Way to Get Yours (Chapter 3)

Way to Get Yours (Chapter 3)

 

Title     : Way to Get Yours (Chapter 3)

Genre : Romance, Friendship, School Life

Length : Chapter

Rank                : G

Cast                 : Lee Jihyun|Park Yoonhee|Kim Jongin|Oh Sehun

Author : Han Min Ra aka RahmTalks @rahmtalks

 way to get yours_cover

 

=== WAY TO GET YOURS===

 

 

Jihyun’s POV

Sehun rupanya orang yang sangat menyenangkan. Aku terus tertawa sejak mulai berdansa dengannya. Kami sama-sama tidak bisa berdansa dan ia selalu mencoba mengikuti gerakan pasangan di sebelah kami. Tingkahnya lucu dan ia terlihat imut sekaligus tampan, untuk saat ini. Ia juga senang bercanda dan candaannya sama sekali tidak garing. Benar-benar hebat dalam hal ini. Tidak seperti pemikiranku selama ini karena dia terlihat dingin dan cuek.

Kami sudah lumayan bisa sekarang dan kami cukup tenang. Dia menatapku lama sekali dan ini membuatku malu. Baru pertama kali ada seorang namja menatapku dengan tatapan semacam ini. Apa yang sedang ia pikirkan? Sehun mendekatkan kepalanya di sebelah telinga kananku.

“Saranghae.” Badanku tersentak dan sekarang terasa kaku. Gerakan kami berhenti seketika. Jinjja? Seorang Sehun yang dikagumi banyak yeoja menyukaiku? Apa aku mimpi? Dia hanya main-main atau benar-benar menyukaiku? Kenapa aku? Maksudku… Aku bahkan masih menunggu Kai untuk mengatakan kata itu padaku.

Ia menarik kepalanya.

“Kau bercanda kan?”

“Aniya. Aku serius. Maukah kau….. Menjadi yeojachinguku?” Apa lagi ini? Apa ia sungguh-sungguh menyukaiku? Jika iya aku merasa iba padanya karena pada kenyataannya cintaku bukan untuknya.

“Kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Aku akan menunggumu.” Dia tersenyum tulus dan semakin membuatku tak tega.

“Kenapa? Kenapa kau memilihku?” aku mencoba menelusuri matanya namun aku tak menemukan apa-apa. Memang apa yang sedang kucari?

“Aku menyukaimu karena kesederhanaanmu.” Jawabnya singkat. Aku menepuk-nepuk pipiku dan mengerjapkan mataku.

“Aku… Aku harus pulang sekarang, ini sudah terlalu malam.”

“Akan kuantar. Aku yang menjemputmu maka akulah yang bertanggungjawab mengantarmu.” Aku hanya mengangguk menurutinya.

Di dalam mobil sama sekali tak ada percakapan diantara kami. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri dan mungkin ia juga.

Pukul sebelas. Seharusnya eonni sudah tidur, nyatanya tidak, ia masih menungguku sambil menonton TV.

“Bagaimana pestanya?”

“Menyenangkan. Kau belum tidur eoh?”

“Belum ngantuk. Karena sekarang kau sudah datang, aku jadi mengantuk. Aku tidur dulu.”

“Jaljayo.” Aku melangkah gontai menuju kamar. Perkataan Sehun tadi masih terus membayang-bayangiku. Aku melewati cermin… Aku mundur lagi untuk melihat bayanganku.

Ya Tuhan! Aku baru sadar. Pantas saja Sehun melakukan itu padaku padahal kami sama sekali tidak pernah dekat sebelumnya. Karena aku berubah, berubah menjadi lebih cantik. Sangat cantik. Huh! Kenapa malah dia yang melihatku?! Kenapa dia? Tapi setidaknya aku jadi tahu, Sehun adalah seorang namja yang mencintai wanita bukan dari hatinya melainkan wajahnya, aku yakin Kai juga begitu terhadap Yoonhee. Jadi begini rasanya mempunyai wajah nyaris sempurna yang selama ini dimiliki Yoonhee? Sangat menyenangkan. Start yang bagus dalam permainanku. Jika begini, kurasa aku sudah mempunyai jawaban untuk pertanyaanmu tadi, Oh Sehun.

