Yours, Only Me (Chapter 2: House Moving)

Title                 : Yours, Only Me (House Moving)

Author             : Leon (@itaitaws)

Genre              : Romance

Length             : Series

Rating             : PG-15

Main Cast      : Park Chanyeol (EXO) ; Choi Inhi (OC)

 YOM (House Move)

Entah apa yang terjadi, tahu-tahu saja koper-koper berisi pakaianku sudah ada di dalam kamar Chanyeol ketika aku bangun. Seluruhnya ada 3 koper dengan muatan penuh, dan surat di dalamnya mengatakan kalau masih ada sebagian bajuku di rumah. Aku melirik jam, masih jam 7 pagi. Dengan malas aku berjalan gontai ke kamar mandi untuk sekadar menyikat gigi dan cuci muka.

Setelah berpikir panjang di dalam sana, akhirnya aku keluar kamar mandi dan lagi-lagi beraroma seperti Chanyeol. Diam-diam aku membuka lemarinya dan mengambil salah satu kaus pria itu. Ada rasa yang teramat nyaman ketika memakai kaus miliknya. Ketika aroma katun bercampur feromon Chanyeol yang tertinggal dapat terhirup langsung ke hidungku. Baru kali ini aku tidak keberatan dengan aroma laki-laki di tubuh sendiri. Aku mengambil celana pendek dari koper lalu bergegas memakainya. Kupatutkan tubuh di depan cermin. Menertawakan tubuhku yang tenggelam dalam kaus kedodoran Chanyeol. Bahkan celana pendekku pun ikut tenggelam dibaliknya. Baru kali ini aku melihat 168 sentimeter tubuhku tenggelam dalam baju seorang laki-laki.

Aku menuruni tangga setelah selesai berpakaian. Aku tidak mau dicap gadis pemalas yang bangun di siang bolong. Bagaimanapun tidak akan ada yang tahu apa yang kita lakukan di kamar tertutup.

“Oh, Inhi~ya!”

Kutolehkan kepala kesamping dan mendapati kakak Chanyeol, Park Yoora—kalau tidak salah—memanggilku dari dapur. Aku menghampirinya. Aroma pancake sekejap tercium, membuat perutku meronta kelaparan.

“Bagaimana tidurmu? Adikku tidak macam-macam, kan?” Tanyanya, mengangkat satu pancake yang baru saja matang dari frying pan dan menaruhnya di piring yang sudah berisi 2 pancake matang lainnya.

“Aniyo, dia baik,” jawabku masih dengan mata memandangi piring yang sudah berisi 3 pancake itu.

“Dia memang baik. Kau lapar?”

Aku mengangguk semangat. Yoora onnie tertawa lalu menuangkan satu scoop adonan pancake lagi ke frying pan.

“Kau menyukainya, tidak?” Tanyanya lagi dan kini menatapku. Aku mengerjap, tidak tahu harus menjawab apa.

“A-aniyo! Maksudku.. Aku tidak tahu,” jawabku lalu menundukkan kepala. Pinggangku bersandar pada pantry dengan mata menatap pancake yang tengah dimasak. God, aku benar-benar lapar.

“Jangan bilang begitu, jawab saja belum. Sepertinya adikku menyukaimu, kau tidak kasihan padanya, huh?”

Aku mengangkat wajah berikut melemparkan senyum pada Yoora eonnie. Untuk yang satu ini aku tidak tahu harus menyahut apa.

“Ngomong-ngomong, kenapa sepi sekali? Kau tidak bosan sendirian terus di rumah sebesar ini, eonnie?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan. Satu hal yang baru kusadari, rumah ini terlihat kosong dan hanya ada Yoora eonnie dan beberapa pelayan yang bersih-bersih.

“Eomma dan appa bekerja, mereka baru akan pulang nanti malam. Jong Hwan ahjussi pergi pagi-pagi, eomma bilang appamu akan kembali memulai bisnisnya dengan sedikit bantuan appa. Adikmu kuliah dan aku tidak tahu dia akan pulang ke sini atau tidak. Dan aku tidak tinggal di sini, hanya dalam masa liburan,” terangnya. Hey, kenapa dia tidak mengatakan ke mana perginya Chanyeol? Kalau mau jujur sebenarnya aku lebih penasaran soal lelaki itu. (/.\)

“Bagaimana dengan Chanyeol?” Tanyaku akhirnya. Mengubur gengsiku dalam-dalam dan memenangi rasa penasaranku.

“Harusnya hari ini dia libur. Kurasa dia hanya akan mengambil beberapa berkas di kantor dan akan pulang sebentar lagi. Kau tenang saja.”

Apa maksudnya berkata tenang? Kenapa kesannya seolah aku begitu merindukannya?

“Sudah selesai. Ayo kita makan,” ucap Yoora eonnie girang. Kedua tangannya mengangkat piring yang masing-masing berisi 3 tumpuk pancake ke meja makan.

“Kau mau susu atau teh hangat?” Tanya Yoora eonnie sembari melepas celemeknya.

“Susu!” Jawabku girang. Aku suka sekali susu hangat di pagi hari.

“Aku sudah meminta salah satu pelayan membuatkannya. Ca! Selamat makan!”

