Monalisa (Chapter 7)

Title : Monalisa (Part 7)

Author : FebrinaFR

Genre : Romance, family and I don’t know 😀

Rating : PG-13

Length : MultiChapter

Cast : -Monalisa (OC)

-Kim Jongin

-Oh Sehun

-Nd Others

MONALISAAA

Nb : Ini FF saya^^ dan milik saya. mohon jangan  bash, kalo mau kritik boleh, tapi baik-baik ya 😀 Semua castnya milik Tuhan, kecuali kkamjong , He is mine ! ^^ Typo tersebar dmana-mana,  Alurnya abstrak authornya apa lagi, biarpun ini FF gaje tetap RCL yaaa^^

HAPPY READING !

Part 7

Author POV

Seorang namja berjalan dengan langkah yang tergesa-gesa. Dibelakangnya, ada seorang yeoja yang sedang berusaha menyamai langkah namja bertubuh tinggi itu. Pergelangan tangan yeoja tersebut sedang digenggam, salah melainkan ditarik dengan paksa oleh namja didepannya dan menimbulkan rintihan pelan dimulut sang yeoja.

“Sehun-ah, lepaskan aku. Sakit sekali !” perintah yeoja itu tetapi tidak didengarkan oleh Sehun. Sebaliknya, Sehun malah menarik tangan yeoja itu semakin kuat sehingga tangannya terlihat merah.

“Kim Jongin ! lihat siapa yang aku bawa !” Sehun menghempaskan yeoja itu di depan Jongin. yeoja tersebut memegangi pergelangan tangannya yang terasa sakit sembari menatap Sehun takut.

Jongin memandangi yeoja dihadapannya dengan seksama, kemudian mengalihkan pandangannya kepada Sehun.

“Siapa dia? aku tidak mengenalnya” jawab Jongin acuh.

Jongin berjalan melewati Sehun tetapi tangan Sehun menghentikan langkahnya.

“Dia Min Jung, dia yang sudah menumpahkan kopi di lukisanmu dan memfitnah Monalisa”

Sikap Jongin yang semula acuh, sekarang menjadi sangat tertarik kepada berita yang dibawa Sehun. Jongin beralih menatap yeoja bernama Min jung tersebut dan berjalan mendekatinya.

“Oh, jadi kau yang merusaknya dan kau juga yang telah memfitnah gadis itu” Jongin menatap tajam yeoja dihadapannya, jari jemari Jongin berjalan menelusuri setiap lekukan wajah Min Jung.

“Wajahmu cantik, bagaimana jika aku merusaknya sama seperti yang telah kau lakukan pada lukisan ku itu? bagaimana? Aku akan membuat wajahmu memiliki nilai seni yang lebih??” Jongin menusuk-nusukkan jari-jarinya ke pipi Min Jung dan membuat Min Jung bergidik ngeri terhadap sikap Jongin.

“Kim Jongin..ma..maafkan aku..”Min Jung tertunduk, tidak berani menatap Jongin yang seperti sedang kesurupan.

“Tidak..tidak..tidak..maaf saja tidak cukup” Jongin hendak melayangkan satu pukulannya kepada Min Jung tetapi tangan Sehun menahannya.

“Jongin ! apa kau gila?!” bentak Sehun.

“Ya ! aku memang gila Sehun-ah. Kau tahu? Karena gadis sialan ini, aku sudah memukul Monalisa ! dan kau,  kau tahu apa yang kau lakukan? Tidakkah kau berfikir sebelumnya? Atau bahkan aku tidak punya otak ?!” Jongin menatap Min Jung penuh amarah. Sementara Min Jung mulai terisak.

Sehun yang melihat sikap Jongin tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tahu, saat ini Jongin sedang kacau.

“Min Jung, lebih baik kau pulang !” Perintah Sehun, ia tidak mau melihat Jongin semakin ‘menjadi’ karena Min Jung masih berada di rumahnya.

Min Jung menuruti perintah Sehun, ia tidak mau berlama-lama disitu. Bisa-bisa Jongin membunuhnya.

“Tunggu, apa alasanmu berbuat seperti itu?” Tanya Jongin, dia terlihat lebih stabil dan bisa mengendalikan emosinya sekarang.

“Aku..aku menyukai Sehun. Dan aku tidak suka melihat Monalisa bersamanya” Min Jung berlari meninggalkan Jongin dan Sehun.

Sehun terperangah mendengar pernyataan Min Jung, ia tidak menyangka Min Jung akan menyatakan hal itu di depannya.

Jongin menatap Sehun, bibirnya membentuk lekukan smirk yang ditujukannya kepada Sehun dan berjalan gontai menuju kamarnya. Hari ini benar-benar menjadi hari yang sangat buruk di hidup Jongin.

Sehun hendak menyusul Jongin, tetapi diurungkannya niat tersebut. Dia berfikir bahwa saat ini sepupunya itu sedang butuh waktu sendiri.