 

===

 

Aku masuk ke restoran tempat dulu Sehun memergokiku yang sedang dalam keadaan malang –sakit perut dan pusing. Aku sengaja terlambat satu jam untuk mengerjai Sehun padahal aku yang membuat janji. Apakah aku jahat? Kurasa ini masih lumayan, belum masuk kategori keterlaluan.

“Mianhae. Apakah kau sudah lama?” kataku berbasa-basi.

“Tidak juga.” Aku tahu dia berdusta. Mana ada orang yang belum lama menunggu tapi sudah menghabiskan dua gelas minuman?

“Permisi!” Sehun memanggil seorang pelayan.

“Kau mau pesan apa?”

“Cappuchino saja.” lalu pelayan itu berlalu.

“Ada apa? Kau mengajakku kesini berarti ada sesuatu.”

“E… Ini tentang malam itu.” dia agak tersentak.

“Apa… Jawabanmu?” Dia bertanya pelan dan kulihat pipinya memerah.

Aku mengambil nafas dalam dan menghembuskannya, merasa yakin dengan jawabanku ini. “Aku mau.” Senyum langsung terlukis di bibir Sehun, sangat manis menurutku.

Namun sayang, kau salah memilih orang. Aku hanya menggunakanmu agar aku bisa lebih dekat dengan Kai. Mianhae.

Sore itu sampai malam aku menghabiskan waktu bersama Sehun, hanya berdua dan aku cukup menikmatinya karena dia tipikal orang yang lucu. Selain itu aku tak perlu mengeluarkan uang sepeserpun untuk semua yang masuk ke perutku. Enak sekali dikelilingi orang-orang bodoh yang bisa dimanfaatkan.

“Bagaimana hari ini? Apa kau senang?”

“Baru pertama kalinya aku menghabiskan seharian penuh bersama namja dalam waktu selama ini.”

“Terlalu lama ya? Ah, mianhae. Apa kau lelah?”

“Aniya. Aku justru sangat senang.”

Kami duduk di taman kota sambil minum soda. Menyenangkan.

 

===

 

Author’s POV

“Chukkae! Chukkae Jihyun-ah! Kenapa kau sama sekali tidak memberi tahuku?” Jihyun baru saja meletakkan tas di atas meja dan sambutan macam itulah yang didapatinya dari Yoonhee.

“Apa-apaan kau ini! Jangan keras-keras!”

“Chukkae Jihyun-ah, chukkae… Tak kusangka hubungan kalian berkembang secepat ini, padahal baru tadi malam…” Yoonhee berbisik mengatakan kalimat itu namun sudah keburu dibekap oleh Jihyun.

“Sssttt… Ini tempat umum.”

“Ini hanya di kelas.” Kata Yoonhee yang akhirnya bisa lepas juga.

“Ayolah… Jangan bicara keras-keras.” Mereka berdua menunduk dan kini kepala mereka sejajar dengan meja.

“Aku sendiri juga tidak menyangka akan secepat ini. Eh, kenapa kau bisa tahu? Apa sudah ada gosip yang menyebar?” Jihyun panik. Padahal baru tadi sore ia resmi menjadi yeojanya Sehun, jadi mana mungkin sudah ada yang tahu.

“Aniya. Sehun sendiri yang menceritakannya padaku dan ia bahkan meminta pendapatku.”

“Lalu kau bilang apa?”

“Kau baik, menyenangkan, seru, lucu, apa adanya, dan cantik.”

“Kau sedang menggombaliku ya? Huh! Tidak akan mempan.” Jihyun menjentikkan jari di depan wajah Yoonhee.

