You’re My (Chapter 1)

Author : flwr29

Title : You’re My [Part 1]

Cast:

  • Kim Seri (OC)
  • Park Chanyeol
  • Oh Sehun
  • and others can you find by your self..

Genre : Romance

Rating : G/PG13

Length : Chaptered

Capture

****************************

Kuucapkan hay! pada kalian semua yang udah membuka+membaca halaman ini. Pertama-tama kuucapkan terimakasih pada para admin/author disini yang udah mau mempublish ff 100% karanganku ini. Ini ff pertamaku sekaligus pertama kali langsung post disini lho ^^ Makasih juga para readers semuah.. aku cinta kalian #muahh

 

 Jangan lupa setelah dibaca, tumpahkan semua yang kalian rasakan saat baca ff pertamaku ini di kotak KOMENTAR yaa, plus like-nya juga boleh.

Tidak diperuntukkan kepada SIDERS dan PLAGIATOR serta sejenisnya!

The last…. Cekidott lah! ENJOY and HAPPY READING guys! Thanks^^

*****************************

-Seri POV-

Aku baru saja turun dari pesawat yang mengantarkanku dengan selamat ketujuanku. South Korea, itu tujuanku. Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya sesaat setelah aku menemukan tempat duduk dan tidak terlalu ramai dipenuhi orang-orang. Lelahnya selama berjam-jam aku hanya duduk tanpa melakukan apapun selai mendengarkan alunan lagu, makan, tidur, memainkan rambutku dengan jariku, juga hal lain yang membosankan, di pesawat. Aku kembali menghirup udara, mengambilnya sebanyak-banyaknya seakan aku kekurangan napas. Udara di Korea sangat berbeda dengan udara di tempat tinggalku, California. Berbicara tentang California.. aku hanya keturunan California dan mengikuti orangtuaku yang tinggal disana. Aku lahir di Korea. Wajahku pun tak ada unsur barat sekalipun. Aku kembali ke Korea karena mendapat beasiswa untuk melanjutkan sekolahku di Korea. Jadi maklumi aku yang lupa bagaimana caranya berbahasa Korea, ya.

Tunggu! Teleponku bergetar.

From : Suho Oppa

Seseorang yang bernama Suho itu—err, nama yang aneh. Jangan bilang siapa-siapa, oke? Hanya rahasia kita—menyuruhku untuk memanggilnya dengan embel-embel ‘oppa’ dibelakang namanya. Eum, apa ya artinya.. kalau tidak salah seperti panggilan kakak untuk laki-laki di Korea. Ya seperti itu!

How about Korea? Feel the new air? Eum, just pleasantries. Short, i really hate to say this but i have to say. You should independently earlier. You know what i mean, right? You can blame the teacher..

Aku tahu ini akan terjadi tanpa diberitahunya lebih dulu. Terlambat sepuluh menit bisa saja menjadi patokanku untuk membenarkan feelingku.

To : Suho Oppa

I also hate to say it

Balasan singkat tidak akan membahayakan nyawaku bukan? Baiklah, sekarang apa yang harus kulakukan.. menaiki taxi dan menyuruh sopirnya untuk membawaku kesekolah yang memberiku beasiswa yang aku sendiri tidak tahu dimana. Aku akan menanyakannya pada Suho oppa nanti setelah dijalan.

******************

-Kim Seri POV-

Is this my school? Besar. Terlihat seperti… kotak? Yang benar saja. Aku hanya bercanda. Bangunan yang disebut sekolah itu bertingkat seperti kebanyakan gedung pencakar langit dan mempunyai duplikatnya sendiri yang tidak terlalu tinggi. Sedikit menyeramkan dilihat dari sini. Hey, this is not the story of the mystery genre! Baiklah, tunggu apa lagi.. ayo masuk!

Whoa..! Kau harus berhati-hati, teman, jika tidak kau akan terpeleset, jatuh, dan terlihat konyol. Beberapa laki-laki—mungkin murid disekolah ini—terlihat berlarian dan sedikit menyenggol bahuku. Seperti yang kukatakan, berhati-hati lah, teman! Dan.. yap, orang itu menabrak pintu kaca yang berada tepat dihadapannya dengan anggun. Ya aku sedikit bersyukur karena tidak terlalu ramai disini sehingga dia tak mendapat banyak tertawaan.

