Initially Just a Stranger (Chapter 1)

Author: Mingi Kumiko

Cast: Nagisa Park and Kim Jong In

Genre: Marriage life, family, and romance.

Rating: PG-17 (Untuk Part 1 sih kayanya masih agak sedikit aman._.)

Leght: Chaptered

 

Aku terduduk miring di kasur empuk yang terhias oleh bunga-bunga yang cantik. Memunggungi seorang lelaki berpostur tinggi nan kekar yang mulai malam ini sudah resmi berstatus sebagai suamiku. Ya benar, suamiku.

“Fuuuuhhh…” kuhela nafas dan mengumpulkan segenap keberanian untuk berbalik dan memposisikan tubuhku pada kasur, sebagaimana mestinya. Mendadak aku tertegun, lelaki itu juga tengah berbalik, dan tak sengaja kami saling bertatapan. Langsung saja kupalingkan pandanganku ke sudut lain.

 

Kusandarkan tubuhku yang masih berbalut pakaian pengantin, begitu juga dengannya –suamiku– yang masih memakai tuxedo.

Sudahkah kuperkenalkan diriku? Nagisa Park, umur 21 tahun. Mahasiswa dan seorang cosplayer yang tak pernah absen menyabet juara di setiap ada event ataupun pelombaan cosplay. Selain itu, aku juga seorang fotografer. Ya walaupun job-ku masih belum terlalu banyak sih…

 

Tentang namaku… Nagisa, terdengar aneh untuk orang Korea, ya? Mamaku orang Jepang, dan papa seorang pribumi. Aku juga sempat tinggal di Jepang saat usiaku 18 tahun. Dan mulai dari sana lah, aku tertarik dengan dunia cosplay.

 

Lalu bagaimana asal muasal hingga aku bisa menikah dengan lelaki berkulit gelap yang diberi nama Kim Jong In ini?

Tentu saja, PERJODOHAN!

Takdir yang tak pernah terbayangkan, apalagi kuharapkan.

Aku sama sekali tidak dekat dengan lelaki ini, orang tua kami saja. Satu-satunya waktu di mana aku berbicara dengannya itu ketika orang tua kami janjian untuk acara makan malam. Itu pun hanya saling tanya nama. Masing-masing dari orang tua kami sudah sangat sering merekomendasikan untuk kencan, tapi kami dengan kompak menolak.

 

Hingga waktunya sudah habis, kami sama sekali tak diberi celah untuk memberontak. Mama hanya berkata bahwa, Jongin adalah pria mapan dengan masa depan yang jelas, dan aku akan bahagia menjadi istrinya.

O ya? Bagaimana bisa aku bahagia dengan lelaki yang sama sekali tak kukenal. Mengajakku bicara sampai detik ini pun ia tidak sama sekali.

 

Baiklah, sudah cukup menyesali takdirnya. Apa boleh buat, sekeras apapun aku menolak, perjodohan ini tak akan bisa diganggu gugat. Melawan kehendak orang tua itu memang tidak ada gunanya.

 

Lama saling bersandar di kasur dan hanya berdiam-diaman, aku pun berinisiatif untuk ganti baju. Tidak mungkin kan, aku tidur dengan gaun pengantin yang sangat ribet ini?

Saat berjalan menuju kamar mandi sambil membawa pakaian ganti, kurasakan sepasang mata yang memandangi punggungku. Aku ini memang sangat peka. Tapi ya sudahlah, apa peduliku?

Aku pun keluar dari kamar mandi setelah mengganti gaun pengantin dengan piyama. Kemudian, aku menuju kasur, memiringkan badan, menarik selimut, memejamkan mata, dan berusaha terlelap. Istri yang kejam, sama sekali tak peduli pada suami. Kekeke~

“Betapa kejamnya kita telah dikutuk,” terdegar suara tersebut dari pria di sebelahku ini. Telingaku langsung terasa panas, sekali saja dia bicara, tapi langsung membuat goresan kecil di ulu hati. Aku pun lagi-lagi menghela nafas, mencoba menimpali ucapannya barusan.

