Behind Reality (Chapter 2)

lollicino-behindreality

Title     : Behind Reality –What’s the plan?

Author : lollicino

Cast     : Byun Baekhyun, Park Yongri, L.Joe of TEEN TOP, -still hidden-

Minor  : EXO and Teen Top member

Genre  : Romance, drama (gayakin)

Rating  : PG

Length : Chapter 2/?

Poster via : cocolollipop by Cafe Poster

Note    : Yeah, back again. Jangan bosan ya sama fanfic BaekYong ini, semoga aja bikin kalian demen bacanya ._. Perkiraan yang belum pasti, ff ini selesai sampe 5/6 chapter. Enjoy!

“It wasn’t you.”

.

 .

 .

= = =

            Tidak ada yang baik pada hari itu. Hujan tiba-tiba saja turun deras membasahi kota, menghambat pekerjaan orang-orang. Jalanan sungguh sangat becek. Bahkan sebagian besar orang banyak menggerutu. Tapi cukup baik untuk tempat-tempat hangat seperti cafe, ataupun restoran kecil dengan makanan khas Korea yang hangat. Tidak ada yang baik saat hari itu, kecuali kepulangan Park Yongri dan Lee Byunghun dari Amerika.

Yongri membentangkan tangannya, menghirup udara sebanyak-banyaknya di kota Seoul. Sudah hampir dua bulan dia meninggalkan kota ini, dan kepulangannya disambut dengan hujan deras. Cuaca yang disukainya. Cuaca terakhir yang menemaninya terakhir kali bersama seorang Byun Baekhyun.

Apakah hujan mau mengingatkannya tentang hal itu?

“Oh, look. Kau disambut hujan.” Sindir Byunghun. Yongri hanya tersenyum kecil seraya mengangkat bahunya.

“Mungkin hujan di Seoul merindukanku.” Balasnya acuh tak acuh.

“Atau sebuah pertanda?” tanya Byunghun lagi.

Yongri menoleh, memiringkan kepalanya. Meminta penjelasan kepada namja di sampingnya itu, “What do you mean?”

“Mungkin pertanda bahwa dia merindukanmu. Am I right?”

Maybe.”

Semuanya kembali diam. Yongri kembali memerhatikan langit Seoul yang begitu gelap, beribu liter hujan turun dari langit. Suara gemericik hujan menggelitiki telinganya, dan dia menyukai itu. Hujan sudah seperti sahabatnya, menemaninya dalam keadaan apapun. Bahkan dia senang hujan-hujanan sejak dulu.

Dia punya pertanyaan yang selalu ada dalam benaknya, kenapa hujan bisa menjadi sahabatnya? Hujan itu terbuat dari air yang menguap, menjadi awan di langit. Setelah awan menyimpan terlalu banyak air, air akan tumpah dan saat-saat itu dinamakan hujan. Kenapa selalu turun hujan saat dia mengalami suatu keadaan yang sedih? Kalau orang-orang menyebut itu kebetulan, kenapa kebetulan itu selalu terjadi disaat-saat yang tepat?

Tidak ada yang tahu jawaban itu. Yang jelas, hujan terlalu banyak menyimpan memori, segala cerita hidup Yongri tersimpan dalam hujan.

.

.

.

= = =

            Mungkin memang benar tidak ada yang baik hari ini. Tidak, tidak semuanya itu tidak baik. Seluruh orang di dalam ruangan itu, hatinya dipenuhi rasa senang. Tidak ada jadwal apapun untuk EXO hari ini. Semua bebas, dan memilih untuk bermain game bersama. Dan kalian tahu, kecuali satu orang yang bisa kalian tebak.

Byun Baekhyun.

Dia masih berada dalam kamarnya, duduk diatas kursi dengan segelas susu yang mulai mendingin di sampingnya. Matanya menatap kosong ke arah luar sana, kota yang dibanjiri hujan. Pernah menonton New Moon? Saat Bella Swan ditinggalkan Edward Cullen dan semua itu berakhir dengan Bella berdiam diri di kamarnya? Hal yang sama terjadi kepada Baekhyun, tidak jauh beda. Hanya saja Baekhyun berharap dia tidak benar-benar berakhir seperti Bella, lari ke Italia dan menyelamatkan Edward yang hampir mati. Memangnya Yongri vampir? Yang benar saja.

