Bad Girl! (Chapter 3)

Bad Girl!

By: Lee Yera (Lyr929)

Cast: Zhang Yizing, Yoon Joonhee

Genre: Romance, Angst

Rating: T

Inspired by MV Lee Hyori – Bad Girls

~***~

Chapter 3

Kedua mata itu mulai mengerjap bergantian, menyesuaikan dengan lingkungan sekitar. Entah sudah berapa lama gadis itu berbaring disana, langit mulai gelap. Dan Joonhee baru sadar jika ia tertidur sangat lama. Melupakan beberapa jam pelajaran sebelum bel pulang, sedikit meruntuk karna kebodohannya sendiri.

Yoon Joonhee, gadis itu kemudian berdiri, membersihkan beberapa dedaunan yang menempel pada seragamnya. Menghela nafas panjang sebelum berjalan menuju kelasnya, mengambil tasnya tentu saja. “Babo…” gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri.

Gadis itu sedikit mengernyit saat tidak mendapati kelasnya yang kosong, disana, seorang gadis duduk dengan manis ditempat yang sebelumnya milik Joonhee. Sebuah senyuman sinis terukir diwajah Joonhee, gadis itu kemudian berjalan dengan santai mengambil tasnya yang berada tepat dibelakang gadis itu.

“Yoon Joonhee” Panggilan gadis itu menghentikan langkah Joonhee yang berniat meninggalkan ruang kelas, sedikit bingung dengan gadis blateran itu. tadi memanggilnya eonni, sekarang?

“Mwoya?” Joonhee membalikkan tubuhnya, menyunggingkan senyumannya. Setidaknya ia tahu tempat dimana ia harus memperlihatkan senyuman sinisnya kan? Tidak didepan gadis itu, tidak didepan orang yang dicintai sahabatnya itu.

“Tidak usah berpura-pura, kau tidak menyukaiku kan?” Joonhee terkekeh pelan mendengar kalimat yang dikatakan gadis bermarga Im itu. “Jika iya, kenapa?” Jiyoung menyeringai, dan sayangnya itu disadari Joonhee.

“Wae? Karna aku merebut Yizingmu?” Joonhee hanya menggelengkan kepalanya diiringi kekehan yang masih saja terdengar diruangan itu. “Kau terlalu kekanakan Jiyoung…”

“Karna Yizing masih bersamaku, hingga hari ini. Kami masih berteman, ah tidak… bersahabat mungkin lebih tepat” Joonhee tersenyum lebar, ya… walau didalam hatinya gadis itu ragu dengan kata-katanya sendiri.

“Lalu?”

“Keunyang…” Joonhee kemudian berbalik, berniat meninggalkan kelasnya.

PLAKK

Gadis itu kembali membalikkan badannya saat mendengar suara tamparan. Keningnya sedikit mengernyit saat melihat Jiyoung menampar dirinya sendiri. “Kenapa kau menamparku? Apa salahku, Eonni…” Sebuah senyuman sinis terukir diwajah gadis dengan nama Yoon Joonhee itu. Apa yeojachingu sahabatnya itu sedang bermain peran, sungguh ini tidak lucu, atau… menarik mungkin?

“Kenapa ya…? Hanya ingin mungkin” Jiyoung sedikit tersentak dengan perkataan Joonhee, sangat tidak ia perkirakan.

“Aku heran… kenapa Yizing mau berpacaran dengan gadis sepertimu, benar-benar sulit dipercaya” Joonhee menggeleng-gelengkan kepalanya, matanya terlihat menilai Jiyoung dari atas hingga ujung kaki.

“Eonni!” Joonhee hanya memiringkan kepalanya mendengar suara Jiyoung yang mulai menarik. “Sepertinya… kau memang ingin ditampar LAGI, saeng” Joonhee kemudian berjalan mendekat kearah Jiyoung, gadis itu kemudian memainkan ujung rambut Jiyoung dan matanya yang masih menatap Jiyoung dengan pandangan meremehkan.

“Kalau ingin bermain denganku, kau harus belajar banyak dengan Yizing… jangan asal bermain peran seperti ini, benar-benar membuatku membencimu saeng…” Joonhee melayangkan beberapa helai rambut Jiyoung yang dipegangnya, kemudian berjalan keluar. Benar-benar meninggalkan Jiyoung yang kini menatap tangan kirinya menyeringai.