Jongin POV

Aku telah mengetahui sebuah kenyataan. Bukan Monalisa yang merusak Lukisanku. Seadainya aku mendengar penjelasannya, pasti semua ini tidak akan terjadi. Aku memang selalu menyakitinya, padahal aku mencintainya. Aku bersalah padanya, bagaimana aku bisa memperbaikinya?

Hari ini menjadi hari yang sangat berat buatku, bahkan setiap detiknya terasa sangat lama. Dan besok, besok adalah hari yang aku tunggu-tunggu. Pameran lukisan. Setiap peserta harus menyediakan lima lukisan, lukisanku kurang satu. Apa mungkin aku bisa menyiapkannya selama satu malam? Lagi pula suasana hatiku sedang buruk, bisa-bisa lukisanku berwarna hitam seperti saat itu.

Aku melihat jam di dinding kamarku, menunjukkan pukul 8 malam dan Monalisa belum pulang. Aku menjadi sangat khawatir terlebih lagi kesalahan yang aku buat padanya tadi siang. Aku memutuskan untuk melengkapi satu karyaku sambil menunggunya pulang. Kupejamkan mataku, mencoba membayangkan sesuatu yang dapat aku lukis tapi tidak terbayang apa-apa. hanya wajah Monalisa yang aku lihat. Wajah cantiknya dengan mata yang berkaca-kaca, sesungguhnya itu membuatku semakin sedih.

Skip>>

Kringg…!!!

Jam wekerku berbunyi, menunjukkan pukul 6 pagi. Aku tidak tidur selama semalaman, hebat sekali ya. Bagaimana aku bisa tidur? Jika gadis itu belum pulang hingga saat ini.

Aku mengambil handphone ku yang tergeletak di atas meja, kemudian aku menepuk jidatku menyadari hal konyol yang baru saja aku lakukan.

“Monalisa tidak mempunyai handphone !” gerutuku kesal. “Gadis itu hidup di jaman apa sih ! handphone saja tidak punya !”.

Aku melempar Handphone ku di atas ranjang dan beralih meninggalkan kamarku.

Aku tahu, siapa yang dapat aku temui.

Author POV

“Sehun-ah !” teriak Jongin ketika sampai di kamar Sehun. Sehun hanya menatap Jongin dingin. Ia masih kesal terhadap apa yang Jongin lakukan semalam.

“Ap..apa kau tahu..dimana..dimana Monalisa??” Tanya Jongin sedikit gugup melihat tanggapan Sehun.

“Jika aku memberitahunya, apa yang akan kau lakukan?” Tanya Sehun, ia membelakangi Jongin.

“Aku akan meminta maaf padanya” Jawab Jongin jujur.

“Minta maaf padanya? Setelah itu kau akan menyakitinya lagi? Begitu?”

Jongin merasa bingung, ia tidak tahu harus menjawab apa.

“Berikan aku alasan yang lebih kuat Kim Jongin, agar aku mau memberi tahukan dimana Monalisa” Ujar Sehun masih membelakangi Jongin. Sementara Jongin sedang berpikir keras dengan jawaban apa yang akan ia berikan kepada Sehun.

“Aku mencintainya Sehun-ah, aku.. mencintai ..Monalisa !” Jawab Jongin lantang. Ia tidak mau lagi berpura-pura di depan Sehun. Ini semua sudah cukup baginya. Terserah pada apa yang akan dilakukan Sehun terhadapnya, ia tidak peduli lagi.

Brukkk !!

Sehun melayangkan pukulannya kepada Jongin dan membuat Jongin tersungkur. Darah segar keluar dari sudut bibir Jongin.Namun tidak di hapusnya.

Jongin merasa, pukulan itu sangat pantas untuknya, bahkan dia pantas mendapatkan yang lebih dari ini. Jongin tidak membalas pukulan Sehun, ia masih menunggu tindakan Sehun selanjutnya terhapat dirinya.

Diluar dugaan Jongin, Sehun mengulurkan tangannya, berusaha membantu Jongin berdiri. Jongin yang heran melihat sikap Sehun hanya bisa menatapnya.

“Hmm, aku tahu kau mencintainya” Sehun tersenyum kepada Jongin. Dirangkulnya sepupu yang tadi ia lukai itu.

“Kau tidak marah??” Tanya Jongin setengah berteriak kepada Sehun. Ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Sehun hanya menggeleng pelan.

“Tapi kenapa kau memukulku????”

“Aku hanya ingin membuatmu merasakan apa yang Monalisa rasakan dan anggap saja itu pembalasanku karena aku selalu kalah darimu”

Jongin menatap Sehun dalam, ia merasa sangat beruntung memiliki saudara sebaik Sehun. Sehun merasa risih dengan tatapan Jongin dan kembali memukul pipi Jongin.

“Yak ! kenapa kau memandangku seperti itu?? apa kau jatuh cinta padaku?” Sehun bergidik ngeri melihat Jongin.

Jongin hanya menggeleng sembari tersenyum.

“Monalisa, dia ada di Jeju” lanjut Sehun.

Mendengar ucapan Sehun, sontak membuat Jongin berlari dan memeluknya, “Gomawo Sehun-ah. Gomawo.. aku akan ke Jeju sekarang !” jawab Jongin senang.