Anggaplah bahwa dia mengenaskan, ditinggal oleh seseorang yang disayangnya hanya karena suatu salah paham. Betapa pintarnya dia, membiarkan dirinya terjerumus kedalam kecemburuan yang berbahaya. Bukan salah Baekhyun jika dia terlalu cemburu. Toh, memang Yongri dari dulu dekat dengan banyak namja dan Baekhyun tidak menyukainya. Tidak ada yang salah disini. Hanya kecemburuan semata.

Ironis.

“Baekhyunnie.”

“Berhenti memanggilku seperti itu, hyung. Hanya diperuntukkan untuk Chanyeol.” Gerutu Baekhyun kepada seorang namja di belakangnya. Dekat dengannya, tak lain tak bukan adalah leadernya, Kim Joonmyun.

Joonmyun hanya tertawa kecil mendengar balasan dari Baekhyun. Yah, setidaknya bagi Joonmyun masih ada jiwa di dalam tubuh namja yang berbeda satu tahun dibawahnya itu. Tidak kosong, seperti orang mati. Setidaknya ada perubahan sedikit dalam dirinya.

Joonmyun menepuk pelan bahu Baekhyun, menarik kursi lagi, dan duduk di sebelahnya. Tak ada balasan dari Baekhyun. Joonmyun menghela nafasnya melihat pancaran dari mata Baekhyun. Kosong, menatap hujan. Hanya dia yang tahu penyebab, kisah bagaimana kedua insan romantis itu saling memutuskan hubungan.

Hujan adalah latar belakangnya.

Percaya atau tidak percaya, Yongri sendiri yang menceritakannya kepada Joonmyun dan meminta Joonmyun untuk merahasiakannya. Maka Joonmyun tutup mulut. Yongri bisa dikatakan seperti adiknya juga, Joonmyun cukup menyayanginya. Dan satu hal lagi tentang rencana besar itu, Joonmyun juga tahu. Dan dia harus tutup mulut, membiarkan Yongri menyelesaikannya.

Well, ada yan harus diketahui dan ditutupi di dunia ini.

“Baekhyun-ah, mau sampai kapan kau terus seperti ini?” desah Joonmyun, terselip rasa prihatin di dalam suaranya.

“Sampai suatu saat nanti.”

Balasan itu malah membuat Joonmyun pusing. Pribadi ini sangat tidak cocok untuk Baekhyun. Dingin, dan acuh tak acuh. Baekhyun lebih cocok menjadi orang yang hangat, teledor, dan konyol. Joonmyun tak tahu kalau hal itu membawa perubahan 360 derajat pada sikap Baekhyun. Hebat sekali.

“Dengarkan aku Baekhyun-ah, sebaiknya-“

“Aku tidak ingin mendengarkan apapun.” Potong Baekhyun cepat, kemudian menutup telinganya dengan kedua tangannya. Joonmyun kembali menghela nafasnya. Untung dia bukan Kris yang cepat marah, dia cukup bersabar.

“Terserah kau mau mendengarku atau tidak, aku hanya memberi saran yang baik untukmu.” Joonmyun meyakinkan dirinya sekali lagi untuk memberi saran ini, tidak ingin nantinya wajah tampan miliknya itu penuh lebam-lebam akibat tinjuan Baekhyun.

“Sesekali kau harus mencari sesuatu yang baru, Baekhyun-ah. Kau mengerti maksudku?” Joonmyun mengedipkan matanya beberapa kali, memberi maksud tersendiri untuk Baekhyun. Baekhyun menoleh cepat, memiringkan kepalanya tidak mengerti.

“Sesuatu yang baru, Baekhyun-ah. Mengerti?” ucap Joonmyun gemas.

“Tidak mengerti.”

-_______________-“

Jinjja. Maksudku, kenapa kau tidak mencari yeoja yang baru eh?” ucapan Joonmyun mungkin terlalu to the point. Tapi Baekhyun tidak akan meninjunya, Baekhyun hanya menatap leadernya itu datar, tertawa kecil.

“Semudah itu ya, hyung? Memang kau pernah mengalami hal yang sama?”

Skakmat, matilah kau Kim Joonmyun, rasanya ingin Joonmyun berteriak, menjambak-jambak rambutnya dan berpikir keras bagaimana cara menjawab pertanyaan Baekhyun yang menusuk tanpa ampun itu. Sekarang Joonmyun menyesal mempertanyakan hal itu, padahal tujuan utamanya hanya untuk memperbaiki sifat Baekhyun itu. Argh -_-“

“Eh, sebenarnya bukan itu maksudku. Sebenarnya-“

“Kau tidak pandai berbohong, hyung.” Potong Baekhyun lagi, dengan datar.

