin minum kopi,” katanya.

“Aku masih belajar untuk menyukainya,” kataku, lalu menyesap minuman dari cangkir yang disodorkan. Kali ini tanpa mengernyitkan wajah. Kris duduk di ujung tempat tidurku.

“Aku belum pernah mendengarmu semarah itu,” kataku, ingin segera meluruskan persoalan dengannya.

“Pernahkah kau berpikir bahwa aku berada di bawah tekanan? Jika ada yang tidak beres, aku dan Natt harus bertanggung jawab.”

Kata-kata itu memukulku dengan telak. Aku merasa air mataku mengenang.

“Aku tidak ingin kalian memiliki pandangan buruk kepadaku.”

“Tidak,” kata Kris menenangkanku. “Hanya saja aku ingin melindungimu. Aku ingin membebaskanmu dari apa pun yang bisa membuatmu menderita.”

“Aku tidak paham, mengapa menghabiskan waktu bersama Kai dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Apakah kalian pikir ia akan menyakitiku?

“Tidak secara sengaja.”

Kris tidak sekeras semalam. Dan, ketika ia meraih tanganku, aku tahu ia telah memaafkan pelanggaran yang kulakukan. Tetapi postur tubuhnya yang kaku dan garis mulutnya yang tegas memberi isyarat bahwa pandangannya terhadap persoalan ini tidak akan berubah.

“Kau harus berhati-hati. Jangan memulai sesuatu yang tidak bisa kau lanjutkan. Bukankah itu tidak adil?” kata Kris.

Air mata yang sedari tadi kutahan pun tumpah. Aku duduk dengan sedih sementara Kris merangkulku dan mengusap-usap kepalaku.

“Aku bodoh, ya?”

Aku membiarkan akal sehatku memimpin. Aku belum terlalu mengenal Kim Jong In. Sikapku ini seolah-olah kami telah saling bersumpah, dan tiba-tiba semuanya menjadi sedikit tidak masuk akal. Aku merasa ada jalinan yang kuat dan tak bisa dihancurkan antara Kai dan aku. Tetapi mungkin aku salah. Tidakkah itu hanya khayalanku belaka?

Kesanggupan untuk melupakan Kai ada di tanganku. Masalahnya, apakah aku ingin melupakannya? Tidak diragukan lagi, ucapan Kris benar. Kami bukan bagian dari siapapun di sini. Aku tidak punya hak untuk mengusik kehidupan Kai.

Setelah Kris keluar, aku mengeluarkan kertas berisi nomor telepon Kai yang tersimpan semalaman di saku piyamaku. Kubuka kertas itu dan kurobek-robek menjadi potongan kecil. Aku berjalan ke balkon dan melemparkan potongan kertas itu ke udara. Dengan perasaan sedih, aku mengawasi potongan-potongan itu terbawa embusan angin.

.

.

 

-Hannyoung HS, 12.05 KST

 

Mengabaikan ajakan untuk bertemu dengan Kai ternyata lebih mudah dari yang kukira. Pasalnya tiga hari ini ia tidak bersekolah. Setelah menyelidiki secara diam-diam, aku mendapat informasi bahwa ia tengah mengikuti pelatihan baseball di Gwangju. Aku merasa lega karena tidak akan bertemu dengannya. Rasanya aku tidak akan punya keberanian untuk membatalkan kencan jika ia berdiri di depanku dengan rambut hitamnya menggantung di atas mata cokelat yang jernih.

Saat makan siang, aku duduk bersama Nara, Jihyun dan Haemi di halaman belakang, mendengarkan keluhan-keluhan mereka dengan sepenuh hati.

“Ya, Tuhan, banyak sekali yang harus disiapkan,” kata Haemi sambil meregangkan badan di aspal seperti kucing. Nara duduk di bangku taman, sedangkan aku dan Jihyun duduk bersila di samping Haemi, menarik rokku sehingga menutupi lutut.

“Betul sekali,” kata Ryu Jihyun sependapat. Ia memiringkan kepala di pangkuan Nara dan mengangkat kaleng soda untuk meminumnya. “Semalam aku membuat daftar.” Ia berbaring, lalu mengeluarkan agenda sekolah yang berkilau dengan label desainer yang ia tempelkan sebagai hiasan. Kemudian Jihyun memperlihatkan kertas panjang yang tadi dilipat-lipat. “Coba lihat.”

Aku menatap kertas dengan daftar persiapan yang panjang sebelum akhirnya memandang Jihyun dengan prihatin. “Kau sudah bekerja keras.” Kataku, mencoba menenangkan.

“Kau lupa satu hal yang paling penting—cari sponsor.” Haemi mengingatkan.

Yang lainnya tertawa karena kelalaian itu. Aku sendiri bingung bagaimana mereka bisa mempersiapkan suatu acara dengan begitu detail.

“Kenapa dia memberikan tugas itu pada kita?” Jihyun mendengus. “Semua beres dan kita tidak harus bersusah-payah merayu para sponsor jika saja anak kepala sekolah itu mau mencairkan dana dengan uangnya sendiri.”

Haemi tertawa sambil mencatatkan sesuatu ke dalam agenda Jihyun. “Itu sama sekali bukan sifat Kai. Justru aneh kalau tiba-tiba Kai menggunakan uang ayahnya untuk acara seperti ini.”

“Dia itu menyebalkan,” rengek Jihyun. “Punya banyak uang tapi tidak mau menyumbangkannya untuk kegiatan sekolah.”