Are you okay?” Aku membantunya berdiri setelah dia terjatuh saat menabrak pintu kaca tadi. Sedikit kasihan terbesit dibenakku karena teman-temannya yang meninggalkannya beserta tertawaannya yang tertinggal (?)

Nan gwaenchana.” Jawabnya sambil mengelus-elus kepalanya. Walaupun aku tak mengerti bahasanya, aku tahu dia merasakan sakit dikepalanya. Tapi aku juga tidak yakin dia berkata ‘kepalaku sakit’.

Use english, please.” Ucapku. Seketika aku melihat wajahnya saat mendongak untuk melihatku. Aku tidak bisa berbohong, dia tampan. Seketika dia diam saat melihatku. Aku melayang-layangkan tanganku tepat didepan wajahnya. Hey, aku serius aku tak punya sihir untuk membuat orang menjadi patung.

ye.. i mean, i’m fine.” Akhirnya dia tersadar. Aku takut jika aku akan dibawa kekepolisian Korea dan ditahan karena sikap anehnya tadi. Untungnya tidak jadi.

I just came from California. Can help?” Tanyaku sambil tersenyum.

Of course.” Ditambah tersenyum seperti itu, pacarnya pasti bangga mempunyai pacar yang begitu tampan.

***********************

-Kim Seri POV-

Masih jam segini. Hari juga belum berganti. Aku tak sabar menunggu esok hari datang! Aku tidak bilang aku tidak sabar untuk segera mengikuti pelajaran-pelajaran disekolah ini, lho. Setidaknya waktu bisakah kau lebih cepat untuk hari ini, aku bosan. Seharusnya aku tak datang terlalu pagi ke sekolah ini, bukanhkah aku bisa berkeliling Seoul sebelumnya. Kenapa saat itu tak terlintas dipikiranku, aish! Sampai sekarang aku hanya bisa mengelilingi gedung sekolah ini tanpa ada teman satu pun.

Aku sadar bahwa sebuah suara yang terdengar tentu saja dari telingaku menarik perhatianku. Aku mengikuti suara itu. Terus.. terus.. sampai aku bertemu suatu ruangan besar yang mungkin suatu kelas, tapi aku tak yakin karena.. bukankah ini jam istirahat siang?

Aku menempelkan diriku pada kaca jendela, mencoba melihat keadaan yang ada didalamnya. Oh, aku salah! Itu rupanya sebuah ruangan untuk latihan.. menyanyi, entahlah mereka—para sekelompok orang yang kulihat—bernyanyi sambil menari. Mereka menari dengan.. waw! Hanya itu yang bisa kukatakan sampai sekarang ini. Apakah sekolah ini mempunyai band atau grup-nya sendiri? Hey, ada Suho oppa disana! Juga seseorang yang baru kukenal pagi ini dengan kekonyolannya. Kalian ingat? Namanya Oh Sehun atau biasa dipanggil Sehun—dia bilang begitu, tadi. Oh, jadi dia satu grup dengan Suho oppa. Lagu yang mereka bawakan sedikit enak didengar yah. Apa? Aku tak tahu sebenarnya yang mereka nyanyikan, tapi mereka selalu mengulang ma.. ma.. ma.. ma.. machine.

‘Dia’ yang sedaritadi kuperhatikan menyadari kehadiranku—yang mungkin terkesan melihat acara latihan nyanyi-menari mereka dengan diam-diam. Ups! Aku segera berjongkok berharap dia tak menyadariku dan menganggap itu hanya halusinasinya. Suara musik yang sedaritadi terdengar ditelingaku sekarang berhenti. Apakah dia menyadariku? Ini benar-benar gawat!

Neo!” Apa artinya itu? Aku tidak mengerti. Aku benar-benar tidak mengerti. Aku hanya bisa menampakkan wajahku yang benar-benar terkejut saat mengetahui dirinya melihatku lalu segera pergi dari tempat itu. Beruntungnya diriku karena dia hanya mengejarku dua sampai tiga langkah dan tidak melanjutkannya. Dia.. bukan Sehun ataupun Suho oppa.

********************

-Kim Seri POV-

Next Day

Aku bercermin sekali lagi, melihat duplikat diriku yang sudah biasa kulihat dari pantulan cermin. Merapikan seragamku dan.. ah, tidak! Aku akan terlambat.

I’m going to be late on the day first. I have to hurry!” Ucapku pada diriku sendiri lalu segera berlari keluar rumah dan capcus.

