[Baekhyun’s Side] Genocide; I Love My World, I Love My Light.

Author : @ridhoach

Main Cast :

Byun Baek Hyun

Support Cast :

–          Park Min Young (OC)

–          Lee Gi Kwang (B2ST)

Genre : Romance, Tragedy, Hurt, Fantasy

 Baekhyun

—–

 

Aku terlahir di dalam dunia tanpa warna.

Semuanya hitam, semuanya kelam.

Walaupun gelap dan sepi, aku mencintai dunia tanpa warnaku.

Disana, aku menemukan sebuah lilin yang menghangatkan tubuhku.

Disana, aku menemukan cahaya yang menerangi jalanku.

Cahaya itu menuntun dan membantuku dalam menjalani kerasnya hidup.

Bagiku, cahaya itu adalah tuhan yang sebenarnya.

Tapi, mengapa cahaya itu justru memberikan kesilauan pada mata ini?

Mengapa cahaya itu lenyap di dalam dunia yang penuh cahaya ini?

Aku benci dunia dengan warna ini.

Aku rindu dunia tanpa warnaku.

Aku merindukan tuhanku.

 

—–

 

Baek Hyun’s POV

 

“Baekhyun-ah~~~~. Bangun, ini sudah pagi”, ujar seorang yeoja di pagi ini yang mengganggu kenyenyakan tidurku.

Aku tak bergeming. Aku tetap asyik dengan dunia bawah sadarku. Berkeliaran di dalam mimpiku sendiri.

 

“Baekhyun-ah~~~~~~~!!!!! Bangun, atau kau mau aku siram pakai air?”, ujar yeoja itu semakin keras, berusaha membangunkanku.

Aku tetap tak merespon panggilannya. Aku bukannya bangun dan beranjak dari tempat tidurku. Aku malah merubah posisi tidurku, yang awalnya telentang menjadi miring menghadap sisi kanan kamarku.

 

Byurr!!

“Ah!! Apa – apaan ini?!!”, teriakku setengah sadar saat ada air yang serhasil membasahi kepalaku dengan sempurnanya.

“Aku kan sudah memperingatimu Baekhyun-ah. Kau bangun atau aku siram. Dan kau lebih memilih untuk ku siram daripada bangun dari tidurmu”, ujar seorang yeoja yang aku dengar suaranya tak jauh dari tempatku berada.

“Aishhh, kau membuatku basah Minyoung-ah”, rengekku pada yeoja itu, Minyoung.

“Cepat mandi sana. Kau bau naga, Baekhyun-ah!! Palli!”, suruh yeoja itu seraya menarik lenganku agar menjauhi tempat tidurku.

“Ne. Tapi, tuntun aku ke sana Minyoung-ah”, ujarnya seraya tersenyum dan memperlihatkan aegyo yang aku miliki.

 

Pletakk!!

Sebuah jitakan keras mendarat dengan pasti di atas kepalaku. Aku mengelus kepalaku pelan, berusaha meredakan rasa sakit akibat jitakan itu.

“Aissh, aku tak meminta kau menjitakku Young-ie. Aku meminta kau mengantarkanku”, ujarku merajuk.

“Jangan manja Baekkie. Kau bisa kesana sendirian. Bukannya kau tak suka menjadi tuna netra yang bergantung pada orang lain?”, tanya Minyoung.

“Kau tidak romantis Minyoung-ah!”, sungutku seraya turun dari kasurku dan pergi menuju kamar mandi.

 

Aku berjalan dengan gontai ke arah kamar mandi. Tanganku meraba dinding yang berada di dekatku. Berusaha untuk membantuku untuk tidak tersesat dan tidak menabrak apapun sampai aku berhasil sampai di kamar mandi itu. Ku rasakan kalau ada sepasang mata yang tengah mengamatiku dengan lembut di belakang tempatku berjalan. Mata itu, Minyoung-ah, yeojachinguku.

 

Aku, Byun Baek Hyun, seorang namja yang kurang beruntung yang terlahir dengan kelainan mata yang membuatku tak bisa melihat apapun sejak aku masih kecil, sampai sekarang. Selama ini aku hanya melihat satu warna saja di dalam hidupku, hitam. Sejak kecil aku selalu hidup di dalam bayang – bayang penindasan dari orang lain yang lebih normal daripadaku. Mereka menghinaku, membenciku, yang sedikit memiliki perbedaan dari mereka. Aku hidup di dalam kegelapan yang sangat sunyi.

