The Conqueror (Chapter 8A)

Annabel’s Present:

The Conqueror [Sec.8A; Voyeurism?]

Cast: Kim Jong In [EXO], Song Airi, EXO, et al.

Genre: Schoollife, Romance and Family.

Rating: General || Length: Series

Disclaimer : Aku bertemu dengan sesosok malaikat. Sepasang mata cokelat bening yang berhasil membuatku benar-benar menyukainya. Lelaki itu adalah Kai. Semenjak bersekolah di Hannyoung, hari-hariku selalu memiliki kisah dengannya. Kai membuatku nyaman dan aksi penyelamatan Kai yang membuat rasa kagumku bertambah. Dia cinta pertamaku.

Apakah perasaanku padanya sungguh nyata? Apakah Kai benar-benar menyukaiku? Apa yang akan Kris lakukan mengetahui ketertarikanku pada Kai?

Dilema itu semakin memuncak saat sesuatu yang besar dan mengerikan terjadi. Ketika aku meragukan cinta seorang Kapten Sekolah.

‘Jam dua, gudang sekolah lantai tiga. Ada yang ingin kubicarakan. OSH’

 

 

.

.

 

 

Airi’s POV

 

Pintu depan dibuka sebelum aku sempat mengetuk. Natt berdiri di sana, alisnya berkerut tanda ia khawatir. Kris duduk dengan wajah dingin di ruang tamu. Sosoknya yang diam tampak seperti tokoh dalam lukisan. Di sisi lain, aku terkejut dengan kepulangan Natt dan ingin menghambur memeluknya. Tetapi dalam keadaan biasa, aku langsung merasa beralah melihat reaksi mereka seperti ini. Aku malah membayangkan Kai dan suaranya terngiang-ngiang di telingaku. Dan aku masih ingat sentuhan tangannya yang kuat di punggungku saat ia mengajakku masuk ke TOM N TOMS. Begitu juga wangi parfum yang dipakainya.

Jauh di lubuk hati, aku tahu Kris mengetahui ketiadaanku segera setelah aku turun melalui balkon. Ia juga bisa menduga aku ke mana dan dengan siapa aku pergi. Mungkin terpikir olehnya untuk mencariku, tapi niat itu dilupakannya. Karena baik ia maupun Natt tidak ingin mengundang perhatian publik.

“Seharusnya kalian tidak menungguku. Aku baik-baik saja,” kataku. Tanpa disengaja, kata-kata itu terkesan terlalu santai dan sembrono, tidak menunjukkan bahwa aku menyesal. “Maaf jika aku membuat kalian cemas.” kataku setelah memikirkan kesan yang ditimbulkan ucapanku sebelumnya.

“Tidak, kau tidak menyesal, Airi,” kata Kris dengan suara pelan tanpa menoleh kepadaku. “Kalau kau menyesal, tentu kau tidak melakukannya.” Aku benci sekali, ia tidak mau melihatku.

“Kris, kumohon,” kataku, tetapi ia membungkamku dengan isyarat tangan.

“Aku paham benar dengan situasimu saat ini. Dan sekarang kau telah membuktikan kepada kami, kau benar-benar tidak konsisten.” Ekspresi Kris seperti orang yang baru saja menelan pil pahit. “Kau masih muda dan tidak berpengalaman. Auramu lebih hangat dan kau juga lemah dibanding kami. Aku sudah menduga ini akan terjadi, tapi aku tetap ingin selalu melindungimu. Kau harus mengerti bahwa hanya itulah yang bisa kulakukan untukmu. Sekarang aku tahu kau telah mengambil keputusan. Kau memilih khayalan sesaat ketimbang keluargamu.” Mendadak ia berdiri.

“Bisakah setidaknya kita membicarakan masalah ini?” tanyaku. Semuanya terkesan sangat dramatis, dan aku yakin ini tidak akan terjadi seandainya aku bisa membuat Kris mengerti. Lebih dari sekedar mengerti.

“Tidak sekarang. Sudah malam. Lagi pula, Natt baru saja pulang. Setidaknya kita tidak boleh membuat kepulangannya seperti ini. Jadi, apa pun yang ingin kau katakan, sampaikan besok pagi.” Kemudian ia meninggalkan kami.

Natt menatapku. Matanya melebar dan ia tampak sedih. Aku tidak suka jika malam ini berakhir dengan pahit. Terutama karena beberapa saat lalu aku sangat bahagia.

“Maafkan aku, Natt,” menundukkan kepala, aku merasa mataku menjadi basah. “Aku selalu membuat kekacauan di sini.”

Natt berlari kecil menghampiriku. Ia tidak berkata apa-apa, hanya membawaku ke dalam pelukannya. Mungkin Natt tidak sanggup berkata-kata atau mungkin saja ia sedang memikirkan kata-kata untuk meyakinkanku bahwa Kris memang benar.

“Kalau saja Kris tidak bersikap seperti peramal malapetaka seperti ini.” kataku.

Tiba-tiba saja Natt tampak lelah.

“Oh, Airi, jangan berkata seperti itu. Perbuatanmu malam ini keliru, meskipun kau belum mengerti. Kau tidak akan mau mendengar nasihat apa pun sekarang. Tetapi setidaknya berpikirlah sebelum segalanya menjadi tidak terkendali. Kau akan sadar bahwa semua ini tidak lebih dari khayalan belaka. Perasaanmu terhadap anak itu akan berlalu.”

Natt dan Kris hanya asal bicara. Bagaimana mereka berharap aku mengerti masalahnya kalau mereka sendiri bahkan tidak bisa mengucapkannya? Aku tahu, kepergianku bersama Kai sedikit keluar dari agenda. Tetapi apakah itu kesalahan besar? Apa artinya aku terbebas dari penculik itu dan merasakan menjadi remaja jika aku berpura-pura semua itu tidak berarti? Berlawan dengan pandangan kedua kakakku, aku tidak ingin perasaanku terhadap Kai berlalu. Itu hanya membuatnya seperti influenza atau virus yang akhirnya keluar dari tubuh kita. Belum pernah aku merasakan hasrat yang menggebu-gebu untuk berada di samping seseorang seperti ini. Sebuah peribahasa yang pernah kubaca, melintas dalam pikiranku. “Hati menginginkan yang dihasratinya.” Aku tidak tahu siapa yang menciptakannya. Tetapi siapa pun ia, pastilah benar. Seandainya Kai adalah penyakit, maka aku tidak mau sembuh. Seandainya ketertarikanku melanggar hukum, maka biarlah. Aku tidak peduli seandainya turun hukuman untukku.

