Werewolf (Chapter 4)

Title : Werewolf [Chapter 4]

Author : gabechan (@treshaa27)

Genre : Fantasy, Tragedy, Action *just a little*, and maybe Romance?

Length : Chapter (still don’t know)

Rate : G

Main Cast : Park Chanyeol and a Girl, Wu Yi Fan (another cast will come out soon)

FF ini terinspirasi dari lagu VIXX “Hyde” dan EXO “Wolf”

Hai! Akhirnya chap 4 selesai kuketik hehe.. maaf kalo kelamaan >.< tapi bagi yang nunggu, gomawo yaa. Di komen chap 3, ada readers yg nanyain part romancenya. Nah, kyknya chap ini ada bagian romancenya tapi gk terlalu romance(?) haha.. Jujur, di chap ini sebenernya banyak yang mau diketik, tapi nanti kepanjangan dan ngebosenin. Jadi, aku potong lanjutannya untuk chap 5. Tapi aku sebenernya gak tau ini kepanjangan atau malah terlalu pendek.. tergantung komen readers hehe.. And one thing you have to remember, don’t be a plagiator. The plot is mine and you can’t copy this without my permission. Gomawo buat admin yg ngepost FF ini ^^ Happy reading~~

 NO PLAGIARISM, THIS IS PURE MINE!

___

 Kali ini, Hyejin bersuara, “Mereka pergi.”

“Ke mana?” Lelaki itu menghentikan kegiatannya, mengharapkan jawaban dari gadis itu.

Hyejin menunjuk ke atas sambil tersenyum pahit, “Surga.”

___

“Ibu!”

Teriakan gadis itu terdengar keras di seluruh sudut rumahnya. Setelah menunggu beberapa lama, gadis itu masih tidak mendapat jawaban. Rumahnya terasa sangat kosong dan mati. Tidak ada tanda-tanda kehidupan lainnya selain dirinya sendiri.

Hangatnya sinar mentari langsung bisa dirasakan saat ia menyibak selimutnya. Di luar, cuaca terlihat cerah walaupun berawan. Kicauan khas yang selalu terdengar dari sebuah pohon besar di dekat jendela kamarnya, membuat Hyejin tersenyum tipis. Semuanya terasa sama, hanya kesunyian ini yang membuatnya terusik.

Lantai yang terasa dingin di telapak kakinya, diabaikannya. Jiwanya belum sepenuhnya kembali pada tubuhnya, membuatnya tampak seperti habis bangun dari tidur panjang. Hyejin membasuh wajahnya dengan air beberapa kali, kemudian mengeringkannya dengan handuk kecil yang sudah ia bawa. Selama beberapa detik, ia memandang setiap detail kecil dari wajahnya yang terpantul pada cermin, yang sekarang tampak tirus. Ia menghela napas, lalu melangkah menuju ruang makan.

Mom? Are you making breakfast?

Tidak ada yang menjawab.

Saat itu, yang masih dipikirkannya adalah apa yang sedang dilakukan ibunya. Ia tahu betul bagaimana tingkah ibunya ketika matahari sudah memunculkan diri di langit. Biasanya, ibunya akan sibuk membuat sarapan di dapur atau menjemur pakaian yang telah dicucinya pada dini hari. Itupun kalau wanita paruh baya itu tidak terlalu mengantuk. Ibunya bahkan menyempatkan diri untuk merapikan buku-buku yang berantakan di atas meja belajarnya. Tapi, pagi ini berbeda.

Karena kesal tidak mendapat sahutan ibunya, Hyejin memutuskan untuk mengecek halaman belakang. Udara pagi yang sejuk langsung menyapanya ketika ia baru melangkahkan kaki ke tanah berumput itu. Tetapi, tiba-tiba saja tubuhnya menegang. Ia merasa ada sesuatu yang aneh. Ada sesuatu yang mengganjal di tempat ini. Hyejin bisa merasakan ketidaknyamanan aura di sekelilingnya. Ada yang tidak benar di sini, batinnya.

“Ibu?” Hyejin sekali lagi memanggil ibunya dengan suara pelan.