Excuse me.” Ucapku diambang pintu membuat seseorang yang mungkin sudah berbicara banyak pada sekumpulan murid yang ada didepannya berhenti dan menatapku.

“Eum, someone told me that i was in this class.” Ucapku lagi.

Really? Come in!” Jawabnya, dia gurunya. Seorang wanita berambut sebahu yang menurutku jika dilihat lebih baik jika ia menjadi penyanyi terkenal. Oh, aku hanya bercanda. Kim Taeyeon, terlihat di nametag-nya.

Aku mulai memasuki ruangan yang lumayan besar dengan murid yang tidak begitu memenuhi ruangan ini dengan sistem 1 meja 1 murid, aku mengatakannya seperti itu. Aku berada tepat di tengah-tengah ruangan saat ini, maksudku paling depan. Terdengar suara guru Kim kembali menguasai ruangan ini. Aku tak mengerti namun setelah ia melihatku yang diam saja, mungkin dia tahu kalau aku tak mengerti bahasanya. Dia membisikkaku untuk memperkenalkan diriku. Aku mengangguk. Ohh, aku harus mulai darimana? Tersenyum kah?

Annyeong? Eum, My name is Seri.. Kim Seri. From now on i will join you all in this class, so let’s be friends. Thank you!” Seruku memperkenalkan diriku dengan senyuman yang sedaritadi tampak diwajahku. Setelah itu guru Kim mempersilahkanku duduk disana.. tempat yang diapit dua orang laki-laki yang salah satunya sedang mencorat-coret buku tidak jelas sambil sesekali memperhatikanku, mungkin.. aku juga tidak tahu, dan seorang laki-laki yang.. hey,, bukankah itu Sehun? Sehun menyapaku mengetahui aku yang sudah mengetahui bahwa itu memang dirinya, sambil melambaikan tangannya. Baguslah mejaku tidak jauh dari tempat meja seseornag yang telah kukenal lebih dulu.

Guru Kim kembali mengoceh ini itu membuatku hanya bisa menatapnya sambil memasang wajah bingungku. Menulis apapun yang ia katakan? Bahkan aku tak mengerti apa arti dari semua yang ia katakan. Aku hanya hapal hangul-nya saja. Tuk! Selembar kertas yang dikuel-kuel (?) menghampiri mejaku. Aku melihat sekeliling dengan waspada. Sehun mengangguk padaku. Jadi, darinya untukku..

It’s all about singing. You’re at singing class, remember?

Oh, rupanya tentang itu yang dibicarakan dikelas ini saat ini. Bahkan aku tak mengingat jadwal pagi ini adalah kelas menyanyi. Sangat ceroboh.

Hey, you. Kim Seri. What if you’re the first?” Bingo! Guru Kim menghampiriku. Apakah aku ketahuan ‘bermain-main’ dikelasnya?

Me? For what?”

Singing.” Jawabnya lalu berlalu dariku. Kuedarkan pandanganku keseluruh kelas ini dan berhenti di.. Sehun? Apa dia meragakan tubuhnya untuk menyuruhku pergi ke depan kelas. Peragaan yang jelek.

Baiklah, aku mulai beranjak ke depan kelas. Duduk di salah satu kursi yang sudah disediakan. Guru Kim menyodorkan sebuah gitar padaku, aku pun menerimanya sambil tersenyum lalu memulai acara nyanyi-menyanyiku.

Saying I love you

It’s not the words i want to hear from you

It’s not that i want you

Not to say but if you only knew

How easy it would be to show me how you feel

More than words is all you have to do to make it real

Then you wouldn’t have to say that you love me, cause i’d already know…

What would you do i my heart my was torn in two

More than words to show you feel that your love for me is real

What would you say if i took those words away

Then you couldn’t make things new just by saying i love you…

************************

-Chanyeol POV-

Sepasang bola mata yang dimilikinya, rambut coklatnya yang—mungkin—selalu tergerai, mengingatkan pada sosok misterius yang baru saja datang ke hidupku kemarin. Saat itu, aku..

Flashback~

yeah you know

Eoryeoun amho geollin geunyeo mam

Amudo pulji motage jamgin bang yeah~

Aku berjalan tanpa memerdulikan yang lain, mematikan suara yang memenuhi ruang latihan kami, saat itu. Alhasil semua tarian yang kita lakukan tadi hancur, tidak sepenuhnya karenaku, itu semua karena ‘dia’.