Natt beranjak ke kamarnya sehingga aku hanya berdua saja dengan Hunter. Sepertinya secara naluriah anjing itu tahu apa yang kubutuhkan. Ia datang dan menggosok-gosok belakang kakiku dengan hidungnya, berharap aku akan membungkuk dan membelainya. Setidaknya ada satu penghuni rumah ini yang tidak membenciku.

Aku ke lantai atas dan melepas baju. Kubiarkan saja pakaian itu tergeletak di lantai. Aku tidak mengantuk, malah terjebak dalam perasaan terperangkap. Kemudian aku ke kamar mandi dan membiarkan air hangat membasahi bahu dan melemaskan otot-ototku yang kaku. Kuangkat kepala sehingga air pancuran mengalir di wajahku. Natt memintaku memikirkan perbuatanku. Tetapi sekali ini aku tidak ingin berpikir, hanya ingin mengalami.

Aku mengeringkan badan dengan asal-asalan, lalu naik ke tempat tidur meski tubuhku masih lembap. Sungguh, aku tidak ingin menyakiti perasaan Natt dan Kris. Tetapi hatiku berubah menjadi batu setiap kali memikirkan bahwa aku tidak akan bertemu lagi dengan Kai. Aku berharap ia ada di kamarku. Aku tahu apa yang akan kuminta. Mengeluarkanku dari penjara. Aku hanya menyeret situasi ke melodrama. Tetapi aku tidak bisa mengentikannya. Bagaimana aku menjelaskan kepada keluargaku bahwa Kai hanya pemuda yang membuatku jatuh hati? Kami hanya beberapa kali bertemu dan satu kali berkencan. Bagaimana aku meyakinkan kedua kakakku bahwa kemungkinan terjadinya pertemuan semacam itu sangat kecil, sekalipun aku tinggal di bumi selama seribu tahun?

 

.

.

 

Tidak ada yang mengangkat permasalahan ini keesokan paginya atau sepanjang sisa akhir pekan. Segala sesuatu di dalam rumah begitu tidak asing. Cahaya putih dari sinar matahari menyembul melalui jendela—terpantul di lantai kayu, pola cakar kaki Hunter berbekas di tempatnya di samping sofa, dan buku-buku seni klasik yang disusun secara cermat oleh Natt, juga majalah dekorasi interior di meja kopi berkaki rendah.

Aku benci jika harus mengalami perjalanan dengan kebisuan ketika Kris mengantarku ke sekolah.

Untungnya persiapan untuk menyambut hari seni nasional membuat pikiranku beralih. Susah payah aku melupakan wajah sedih Natt ketika melihatku tampak tidak bersemangat serta sorot mata tajam Kris saat menurunkanku di gerbang Hannyoung . Mungkin ia berusaha mencari wajah Kai di antara murid-murid yang berlalu-lalang. Aku sangat bersyukur Kris langsung pergi setelah menyadari kelompok cheerleaders atas kehadirannya.

Setelah membantu menempelkan spanduk-spanduk, mengecat papan, dan membantu Jihyun mendata beberapa nama murid yang ikut menyumbang setidaknya satu bakat untuk ditampilkan di panggung. Aku jadi tersadar dengan kolaborasiku dengan Kai. Kami bahkan baru mempersiapkan itu dengan dua kali pertemuan. Mungkin aku harus menemuinya nanti.

Kali ini saat makan siang, aku duduk bersama ketiga temanku di lapangan, menghabiskan bekal makanan kami dengan beberapa percakapan yang menurut mereka penting. Pembicaraan mereka kebanyakan mengikuti satu pola. Sekarang, aku merasa sudah hapal garis besarnya. Apalagi kalau bukan tentang sekolah, pria, dan orangtua.

“Kau yakin perasaan Sehun benar terhadapmu?” kata Jihyun sambil mengigit buah apel yang sengaja diberikan oleh anggota osis untuk kami semua.  “Bukan apa-apa. Tapi kau tahu kan, Kai beserta pengikutnya tidak pernah tidak memainkan perasaan wanita.”

“Hei, Jihyun-ah. Kau berkata seolah-olah oppamu juga sama seperti mereka.” Haemi yang tidak terima, mengarahkan kulit kacang ke arah Jihyun.

“Ya, pacarmu pengecualian.” sergah Jihyun, sedikit mencibir.

“Mengapa kau selalu melibatkan Kai setiap kali kita mengangkat pembicaraan tentang pria?”

Jihyun menoleh menatapku, tidak percaya dengan apa yang kutanyakan barusan. “Kau bercanda? Kai itu pria paling kejam daripada pria kejam lainnya. Ibarat dia adalah seorang pembunuh berdarah dingin, ia akan membunuh kita semua, wanita. Wajar kalau aku selalu menghubung-hubungkan dengan pria tidak berwajah seperti dia.”

“Teganya.” kekeh Haemi. Merasa kalimat Jihyun adalah sebuah lelucon.

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Rasanya mustahil jika aku memberitahu soal gadis bernama Haneul  kepada mereka. Mungkin saja Kai menceritakannya karena berpikir aku tidak akan membocorkan rahasia itu kepada siapa pun. Tetapi, tidak adil jika Jihyun atau orang lain memiliki pandangan bahwa Kai adalah pria yang kejam dan dingin. Padahal mereka tidak tahu sama sekali apa penyebabnya.

“Sehun tidak seperti itu,” Nara membuka mulutnya. “Aku kenal betul ia pria seperti apa. Ia bahkan belum pernah sekalipun berpacaran.” Aku melihat senyum Nara terukir sesaat ketika membayangkan wajah Sehun yang manis tersenyum padanya.

“Ya, Ya, Oke. Mungkin, mungkin saja Kyungsoo dan Sehun tipe lelaki setia,” Jihyun mengeluarkan lidahnya seperti ingin muntah. “Sisanya? Yang satu pembunuh berdarah dingin, yang satu playboy, satunya lagi Voyeurism.”

Voyeurism?”

Jihyun mengangguk sambil melemparkan kulit kacang ke samping. “Benar. Ingat ya, Voyeurism itu berbeda dengan Frotteurisme.” katanya, tertawa. “Apalagi dengan Transvestic Fetisisme.”

