Racing love (Chapter 1)

Author : summerkids

Genre  : Romance, Action

Rating  : PG-13

Length : Chaptered

Main Cast        :

–          Sehun (EXO-K)

–          Kang Jung Hee (OC)

–          Lee Seung Jo

Support Cast    :

–          Kai (EXO-K)

–          Han Yoo Jung (OC)

Note    :

Have published in gotogethertilltheend.wordpress.com (I changed my url, sorry!)

I present this ff with Sehun! Sorry for typo. Enjoy!

 racing-love

Suara gas mobil-mobil yang akan berlomba menggema disambut oleh teriakan penonton yang sebagian besar adalah remaja. Sehun melirik lawannya sambil menyeringai. Tangannya mengetuk-ngetuk setir mobil.

“Kenapa lama sekali?! Cepat mulai!” teriaknya tidak sabar.

Seorang gadis dengan tank top putih dan levis pendek lalu berjalan diantara kedua mobil itu. Ditangannya tergenggam saputangan berwarna hitam. Saputangan hitam itu diayunkan, pertanda mulainya  balapan kali ini.

Ready?!”

Gadis itu menunjuk kearah Sehun. Ia menginjak pedal gas hingga mengeluarkan suara yang besar. Begitupula lawannya, Seung Jo, melakukan hal yang sama ketika ditunjuk.

GO!”

Mobil Seung Jo maju pertama kali mendahului Sehun. Teriakan para gadis tidak dapat dibendung, mereka memandangi kedua jalannya kedua mobil yang berkecepatan tinggi. Penasaran siapa yang akan memenangkan balapan kali ini. Sehun sudah lama tidak balapan –karena menurutnya tidak ada lawan yang pantas – hingga sekarang Seung Jo menantangnya dan dia tidak mungkin menolak.

Berulang kali penonton berteriak, “Sehun! Sehun! Sehun!” begitu kedua mobil hilang di tikungan. Disana pula, Sehun dan Seung Jo sama-sama melakukan drift yang sangat, sangat keren!

Seung Jo mungkin memimpin pertama kali, tapi tak butuh waktu yang lama bagi Sehun untuk menyusulnya. Mereka seperti main kejar-kejaran. Sehun maju sedikit, Seung Jo pun ikut maju. Garis penanda kecepatan sudah mencapai angka 120, namun Sehun tidak berniat menguranginya sama sekali.

“Hah, dia pikir dia bisa mengalahkanku? Jangan bermimpi.”

Sehun menambah kecepatan. Orang yang tidak biasa dengan kecepatan ini mungkin akan pingsan kalau pergi dengan Sehun. Hanya mereka yang siap mental-lah yang ikut naik mobil Sehun.

Seung Jo agak tertinggal di tikungan kedua karena belokannya agak kacau. Namun ia menyusul lagi dan sekarang mobil keduanya sejajar. Sehun menoleh ke jendela dan tersenyum. Ia mengarahkan dagu kedepan dengan arogannya. Menunjukkan pada Seung Jo, terowongan yang dilewati banyak mobil.

“Aku tahu,” balas Seung Jo dengan gerakan bibir. Meski terhalang kaca, Sehun mengerti apa artinya. Ia kembali menyeringai kemudian menyalip seperti peluru diantara mobil-mobil normal.

Ini bukan masalah besar, Sehun sudah ahli menyalip sejak lama.

Seung Jo melewati beberapa mobil dengan baik. “Rupanya dia lumayan juga,” gumam Sehun tersenyum saat melihat Seung Jo dibelakangnya lewat kaca spion. “Kita lihat saja siapa yang menang nantinya.”

 

Ditempat awal mulainya balapan Sehun-Seung Jo tadi,  ada Jung Hee langsung menutup mata dan telinga saat mendengar suara bedebum yang disebabkan oleh mobil disekelilingnya. Jin Hee, kakaknya, langsung menurunkan tangannya. Ditatapnya sang adik dengan sebal.

“Jangan memalukan begitu! Masa dengan suara mobil saja takut!” teriaknya. Jung Hee menatap kakaknya dengan wajah cemas.

“Disini berisik sekali, Eon! Lagipula, Abeoji akan marah besar kalau tau kita pergi ketempat seperti ini! Aku mau pulang!”