Aku menoleh ke kanan dan ke kiri di antara mereka berdua. Seolah-olah aku sedang menyaksikan pertandingan tenis. Nara tidak kelihatan menyimak pembicaraan mereka. Sedari tadi gadis itu hanya mengarahkan tatapan ke atap gedung dengan wajah pucat. Aku memerhatikannya diam-diam.

“Ayolah, Jihyun. Kita semua mengenal Kai.” Protes Haemi.

Ragu-ragu aku mencoba mengikuti arah pandang Nara. Seharusnya aku sadar, ia tidak mencoba memandang atap yang kosong. Tetapi keberadaan Sehun-lah yang menyita perhatiannya. Nara semakin memantapkan pandangannya ketika Sehun berbicara dengan seseorang di ponsel miliknya, mengibaskan tangannya berulang kali, tampak semarah mungkin.

Aku menundukkan kepala, kemudian beralih menyentuh tangan Nara. Aku baru mendengar masalah yang terjadi antara Nara dan Sehun kemarin dan aku berusaha untuk mengerti situasi mereka. Nara menoleh ke arah tanganku, sepertinya ia terkejut. Namun perlahan senyum gadis itu mengembang. Walaupun samar, setidaknya aku sudah memberitahu bahwa ia tidak sendirian menghadapinya.

 

.

.

 

Hari-hari berikutnya berjalan dengan cepat. Tanpa kusadari, sekarang sudah hari Jumat, akhir pekan. Kabarnya para peserta pelatihan sudah kembali setelah makan siang. Tetapi aku tidak melihat satu pun di antara mereka sehingga aku berpikir mereka langsung pulang. Sebenarnya aku penasaran juga, apakah Kai menyimpulkan bahwa aku tidak berminat karena ia tidak mendapat kabar dariku? Perasaanku tidak enak karena mungkin saja ia menunggu telepon yang tak kunjung datang. Sekarang aku bahkan tidak punya kesempatan untuk bertemu dengannya dan memberikan penjelasan.

Saat mengemas tas sekolah, aku melihat ada secarik kertas diselipkan ke sekat laci lokerku. Kertas itu terjatuh ketika aku membuka pintu loker. Aku memungutnya, ternyata ada pesan di sana dengan bentuk tulisan yang kekanak-kanakan.

 

Kalau kau berubah pikiran aku di Cinecube

Sabtu jam 8

 

Aku membaca tulisan itu berulang kali. Sekalipun melalui secarik kertas, Kai berhasil membuatku bergetar seperti ketika aku berhadapan dengannya. Kugenggam kertas itu dengan hati-hati, seolah benda pusaka. Jadi, beginilah rasanya jatuh cinta, kataku dalam hati. Aku ingin melompat-lompat kegirangan tapi kutahan. Meski begitu, mulutku masih tersenyum ketika aku bertemu dengan Kris.

“Sepertinya kau sedang senang,” kata Kris begitu melihatku.

“Aku mendapat nilai bagus dari ujian matematika,” kataku berbohong.

“Memangnya kau mengira akan mendapat nilai buruk?”

“Tidak juga. Tapi tetap saja menyenangkan ketika melihatnya.”

Aku sendiri heran, bagaimana aku bisa berbohong dengan mudah. Mungkin aku sudah semakin ahli, tapi itu bukan pertanda baik.

Kris merasa senang dengan suasana hatiku yang membaik. Aku tahu, ia merasa bersalah. Menyaksikan orang bersedih saja ia tidak suka, apalagi menjadi penyebabnya. Padahal aku tidak benar-benar menyalahkannya karena sikapnya yang tegas. Bukan salahnya jika ia tidak bisa menerima kejadian yang kualami. Fokusnya adalah mengawasi kegiatanku, dan itu sangat berat. Natt dan aku bergantung padanya. Wajar saja jika Kris berusaha mencegah hal-hal yang bisa menganggu keberadaan kami. Dan itulah yang ia khawatirkan terjadi jika aku berhubungan dengan Kai.

Kegembiraan karena menerima pesan dari Kai berlangsung hingga malam hari. Sabtu pagi berjalan seperti biasanya. Aku mengerjakan tugas rumah dan mengajak Hunter berlari di pantai. Ketika aku pulang, hari sudah siang dan aku mulai gelisah. Aku sangat ingin bertemu dengan Kai. Tapi aku tahu itu sembrono dan egois.

Lima menit menjelang pukul delapan, yang kupikirkan hanyalah Kai yang sedang menungguku. Menit demi menit berlalu. Aku membayangkan momen ketika ia menyadari aku tidak datang, kemudian ia mengangkat bahu, keluar dari bioskop, dan pulang. Itu membuatku sangat sedih. Akhirnya, tanpa pikir panjang aku mengambil tas, membuka pintu balkon, dan turun melalui kerangka kayu taman. Keinginan bertemu dengan Kai menggebu-gebu dalam hatiku.

Aku melewati jalanan gelap, berbelok ke kiri, dan terus berjalan menuju lampu-lampu kota. Beberapa orang dalam mobil menoleh kepadaku, seorang gadis pucat dan berambut panjang menyusuri jalan. Butuh dua puluh menit untuk sampai di Cinecube. Setelah itu aku melewati toko roti baru dan toko swalayan. Mendekati Cinecube, langkahku begitu cepat hingga aku melewatinya dan terpaksa mundur kembali karena jalan itu buntu.