Necrophilia lebih menyeramkan.” kata Haemi.  Sambil membayangkan arti di balik kata yang begitu asing di telingaku, mereke berdua memasang wajah menjijikan dan berseru. “Iiihhh…”

Menggeleng-gelengkan kepala, Nara beralih mengambil botol minum dan membukanya. Tampak tidak tertarik sama sekali dengan pembicaran Jihyun dan Haemi.

“Sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan?” Aku bertanya dengan rasa ingin tahu.

“Kami sedang membahas beberapa macam penyakit sek—”

Nara lekas menyikut Jihyun, berharap gadis itu tidak melanjutkan penjelasannya kepadaku. Baru aku sadari bahwa aku benci menjadi orang yang tidak mengerti apa-apa.

“Maaf, Airi. Tapi aku yakin kau tidak akan pernah mau mengetahui tentang hal ini.” kata Nara, menunjukkan senyum menyesal.

Apa pun itu aku rasa ia benar. Ada dimana persoalan yang tidak seharusnya kita mengetahui itu. Well, alasan ini mungkin bisa kuterima. Dengan sedikit ragu, aku mengangguk tersenyum. Percakapan pun beralih ke hal yang lebih santai. Jihyun membeberkan pengalamannya semalam di Facebook sementara aku memasukkan buku. Sepertinya pria yang disebut-sebut sebagai Park Do Bi oleh Jihyun itu tidak hanya memberikan pelukan dan ciuman yang lebih dari biasanya. Dan Jihyun ingin memastikan  apakah hal itu bisa menjadi tanda bahwa hubungan mereka akan memasuki fase baru. Nara dan Haemi begitu meresapi ungkapan Jihyun, sedangkan aku tidak tahu banyak apa yang di bicarakannya. Karena Kris dan Natt tidak begitu menyukai dan sedikit menyingkirkan berbagai terknologi ‘pengalih perhatian’ dari rumah kami. Tetapi aku berhasil menganggukkan kepala pada waktu-waktu tertentu, dan sepertinya tidak ada yang menyadari kebodohanku.

“Bagaimana kau bisa membedakan perasaan seseorang secara online?” tanyaku.

“Jangan bodoh, kan ada emotikon,” jelas Jihyun. “Tapi tetap saja kita tidak bisa tahu banyak. Apalagi ia menyembunyikan identitas wajahnya. Kau tahu tanggal berapa sekarang?” tanyanya. Temanku ini memang punya kebiasaan melompat-lompat dari satu topik ke topik lain tanpa pemberitahuan.

“Tujuh Maret,” kata Haemi.

Jihyun mengeluarkan diari saku berwarna merah muda. Dengan pekikan senang, ia menyilangkan tanggal itu dengan spidol. Nara dan Haemi yang begitu menyadari ekspresi Jihyun, ikut menggumamkan sesuatu.

“Tinggal delapan puluh empat hari lagi.” Jihyun mengumumkan. Wajahnya memerah saking gembiranya.

“Untuk?” tanyaku.

Mereka bertiga menatapku dengan rasa tidak percaya.

Prom, dasar payah! Hari yang kutunggu-tunggu seumur hidupku.” jawab Jihyun. Biasanya aku tersinggung karena ia menggunakan kata payah. Tetapi tidak butuh waktu lama bagiku untuk menyadari bahwa gadis-gadis di sini menggunakan kata hinaan sebagai bentuk rasa sayang.

“Tidakkah masih terlalu dini untuk memikirkan itu?” tanyaku. “Masih tiga bulan lagi.”

“Ya. Kami tahu. Tapi itu acara sosial terpenting dalam tahun ini. Harus direncanakan sejak jauh-jauh hari.” jelas Nara.

“Mengapa?”

“Kau sungguh-sungguh tidak tahu?” mata Haemi membelalak. “Itu jenjang kehidupan. Satu-satunya peristiwa yang akan kau kenang selain pernikahan. Sesuatu yang benar-benar hebat. Pada malam itu, kita seperti putri.”

“Kedengarannya asik.” kataku. Dan secara tiba-tiba, aku langsung memikirkan Kris. Jika itu adalah suatu hal tentang pesta, apakah aku harus memutuskan untuk tidak ke prom, apa pun akibatnya? Atau sebaliknya?

“Kira-kira, kau ingin pergi dengan siapa?” Jihyun membuyarkan lamunanku.

“Tidak tahu,” kataku mengelak. “Bagaimana denganmu?”

Well,” Jihyun memelankan suara. “Hyeri bercerita kepada Jooyeon bahwa ia telah menguping pembicaraan Park Jungkook. Ia berkata kepada Lee Taemin bawha Kim Taehyun berencana mengajakku!”

“Wow,” kataku, berpura-pura paham setiap katanya. “Hebat.”

Nara dan Haemi yang tampak terkejut dan tentunya sangat paham, menunjukkan rasa senangnya pada Jihyun.

“Aku tahu!” pekik Jihyun . “Tapi jangan katakan pada siapa pun. Kalau tidak, aku bisa terkena nasib buruk.”

Jihyun tersenyum dan melingkari suatu tanggal pada pertengahan bulan Mei di agenda sekolahku. Ia membuat gambar hati besar dengan pulpen merah sebelum aku bisa mencegahnya. Ia mengembalikkan  buku itu dan kami kembali melahap makanan yang ternyata belum tersentuh sedikitpun.

“Jatuh cinta itu rasanya bagaimana?” kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku. Ekspresi wajah mereka bermacam-macam.

“Percaya padaku, rasanya tidak enak.” Jawaban Jihyun penuh penekanan. Seolah-olah aku memang harus mempercayainya.

Haemi tidak setuju. Ia melotot kepada Jihyun. “Tidak ada apa pun di dunia ini yang lebih indah dari cinta.” katanya, menyakinkan.

Senyum Nara terlihat sedih. “Itu adalah hal paling menakjubkan dan mengerikan yang pernah bisa terjadi kepadamu,” katanya dengan bersahaja. “Kau tahu bahwa kau telah menemukan sesuatu yang luar biasa, dan kau ingin berpegangan pada itu selamanya. Setiap detik setelah memilikinya, kau takut dengan momen ketika kau mungkin kehilangan hal itu.”

Haemi mendesah pelan. Jihyun bergeming, terlihat diam-diam sangat membenarkan perkataan Nara.