“Lalu bagaimana dengan pamerannya???” Tanya Sehun.

“Itu tidak penting lagi Sehun-ah. Aku masih bisa mengikutinya tahun depan. Sampai jumpa !” Jongin berlari meninggalkan Sehun.

“Hhh, aku memang selalu kalah darimu Kim Jongin” ujar Sehun dan beranjak menutup pintu kamarnya.

Monalisa POV

Saat ini aku sedang berada di Jeju. Pertama kali melihat kedatanganku yang tiba-tiba, Halmeoni kaget dan menanyakan berbagai macam alasan yang membuatku pulang ke Jeju. Aku berbohong padanya, aku bilang saja aku sedang liburan dan berniat memberi kejutan kepada Halmeoni. Syukurnya, dia percaya pada kebohongan yang kubuat. Aku tidak ingin membuatnya sedih mendengar alasanku yang sesungguhnya.

“Monalisa, Halmeoni akan pergi belanja ke pasar, kau jaga rumah ya” Halmeoni mengambil keranjang belanjaan di dapur, “Oh iya, jangan lupa tanaman yang dihalaman disiram” lanjutnya.

Aku hanya tersenyum menanggapinya, keadaan ini sama seperti apa yang aku lakukan sebelum pergi ke Seoul.

Setelah Halmeoni pergi, aku mengganti Rok pendekku dengan celana santai agar lebih mudah ketika berkebun.

Tanaman-tanaman halmeoni terlihat sedikit layu, bahkan ada beberapa yang mulai mati. Aku memutuskan untuk memisahkan tanaman yang mati dan yang masih segar.

“Yang segar aku letakkan disini saja. Dan yang sudah layu, akan aku pisahkan” Aku bergumam sendiri sembari menata tanaman-tanaman itu pada tempat yang semestinya.

Tatapanku tertuju pada beberapa tanaman yang layu, terlihat kering dan begitu menyedihkan.

Apakah keadaanku saat ini sama seperti bunga ini? layu, terlihat sangat menyedihkan dan akan segera mati. Seperti itukah aku?.gumamku pada diri sendiri.

Setelah semuanya tertata dengan rapi, aku akan menyiraminya agar terlihat lebih segar. Aku mengambil selang dan akan menghidupkan kerannya. Langkahku terhenti, tepat beberapa meter dihadapanku berdiri seseorang yang aku kenal sedang menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kuartikan, dia Kim Jongin.

Jongin berjalan mendekatiku, jarak kami hanya beberapa centi saja saat ini.

Dia tidak mengatakan apapun padaku, aku menatap wajahnya lekat-lekat, wajahnya memar. Pipinya terlihat membiru dan disudut bibirnya terlihat noda darah yang telah kering.

Secara spontan tanganku bergerak menyentuh sudut bibirnya yang berdarah itu, “Ada apa dengan wajahmu, kenapa seperti ini?” tanyaku, terdengar jelas bahwa aku menghawatirkannya.

Dia tidak menjawab pertanyaanku, dia masih menatapku dengan tatapan itu.

“Kau..kau duduk disini. Aku akan segera kembali” Ujarku dan berlari meninggalkannya.

Aku berlari ke dapur dan kembali dengan sebuah baskom yang berisi air dingin beserta sebuah handuk kecil.

Aku duduk di samping Jongin, mencoba menatap wajahnya.

Tanganku bergerak mengompres luka memar yang ada dipipinya. Jongin menatapku kaget, aku tahu dia pasti heran dengan apa yang aku lakukan ini, jangankan dia aku sendiri heran dari mana aku mendapatkan keberanian ini. aku tidak memperdulikan tatapannya terhadapku dan juga jantungku yang mulai bernyanyi lagi.

Jarak kami saat ini sangat dekat, bahkan wajah kami hampir menempel jika tubuhku tidak lebih pendek darinya. Mata kami saling bertatapan, aku dapat mendengar jantungku bernyanyi sangat keras seolah mencapai nada tinggi ‘do’. Aku tidak tahu apa yang ada dipikirannya saat ini tentangku.

“Hmmm, Monalisa.. maaf, maaf atas sikapku waktu itu. aku tidak mendengar penjelasanmu terlebih dahulu. Maafkan aku..” Ujar Jongin sembari menatap mataku. Sesungguhnya aku tidak kuat dengan tatapan ini.

“Tidak  apa, aku sudah melupakannya dan lukamu juga sudah kubersihkan” aku beranjak dari tempat duduk dan berjalan meninggalkannya.

Sesampainya di dapur aku tidak langsung kembali menemuinya melainkan berdiam diri di dapur dan berusaha mencerna kembali ucapan yang tadi aku dengar. Jongin meminta maaf padaku? aku harus menjawab apa. semudah itukah dia mengucapkan kata maaf padaku. ataukah mungkin semudah itu juga aku memaafkannya.