“Pulang saja sendirian! Abeoji tidak akan tahu kalau tidak ada yang bilang padanya! Jadi, kau jangan berani-berani buka suara!” Setelah berkata seperti itu Jin Hee menghampiri beberapa teman yang sedang duduk atas di sebuah mobil merah. Jung Hee merutuki kebodohannya saat bilang ingin pulang, jelas kakaknya tidak akan mau. Akhirnya, ia ikut dengan kakaknya karena takut pulang sendirian.

Jung Hee menghela napas berat. Dipandangnya langit malam kota Seoul yang penuh bintang.“Huh, harusnya aku tadi menolak ajakan Eonnie! Bisa mati aku kalau ketahuan Abeoji, bagiamana ini?!”

Tiba-tiba para gadis berdesakan lewat disamping Jung Hee dan memaksanya terpisah dan sang kakak. Jin Hee pun hanya melihat Jung Hee dengan tatapan biasa saja. Ia tahu ia pasti bisa menemukan Jung Hee nantinya.

Jung Hee ternganga melihat gadis-gadis yang lewat memakai pakaian yang lebih terbuka darinya. Memakai short pants – dipaksa Jin Hee– saja sudah membuatnya tidak nyaman, apalagi seperti para gadis itu.

“Aku heran kenapa mereka bisa berlari-lari dengan pakaian seperti itu, padahal disini, kan, juga ada banyak cowok-cowok,” gumam Jung Hee.

 

Sehun dan Seung Jo sudah ada di tikungan terakhir. Sebelumnya Sehun sudah menurunkan sedikit kecepatannya –hanya sedikit–. Seung Jo pun sudah agak kelelahan akibatnya belokan terakhirnya berantakan. Sehun dengan wajah serius mengeratkan jari-jarinya pada setir.

Dilihatnya para gadis sudah berteriak dari kejauhan. Seung Jo juga berjuang maksimal di akhir setelah ketinggalan jauh, ia sudah menyusul  disamping Sehun di detik-detik terakhir. Tapi, seperti sudah diramalkan, tetap Sehun-lah yang jadi pemenangnya.

3… 2… 1…!

Garis finish pertama dilewati Sehun dan disusul Seung Jo hanya dengan interval waktu 5 detik. Rem diinjak di kedua mobil dan menimbulkan asap kecil antara ban dan aspal.

Sehun tertawa senang seraya memukul setirnya. “Yeah! Hah, sudah kubilang, pikir-pikir dulu kalau mau menantangku!”  Kemudian, ia memperlihatkan gaya drift-nya sebelum benar-benar berhenti. Jung Hee awalnya terkagum melihat mobil bisa melakukan hal yang demikian menakjubkan.

Tapi, sesuatu terjadi.  Para penonton semakin mundur, meninggalkan Jung Hee masih berdiri diam. Beberapa penonton ingin meneriakinya, namun sudah tidak ada waktu lagi. Sehun yang melihat Jung Hee mulai panik dan berusaha menghentikan mobil.

“Aaaa!” Jung Hee tersadar, refleks ia berteriak dan menutup mata. Terlalu panik untuk bergerak. Tuhan, Tuhan, tolong aku! Maafkanlah segala dosa-ku!

 

Tuhan mengabulkan doa Jung Hee.

Mobil Sehun berhenti tepat beberapa centi dari tempat Jung Hee berdiri. Seketika gadis itu jatuh terduduk dengan mata terbuka. Jantungnya berdegup sangat cepat, bayangkan ia hampir saja terpental! Air mata pun sampai tidak dapat keluar dari matanya.

“Hei Bodoh!!” Seseorang keluar dari mobil dan meneriakinya, tapi Jung Hee tidak menjawab. Suasana jadi hening menyisakan suara napasnya yang cepat.

“KAU BOSAN HIDUP YA?!!” teriak Sehun dengan tangan mengepal.

Air mata Jung Hee keluar diujung matanya. Ditatapnya Sehun nanar, ia lalu berdiri gontai. Gumaman keluar dari mulutnya yang bergetar, “M-mian.”

Sehun tidak yakin dengan apa yang dikatakan gadis itu, tapi kedengarannya seperti ucapan maaf. Cara gadis itu menatapnya membuat sang raja balapan, melunak. Mata mereka bertemu beberapa detik, lalu Jung Hee pergi begitu saja. Ia berlari diantara kerumunan orang-orang yang memandanginya kasihan.