“Cinta adalah rasa takut yang indah.”

Walaupun pengalaman jatuh cinta belum pernah kualami, tapi aku sepenuhnya setuju dengan Nara. Ia lebih tahu segalanya ketimbang diriku. Persoalan cintanya yang rumit membuatnya terlihat lebih tenang dan dewasa akhir-akhir ini. Kami semua senang melihatnya tidak bersedih lagi. Aku begitu bersikeras memahami ini semua, sampai-sampai ketika aku memikirkan cinta sosok Kai muncul dalam benakku.

Apa yang kurasakan saat bertemu dengan Kai bisa disebut jatuh cinta? Tiba-tiba aku mengingat jantungku yang berdetak cepat ketika bertemu Kai. Semua sentuhannya, dan setiap senyumannya yang ia berikan padaku. Aku tidak mengerti perasaan apa ini. Mengapa aku merasakan sesuatu yang berbeda ketika bersama Kai.

Pikiranku menjadi begitu naïf hingga aku merasa ingin pergi dari sini. Temanku-temanku sedang menghabiskan bekal selagi aku mengatakan ingin ke perpustakaan untuk mencari sebuah buku.

“Ihh, Airi, hanya orang kuper yang nongkrong di perpustakan,” kata Jihyun. “Jangan-jangan ada orang yang kaulihat di sana.”

“Dan kita sudah mendapat tugas riset yang menyebalkan sehingga harus menghabiskan periode kelima di sana.” keluh Haemi.

“Tugas apa, ya?” tanya Jihyun. “Bukankah ada hubungannya dengan politik di Timur Tengah?”

“Di mana Timur Tengah?” tanya Haemi, sambil mengikat rambut lalu menggulungnya ke atas sehingga seperti mahkota.

“Wilayah di sekitar Teluk Persia,” kataku. “Memanjang hingga ke Asia barat daya.”

“Kau salah, Airi.” Jihyun tertawa. “Semua orang tahu Timur Tengah itu di Afrika.”

 

.

.

 

Alih-alih ke perpustakaan , aku menuju area musik dan ruang latihan dengan harapan bertemu dengan Kai.

Area musik adalah bagian tertua di sekolah ini. terdengar alunan lagu dari aula. Kubuka pintunya yang tebal. Aula itu luas, dengan atap tinggi dan foto para kepala sekolah berjajar di dinding. Chen-ssaem berdiri di depan partitur, memimpin paduan suara junior. Kabarnya, kelompok paduan suara menjadi popular semenjak Chen dan Xiumin songsaenim datang. Kebanyakan anggota barunya adalah para siswi. Begitu banyaknya yang mendaftar sehingga anggota senior terpaksa latihan di auditorium.

Chen-ssaem sedang mengajarkan salah satu himne favoritnya yang terdiri dari empat harmoni, diiringi piano yang dimainkan oleh Xiumin-ssaem. Aku begitu menikmati kelompok paduan suara sehingga tidak menyadari seseorang berada dekat di sampingku.

“Menaruh minat untuk bergabung dengan mereka?”

Aku menoleh dan mendapati seseorang berpakaian santai—tersenyum kepadaku.

“Kai?”

“Kebetulan kau di sini. Sejak tadi aku mencarimu.” katanya.

Dengan terkejut aku berkata. “Mencariku?”

Kai menganggukkan kepala. “Ayo, kita harus latihan. Waktunya tidak banyak.” Ia mengisyaratkan aku untuk berjalan keluar mengikutinya.

“Hei, tunggu,” Aku berlari ke sampingnya. “Aku harus mengganti sergamku dulu.”

“Tidak perlu.”

Tidak butuh waktu lama lagi bagi jari-jari Kai yang cekatan untuk segera menarikku mengarahkan langkah kami ke ruang latihan. Untungnya hanya sedikit murid yang sedang berada di area koridor ini. Jadi aku sangat bersyukur dengan tidak mendapatkan tatapan menilik seperti beberapa hari yang lalu.

Sesampainya di ruang latihan, Kai memutuskan untuk mengunci pintunya. Jangan tanya kenapa karena aku tidak boleh menanyakan soal ini dengan Kai. Setelah menaruh barang-barangku, Kai sudah memulai pemanasan. Aku mengamatinya saat ia mengajarkan beberapa gerakan baru dengan seksama. Dalam hati aku bertanya-tanya, mengapa Kai begitu bersemangat dan menikmati tariannya. Aku yakin, tidak ada yang bisa terlihat begitu penuh pesona dibandingkan dirinya sekarang.

Aku mengelas napas dan mulai mengikuti dengan canggung. Tiba-tiba aku teringat kencan waktu itu. Bagaimana bisa Kai bersikap biasa saja padahal aku setengah mati menahan rasa gugupku?

Setiap gerakan memiliki kesulitan masing-masing. Awalnya aku merasa tidak yakin, tapi Kai selalu menyadariku untuk tidak pesimis sebelum mencoba. Kai sedikit berdeham ketika kami sudah memasuki ke gerakan yang lebih… intim. Bukan, bukan, bukan. Kami tidak melakukan apa pun. Kai hanya melingkarkan satu tangannya ke sekitar pinggangku dan yang satunya lagi menggenggam tanganku ke atas. Ia bilang, kami harus berlatih tanpa musik sekarang. Dan aku tidak bisa terima itu. Bagaimana jika bunyi detak jantungku terdengar olehnya?

“Kau belajar dengan cepat,” katanya, melepaskan semua sentuhannya ditubuhku. “Aku percaya kita bisa melakukannya.”

“Bagaimana kau melakukannya?” tanyaku untuk menutupi kebingungan. Aku heran kenapa ia bisa setenang itu. Apakah Kai tidak merasakan apa yang kurasakan saat bersamanya?

“Melakukan apa?”

“Membuat choreo dengan begitu mudahnya.” Aku berbohong. Lagi.

Kai mengangkat bahu. “Muncul begitu saja. Hei, aku hampir lupa. Aku ingin mengembalikan sesuatu.” Ia mengeluarkan sebatang bulu putih panjang yang diselingi warna merah muda dari dalam tas nya. “Aku menemukan ini tersangkut di motorku semalam. Setelah mengantarmu pulang.”