Kepanikan yang berusaha ia hilangkan dari benaknya, ternyata mengalahkannya. Kedua matanya, tanpa diperintah, langsung menyusuri halaman yang cukup luas ini. Walaupun begitu, Hyejin masih belum bisa menemukan keberadaan ibunya. Seolah sekarang ia sedang dipermainkan dengan pikirannya. Tidak mungkin ibunya menghilang begitu saja tanpa jejak sedikitpun. Wanita dengan senyum hangat itu tidak mungkin akan pergi jauh sebelum ia memberitahu dirinya terlebih dulu.

Hyejin melangkah dengan ragu ke arah sebuah pohon tua besar yang berada beberapa meter dari tempatnya berdiri. Seingat gadis itu, pohon ini sudah ada sejak ia dan ibunya menempati rumah ini. Pohon itu tumbuh dengan leluasa di halaman belakang rumah ini, di bagian yang jarang disinggahi. Itulah alasan mengapa Hyejin maupun ibunya enggan untuk merapikan semak belukar yang sudah meninggi di sekitar pohon itu. Bukan karena rasa takut terhadap letak pohon itu.

Saat itu juga, tubuh Hyejin membeku. Dipandangnya pemandangan mengerikan itu dengan tubuh gemetar. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan tangis. Dengan terhuyung-huyung, gadis itu memaksakan diri untuk mendekat.

What happened to you..?

Air mata yang susah payah ia bendung, akhirnya jatuh. Isakan tangis gadis itu terdengar pilu, memecah keheningan yang menggantung di udara. Ia membiarkan air mata itu terus mengaliri pipinya, sementara kakinya sudah tidak kuat lagi menopang tubuhnya. Hyejin jatuh terduduk di samping sesosok tubuh tanpa nyawa dalam kondisi mengenaskan.

“Apa yang ibu lakukan di sini? Ibu tidak bisa tidur di luar jika udara sedingin ini!” Tangis Hyejin meledak. Ia terus mengguncang tubuh dingin itu. “Wake up, please…

Tak ada respon apapun yang ia dapatkan. Hyejin terus menangis, menghadapi kenyataan menyakitkan dalam hidupnya. Ia sudah tidak bisa lagi meyakinkan dirinya bahwa yang ia lihat saat ini adalah sebuah ilusi saja. Tidak, ia sudah tidak sanggup menganggap semuanya sebagai ilusi. Terlebih jika apa yang sekarang dilihatnya adalah ibunya sendiri. Seorang wanita yang selalu membuat Hyejin merasa aman dan nyaman karena senyuman hangat yang selalu menghias wajahnya.

Sekarang, semuanya terasa seperti mimpi buruk. Bahkan Hyejin mungkin tidak akan bisa memulihkan dirinya dari mimpi buruk yang dialaminya ini. Semuanya telah hilang. Tidak ada lagi yang tersisa dari dirinya. Tidak akan ada lagi yang bisa mengingatkannya akan siapa dirinya. Hyejin hanya bisa membiarkan air mata itu mengalir.

Darah merah yang ditakutinya, kini mengelilinginya. Kedua telapak tangannya yang tadi mengusap tubuh dingin itu menjadi berlumuran darah. Ia takut. Gadis itu tidak bisa membendung rasa takutnya akan hal itu.

Sama seperti Kyungsoo, tubuh ibunya terlihat habis dikoyak dengan liar. Keadaan tubuh ibunya lebih mengerikan dibanding tubuh Kyungsoo. Kedua tangan yang penuh dengan luka cakaran serta bagian perut yang tercabik-cabik. Hyejin tidak tahan memandang bagian tempat jantung berada yang sudah kosong itu dengan bekas cakaran. Darah tampak tidak bisa berhenti mengalir dari berbagai bagian tubuh ibunya.

Hyejin menutup wajahnya dengan kedua tangan yang berlumuran darah, kemudian menangis tanpa henti. Kesedihan ini seakan membuat tubuhnya juga ikut hancur. Ia sudah tidak memiliki siapapun. Semua orang yang disayangnya sudah mendahuluinya dengan cara yang tragis.

Ia sendirian.

___

 

Waktu memang tidak bisa dihentikan. Tiap detiknya, menitnya, jamnya. Tidak peduli apa yang terjadi, waktu tetap bergulir. Membiarkan berbagai peristiwa mengisinya.

Hyejin merasa waktu melambat di sekelilingnya. Apapun yang dilakukannya seperti berada dalam gerak lambat. Membuatnya tampak seperti sebuah raga tanpa jiwa. Gadis itu mencoba menghidupkan kembali apa yang tersisa padanya. Tapi, hidup yang ia jalani kini sudah tidak jelas apa tujuannya. Ia mencoba untuk membuat semua yang ada di hadapannya kembali nyata setelah peristiwa menyedihkan itu berlalu.