“Hey! Tidak baik menganggu part orang  lain!” Teriak Kai. Ya, ya, selanjutnya memang bagian Kai. Aku tetap saja berjalan menuju pintu tempat orang keluar-masuk ruangan ini, meninggalkan semua temanku yang sudah memasang wajah jengkelnya.

Neo!” Teriakku pada seorang gadis yang ketahuan sedang mengintip aku dan teman-temanku latihan. Aku tidak pernah melihatnya—fansku yang nekat melihat acara latihan kami. Dia menatap terkejut lalu langsung berlari. Aku mengejarnya hanya sampai tiga langkah, rambut coklatnya yang kujadikan patokan (?) sudah bercampur dengan murid-murid yang mempunyai rambut hampir sama sepertinya. Aku mengurungkan niatku dan kembali ke ruang latihan.

End of flashback~

Tidak salah lagi. Itu memang miliknya. Sepasang bola mata yang—sedikit—menarik perhatianku.. milik seorang Kim Seri. Suara tepuk tangan yang riuh membuatku tersadar akan pikiran-pikiran yang memenuhi pikiranku tadi. Aku tidak memperhatikan bagaimana Kim Seri menyanyi dan sekarang sudah diakhirinya dengan tepuk tangan meriah dari para ‘penonton’nya termasuk aku, juga senyumannya yang.. begitu manis, jika aku boleh jujur.

************************

-Chanyeol POV-

Sudah berhari-hari ini aku melakukan kegiatan aneh. Bukan mencuri, membolos sekolah, atau hal lainnya yang menjuruskanku ke jalan buntu, bukan sama sekali walaupun sepertinya yang kulakukan ini tidak sopan. Aku hanya.. mengamati, memperhatikan objek yang belakangan ini membuatku tidak bisa tidur dan fokus kepada apapun yang seharusnya kupikirkan. Bukan mengamati objek tugas biologi atau semacamnya. Bahkan tak ada sangkut-pautnya dengan urusan sekolah. Hanya objek-ku itu berada disekolahku. Aku juga tak tahu apa alasanku melakukan kegiatan aneh ini. Menyebalkan, mengetahui sekarang aku punya hobi seperti ini.

Pasti kalian bertanya-tanya apa yang aku maksud, kan? Beberapa hari belakangan ini aku selalu memperhatikan seseorang.. yeoja. Seseorang yang membuat pikiranku—sepertinya—mulai dipenuhi olehnya. Aku tidak tahu kenapa aku memikirkannya sampai bisa-bisanya aku selalu tidak fokus dengan beberapa kegiatan lain yang kulakukan. Saat pertama aku melihatnya, aku mulai memperhatikannya dari jarak yang tidak jauh darinya namun tidak dia sadari. Aku melakukannya hanya beberapa menit juga hanya sebatas sedikit penasaran dengannya. Hari-hari berikutnya aku menambah waktu untuk memperhatikannya. Aku pun hanya memperhatikannya jika dia sedang benar-benar tanpa teman bersamanya. Hari-hari berikutnya lagi pikiranku mulai dipenuhi olehnya. Aku sendiri tidak tahu penyebabnya, aku hanya berpikir bahwa itu efek karena aku selalu mengikuti perintah otakku yang menyuruhku memperhatikan yeoja itu. Seperti saat ini, aku sedang mengamati objek-ku yang eum.. cantik itu, disaat ia sedang membaca suatu buku yang ia bawa.

Ya! Sebenarnya kau mendengarkanku atau tidak, ha?” Sebuah suara yang tak asing lagi didengar olehku sukses mengacaukan lamunanku. Aku hanya diam menatapnya, begitu juga dengannya yang menunggu respon dariku—mungkin.

Ya, tadinya aku dan Suho hyung bersama-sama ke tempat ini, kantin, entah untuk apa, toh kita hanya duduk sampai waktu telah berlalu sampai 8 menit kita sejak sampai disini. Namun sepertinya aku sukses membuat misi awal kita hancur dengan lamunanku yang menghabiskan waktu.

Aish~ Kau! Bagaimana bisa, aku menjelaskan ini, itu, ini, panjang lebar denganmu tapi kau begitu saja tidak mendengarkanku. Apa kau tidak memikirkan diriku yang harus mengulang ide cemerlang untuk penampilan grup kita nanti saat jadi debut, yang baru saja kusampaikan padamu. Ya! Kau menyebalkan.” Suara Suho hyung yang seperti kereta yang berlalu dengan cepat tanpa jeda sedikitpun, terdengar.