Cinecube bertempat di gedung ECC di salah satu Universitas. Sebelum masuk aku melirik pantulan diriku di cermin yang terdapat di belakang kedai permen. Napasku tersengal-sengal karena senang, dan wajahku terlihat memerah karena tadi berlari.

Lobi bioskiop kosong, dan tidak ada orang di kedai kopi. Terlihat jejeran poster yang mengiklankan film asing. Mungkin film-nya sudah dimulai. Dan Kai sedang menonton sendirian atau pulang.

Tiba-tiba terdengar bunyi dehaman yang berlebihan di belakangku. Seperti yang dilakukan orang jika ingin menarik perhatian. Aku berbalik.

“Sudah sangat terlambat jika kau ingin menonton film.” Kai yang mengenakan celana dril dan kaus polo warna krem tersenyum santai.

“Aku tidak bisa,” kataku disela-sela napas. “Aku datang untuk memberi tahu.”

“Kau tidak perlu berlari ke sini untuk mengatakan itu. Kau bisa menelepon.”

Sedikit mata Kai menggoda. Aku ingin mengatakan bahwa nomornya hilang, tapi aku tidak ingin berbohong.

“Karena kau di sini,” lanjutnya, “bagaimana kalau kita minum kopi?”

“Bagaimana dengan filmnya?”

“Lain kali saja.”

“Baiklah, aku tidak bisa lama-lama. Tidak ada yang tahu aku keluar.” kataku jujur.

“Tempatnya dua blok dari sini, kalau kau tidak keberatan berjalan kaki.”

Cafe itu bernama TOM N TOMS. Kai menyentuh belakang bahuku untuk memintaku masuk. Aku merasa kehangatan telapak tangannya yang meresap hingga ke dalam kulitku. Cepat-cepat aku menghindar sambil tertawa gugup.

“Kau gadis yang aneh,” katanya bingung.

Aku bersyukur karena Kai memilih ruang tersendiri karena aku tidak mau menjadi bahan perhatian. Kami sedikit menarik perhatian orang saat berjalan bersama tadi. Di dalam cafe, ada beberapa rekan sekolahku. Tetapi aku tidak mengenal mereka sehingga tidak perlu menyapa. Aku melihat Kai mengangguk ke beberapa arah sebelum kami duduk. Apakah mereka semua temannya?

TOM N TOMS adalah tempat yang menyenangkan dan aku mulai merasa rileks. Suasananya ramah dengan lampu-lampu terang, meja kayu dan kursi yang nyaman. Di atas meja terdapat beberapa kartu pos gratis yang mengiklankan karya seniman lokal. Menu yang ditawarkan terdiri dari Americano, Café Latte, dan Cappuccino. Seorang pelayan yang mengenakan sepatu kets menawarkan beberapa item lezat seperti roti madu dan pretzel dengan berbagai rasa yang akan dipanggang sesuai pemesanan, lalu pergi setelah menerima pesanan kami.

“Semoga kau suka tempat ini,” kata Kai setelah pelayan itu pergi. “Biasanya aku ke sini setelah latihan.”

“Tempatnya bagus,” kataku. “Kau sering latihan?”

“Dua kali seminggu pada siang hari dan akhir pekan. Bagaimana denganmu? Sudah memilih suatu kegiatan?”

“Belum, aku masih menimbang-nimbang.”

Kai mengangguk. “Memang butuh waktu.” Ia melipat tangan di dada dan bersandar di kursinya dengan santai. “Bagaimana kalau kau bercerita tentang dirimu sendiri?”

Inilah pertanyaan yang kutakutkan.

“Apa yang ingin kau ketahui?” tanyaku hati-hati.

“Pertama-tama, mengapa kau memilih pindah ke sini?”

“Katakan saja ini sebuah gaya hidup. Kedua kakakku lelah dengan kemewahan dan ingin menetap di tempat yang tenang.” Aku tahu, ini jawaban yang bisa diterima. “Sekarang, ceritakan tentang dirimu.”

Rasanya Kai tahu, aku ingin mengelak dari pertanyaan lain. Tetapi tampaknya ini bukan masalah baginya.

“Tidak ada yang perlu kuceritakan.” Ia mengangkat bahunya, kelihatan sedikit murung. Tapi cepat-cepat kembali dengan suasana hati yang membaik. “Kau tidak menyimpan nomorku?”

Ne?” Mataku membulat. Terkejut dengan pertanyaannya yang  tiba-tiba.

Kai mengulas senyumnya. Begitu tulus dan manis. Sejenak aku merasa keputusanku datang kesini bukan sesuatu yang sia-sia. Berduaan dengan Kai adalah harga yang pantas untuk membayar rasa bersalahku pada Kris.

“Aku menunggu telepon darimu.” Lanjutnya.

Tampaknya kalimat itu berpengaruh dengan suhu tubuhku yang tiba-tiba memanas. Aku segera menyadari sesuatu yang lain pada dirinya. Apa persisnya aku sulit memastikan, tapi aku merasakannya seperti aliran lstrik. Lebih penuh tegangan? Tidak. Lebih percaya diri.

Juga lebih bebas untuk menjadi dirinya sendiri. Dan mata cokelat itu semakin lekat menatapku. Seperti magnet yang menyeret setiap gerakanku. Diam-diam aku menahan ludah dan berusaha mengabaikan tarian poco-poco yang membuat mual di perutku. Aku tak bisa memastikan, tapi apakah Kai benar-benar menunggu telepon dariku? Dia mengaharapkan aku menghubunginya?