“Monalisaaaa !” kudengar suara Halmeoni memanggilku dari luar. Sepertinya ia sudah kembali dari pasar dan sekarang pasti dia sudah bertemu dengan Jongin.

“Monalisaaa !” panggilnya kedua kali, dan membuatku mau tidak mau menemuinya.

Benar dugaanku, bahkan sekarang aku dapat melihat Jongin sedang duduk di Ruang Tamu dengan Halmeoni yang duduk di sebrangnya.

“Monalisa, kenapa temanmu datang kau malah di Dapur?” Tanya Halmeoni dengan keranjang belanjaan masih di tangannya.

“Ehh, ee aku..sedang membuat minuman untuknya Halmeoni..”jawabku berbohong.

“Kalau begitu, mana minumannya?” halmeoni menatap heran tanganku yang Kosong tanpa nampan.

Monalisa pabo-ya. Aku mencibir dalam hati menyadari pernyataan bodohku.

“Oh, Iya.. ketinggalan di dapur” aku berusaha tersenyum menyembunyikan kegugupanku. Meskipun aku tahu pasti senyumku terlihat aneh.

Aku kembali ke dapur dan mulai membuatkan minuman untuk tamu yang ada di depan. Dua gelas teh panas pun siap.

Dengan hati-hati aku membawanya ke Ruang tamu dan meletakkannya di atas meja.

“Ya ampun, panas sekali. Kenapa kau tidak buatkan yang lebih dingin?”

“Untung saja aku tidak membawakannya air mendidih, Halmeoni” jawababku cuek dan kemudian Halmeoni melotot kearahku. Aku tidak tahu mendapat keberanian dari mana mengatakan hal itu kepada Kim Jongin.

“Ah, sudahlah. Halmeoni akan memasakkan sesuatu untuk kalian. Monalisa temani Kim Jongin disini !” perintah Halmeoni. Halmeoni bahkan sudah tahu namanya.

Sepeninggalnya Halmeoni dari ruang tamu, membuat keadaan tiba-tiba menjadi sunyi. Kami berdua hanya saling diam. Perasaan gugup sedang mendominasi pikiranku. Aku merasa Udara disekitar yang semula panas menjadi  sangat dingin, atau mungkin ini karena hawa dingin Jongin yang selalu dibawanya kemana-mana.

“Ehhhmmm..” Jongin mulai bergeming. Sepertinya dia akan mengatakan sesuatu. Apapun itu semoga bukan cacian.

“Monalisa??” lanjutnya.

“Ehhmm..” aku hanya menjawabnya dengan deheman. Aku merasa saat ini kami benar-benar canggung.

“Bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanyanya lagi.

Meskipun saat ini kami sedang memulai pembicaraan, tapi posisi duduk kami masih saling membelakangi satu sama lain.

“Ehhhmmm” jawabku masih sama. Pertanyaan Jongin sepertinya mulai serius.

“Maukah kau temani aku berkeliling pantai?”

“Ehhmmm????” jawabku kaget. Dengan jawaban sama tapi dengan nada yang berbeda. Aku membalikan badanku, menatapnya dengan tatapan kaget dan bingung.

Aku pikir dia akan menanyakan sesuatu yang ‘penting’, rupanya dia ingin memintaku untuk menemaninya berjalan-jalan.

“Kenapa ekspresimu begitu? jelek sekali” Tanya Jongin dengan ekspresi mengejek.

“Pertanyaanmu itu, kupikir sesuatu yang penting..” Ujarku menatapnya kesal.

“Apa? kau memikirkan apa?” Tanyanya

Aku berjalan keluar rumah, meninggalkannya dengan ekspresi yang masih meledekku.

“Kau sudah memaafkanku?” Tanya Jongin yang telah berada disampingku. Pria ini memiliki kaki yang panjang sehingga dengan mudah dia menyamai langkahku.

“Aku tidak berkata demikian” jawabku berusaha terkesan dingin.

“Oh, baiklahh” balasnya santai.

Jongin POV

Ini lucu sekali, dia bilang dia marah, tapi kenapa ekspresi marahnya malah membuatku ingin tertawa bukannya ketakutan. Aku memintanya untuk menemaniku jalan-jalan, meskipun ia tidak menjawabnya langsung tapi dia malah pergi keluar mendahuluiku. Bukankah itu tandanya dia mau.

Ini pertama kalinya aku berjalan di pantai bersama seorang yeoja, terkecuali Eommaku. Aku merasa sebuah sensasi melanda hatiku. Mungkin ini suatu kebahagian yang aneh karena secara nyata aku dan Monalisa tidak berjalan berdampingan, melainkan dia jauh beberapa meter di depanku. Dia melangkah dengan tergesa-gesa dan jika aku mengejarnya dia akan berlari juga. Tapi, hal ini tetap saja membuatku senang, karena dengan begini aku dapat mengunci pandanganku untuknya.

Author POV

Monalisa menghentikan langkahnya, kakinya terasa pegal karena sedari tadi terus saja berjalan. Dilihatnya sebuah batu karang besar yang menjorok ke pantai dan tampak sangat nyaman jika diduduki. Ia melangkahkan kakinya ke batu itu, di regangkannya kedua kakinya.