Aku menerima bulu itu dan menyelipkan di antara sampul buku milikku yang tergelatak di lantai. Aku tidak tahu mengapa bulu itu tersangkut di motor Kai, karena aku sudah menggantungnya baik-baik di tas.

“Jimat keberuntungan?” tanya Kai, mata cokelatnya mengawasi wajahku dengan penuh rasa ingin tahu.

“Semacam itu,” jawabku hati-hati.

“Sepertinya kau resah. Ada sesuatu yang tidak beres?”

Cepat-cepat aku menggeleng dan mengalihkan pandangan. Tidak ada yang bisa membuatku memikirkan hal lain selain melirik pantulan diriku yang duduk berdekatan dengan Kai.

“Kau bisa mempercayaiku.”

“Sejujurnya, aku belum tahu itu.”

“Kau akan tahu jika kita lebih sering bersama-sama.” katanya.

Aku tidak tahu ia serius atau tidak. Aku juga tidak begitu mendengar ucapannya karena terlalu sibuk memikirkan situasi rumah. Terutama Kriss dan Natt. Sekarang, aku malah merasa kemarahan Kris terasa tidak terlalu berlebihan.

“Maaf,” kataku. “Ada sesuatu yang mengganggu pikiranku hari ini.”

“Apakah aku bisa membantu?”

“Rasanya tidak, tapi terima kasih.”

“Tidak apa-apa, Airi,” kata Kai. “Aku tahu kau punya rahasia.”

Ini tidak adil. Kai sudah menceritakan sedikit rahasianya padaku, tapi aku tidak bisa membalasnya. Ini membuatku yakin bahwa Kai benar-benar berbeda dari pandangan Jihyun. Siapa yang akan mengira bahwa ternyata Kai begitu manusiawi. Maksudku, sikapnya tidak dingin dan ia juga tidak kejam. Yang kita butuhkan adalah lebih mengenal sosok Kai. Aku yakin ia memiliki pribadi yang hangat.

Sepertinya aku selalu terperangkap dengan sedikit jeda pada percakapan. Aku tidak pernah bisa memulai apa yang harus kutanyakan padanya. Jika sudah seperti ini keheningan pun tercipta. Bukannya pergi keluar dan berpisah di koridor, kami malah memilih duduk—menyandar dengan dinding kaca dan menutup mulut kami rapat-rapat.

Suasana ruang latihan yang tenang sangat cocok denganku. Mungkin aku akan betah berlama-lama disini. Tetapi aku tidak bisa menahan perasaanku ketika melihat Kai membisu sambil memejamkan matanya. Mungkin ia terlalu lelah dengan tugasnya sebagai kapten sekolah. Sekalipun dengan posisi seperti ini, aku masih bisa melihat senyuman khasnya di bibir itu. Aku berani bertaruh, ini malah lebih terlihat seperti fatamorgana ketimbang sesosok manusia. Sekarang aku merasa seperti orang yang paling beruntung. Berapa kecilnya kemungkinan melihat Kai tertidur di sampingku, bahkan dengan hanya kami berdua di ruangan ini.

Napasnya terlihat teratur, membuatku berpikir ia sudah terlelap dalam tidurnya. Aku tidak akan membuang kesempatan ini. Mungkin kai akan mengizinkanku sekedar untuk menyentuh pipinya. Dan, momen ini akan menjadi rahasiaku dan cicak-cicak yang bersembunyi  di dinding.

Hal ini begitu membuatku melonjak kesenangan sehingga aku tidak mau membuatnya terlihat sia-sia.

“Hanya sekali,” bisikku. “Sedikit saja.”

Tubuhku sedikit terguncang ketika aku benar-benar akan melakukan ini. Dengan bobot beratku yang tidak seberapa, tiba-tiba aku menjadi tidak sanggup mengangkat tubuhku sendiri. Aku mengarahkan wajahku dekat dan semakin dekat dengannya. Tidak terlalu mengingat berapa lama waktu berhenti untuk mengamati lekuk wajahnya yang sempurna, sehingga secara tak sadar bibirku sudah menempel dengan pipinya. Aku mencium Kai. Aku tidak percaya ini benar-benar terjadi.

Tidak ingin membangunkan Kai, lekas aku langsung menarik diri dan menutup mulutku dengan tangan. Terkejut dengan apa yang baru saja kulakukan. Aku segera berlari menuju pintu, tapi tersadar kalau tadi kai menguncinya. Untungnya kunci itu ia taruh di sebelah tas hitamnya. Dengan tergesa-gesa aku memutar kunci itu, membuka pintu dan berlari sekencang mungkin.

 

.

.

 

Author’s POV

 

 

“Halo?” Nara berbisik, mengikuti instruksi-instruksi yang ditinggalkan Sehun untuknya tadi pagi. Nara dengan hati-hati berjalan ke dalam ruangan yang hanya diteringai cahaya siang yang memudar yang tumpah ke dalam melalui tirai jaring laba-laba, tapi itu sudah cukup baginya untuk melihat kegembiraan di wajah Sehun. Nara menutup pintu di belakangnya, dan Sehun dengan seketika berlari menghampiri dan membopongnya.

“Aku rindu kepadamu.”

“Aku juga rindu kepadamu. Aku sangat sibuk dengan perurusan acara seni nasional tadi, jadi sedikit terlambat.”

“Apa kamu kesulitan untuk sampai ke sini?” tanya Sehun, sedikit bercanda.

Nara tertawa pelan. “Serius, Sehun, kamu itu benar-benar terlalu hebat dalam membuat kejutan.”

Sehun tersenyum saat dia menerima pujian Nara. Pria itu lantas mendudukkan Nara ke sudut belakang ruangan di atas beberapa bantal yang telah ia tumpuk di sana. “Apa kamu merasa nyaman?”

Nara mengangguk dan mengira bahwa Sehun juga akan duduk, tapi pria itu tidak duduk. Malahan, ia mendorong sebuah sofa besar, yang menghalangi pintu dari pandangan, kemudian menarik sebuah meja yang menyentuh puncak kepala mereka saat mereka duduk di lantai. Akhirnya, Sehun menyambar sebuah buntalan yang telah dia tinggalkan di atas meja—baunya seperti makanan—dan duduk di samping Nara.