 

Beruntung, di dalam kegelapan itu aku menemukan sebuah lilin yang mampu menemani dan menrangi hidupku. Lilin itu selalu menuntunku dalam menjalani hidup yang sangat keras untuk namja buta sepertiku. Lilin itu adalah yeoja yang telah menjadi teman sejak aku masih kecil, Minyoung. Yang selama 4 bulan terakhir ini telah menjadi yeojachinguku. Minyoung adalah satu – satunya yang mau menemaniku dan menarikku dari dunia yang gelap itu. Dia membela, menemani, dan menuntunku di dalam hidup. Dia selalu memberikan warna tersendiri di dalam dunia tanpa warna yang aku miliki. Aku menyukai Minyoung, dia lebih seperti tuhan yang mengangkat aku dari kesendirian. Aku mencintainya, cahaya penerang di dalam hidupku yang gelap ini.

 

Hari ini aku dan Minyoung berencana untuk pergi ke rumah sakit untuk mengecek kondisi kesehatan Minyoung. Memang beberapa hari belakangan ini, kondisi Minyoung sedang menurun. Tak jarang di malam hari aku mendengar iagauannya yang terdengar nyaring di tengah tidurnya. Suhu tubuhnya kadang tinggi pada malam hari dan dia tekadang menggigil kedinginan di pagi buta. Aku tak tau pasti apa yang terjadi dengannya. Entah penyakit apa. Tapi, aku berharap kalau itu bukan penyakit yang serius.

 

END of Baek Hyun’s POV

 

—–

Min Young’s POV

 

Sebuah gedung bernuansa putih gading yang memiliki halaman luas itu telah terpampang di hadapanku dan namjachinguku, Baekhyun. Pada papan besar di muka halaman yang luas itu tertulis dengan jelas ‘Seoul Hospital Center’. Ya, hari ini aku dan dia berencana memerikasakan kondisi kesehatanku yang beberapa hari belakangan ini menurun.

 

Di belakangku, seorang namja sedang berjalan hati – hati menggunakan tongkat carbon panjang yang dipegang pada tangan kirinya. Namja itu mengenakan sebuah kaca mata berlensa bening dengan bingkai berwarna putih. Matanya menatap ke depan dengan tenang dan, kosong. Bola matanya yang berwarna coklat itu terus menatap ke depan, tapi tatapannya kosong. Namja itu, Baekhyun. Namjachinguku yang mengalami kebutaan sejak ia dilahirkan. Aku tak tau pasti apa yang sebenarnya terjadi dengannya di masa lalu. Yang aku tau dia tak memiliki orang tua sejak lahir. Lebih tepatnya dia ditinggalkan oleh orang tuanya sejak ia masih sangat kecil.

 

Aku bertemu dengan Baekhyun pada saat aku dan dia masih sama – sama bersama di sebuah panti asuhan kecil yang terletak di pinggiran Busan. Aku berteman dengannya sejak aku dan dia masih sama – sama kecil. Kami menghabiskan masa kanak – kanak kami di sana, di panti asuhan. Sesama anak kecil yang sama – sama di tinggalkan oleh orang tua, kami saling mengerti apa yang ada dan dirasakan satu sama lainnya. Persahabatan kami berlanjut walaupun kami telah meninggalkan panti asuhan itu dan memutuskan untuk tinggal mandiri dan hidup dengan hasil kerja keras kami sendiri.

 

“Minyoung-ah, apa kita sudah sampai?”, tanya Baekhyun.

“Ne. Kita sudah ada di depan gerbang rumah sakit itu. Bagaimana kau bisa menebaknya Baekhyun-ah?”, tanyaku.

“Aku bisa mencium bau obat – obatan dari sini”, ujarnya pelan seraya tersenyum manis.

“Ahh, penciumanmu memang sangat daebak Baekhyun-ah. Kajja, kita masuk”, ajakku.

 

Aku menggandeng tangan Baekhyun lalu menariknya untuk masuk ke dalam rumah sakit. Sebuah ruangan resepsionis yang bernuansa putih senada dengan ruangan – ruangan yang ada di sana menyambut kedatangan kami. 2 orang suster dengan senyum yang ramah menyambut kami di meja resepsionis itu.

“Ada yang bisa kami bantu?”, tanya salah satu suster yang ada di sana.

“Kami ingin melakukan medical check-up agasshi. Dimana kami bisa melakukannya?”, tanyaku.

“Oh, silahkan kalian masuk ke dalam bangsal bernomor 22 yang ada di ujung koridor ini. Silahkan kembali mendaftar di sana. Kalian akan melakukan medical check-up disana”, jawab suster itu.

“Ah… Kamsa hamnida agasshi”, ujarku seraya berjalan meninggalkan meja resepsionis iti diikuti oleh Baekhyun.