“Huh, lelah sekali ya” Sapa sebuah suara yang tiba-tiba duduk disamping Monalisa.

Monalisa sangat mengenal suara itu tanpa melihat wujudnya.

“Apa kau masih marah padaku? aku minta maaf, aku tahu aku sangat bersalah padamu. Maafkan aku” Ujar Jongin berubah menjadi serius.

“Kau bilang itu salahku, kenapa meminta maaf? Kau bilang kau muak melihatku, kenapa kau menemuiku? Dan kau bilang tidak ingin berada di tempat yang sama denganku, kenapa kau mengikutiku ?” Tanya Monalisa tidak kalah serius dari Jongin.

Jongin terdiam, ia seolah termakan oleh ucapannya sendiri. Dan sekarang ia tidak tahu harus menjawab apa. pikirannya sedang melayang-layang berusaha mencari jawaban yang dianggapnya pas.

Monalisa beranjak, “Bahkan kau sendiri tidak tahu jawabannya” terdengar nada kecewa dari ucapan Monalisa.

“Karena aku bersalah jadi aku meminta maaf, karena aku merindukanmu jadi aku menemuimu, dan karena aku mencintaimu aku ingin selalu bisa melihatmu jadi aku mengikutimu” Ucap Jongin. tidak ada keraguan lagi dihatinya. Ia benar-benar menyayangi yeoja yang berada beberapa meter dihadapannya itu.

Jongin hendak berlari kearah Monalisa, tapi salah satu sisi batu yang ia pijak rapuh dan membuatnya tidak bisa menyeimbangkan badannya.

Byuuuurrrr !!

Monalisa terdiam, ia seperti mendengar sesuatu terjatuh ke air. Monalisa kembali ke atas batu untuk memastikan perkiraannya salah. Matanya membulat ketika melihat Jongin tengah bersusah payah berenang di dalam air. Tak beberapa lama, gerakan tubuh Jongin mulai melemah, dan tenggelam. Untuk kedua kalinya Monalisa menceburkan dirinya ke air untuk menolong Jongin. ia tidak ingin sesuatu terjadi pada namja yang ia kasihi itu.

Monalisa berhasil membawa Jongin ke darat, dirasakannya jantung jongin masih berdetak. Monalisa mencoba membuat pertolongan pertama. Namun Jongin tidak kunjung sadar.

“Kenapa kau selalu membuatku cemas !” ujar Monalisa. dirinya mulai cemas karena Jongin tidak memberinya respon.

Plaaakkkk !

“Yak ! kenapa kau menamparku ?!” Ujar Jongin yang tiba-tiba sadar. Pipi kirinya memerah akibat tamparan dari Monalisa.

“Hufftt, akhirnya kau sadar juga” Monalisa merasa sangat lega.

“Kau ingin balas dendam padaku ya?” Ucap Jongin kesal akibat pukulan Monalisa. sementara Monalisa juga kesal dengan respon yang diberikan Jongin kepada pertolongannya.

“Kau bukannya terima kasih ! kau tahu, Kau sudah dua kali membuatku seperti ini” Monalisa membelakangi Jongin, matanya sedikit berair. Ia merasa sangat kesal dengan sikap Jongin.

“Jadi sudah dua kali kau menamparku? Whoaa hebat sekali, bahkan aku tidak tahu !” Jongin berdecak kagum, ia masih belum mengerti keadaan yang sebenarnya terjadi.

“Bukan itu ! sudah dua kali kau membuatku khawatir seperti ini. kau pikir ini mudah buatku? Melihatmu sekarat di depan mataku. Jadi berhentilah bersikap seolah-olah kau tidak tahu apa-apa!” amarah Monalisa memuncak, ia kecewa dengan sikap Jongin.

Jongin yang melihat sikap Monalisa kepadanya dibuat bingung, ia tidak mengerti maksud ucapan Monalisa. dua kali? Apanya yang dua kali? Pikir Jongin. atau jangan-jangan, waktu itu..

“Jadi, kau yang waktu itu menolongku?” Seolah menyadari sesuatu, Jongin berjalan mendekati Monalisa. ia seakan telah mengerti apa yang terjadi.

“Kau bahkan tidak menyadarinya..” Monalisa berlari meninggalkan Jongin. sementara Jongin, ia masih diam ditempat semula sembari berusaha mencerna kejadian yang baru saja dialaminya.

Apa aku melakukan kesalahan lagi..

***

Jongin POV

Aku sedang duduk di Ruang tamu sendirian, dan baru saja menghabiskan jatah makan malamku.

“Halmeoni sudah menelpon Lee Harabeoji, jadi dia tidak perlu menghawatirkanmu” Ujar Halmeoni dengan senyum khasnya yang selalu ia berikan kepadaku.

Aku memang ingin menginap di Rumah Monalisa, jadi aku meminta tolong Halmeoni untuk memberitahu keluargaku agar tidak khawatir.