“Nyaris seperti rumah, hah?” Sehun bergerak ke belakang Nara sehingga gadis itu berada di antara kedua kakinya. Posisi itu terasa begitu akrab dan ruang ini begitu sempit hingga terasa seperti rumah pohon tua mereka yang kecil. Rasanya Sehun seolah-olah mengambil satu potongan dari sesuatu yang Nara pikir telah hilang selamanya dan meletakkannya kembali dengan rapi di kedua tangan Nara.

“Ini bahkan lebih baik.” Nara mendesah, menyandarkan tubuhnya pada Sehun. Setelah beberapa saat berlalu, Nara merasakan jari-jari tangan Sehun menyisir turun rambutnya. Itu membuat gadis itu bergetar.

Selama beberapa waktu mereka duduk di sana tanpa suara, dan Nara memejamkan matanya dan memfokuskan diri pada suara napas Sehun. Pada waktu yang belum terlalu lama mereka telah melakukan hal yang sama sebelumnya. Tapi, ini berbeda, batin Nara. Kalaupun gadis itu harus, ia pikir ia bisa menemukan napas Sehun di kerumunan orang banyak. Nara mengenal Sehun dengan sangat baik. Dan, sudah jelas Sehun juga mengenal gadis itu dengan sangat baik. Sepotong kecil keadamaian ini adalah segalanya yang selama ini sudah Nara rindukan, dan Sehun membuatnya menjadi nyata.

“Apa yang sedang kamu pikirkan, Ra?

“Banyak hal.” Nara menghela napas. “Rumah, orang tuaku, kamu, sekolah, dan semuanya.”

“Apa yang kamu pikirkan tentang semuanya itu?”

“Kebanyakan tentang betapa jadi bingungnya aku gara-gara semua hal itu. Misalnya, bagaimana aku berpikir bahwa aku mengerti apa yang sedang terjadi kepadaku, dan kemudian sesuatu berubah, dan perasaanku berubah.”

Sehun terdiam sejenak dan suaranya terdengar terluka saat dia mengatakan, “Apa perasaanmu tentangku berubah banyak?”

“Tidak! Tidak akan!” kata Nara seraya mendorong dirinya lebih dekat kepada Sehun. “Kalaupun ada yang berubah, kamulah satu-satunya yang konstan. Setelah aku mengetahui alasanmu melakukan ini, aku sedih. Segalanya jadi begitu gila, sampai-sampai aku berpikir apakah cintaku kepadamu akan terdorong ke tempat yang paling belakang, tapi aku tahu rasa itu selalu ada. Aku tidak akan pernah bisa melupakanmu. Apa itu masuk akal?”

“Itu masuk akal. Aku tahu bahwa aku sudah membuat segalanya menjadi lebih rumit daripada yang memang sudah rumit. Tapi, aku senang karena perasaanmu tidak berubah terhadapku.” Sehun merangkulkan kedua lengannya ke tubuh Nara, seolah-olah dia bisa menahannya di sana untuk selamanya.

“Aku tidak akan melupakan kita.” Nara berjanji.

“Kadang-kadang aku merasa bahwa aku dan Jimin Hyung seolah-olah berada di dalam seleksi versi kami sendiri. Yang ada hanya dia dan aku, dan salah seorang dari kami akan mendapatkan Nayoung pada akhirnya, dan aku tidak bisa memutuskan siapa yang berada dalam situasi lebih buruk sekarang ini. Ayahku tidak benar-benar tahu bahwa aku tidak menginginkan seleksi ini. Aku tidak boleh mengatakan bahwa aku sudah mencintai gadis lain, apalagi kalau dia tahu bahwa itu kamu, Ra. Kita harus bersembunyi.”

“Tapi, kenapa? Kenapa kita harus bersembunyi?” Suara Nara tak lebih dari sekedar bisikan.

“Pelatih Youngsik  adalah teman ayahku. Belakangan ini ayah menaruh curiga padaku, jadi ia menyuruh pelatih untuk mengawasiku.”

Nara  menghembuskan napas selagi air matanya mengancam ingin keluar. “Jadi, itu lah alasannya kenapa ada aturan bagi setiap anggota basket yang berpacaran akan dikeluarkan dari tim?”

Sehun mengangguk sambil mempererat rangkulannya di tubuh Nara. “Ya. Um, maksudku tidak. Kurasa pelatih hanya memberlakukan aturan itu kepadaku. Kai sendiri yang bilang.”

“Itu tidak adil. Dimana hak kebebasanmu?” Sehun menundukkan kepalanya begitu mendengar suara Nara yang meninggi.

“Kau mengenalku, Nara,” kata Sehun. “Aku dan Kai memang tidak pernah mendapat kebebasan itu.”

Nara terdiam. Kesedihan semakin menggelantung dalam dirinya. Tiba-tiba Sehun bergerak membalikkan tubuh Nara. Membawa gadis itu ke dalam tatapannya yang penuh rasa sayang. “Jung Nara. Bagaimana agar kau mengerti bahwa aku hanya mencintaimu? Selama ini, semenjak kita menemukan rumah pohon, ketika kita menghabiskan tiga hari di sungai Han, dan saat kau mengatakan perasaanmu padaku. Kau tahu, betapa bahagianya aku waktu itu? Sangat bahagia. Tapi begitu aku tersadar tentang seleksi sialan itu, aku seharusnya tidak membiarkan kamu memiliki perasaan itu.”

“Omong kosong.”

Sehun mendektakan kepalanya dengan kepala Nara utnuk saling menyatukan kening mereka. “Aku tahu. Aku tahu. Aku hanya tidak bisa.”

“Lalu, apa yang akan ayahmu lakukan jika mengetahui perasaanku kepadamu?”

Dengan pelan dan terluka, Sehun berkata, “Ayahku akan membicarakan ini dengan ayah Kai dan memutuskan untuk mencabut beasiswamu. Itulah mengapa kita tidak bisa bersama.”

“Ini bahkan tidak seburuk yang kupikirkan.”

“Apa maksudmu?” tanya Sehun.

“Setelah segalanya menjadi rumit seperti ini, apakah kau benar-benar berpikir aku masih membutuhkan beasiswa itu? Tidak, Sehun. Tidak sama sekali.” kata Nara, terlihat sedikit kesal. “Aku hanya ingin kau mengerti kalau—”

“Ssstt.” Jari-jari Sehun menyentuh bibir Nara. “Jangan bicara lagi. Aku akan memikirkan jalan keluarnya. Aku janji.”

Pelukan Sehun membuat Nara tenang. Memang inilah yang gadis itu butuhkan sekarang.