 

Kami sampai diruangan yang ditunjukkan oleh suster tadi. Ruangan yang sangat luas dan memiliki nomor 22 pada dinding di samping pintu utamanya ini. Ada sekitar 8 orang termasuk kami berdua yang ada di sana. Setelah kami melakukan registrasi, kami duduk pada salah satu kursi tunggu yang ada di pojok kanan ruangan itu. Beberapa menit kemudian, masuklah seorang namja yang cukup tinggi dan memiliki rambut berwarna hitam. Namja itu masuk dengan langkah gontai dan menuju meja registrasi yang ada. Mataku yang menatap namja itu dengan lekat bertemu dengan tidak sengaja oleh mata namja itu. Tatapan kami saling beradu. Mataku yang memancarkan aura ketidaksukaan dan mata namja itu yang memancarkan aura kesenangan dan keisengan. Namja itu, Gikwang. Temanku dan Baekhyun dari panti asuhan yang sama. Namja yang sudah 10 tahun belakanggan ini menyukaiku dan membenci namjachinguku, Baekhyun.

 

“Minyoung-ah….”, suara Baekhyun memutus tatapanku pada Gikwang.

“He? Mwo?”, tanyaku.

“Apa… disini ada Gikwang?”, tanya Baekhyun pelan.

“He? Ah, mana mungkin ada dia disini. Bagaimana kau bisa berkata seperti Baekhyun-ah?”, tanyaku terkejut.

“Aku… bisa mencium baunya disini”.

“Ah, itu hanya perasaanmu saja Baekhyun-ah”.

 

END of Min Young’s POV

 

—–

Baek Hyun’s POV

 

Aku dan yeojachinguku, Minyoung, duduk pada sebuah kursi panjang berwarna putih yang ada di ruangan itu. kami sudah disana selama 20 menit, tapi giliran kami belum juga datang. Dan juga sudah selama itu aku merasakan gelagat aneh dari Minyoung. Dia seperti orang yang ketakutan dan selalu gelisah. Aku tak bisa melihat apa yang dia risaukan, tetapi aku dapat menebak bahwa kerisauan itu pasti berasal dari namja yang sangat aku dan Minyoung benci, Gikwang.

 

Lee Gi Kwang. Namja berumur 22 tahun yang aku kenal dari panti asuhan itu adalah namja terbrengsek yang pernah aku kenal selama aku hidup di dunia ini. Kelakuannya sangat minim akan sopan santun dan selalu menggoda yeojaku, Minyoung. Gikwang menyukai Minyoung sama sepertiku. Bahkan terkadang dia ‘membuktikan’ cintanya itu dengan cara – cara yang ada di luar akal pikiran manusia normal. Sering sekali dia memperlakukanku tidak sebagai manusia yang lain. Dia sering menindasku. Dia membenciku yang buta dan menyukai Minyoung ini. Dia sangat membenciku. Sama seperti aku yang juga sangat membencinya.

 

Gikwang juga merupakan salah satu alasan kami memutuskan keluar dari panti asuhan dan tinggal bersama. Aku sudah cukup letih dan tertekan akibat ulah penindasan dari Gikwang. Di lain pihak Minyoung juga sudah bosan dan jengah dengan kelakuan Gikwang yang terkadang sangat menyebalkan dan kekanak – kanakkan itu. Kami sudah muak dengan perilaku dan perangainya.

 

END of Baek Hyun’s POV

 

­—–

Author’s POV

 

“Park Min Young-ssi”, panggil seorang suster dari meja resepsionis.

Minyoung yang merasa namanya terpanggil itu pun segera berdiri. Dia hendak masuk ke dalam ruang perawatan. Tapi, seketika dia terhenyak. Dia memutar retina matanya. Ekor matanya dapat melihat dengan jelas bahwa namja yang sedang duduk tak jauh dari tempatnya sedang tersenyum, tersenyum dengan nakal. Namja itu Gikwang. Gikwang melirik Minyoung dengan tatapan usilnya. Minyoung tau, apa yang akan dilakukan oleh Gikwang pada Baekhyun kalau dia pergi meninggalkan Baekhyun sendirian. Tapi dia juga tidak mungkin membawa Baekhyun masuk ke dalam ruang pemeriksaan itu. dengan berat hati, Minyoung berjalan lemas menuju ruang pemeriksaan. Dalam hati dia berdoa, agar namja brengsek itu tak mengganggu namjachingunya.