Hari ini hujan mengguyur Seoul. Awan-awan kelabu terus saja memayungi kota sejak pagi tadi. Sama seperti pada hari pemakaman. Karena hal itu, ia mengurung diri di kamar, tanpa makan apapun. Hanya sebotol air yang setia menemaninya. Hyejin meringkuk di sudut kamar, menangis. Entah sudah ke berapa kalinya ia mengeluarkan air mata itu. Ia tidak peduli.

Hujan mengingatkannya pada pemakaman ibunya.

Hari itu, beberapa orang berbalut pakaian serba hitam berdiri mengelilingi sebuah nisan. Tidak banyak, tetapi Hyejin merasa sangat berterimakasih pada mereka. Ibunya memang bukan orang terkenal di daerah tempatnya tinggal, tetapi ia adalah wanita ramah dan penolong yang sudah dikenal beberapa orang di daerah itu dengan baik.

Gadis itu juga hadir. Bahkan beberapa kenalan ibunya memeluknya dan berusaha menguatkan dirinya. Tetapi, itu sia-sia. Tidak ada yang bisa menggantikan pelukan penuh kasih ibunya. Karena itu, Hyejin berusaha keras untuk tidak menangis. Ia tidak ingin ketika semua orang malah sibuk mengurus dirinya daripada menemani kepergian ibunya.

Hyejin juga melihat kedua orangtua Kyungsoo, berdiri di samping nisan ibunya sambil menangis dalam diam. Makam Kyungsoo tepat berada di samping makam ibunya, sehingga mereka bisa menemani kedua-duanya dalam waktu bersamaan. Melihat itu, hati Hyejin serasa membeku. Dadanya terasa sangat sesak dan kedua matanya panas. Tidak, ia tidak boleh menangis. Tidak ada gunanya lagi menangisi dua orang yang sangat disayangnya itu.

Terimakasih atas senyummu. Terimakasih karena menjadikan Kyungsoo sahabatmu.

Suara bisikan ibu Kyungsoo masih terngiang di telinganya sampai saat ini. Membuatnya terus menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa kedua orang itu. Ia bohong jika mengatakan dirinya baik-baik saja. Nyatanya, tidak ada hal yang bisa membuat air matanya berhenti mengalir.

Pemakaman itu sudah dua minggu yang lalu. Ya, sudah cukup lama. Dan Hyejin masih belum bisa memulihkan dirinya. Tidak ada hal berguna yang ia lakukan selama itu. Hanya makan dan minum. Ia juga menyempatkan diri membaca beberapa buku mengenai manusia serigala. Buku yang sedang Hyejin tulis saat ini membutuhkan beberapa fakta mengenai makhluk itu. Buku yang Kyungsoo bilang tidak akan ada pembacanya.

 

Jangan dia lagi. Jangan sebut nama itu.

 

Hyejin menutup buku tebal itu dengan kasar, lalu melemparnya sembarang. Ia membenamkan wajahnya pada kedua kakinya yang ditekuknya. Gadis itu kembali menangis, meskipun matanya sudah memerah karena terlalu banyak menangis. Bahkan ia sempat berpikir untuk menyusul ibunya, mengakhiri hidupnya yang sudah tidak ada gunanya. Untungnya, pikiran logisnya masih muncul di saat-saat seperti ini. Gadis itu, menarik napas panjang, kemudian beranjak menuju meja belajarnya.

Diambilnya kalung berliontin kepala serigala itu, kemudian mengalungkannya tanpa ragu. Kalau ia ingin mengakhiri semua peristiwa tragis itu, mungkin ia yang harus mengorbankan diri terlebih dahulu.

___

12.35 AM

Tok tok tok.

Suara ketukan itu membangunkan gadis itu dari tidur siangnya. Ia, lalu, duduk sebentar di atas kasur tipisnya sambil berusaha mengembalikan seluruh nyawanya.

Tok tok tok.

Ketukan itu terdengar semakin keras di seluruh bagian rumahnya. Hyejin memaksakan dirinya yang masih belum sadar sepenuhnya, untuk melangkah ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Air yang membasuh wajahnya terasa menyegarkan, tetapi dengan cepat Hyejin mengernyit. Tiba-tiba kepalanya berdenyut-denyut. Sebenarnya, rasa pusing itu sudah ia rasakan sejak kemarin. Tapi, karena ia mengganggap itu hanya efek dari menangis yang terus-menerus, ia mengabaikannya.