“Aku mencintaimu.” kata Sehun pelan, dan mengangkat tangan Nara ke bibirnya. Saat dia melakukan itu, dia melihat gelang kecil buatan yang gadis itu pakai. Sehun mengamati gelang itu, tampak senang, kemudian mencium  tangan Nara dengan lembut.

Kelembutan kecil dari satu ciuman itu mengirim Nara kembali ke sebuah memori yang terasa sudah bertahun-tahun. Sehun telah mencium tangannya seperti itu pada malam pertama di acara kelulusan sekolah menengah, saat Nara berteriak  kepada Sehun karena tak sengaja menumpahkan cat air di baju seragamnya.

 

.

.

 

 

Airi’s POV

 

Ketika aku berjalan melewati Natt menuju dapur, ia mengangkat wajah begitu menutup laptopnya—di ruang keluarga. Sungguh, aku tidak ingin menjadi bahan pembicaraan hari ini. Walaupun aku ingin sekali meluruskan semuanya dengan Kris dan Natt.

“Bagaimana sekolahmu?” tanyanya. Nada bicaranya tenang. Seolah-olah kekecewaannya yang semalam tidak pernah terjadi.

Aku berusaha tersenyum, tetapi otot-otot di wajahku mengencang. Seakan-akan beban dari semua kesalahanku yang tak bisa kupahami menekanku, seperti gelombang yang memaksa kepalaku terbenam di bawah permukaan air sehingga aku tidak bisa bernapas. Ketika aku bersama Kai aku mudah lupa bahwa aku tidak seperti yang lainnya. Aku tahu, kemungkinan tidak akan lama lagi Kris berniat membawa kami pindah ke tempat yang lebih aman—mungkin ia lebih memilih kota-kota kecil dan aku akan memulai sesuatunya dari awal lagi di sana.

“Menyenangkan,” kataku. “Kami sedang mempersiapkan untuk acara penyambutan hari seni nasional.”

Kris sangat protektif. Tetapi ia bukan tipe orang yang akan mempertahankan egonya untuk menghukumku. Dan, Natt merasa menjadi kakak yang buruk kalau ia mengacuhkanku. Barangkali semalam mereka berdua berbicara, menenangkan pikiran, dan membuat keputusan yang tak kuketahui.

“Kau kelihatan lelah” Natt tampak khawatir. Aku merasa sangat bersalah padanya. “Mau kubuatkan sesuatu?”

“Maafkan aku,” lontaran kalimat itu membuat Natt terkejut. “Kau pasti membenciku.” Kataku dengan suara pelan. Akhirnya, akulah yang memulai memancing perdebatan.

Natt menatapku dengan wajah kecewa bercampur sedih. “Aku tidak bisa berpura-pura mengerti jalan pikiranmu,” katanya. “Tapi kau tetap saudaraku. Adikku.”

“Aku tahu, kau pasti sangat kecewa padaku.”

“Kau belum mengerti, Airi.” Ia menghelas napas. “Menjadikan satu orang sebagai pusat duniamu akan mengantarmu kepada bencana. Terlalu banyak faktor di luar dirimu yang tidak bisa kau kendalikan.”

“Kau benar,” kataku sedih. “Aku tidak akan pernah mengerti. Tapi ia segalanya bagiku.”

“Itu sikap yang sembrono.”

“Aku tahu.”

“Adakah sesuatu yang bisa membatalkan perasaanmu kepadanya?” tanya Natt. “Ataukah itu sesuatu yang mustahil?”

Aku menggelengkan kepala. “Sudah terlambat.”

“Aku juga berpikir kau akan mengatakan itu.”

“Mengapa aku begitu berbeda?” tanyaku sesaat kemudian. “Kau dan Kris bisa mengatur perasaan. Sepertinya aku tidak punya kendali sama sekali terhadap emosiku.”

“Kau masih terlalu muda.” kata Natt pelan.

“Bukan begitu,” Aku memuntir-muntir tangan. “Aku tahu pandanganmu tentang persoalan ini, tapi aku harus berterus terang. Kupikir…”

“Jangan katakan” Tba-tiba Kris muncul. Ia berdiri di dekat kaca pembatas ke serambi—menatapku dengan sorot mata memberi peringatan. “Jangan katakan kau mencintainya.”

Wajahku tampak kaku karena rasa takut. Di bawah tangannya, aku merasa Natt sedikit resah.

“Kau ingin aku berbohong?” tanyaku. “Aku sudah berusaha untuk tidak memiliki perasaan ini, sungguh. Tapi ia tidak sama dengan yang lainnya. Ia berbeda.”

“Berbeda?” bentak Kris, berbeda sekali dari biasanya. Selama ini aku berpikir tidak ada yang bisa mengusik ketenangannya. “Hanya segelintir manusia yang benar-benar mengerti tentang cinta. Kau ingin mengatakan bahwa teman sekolahmu itu salah satunya?”

Hatiku menciut. Belum pernah aku mendengar Kris berbicara dengan nada seperti itu.

“Apa dayaku?” kataku pelan. Air mataku tumpah dan jatuh ke wajahku. “Aku jatuh cinta kepadanya.”

“Kau bisa saja seperti itu, tapi cintamu kosong.” kata Kris tanpa perasaan. “Kalian berbeda dunia. Ia tidak akan mengerti tentang kehidupanmu. Sekarang kau membahayakan kehidupanmu sendiri, dan kehidupannya.”

“Kehidupannya?” tanyaku panik. “Apa maksudmu?”

“Tenang, Kris,” kata Natt. Ia berjalan—mencengkram bahu Kris. “Ini sudah terjadi, sekarang kita harus menghadapinya.”

“Aku harus tahu, apa yang akan terjadi!” jeritku. “Apakah kita akan kembali ke Canada? Kumohon, aku berhak tahu.”

Aku benci terlihat seperti ini. begitu putus asa, begitu lepas kendali. Tapi aku tahu, jika aku ingin mempertahankan duniaku, aku harus tetap bersama Kai.

“Sepertinya kau telah melepaskan segala hak yang kau miliki. Sekarang hanya ada satu hal yang bisa dilakukan.” kata Kris, sedikit lebih tenang. Aku tahu, Kris juga tidak menginginkan situasi ini. Selama ini, Kris sudah sangat melindungiku. Ia pasti sedih karena mengetahui ada jarak yang memisahkan kami. Kris melipat tangannya, wajahnya cemas tapi tidak terbaca. Natt mempererat cengkramannya, terkesan enggan mendengar keputusan yang akan disampaikan.