***

“Lama menungguku?” Aku menoleh ke belakang dan mendapati Chanyeol telah masuk ke kamarnya. Sudah 45 menit terlewat ketika aku selesai sarapan. Dan kini aku tengah menatap foto-foto Chanyeol yang bejejer di dinding kamarnya. Dia lucu sekali waktu kecil, pipinya tembam dan telinganya lebar.

“Ya, aku hampir berjamur di sini,” kataku bergurau dan disambut tawa Chanyeol yang lagi-lagi terasa familiar.

“Yoora eonnie bilang kau libur tapi kau ke kantor.”

“Ne, ada beberapa berkas yang tertinggal kemarin. Dan libur bukan berarti bersantai semaunya.”

Aku mengerjap. “Kau membuat dirimu tedengar seperti pria single depresi yang workaholic untuk mengalihkan status.”

Chanyeol kembali tertawa, “Aku memang single,” jawabnya kemudian menarik sehelai t-shirt polo dari lemari berikut mengganti bajunya di depanku. Catat! Di depanku. Bersikap biasa seolah hal itu lumrah terjadi.

“Kenapa mengganti baju di depanku?” Tanyaku sambil menatapnya aneh. Dia menoleh lalu berjalan menghampiriku.

“Kau keberatan?”

“Err.. Tidak sih.”

“Ganti bajumu, kita pulang,” ujar Chanyeol setelah mengamati penampilanku dari bawah ke atas. Aku tahu maksudnya pulang adalah pulang ke rumah pribadinya. Dia sudah menjelaskannya semalam.

“Begini saja ya? Ini nyaman!”

Pria itu menggeleng tegas. “Tidak, kakimu terekspos banyak, aku tidak suka. Ngomong-ngomong kau ambil bajuku, ya?”

“Hehe, iya.”

Chanyeol ikut terkekeh lalu berkata, “Cepat ganti baju, dan pakai baju yang tidak kekurangan bahan”

“Ayaeeyy captain!”

***

Aku sudah duduk manis dalam Pajero Sport hitam Chanyeol. Huaah!! Kalau mau jujur sebenarnya aku suka sekali dengan pria muda—seperti Chanyeol— yang mengemudikan mobil ini. Mereka terlihat keren. Chanyeol sendiri masih sibuk berbicara di luar dengan para pelayan yang tadi membawa koper-koperku. Aku tidak tahu apa yang tengah mereka bincangkan dan aku tidak peduli.

Pagar terbuka otomatis seiring Chanyeol yang juga sudah duduk di balik kemudi. Pria itu mengamatiku lalu tersenyum dan mengelus puncak kepalaku.

“Seperti ini, kan, aman. Kenapa wanita senang sekali, sih, pakai baju kekurangan bahan?” Tanya Chanyeol ketika dia mengemudikan mobilnya keluar rumah.

“They’re comfortable. Kenapa kau tidak suka sekali, huh?”

“But not safe. Aku begini juga karena peduli padamu.”

Aku memberengut kesal. Baru kali ini ada yang mengomentari selera berpakaianku. Kebanyakan mantan kekasihku sebelumnya justru terlihat senang ketika aku mengenakan pakaian yang kata Chanyeol kekurangan bahan itu. Sesuai titahnya tadi, kini aku mengenakan kaus hijau panjang dan celana putih selutut.

“Kau free hari ini?” Tanyanya dengan mata terfokus pada jalanan kota Seoul yang tidak terlalu lenggang pagi ini. Untuk kali ini aku membiarkan dia berbicara tanpa menatapku. Aku tidak mau berakhir konyol di rumah sakit bila memaksakan Chanyeol melakukannya.

“Ya.”

“Good. Bagaimana kalau kita belanja dulu?”

“Baiklah.”

“You okay?”

“Yap!”

“Jangan menjawab singkat seperti itu!”

“Lalu aku harus bagaimana?”

Aku menatapnya sengit. Chanyeol melirikku sedikit lalu kembali mengalihkan wajah. Entah hanya mataku saja, atau tangan Chanyeol memang mencengkram setir lebih kuat.

“Maaf,” ucapku akhirnya. Aku tidak suka bertengkar dengan laki-laki. Karena eomma pernah bilang kalau lelaki yang bertengkar bagaikan hulk. Bisa berubah menjadi seram seketika.

“Kau tidak asik hari ini!”

“Aku, kan, sudah minta maaf.”

Bertepatan dengan itu mobil Chanyeol sudah memasuki area parkir salah satu swalayan terbesar di Seoul.

“Maaf,” ucapku sekali lagi. Aku refleks menarik tangan Chanyeol yang berniat keluar.

“Ne,” jawabnya lalu menarik tubuhku untuk memeluknya. Aku mengerjap. Hanya sebentar memang, tapi itu cukup membuatku mematung tolol di tempat.

“Kau sering melakukan itu?” Tanyaku ketika kami berjalan beriringan untuk masuk ke dalam swalayan.

“Melakukan apa?” Tanyanya balik.

“Memeluk wanita ketika mereka meminta maaf?”

“Tentu saja tidak!” Perkataan Chanyeol membuatku tidak tahu harus menyahut apa. Tahu-tahu saja kakiku berhenti melangkah. Kurang lebih sejam yang lalu Yoora eonnie mengatakan kalau Chanyeol menyukaiku, apa mungkin benar ya? Bibirku membentuk seulas senyum senang lalu dengan refleks aku mencubit-cubit pipiku sendiri.