“Kau yang harus belajar banyak denganku, Yoon Joonhee”

Joonhee berbalik sekilas, gadis itu menatap ruang kelasnya dengan senyuman sinis. Yoon Joonhee lalu melanjutkan langkahnya, namun sebelum itu benar-benar terjadi, langkahnya terhenti. Sebuah benda dengan beberapa lonceng dilehernya terjatuh, dengan perlahan Joonhee memungut kembali sebuah boneka beruang dengan gaun merah muda dan kalung lonceng dilehernya. Sebuah senyuman kecil kini menghiasi wajahnya, hadiah pertama Yizing untuknya saat dirumah sakit lima tahun yang lalu.

“Ini apa?” Joonhee memandang Yizing dengan wajah bingungnya, gadis itu masih tidak mengerti. Kenapa Yizing memberikannya sebuah boneka?

“Kau tidak suka? Perempuan kan biasanya suka boneka” Joonhee terkekeh pelan, gadis itu memang bukan gadis biasanya.

“Aku kan perempuan special, tentu saja tidak biasa” Yizing terlihat mengerucutkan bibirnya, kesal.

“Ya sudah kalau tidak mau, aku bisa membuangnya” Yizing mengeluarkan boneka yang lain dari sakunya, laki-laki itu lalu berniat merampas milik Joonhee namun dengan cepat gadis itu menjauhkan boneka beruang itu dari jangkauan Yizing.

“Ini kan hadiah, sayang kalau dibuang. Lagi pula… sepertinya ini couple” Yizing lalu kembali menampakkan senyumnya, dengan semangat laki-laki berumur tiga belas tahun itu menunjukkan boneka dengan stelan tuxedo.

“Ehem… ini couple”

Cring…cring…

“tapi… kita bukan couple kan? Zhang Yizing?”

~***~

Yizing menatap gelisah bangku disebelahnya, berbanding terbalik dengan Joonhee yang duduk dibelakangnya, gadis itu terlihat santai dengan permen karet yang dikunyahnya juga kedua kaki yang ia letakkan diatas meja tidak memperdulikan tatapan guru Liu yang menatapnya geram.

“Yoon Joonhee!” Joonhee membuang nafas kesal lalu menurunkan kedua kakinya, gadis itu kemudian menendang pelan kursi Yizing didepannya. Hal itu membuat Yizing memandang Joonhee dengan raut wajah malasnya.

“Aku bosan… ayo bolos” Joonhee memandang Yizing dengan tatapan memohonnya, sedang Yizing hanya membuang nafas panjang lalu kembali menghadap depan. “aku sedang banyak pikiran Joon…” Perkataan Yizing sukses membuat Joonhee memutar kedua bolanya jengah, apa lagi yang bisa membuat Yizing menjadi seperti jika bukan gadis itu.

“Im Jiyoung?” Joonhee bisa melihat jika Yizing menganggukkan kepalanya pelan walau hanya terlihat dari belakang.

“Berhenti memikirkannya, dia bukan gadis baik Yizing-ah…” sebuah kalimat singkat yang mampu membuat Yizing langsung memandang Joonhee dengan kedua bola mata yang berkilat.

“Jangan melarangku Joon… lagi pula, setidaknya ia jauh lebih baik darimu” Yizing berkata lirih, benar-benar menekan kuat emosinya. Sedang Joonhee hanya tersenyum sinis, gadis itu dengan kasar mengambil tasnya lalu berjalan keluar kelas. Ia bahkan tidak mendengar teriakan guru Liu yang meruntuk gadis itu.

“Zhang Yizing… Kau keterlaluan” Joonhee kemudian berlari kearah atap sekolahnya, tidak lagi ketaman belakang. Gadis itu benar-benar tidak ingin siapun menemuinya saat ini.

Joonhee dengan kasar melempar tasnya kesembarang tempat, gadis itu kemudian berjalan kearah pagar pembatas. Menatap lirih halaman basket juga gerbang masuk sekolahnya, sebuah senyuman sinis kembali terukir diwajah gadis itu. “apa aku salah? Aku hanya menasehatimu Zhang Yizing… kau tidak perlu berkata seperti itu, karna aku sendiri tahu jika aku ini rusak

“Im Jiyoung… kau merebut satu-satunya yang kumiliki saat ini, Zhang Yizing… kau benar-benar melupakan janjimu” Joonhee memaksakan sebuah senyuman diwajahnya kembali mengingat kejadian beberapa tahun lalu saat perayaan satu tahunan persahabatannya dengan Yizing.