“Diamlah, jangan ganggu orang tidur, bagiku itu perbuatan kriminal.” ucapku, ya… aku sangat tidak suka diganggu ketika tidur, kecuali di pagi hari ketika aku bangun kesiangan untuk kuliah.

 

Selang waktu beberapa menit setelah ucapanku barusan, tak ada lagi suara yang mengiang-ngiang di telingaku. Rupanya dia lelaki yang tak suka berdebat. Baguslah!

Kurasakan sedikit gerakan pada selimut yang melapisi bagian pinggang sampai kakiku. Sepertinya, Jongin sedang mencoba untuk tidur berselimut juga.

Sudah satu jam lamanya aku memejamkan mata, tapi sampai sekarang aku belum juga tertidur. Pasti ini gara-gara aku yang melewatkan salah satu kebiasaanku sebelum tidur, minum susu. Sebelum tidur aku selalu minum susu dan tak pernah melewatkannya. Tak kusangka jika terlewatkan akibatnya semenyiksa ini. Aku ingin cepat tidur dan melupakan malam ini!!!

 

Aku bangkit dari tidur, menuju dapur untuk mendapatkan segela susu.

“Mau ke mana, Nagisa?” tanya Jongin dengan nada yang, hmmm… lembut?

“Aku mau membuat susu. Aku tidak bisa tidur.” jawabku.

“Sama,” katanya.

“Maksudmu?”

“Aku juga tidak bisa tidur tanpa minum susu terlebih dulu. Tapi aku belum membelinya. Jadi sepertinya kau tidak bisa membuatnya walaupun pergi ke dapur.” ujarnya. Kenapa dia? Kelembutannya membuatku simpati.

“O, begitu. Sebentar ya, aku akan mengobrak-abrik tas, siapa tahu ketemu susu bubuk.” balasku dan melakukan apa yang barusan kukatakan.

 

Akhirnya kutemukan juga sebuah kaleng susu bubuk. Wah, akhirnya…

Tapi, kenapa enteng sekali? Kucoba buka isinya, dan benar saja, isinya hanya setara dengan takaran untuk ¾ gelas. Malangnya hidupku…

“Kenapa kau pajang ekspresi seperti itu?” tanya Jongin.

“Susunya tinggal sedikit, untuk segelas saja tidak cukup.”

“Hmmm, begitu ya. Ya sudah, cepatlah ke dapur dan buat.”

“Maksudmu, untukku sendiri?”

“Tentu saja.”

“Jongin-ssi, aku tahu kok, mungkin tidak akan mau. Tapi… aku bisa membaginya setengah denganmu. Bagaimana?”

“Hey, benarkah?” tanya Jongin, dan kulihat selengkung senyuman melintas di wajahnya. Aku pun mengagguk.

 

Selepas membuat susu dari dapur, aku pun kembali ke kamar dengan tangan yang membawa segelas susu.

“Bagaimana kita meminumnya?” tanya Jongin.

“Emmm… Kau duluanlah!” jawabku sambil menyerahkankan gelas itu.

“Kau saja, kau kan ist–”

“Apa kau bilang?”

“Eh, tidak, aku tidak bilang apa-apa. Ya baiklah, aku yang duluan. Oke, tunggu ya, kau tunggu aku minum. Oke? Tunggu!” kata Jongin terbata-bata. Dasar pria aneh!

Jongin pun meneguk susu putih buatanku itu dengan semangat, aku jadi khawatir ketika dia kebablasan minum dan akhirnya tidak tersisa susu untukku.

 

“Ini!” katanya sambil kembali menyodorkan susu yang barusan ia minum padaku. Kuperhatikan sejenak, ia menyisakan benar-benar sangat sedikit. Aku pun meneguknya dengan hati yang sedikit jengkel.

DZIG!

“Uhuk! Uhuk!” sial, aku tersedak!

“Hey, hati-hati kalau minum!” ucap Jongin sembari menepuk-nepuk pundakku.