Dengan gugup aku berkata. “Aku tidak sengaja menghilangkannya.”

“Benarkah?”

“Mm-hmm,” Aku menatap matanya dan tak tahan untuk membalas senyumannya—sekilas saja. “Kau harus percaya padaku.”

Kai berpikir ucapanku sangat lucu sampai-sampai giginya kelihatan saat dia tersenyum. Dia menjulurkan tangannya ke arahku, dan sebelum aku sempat meyadari, Kai menarik sesuatu dari rambutku.

“Potongan kertas,” katanya, lalu melemparkannya ke tanah. Kemudian dia mencondongkan tubuhnya ke meja, mengangkat tangannya ke wajahku, dan menyapukan ibu jarinya ke sudut mulutku. Aku mematung—ingin menarik diri, tapi terlambat.

Pria ini menghapus lip gloss dengan menggosokkan ibu jarinya dan telunjuknya. “Kau tampak lebih cantik begini.”

Aku tak paham sama sekali, tapi desiran hangat atas perlakuan Kai terasa dalam darahku. Setelah pesanan kami datang. Aku menghisap sedotan dalam-dalam, berusaha menyejukkan perasaanku dengan ailran air dingin. Menghabiskan waktu berduaan dengan Kai benar-benar melupakan ketakutanku pada ekspresi Kris ketika tahu bahwa aku tidak ada di dalam kamar.

Kai mengawasiku dengan cara yang membuatku transparan. “Apa aku membuatmu merasa tak nyaman?” garis bibirnya netral. Tapi aku bisa merasakan kecemasan yang disembunyikannya.

Ya, sebenarnya kau membuatku tak nyaman. Kau juga punya kecenderungan menghapus semua pikiran logis dari benakku.

“Maaf,” kataku. “hanya saja tidak ada yang tahu aku keluar.” Aku berharap Kai tidak membuatku menahan rasa malu lebih dalam lagi.

“Karena keluargamu tidak tahu kau keluar, atau karena kau takut berduaan denganku?”

“Dua-duanya.” Pengakuan itu meluncur begitu saja.

“Kau takut dengan semua pria… atau cuma aku saja?”

Aku berusaha untuk tak terlihat kaget. Bagaimanapun aku tidak bisa menjawab pertanyaan seperti ini.

“Apa yang sedang kita bicarakan?”

“Kau.

Aku terkejut. “Aku?”

“Kehidupan pribadimu.” tambahnya.

Aku tertawa gugup, tak yakin harus bereaksi bagaimana. “Kalau ini tentang diriku dengan lawan jenis… tak ada satu pun pengalaman yang bisa kuberitahu.” Aku memain-mainkan tangan, lalu menurunkannya. “Aku tak tahu, kenapa kau sangat tertarik.”

Kai menggeleng-gelengkan kepalanya dengan halus. “Tertarik? Ini tentang dirimu. Aku… terpesona.” Walaupun ia mengatakannya dengan pelan, aku bisa mendengar kalimat itu begitu jelas. Kai tersenyum. Senyuman yang fantastis. Akibatnya jantung jadi berdebar-debar—jantungku.

“Apa pun alasannya, aku senang dengan gagasan bahwa tak satu pun pria di sekolah yang sesuai dengan harapanmu.” Aku tidak mengerti pesan yang tersirat di balik pernyataan ini.

Tengah menikmati minuman, Kai memutuskan bahwa kami membutuhkan asupan gula. Ia pun memesan cake cokelat yang disajikan per potong dengan krim kocok dan stroberi di piring besar yang dilengkapi dua sendok panjang. Meski ada dorongan untuk melahapnya, aku menyendok ujung cake dengan hati-hati. Selesai makan, Kai bersikeras membayar tagihan. Ia bahkan tampak tersinggung ketika aku ingin membayar bagianku. Ia mendorong tanganku dan memasukkan uang ke topeles tip sebelum kami pergi.

Setelah kami berada di luar, barulah aku benar-benar menyadari waktu.

“Aku tahu, sudah terlambat,” kata Kai, membaca wajahku. “Tapi bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar. Aku belum siap mengantarmu pulang.”

“Tanpa jalan-jalan saja aku akan mendapat masalah berat.”

“Kalau begitu, apalah artinya sepuluh menit lagi.”

 

.

.

 

Nara menghabiskan sore dan sebagian besar malam meringkuk seperti bola di atas tempat tidurnya. Terakhir bibi Yoon masuk membawakan makan siang, tapi ia tak sanggup menyentuhnya walaupun lambungnya terasa sakit. Gadis itu hanya merasa bersyukur, bibinya tidak bersikeras untuk tinggal dan membiarkannya sendirian di dalam kesedihan. Saat ini ia tidak bisa berpikir jernih. Semakin memikirkan tentang apa yang telah terjadi , ia merasa semakin sakit. Nara tidak bisa mengusir suara halus dan sentuhan Sehun kepada Nayoung dari kepalanya. Ia bahkan bertanya-tanya apakah akan datang waktu saat ia akan melupakannya.

Sebuah ketukan ragu-ragu terdengar di pintu. Kalaupun itu bibi Yoon, Nara merasa tidak ingin bergerak, jadi ia tidak membukakan pintu. Namun setelah jeda singkat, si tamu akhirnya tetap masuk juga.