Aku janji tidak akan menyesal berteman denganmu Joon… seburuk apapun Yoon Joonhee,  Yoon Joonhee tetap yang terbaik

“Hanya karna seorang gadis yang baru kau kenal tiga minggu Yizing-ah…” Joonhee kini meremas seragamnya bagian kirinya, gadis itu tersenyum namun tidak menyadari jika setitik air mata jatuh dimata sebelah kanannya. Yoon Joonhee, menangis untuk yang pertama kalinya sejak ia berusia enam tahun. Dan itu… hanya karna seorang Zhang Yizing.

~***~

“Kenapa kemarin tidak masuk?” Yizing bertanya pada Jiyoung yang baru saja tiba dan duduk disampingnya, laki-laki itu berniat memegang lengan Jiyoung namun gadis itu malah menjauhkan tempat duduknya dari Yizing. Sejenak laki-laki itu mengerutkan keningnya bingung, apa ada masalah, Yizing juga sedikit aneh dengan penampilan Jiyoung yang terlihat memakai jaket dan menutupi kepalanya dengan tudung.

“Kau tidak apa-apa kan, Jiyoung?” Kebingungan Yizing berubah menjadi rasa khawatir yang berlebihan saat melihat bahu Jiyoung yang bergetar, dan laki-laki itu mengengar suara isakan. Sejenak, suasana kelas yang ramai tiba-tiba saja sepi saat menyadari Jiyoung yang kini menangis tersedu-sedu.

“Yizing… aku takut” Jiyoung kemudian memeluk erat Yizing, sedang Yizing yang masih saja tidak mengerti dengan apa yang terjadi, hanya mengusap pelan punggung Jiyoung.

“sstt… ada aku, kau tidak perlu takut” kata laki-laki itu lembut, merasa tangisan Jiyoung yang mulai mereda, Yizing melepaskan pelukannya. Laki-laki itu menatap Jiyoung dengan tatapan ‘ada apa?’

“Eonni… Joonhee eonni” semua mata langsung saja memandang Jiyoung yang menggumamkan nama Joonhee, dalam pikiran mereka ‘apa yang terjadi dengan troublemaker sekolah?’

“Joonhee kenapa?” Jiyoung kemudian kembali memeluk Yizing, gadis itu menangis lagi.

“Dia menamparku” Sontak saja semua mata membulatkan kedua mata mereka, Yizing langsung saja melepaskan pelukan Jiyoung. Laki-laki itu sedikit ragu, ia cukup mengenal seorang Yoon Joonhee.

“Tidak mungkin… Joonhee bukan gadis yang seperti itu” dengan tangan yang bergetar, Jiyoung mengeluarkan sebuah benda persegi panjang dari dalam sakunya. Sebuah ponsel. Gadis itu kemudian memutar rekaman suara yang merekam kejadian kemarin lusa dengan Joonhee.

“Tidak usah berpura-pura, kau tidak menyukaiku kan?” Yizing mengernyitkan dahinya, bukankah ini suara Jiyoung?

“Jika iya, kenapa?” Yizing langsung saja menajamkan pendengarannya, tidak salah… ini suara Joonhee.

“Wae? Karna aku merebut Yizingmu?”

“Kau terlalu kekanakan Jiyoung… Karna Yizing masih bersamaku, hingga hari ini. Kami masih berteman, ah tidak… bersahabat mungkin lebih tepat”

“Lalu?”

“Keunyang…”

PLAKK Laki-laki itu dan seluruh penguin kelas itu sontak saja melebarkan kedua mata mereka terkejut. Itu… suara tamparankan?

“Kenapa kau menamparku? Apa salahku, Eonni…”

“Kenapa ya…? Hanya ingin mungkin. Aku heran, kenapa Yizing ma-“ Yizing dengan kasar merebut ponsel Jiyoung dan mematikan pemutar suara itu, tidak ingin mendengar kalimat Joonhee yang pastinya sudah sangat membuatnya kecewa.

“Tidak mungkin…” Yizing menggeleng pelan, Jiyoung yang melihat itu langsung saja menangis histeris. “Kupikir… kau akan membelaku Yizing” Yizing yang mendengar perkataan Jiyoung kemudian memeluk gadis itu erat, kini rasa kecewanya berubah menjadi sebuah kemarahan.

Terdengar bisikan para murid yang terlihat mencibir Joonhee, beberapa saat kemudian mereka kembali terdiam saat melihat siapa yang masuk dengan santainya kedalam kelas. Yoon Joonhee.