“Kau berkata apa, sih?” Ujarku masih dengan tatapanku yang masih tertuju pada yeoja itu. Kulihat dia semakin frustasi dengan mengacak-ngacak rambutnya yang semula tertata rapi sekarang menjadi berantakan dan harus ditata ulang.

Aku kembali mengamati objek-ku yang sempat terganggu.

“Ah jadi dia yang membuatmu memperlakukanku seperti ini.” Ucap Suho hyung. Dengan cepat aku menoleh padanya.. khawatir mengetahui aku yang diam-diam memerhatikan Seri. Dia tersenyum licik.

“Seri-ya! Kemari.” Teriaknya pada Seri, objek-ku sejak beberapa hari yang lalu, sambil melambaikan tangannya. Kulihat ia—Seri—mencari sumber suara yang memanggil namanya, lalu melambaikan tangannya setelah menemukan lambaian tangan seorang Kim Suho.

Mwo? Bagaimana seorang Kim Suho yang terkenal pendiam atau selebihnya diam terhadap orang-orang yang tidak penting dalam hidupnya, bisa terlihat dekat bahkan sangat dekat dengan seseorang siswi baru yang—sepertinya—belum pernah mengenalinya. Apa hubungan mereka, sebenarnya? Berhentilah berdetak dengan hebat, jantung! Orang itu ingin menghampiri Suho hyung.. bukan kau. Aish! Apa artinya ini? Aku menyukainya? Lucu sekali!

“Suho oppa!” Serunya saat sudah sampai dihadapanku juga Suho hyung. Kulihat Suho hyung dengan cepat merapihkan rambutnya yang tadi diacaknya sebelum Seri bernar-benar sampai dihadapannya, tepatnya kami.

“Temanku ingin berkenalan.” Ucap Suho hyung. Pandangannya yang semula tertuju pada Suho hyung, kini tertuju padaku. Aku pun melempar tatapan tajam pada Suho hyung, seakan-akan berkata ‘kau akan mati setelah ini, hyung!’. Aku tersenyum menghadapi Seri.

“Chanyeol-ah?” Ucapnya membuatku terfokus padanya. “Kita tak perlu mengulang perkenalan lagi, bukan?” Lanjutnya. Kulirik sedikit Suho hyung yang tersenyum karena telah berhasil mempertemukanku dengan Seri, sedikit wajah terkejutnya terlihat. Huh.

“Oh ne, itu benar.” Jawabku sambil mengangguk.

“Namamu sudah awet dipikiranku, jadi tak usah berkenalan lagi dan lagi. Haha!” Tawanya beriringan dengan detak jantungku yang semakin berdetak lebih cepat seakan ingin punya ruang lebih luas. Aku sedikit terkejut dengan tanggapannya itu. Namun segera kutepis dan ikut tertawa bersamanya.

“Lelucon apa yang dia buat, ha? Haha.” Ujarku sambil menepuk punggung Suho hyung. Dia—Seri—tertawa dengan bebasnya tanpa ada hambatan. Tentu saja karena dia tidak sedang mendengarkan detak jantungmu yang aneh hari ini, Chanyeol! Dan tertawa palsu sepertimu.

“Kami ada kelas. Kajja, Chanyeol-ah!” Ucap Seri. Aku jadi teringat bahwa sebentar lagi ada kelas.

Mwo? Kalian sekelas?” Suara Suho hyung yang sedaritadi tidak terdengar, akhirnya terdengar setelah mengetahui kami berdua sekelas. Suho hyung terlihat terkejut sangat. Wae? Kau terkejut, hyung? Haha.

“Aku harus pergi sekarang.” Ucap Seri lagi diakhiri dengan memeluk Suho hyung. Suho hyung juga kembali memeluknya. Betapa bahagianya mereka, apakah mereka ber.. pacaran? Kenapa rasanya aku ingin memisahkan mereka? Arrghhh! Aku benar-benar tidak mungkin sedang jatuh cinta dengannya.

“Chanyeol-ah? Kau cemburu denganku karena lebih dekat dengan Seri?” Sial! Suho hyung melihatku mengepalkan tanganku dengan erat.

Ani!” Sergahku.

“Sudahlah. Kalian seperti anjing dan kucing yang merebutkan makanan. Kajja, Chanyeol-ah!” Ucap Seri membuatku langsung pergi dari tempatku berpijak sebelumnya.