“Nara?” suara Sehun berkata pelan. Nara tidak menyahut. Ia cukup terkejut dengan kehadiran Sehun.

Sehun menutup pintu dan berjalan melintasi ruangan untuk berdiri di dekat tempat tidur Nara.

“Maafkan aku,” ucap Sehun. “Aku tidak punya pilihan.”

Nara tetap diam, tak mampu bicara. Dan Sehun tidak bicara selama beberapa saat, mungkin berpikir kalau dia berdiri di sana cukup lama, Nara akan menemukan sesuatu yang ingin gadis itu katakan kepadanya. Namun akhirnya, Sehun berlutut di samping Nara. “Nara? Lihat aku, sayang?”

Tindakannya yang menunjukkan rasa kasih itu membuat perut Nara bergejolak. Jadi, gadis itu memandang Sehun pada akhirnya.

“Aku harus. Aku harus.”

“Bagaimana bisa kamu melakukan ini padaku?” suara Nara terdengar aneh. “Bagaimana bisa kamu bersikap seperti ini padaku?”

“Aku sudah pernah mengatakan kepadamu sebelumnya bahwa bagiku masa depanmu lebih penting daripada aku harus bersikap egois untuk memilikimu, sekalipun itu adalah hal yang sangat kuinginkan.”

Alis Nara tertaut. Sehun tidak mungkin masih berpikir Nara menginginkan hal tentang masa depan itu sekarang, kan? Gadis itu menganggap semua ini tidak masuk akal. Apa arti masa depan di mata seorang Oh Sehun adalah satu hal yang menyakitkan dengan tidak bisa bersama orang yang ia cintai? Rupanya Sehun memang berpikir seperti itu. Saat pria itu perlahan-lahan menyelami ekspresi Nara, dia terjatuh ke dalam keterkejutan yang absolute.

“Nara, aku tahu kamu kesal, tapi kumohon? Aku sudah katakan kepadamu, kamu adalah satu-satunya bagiku. Kumohon jangan lakukan ini.”

“Sehun,” kata Nara perlahan. “aku minta maaf, tapi kurasa aku tidak bisa melakukan ini. Aku tidak pernah mengerti mengapa kau terus mengatakan kau melakukan ini demi aku. Tapi aku sadar, kurasa kau melakukan sesuatu yang benar. Jika menurutmu kita tidak bisa bersama, baiklah, aku akan pergi. Aku tidak bisa terus diam disini sedangkan kau pergi bersama gadis lain.”

“Pergi?” kata Sehun. “Kamu tidak akan pergi kemana-mana.”

“Maaf, Sehun.” Nara membuang tatapannya dengan hati berat.

Sehun menarik napas terguncang, mungkin hal terdekat ke emosi sedih sejati yang pernah gadis itu lihat. “Nara, kamu harus mengerti pengorbananku. Aku melakukannya untukmu. Tunggu sebentar lagi dan kita akan pergi bersama.”

Nara bangkit untuk duduk, berharap itu akan membantunya berpikir lebih jernih. “Aku hanya… aku bahkan tidak bisa berpikir sekarang ini.”

“Kalau begitu jangan,” Sehun mendesak. “Jangan biarkan ini memengaruhi keputusan untuk kita berdua saat kau sedang kesal.” Entah bagaimana, bagi Nara kata-kata itu terdengar seperti sebuah mustahil.

“Kumohon,” Sehun berbisik dengan sungguh-sungguh seraya menggenggam kedua tangan Nara. Keputusan di dalam suaranya membuat gadis itu menatapnya lagi. “Aku berjanji kita akan bersama-sama. Jangan menyerah, jangan seperti ini. Kumohon. Tidak akan lama lagi.”

Nara menghela napas dan mengangguk.

Kelegaan di wajah Sehun terlihat jelas. “Terima kasih.”

Sehun duduk di samping Nara, dan berpegangan pada tangan gadis itu seolah Nara adalah tali penyelamat hidupnya. Nara merasa ini tidak seperti yang kemarin.

“Aku tahu…,” Sehun memulai. “Aku tahu kau ragu dengan perasaanku padamu. Aku selalu tahu bahwa akan sulit untuk merangkul dua pilihan sekaligus. Dan, aku yakin bahwa ini membuatmu semakin merasa sulit. Tapi… jauh sedalam dan seberapa besar kamu mencintaiku, aku lebih daripada itu. Aku mencintaimu bahkan sebelum kamu mengatakan kau menyukaiku ketika di atap sekolah waktu itu. Dan, aku harap jika kamu melihatku bersama Nayoung, jangan sekali-kali  berpikir kalau aku mencintainya. Bagaimana? Apa itu sudah membuatmu merasa yakin tentangku?”

Nara menjadi gelisah, tidak yakin harus berbicara apa. “Aku tadi sudah bilang bahwa aku sedang tidak bisa berpikir.”

“Oh. Benar.” Rasa patah hati Sehun terdengar nyata. “Mulai besok, aku tidak akan mengganggumu lagi. Tapi, kita akan bicara secepatnya.”

Dengan perlahan Nara mengangguk. Keheningan datang di antara mereka dan Sehun belum berniat untuk berpisah dengan Nara malam ini. Tiba-tiba saja Sehun mencondongkan tubuhnya ke depan. Nara tidak sepenuhnya yakin, tetapi ia memejamkan matanya pelan-pelan.