***

Author’s POV

Chanyeol menoleh ke samping ketika tidak mendengar langkah kaki Inhi yang seharusnya terdengar di sisinya. Dia memutar ke belakang dan mendapati Inhi tersenyum sendiri sembari menatap ke bawah dengan tangannya sendiri mencubi-cubit pipinya. Tanpa sadar Chanyeol tertawa, mengamati gadisnya itu tenggelam dalam dunia sendiri. Gadisnya? Oh, sejak kapan?

“Ada apa?” tanya Chanyeol ketika dia sudah berada di depan Inhi. Tangannya mau tidak mau ikut tergoda mencubit pipi chubby gadis itu.

“Aww!”

Inhi mengerjap menatap Chanyeol. Tangan pria itu sendiri masih menjepit pipi kanannya. “Astaga!” Gumamnya lalu menarik tangan Chanyeol dan kembali berjalan.

Chanyeol seketika menatap takjub tangan mereka yang kini bertautan. Tangan Inhi yang jauh lebih kecil seolah tenggelam di dalam genggaman tangannya yang besar. Rasanya masih sama ketika.. Itu. Saat itu juga dia merubah telapak tangan mereka yang hanya saling menggenggam menjadi menautkan jari masing-masing. Merasakan kehangatan yang menjalar dari tangan yang bergandengan itu ke seluruh tubuh.

Gadis itu sendiri tidak mampu menyembunyikan rasa senangnya. Dia membuang muka ke samping dan tersenyum malu. Meskipun hal seperti ini sudah biasa, tapi bergandengan dengan Chanyeol kali ini tidak terasa sama. Inhi merasa terlindungi walau dengan jantung yang bertalu sangat cepat. Sayangnya tautan itu harus terlepas ketika Chanyeol harus mendorong trolley.

“Kau bisa memasak?” Tanya Chanyeol sambil mendorong trolley ke bagian belakang swalayan. Tempat daging, ayam, dan makanan laut.

“Keurom, kau mau makan apa?”

“Ayam!” sahutnya cepat. Chanyeol terdiam sejenak, melirik Inhi, dan melanjutkan, “Kebetulan juga bahan makanan di rumah habis, dan aku tidak tahu harus membeli apa saja. Aku tidak pernah masak.”

Chanyeol menatap mata Inhi dan menyunggingkan senyum yang entah kenapa membuat gadis itu merasa jantungnya melompat.

“Bagaimana dengan keperluan lain? Seperti detergen, pembersih lantai?”

“Ah itu.. Aku juga tidak tahu. Biasanya eomma yang membawakannya ke rumah.”

Inhi tertawa, entah kali ini dia harus menganggap Chanyeol bagaimana. Pria itu suka bekerja, baru begini saja sudah terlihat. Namun untuk urusan rumah tangga, dia totally know nothing. Padahal dia tinggal sendiri dan dalam bayangannya, pria yang tinggal sendiri justru rela terjun langsung dalam bidang rumah tangga. Walau sebenarnya bidang itu tidak seharusnya digeluti para laki-laki.

Sambil menggeleng prihatin, Inhi bergegas mengambil satu potong ayam segar yang sudah dibersihkan lalu memasukkannya ke dalam trolley. “Kau suka seafood apa? Bagaimana kalau udang? Atau ikan?”

Kini mereka sudah berjalan ke pusat seafood. Inhi sibuk memilah–milah udang dengan Chanyeol masih mendorong trolley sambil melihat sekeliling di belakangnya.

“Aku alergi,” jawab Chanyeol yang membuat Inhi seketika menatapnya. “Tapi kalau kau mau, ambil saja,” lanjut pria itu ketika mendapati raut kekecewaan di wajah Inhi.

“Tidak, tidak! Kau tenang saja, aku ini omnivora yang cukup baik.”

Chanyeol tertawa. Dia tahu maksud Inhi dengan mengatakan dirinya sendiri omnivora. Sayangnya kata-kata itu terdengar aneh.

“Ada tidak, makanan laut yang kau tidak alergi?”

“Em.. Salmon, kepiting, tuna, entahlah aku lupa lagi.”

“Good!” Inhi langsung memasukkan sekotak salmon, tuna, dan daging kepiting beku ke dalam trolley yang masing-masing berberat 250 gram.

“Besok kita makan samgyupsal, otte?”

Chanyeol mengangguk dan Inhi memasukkan satu kotak berisi 1000 gram daging sapi. “Aku tidak bisa makan daging babi, maaf,” ucap Inhi lagi dan Chanyeol lagi-lagi mengangguk.

Chanyeol merasa seperti sudah memiliki istri saat mereka belanja seperti ini. Inhi yang memilih makanan dan dirinya sendiri yang mendorong trolley. Mungkin akan terlihat lebih nyata jika ada anak balita yang duduk di dalam trolley yang didorongnya.

Inhi menuju rak buah-sayuran dan bumbu yang berada paling dekat dari stan daging. Dia mengambil beberapa sayuran, buah dan bumbu-bumbu yang menurutnya dibutuhkan. Chanyeol sendiri hanya memainkan brokoli yang berada paling dekat dengannya. Jari-jari panjangnya menekan-nekan bagian atas brokoli yang terlindung plastik dan terasa menusuk-nusuk halus. Atau terkadang dia menepuk-nepukkan bagian atas brokoli tersebut ke pipinya. Merasa senang sendiri melakukan itu.