Gadis itu dengan santainya berjalan menuju bangkunya, sedikit melirik bingung kearah Jiyoung dan Yizing yang berpelukan. “kalau ingin bermesraan, ingat tempat tuan Zhang…” komentarnya pelan, namun gadis itu mulai menyadari jika Jiyoung menangis dan seluruh kelas memandangnya tajam.

“Ada apa?” tanyanya tajam, membuat seluruh urid kecuali Yizing mengalihkan pandangan mereka.

“Aku kecewa padamu, Yoon Joonhee” Joonhee mengerutkan keningnya bingung mendengar kata-kata Yizing dengan nada yang sangat tajam, gadis itu sejenak terhenyak. Yizing tidak pernah berbicara dan menatapnya sebegitu tajamnya seperti saat ini, dan itu membuatnya semakin sakit.

“He? Bukankah aku yang seharusnya berkata seperti itu, Zhang Yizing?” Joonhee tersenyum selebar yang ia bisa, menyembunyikan raut wajah sedihnya.

“Berhenti tersenyum seakan tidak ada masalah apapun Yoon Joonhee” sontak saja gadis itu menghilangkan senyumnya, Joonhee menatap Yizing dengan raut wajah yang tidak bisa dipercaya. Gadis itu ragu, jika didepannya adalah Zhang Yizing yang ia kenal.

“Berhenti tersenyum seakan kau tidak bersalah Yoon Joonhee”

“Apa maksudmu Yizing-ah?” Yizing tidak menjawab pertanyaan gadis itu, laki-laki itu kemudian menyerahkan ponsel Jiyoung. Dengan sedikit bingung, Joonhee menerimanya dan melihat satu file yang menjadi penghuninya difolder itu. Sebuah senyuman sinis terukir diwajah gadis itu saat mendengar isi rekaman suara itu, Joonhee kemudian memandang Jiyoung dengan tatapan yang seolah-olah ia iba.

“Jadi… kau menjebakku? Im Jiyoung?” Jiyoung yang mendengar itu semakin mengeratkan pelukannya pada Yizing, gadis itu menangis entah untuk yang keberapa kalinya.

“Dan kau percaya? Zhang Yizing?” Jiyoung beralih memandang Yizing, menatap laki-laki itu yang masih saja memandangnya tajam.

“Geure… “ Joonhee menggantungkan perkataannya, gadis itu kemudian dengan kasar menarik lengan Jiyoung, menatap benci wajah gadis itu.

PLAKK

Sebuah tamparan mendarat mulus diwajah Jiyoung bagian kiri, membuat seluruh siswa memandang Joonhee dengan raut wajah tidak bisa dipercaya. Gadis itu menampar Jiyoung didepan umum. “Aku menamparnya, kau puas?” Joonhee menyunggingkan senyum kecilnya, Yizing yang melihat kejadian itu mengepalkan kedua tangannya menahan amarah.

“Kali ini sungguhan, Im Jiyoung…” Joonhee kembali menyeringai, tangannya terlihat memainkan ujung rambut yeojachingu sahabatnya itu, atau mantan sahabat?

PLAKK

Yizing menampar Joonhee, bukan tindakan yang gantleman memang. Namun laki-laki itu sudah tidak bisa mengendalikan emosinya yang benar-benar memuncak. Joonhee menatap datar Yizing, rasa sakit diwajahnya tidak sebanding dengan apa yang gadis itu rasakan saat ini. Sebuah senyuman sinis terukir diwajah gadis itu, benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilakukan Yizing. Menamparnya? Yang benar saja…

“Kau menamparku? Zhang Yizing? Hanya demi gadis murahan sepertinya?”

PLAKK

Gadis itu kembali menerima tamparan menyakitkan dipipi kirinya, cukup lama gadis itu mencerna apa yang baru saja terjadi. Yizing menamparnya. Lagi.

“Kau bahkan tidak ada harganya, Yoon Joonhee” kata Yizing dingin, benar-benar dingin. Joonhee memaksakan senyumnya lalu tanpa berkata apapun berjalan keluar ruangan. Dan sebelum benar-benar keluar kelas gadis berkata pelan, walau bisa didengar seluruh penghuni kelasnya itu.

“Aku… benar-benar kecewa padamu, Zhang Yizing”

~***~

Dengan kecepatan maksimum, Joonhee melajukan mobilnya. Menuju tempat yang biasa ia kunjungi dengan teman-teman sejalannya. Gadis itu tidak bisa berpikir kemana lagi ia akan berhenti kecuali tempat itu. Tempat pertama ia mengenal dunia malam, dunia yang dianggap orang lain begitu kotor dan menjijikkan, termasuk Yizing, mantan sahabatnya sendiri.