“Tentu saja. Aku yakin rayuan tuan Oh Sehun lebih dahsyat dari ini. Hahaha…”

“Hei! Hei! Jangan keras-keras, kalau sampai menyebar ke telinga para fans Sehun bisa-bisa aku pulang tinggal nama.”

“Arraseo. Tapi untuk Kai aku tidak berani menjamin ya… Dia suka bicara seenaknya.”

“Mwo?! Jebal… Lakban bibirnya sekarang juga!”

“Ha? Kau brutal sekali.” Yoonhee menepuk bahu Jihyun.

“Aish! Sehun mengapa sudah bercerita ke banyak orang?”

“Tentu saja hanya aku dan Kai. Mana mungkin hal sepenting ini tidak diceritakan pada sahabat terbaiknya. Kecuali kau, yang sama sekali tidak mau bercerita kepadaku.” Kata Yoonhee dengan nada menurun.

“Aish. Bukan begitu maksudku, aku hanya belum siap mengatakan ini padamu. Aku… malu.”

“Kenapa malu?”

“Mollayo.” Jihyun mengendikkan bahu.

“Dia yang pertama ya? Kekeke…”

“Iya.”

Mereka diam untuk beberapa detik.

“Emm… Jihyun-ah…”

“Hm?”

“Apa kau benar-benar mencintainya?” Jihyun mengangguk mantap dan diikuti perasaan lega dari Yoonhee.

‘Syukurlah! Jihyun menyukai Sehun dan artinya dia tidak menyukai Kai. Ternyata dugaanku selama ini salah. Salah besar. Mianhae Jihyun, selama ini aku berprasangka buruk padamu. Aku sangat senang mendengar kalian berdua akhirnya berpacaran, cocok.’ Batin Yoonhee.

“Kapan-kapan kalian harus mentraktirku! Kalau tidak… Awas saja.”

“Hahaha… Memangnya kau mau melakukan apa?”

“Emm… Jangan salahkan aku jika seisi sekolah tahu kalian berpacaran.”

“Ya! Yoonhee-ya!” Jihyun siap melancarkan pukulan tangannya.

“Aku pegal, aku mau duduk dengan posisi normal.” Selak Yoonhee dan begitu Jihyun duduk tegak, punggung Yoonhee terlihat semakin menjauhinya.

“Hei! Jangan kabur!”

Kini Jihyun tak sendirian lagi tiap pulang sekolah karena Sehun rela mengantarnya meskipun jarak rumah mereka cukup jauh.

“Mari masuk dulu.” Tawar Jihyun.

“Kenapa kau masih bicara seformal itu padaku?”

“Memangnya ada yang salah? Aku hanya menggunakan EYD dengan benar.”

“Ani. Maksudku kita sudah resmi berpacaran, rasanya tidak enak saja kalau bahasa kita seperti guru dan kepala sekolah.”

“Lalu apa maumu? Aku belum terbiasa Sehun-ssi.”

“Wah wah… Secepat itukah kau melupakannya? Bukankah kemarin aku sudah melarangmu menggunakan embel-embel ssi pada namaku?”

“Arraseo, Sehun-ah.”

“Nah, begitu kan lebih enak didengar. Saat berbicara denganku, samakan saja dengan pada saat kau berbicara pada Yoonhee. Kalian sangat dekat dan kalau kuperhatikan kalian sangat akur dan menyenangkan untuk dilihat.”

“Kau ingin yang seperti itu? Bergandengan dan melakukan skinship setiap saat? Jangan harap ya.”

“Hei, hei! Aku tidak separah itu. Aku hanya ingin kita merasa lebih nyaman satu sama lain.”

“Ne. Siap laksanakan kapten.” Jihyun melakukan gerakan hormat pada Sehun.

“Ya! Kenapa kau mencubit pipiku? Ini masih berharga.” Rengek Jihyun.

“Salah sendiri kau lucu dan sangat menggemaskan.”

“Memangnya aku badut?”