Secuil rasa bersalah terbesit di hati Sehun. “Sial, kenapa jadi begini! Argh!”

“Wah, kau harus lebih hati-hati lagi, Man,” kata Seung Jo, ia menepuk pundak Sehun. Diberikannya kunci mobilnya langsung ditangan Sehun. “Ngomong-ngomong, selamat atas kemenanganmu. Aku akan kembali lagi setelah lebih hebat darimu.” Seung Jo pergi sambil terkekeh. Ia selalu berbesar hati walaupun kalah. Itu sudah jadi prinsipnya.

Hening tidak bertahan lama setelah salah satu teman Sehun, Kai, datang merangkulnya dan berteriak, “Malam ini kita berpesta!”

 

Jin Hee menuruti permintaan pulang Jung Hee setelah melihat air mata di sudut-sudut wajah adiknya. Malam itu, Jung Hee mengurung diri di kamar dan tidak bisa tidur. Tangannya terus gemetaran dibalik selimut. Sepertinya ia trauma berat soal kejadian tadi.

Ditempat lain, Sehun meneguk segelas minuman lagi. Sudah 2 botol soju ia habiskan sendiri. Wajahnya datar-datar saja daritadi, meskipun ada seorang gadis menggeliat manja dilengannya dan tertawa senang, kalau tidak salah namanya Ah Ri. Tiba-tiba, Sehun menarik Ah Ri lebih dekat kemudian mencium bibir gadis itu. Melumatnya seperti orang yang haus.

“Sehun-ah… a-aku ke-habisan na-pas,” kata Ah Ri ditengah ciuman mereka. Tangannya mendorong tubuh Sehun, tapi lelaki itu sama sekali tidak berniat untuk berhenti.

Kai yang melihat kelakuan Sehun tertawa, lalu menarik tubuh Sehun.  “Hei, Man! Hentikan, dia tidak bisa bernapas!” Sehun mengusapkan punggung tangannya dibibir, membersihkan bekas lipstick Ah Ri yang tertinggal. Si gadis itu pun sibuk mengatur napas, kemudian ia mengambil tisu membersihkan lipstiknya yang berantakan.

Ah Ri beranjak pergi. “Sehun-ah, aku ke toilet dulu ya.”

“Pergilah.”

Setelahnya, Sehun meneguk satu gelas lagi, lalu ia menghempaskan tubuh di bantalan sofa. Melihat itu Kai tertawa lebar. “Ada apa denganmu? Hari ini kau sensitif sekali! Ha-ha-ha.”

“Gadis yang hampir kutabrak tadi itu. Aku tidak bisa berhenti memikirkannya.” Sehun masih sangat sadar saat mengatakan itu. Karena 3 botol soju tidak akan menghilangkan kesadarannya begitu saja. Kai menuangkan soju lagi digelasnya dan gelas Sehun.

“Ah, kau menyukainya!”

Sehun menjawab ragu. “Benarkah? Mungkin juga…”

 

Sinar matahari masuk lewat celah-celah tirai jendela. Jung Hee setengah membuka mata, pada dasarnya ia tidak benar-benar tidur. Matanya hanya lelah saat jam-jam terakhir. Ia bangun dari tempat tidur  dan mandi. Perasaannya sudah lebih tenang sekarang.

Ia turun ke bawah dengan seragam lengkap, dan mendapati ayah, ibu dan kakaknya sedang mengoles selai di roti masing-masing.

“Jung Hee, ayo kemari, Sayang,” panggil Ibunya. Ia tersenyum lalu berjalan pelan.

“Hai, Eomma.”

Ayahnya memandangnya sekilas dan langsung berkata, “Matamu agak sembab, semalam kau kenapa?”

Sepintar apapun ia menyembunyikan matanya yang sembab, Ayahnya pasti selalu tahu. Jung Hee melirik kearah Jin Hee yang juga memandanginya dengan tatapan penuh arti.

Jangan katakan apapun.

Jung Hee tertawa palsu. “Gwaenchana, Appa. Semalam aku menonton film yang sangat sedih sampai seperti ini. He-he.” Ia mengoleskan selai di roti asal. Biasanya ia melakukannya dengan rapi, tapi hari ini ia ingin cepat berangkat.

“Begitu. Lainkali kau jangan nonton lagi. Appa tidak mau melihatmu berantakan seperti itu, Arrachi.