 

Minyoung baru saja memasuki ruang pemeriksaan, tapi seoraang namja yang sedari tadi duduk dengan tampang usilnya di ujung ruangan telah beraksi. Dia berdiri dan mengambil beberapa langkah untuk mendekati kursi kosong yang ditinggalkan oleh Minyoung. Namja itu, Gikwang, merubah rona wajahnya. Yang semula usil menjadi terkesan licik dan jahat. Dalam hatinya dia bersorak gembira. Sudah lama sekali dia mencari namja yang menjadi pasangan Minyoung ini. Siapa sangka dia malah bertemu di rumah sakit ini dan dia sedang sendirian.

 

Gikwang berhenti sejenak, dia tatap namja yang tengah duduk dengan wajah polosnya. Baekhyun. Wajahnya dihiasi kacamata dengan bingkai polos. Sekilas, tak mungkin ada orang yang akan membenci namja dengan wajah polos seperti Baekhyun ini. Tak mungkin ada. Tapi, nyatanya sekarang ada seorang namja yang sangat membencinya sedang berdiri mematung menatap tubuhnya dengan lekat dan penuh amarah.

 

Gikwang bergerak, dia duduk di sebelah Baekhyun. Dia hembuskan nafasnya, guna menghilangkan sedikit perasaan gugup karena terlalu senang mendapatkan ‘buruannya’. Bibir Gikwang tertarik, membentuk sebuah seringai. Kesenangan tampak jelas di wajahnya.

“Annyeong, Baekhyun-ssi, lama tak bertemu”, ujar Gikwang datar diiringi sebuah serangai dingin.

“Ah, nug.. Gikwang? Kamu bukan? Bau ini…”, jawab

“Ne, hidungmu masih tajam sama seperti dulu, Baekhyun-ah”, ujar Gikwang dengan sedikit penekanan pada kata terakhirnya.

“Apa maumu, huh?!”, tanya Baekhyun mengeras.

“Santai saja Baekhyun-ah. Aku hanya ingin menyapa kalian. Bukannya kita sudah lama tidak bertemu? Apa kau tidak kangen padaku?”, ujar Gikwang dengan nada yang meremehkan.

“Persetan denganmu brengsek!!”, umpat Baekhyun.

 

Baekhyun berdiri dan bergegas meninggalkan ruang tunggu itu. Di belakangnya, namja bernama Gikwang terus membuntutinya. Mata Gikwang menyipit, memusatkan pandangannya pada sesosok namja tuna netra di hadapannya. Hati Gikwang sedari terus mengeluarkan beberapa kata – kata yang tak layak lulus sensor. Amarahnya memuncak, kekesalannya pada namja tuna netra itu sudah mengumpul tepat di ujung ubun – ubun kepalanya.

“Tak akan aku lepaskan kau, buta!!”, ujar Gikwang dalam hati.

 

Sedangkan Baekhyun terus mempercepat langkahnya. Berusaha untuk menghindari jangkauan namja brengsek yang sedang berjalan membuntutinya di belakang. Masih terbayang jelas dalam ruang memori milik Baekhyun bagaimana suramnya keadaan masa lalu miliknya yang dipenuhi dengan penindasan dari Gikwang. Baekhyun masih dapat mengingat dengan jelas bagaimana rasanya saat dia dibiarkan terkunci di dalam ruang kedap udara bersama sebuah briket batu bara di sampingnya. Dia juga masih dengan jelas mengingat bagaimana sakitnya saat tubuhnya terjatuh dari lantai 2 sebuah pusat perbelanjaan. Dan masih banyak lagi luka yang tertoreh pada tubuh Baekhyun akibat tindak kekerasan Gikwang.

 

Psikopat mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan bagamana watak dan tabiat dari Gikwang. Kelakuannya yang selalu diwarnai dengan amarah itu selalu berpusat pada Baekhyun. Hanya Minyoung yang selama ini menjadi alasan kuat untuk Baekhyun agar bisa tetap bertahan. Sudah lama Baekhyun ingin membalas semua perbuatan diluar nalar milik Gikwang. Tapi, Baekhyun juga menyadari kalau seorang namja tuna netra yang memiliki postur kecil itu bukan tandingan seorang Gikwang yang telah beberapa kali menjuarai beberapa perlombaan karate. Dia terlalu kecil untuk menghadapi Gikwang.

 

—–

 

Baek Hyun’s POV

 

Aku terus berjalan lurus ke depan, menuju pintu keluar dari rumah sakit. Kakiku bergerak dengan cepat. Tongkat yang ku pegang terus mengetuk – ngetuk lantai, berusaha menuntunku untuk mendapatkan jalan yang tepat. Aku menjauhi orang itu, Gikwang, secepat yang aku mampu. Walaupun aku tak dapat melihatnya, tapi aku dapat merasakan kalau dia berjalan mengikutiku di belakang.