“Apa ada orang di dalam?”

Hyejin menghentikan kegiatannya, kemudian menoleh kearah pintu kayu yang terkunci rapat itu. Ada seseorang yang berdiri di balik pintu itu, batinnya. Padahal ia mengira orang yang mengetuk pintu itu hanyalah orang iseng yang tidak tahu diri. Kali ini, ia harus benar-benar hati-hati, apalagi pemilik suara ini adalah seorang laki-laki.

Hyejin berusaha agar langkahnya tidak berbunyi. Ia berulangkali menarik napas panjang agar dirinya tidak takut. Setelah sampai di depan pintu rumahnya sendiri, ia memejamkan mata sejenak, kemudian dengan ragu-ragu ia membuka pintu.

Annyeonghaseyo.

Suara lembut itu langsung masuk ke dalam telinga Hyejin. Dengan cepat, gadis itu mendongak dan mendapati seseorang tengah tersenyum manis padanya.

Lelaki itu tampan. Hyejin bahkan tidak bisa menolak pesonanya.

Kedua mata beriris coklat itu bagai mutiara. Postur tubuhnya yang tegap dan proporsional disertai dengan tubuhnya yang menjulang tinggi, bisa membuat siapapun mengiranya sebagai seorang artis. Wajah yang terpahat sempurna itu sekarang dihiasi senyum memesona, ditambah dengan gaya rambutnya yang dibiarkan sedikit berantakan. Lelaki itu mengenakan pakaian santai, kaus biru tua yang tertutupi hoodie coklat muda dengan jeans warna gelap. Kaki jenjangnya tertutup oleh sepatu kets warna abu-abu.

Hyejin langsung menundukkan wajahnya. Ia tidak bisa membiarkan dirinya tenggelam pada pesona lelaki itu. Lagipula, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak berinteraksi dengan orang lain. Maka dari itu, ia buru-buru meraih gagang pintu dan berniat menutupnya kembali.

 

Kenapa ini? Pintunya macet? Tidak. Jangan sekarang!

 

Pandangan gadis itu tertuju pada sebuah tangan yang menahan pintu itu. Mata Hyejin membulat. Saat itu juga, Hyejin membiarkan tangan itu mendorong pelan pintu itu. Ia seakan membeku di tempatnya.

“Kenapa kau mau menutup pintunya?”

Entah kenapa suara itu terdengar begitu indah di telinga Hyejin. Gadis itu memaksakan diri untuk tidak mengatakan apapun pada lelaki di hadapannya ini, walaupun sebenarnya ia sangat ingin mengeluarkan suara. Hyejin tetap menunduk dalam diam.

Lelaki itu menatap gadis di depannya dengan bingung. Ia heran, setiap kali ia mengajukan pertanyaan sambil mencoba menatap langsung pada matanya, gadis itu langsung menundukkan kepalanya. Ada yang salah dengan wajahku, ya? Batinnya. Lelaki itu menunggu jawaban gadis itu dengan sabar , walaupun kecil kemungkinan pertanyaan itu akan dijawabnya.

Dengan senyum yang masih menghias wajahnya, lelaki itu membungkuk sedikit, “Maafkan aku karena mengagetkanmu. Tadi aku tidak sempat memperkenalkan diri karena kau hampir menutup pintunya.”

Sekarang Hyejin memberanikan diri untuk menatap mata lelaki itu. Gadis itu hanya mengangguk lesu, kemudian langsung berbalik dan meninggalkan lelaki itu yang masih kebingungan dengan sikap Hyejin. Ia sengaja membiarkan pintu rumahnya tetap terbuka supaya lelaki itu masuk tanpa banyak bertanya lagi. Tetapi, sepertinya perkiraannya meleset.

“A  aku belum memperkenalkan diri padamu.. Bisakah kau berhenti sebentar?” Lelaki itu memasuki rumah Hyejin dengan ragu.

 

Kenapa lampunya tidak dinyalakan? Tunggu. Gadis itu sendirian?