Ya! Tunggu aku.” Teriaknya. Kusadari dia begitu jauh dariku, padahal tadi kami ingin berangkat bersama. Arrghh! Mereka—Seri dan Suho hyung—membuatku kesal setengah mati karena perlakuan mereka memeluk satu sama lain didepan umum bahkan dihadapanku.

“Bukankah kita akan berangkat bersama? Kenapa kau meninggalkanku, huh.” Ucap Seri saat sudah mensejajarkan dirinya denganku.

“Apa hubunganmu dengan Suho hyung?” Tanyaku. Aish~ Kenapa pertanyaan itu gampang sekali terucap olehku.

Mwo?” Matanya semakin bulat jika sedang terkejut. Lucu sekali. “Ah, aku tak akan mengambil Suho oppa-mu. Jadi, tenang saja.” Lanjutnya sambil tersenyum. Ya! Kau kira aku ini mencintai juga ingin menikahi Suho hyung itu? Pikiran apa yang ada diotakmu, ha?

“Apa hubunganmu dengan Suho hyung?” Tanyaku lagi meminta jawaban yang tepat. Ada apa denganku?

Mwo? Kami dekat, tentu saja.” Jawabnya datar. Ah, mereka dekat rupanya. Apa aku cemburu? “Wae?” Tanyanya.

“Kita sudah sampai.” Jawabku. Untung saja pintu kelas ini menyelamatkanku dari pertanyaannya yang akan membunuhku.

***********************

-Chanyeol POV-

Hey, ini hari minggu! Sedikit bebas untuk hari ini, itu peraturannya, termasuk untuk bangun lebih siang dari biasanya. Yah~ rupanya aku sukses mengawali pagi, eum.. sebenarnya siangku dengan bangun telat. Tapi tidak terlalu siang juga untuk mengawali hari ini. Bukankah ini hari Valentine? Apa aku perlu memberikan coklat pada Seri?

Hmm, kemana kakiku akan membawaku hari ini, ya? Tunggu! Apakah aku sedang mengikuti salah satu adegan sinetron yang sering kali kalian tonton, seperti “tunggu!” untuk terkejut melihat atau mendengar sesuatu. Hey, aku sedang tidak bercanda dan tidak sedang mengajak kalian bercanda. Benar-benar ‘tunggu’. Oh, apakah kalian tidak mengerti apa yang kumaksud? Maafkan aku.. Tapi aku mendengar suara seseorang dari arah sana, tepat saat aku sedang berjalan-jalan dengan anjingku.

“Tidakkah aku terlihat rapi? Jujur aku tak tahu harus memakai apa.” Suara seorang gadis.. yang sepertinya kukenal.

Kuharap itu bukan ‘dia’ yang sepertinya sedang mendiskusikan kemana mereka—dia dan seseorang—akan memulai harinya, bersama. Yah aku hanya.. hanya bisa berharap itu bukan ‘dia’ yang akan memulai hari bebasnya dengan seseorang yang sangat kukenal, sahabatku, Oh Sehun. Tapi, aku tidak beruntung hari ini. ‘Dia’ yang berdiri berhadapan dengan Sehun, memang ‘dia’. Kim Seri. Seorang gadis yang tanpa sadar membuatku mulai mennyukainya, dengan tingkah polos juga apapun yang ada pada dirinya. Sedikit sesak, ya?

“Lebih dari rapi, itu yang kutahu.” Jawab seorang Oh Sehun sedikit dilebihkan jika aku boleh berkomentar.

Mereka mulai berjalan menjauhiku yang sedang bersembunyi tidak jauh dari tempat mereka berpijak tadi. Mereka berkencan? Haha. Harus kupastikan mereka tidak melakukan kata-kata terlarang diantara mereka itu. Jadi plannya seperti ini, aku mengikuti mereka. Cukup jahat… ya.

********************

Apa mereka mengetahui aku yang sedang membuntuti mereka? Seharusnya mereka tak membiarkanku menunggu mereka yang seenaknya saja ‘memaksaku’ untuk membuntuti mereka, sedangkan mereka bermain lari-larian bersama anak-anak kecil yang lucu itu ditaman bermain untuk anak kecil, selama mungkin sebelum merekas merasa lelah. Sayangnya anak kecil seperti mereka tidak mengenal kata ‘lelah’, mereka hanya berpikir bermain sangat menyenangkan, bermain adalah sesuatu yang harus dilakukan setiap waktunya tanpa ‘lelah’ menempel ditubuh mereka. Menyebalkan.