 

Aku pun meletakkan gelas yang sudah kosong itu di meja kamar ini. Aku terlalu ngantuk untuk kembali ke dapur.

“Besok sudah siap?” tanya Jongin saat aku berusaha menarik selimut.

“Siap apa?” aku balik bertanya.

“Bulan madu, maaf, biar kuralat, liburan kita berdua.”

“Kau tidak bercanda?”

“Apa kau tidak tahu? Baru saja orang tuamu mengirimiku pesan. Katanya kita disuruh ke puncak besok. Perlengkapannya juga sudah mereka siapkan dan diantar besok.”

“Iya.. iya.. itu namanya bulan madu.”

“Aku tidak memaksamu mengatakan seperti itu, kok!”

“Astaga… kenapa mereka terlalu sibuk ikut campur dalam urusan rumah tangga kita. Itu terlalu menyebalkan!”

“Mau tidak mau kita harus beradaptasi. Sekarang kau istriku dan aku suamimu. Walaupun kita masih belum kenal, aku punya tanggung jawab terhadapmu.”

“J… Jongin-ssi…” desisku terbata-bata karena terpaku oleh ucapannya barusan.

“Kau ini, jangan memanggil suami sendiri seperti atasan. Panggil aku… Hmmm, entahlah bagaimana sebaiknya. Jongin oppa, kurasa itu nama yang manis. Aku lebih tua tiga tahun darimu, ‘kan?” jelasnya dengan stay cool. Aku pun mengangguk karena tak sanggup menimpali ujarannya.

 

“Tapi… kenapa tadi kauberkata perjodohan ini adalah kutukan, huh?!” tegurku.

“Siapa yang bilang aku mengatakan hal itu untuk perjodohan ini? Tadi aku sedang membaca sms dari temanku, dia orangnya puitis gitu deh… Haha, GR!” jelas Jongin oppa. Jadi begitu? HYAAAAA… pasti pipiku sudah bersemu merah karena saking malunya! >_<

“Ah, begitu ya… Maafkan aku. Habis, dari tadi sikapmu dingin, kukira kaumenyindirku.”

“Tidak. Ya sudah, tidurlah! Siapkan dirimu untuk besok.”

 

***

Tok! Tok! Tok!

Terdengar suara pintu depan yang diketuk sangat keras. Haduh, siapa sih? Mengganggu tidurku saja, kriminal! Kuusahakan bangun, kuregangkan sejenak otot-ototku dan tak sengaja aku melihat Jongin oppa yang masih tertidur. Kalau tidur wajahnya datar ya?

 

Aku pun bergegas menuju pintu depan untuk membukanya. Saat kutarik ganggangnya, aku melihat, ternyata mama dan ibunya Jongin oppa yang datang.

“Nagisa, baru bangun ya? Di mana Jongin?” baru saja pintunya kubuka, aku langsung dijajali pertanyaan oleh ibunya Jongin oppa.

“Dia ada di kamar.” jawabku.

“Bagaimana semalam?” tanya mama.

Dzig!

Semalam? Apa maksudnya… sesuatu yang berhubungan dengan permainan sexual?

“Semalam itu… hmmmm, ya, semalam baik-baik saja. Hehehe.”

“Syukurlah, kami harap kalian akan langsung membuahkan cucu untuk kami.”

Benar kan apa yang aku pikirkan? Itulah maksud mereka!

Padahal aslinya malam kemarin aku dan Jongin oppa hanya berdiam-diaman –tidak melakukan apapun– saat tidur.

 

“Ada apa ini ribut sekali?” tanya seseorang dari belakang, aku pun berbalik. Ternyata yang barusan bertanya itu Jongin oppa –yang masih– dengan wajah ngantuknya.

“Jongin… kau masih belum siap-siap juga? Bagaimana sih kalian ini, jadi berangkat tidak?!” omel mama. Ya ampun, serius sekali sih dengan pernikahan ini? Hanya hal sepele saja, mereka sudah berapi-api.