 

Aku merasakan angin menyapu kulir pucatku. Pelan dan bersahabat. Seppertinya aku sudah kelua dari rumah sakit itu. Aku terus berjalan lurus ke depan.

“Kau mau kemana bajingan?”, ujar sebuah suara dingin dibelakangku.

“Kau masih membuntutiku, huh?”, tanyaku berpura – pura terkejut.

“Jangan berpura – pura terkejut. Kau takut padaku, pengecut? Huh!”, umpat laki – laki itu, Gikwang, dengan sangat angkuh.

“Takut? Denganmu? Dengan bajingan sepertimu? Jangan bercanda Gikwang!”, umpatku.

“Gikwang kau bilang? Hey, buta. Aku lebih tua dari padamu. Jangan berbuat sesuatu yang tidak sopan padaku. Kau tak lebih hanya seorang buta yang biadab. Camkan itu”, caci Gikwang penuh emosi.

“Kau bukan seorang hyung yang harus aku hormati, brengsek!”, jawabku dengan lantang.

 

Aku mendengar derap langkah yang mendekat dengan cepat dan berat. Seketika tubuhku sedikit terangkat. Genggaman keras mencengkeram kerah kemeja yang aku pakai. Tangan yang mengepal penuh amarah itu mengangkat tubuhku.

“Jaga mulutmu orang buta! Atau aku benar – benar akan membunuhmu sekarang juga!! Cih!”, ujar Gikwang penuh amarah tepat di hadapan wajahku.

Gikwang lalu membanting tubuhku ke tanah dengan kasar.

“Jadi, sekarang apa mamumu, huh?! Kau sudah menghilang dari hidupku, kenapa kau datang kembali? Apa sebenarnya maumu brengsek?!”, tanyaku tak kalah emosi.

“Mauku. Sederhana. Aku hanya mau mengambil milikku yang sempat kau ambil”, ujarnya datar dan dingin tepat di sebelah telingaku.

 

END of Baek Hyun’s POV

 

—–

Author’s POV

 

“Baekhyun-ah. Kajja.. kita pul..”, ucap seorang gadis yang langsung terhenti saat dia menatap pada bangku yang ada di dalam ruangan tunggu.

Sosok yang dicarinya tidak ada. Namja bernama Baekhyun itu lenyap dari tempatnya menunggu tadi.

“Annyeong. Saya mau bertanya, apakah tuan melihat namja yang memegang tongkat yang tadi duduk menunggu disini?”, tanya gadis itu, Minyoung, pada seorang laki – laki tua yang ada disana.

“Maaf. Maksud nona namja yang buta itu?”, tanya laki – laki itu.

“Ne. Apakah tuan melihat kemana dia pergi?”, tanya Minyoung kembali.

“Tadi dia sudah keluar. Bersama seorang namja yang ada disini juga. Sepertinya mereka teman lama”, ujar laki – laki tua itu.

“Namja? Teman lama? Bagaimana ciri – cirinya kalau tuan masih mengingatnya?”, tanya Minyoung sedikit khawatir.

“Namja putih dengan mata yang sedikit sipit. Tubuhnya tegap dan wajahnya tidak buruk”, jelas laki – laki tua itu.

“Jinjaa? Ah… Kamsha hamnida tuan”, ujar Minyoung seraya bergegas pergi.

 

“Gikwang, apa yang akan dilakukannya?”, batin Minyoung dalam langkahnya menuju keluar rumah sakit.

Langkah Minyoung semkain dipercepatnya. Terburu – buru bisa dibilang seperti itu. Terlalu bodoh baginya untuk bersantai setelah mendengar kabar bahwa Baekhyun sedang bersama Gikwang. Gikwang, laki – laki yang sempat menjadi namjachingunya selama beberapa bulan sebelum akhirnya hubungan mereka berakhir. Sifat over-protective dan egois milik Gikwang membuat Minyoung memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.

 

Baekhyun juga merupakan alasan lain dari berakhirnya hubungan Minyoung dan Gikwang. Sifat hangat yang dimiliki Baekhyun membuat Minyoung untuk lebih memilih beralih dari Gikwang ke Baekhyun. Dan hal ini menyebabkan Gikwang menjadi sangat membenci eksistensi dari Baekhyun. Bagi Gikwang, Baekhyun adalah penyebab utama Minyoung berpaling darinya. Sejak saat itu, Sudah tak terhitung berap kali Gikwang berusaha untuk melenyapkan keberadaan Baekhyun. Dan setelah lama  hidup Minyoung serta Baekhyun tenag dan aman berada jauh dari Gikwang, kini Gikwang hadir kembali. Keberadaan Gikwang menghadirkan teror tersendiri bagi Minyoung dan Baekhyun. Minyoung tahu pasti apa yang akan dilakukan Gikwang pada Baekhyun yang sekarang berada di dekatnya.