Malam itu untuk kedua kalinya Nara bisa merasakan bibir Sehun yang basah mengulum bibirnya. Walaupun itu dilakukan di tengah masalah rumit yang terjadi, namun tetap saja membuat Nara ingin tersenyum di balik semua itu. Rasanya manis.

Satu tangan Sehun melingkar di pinggang kecil Nara, sedangkan yang satunya lagi menyentuh belakang kepala gadis itu untuk membuat ciuman mereka semakin dalam. Nara merasa tidak perlu menolak karena sejujurnya ia memang membutuhkan ini. Akhirnya, Nara menaruh kedua tangannya ke dada Sehun, sedikit meremas kain baju pria itu seolah tidak siap jika malam ini berakhir sehingga besok—untuk sementara waktu Sehun tidak akan menganggunya. Adegan ini sudah menimbulkan suara-suara decakan yang keluar dari mulut masing-masing. Nara tidak bisa menghentikkan ini, ciuman Sehun benar-benar membuatnya hidup. Setiap gadis itu membuka matanya untuk melihat ekspresi Sehun, yang terlihat hanyalah sebuah kejujuran. Sepertinya Sehun benar, gadis itu berpikir. Nara tersenyum kecil di sela-sela ciumannya, berpikir bahwa betapa indahnya malam ini.

 

.

.

 

Airi’s POV

 

Aku tahu, seharusnya aku langsung pulang. Kris pasti sudah menyadari bahwa aku pergi  dan ia tentu khawatir. Tetapi bukannya aku tidak peduli dengannya. Hanya saja aku tidak sanggup berpisah dari Kai lebih cepat dari yang seharusnya. Ketika bersamanya, aku merasa dibanjiri kebahagiaan. Yang ada hanya kami berdua. Dunia selebihnya menyusut hingga tak lebih dari suara latar belakang. Seolah-olah kami berdua terkurung dalam gelembung yang tidak bisa dihancurkan, sekalipun oleh gempa bumi.

Aku ingin malam ini tidak akan berakhir.

Kami berjalan ke arah perairan. Sesampainya di sana, kami melihat karnaval tamasya sedang bersiap-siap di atas panggung. Ini adalah aktivitas yang biasa dilakukan keluarga dengan anak-anak yang bosan dengan kegiatan musim dingin di dalam ruangan. Komidi putar berayun diterpa angin. Dan kami bisa melihat sejumlah mobil-mobilan bertebaran di sekeliling trek. Sebuah kastil bohongan memancarkan cahaya kuning ke langit.

“Ayo, kita ke sana.” kata Kai dengan semangat seperti anak kecil.

“Sepertinya belum dibuka,” kataku. “Kita tidak bisa masuk.” Ada sesuatu pada karanaval yang tampak loyo itu yang membuatku enggan menyambanginya. “Lagi pula sudah hampir gelap.”

“Dimana semangat petualanganmu?  Kita bisa melompati pagar.”

“Aku tidak keberatan kalau kita melihat sekilas. Tapi aku tidak mau melompati pagar.”

Setelah kami mendekat, ternyata tidak ada pagar yang harus dilompati. Kami tinggal berjalan masuk. Tidak banyak yang bisa dilihat. Beberapa lelaki sedang menarik tambang dan menjalankan mesin, tidak peduli dengan kehadiran kami. Seorang wanita berkulit kecokelatan sedang duduk memainkan kartu di anak tangga trailer. Ia mengenakan baju warna-warni dan gelang hingga ke siku. Ada lekuk yang dalam di sekeliling mata dan mulutnya. Rambut hitamnya pun sudah diselingi uban di dekat pelipis.

“Ah, pasangan muda,” katanya begitu melihat kami. “Maaf kami tutup.”

“Kami yang salah,” kata Kai dengan sopan. “Kami akan pergi.”

Wanita itu merapikan kartunya cepat-cepat. “Karena sudah di sini, apakah kalian ingin tahu peruntungan kalian?” tanyanya dengan suara parau.

“Kau peramal?” tanyaku. Aku tidak tahu pasti apakah aku skeptis atau merasa tertarik. Memang benar, sebagian manusia memiliki kewaspadaan yang lebih tinggi dari yang lainnya dan bisa melihat sesuatu yang belum pernah terjadi. Tetapi hanya sebatas itu. Sebagian manusia bisa melihat roh atau merasakan kehadiran mereka. Namun istilah peramal menurutku sedikit berlebihan.

“Tentu,” kata wanita itu. “Barbara Messenger siap membantu. Ayolah, tidak perlu membayar,” imbuhnya. “Mungkin bisa mencerahkan malam kalian.”

Di dalam trailer tercium aroma makanan sisa. Beberapa batang lilin berkedap-kedip di atas meja dan menyinari tirai yang menggantung di dinding. Barbara memberi isyarat supaya kami duduk.

“Kau dulu,” katanya kepada Kai, kemudian meraih tangannya dan mempelajarinya dengan serius. Aku menatap Kai, ekspresi wajahnya seperti orang yang menganggap semua ini hanya lelucon belaka. “Hmm, garis hatimu melengkung, artinya kau orang yang romantis,” katanya. “Garis kepalamu pendek, itu artinya kau tidak suka bertele-tele dan langsung ke titik persoalan. Aku merasakan energi biru yang kuat, menandakan kau memiliki sifat kepahlawanan. Tapi itu juga berarti kau akan mengalami penderitaan hebat, dalam hal apa, aku tidak tahu. Kau seharusnya bersiap-siap karena sepertinya itu tidak lama lagi.”