Sebelum melangkahkan kaki di atas lantai rumah itu, lelaki itu sudah melepaskan sepatunya dan meletakkannya di bawah sebuah kursi kayu yang berada dekat pintu. Rasa dingin langsung menjalar ke seluruh telapak kakinya begitu ia menginjakkan kaki pada lantai keramik itu. Lelaki itu keheranan melihat gadis pemilik rumah ini yang tidak memakai kaus kaki.

Rumah ini terkesan menyeramkan karena lampunya dimatikan. Walaupun tidak terlalu gelap, tetap saja mengurangi jarak pandang mata. Lelaki itupun menggunakan senter kecilnya untuk menerangi dinding rumah yang sedang dilihatnya. Ada sebuah lemari besar yang terletak di bagian kanan ruang tamu. Lelaki itu sengaja mendekat ke sana untuk melihat isinya. Hanya ada beberapa buku tebal usang dan bingkai foto yang berdebu.

Saat ingin melangkah lagi, lelaki itu tersandung sesuatu yang membuatnya jatuh ke atas lantai dengan keras. Suara jatuhnya pun disusul dengan erangannya.

“Tas sialan!” makinya. Ternyata ia hanya tersandung tas jinjingnya sendiri yang tadi ia letakkan sembarang.

Kemudian, secepat kepulihannya dari jatuhnya, lelaki itu menyadari sesuatu. Keberadaan gadis itu tidak ia ketahui. Harusnya ia segera mengikuti gadis itu ketika memasuki rumahnya. Kalau sudah seperti ini, ia hanya akan berputar-putar di rumah ini tanpa bisa menemukan gadis itu.

Lelaki itu berjalan menuju bagian dapur yang tampak sedikit lebih terang dari ruang tamu karena cahaya yang berasal dari jendela. Ia mengantongi senternya, kemudian mulai mengamati apa yang ada di sana. Sebuah meja makan yang berada di tengah ruangan dan segala macam alat masak lainnya yang sudah tersusun rapi di sebuah lemari kayu.

Sekilas, lelaki itu melihat sebuah bayangan di lantai. Dengan perasaan lega sekaligus senang, lelaki itu berjalan mengikuti arah bayangan yang dilihatnya. Ia berhenti di depan sebuah kamar yang berukuran sedang, lalu mengusap tengkuknya gugup.

“Di sini tidak ada orang lain selain     HEI!”

Dengan sigap, lelaki itu langsung menangkap tubuh gadis yang terkulai lemas itu.

___

 

14.15 AM

 

Hyejin terbangun di atas kasur tipis miliknya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Dirinya sudah kembali berada di dalam kamarnya. Hyejin mencoba untuk duduk, tetapi ia langsung mengernyit ketika kepalanya mulai berdenyut lagi. Karena itu, ia putuskan untuk kembali membaringkan tubuhnya.

Tubuhnya yang terasa sangat pegal membuatnya tidak bisa melakukan gerakan berlebih. Menggerakkan tubuhnya ke samping saja sudah membuatnya meringis. Mau tidak mau, ia harus terus berbaring di sini sampai tubuhnya pulih.

Satu hal lagi. Hyejin merasakan sesuatu yang basah dan hangat di dahinya. Dengan hati-hati, tangan kanannya meraba sesuatu yang basah dan hangat itu. Ia mengambil benda itu, lalu mendekatkannya pada wajahnya. Gadis itu menghela napas lega ketika mendapati handuk kecil yang sudah dibasahi dengan air hangat. Ia pun sekali lagi mencoba untuk duduk dengan perlahan, mengabaikan denyutan di kepalanya yang semakin menjadi. Terpaksa, gadis itu harus memijat pelan pelipisnya.

“Akhirnya kau bangun juga.”

Hyejin langsung menoleh ke arah sumber suara. Lelaki yang beberapa waktu lalu berdiri di depan pintu rumahnya, sekarang sedang berjalan menuju kamarnya dengan wajah berseri-seri. Pandangan mata gadis itu seolah sudah terkunci pada lelaki itu, sampai ia harus memaksakan dirinya untuk mengalihkan pandangannya.

 

Kenapa ia ada di sini?

Lelaki itu duduk di lantai di sebelah kasur tipis Hyejin dengan santai. Hyejin baru menyadari kalau lelaki itu sedang memegang semangkuk bubur yang masih hangat. Kerutan di dahinya semakin dalam, saat lelaki itu menyodorkan sesendok bubur ke mulutnya. Tanpa pikir panjang, Hyejin langsung menepis tangan lelaki itu dan memalingkan wajahnya.