“Hahaha. Kau bisa saja. Baiklah aku tak bisa lama-lama, aku pulang dulu. Annyeong…”

“Annyeong… Gomawo untuk tumpangannya.”

“Bukan masalah.”

Jihyun masuk ke dalam setelah memastikan bahwa mobil Sehun sudah jauh.

“Aku menyukai anak itu.” kata sambutan yang didengar Jihyun dari kakaknya.

“Jeongmal? Eonni! Apa kau sudah tak waras? Ingat umur eon, ingat umur…” Jihyun dengan kilat duduk di sebelah Aeri.

“Aish! Bukan begitu maksudku. Aku menyukai sifat dan sikapnya, ramah, rendah hati, sopan pula, apalagi dia sangat tampan. Aku berharap hubungan kalian bisa bertahan lama.”

“Oh… Aku tidak janji ya eonni…” Jihyun mengambil majalah lama di bawah meja.

“Kenapa begitu?”

“Dia mempunyai banyak fans di sekolah.”

“Jadi?”

“Jadi? Bisa saja dia berpaling. Iyakan?”

“Tidak mungkin. Ia sangat baik dan kurasa ia sangat mencintaimu.”

“Molla. Siapa yang tahu?”

“Ya! Kenapa malah disini? Cepat ganti baju dan mandi sana!” Aeri mendorong Jihyun pelan.

“Ya kalau menyuruh tidak usah marah-marah juga. Aku heran, mengapa Suho oppa betah berlama-lama dekat dengan yeoja pemarah macam eonni? Aish, seleranya benar-benar buruk.” Jihyun menggeleng-gelengkan wajahnya.

“Ya! Awas kau!”

“Kabuurrrr!!!! Ada banteng mengamuuukkkk….” Aeri dan Jihyun kejar-kejaran kesana kemari membuat rumah jadi berantakan.

“Ya! Setelah ini kau harus kerja rodi membersihkan tempat ini!”

“Mana mungkin aku mau…“

 

===

 

Yoonhee duduk di ruang tengah sambil membaca buku catatannya. TV yang menyala keras tak dihiraukan, benda itu hanya digunakan untuk meramaikan rumahnya yang selalu sepi.

“Hah! Membuatku kaget saja. Kenapa tak ada suara sama sekali?”

“Aku menekan bel beberapa kali dan pembantumu yang membukakannya. Apa kau tidak dengar sama sekali?”

“Ani.” Kai duduk di sebelah Yoonhee.

“Wah gawat! Jangan-jangan yeoja di depanku ini hampir menderita tuli. Sebutkan apa gejala aneh yang anda rasakan akhir-akhir ini.”

“Masih saja menggodaku. Ngomong-ngomong kenapa kau kesini? Bahkan kau tak memberitahuku dulu.” Kata Yoonhee yang sebenarnya sangat senang Kai mengunjunginya karena ia butuh seorang teman, ia memang punya orang tua tapi seperti pada umumnya, seorang anak yang orang tuanya kaya raya jarang mendapat kasih sayang. Hanya pelayan yang menemani hari-harinya dan berperan seolah orang tuanya sendiri.

“Aku sedang bosan di apartemen jadi aku jalan-jalan, kebetulan aku lewat sini jadi aku main.”

“Ohh… Apa kau sudah makan malam?”

“Belum. Bagaimana kalau kita keluar? Kau pasti juga belum makan kan?”

“Belum. Tapi sepertinya Kim ahjumma sudah memasak makan malam. Lebih baik kita makan disini saja. Mau kan? Masakannya sangat enak.”

“Emm… Boleh-boleh.”

Ketika mereka tengah makan malam, orang tua Yoonhee pulang.

“Annyeonghaseyo, ajusshi, ahjumma.” Kai berdiri dan sedikit membungkuk.

“Ah, kau tak perlu seperti itu. Santai saja dan anggap rumah sendiri, bukankah biasanya seperti itu…” kata appa Yoonhee sambil tersenyum.