“Woaa… lihat siapa yang datang” Kata seorang laki-laki bertubuh kekar dengan beberapa wanita murahan yang mengelilinginya, Joonhee yang mendengar itu hanya tersenyum kecil kemudian berjalan mendekat kearah kerumunan orang-orang didalam bangunan yang sudah lama terbengkalai itu.

“siapa lagi…”

“Joonhee, ada apa dengan wajahmu?” Kini seorang wanita yang berjalan mendekat kearahnya, gadis itu tersenyum lalu meningkirkan tangan wanita yang memegang dagunya itu.

“Hanya masalah kecil”

“Kederangannya tidak seperti itu” Joonhee hanya meringis kecil mendengar perkataan wanita itu, apa sebegitu terlihatnya ya jika ia berbohong?

“Sudahlah… hanya masalah yang tidak penting, bagaimana jika kita berpesta? Aku yang traktir” semuanya sontak saja berteriak semangat mendengar perkataan Joonhee, bagi mereka, tidak ada yang lebih menarik selain berpesta.

~***~

“Gwenchana?” Jiyoung yang mendengar itu hanya mengangguk lemah, gadis itu kemudian tersenyum.

“Kau mulai lancar berbahsa Korea, tenang saja… aku tidak apa-apa” Yizing kemudian terkekeh pelan, laki-laki itu kemudian mendekatkan wajahnya pada Jiyoung, mengecup sekilas pipi kiri Jiyoung.

“hati-hati dijalan” Jiyoung mengangguk lalu berjalan masuk kedalam mobilnya, gadis itu kemudian melambaikan tangannya sebelum benar-benar pergi meninggalkan area sekolah mereka.

Sebuah senyuman kemenangan terukir jelas diwajah Jiyoung saat mengingat kejadian siang tadi, gadis itu kemudian mengusap bekas tamparan Joonhee tadi. Wajahnya seketika berubah menjadi kesal namun langsung berubah menjadi tawa bahagia saat kembali mengingat jika Yizing juga menampar Joonhee, bahkan itu dua kali.

“Yoon Joonhee, kau kalah…” gumamnya pelan masih dengan seringaian yang mengerikan, sepertinya dewi fortuna sedang tidak memihak padanya. Dari arah depan, terlihat sebuah truk yang berjalan dengan ugal-ugalan dan sayangnya Jiyoung tidak focus karna terus memikirkan bagaimana ia membuat nama Joonhee buruk dimata Yizing.

Sampai itu benar-benar terjadi…

BRAKK

Dan Im Jiyoung tidak bisa merasakan apapun, bahkan yang ia dengar saat ini hanya suara orang-orang yang mulai mengerumuni mobilnya. Gadis itu merasakan sakit yang amat sangat diperutnya, pandangannya mulai mengabur dan gadis itu sudah kehilangan kesadarannya.

~***~

Dengan tergesa-gesa Yizing berlari menyusuri koridor rumah sakit yang terlihat ramai dengan orang yang berlalu lalang, laki-laki itu bahkan tidak memperdulikan saat orang-orang mulai meneriakinya saat dengan tidak sengaja ia menabraknya. Didalam pikirannya hanya satu, Im Jiyoung.

Langkah laki-laki itu terhenti didepan sebuah ruang gawat darurat, disana ia melihat ayah dan ibu Jiyoung yang menangis histeris. Saat itu juga pandangannya mengabur, air mata keluar dari kedua matanya saat melihat keadaan Jiyoung dari kaca jendela ruang gawat darurat.

“Jiyoung…”

Ceklek…

Ketiga orang itu sontak saja mendatangi dokter yang menangani Jiyoung, raut wajah dokter itu tidak bisa diartikan. “Keluarga saudara Im Jiyoung” katanya pelan.

“Kami…” kata Nyonya dan Tuan Kim bersamaan, dokter itu kemudian menarik nafas panjang sebelum menjelaskan apa yang terjadi pada putri satu-satu keluarga Im itu.

“Saudara Im Jiyoung hampir kehabisan darah, itu bukan masalah terbesarnya, tapi… kedua ginjalnya remuk saat kecelakaan itu terjadi. Kami harus cepat-cepat melakukan tranplantasi” Nyonya Im langsung saja merosok kelantai, ia menangis histeris karna tahu kondisi putrinya.