“Kau.. kenapa?” Lelaki itu menatap Hyejin dengan ekspresi kaget.

Hyejin menutup mulutnya rapat-rapat. Ia membiarkan rasa marah memenuhi hatinya. Ia tetap tidak mau memandang wajah lelaki di sampingnya saat ini. Walaupun ada keinginan sangat besar dari dalam dirinya untuk langsung menjawab pertanyaan yang terlontar dari mulut lelaki itu, Hyejin tetap diam.

Lelaki itu menatap mangkuk bubur yang sedang dipegangnya sambil mendesah. Ia tidak tahu jika gadis di hadapannya akan sedingin ini padanya. Ia tahu kalau dirinya hanya seorang tamu. Tapi, tidak ada salahnya membantu ‘kan?

Lelaki itu melangkah menuju dapur untuk meletakkan mangkuk berisi bubur itu di meja makan, sekaligus mencari kain lap untuk membersihkan bubur yang tercecer di lantai kamar gadis itu. Ketika masuk kembali ke kamar gadis itu, ia melirik gadis itu sebentar, kemudian langsung membersihkan bubur yang tercecer dalam diam.

Percuma saja jika lelaki itu lebih memilih untuk menegur gadis itu. Yang akan didapatkannya hanya tatapan dingin dan wajah tanpa ekspresi.

Hyejin yang sempat melirik untuk melihat apa yang sedang dilakukan lelaki itu, merasa bersalah. Tidak seharusnya ia bersikap kasar seperti itu pada lelaki itu. Tapi, ia mengingatkan dirinya lagi. Hyejin sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak berinteraksi dengan orang lain. Ia yakin hal itu akan mempermudah hidupnya.

“Kau tinggal sendirian? Mana kedua orangtuamu?”

Pertanyaan itu seakan menampar wajah gadis itu. Mendengar kata ‘orangtua’ disebutkan lagi tepat di hadapannya, hatinya langsung mencelos. Apa yang harus dikatakannya?

Kali ini, Hyejin bersuara, “Mereka pergi.”

“Ke mana?” Lelaki itu menghentikan kegiatannya, mengharapkan jawaban dari gadis itu.

Hyejin menunjuk ke atas sambil tersenyum pahit, “Surga.”

Lelaki itu tertegun. Ia memandang wajah murung gadis itu. Lelaki itu ingin sekali memeluk gadis itu saat ia melihat kedua mata indah itu sudah siap untuk mengeluarkan air mata.

“Maaf, aku    

“Diam. Jangan meminta maaf.”

Kini, lelaki itu benar-benar menghentikan kegiatannya. Ia meletakkan kain lap yang kotor itu di sudut ruangan, kemudian duduk di samping gadis itu. Nada dingin dari suara gadis itu sudah jelas untuk memintanya agar tidak membahas hal itu lagi.

“Tadi kau pingsan. Suhu tubuhmu juga tinggi. Jadi, aku mengompresmu dengan itu.” Ia menunjuk handuk kecil yang berada di atas lantai. “Kupikir, kau sakit. Aku sengaja membuat bubur itu saat kau masih belum sadar.”

Hyejin memijat pelipisnya untuk mengurangi rasa pusing yang masih melanda kepalanya. Gadis itu tadinya tidak ingin menanggapi kalimat panjang yang dilontarkan lelaki itu. Tetapi, gadis itu membiarkan matanya bertemu dengan mata beriris coklat milik lelaki itu.

“Aku tahu.” Hyejin tersenyum tipis. “Terima kasih sudah menolongku, Tuan    ?”

Melihat senyum yang menghias wajah gadis di hadapannya, lelaki itu ikut tersenyum. Ia tidak bisa menahan rasa senangnya karena bisa melihat wajah manis gadis itu ketika tersenyum.

Maka, tanpa ragu, ia langsung menjawab.

“Chanyeol, namaku Park Chanyeol.”

 [To be Continued]

Penasaran? Silahkan tunggu chap selanjutnya ^^ sebenernya aku agak kecewa karena yg komen di chap 3 cuma dikit. Siders tolong hargain author dong T_T karena itu, jangan ragu buat ngasih komen yaa.. like dan komen sangat diperbolehkan kok 😀

Iklan

47 pemikiran pada “Werewolf (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s