Mereka memutari swalayan tersebut dan mendapat beberapa bahan makanan tanpa satupun makanan cepat saji atau kemasan kecuali keripik kentang rendah natrium dan oreo, cemilan kesukaan Inhi. Inhi bilang, dia bisa mencoba memasakkan apapun yang Chanyeol minta tanpa segala produk instan tersebut. Lagipula Chanyeol mengerti, Inhi calon dokter. Dan gadis itu pasti memproritaskan kesehatan diatas segalanya.

Kemudian beralih ke tempat khusus bahan keperluan rumah tangga seperti detergen, pelembut pakaian, sabun cuci piring, pembersih lantai, bahkan keperluan mereka masing-masing.

“Kenapa kau membeli ini lagi? kita, kan sudah mengambil detergen.” Chanyeol mengangkat detergen dan pelembut pakaian dari dalam troli sambil menatap Inhi bingung.

“Ini detergen, untuk membersihkan pakaianmu,” kata Inhi menjelaskan sambil mengambil detergen dari tangan kanan chanyeol.

“Kalau ini pelembut. Dia yang membuat semua pakaianmu lembut dan wangi. Kau mau bajumu bau, huh?” Chanyeol menggeleng polos. Matanya menatap kedua produk yang di genggam inhi lalu mengangkat bahu. Dia sendiri tidak yakin mengerti apa yang gadis itu ucapkan tadi.  Inhi mengambil pelembut dari tangan kiri chanyeol lalu memasukkan kedua produk itu kembali ke troli.

Terakhir adalah bagian perlengkapan bayi. Inhi menaruh bedak, lotion, cologne, bahkan sabun bayi cair ke dalam trolley.

“Err.. Inhi, kita kan belum punya anak,” gumam Chanyeol bingung sembari menatap barang-barang yang baru saja Inhi taruh.

“Kita akan segera membuatnya, Nyeol!” Jawab Inhi asal lalu berjalan ke kasir. Chanyeol mengerjap, membiarkan Inhi mengangkat sendirian barang-barang dari dalam troli ke meja kasir. Kebetulan swalayan ini belum ramai, mengingat waktu masih cukup pagi.

“Kau serius?”

Inhi menaik-turunkan alisnya intents sambil menahan tawa. Wajah Chanyeol benar-benar konyol sekarang dan Inhi menikmatinya.

“Kau mau laki-laki atau perempuan? Apa kita perlu membeli lingerie dulu untukmu?” Tanya Chanyeol setelah lama terdiam. Di tangannya kini sudah ada beberapa kantung belanja besar.

“Astaga! Aku hanya bercanda, Yeol! Nikahi aku dulu baru kita punya anak!”

“Tsk~ kalau begitu ayo, kita menikah!”

***

“Uwaaah, rumahmu nyaman sekali!”

Inhi menatap takjub interior rumah Chanyeol. Tidak ada pendominasian warna di sini. Seolah ingin menunjukkan kalau Chanyeol bukan pria membosankan.

Ruang tamu dengan cat tosca dengan sofa cream yang mengitari meja jati di tengah. Ruang TV yang sekaligus berperan menjadi ruang keluarga. Dapur besar berbentuk melingkar dengan perpaduan warna kuning, biru, hijau, dan putih yang seolah mencerminkan back to nature. Satu kitchen-set yang memadati satu sisi dapur. Tepat di tengah ruangan itu sendiri terdapat meja bar kecil dengan 4 kursi tinggi yang mengitarinya. Sepertinya meja bar ini juga berperan sebagai meja makan mengingat tidak ada ruang makan di rumah ini. Berikut satu lemari kaca tinggi berisi botol-botol wine yang  Inhi prediksikan sangat mahal. Bagian bawah saja sudah tahun 1907, apalagi bagian atas. Inhi tahu, wine enak dan she loves it. Hanya saja, untuk meminum wine hingga mabuk dia perlu berpikir berkali-kali. Dia calon dokter, terlebih dokter kandungan. Bukankah wine terlarang di kalangan calon dokter kandungan sepertinya?

Entah apa yang berada di lantai 2, Inhi belum ke atas.

Chanyeol sudah menaruh kantung-kantung belanjaan di dapur dan kini tengah mengambil koper-koper milik Inhi dari mobil. Merasa bosan sendirian,gadis itu akhirnya memilih berada di dapur untuk menaruh bahan-bahan makanan itu di tempat yang seharusnya.

Bola matanya hampir saja meloncat keluar ketika membuka kitchen-set Chanyeol yang kosong. Tidak bisa dikatakan kosong juga sih, karena masih ada toples-toples kaca berisi gula, garam, kopi, dan teh. Sehabis-habisnya bahan makanan bukan berarti kosong begini, kan? Atau jangan-jangan memang seperti inilah pemandangan kitchen-set seorang Park Chanyeol. Satu hal yang dipikirkannya saat ini, bagaimana pria itu makan sehari-hari?

Inhi segera mengisi masing-masing bilik kitchen set itu dengan makanan makanan sesuai jenisnya. Tidak butuh waktu lama, semua bahan makanan itu sudah disusun hingga dapur ini lebih terlihat ‘hidup’. Oh, ada satu bilik di bagian ujung yang tidak dia buka sama sekali dari tadi.