“Apa?” desakku, tak tahan dengan ketegangan.

“Sejujurnya, aku menyesal telah memutuskan membawa kalian ke tempat ini,” kata Kris, sorot matanya yang tajam di arahkan kepadaku. “Seharusnya Airi lebih bisa mengerti dengan situasinya, setuasi ini.”

Aku merasa terguncang. Inilah waktunya, semuanya sudah berakhir. Aku akan kembali ke Canada, atau yang lebih buruknya, Kris akan membawa kami ke tempat yang baru. Terpikir olehku untuk melarikan diri saja, tapi itu tidak akan ada gunanya. Tidak ada satu sudut pun yang bisa menyembunyikan aku. Maka aku berdiri, menundukkan kepala, dan beranjak ke tangga.

Kris menyipitkan mata. “Kau mau ke mana?”

“Aku akan bersiap-siap untuk pergi,” jawabku, berusaha mengerahkan diri untuk membalas tatapannya.

“Pergi ke mana?”

“Canada.”

“Airi, kau tidak akan pergi kemana pun. Begitu juga dengan kami,” katanya. “Aku belum selesai. Perbuatanmu memang membuatku kecewa, tapi aku tidak berniat untuk membawa kalian pulang ke Canada.”

Kepalaku tersentak. “Benarkah?”

“Aku serius.”

Aku tidak percaya bahwa ternyata masih ada harapan. “Maksudmu kita tetap di sini? Tidak ada yang berniat pergi?”

“Sepertinya sudah terlalu banyak jarak yang menjauhkan kita hanya karena masalah kecil. Karena itu, jawabannya adalah ya, kita tetap di sini.”

“Bagaimana dengan Kai?” tanyaku. “Apakah aku boleh bertemu dengannya?”

Kris tampak kesal. Seolah-olah keputusan yang telah dicapai untuk persoalan ini sudah sangat tinggi. “Kau boleh bertemu dengannya selagi kami di sini. Dan, selama anak itu belum menunjukkan sesuatu yang buruk, tidak ada manfaatnya jika kami mencegahmu untuk bertemu dengannya.”

“Oh, terima kasih!” kataku, tapi Kris menyela ucapanku.

“Tidak perlu berterima kasih. Aku masih mengawasi kalian.”

Setelah itu kami tenggelam dalam kebisuan yang sepertinya berlangsung sangat lama hingga aku memecahnya.

“Kumohon, jangan marah kepadaku, Kris. Memang kau berhak marah. Tapi setidaknya mengertilah bahwa aku menyukainya.”

“Aku tidak tertarik dengan apa yang ingin kau katakan, Airi. Kau bisa bersama dengan kekasihmu, jadi kau bisa merasa puas.”

“Teman. Bukan kekasih.”

“Terserah.” Kris membalikkan badan. Tidak lama kemudian, aku merasakan sentuhan tangan Natt di bahuku.

“Aku perlu ke pasar swalayan,” katanya, berusaha mencairkan suasana. “Kau bisa membantu?”

Aku menatap Kris untuk meminta persetujuan.

“Pergilah bersama Natt,” katanya sependapat. Sebuah ide muncul di kepalanya. “Kita  akan makan berempat besok malam.”

 

 

 

 

 

To be Continued…

 

Halo, Halo… lagi-lagi aku kelamaan nongol. Maaf ya, belakangan ini lagi kehabisan ide jadi susah buat nulis lanjutannya. Biasanya aku kalau nulis ff butuh waktu paling cepet seminggu, soalnya kalau udah selesai aku harus periksa lagi tiga hari kemudian supaya jika ada kalimat yang kurang enak bisa diganti. Kan, biasanya kalau beberapa hari kemudian pikiran kita bener-bener fresh, jadi banyak ide baru yang muncul. Kalau nulisnya asal-asalan, kan, nanti ga enak juga di bacanya hehhee. Maklumin ya…

Trus ditambah aku lagi baca ff author lain yang membuat aku jatuh cinta banget. Kalian tau ga ff yang judulnya ‘My Senior High School’ ? iya iya, yang nama authornya NRD. Gila! Asyikkk banget ya ff nya. Romantis geblek geblek gimana gitu. Hahaha. Maksudku, seru pake banget, semua feelnya dapet. Kehidupan sekolah, persahabatan, romantisnya, dan komedinya juara banget deh. Jatuh cinta aku sama authornya. Hahaha. Apalagi aku suka banget sama couple Baekhyun-Daeri. Lucu sih mereka.

Kok jadi curhat ya?

Hahaha. Oke oke. Untuk yang bertanya-tanya kenapa section delapan ini ada anaknya. Maksudku ada ‘A’ nya. Itu karena aku bagi jadi dua bagian, nanti section 8B cuma khusus buat penjelasan karakter aja kok. Jadi, semua karakter dan permasalahan mereka akan diuraikan di sana. Abisnya aku sendiri gondok juga sih kenapa ff ku sok kaya misterius-misterius gimana gitu. Udah mau section sepuluh tapi masih gantung gitu konfliknya. Emang aneh sih, tapi ya itulah, aku suka yang misterius-misterius gitu sih kaya Kai. Loh?

Lagi-lagi aku terima kasih buat para pembaca setiaku yang cuma bisa dihitung pake jari tangan. Kalian semua penyemangatku buat terus lanjutin ff ini. Terima kasih sekali lagi. Maaf kalau tidak pernah membalas komen kalian. Janji deh mulai sekarang mau berubah hhahaa. Oh iya, masalah wp, aku putusin untuk tidak mempublish ff ku di sana. Karena gak enak sama admin di sini kalau tiba-tiba aku bilang mau publish ffku di wp pribadi. Kan pernah tuh ya ada postnya. Jadi, aku gak mau dibilang cuma memanfaatkan wordpress ini sebagai tempat ajang promosi. Maaf semuanya, kuharap kalian mengerti.

Satu lagi! Jangan nyari-nyari tentang arti Voyeurism ya? kalau pun udah ada yang tahu diem diem aja dan maafin aku udah bawa-bawa nama itu di ff ini. hehehe.

Saranghae! Chu~

 

41 pemikiran pada “The Conqueror (Chapter 8A)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s