Kali ini Joonmyun benar-benar menjambak rambutnya frustasi. Rambut merahnya yang tadi rapi, berantakan sepenuhnya. Wajahnya kusut, dia tidak bisa lagi menghadapi Baekhyun menyebalkan itu.

Naega jeongmal michigesseo.” Gumam Joonmyun kecil, masih terdengar oleh Baekhyun. Baekhyun tidak membalas apapun kecuali tetap menunjukkan wajah datarnya.

“Lupakan. Aku akan jujur, aku kesal melihatmu seperti ini Baekhyun-ah. Kau terlihat menyedihkan.” Joonmyun mengecilkan suaranya, “Kau boleh merindukannya, tapi tidak seperti ini. Mungkin kau bisa melakukan hal lain yang dulu pernah kalian lakukan, untuk sekedar melampiaskan rasa rindumu. Berhenti menjadi orang gila disini. Aku tidak menampung orang gila.” Lanjut Joonmyun lagi, kemudian melangkah keluar dari kamar Baekhyun.

“Pikirkan baik-baik.”

Maka Baekhyun mulai berpikir, kedua alisnya sedikit bertaut satu sama lain. Selangkah lagi, Joonmyun keluar dari kamar Baekhyun. Baekhyun berbalik, memanggilnya.

Hyung.”

Eo?”

Gomawo.” Baekhyun mengacungkan ibu jarinya, tersenyum. Senyuman yang tidak pernah Joonmyun lihat dua bulan belakangan ini. Joonmyun membalas senyumannya,

“Tidak usah berterima kasih pada superman tampan ini.”

-_____________-“

.

.

.

= = =

How was day?”

Bit bad.”

Byunghun terkekeh kecil melihat wajah Yongri yang lusuh itu. Jawaban yang simpel, dia harus sementara tinggal di apartemen Teen Top, sementara. Untung saja leader, manager dan yang lain-lainnya setuju. Untung saja member Teen Top yang lainnya baik. Yongri merasa bersalah karena Byunghun dan Minsoo -atau dikenal C.A.P Teen Top- harus berbagi kamar dengan yang lainnya. Tentu saja Byunghun tidak bisa tidur bersama Yongri seperti dulu (note : mereka sering tidur satu kamar tanpa terjadi apapun, percayalah. Mereka sedikit gila). Mau jadi apa mereka nantinya?

Here’s your coffee.” Byunghun menyodorkan secangkir moccachino ke depan Yongri, kemudian duduk di seberangnya. Yongri hanya memperhatikan moccachinonya, mencium aroma dari asap kopi yang mengepul, menandakan bahwa kopi itu masih panas.

Sorry about it.” Yongri masih saja merasa bersalah, menimbulkan rasa gemas bertubi-tubi dalam diri Byunghun.

Nah, it’s nothing. You can go back to your lovely home tonight.” Jawab Byunghun, mengingatkan Yongri terhadap salah satu rencana mereka. Yongri mengangguk, cukup antusias.

Game start. Kuharap dia berhasil.”

Byunghun menutup matanya, berusaha untuk mengusir jauh-jauh masa lalunya tentang permainan ini.

.

.

.

= = =

            Kebetulan atau tidak, saat Baekhyun melangkah keluar dari gedung apartemennya, hujan berhenti. Masih menyisakan sedikit rintik-rintik, dan udara lebih dingin dari biasanya. baekhyun mengenakan masker, kacamata dan hoodie hitamnya. Kakinya melangkah pelan menyusuri trotoar yang masih basah, berjalan diantara keramaian manusia di kota Seoul.

Hatinya bimbang, tidak tenang. Haruskah dia melanjutkan ini? Kebanyakan orang berkata jika melakukan sesuatu yang berkaitan dengan masa lalu, malah tidak akan bisa dilupakan. Tapi, apa salahnya mencoba? Toh, Joonmyun hyung hanya bermaksud untuk membuat Baekhyun merasa lebih baik.

Nah, dua bulan ini dia sudah dipenuhi oleh pikiran-pikiran yang memberatkan. Sekarang dia harus berhenti berpikir, dan menikmati udara luar yang cukup menyegarkan sekarang.