—–

 

2 orang namja tampak sedang terlibat dalam sebuah adu pukul yang cukup seru di sebuah lapangan sunyi tak jauh dari tumah sakit tadi. Walaupun ini adalah sebuah adu pukul, tapi pukulan dan kekerasan hanya berasal dari salah satu pihak yang terlibat. Pihak tersebut terus memukul, menendang dan menginjak tubuh lemah namja yang tengah terbaring kelelahan di tanah lapang tersebut. Pihak pemukul, Gikwang, terus melakukan aksinya dengan penuh kekesalan dan amarah. Sedangkan namja yang menjadi sasaran pukulannya hanya bisa menekuk tubuhnya. Namja itu, Baekhyun, berusaha untuk menghalau pukulan dari Gikwang yang mengarah pada tubuhnya. Mata yang tak bisa melihat, membuat Baekhyun kewalahan untuk membalas pukulan yang ia terima. Baekhyun hanya bisa menerimanya dengan pasrah.

 

Tubuh Baekhyun sendiri sudah tidak bisa dibilang baik sepenuhnya. Banyak memar biru dan lebam yang menghias kulit putihnya. Baju bagian atasnya sudah cukup tak layak pakai. Beberapa kancing bagian atasnya hilang. Lepas akibat tarikan dan hentakan keras yang diberikan Gikwang saat ia memukul tubuh Baekhyun. Dari pelipis kiri Baekhyun mengucur darah yang cukup banyak. Luka yang tidak kecil akibat tinjuan dari Gikwang.

 

Sedangkan Gikwang masih dalam keadaan primanya. Tak ada satupun bekas lebam atau luka yang menghiasi kulitnya. Kemeja putih yang ia kenakan sedikit terbuka akibat gerakan yang sedikit kelewat semangat. Menampakkan tubuh kekarnya yang basah oleh keringat.

 

Keduanya memburu. Nafas yang mereka hembuskan terdengar terengah – engah. Menunjukkan mereka sudah terlalu letih. Gikwang sudah cukup lelah dalam melampiaskan kemarahannya pada Baekhyun. Baekhyun sendiri sudah lelah dan cukup menahan sakit dari sejumlah luka yang ada pada tubuhnya.

“Uhuk… Mian. Ampuni aku Gikwang”, rintih Baekhyun dengan sedikit ringisan.

“Ampun katamu? Jangan bercanda. Mana mmungkin aku mengampuni namja brengsek sepertimu! Nyawamu sekarang milikku!!”, bentak Gikwang sambil mengangkat kepala Baekhyun dengan kasar.

 

Mata sayu Baekhyun mengarah tepat di hadapan Gikwang. Wajah Baekhyun sangat memprihatinkan. Penuh lebam dan luka. Sedikit rintihan kesakitan perlahan terdengar pelan dari mulut Baekhyun.

“Jadi, hanya ini yang bisa kau lakukan huh?!”, tanya Gikwang.

“Hhh…”, Baekhyun hanya mampu merintih pelan, meringis tertahan.

 

Cuh!

Baekhyun menyemprotkan air liurnya dengan lemah ke wajah Gikwang.

“BRENGSEK!! Kau memang minta dibunuh, manusia hina!”, bentak Gikwang enuh emosi seraya membersihkan mukanya dari ludah milik Baekhyun.

Gikwang membawa naik tubuh Baekhyun ke atas. Memaksa empunya untuk berdiri walaupun dengan kondisi yang lemas. Gikwang mengepalkan tangannya penuh emosi. Dan, buagh! Sebuah tinju keras melayang menuju pipi sebelah kiri milik Baekhyun. Tubuh Baekhyun terpental ke arah kanan sejauh beberapa meter.

“Uhuk… Uhuk…”, darah segar keluar dari mulut Baekhyun.

 

Baekhyun hanya bisa terduduk lemas. Tangannya dengan lemah menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Sedangkan Gikwang melihat daerah sekitarnya, melihat barang yang dapat dia gunakan dalam permainan asiknya dengan mainan yang sudah lama tidak dia lihat. Matanya jatuh tertuju pada sebuah potongan lempengan besi yang berukur tak cukup lebar tapi memiliki panjang yang ideal. Gikwang berjalan mendekati benda tersebut lalu memnungutnya. Ujung benda itu cukup lancip. Sebuah ide cerdas melintas di dalam otak jahat Gikwang.