“Emmm, terima kasih Halmeoni” Aku membungkuk kepada Halmeoni. Halmeoni benar-benar baik kepadaku. Halmeoni hanya tersenyum.

“Emmm, Halmeoni. Dimana, dimana Monalisa?” Tanyaku dengan sedikit canggung. Dari tadi aku tidak melihatnya.

“Dia sedang istirahat di kamarnya” Jawab Halmeoni masih dengan senyum ramahnya.

Aku hanya mengangguk-anggukan kepala, tanda bahwa aku mengerti.

“Ya sudah, sebaiknya kau istirahat juga ya. Itu, kamar yang biasa digunakan untuk tamu. Kau bisa menempatinya” pandanganku tertuju pada sebuah pintu yang di tunjuk Halmeoni. Aku tersenyum dan mengangguk mengerti.

Aku berjalan menuju ruangan yang tadi di tunjuk Halmeoni, kamar yang sangat sederhana. Sebuah ranjang tidur dan lemari menghiasi kamar ini. jujur, ini berbeda dari kamarku, tapi kamar ini terasa jauh lebih nyaman dibanding kamarku.

Kurebahkan diriku di atas ranjang, aku masih tidak percaya sekarang aku akan menginap dirumah Monalisa. Tapi, tetap saja ada satu hal yang masih membuatku sedih. Monalisa, gadis itu belum memaafkanku.

Skip>>

Aku terbangun, kulihat jam di tanganku ternyata masih jam 10 malam. Aku merasa sensasi luar biasa melandaku, perasaan ini, aku tidak bisa lagi menahannya. Aku ingin pipis. Dengan sedikit keberanian aku keluar dari kamar. Keadaan di ruang tamu sangat gelap, lampu telah dimatikan. Berbekal sinar dari Handphone aku berjalan menuju kamar mandi. Hawa di sekitarku cukup dingin dan mampu membuat bulu kudukku berdiri.

Aku merasa sangat lega sekarang. Kututup pintu kamar mandi, dan membalikkan badanku.

“Whoaaa ! “ teriakku histeris.

“Kau ini ! kupikir hantu, kau membuatku takut saja !” aku memegangi dadaku, untung saja masih berdetak.

Monalisa berdiri di hadapanku dengan piyama daster berwarna putih dan rambutnya terurai panjang. Tentu saja hal ini membuatku kaget. Dia seperti hantu yang ada di film the rings.

“Ap..apa yang kau lakukan disini?” tanyaku. Aku masih sedikit ketakutan dengan kejadian tadi.

“Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan disini?” Tanyanya kembali. Bukannya dia menjawab pertanyaanku, malah balik bertanya.

“Aku baru saja buang air..” Jawabku jujur.

Dia hanya memandangiku dan kemudian menghela napas. Aku menahan tangannya ketika ia beranjak akan pergi.

“Ikut aku !” perintahku padanya. Aku menarik tangannya, meskipun cukup kuat tapi aku tetap berusaha untuk tidak menyakitinya.

“Kita mau kemana ?” tanyanya tidak kupedulikan. Aku harus menyelasaikan ini sekarang.

Aku membawanya ke luar, disini terdapat sedikit cahaya dan kupikir disini tempat yang aman. Kulepaskan genggamanku dari tangannya.

“Hmm, aku ingin bicara padamu” ucapku mulai membuka pembicaraan.

Dia menatapku dengan tatapan bingungnya, aku tahu dia pasti sedang berpikir ‘apa yang ingin dibicarakannya malam-malam begini? dasar orang gila’. Terserahlah dia mau berpikir apa.

“Hmmmm, Monalisa..”  belum sempat aku menyelesaikan satu kalimatku, suaraku tercekat. Aku sangat gugup. Ini pertama kalinya aku menyatakan perasaan kepada seorang wanita, jadi wajar saja kan kalau aku merasa seperti ini.

Kedua tanganku saling menggenggam, sedikit berkeringat.

“Monalisa..aku..aku..”

Aku tidak bisa, ini sangat sulit.

“Hoooaaammm, aku masih mengantuk, jadi katakan besok..”

Aku menariknya dalam pelukanku. Aku tidak akan membiarkannya pergi lagi. Jantungku berdetak begitu keras ketika memeluknya.

“Saranghaeyo.. aku mohon jangan menghindariku lagi.. aku mencintaimu..” Ucapku dengan lancar dan tanpa keraguan.

Monalisa tidak menjawab, dia juga tidak membalas pelukanku. Apakah ini tandanya aku dia tidak menyukaiku.

“Apa kau tidak mencintaiku?” tanyaku sedikit hati-hati. Aku takut dia akan membenarkan pertanyaanku.

“Aku..aku selalu menyukaimu ..dan mencintaimu”  balasnya singkat.

Hatiku bersorak senang ketika mendengar pernyataannya. Sebuah beban serasa hilang dari hatiku. Rasanya benar-benar lega.

“Ap..apa itu benar?” tanyaku.

Dia membalas pelukanku tanda bahwa pernyataannya tadi benar. Kueratkan pelukanku padanya, aku berjanji tidak melepaskan gadis ini.