Baekhyun menghentikan langkahnya di depan gedung besar yang tak terlalu jauh jaraknya dari gedung apartemennya. Kakinya mulai melangkah masuk dengan ragu-ragu, memasuki apartemen yang baginya sama sekali tidak berubah. Masih berbau kopi samar-samar, berasal dari cafe bersuasana alam yang ada di dalam apartemen. Beberapa pekerja disitu bahkan menyapa Baekhyun, bertanya mengapa dia sudah lama tidak mampir kesini. Baekhyun mengeluarkan beberapa alasan, toh, orang-orang itu tidak harus mengetahui detail hubungannya dengan Yongri.

Di dalam lift, Baekhyun tanpa ragu menekan tombol angka 14. Hampir dua bulan, bahkan dia masih mengingat jelas angka favorit Yongri. Dia masih ingat betul alasannya menyukai angka 14.

“Kenapa kau suka angka 14?”

“Kau mau tahu alasannya?”

“Apa?”

“Alasannya adalah, aku tidak tahu.”

Alasan yang cukup bagus, bukan?

Lift telah terbuka, dan Baekhyun melangkah keluar dari lift itu. Kakinya melangkah di lorong yang sepi. Tidak banyak yang tinggal di lantai 14, padahal lantai 14 adalah kumpulan kamar apartemen yang bagus dan memiliki pemandangan indah, mungkin karena itu Yongri memilih lantai 14.

1414

Bahkan Yongri juga memilih kamar nomor 14. Baekhyun ingin tahu alasan sebenarnya, sungguh.

Tangannya mulai memencet tombol, mengisi password apartemen. Masih sama seperti dulu, dan pintu pun terbuka lebar, membiarkan Baekhyun memasuki apartemen itu.

“Masih sama.” Lirihnya, semua memori bahagia itu kembali terngiang di dalam kepalanya.

Bau violet mendominasi seluruh ruangan itu, memberi kesegaran tersendiri terhadap Baekhyun. Kursi putih, meja kayu yang menimpa karpet bulu hitam favorit Yongri. Meja putih panjang dengan taplak berukir mawar, diatasnya masih ada bingkai bingkai berwarna-warni berisi foto mereka berdua. Tidak berpindah dari tempatnya sama sekali. Baekhyun berjalan menuju pintu hitam yang tak jauh darinya,

[TING]

Namun langkahnya terhenti, spontan setelah mendengar suara itu.

Bau coklat matang yang menggiurkan kini yang mendominasi, menghilangkan bau violet yang belum lama memasuki indra penciuman Baekhyun. Jantungnya berdegup kencang. Jangan bilang kalau itu gwishinmohon Baekhyun dalam hatinya. Astaga, memang ada ya hantu yang suka makan coklat, lalu memanaskan coklat itu dengan microwave? Aneh.

Dengan segenap keberanian yang dimilikinya, Baekhyun melangkahkan kakinya menuju dapur, begitu perlahan. Pertanyaan-pertanyaan kini menguasai pikirannya, bukan pertanyaan konyol yang lewat dipikirannya beberapa detik yang lalu.

Kenapa microwave menyala? Jangan-jangan ada penghuni baru? Tapi kenapa passwordnya tidak diganti sama sekali? Kenapa masih ada foto-fotoku dan Yongri, karpet hitam, dan segala sesuatu yang dimiliki Yongri?

Tidak mungkin …

“Hey.”

Sahut sebuah suara. Suara yang dirindukannya selama dua bulan terakhir. Suara yang memenuhi pikirannya, menguasainya. Yang menyakitinya juga, membuatnya terpuruk.

Baekhyun berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa itu bukan Yongri. Maka dia berbalik, dan…

Oh my.

Park Yongri.

“Apa kabar?” tanyanya lagi, dengan senyum yang menghiasi wajahnya, seperti tak ada satupun masalah yang terjadi di antara mereka.

Baekhyun membeku di tempatnya.

“Yo.. Yongri?”

To Be Continued

Jengjengjengjeng~ *backsound petir menggelegar*

Nah loh, Park Yongri muncul secara misterius lagi. jangan-jangan dia vampir?

-___________________-“

Semoga ff abal ini gak membosankan yah. Perkiraan selesai sampe chapter 5. Mungkin lebih, mungkin kurang. Ribet sih kalo buat chapternya kebanyakan -.- *author yang males, jangan ditiru*

RCL kawans’-‘)/

7 pemikiran pada “Behind Reality (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s