“Ya, baiklah. Aku mandi dulu ya!” ucapku yang ingin menghindari celotehan berlanjut kedua ibu ini.

“Sebentar, sebelum kau mandi, kami akan berikan tiket keretanya.”

“Hah, KERETA?!” kagetku.

“Iya, tidak ada bandara di sana.”

“Kenapa tidak bawa mobil saja, Jongin oppa bisa menyetirm, ‘kan?”

“Memang bisa, tapi dia sering tersesat di perjalanan yang jauh. Memangnya kau mau, tidak kembali ke rumah ini setelah asyik berbulan madu?” setelah mendengar penjelasan itu, aku pun menoleh ke belakang, menatap Jongin oppa dengan pandangan sinis.

“Hehehe…” Jongin oppa hanya membalas tatapan itu dengan tawa tak berdosa.

 

“Sudah ya? Jam 9 tepat kalian harus ada di stasiun.”

“Iya, bu…” sahut Jongin oppa yang sedari tadi hanya diam di belakang, tiba-tiba saja ia juga ikut berdiri di ambang pintu.

“Apa tidak mau masuk dulu?” tanyaku, basa-basi.

“Tidak, nanti kalian terlalu lama bersiap-siapnya. Berikan kami cucu setelah pulang ya!”

 

Hening…

Untuk saling berpandangan saja kami canggung, nah ini malah menyuruh kami bergaul.

“Iya, bu! Itu gampang, nanti saja dipikirkan. Sekarang kami mau mandi dulu. Hati-hati di jalan ya, mama juga,” sahut Jongin oppa. Kemudian orang tua kami pun bergegas meninggalkan rumah, mempersilahkan kami mandi.

“Kau atau aku dulu yang mandi?” tanya Jongin oppa.

“Aku saja ya?”

“Oke. Cepatlah! Aku beli susu dulu.”

“Jangan! Kau belum mandi, nanti orang-orang berpikiran aku tak becus mengurusi suami. Setelah mandi aku akan membelinya. Kau santai saja, atau lakukan aktivitas apalah gitu…”

 

Seusai mandi, seperti kataku pada Jongin oppa barusan, aku bergegas membeli susu, agar nanti malam kami berdua sama-sama bisa tidur.

.

.

 

Kami pun sudah siap dan yakin kalau barang bawaan kami tidak ada yang kurang.

“Sudah mau jam 9 nih, buruan pergi yuk!” oceh Jongin oppa.

 

***

Di dalam kereta, aku hanya mendengarkan iPod. Jongin oppa menyebalkan sih! Masa sedari tadi dia hanya sibuk dengan iPad-nya. Ajak aku bicara, kek!

 

Jongin oppa menyentil pelan lenganku, aku pun menoleh, mengangkat kedua alisku, mengisyaratkan pertanyaan ‘ada apa?’

“Ini beneran kau?” tanya Jongin oppa sambil menunjuk sebuah foto dari layar iPad-nya.

“Iya, itu aku.” jawabku membenarkan pertanyaan Jongin tentang sebuah foto cosplayer yang tak kuketahui ia dapat dari mana.

“Beda sekali ya, kaupintar merias dirimu!”

“Apa yang kaukatakan seperti meremehkanku saja, maksudmu apa, huh?!”

“Canda ya, hehehe… By the way, kenapa kausuka melakukan hal aneh semacam itu?”

“Aneh kau bilang? Kalau aku sukanya seperti itu, orang lain bisa apa?”

“Iya, iya… Maaf! Tapi kauharusnya kurangi yang seperti itu.”

“Kenapa?”

“Kau kan sudah jadi istriku. Baiklah, lupakan kalau kita ini terlibat perjodohan dan tidak saling mencintai. Tapi ya, harusnya kausadar diri lah… saat kau ber-cosplay di sebuah event atau perlombaan, pastinya kauakan diperhatikan banyak orang, belum lagi kadang kaumemakai baju yang mini. Paha, perut, leher, dan bagian yang harusnya hanya kauperlihatkan padaku –suamimu– malah sudah dilihat orang lain.