Suasana lampu yang redup menambah kesan romantis di tempat ini. Terlebih lagi malam ini ada banyak bintang menemani kami.

Monalisa POV

Aku membalas pelukan Jongin, rasanya sangat nyaman. Selama ini aku berpikir dia membenciku dan sekarang dia malah mengatakan dia mencintaiku. Ini semua bagaikan mimpi, tapi tidak, ini adalah mimpiku yang menjadi kenyataan. Aku memeluknya erat, aku bahkan dapat mencium aroma maskulin tubuh Jongin. Aku merasa air mataku ingin keluar, air mata bahagia.

Di langit, Bulan dan bintang seperti sedang memandang kami, malam ini benar-benar terasa sangat indah.

***

Author POV

Pagi ini semuanya berkumpul di ruang tamu, terlebih hubungan Monalisa dan Jongin yang sudah membaik bahkan jauh lebih baik. Sekarang ini mereka dalam hubungan berpacaran. Meski berpacaran Jongin tetap saja membuat Monalisa kesal dengan sikap nya yang kekanak-kanakan.

“Kau serius sekali menontonnya” Ledek Jongin kepada Monalisa yang sedang menonton tv.

“Ssstt, diam Jongin-ah. Lihat ada berita !” Ujar Monalisa yang masih fokus kepada tv didepannya.

Merasa di kacangi Jongin hanya mendumel pelan.

Setelah diadakannya Pameran lukisan yang diikuti oleh puluhan Mahasiswa diseluruh Universitas di Seoul, para Juri yang merupakan Seniman dan Pengamat Seni ternama telah menemukan Satu lukisan terbaik di antara ratusan Lukisan. Lukisan seorang gadis yang sedang bersedih dianggap Lukisan terbaik dan memiliki makna yang dalam menurut para Juri. Dan lukisan itu adalah karya seorang Mahasiswa Seoul National University yang bernama Kim Jongin. jelas  reporter di Tv

Monalisa tercengang ketika mendengar nama Jongin disebut, Jongin terlebih lagi. Jongin mengalihkan pandangannya ke Tv dan mencoba mendengarkan baik-baik. Dilihatnya lukisan karyanya sedang terpajang dengan anggun di Tv. Lukisan terakhirnya..

Monalisa menatap Jongin dengan tatapan bertanya sekaligus tidak percaya, “Kau melukisku?” kedua alisnya saling bertaut.

Jongin menatapnya gugup, “Nde.. tapi, aku tidak mengantar Lukisan itu, aku juga tidak hadir di acara pameran itu.. bagaimana mungkin aku bisa menang?” Tanyanya bertambah heran.

“Aku yang mewakilimu !” Ujar seseorang di depan pintu.

Semua mata tertuju kearah Sumber suara, disana Sehun telah berdiri sembari memegang sebuah bingkisan yang cukup besar.

“Se..sehun ah??” Ujar Jongin dan berlari memeluk Sehun. Sehun membalas pelukan Jongin.

“Kau ? bagaimana bisa?” Tanya Jongin yang masih tidak percaya.

Sehun tersenyum tenang, “Apa yang tidak bisa Oh Sehun lakukan? Berkatku juga kau memenangkan pameran itu kan?”

“Hah, Nde..nde..” Jawab Jongin. keduanya kemudian tertawa bersama.

Jongin membawa Sehun duduk di ruang tamu bersama dengan Monalisa dan Halmeoni.

“Ini, hadiah dari Jongin untukmu..” Sehun memberikan bingkisan putih yang dibawanya kepada Monalisa.

Monalisa menerima bingkisan di tangan Sehun dan menatap bingkisan itu dan Jongin secara bergantian.

“Aku tidak tahu..aku tidak pernah menyiapkan apapun untukmu” Jongin menggelengkan kepalanya pelan.

“Sudah buka saja !” perintah Sehun.

Monalisa membuka bingkisan itu, dan betapa terkejutnya dia, lukisan yang tadi ada di tv telah berada di depan matanya. Lukisan dirinya ketika ia menangis. Monalisa masih sangat ingat kejadian yang ada dilukisan itu adalah kejadian dimana Jongin menampar pipinya.

Monalisa mengalihkan pandangan kearah Jongin yang juga tidak percaya dengan apa yang Sehun bawa.

“Hehe.. maaf aku tidak melukismu ketika sedang tersenyum” Ujar Jongin yang mendapat balasan senyum dari Monalisa. “Ini indah sekali, terima kasih” ucap Monalisa.

“Lukisanmu bagus sekali Jongin-ah” Puji halmeoni sembari menatap lukisan Jongin.

“Terima kasih Halmeoni..” Jongin tersenyum dan tertunduk malu mendengar pujian Halmeoni.

“Aku juga membawa kanvas dan alat-alat lukis mu lainnya..” Ujar Sehun Sehun. “Oh iya, aku juga membawa Harabeoji” lanjutnya

“Dimana Harabeoji?” Tanya Monalisa.