Kata-kata Ayahnya tidak terdengar seperti pertanyaan, melainkan pernyataan. Jung Hee hanya mengangguk saja. Ia tahu ayahnya adalah orang yang keras dan tidak menerima bantahan, atau jika ingin dikurung di kamar mandi seharian.

Arrasseo, Appa.”

 

Sadar atau tidak, sikap Jung Hee agak berubah, jadi lebih diam. Jantungnya juga berdegup cepat kalau ada mobil atau motor yang jalan dengan kecepatan tinggi.

Di sekolah pun, Jung Hee hanya bicara kalau diajak biacara. Melihat keanehan pada diri sahabatnya, Yoo Jung menyiku lengan Jung Hee saat sedang mencatat.

“Kau jadi aneh beberapa hari ini. Ada sesuatu yang terjadi, ya?” tanya Yoo Jung. Jung Hee mendengarkan, tapi ia terus menulis. “YA!

“Kalau ada pun, aku tidak bisa menceritakannya padamu. Mian, Yoo Jung-ah.”

Yoo Jung sontak berhenti menulis, “Kenapa tidak bisa? Kau tidak mau menceritakannya padaku? Nappeun yeoja!” Gadis itu memasang muka sebal dan membuat Jung Hee sempat tertawa.

Jung Hee menghadap kearah Yoo Jung. “Geurae, geurae. Begini, aku hampir ditabrak mobil minggu lalu dan… duh, aku malu mengatakannya Yoo Jung-ah!”

“Cepat lanjutkan, kau tahu aku tidak akan bilang pada siapapun!”

“Aku trauma. Aku takut kalau mendengar suara gas mobil. Melihat kendaraan dengan kecepatan tinggi dan sejenisnya…”

Mwo? Siapa yang melakukan ini padamu?! Aku akan menghajarnya! Katakan padaku!” Seketika darah Yoo Jung naik. Ia memasang tatapan membunuh. Jung Hee tertawa kecil, lalu menutup bukunya.

Uh, Jung Hee  sudah menebak akan seperti apa reaksi Yoo Jung. “Ini tidak sepenuhnya salah orang itu, Yoo, gwaenchana.”

“Dengar ya, katakan padaku kalau kau bertemu dengannya. Aku pasti langsung menghajarnya.” Tak heran, Yoo Jung memang tidak takut apapun karena ia bisa Karate tingkat sabuk hitam.

 

Hyung, hari ini kita balapan saja,” kata Sehun tanpa memandang Kai. Tidak ada yang bisa memperbaiki suasana hati Sehun saat ini selain balapan. Kasihan pada temannya yang sudah hampir gila karena seorang gadis, Kai pun hanya mengangguk-angguk setuju.

“Boleh-boleh, apa taruhannya? Kalau kau menang, aku akan memberikanmu Mustang silver waktu itu.”

“Kalau kau menang, ambillah Porshe hitam punyaku.”

“Serius kau? Bukannya itu mobil kesayanganmu?” ucap Kai dengan nada tak percaya. Sehun hanya diam tidak menanggapi, jari-jarinya mengetuk gelas soju. Kai meneguk satu gelas lagi, kemudian mencium gadis disebelahnya. Sehun menatapnya hyung-nya itu terlalu lama.

Tidak sabar, lelaki itu menyambar jaketnya, lalu berdiri. “Cepat, Hyung. Aku sudah tidak sabar ingin berputar di Dongdaemun.”

 

Seung Jo baru saja keluar dari sebuah bengkel mobil saat ia hampir menabrak Jung Hee. Gadis itu agak limbung, beruntung tangan Seung Jo dua kali lebih cepat menyambar lengannya. Ia sempat tertegun waktu sadar kalau Jung Hee adalah gadis yang hampir ditabrak Sehun. Tapi, cepat-cepat ia ubah air mukanya.

“Kau gadis yang waktu itu hampir ditabrak Sehun, kan?” katanya. Jung Hee memandanginya dengan alis bertaut. “Mwo?

Porsche hitam?”

Sudah pasti Jung Hee tidak akan lupa mobil yang hampir menabraknya.“Ah, kejadian waktu itu, benar a-aku orangnya,” ucap Jung Hee agak gugup. Lalu, berubah ingin tahu. “Kenapa kau menanyakannya?”