“Lakukan yang terbaik dok…” Tuan Im memegang tangan dokter itu penuh harap, apapun ia lakukan demi anaknya.

“Tapi… kami tidak memiliki persediaan ginjal dengan golongan darah AB-“

“Kumohon dok…”

“Sangat sulit mencari orang yang mau mendonorkan salah satu ginjalnya saat ini juga”

“Selamatkan anakku dok…” Nyonya Im semakin histeris mendengar apa yang dikatakan dokter itu, kemudian dokter itu menghela nafas lalu berbicara sesuatu dengan suster yang berdiri disampingnya.

“Aku tidak tahu ini berguna atau tidak, tapi cobalah” dokter itu menyerahkan sebuah buku besar pada tuan Im, dengan cepat laki-laki paruh baya itu membuka buku itu. terdapat ratusan nama, nomor handphone serta golongan darah yang tercatat disana.

“Itu daftar pendonor darah dirumah sakit ini, aku tidak yakin ada yang mau mendonorkan ginjal mereka” Dokter itu menjelaskan lalu pergi menuju ruangannya bersama suster yang sejak tadi menemaninya. Dengan cepat tuan Im mengeluarkan ponselnya mencoba menghubungi satu persatu orang yang memiliki golongan darah AB-

Yizing hanya duduk menyandarkan punggungnya pada dinding rumah sakit yang begitu dingin, menyesal karna ia tidak mengantar Jiyoung kerumahnya saja tadi sore. Laki-laki kemudian memperhatikan tuan Im yang terus mencoba menghubungi nomor-nomor yang ada didalam buku besar itu. Laki-laki itu kemudian berjalan mendekat saat mendengar tuan Im yang merubah ekspresinya menjadi bahagia.

“Apa sudah ada pendonornya, paman?”  Tuan Im mengangguk, hal itu membuat Nyonya Im bersujud syukur.

“Sebentar lagi ia kemari” Yizing mengangguk, wajahnya terlihat sangat bahagia, setidaknya… satu masalah terselesaikan.

Tidak menunggu lama, seorang gadis terlihat mendekati mereka bertiga. Ia tersenyum kearah Nyonya dan tuan Im juga Yizing. “Dimana aku bisa melakukan tesnya?” Yizing mengantar gadis itu keruangan Jiyoung, seseorang suster terlihat membimbing gadis itu menuju suatu ruangan.

Sekitar setengah jam lagi, gadis itu keluar dengan raut wajah yang sulit diartikan. Membuat Yizing was was dibuatnya. “Maaf… darahku memang AB reshus negative, tapi tidak cocok” dan saat itu juga, harapan Yizing juga orang tua Jiyoung hancur seketika.

“Eontthokae yeobo? Itu nomor terakhir” Nyonya Im kembali histeris, sedang tuan Im terlihat menenangkan istrinya. Terlihat jelas jika mereka sangat sedih juga terpukul.

Yizing memutar otaknya untuk berpikir, AB-… AB-…

Darahku AB dengan rhesus negative, subkelompok A3b, juga… Junior rhesus negative

Laki-laki itu ingat, golongan darah Joonhee juga AB-. Yizing dengan cepat menyambar jaketnya namun ingatan tentang apa yang ia lakukan pada Joonhee tadi siang kembali teringat. Laki-laki itu memukul kepalanya pelan lalu membuang nafas kasar.“Kau bisa Zhang Yizing!”

~***~

Joonhee tertawa keras saat melihat tingkah konyol beberapa teman-temannya, gadis itu terlihat melupakan masalahnya. Walau hanya sejenak. Gadis itu kemudian berniat memukul belakang kepala temannya sampai suara orang yang membuka pintu membuat keadaan didalam ruangan itu hening. Yoon Joonhee sontak saja membuang muka saat melihat siapa yang datang merusak acaranya.

Joonhee sedikit mengernyit saat melihat mata Yizing yang sembab, ada apa dengan namja itu?

Yizing menatap sendu Joonhee, laki-laki itu kemudian bersimpuh dihadapannya dan itu membuat semuanya mengernyit heran karna tingkah Yizing.

“Joonhee… Kumohon, tolong aku”

TBC

Allmyfantasylyr.wordpress.com

Iklan

18 pemikiran pada “Bad Girl! (Chapter 3)

  1. Thor.. Keren bgt sumpah thor, gaboong! Feelnya dapet bgt!
    Cepet dilanjut ya thor, jangan kelamaan… Pokoknya ini harus dilanjut, gamau tau hehe 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s