Aku tidak suka barang bekas.” tuturnya panjang lebar, santai, dan kalem. Tapi untukku itu sangat menyakitkan, sungguh aku sama sekali tidak paham. Jin macam apa yang merasukinya sampai dia berani berkata seperti itu?

 

Aku pun diam, terhenyak dengan ucapan Jongin oppa barusan. Kita baru menikah kemarin dan dia sudah bicara seperti itu. Sekarang aku bingung,

haruskan aku marah?

Atau malah meminta maaf dan menurutinya?

Tapi ini dunia yang kusukai, cosplay. Ini sudah seperti pekerjaan bagiku.

 

“Kenapa kau diam? Merenungkan apa perkataanku barusan ya?” tanya Jongin oppa menggoda.

“Kau diam saja! Aku malas bicara denganmu,”

“Ya sudah, kau pikir aku tidak bisa bersikap tak acuh padamu?”

 

Suasana tegang pun menyelimuti kami.

 

Hal itu berlangsung hingga kami sampai di stasiun tujuan.

 

***

Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya kami sampai juga di villa tempat kami menginap untuk beberapa hari ke depan.

Saat memasuki ruang kamar, terlihat ada dua kasur di sana. Siip! Dengan begitu aku tak perlu tidur seranjang dengan lelaki berkulit gelap itu!

 

Aku lelah sekali, jadi aku langsung membaringkan tubuhku di ranjang itu. Waaah, kasur ini sangat empuk dan nyaman!

CLECK!

Terdengar suara pintu yang tertutup. Aku pun menoleh. Sekarang aku sendirian di kamar ini. Dia… meninggalkanku tanpa izin? Cih, menyebalkan! Tapi mau ke mana dia, padahal baru sampai, masa langsung keluar?

Apa dia mau kabur dan tak kembali diam-diam?

Mana boleh seperti itu. Jadilah, kuikuti derap langkahnya. Baiklah, untuk sekali ini saja aku jadi penguntit.

 

Aku terus membelakanginya, sesekali ia merasa curiga dan menoleh ke belakang, dan dengan cepat aku langsung sembunyi di balik pohon. Untung saja lokasi tempat kami berbulan madu ini daerah pegunungan.

 

Jongin oppa lagi-lagi memberhentikan langkahnya, kali ini cukup lama.

“Keluarlah, aku tahu sedari tadi kau di belakang untuk membuntutiku…” katanya. Pasti tertuju padaku. Tapi aku tidak mau mengaku, dia ‘kan tidak menyebut perkataan itu untuk siapa.

“Nagisa Park…” lanjutnya. Baru saja aku berpikir kalau Jongin oppa tak akan menyebut namaku, ternyata itu malah terjadi. Dengan sedikit rasa takut yang menyelimuti, aku pun keluar dari balik pohon.

Kutatap sekilas smirk-nya yang meremehkan itu. Sekarang aku malu sejadi-jadinya.

“Khawatir padaku ya, sampai bela-belakan jadi penguntit? Sepertinya tadi kaukelelehan deh!” sindirnya.

“Bukan apa-apa, ya sudah, aku kembali saja ke villa. Bye!” sambarku dengan sinisnya.

 

Aku berbalik, tapi Jongin oppa langsung meraih tanganku dan menarikku.

“Santai dong! Canda… Tidak apa-apa kok kalau kau mau ikut jalan-jalan denganku.” katanya hangat.

“Mau kupanggul? Aku tahu kau lelah, karena… omelanku tadi di kereta, mungkin?”

“Tidak tuh!” aku pun memalingkan muka dengan wajah cemberut.

“Ya, oke! Tapi tak mungkin menolak dipanggul olehku, ‘kan?” katanya, kemudian berjongkok dan langsung menarik pahaku agar naik ke punggungnya.

“Jongin oppa, GYAAAAA!!!! TURUNKAN AKU!!!!” jeritku menolak dengan keras, menggeliat agar ia menurunkanku dan membiarkanku berjalan sendiri.