Seung Jo jadi agak gelagapan, “Tidak apa-apa, hanya ingin tahu saja. He-he-he. Kau beruntung bisa selamat.” Ia tersenyum penuh arti mengingat ekspresi Sehun waktu memandang gadis itu. Berbeda dan tidak biasa.

“Aku Seung Jo. Senang bertemu denganmu. Ngomong-ngomong, maaf tidak sempat menolongmu waktu itu. Padahal, aku berdiri didekatmu.”

“Bukan salahmu. Aku sudah tidak apa-apa kok,” balas Jung Hee tersenyum. Seung Jo tertawa kecil, dipandanginya wajah Jung Hee agak lama. Mata Jung Hee adalah bagian paling mencolok diantara yang lain. Jernih dan berbinar-binar.

“Kenapa kau masih dijalan malam-malam begini?”

Gadis berambut panjang itu memandang tidak minat. “Tugas sekolah. Aku sedang mencari inspirasi untuk makalah.”

“Benarkah? Ah, bagaimana kalau kau buat tentang balapan mobil saja? Kalau soal itu, aku bisa membantumu.” Seung Jo bicara seolah ia menemukan alat yang bisa membawanya terbang ke bulan. Dan membuat Jung Hee tertawa.

“Aku tidak bisa, aku jadi takut mendengar suara mobil yang keras,” kata Jung Hee pelan. Entahlah, ia hanya merasa nyaman membuka diri pada Seung Jo. Lelaki disebelahnya itu pun hanya terkekeh dan mendengarkan semua celotehan Jung Hee. Mereka berjalan sampai ke perempatan jalan, bersiap menyeberang.

“Tenang saja, ada aku! Kujamin, kau aman bersama–“

Suara mobil yang keras mengalahkan suara Seung Jo. Terlihat sebuah Porsche hitam  disusul Ferrari Enzo merah melakukan belokan (re: drift) tepat didepan mereka dan bersuara keras. Menyadari Jung Hee gemetaran dan berubah pucat, Seung Jo langsung memeluknya. Tidak ingin gadis itu melihat siapa yang sedang ada di Porsche itu.

Sehun. Dan ia sedang memandangi mereka dengan tatapan membunuh.

Seung Jo menyeringai pada Sehun. Tangannya mengelus-elus kepala Jung Hee. Melihat itu jari-jari Sehun mengeras di setir. Ia menancap gas lebih dalam karena marah.

Hyung, balapan hari ini kita lanjutkan besok saja!” kata Sehun lewat telepon otomatis di mobilnya. Ia berputar balik, berencana untuk membuntuti Seung Jo. Suara Kai terdengar tidak jelas, tapi nada suaranya kelihatan khawatir.

“Hah?! Gila! Jangan bilang kau mau menyusul Seung Jo?! Polisi sedang mengikuti kita!” Rupanya Kai juga melihat Seung Jo. Rahang Sehun mengeras mendengar nama itu disebut.

“Aku tidak peduli! Kau pulanglah, Hyung!”

Kedua mobil itu berbelok ke arah berlawanan. Polisi ketinggalan jauh setelah beberapa saat mengejar Sehun. Tidak mungkin mobil polisi bisa mengejar mobil Sehun yang berkecepatan lebih dari 140 km/jam itu!

Mobil Sehun berjalan sangat cepat. Saking cepatnya sampai ia tidak dapat berhenti lagi. Sehun sadar, bisa saja ia kecelakaan atau mati di jalan. Tapi ia tidak peduli. Rasanya ia lebih ingin mati saat melihat Jung Hee yang gemetaran didalam pelukan Seung Jo.

Kali ini ia tidak rela. Entahlah, ia hanya tidak rela melihat Seung Jo memeluk Jung Hee.

Dipukulnya setir mobil kuat-kuat sambil berteriak, “Sial! Sial! Sial!”

Sehun sudah memutuskan. Ia harus mendapatkan gadis itu, apapun caranya.

To Be Continued…

 Note   : Comments are welcome. Jujur aja, katakan kekurangan ff ini. Author serius menerima apapun pendapat readers, seneng banget malah. Jangan takut atau merasa tidak enak~ Thanks!

Iklan

28 pemikiran pada “Racing love (Chapter 1)

  1. Shun itu bener-bener nekat ya??
    Wahh, itu jatuh cinta pada pandangan pertama mungkin??
    Masa baru aja ketemu udah langsung suka, apa lagi sampek nggak rela Junghee sama Seungjo, ckckckck

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s