 

Gikwang berjalan dengan angkuh menuju Baekhyun yang masih dalam keadaan lemasnya.

“Hey, buta. Apa kau memiliki kata – kata terakhir?”, ujar Gikwang dengan dingin dan angkuh seraya mengetuk kepala Baekhyun dengan besi yang dipegangnya.

“Pergilah… ke ne… raka.. bajingan!”, ujar Baekhyun terengah – engah.

“SHIT”.

 

END of Author’s POV

 

—–

Gi Kwang’s POV

 

Aku mengacungkan besi yang kupegang. Dada dari pemuda kotor di hadapanku inilah adalah tempat yang sangat aku tembus saat ini. Wajah hinanya semakin membuat darahku bergejolak. Emosiku memuncak. Andai saja namja hina dan buta ini tidak pernah muncul pasti aku sekarang sedang bahagia bersama Minyoung. Jadi, matilah sekarang orang buta. Keberadaanmu tak ku butuhkan. Aku pun menggerakan besi itu ke bawah, ke arah dada Baekhyun.

 

JLEB!! JRASHH!!!

 

END of Gi Kwang’s POV

 

—–

Baek Hyun’s POV

 

Aku tak dapat melihat apa yang sedang dilakukan oleh namja iblis itu. Aku tak cukup kuat untuk dapat berdiri dan melarikan diri dari tempatku berada. Tubuhku sudah cukup lelah dan terlalu sakit. Aku merasakan banyak lebam ada di sekujur tubuhku.

 

Terdengar langkah mendekat ke arah tempatku berada. Aku tak tau benar siapa itu. Ya, aku memang buta. Tapi, aku dapat mengetahui kalau orang itu adalah Gikwang. Namja yang sedari tadi memukuliku.

“Hey, buta. Apa kau memiliki kata – kata terakhir?”, ujar Gikwang dengan dingin dan angkuh seraya mengetuk kepalaku dengan sebuah benda.

“Pergilah… ke ne… raka.. bajingan!”, ujarku terengah – engah.

“SHIT”, umpatnya.

 

JLEB!! JRASHH!!!

Cairan bermuncratan seiring dengan kedua bunyi asing yang terdengar dari hadapanku. Sebagian cairan itu mengenai tanganku. Hangat dan kental.

“Darah?”, gumamku.

Darah. Aku yakin ini adalah darah. Tapi ini darah siapa. Aku tak merasakan tubuhku mengeluarkan banyak darah. Lalu, darah siapa ini? Gikwang?

 

Brugh!

Seseorang ambruk di hadapanku. Tepat di pangkuanku. Wajah ini. Badan ini. Bau ini. Tidak mungkin.

“Min… Young?”, tanyaku ragu.

“Ne. Ini aku… cha… gi-yaa”, jawabnya dengan tersengal – sengal.

“Apa yang kau lakukan disini? Jangan bilang kalau darah ini mlikmu Minyoung-ah”, ujarku khawatir.

“Jangan per… masalahkan aku.. chagi. Aku… akan melakukan… apapun demi kau. Aku… kan pacarmu. Nyawa pun akan… aku be… rikan. Asalkan… kau… bisa terus.. hidup. Terus… lah hidup… Baekhyun-ah… walau tanpa… aku. Sarang… hae”, ujar Minyoung pelan.

 

Aku merasakan nafas berhenti berhembus dari hidung Minyoung. Tubuhnya melemas.

“Minyoung-ah! Minyoung-ah! Ireona! IREONA!! Jangan tinggalkan aku sendiri! Aku hanya namja buta. Apa yang bisa kau lakukan sendirian Minyoung-ah. Jangan tinggalkan aku. Aku mencintaimu”, ujarku parau.

Air mata menetes deras dari kedua bola mataku. Kesedihan ini menumpuk. Begitu dalam dan sangat menyayat dalam hatiku. Pilu. Minyoung yang aku cintai pergi. Tanpa pernah aku lihat wajahnya. Inikah rasanya kehilangan? Mengapa sesakit ini? Hatiku bergejolak. Air mataku semakin deras membanjir.

 

“KAU!!!! Kalau bukan karena kau, Minyoung-ah tak akan mati!! Kalau bukan karena ingin melindungimu. Harusnya besi itu menancap di dadamu. Bukan di dirinya. BEDEBAH KAU!!”, bentak namja tak jauh dari hadapanku, Gikwang.