“Benar. Sepertinya kami mengganggu makan malam kalian, lanjutkan saja. Kami masuk dulu.”

“Tumben eomma dan appa pulang lebih awal. Kalian tidak makan dulu?”

“Kami sudah makan. Lagipula, kami tidak mau menganggu momen bahagia kalian.” eomma Yoonhee tertawa kecil.

“Eomma… Jangan menggodaku.” Yoonhee cemberut sedangkan Kai hanya senyum-senyum.

“Sudahlah, biarkan saja kedua anak ini merasakan apa yang kita rasakan dulu. Hahaha…” merekapun meninggalkan Yoonhee dan Kai.

“Jangan pikirkan perkataan eomma dan appa. Mereka selalu saja begitu.”

“Haha… Itu lucu.”

“Yang seperti itu kau bilang lucu?”

“Unik.”

“Sama saja.”

Setelah makan malam mereka asik mengobrol di depan TV. Lagi-lagi, TV yang menyala keras tidak dihiraukan oleh yang menyalakannya.

“Yoon-ah…” Kai bergelayut manja di pundak Yoonhee.

“Kau mau apa? Jika ekspresimu seperti itu pasti ada sesuatu.”

“Ah… Kau terlalu mengerti aku.” Kata Kai penuh rasa bangga.

“Sudah, katakan saja.” Yoonhee cuek dan memindah mindah channel TV.

“Sebenarnya tujuan aku datang kesini untuk memintamu mengajariku matematika. Besok aku ada ulangan, jadi…” Kai memelas.

“Kenapa tidak dari tadi? Kau jadi hanya mempunyai sedikit waktu untuk belajar.”

“Aku lupa. Tak apa-apa, yang penting ajari aku. Sampai besok pun aku mau.”

“Aish! Dasar pelupa.”

“Aku baru ingat setelah melihat lelaki di iklan tadi yang mengangkat meja besi dengan satu tangan. Dia sangat kuat.” Kata Kai mengungkapkan kekagumannya.

“Memangnya apa hubungannya?” Yoonhee mengerutkan alis.

“Pokoknya aku ingat gara-gara dia.”

“Namja aneh.”

“Biar aneh kau tetap suka kan.”

“Sudahlah, jadi belajar atau tidak?”

“Tentu saja jadi!” Jawab Kai semangat. Tentu saja semangat, di depannya ada orang yang selalu memberi energi baginya. Pertanyaannya apakah ia mampu menyerap pelajaran yang diajarkan Yoonhee, yang notabenya selalu membuat Kai tersepona? Entahlah.

 

===

 

Malam berikutnya…

Jihyun dan Sehun sedang berjalan di tepian sungai Han ketika ia melihat dua sosok yang amat mereka kenal duduk di bawah pohon.

“Kalian juga disini? Kebetulan sekali ya…” ucap Sehun.

“Hai Jihyun… Hai Sehun…” Yoonhee tak bisa menyembunyikan perasaan senangnya.

“Oi! Apa kabar pasangan baru! Kencan pertama ya?” Kai tetaplah Kai, satu-satunya orang yang baginya tiada hari tanpa menggoda Sehun. Yoonhee menyikut lengan Kai menyuruh namja ini untuk diam untuk beberapa detik saja.

Baik Sehun maupun Jihyun tak ada yang menjawab pertanyaan Kai. Terlalu sibuk menata ulang perasaan mereka yang malu.

“Sini… Duduk disini bergabung dengan kami.” Yoonhee yang seolah mengerti keadaan menepuk-nepuk tikar di sebelahnya pertanda mempersilakan mereka untuk duduk.

“Gomawo. Sedang apa kalian disini?” tanya Jihyun.

“Menikmati keindahan malam dan menghitung bintang.” Jawab Kai singkat tapi cukup untuk membuat hentakan di jantung Jihyun.

“Kalian juga kan? Kalian bisa mendapat pemandangan yang paling indah dari sini. Untuk menemukan tempat ini kami sampai menghabiskan hampir satu jam.” Ucap Yoonhee.