“Tidak mau, wleeekk… :P” responnya yang malah mengejek.

 

Apa boleh buat, menggeliat pun tidak ada gunanya. Aku pun melingkarkan tanganku di lehernya dan menopang kepalaku pada bahunya pula.

“Kalau kau diam begini kan enak… Daripada sok jual mahal seperti tadi, kita kan sudah sah.” ocehnya. Sudah sah? Sungguh dua kata itu sangat mengganjal.

Oppa diam saja! UZA!”

“Jangan berbicara padaku dengan bahasa yang tidak kumengerti, kebiasaan!”

“Ya maaf…”

 

Jongin oppa terus saja berjalan menyusuri jalanan yang tak pernah absen terdapat semak di setiap pinggirannya. (Bayangin aja gimana taman di Dora The Explorer)

Kini ia mulai memasuki hutan yang lumayan lebat.

“Baru saja aku mendengar rumor dari warga sini. Kalau kita terus berjalan menyusuri hutan ini, kita akan melihat sesuatu.” celoteh Jongin oppa. Aku pun langsung terhenyak oleh kalimat barusan.

“Hah, melihat apa?”

“Hantu.” jawabnya singkat.

“Hummm, apa orang yang berdandan seperti hantu untuk melakukan sebuah ritual keagamaan?” tanyaku dengan sedikit gemetaran.

“Bukan, bukan. Hantu sungguhan.” jawabnya lagi.

“APA?!”

“Wujud mereka seperti manusia dan menghantui hutan ini.”

 

BUG!

Terdengar suara yang tak kuketahui asal dan sumbernya. Aku mulai begidik ngeri.

“Kita sudah dekat dengan tempat itu.” kata Jongin oppa lagi.

“Seminggu yang lalu, ada pengrajin kayu yang sedang mencari kayu di hutan ini. Karena terlalu asyik mencari kayu, dia tidak sadar hari sudah mulai gelap.

“Dan ia melihat bayangan putih melintas di bawah pohon dekat dengan jalan yang ia lalui. Sampai sekarang, pengrajin kayu itu tak kunjung kembali. Pasti karena bayangan putih itu.”

 

Aku makin begidik. Namun, sejenak aku berpikir. Kalau sampai sekarang pengrajin kayu itu belum kembali, dari mana warga bisa tahu kalau pengrajin kayu itu melihat bayangan putih? Harusnya kan, pengarajin kayu itu pulang dengan selamat, baru bisa bercerita kalau dia melihat bayangan putih. Surely, that is just a fiction!

Aku pun pura-pura takut saja dan langsung melupakan suara aneh yang tadi kudengar. Kuedarkan mataku ke segala arah, iseng saja, sih!

 

Tiba-tiba kulihat sebuah benda berwarna putih yang melintas.

“J… Jong… In… Oppa… Aku melihat putih-putih i… itu…” ucapku terbata-bata karena panik.

“Kau… jangan bercanda!”

“Tidak, turunkan aku!!!” pintaku mengerang, dan akhirnya berhasil, aku bisa turun dari punggung Jongin oppa. Segeralah aku berlindung di balik bahunya, sambil sesekali menengok ke depan, tempat benda putih itu berada.

“I… itu… di sebrang sana…” kataku sambil mengarahkan jariku ke tempat benda putih yang menyeramkan itu berdiri. Jongin oppa menoleh, dan ia pun terkejut.

“Ini tidak mungkin, aku kan cuma bercanda… Ini bohong, ‘kan?” Jongin oppa tak kalah merindingnya denganku.

 

To Be Continue…

Gimana chapter 1nya? Ketjeh apa membosankan?

Maaf kalau ada typo, tapi beneran deh, ini udah seteliti mungkin.

Part terakhir itu terinspirasi pas aku liat Sword Art Online episode 10. Yang udah nonton bisa kali ya nebak chapter selanjutnya ==”

Sampai jumpa di chapter 2! ^^

Iklan

44 pemikiran pada “Initially Just a Stranger (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s