“Dia sepertinya tertinggal dibelakang..”Ujar Sehun yang diikuti tawa yang lainnya.

***

Jongin sedang berjalan menulusuri pantai. Dia menajamkan pandangannya berusaha mencari sosok yang ingin ditemuinya. Menangkap sosok yang sedari tadi dicarinya, membuat Jongin mempercepat langkahnya kearah orang tersebut.

Sesampainya di tempat yang dituju, Jongin segera mengambil posisi. Disampingnya Monalisa sedang berkutit dengan kanvas didepannya. Tangannya sedang bermain-main dengan pensil yang digoreskannya di atas kanvas.

“Kenapa kau melukisku?” Tanya Monalisa. Pandangannya masih fokus terhadap Kanvas.

Jongin mengalihkan pandangannya kepada Monalisa dan menatapnya intens, “Itu karena, sebelumnya aku belum pernah melukis seorang wanita. Aku selalu melukis pemandangan apa yang pernah aku lihat. Tapi malam itu, aku mencoba mencari imajinasi baru, namun aku hanya melihat gambarmu, gambarmu, dan gambarmu”

Monalisa beralih menatap Jongin, “Kenapa kau melukisku ketika menangis ? bukankanh aku sering tersenyum dihadapanmu?”

Jongin terkekeh pelan, “Karena yang muncul dalam ingatanku adalah gambarmu yang sedang menangis. Aku sadar itu adalah sebuah kesalahan yang aku lakukan kepadamu. Saat itu aku berjanji tidak akan membuatmu menangis lagi jadi aku mencoba melukis itu sebagai kenang-kenangan. Karena jarang sekali kau menangis di hadapanku”

“Sejak saat itu juga aku sadar, kau adalah pemandangan yang paling indah yang pernah aku lihat” Lanjutnya.

Senyum Monalisa mengembang mendengar pernyataan Jongin. “Kau telah melukisku, dan aku akan membalasnya” Ujar Monalisa.

“Apa ini lukisanku??” Tanya Jongin menunjuk kanvas di depan Monalisa.

“Tentu saja !” jawab Monalisa yakin.

“Yak ! kenapa hidungnya seperti hidung babi begini?” Jongin menunjuk salah satu bagian diatas kanvas.

“Bukankah hidungmu itu pesek. Jadi seperti ini gambarnya” balas Monalisa tidak mau kalah.

“Tidak bisakah kau menggambar jauh lebih baik?” Tanya Jongin yang mulai kesal.

“Tidak “ balas Monalisa.

Mereka kemudian saling terdiam dengan pikiran masing-masing. Monalisa yang sedang fokus kepada ‘jongin’ karyanya dan Jongin yang sedang kesal dengan lukisan dirinya yang tampak buruk.

“Monalisa..” Ucap Jongin tiba-tiba. Ia menatap Monalisa.

“Hmm?” Monalisa yang merasa dipanggil pun menatap Jongin.

Jongin mendekatkan wajahnya dengan wajah Monalisa hingga hidung mereka saling bersentuhan. Jongin semakin memajukan wajahnya, setelah Hidung kini bibir mereka yang bersentuhan. Jongin mengecup pelan bibir Monalisa tanpa berniat menyakitinya.

“Aku mencintaimu..” Ujar Jongin pelan.

“Kali ini rasanya hangat. Aku juga mencintaimu..” balas Monalisa sambil tersenyum.

Jongin memeluk tubuh Monalisa erat.

“Kim Jongin, ada banyak orang disini..” Ucap Monalisa pelan. Ia merasa malu karena saat ini sedang ada banyak orang disekitarnya.

“Ssstt.. tidak apa. Biarkan begini, aku Mohon. Selama ini aku selalu melihatmu dipeluk orang lain. Jadi biarkan kali ini aku memelukmu..” balas Jongin mempererat pelukannya.

“Mari kita tentukan tanggal pertunangannya..” Ujar Lee Harabeoji yang sedari tadi menatap Jongin dan Monalisa.

Tbc..

Hufftt, siap juga part 7*kibas rambut. Terima kasih yang sudah bersedia membaca ff saya. Terlebih kali kalo mau meninggalkan jejak. Terima kasih readers yang selalu setia komentar, komentar kalian yang memotivasi saya lohhhh 😉 terima kasih readers semuaaaaa ^^

 

Iklan

23 pemikiran pada “Monalisa (Chapter 7)

  1. aaaaarrgghhh histeris/.. jongin ama monalisa mau tunangan aaaarrrggghh /histeris/.. *di timpuk sandal*

    keren thor.. di tunggu next chap nya

  2. daaaebak thor, akhirnya, akhirnya,, aku gak nyangka sehun akan se-ikhlas itu merelakan perasaannya, dan akhirnya monalisa bisa jadian dengan jongin… Thor, chap 8 ditunggu oke! Dan fighting untuk author!

  3. Bgust thor..cepat publish chpter 8nya ne? *puppy eyes* wuah gw ama baekhyun mau datang ke prnikahanx kai ama monalisa..*sorak sorak riang hehehe*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s