Mwo? Mereka duduk berdua di tempat duduk yang telah tersedia di sudut taman bermain itu, bersama seorang anak laki-laki yang duduk diantara kalian, meminum dengan riang minuman yang baru saja mereka beli. Hey, Sehun-ah, apakah kau ingin membuat semua orang yang melihat kalian berpikir bahwa kalian keluarga baru yang sangat bahagia lalu membuatku cemburu serta kesal padamu? Kau pria yang romantis, itu cita-citamu, ha?

*****************

Aku masih mengikuti mereka yang sepertinya asyik sekali menikmati waktu berduaan hari ini, dengan jarak yang tidak terlalu jauh dan tidak diketahui mereka pastinya. Hahh, aku sangat lelah hari ini mengikuti mereka seharian! Bahkan sebentar lagi menjelang sore. Mereka? Mereka asyik saja makan di restaurant.. sedangkan aku hanya duduk sambil memegang tali yang menghubungkan dengan anjingku itu dan dengan secangkir cappucino karena aku tak membawa banyak uang. Mereka tidak memikirkanku yang lapar, huh. Cepatlah kembali berjalan!

*****************

Seharusnya kau kerjai saja mereka! Mereka harus mendapat balasan karena membuatmu membuang waktumu juga patah hati seperti ini~

Eum, bener juga kata evil itu! Seharusnya aku kerjai saja, ya? Kenapa aku menjadi bodoh seperti ini.

Andwae! Itu tidak baik~ Kalau ketahuan, gadis cantik itu akan menjauhimu.. itu akan lebih membuatmu sakit hati..

Tapi.. angel itu ada benarnya juga. Sebaiknya aku mengikuti angel itu saja~

Mwo? Apa-apan kau, angel sok suci, ngasih nasihat kagak bermutu seperti itu. Ngajak ribut kau, huh? Ayo, kesini!

Lho? Si evil napa tuh?

Tidak bermutu? Kau lebih tidak bermutu! Ayo! Aku akan mengalahkanmu evil jelek!

Mana ada angel menjulurkan lidah seperti itu? Aish~ Aku terlalu larut dalam pikiran anehku! Lupakan, lupakan, lupakan. Hilanglah kalian makhluk aneh! Oh? Itu Kim Seri muncul dibalik pohon taman dekat rumahku. Aku sengaja duluan kembali ke rumah saat aku mengetahui mereka akan pulang saat itu juga, agar mereka tidak mengetahui kalau aku mengikuti mereka. Eh, kenapa Seri sendiri? Dimana Sehun? Dia tak mengantar Seri sampai tempat mereka bertemu—taman yang tidak terlalu jauh dari rumahku—lagi? Jahat sekali. Aku segera menghampirinya. Seri, ayolah, tunjukkan senyumanmu! Jangan memasang wajah bingung, atau apalah, seperti itu.

Ya!” Seruku sambil ngos-ngosan (?) karena habis berlari.

“Oh, hey.” Terlihat betapa terkejutnya dia mengetahui diriku yang tiba-tiba didepannya. Hanya senyuman singkat, setelahnya. Sebaiknya aku tak menanyakan tentang apa yang terjadi.

“Rumahmu disekitar sini?” Tanyaku hanya sekedar basa-basi. Dia terlihat mengerutkan dahinya.

“Eum… tentu saja. Maksudnya rumah kakakku, aku hanya menumpang.” Jawabnya sambil memberi kutipan diudara dengan jari-jarinya. Senyuman kecil muncul diwajahnya setelah itu. Aku menyukainya. Dia begitu cantik saat tersenyum seperti itu.

************************

TO BE CONTINUED

************************

AHAHA~ how? 😀

Hope you enjoy this!

Write all that you feel when reading this in my first fanfiction coments box~ Also write down criticism and advice! 😀

Waiting for continuation of the story~ Thanks for reading..

Iklan

9 pemikiran pada “You’re My (Chapter 1)

  1. bagus thor ceritanya tapiiii rada kebanyakan chanyeol’s side nya hehe coba pas sehun sama seri kencan itu dikasih tau juga mereka lagi ngobrolin apa gitu thor kan ikutan penasaran (?) . pokoknya oke deh ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s