Memenuhi rasa penasarannya, akhirnya dibuka juga pintu penutupnya. Lagi-lagi Inhi ternganga, bilik itu di penuhi ramen instan dengan rasa bermacam-macam. Bersamaan dengan itu dia jadi tahu dengan apa pria itu hidup sehari-hari. Makanan instan! Ewh, tidak sehat!

Berikutnya lemari es! Dibukanya freezer lalu menaruh daging sapi dan ‘teman-temannya’ ke dalam sana. Beberapa kotak Haagen Dazs bahkan seolah menyambutnya. Walaupun Inhi dokter, tapi dia suka eskrim, dan dia selalu menganggap itu makanan lumrah bagi segelintir wanita di bumi. Namun soal Chanyeol.. dia baru tahu pria workaholic juga suka eskrim. Perlu tertawa?

Lama-lama Inhi merasa jenuh berada di sini walau menyusun barang-barang setelah belanja adalah kegiatan favoritnya. Dimasukkan sisa-sisa bahan makanan yang masih ada di kantung belanja ke lemari es bagian bawah. Ehey, lagi-lagi kosong. Pantas saja dia kurus begitu.

“Inhi!”

Suara Chanyeol dari lantai 2 mau tidak mau membuat Inhi dengan terburu membuang kantung kosong ke tempat sampah dan berlari ke atas.

“Nyeol?” Gadis itu melirik ke kanan-kiri. “Di sini!” Sebuah pintu terbuka dan terlihatlah Chanyeol yang tengah menunduk membersihkan sesuatu.

Inhi mengamati sekeliling dan yakin seratus persen kalau ini adalah kamar Chanyeol. Tempat tidur ukuran king, TV plasma yang menempel di dinding lengkap dengan DVD player dan speaker, sofa panjang di satu sisi ruangan, dan terakhir 2 pintu yang saling menyerong.

“Ada apa?”

“Kau tidur denganku, ya?” Tanya Chanyeol sambil mengipas-ngipaskan bajunya. Inhi melirik AC. Benda itu menyala tapi pria ini berkeringat.

“W-What??! Kenapa harus?”

“Tidak ada kamar lagi. Aku tidak mau salah satu dari kita tidur di sofa.”

“Yasudahlah, tapi jangan macam-macam!”

Tidak sadar akan apa yang di lakukannya Inhi menarik sehelai tisu lalu membasuh wajah Chanyeol. Pria itu sendiri diam saja dengan perlakuan Inhi. Ada rasa nyaman yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya ketika jari-jari gadis itu menyentuh kulitnya di balik sehelai tisu. “Kenapa kau berkeringat?”

“Merapikan ini-itu. Memberi space untuk barang-barangmu karena kau tinggal denganku sekarang.”

“Just take it slow, hun. Bisa menunduk sedikit?”

Chanyeol menundukkan sedikit kepala dan Inhi menepuk-nepukkan sehelai tisu baru di kening pria tersebut. “Kau panggil aku apa? Hunny?” Pria itu semakin menundukkan kepala hingga membentur kepala Inhi. Tangannnya sendiri mulai melingkari pinggang gadis itu. Merapatkan tubuh mereka. I

nhi membatu di tempat dengan tangan terjulur d belakang leher Chanyeol. Bad, dia tahu, bersama pria ini kinerja otaknya melambat.

“Benarkah? Aku tidak sadar.”

“Berasa punya pacar, eh? Atau suami? Kita kan tinggal bersama.”

Chanyeol tersenyum melihat Inhi menghindari tatapannya. Walau dia kaku soal wanita, tapi dia tahu benar Inhi malu. Dan ternyata.. Menggoda wanita menyenangkan juga. Atau mungkin hanya berlaku pada gadis itu saja?

“Kau melantur! Lepas!”

No, It’s more than comfort. Sebentar lagi.”

“Memangnya kepalamu tidak pegal, huh, menunduk terus?”

I’m feeling nothing except your warm body.”

Let me out, okay? Salah-salah kau bisa menciumku, Park Chanyeol!”

Inhi mendorong halus pundak Chanyeol. Berusaha menjauhkan tubuh mereka walau rasanya enggan. Dia sendiri tidak tahu kenapa.

Like this?“. Semuanya terjadi begitu cepat sampai Inhi merasakan bibir Chanyeol berlabuh di atas bibirnya. Nafas hangat pria itu, hidung yang saling bersentuhan, hingga gerakan bibir yang pria itu ciptakan terasa bagaikan ilusi. Inhi menyumpah berkali-kali dalam ciuman mereka dan disambut kekehan Chanyeol. “Just enjoy what I give, hun,” ujar Chanyeol ketika melepas sejenak ciumannya.

Pria itu kembali menjelajahi bibir yang kini berada dalam kuasanya. Mencium, melumat, menghisap, dan melakukan apapun yang tidak pernah dia lakukan dalam ciumannya pada wanita lain sebelumnya. Sedetik berikutnya, Chanyeol jatuh terduduk di sofa ketika Inhi menggerakkan bibirnya intens. Merespon Chanyeol. Gadis itu bahkan sudah duduk di pangkuannya dengan bibir yang masih mengait. Dia tidak segan-segan membuka mulutnya, membiarkan Inhi mengeksplorasinya lebih jauh. Melingkupinya dengan kehangatan. Merasakan sensasi jantung yang berdebar begitu cepat hingga terasa ingin melompat keluar.