“Tapi benar juga. Dari sini pemandangannya jauh lebih indah.” Kata Sehun.

“Ecieeeee….. Ternyata kau pintar juga memilih tempat kencan, Oh Sehun. Pokoknya besok kau harus mentraktirku! Harus!”

“Itu masalah gampang. Kebetulan besok malam minggu, datanglah ke restoran **** akan kutraktir kalian makan sepuasnya.”

“Wuah… Gomawo Sehun-ah…”

“Kau yakin?! Wah… kau memang memang daebak. Sehun jjang!!”

“Biasa saja. Besok kau tidak ada acara kan?”

“Tidak.” Jawab Jihyun singkat.

 

===

 

Jihyun’s POV

Aish! Sudah berminggu minggu bahkan sudah hampir sebulan aku resmi berstatus sebagai Sehun’s yeojachingu. Aku juga sempat menjadi bahan bagi yeoja-yeoja untuk bergosip karena ada yang memergokiku dan Sehun sedang berkencan. Untung saja itu hanya bertahan selama satu minggu. Sebenarnya tujuan utamaku apa sih? Seharusnya aku segera mendekati Kai dan meninggalkan Sehun, tapi mengapa selama ini aku seakan lupa dengan rencana-rencana itu? Bagaimana caranya saja aku belum memikirkannya sama sekali. Aish! Jeongmal, mana aku tahu bagaimana caranya?! Sehun seakan tak pernah memberiku ruang untuk itu, dia terlalu baik dan perhatian. Tapi tetap saja aku tak mempunyai perasaan padanya, sungguh malang, harusnya namja seperti dia mendapatkan gadis yang lebih baik, seperti…. Seperti Yoonhee misalnya. Yoonhee! Ya, Yoonhee.

 

===

 

Author’s POV

“Mengapa kau mengajakku kemari? Anak-anak sudah hampir pulang semua Jihyun-ah?”

“Sudahlah, duduk disini saja aku akan menunjukkan sesuatu padamu.”

“Arraseo. Jangan lama-lama ya, Kai menungguku.”

“Aduh! Ketinggalan di kelas. Aku ke kelas dulu tapi kau tetap disini. Jangan kemana-mana!” Jihyun berlari meninggalkan Yoonhee sendirian di taman belakang sekolah.

BUK

Sesuatu seperti benda jatuh terdengar tak jauh dari tempat Yoonhee duduk.

“Aish! Merepotkan saja. Cepat berputar dan bantu aku hyung, ini sangat sakit.” terdengar suara berat dari arah yang sama.

“Nuguseyo?” Yoonhee penasaran dengan suara itu dan menghampiri sumber suara.

“Apakah ada orang? Bisa tolong bantu aku?” jawab suara itu. Yoonhee ragu, namun akhirnya ia menuju tempat itu juga.

“Astaga Chanyeol-ssi! Kau kenapa?!”

“Tadi aku dan Kris hyung sedang berlomba siapa yang lebih cepat melompati pagar tembok ini. Hehehe.” Chanyeol mememerkan tawa khasnya.

“Untuk?”

“Sebentar lagi kami akan mengikuti lomba lompat tinggi tingkat nasional, jadi dimanapun dan kapanpun kami harus berlatih keras. Itulah yang menjadikan alasan, asal ada tempat tinggi kami akan melompatinya.” Bisa-bisanya namja ini bercerita panjang lebar dengan keadaannya yang sekarang.

“Lalu?”

“Bisa kau tebak sendiri.”

“Aish! Kau ceroboh sekali. Aigoo… Lututmu berdarah. Lalu mana Kris oppa?”

“Katanya dia mau memutar dan menjemputku tapi sampai sekarang belum datang juga. Sampai kapan aku harus menunggu.”

“Mari kuantar ke UKS dan kuobati lukamu itu.”

“Ha? Tidak usah, kau pasti akan kesulitan.”