Kai berpura-pura menyimak sarannya dengan serius. “Terima kasih,” katanya. “Sangat mendalam. Giliranmu, Airi.”

“Sebaiknya tidak.” kataku.

“Masa depan bukan sesuatu yang harus ditakuti, tapi diperjuangkan.” kata Barbara. Caranya berbicara nyaris seperti menantang.

Dengan enggan, kuulurkan tanganku. Meskipun jemari wanita itu kasar dan kapalan, sentuhannya bisa dibilang menyenangkan. Begitu membuka telapak tanganku, tubuhnya mendadak sedikit kaku.

“Aku melihat cahaya putih,” katanya, matanya terpejam seperti mengalami trans. “Aku merasakan kebahagiaan yang tak tergambarkan.” Ia membuka mata. “Auramu luar biasa. Coba kulihat garis tanganmu. Kau punya garis hati yang dalam dan tak terputus, artinya kau mencintai sekali seumur hidup… kemudian—Ya, Tuhan!” Ia meluruskan jariku dan mendorongnya agar kulit telapak tanganku meregang.

“Ada apa?” tanyaku kaget.

“Garis kehidupanmu,” kata wanita itu, matanya menatapku lamat. “Aku jarang sekali melihat yang seperti ini.”

“Ada apa dengan garis kehidupanku?” tanyaku tidak sabaran.

“Oh, Sayang”—suara Barbara berubah menjadi bisikan—“Kau akan mengalami peristiwa yang tak terduga. Aku melihat bahaya besar akan mendatangimu. Seseorang. Seseorang di sekitarmu.”

 

.

.

 

KAMI berjalan melewati beberapa tempat parkir dengan kebisuan dan canggung.

Well, itu aneh.” kata Kai.

“Ya,” kataku sependapat, berusaha bersikap biasa-biasa saja. “Tapi, apakah peramal bisa dipercaya?”

Motor Kai sangat cocok dengannya. Ia mengendarai Fischer MRX 650 sports bike warna oranye. Tampaknya kendaraan ini dirawat dengan hati-hati. Lampunya menyorot kegelapan dan jok kursinya yang terbuat dari kulit sungguh nyaman.

“Airi, perkenalkan, ini kekasihku,” kata Kai. “Ia kendaraan yang sangat manis.”

“Halo,” kataku separuh mengangkat tangan dengan canggung dan langsung merasa seperti orang bodoh. “Kau tahu, motor itu kan benda mati.” kataku menggoda.

“Hati-hati,” kata Kai. “Ia bisa tersinggung.”

“Oh, motormu punya perasaan, ya?”

“Tentu saja. Ia punya kehidupan sendiri.” Kai menepuk-nepuk kursi motornya. Aku merasa sedang bersama Kai yang berbeda.

Aku belum pernah mengendarai motor. Sama sekali. Dan aku tak yakin apakah aku ingin mengubah fakta itu malam ini. Pengalamanku berkendara hanyalah dengan mobil milik Kris. Itu pun jika Kris mengantarku ke sekolah. Wajar saja aku tidak siap dengan raungan mesin motor sports yang membuatku kaget. Kai mengayunkan kakinya dan mengarahkan kepalanya ke kursi belakang. “Naik.”

“Aku senang merasakan angin di wajahku.” kataku, berharap keberanianku menutupi rasa takutku akan kecepatan lebih dari enam puluh lima mil per jam, sementara tak ada pembatas antara aku dan jalanan.

Cuma ada satu helm—hitam dengan corak berwarna dibagian depan—dan Kai mengulurkannya kepadaku.

Aku menerimanya lalu mengayunkan kakiku melewati kursi motor. Aku merasa betapa tidak amannya kendaraan ini, dengan sedikit tempat duduk untukku di belakang. Kuselipkan helm menutupi rambutku dan mengikatkan talinya di bawah dagu.

“Apakah sulit mengemudi motor?” tanyaku. Padahal, maksudku , Apakah aman?

“Tidak.” kata Kai, menjawab pertanyaanku yang terucap dan yang tidak. Dia tertawa lembut. “Kau tegang. Santai saja.”

Ketika Kai menjalankan motor keluar dari tempat parkir, kejutan gerakan itu membuatku kaget. Tadinya, aku hanya berpegangan pada jaketnya dengan sekedar kain di antara jari-jariku untuk menjaga keseimbangan . Tapi, sekarang aku merangkulkan tanganku ke sekeliling pinggang Kai, seperti pelukan beruang dari belakang.

Kai mengarahkan motornya ke jalan raya, dan kedua pahaku menekan kakinya. Aku berharap hanya aku saja yang menyadari ini.

Begitu kami sampai di rumahku, Kai menepikan motornya ke jalan masuk yang sedikit berkabut, mematikan mesin, lalu turun. Aku melepaskan helm, menyeimbangkannya di kursi depan dengan hati-hati, lalu membuka mulut untuk mengucapkan kalimat Terima kasih untuk hari ini, sampai ketemu hari Senin.

Tapi kata-kata itu menguap begitu Kai menyeberangi jalan masuk dan menuju anak tangga. Aku tidak bisa menahan dugaan tentang apa yang dilakukannya. Mengantarku sampai ke pintu? Sangat tidak mungkin. Jika Kris keluar dan melihatnya, aku tidak siap menebak apa yang akan terjadi. Jadi, aku memutuskan menariknya pelan-pelan.