Inhi mengerjap. Bibir ini.. Dia mudah mengingat apa saja yang pernah ia rasakan. Dan bibir Chanyeol.. Sama persis dengan bibir pria bertopeng yang menciumnya di pesta anniversary semalam. Benarkah? Secepat inikah menemukan pria misterius yang sudah memikatnya?

Be honest, have we ever meet in a party?” Tembak Inhi langsung ketika dia melepas bibir mereka paksa yang membuat decapan menggema di kamar Chanyeol yang kedap suara ini. Chanyeol menggeram kesal, namun Inhi mengacuhkannya. Dia sedikit meringis ketika merasakan bibirnya kebas sekaligus perih.

“Kau sadar?”

“Astaga Park chanyeol, itu kau?” Jerit Inhi dengan wajah totally surprised.

“Sayangnya… iya,” jawab Chanyeol tenang dengan senyum bodoh yang terpeta di wajahnya.

“Hahh? Pantas saja semua yang ada padamu familiar. Seperti aku mengenalmu.”

Inhi menggeleng tidak percaya. Dengan mata tidak fokus, dia berdiri lalu berjalan menuju salah satu kopernya.

“Aku taruh di mana baju-bajuku?”

“Wardrobe, gunakan sebelah kanan, yang kiri punyaku,” terang Chanyeol sambl menunjuk salah satu pintu yang saling menyerong di ujung ruangan.

“Mau membantuku, tidak?”

Merasa tidak punya pilihan lain, Chanyeol ikut masuk ke dalam wardrobe dengan 2 koper di tangannya. “Aku bantu merapikan pakaian dalam saja. Di koper yang mana?”

“Cih, dasar laki-laki.”

“Hey, di koper yang mana?”

“Kalau begitu lebih baik kau keluar.”

“Hehehe, bercanda.”

Inhi meliriknya sedikit yang tengah sibuk menaruh kaus-kaus yang terlipat ke dalam lemari sekat. Merasa tidak peduli akan apa yang akan pria itu lakukan. Itu lebih baik ketimbang berada di sini sendirian.

“Pelayan di rumah eomma bilang, pakaian dan barang-barangmu yang masih di rumah lamamu akan sampai ke sini besok.”

“Apa muat?” Tanya inhi sambil menggantung gaun-gaun terusan santai.

“Apa aku perlu membeli rumah yang lebih besar?”

“Apa? Tidak, tidak! Rumah ini cukup kok untuk berdua. Jangan terlalu banyak pengeluaran,” ucap Inhi lagi. Kali ini dia mengambil salah satu koper yang berukuran lebih kecil. Dia tahu kalau koper itu berisi pakaian dalam dan koleksi lingerienya yang menumpuk di rumah.

“Kalau sudah menikah, mau tidak mau kita harus pindah.”

“Kita? Memangnya aku bilang kalau akan menikah denganmu?”

Nope, but you will. Baru begini saja kau sudah bertingkah seolah istriku.”

“Cih~.”

Inhi segera mengamankan koper kecil itu begitu menyadari Chanyeol bergerak mendekat ke sisinya. Jelas-jelas pria itu masih sibuk membantu, tapi Inhi tetap saja khawatir. Susah payah dia diam-diam membuka laci yang berada di paling bawah lalu menaruh semua underwearnya ke dalam. Menaruh koleksi lingerienya ke laci yang lebih lebar di sampingnya lalu menutupnya cepat-cepat.

“Aku melihatnya, Nona Choi.”

“Yaa! Tidak baik mengintip pakaian dalam wanita!”

Chanyeol mengedikkan bahu. “Kau suka yang bermotif begitu ya? Unik juga.”

“Shut up! Kau membuatku malu~”

“Jinjja? Bagaimana kalau nanti malam kau pakai salah satu lingerie-mu itu? Kau bilang kita akan segera membuat anak.”

No, I didn’t!”

Yes, you did. By the way, sebenarnya aku lebih suka warna hitam. Kau pasti akan lebih seksi menggunakannya.”

Wajah Inhi memanas. Padahal wardrobe ini juga di lengkapi pendingin ruangan. Dan dia yakin 100% pipinya sudah merona, mungkin terlihat sangat konyol.

“Yak~ keluar kau!” Sebelah tangan Inhi mendorong-dorong perut Chanyeol yang sedang berdiri. Jelas saja, dia dalam posisi jongkok, dan tangannya tidak cukup panjang untuk sampai ke pundak pria tersebut.

“Ini kan rumahku, hun. Masa kau mengusirku dari rumah sendiri?”

“O-oh, maaf! Aku lupa.”

***

Inhi’s POV

“Aaah.. Kenyaaaang!” Chanyeol merenggangkan kedua tangan di udara setelah menaruh piring bekas makannya di dishwasher otomatis. Aku baru sadar kalau hampir semua perabot di rumah Chanyeol berbasis teknologi tinggi. Mulai dari dishwasher tadi, penyedot debu yang bergerak sendiri, sampai mesin cuci yang mampu menakar detergen dan pelembut. Bahkan setelah berkeliling siang tadi, aku juga baru sadar kalau hampir semua gadget yang bergengsi di zaman ini ada semua di rumah minimalisnya. Tanpa bertanya pun aku yakin alasannya memenuhi rumah ini dengan berbagai ‘benda pintar’ adalah untuk memudahkannya. Semua serba instan di hidup seorang Park Chanyeol.