“Gwaenchana. Lihatlah, itu cukup parah dan darahmu banyak yang keluar, aku takut akan menjadi infeksi.”

“Baiklah.”

“Arrghh!”

“Rupanya kau juga terkilir.”

Chanyeol melingkarkan salah satu tangannya di bahu Yoonhee dan Yoonhee membantunya berjalan.

“Perhatikan langkahmu, sepertinya itu…”

“Sial!” Belum selesai Yoonhee berbicara, kaki Chanyeol yang tidak terlukan masuk ke dalam lumpur.

“Ck! Baru saja akan kuperingatkan.”

“Eothokke? Ini tidak bisa dikeluarkan. Jika aku berdiri dengan kaki ini maka aku akan tambah tenggelam dan jika menggunakan kaki yang ini maka kupastikan aku tidak akan kuat berdiri.”

“Tahanlah Chanyeol-ssi, aku akan menarikmu. Berpeganganlah pada pundakku agar kau tak jatuh.”

Yoonhee berjongkok dan menarik kaki kiri Chanyeol dengan susah payah karena Chanyeol sudah tenggelam lumayan dalam.

“Hana deul set!” Kaki Chanyeol berhasil keluar dari lumpur dengan susah payah dan alhasil badannya terdorong ke depan hingga menindih Yoonhee. Hidung mereka bersentuhan, jika saja Chanyeol tidak sigap menumpu badannya dengan tangan, maka dipastikan bibirnya sudah menempel pada bibir Yoonhee. Keduanya masih tak bergerak karena saking kagetnya dengan adegan yang terjadi secara tiba-tiba itu. Kemudian Chanyeol tersadar dan memundurkan kepalanya untuk berdiri.

“Mi… Mianhae…” Chanyeol berdiri dengan kondisi kaki yang sudah tak karuan sementara Yoonhee juga bangun namun masih terduduk.

“Waeyo?” tanya Chanyeol.

“Mataku sepertinya kemasukan sesuatu, pedih sekali.”

“Gwaenchana?” Chanyeol membantu Yoonhee berdiri dan meniup mata Yoonhee.

“Sudah?”

“Masih pedih, tapi setidaknya sudah lebih baik. Gomawo.”

Mata Chanyeol menatap lurus ke depan seolah menjadi patung. Yoonhee bingung dan segera berbalik. Ia melihat dengan jelas bahwa sekarang Kai sudah berada lima meter di depannya. Kai menatap Yoonhee dan Chanyeol bergantian dengan tatapan tajam dan kemudian berbalik untuk pergi.

“Kai! Dengarkan aku dulu!” Yoonhee hampir mengejar Kai namun ia mengingat sosok di belakangnya. Ia menoleh ke arah Chanyeol dengan tatapan iba.

 

===To be Continued===

 

I’ll be so happy if you wanna share your thought about my fic.

Khamsahamnida…

34 pemikiran pada “Way to Get Yours (Chapter 3)

  1. DEG!

    Berasa kesayat pisau… feelnya 100% dapet ya ampun. Sukaaaaaaaa banget sama ff ini!!!^^ ceritanya bener2 di luar dugaan dan bener2 drama:3 masih bertanya akan endingnya….. semoga si duo bertie itu ngga akan pecah hanya gara2 satu namja dengan tiga huruf (hahha) #abaikan

    DITUNGGU KELANJUTANNYAAAA!!!!!!!:3 *tebar beras
    Have a jice day authornya!!!!!!!!!!=^^=

    • Waaa~~ Kenapa kenapa chingu? Siapa yang tega melakukan itu?? *okeguelebeh
      Makasih banyak yaaah :*
      Iya semoga dua besties itu baek baek aja. Masa cuma gara” namja bocah mereka jadi rusak persahabatannya…

      OKE!! DITUNGGU YAA!! *ambil baskom, nadongin beras
      Hev e nais dey tu (Have a nice day too, red) *maklum Kris belum sempet ngasih les privat B.Inggris :3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s