“Apakah kau akan mendapat masalah?” tanyanya setelah kami berada di halaman belakang. Lampu serambi depan tampak menyala. Kepergianku pasti diketahui.

“Sejujurnya, aku tidak terlalu peduli,” kataku. “Aku sangat senang tadi.”

“Begitu juga aku.” Cahaya bulan menyinari lehernya.

“Kai…” kataku ragu-ragu. “Boleh aku bertanya sesuatu?”

“Tentu saja.”

Well, aku cuma ingin tahu… mengapa kau mengajakku kencan? Jihyun sudah bercerita kepadaku… tentang…”

Kai mengela napas. “Kenapa?” Nada bicaranya defensif. “Rupanya mereka masih membicarakan hal itu, ya? Itulah susahnya jika kita tinggal di lingkungan seperti ini. Mereka tidak pernah berhenti bergosip.”

Berat rasanya menatap mata Kai. Aku merasa telah melampaui batas, tetapi tidak bisa mundur lagi.

“Katanya kau tidak akan mengajak kencan gadis lain. Jadi aku ingin tahu… mengapa aku?”

“Haneul bukan hanya kekasihku,” kata Kai, membuatku sedikit tertegun. “Ia sahabatku. Kami saling memahami dengan cara yang sulit dijelaskan. Kupikir aku tidak akan menemui penggantinya. Tetapi ketika aku melihatmu…” Ucapannya terputus.

“Apakah aku mirip dengannya?” tanyaku.

Kai tertawa. “Tidak ada yang mirip dengannya. Tapi aku mendapat perasaan yang sama ketika aku di dekatmu.”

Mataku membulat. “Perasaan yang seperti apa?”

“Kadang-kadang kau bertemu seseorang dan merasa ‘klik’—kau merasa nyaman dengannya. Seolah kau telah sangat lama mengenalnya, dan kau tidak terpaksa berpura-pura menjadi orang lain.”

“Menurutmu Haneul tidak keberatan?” tanyaku. “Tentang perasaan itu dan kencan kita?”

Kai tersenyum. “Di mana pun ia berada, Haneul pasti ingin aku berbahagia.”

“Maksudmu Haneul sedang pergi?” kataku. “Kemana?”

Dengan perlahan Kai menggelengkan kepalanya. Karena menyadari kemurungan Kai, aku membuang jauh-jauh pertanyaanku tentang Haneul lebih dalam. Kami duduk membisu selama beberapa menit. Tidak satu pun yang ingin memecahkan suasana itu.

“Masuklah, sudah semakin gelap.” kata Kai akhirnya. “Aku tidak ingin kau mendapat masalah besar gara-gara aku.”

Walaupun aku tidak ingin berpisah dengannya, aku tidak boleh melupakan keadaan Kris. Bagaimanapun juga, aku sudah cukup senang karena Kai sudah menceritakan salah satu dari seribu rahasia kehidupannya kepadaku. Apakah belum banyak yang tahu soal gadis bernama Haneul? Mengapa Jihyun dan Nara tidak pernah menceritakannya? Inikah alasan Kai bersikap dingin kepada semua gadis? Bahwa sebenarnya, Kai masih mencintai Haneul.

“Terima kasih kau sudah membawaku ke TOM N TOMS,” kataku, sedikit memaksakan senyumku. “Aku suka roti keringnya.”

Kai mengangguk, tertawa. “Itu termasuk cemilan gratisnya,” melupakan kisahnya, ia kembali sedikit lebih ceria. Syukurlah. “Kalau begitu, aku pulang. Semoga mimpi manis.”

Terakhir yang kuingat adalah Kai yang melambaikan tangannya sambil tersenyum. Setelah itu ia benar-benar menghilang di dalam kegelapan. Aku bahkan belum sempat mengatakan kalimat hati-hati dijalan padanya. Aku berjalan menaiki anak tangga dengan keyakinan bahwa dunia yang kuketahui telah berubah tanpa bisa dikembalikan lagi. Saat menaiki anak tangga terakhir menuju pintu depan, yang kupikirkan bukanlah ceramah dari Kris. Akan tetapi kapan aku bisa bertemu dengan Kai lagi. Rasanya begitu banyak hal yang ingin kubicarakan dengannya.

 

 

To be Continued…

 

 

Tidak.tidak. tidak. –baru sadar, aku sama sekali ga masukin scene Kris sama Natt disini. Hmm, mungkin aku berencana scene mereka emang perlu dikuras. Bukan apa-apa, aku mau fokus ke Airi-Kai dulu. Cukup belakangan ini, scene mereka berdua bener-bener dikit. Tapi aku janji setelah ff ini selesai, aku bakal bikin cerita sendiri khusus kisah Kris-Runa dan Natt-Luhan, gimana? Wait! Aku bukan menghilangkan secara permanen loh kisah Kris dan Natt disini. Cuma mempersingkat yang seperlunya aja. Dan, untuk section selanjutnya bakal ada sesuatu yang baru—cast dan couple baru. Semoga kalian semakin suka ya. Aku cinta kalian, readers. Tetap tinggalin komen setelah baca ff ini ya. LIKE!^^

Iklan

41 pemikiran pada “The Conqueror (Chapter 7)

  1. aku suka tata bahasanya, dan sepertinya aku lemot karena aku belum pagan sama masalah Sehun-Nara,
    bahasanya terlalu berat menurutku, tapi tetep ajaa inii ff kereeen abisss

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s