“Temani aku nonton ya, barca vs madrid,” ucap Chanyeol yang lebih terdengar seperti permintaan tanpa perlu persetujuan. Aku melirik jam, pukul 01.00 dini hari.

“Kau pagi ini harus ke kantor, kan?” Tanyaku lalu berhenti di sisi sofa-bed yang dia duduki. Chanyeol menatapku aneh, seolah aku baru saja mengatakan hal diluar nalar.

“Ini, kan, hari minggu.”

W-what? Ooh, y-ya I know,” jawabku tergagap. Good, apa aku terlihat konyol sekarang?

“Sudahlah. Duduk di sini,” ucap pria itu sambil menepuk-nepuk pahanya. Satu hal yang bisa kukatakan. He’s stupid.

Tak punya pilihan lain, akhirnya aku duduk di sampingnya. Bukan di pangkuannya sebagaimana dia minta. Chanyeol menatapku sebal tapi aku lebih memilih menutup mulut rapat-rapat. Tidur~ aku mau tidur, bodoh! Rasanya mataku masih berat setelah memasak dadakan tengah malam begini. Chanyeol tega membangunkanku dan bilang dia lapar. Sejujurnya aku bisa saja membuatkan ramen instan, tapi lagi-lagi mengingat hidupnya yang tidak sehat, aku rela memasak tengah malam untuknya. Biar saja Chanyeol menunggu lama. Siapa suruh membangunkanku tengah malam begini?! Sigh~

Chanyeol kemudian berbaring dan menyandarkan kepala di bantal yang berada di ujung sofa. Iri juga sih. Akhirnya aku memilih ikut berbaring di sampingnya dengan kepala yang berada di atas dada kanannya. Tidak peduli bahwa masih ada satu bantal lagi di atas kepalaku.

“Dadamu keras!” Aku mengetuk-ngetukkan kepala di atas dadanya. Sungguh, bagaimana dia bisa sekurus ini dengan hidup yang ditumpuk uang?

“Taruhan, suatu saat dada ini yang ternyaman untukmu.” Chanyeol memelukku dengan tangan kanannya. Dekapannya erat hingga membuatku mampu mencium aroma tubuhnya yang—oh my god—sangat laki-laki.

I love your fragrance,” aku-ku sambil mendongak untuk menatapnya. Chanyeol terkekeh, mengecup kepalaku lalu berujar, “I know.” Cih, menyebalkan.

“Nyeol,” panggilku lalu mengambil tangan kiri Chanyeol yang berada di atas perutnya. Memainkan tangan itu semauku. Tangan Chanyeol sangat besar, jari-jarinya panjang dan kukunya bagus. Aku beralih menatap tanganku. Oh shit, aku jadi malu sendiri. Bagaimana tidak, tanganku jauh dari kriteria tangan cantik. Telapak tangan tembam dengan jari-jari yang pendek dan gendut. Belum lagi soal kukunya yang bulat dan pendek seolah menambah nilai minus.

What?” Tanggapnya singkat.

“Eh.. Aniyo.” Aku juga bingung kenapa memanggilnya tadi. Melalui penerangan minim dari lampu meja di sampingku, aku bisa menyadarinya menatapku aneh.

“Hei, ngomong-ngomong kau belum bercerita tentang dirimu,” ujar Chanyeol tiba-tiba. Tangannya sontak meremas tanganku ketika aku usil mengait-ngaitkan jari-jarinya satu sama lain menyerupai capit kepiting. Remasan gemas itu lalu berubah menjadi genggaman hangat ketika aku menjerit.

“Kau, kan, sibuk nonton?” Tanyaku. Sebenarnya aku ingin menolak, tapi tidak enak.

“Kau tidak lihat ini masih komentar tidak penting?” Tanyanya balik dan bersikukuh. Chanyeol melepas tanganku lalu detik selanjutnya tangan itu membuka selimut yang entah dia ambil dari mana. Dia menyelimuti tubuh kami berdua hingga batas pinggang.

“Bagaimana kalau soal keluargaku saja? Kau bisa tahu aku sendirinya nanti.”

“No problem.”

Aku menarik napas dalam-dalam lalu membuangngnya keras.

“Aku punya kakak laki-laki yang tinggal di London. Aku punya adik perempuan yang sudah pernah kau temui. Appa bangkrut seperti yang kau tahu. Soal eomma.. Eomma pergi meninggalkan appa bersama mantan pacarnya.” Aku berhenti sebentar. Menarik nafas dalam-dalam berusaha menenangkan diri sendiri. Sebenarnya aku malas mengingat masa-masa kehancuran ini.

“Gara-gara appamu bangkrut?” Tanya Chanyeol kemudian ketika menyadari aku berhenti bicara.

“Bukan. Eomma ternyata  kembali berhubungan dengan selingkuhannya itu sekitar dua tahun terakhir sebelum pisah dengan appa. Entah hanya perkiraanku saja, tapi kurasa eomma menggunakan alasan kebangkrutan appa akan kepergiannya. Supaya tidak terlihat terlalu buruk, mungkin. Dari dulu sampai sekarang, aku benci orang yang selingkuh. Dan kepergian eomma seolah menguatkan rasa itu hingga titik maksimal.”