“Apa kau bilang? Melindungiku? Jadi, dia meninggal karena melindungiku dari orang macam kau? BRENGSEK KAU IBLISS!!!!!”, bentakku tak kalah seram.

 

Tubuhku bergejolak. Dapat kurasakan kesedihan atas kepergian Minyoung memenuhi kepalaku. Dan kemarahanku bergemuruh di dalam hatiku. Energiku bergejolak. Tubuhku seperti mau meledak. Seperti ada sebuah bom yang akan meledak dari dalam tubuhku. Aku tak tahu apa itu. Tapi kepedihan ini membuat semuanya bertambah besar dan terus bergejolak. Dan anehnya. Pandanganku yang dari dulu selalu hitam. Perlahan menerang seperti ada titik terang di dunia gelapku. Perasaan macam ini?

 

ARGHHHH!!!!!!

Aku merasa tubuhku meledak. Aku merasa semuanya menyilaukan. Selama beberapa detik aku hanya bisa melihat cahaya yang sangat terang yang menyilaukan mataku. Dan begitu semuanya kembali normal, aku dapat melihat sesosok namja yabg tengah berdiri dengan tampang terkejut.

“Apa – apaan kau? Cahaya apa itu? Sebenarnya kau itu apa, huh?!”, tanya Gikwang ketakutan.

“Cahaya?”, gumamku.

 

Aku dapat melihat tanganku bersinar. Terselubung selaput cahaya berwarna putih yang menyilaukan. Bukan hanya tanganku. Seluruh badanku juga diselimuti lapisan yang sama.

“Cahaya ini maksudmu?”, ujarku datar.

“Matilah kau manusia hina”, ujar Gikwang seraya berlari menghampiriku.

Aku mengarahkan tangan kiriku ke depan, ke arahnya. Dan seketika bola cahaya muncul lalu terbang dan menghempaskan tubuh Gikwang jauh ke belakang. Aku terkesiap.

“Arghh..”, erang Gikwang kesakitan.

 

Aku berdiri dan mengarahkan kedua tanganku ke arah Gikwang. Dan dalam sekali hentakan, gelombang cahaya muncul dan menghantam tubuh Gikwang dengan sangat keras. Dalam hitungan detik, tubuh Gikwang yang terkena cahaya itu terpisah. Terbelah – belah akibat kerasnya hantaman yang diterimanya. Darahnya berhambur. Bagian tubuhnya juga terpental ke berbagai arah.

“Matilah kau, manusia biadab. Tidurlah dengan tenang di neraka!!”, ujarku dingin.

 

—–

            Dan sekarang aku berada disini. Di sebuah dataran hijau yang kosong. Hanya terdapat sebuah makam baru yang ada diatasnya. Aku bersimpuh. Menangis dalam diamku di hadapan makam itu, makam milik Minyoung.

“Terima kasih Minyoung-ah. Terima kasih untuk semuanya. Aku sangat mencintaimu. Dan sesuai pesanmu, aku akan tersu hidup. Aku akan bertahan walau tanpamu. Sekali lagi, terima kasih. Aku sangat mencintaimu. Maafkan aku”, ujarku pelan.

 

Aku berdiri, beranjak dari tempat itu. Menuju tempat tujuanku yang baru. Sebuah pemukiman kecil di pinggiran pulau Jeju.

“Terima kasih Minyoung-ah dan selamat tinggal. Aku akan selalu mencintaimu”.

 

-FIN-

* Yaaaaaa…. Akhirnya FF ini bisa author rampungkan juga. Author sangat meminta maaf atas keterlambatan FF ini yang sangat lama. Author meminta maaf sebesar – besarnya. Karena satu dan lain hal author sangat susah untuk bisa mengetik FF seperti dahulu. Jadi harap dimaklumi. And last, don’t forget to RCL readers. I’ll be waiting *

51 pemikiran pada “[Baekhyun’s Side] Genocide; I Love My World, I Love My Light.

  1. Ya ampun saeng akhirnya ini ff keluar juga dan….. akhirnya aku komen juga *maaf banget untuk yang satu ini*

    Well, entah aku harus senang apa sedih baca ini ff kekekeke~~~ *oh ternyata aku ketawa berarti aku senang*
    Walaupun dia kau bikin merana yang penting Baek bisa ngeliat *egois amat* dan masalah Minyoung, aku siap kok menggantikannya agar hati Baek tak kosong lagi *abaikan*.

    Aku bingung mau komen apa lagi, pokoknya intinya ff kamu selalu bagus……..gus…..gus….walau sadis + psiko wkwkwkwkwkwk *ups mianhae ^^.v

    Daebak daebak daebak 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s