Chanyeol kembali menggenggam tanganku. Meremasnya sesekali seolah mengirimkan kekuatan lewat jemari kami yang saling mengait. Hei, kenapa rasanya aku mau menangis ya?

“Untungnya aku sudah semester akhir. Yaah walaupun kebutuhanku bertambah menjelang kelulusan, tapi untungnya aku bisa mempertahankan beasiswa. Minho oppa yang membantuku mengurus segala keperluan tambahan kuliahku selama ini. Dia sangat baik. Dia juga satu-satunya harapan keluarga. Dan kurasa.. Dengan bersamamu seperti ini aku bisa sedikit membantu appa. Yeah~ you know what I mean,” ucapku lemas. Tanpa terasa sebulir air mata jatuh membasahi pipiku. Sebelah tanganku yang bebas mengusap air mata itu cepat sebelum Chanyeol tahu. Tapi kurasa itu sia-sia karena nafasku yang memburu cepat. Disusul dengan dekapan Chanyeol yang semakin erat dan jemarinya yang menggenggamku intens. Dia pasti sadar aku menangis.

“Kau tahu, Tuhan selalu punya rencana baik di setiap cobaanya. Lagipula, kau punya aku. Mulai sekarang kalau ada perlu apapun kau tinggal bilang padaku. Katakan juga pada oppamu, mulai sekarang kau tanggung jawabku dan biarkan dia kembali merintis kariernya lagi. Kami sama-sama memulai semuanya dari awal, dan aku tahu benar bagaimana susahnya membangun semuanya sendiri,” ujar Chanyeol lembut. Sesekali dia mengecup kepalaku saat aku berusaha menahan isakan.

“Soal itu, kau bisa katakan padanya sendiri. By the way.. Don’t leave me, okay?” Tanyaku berharap. Menatap matanya yang balas menatapku sayu.

No. Never. I’m right next to you. Just keep my promise that I’ll always here, protect you with all my soul.” Dan jawabannya seketika membuatku tenang. Chanyeol membuktikan ucapannya kalau dadanya yang ternyaman. Itu benar, karena aku mendapati diriku merasa aman dan nyaman saat bersandar padanya seperti ini.

Thanks. Hei, itu dia mulai!” Ujarku sambil menunjuk layar televisi yang menampilkan lapangan hijau dengan dua tim berbeda jersey memasuki lapangan. Chanyeol mengecup bibirku sekilas lalu mengalihkan pandangannya ke layar televisi. Terhanyut di dalamnya meninggalkan aku yang didera kantuk berat. Hal terakhir yang aku dengar adalah Chanyeol berteriak “YAK, CHRISTIANO RONALDO!” dengan suaranya yang super seksi itu.

***

Sebenarnya aku tidak betul-betul tahu kenapa aku terbangun. Namun yang kurasakan pertama kali adalah kebas di tanganku lantaran tertindih badanku sendiri semalaman. Aku membuka mata perlahan-lahan, mencoba mengumpulkan nyawa dan mengenali suasana sekeliling. TV LED, sofa bed, oh ya.. Ruang keluarga.

Dingin sekali. Aku menyadari posisiku masih meringkuk seperti embrio dalam rahim. Bedanya kepalaku sudah berada di bantal sofa ketika aku bangun. Tangan Chanyeol yang semalam kuingat menyilang di bahuku kini sudah turun ke pinggang. Merapatkan tubuh kami seolah menghangatkan satu sama lain. Aku mengangkat kepala sepelan mungkin dan menemukan Park Chanyeol masih tertidur damai. Tampan!

Perlahan-lahan aku melepas tangan Chanyeol berikut menopang tubuh dengan kedua tangan kemudian menjejakkan kaki di lantai. Chanyeol bergerak sedikit hingga aku harus mematung sebentar, menunggunya kembali tenang.

“Mau kemana?” Tanya Chanyeol lirih dengan suara beratnya yang terdengar serak. Dengan berat hati aku kembali naik ke sofa lalu mengecup kening pria itu sambil mengacak rambutnya.

“Lanjutkan saja tidurmu. Aku hanya jogging sebentar,” terangku sambil berusaha melepaskan diri dari dekapan Chanyeol yang tiba-tiba.

Just hold me like this. In a hour.”

Whaaat? Astaga, aku mau olahraga, Nyeol!” Teriakku kesal.

Okay, itu tidak sepenuhnya benar karena tubuhku bahkan mulai melemah dalam dekapan Chanyeol. Tapi toh Chanyeol tidak tahu tentang itu, dan keinginanku untuk olahraga belum berubah. Aku masih menunggu sampai detik di mana Chanyeol akhirnya menggulingkan tubuh hingga berada di atasku.

“Kau mau olahraga, kan? Baiklah, kita lakukan saja olahraga yang biasanya di lakukan tengah malam. Yang dulu kasusnya hanya untuk suami-istri tapi sekarang untuk pasangan yang belum menikahpun sudah dianggap biasa.”

Mendengar penuturan panjang Chanyeol sontak membuatku diam. Satu detik kemudian aku tersadar dengan mata terbelalak. “Apa katamu? Tidak, aku tidak.. Mmph..” Tahu-tahu saja bibir Chanyeol sudah melakukan eksplorasi dalam yang aku tidak tahu kelanjutannya akan seperti apa.

32 pemikiran pada “Yours, Only Me (Chapter 2: House Moving)

Tinggalkan Balasan ke oosehun Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s