Different is Beautiful. Beautiful is You (Chapter 6)

Author : bynx62 (@vnallia)

Genre : Romance, Teenager life, Friendship, (little bit) Comedy

Length : Multi chapter

Main cast :

– Kim Hyeon
– Jung Soona
– Byun Baekhyun
– Xi Luhan

Other cast :

– Tuan dan Nyonya Byun
– Byun Hyunji
– Tuan dan Nyonya Jung
– EXO-K

Different is beautiful. Beautiful is you. (cover)

Different is Beautiful. Beautiful is you.

6

“OMO~ Jadi itu ketakutannya?”jawab Soona tidak percaya di seberang sana.

Tiba-tiba aku tertawa lagi, terlebih mengingat saat aku mengerjainya habis-habisan. Sepulang dari rumah Baekhyun beberapa menit yang lalu, aku ternyata sudah mendapat beberapa sms dan miss call dari Soona yang ternyata sangat tidak sabar dan sedikit cemas dengan apa yang aku lakukan pada saudaranya itu. Mau tidak mau, daripada dia malam-malam tiba-tiba datang ke rumahku dan menodongku beberapa pertanyaan, aku ceritakan saja langsung sampai sekarang.

Aku berbalik mengubah posisi telentangku menjadi telungkup setelah puas tertawa singkat.”Ne, dan kau tidak akan percaya melihat reaksinya tadi. Itu reaksi terlucu yang pernah kulihat, kau tahu.”jawabku sambil membenarkan posisi headsetku yang sempat lepas kemudian memakan snack-ku lagi.

“Aigoo~ Kau ini keterlaluan sekali Hyeon-ya. Memangnya apa yang kau lakukan? Menjejalinya cacing, begitu?”tebaknya tepat sekali.

Parfait, Miss Soona.”jawabku sambil mengayunkan snack-ku dijari sebelum kumakan.

Kudengar dia tertawa singkat di ujung sana.”OMO~ Kalian berdua baru bertemu saja sudah sekompak itu.”ujar Soona—tentunya—menujukku dan Hyunji.”Aku tidak akan mengampunimu Hyeon-ya kalau dia sampai trauma karena ulahmu. Hahaha…”

Aku tertawa kecil mendengarnya. Tanpa kuduga, sepintas bayangan tentang aku yang terjatuh dengannya tiba-tiba melintas di benakku.”Kalau-kalau, aku yang jadi trauma karenanya.”gumamku tanpa sadar.

“Mwo? Apa katamu tadi?”tanya Soona membuatku terkaget sendiri. Aigo. Bagaimana aku lupa kalau aku masih mengobrol dengannya.

“A-aniya. Tidak ada apa-apa.”kilahku cepat seraya mengubah cepat posisiku menjadi duduk bersila dan bersandar di sandaran tempat tidur.

“Ooh, ya sudah.”

Tepat setelah Soona berkata begitu aku mendengar nada dering handphoneku, dan ternyata aku baru saja mendapat panggilan masuk tertunda di belakang panggilan Soona. Penasaran, aku lalu mengakhiri pembicaraanku dengannya, dengan mengatakan kalau aku mau mandi dulu.

Setelah tertutup, aku sedikit menyernyit heran ketika melihat ternyata nOMOr tak dikenal yang menghubungiku. Ragu-ragu, kutekan rombol eject, sehingga kini aku tersambung dengannya.

“Yeobeoseyo?”

“Annyeong Hyeon-ssi. Ini aku Chanyeol-ssi, chingu Baekki-ah.”jawab seseorang yang beberapa menit lalu kukenal dari ujung sana.

Oh, Chanyeol.

T-tapi tunggu. Darimana dia mendapatkan nOMOrku?

“Ah, w-waeyo Chanyeol-ssi?”tanyaku terbata-bata. Diam-diam aku merangkak turun dari tempat duduk dan melihat-melihat keluar jendela. Jangan-jangan dia malah sudah ada di depan rumahku lagi -.-

“Mulai besok, aku mengantar-jemputmu ke rumah ne? Hitung-hitung sebagai hadiahku pertemuan awal denganmu. Bagaimana, heum?”ungkapnya membuatku hampir tersedak.

“M-mwo?!”pekikku yang membuatnya meringis pelan di ujung sana.

“Yakk! Kalau kau mau teriak seperti tadi, sebaiknya kau memberitahuku dulu.”semburnya masih dengan nada normal yang—sepertinya—sengaja dia buat-buat.

“N-ne. Mianhae.”ucapku diam-diam merutukki diriku sendiri. Lagian, salah sendiri kenapa dia memberitahu hal yang terlalu mengejutkan dan mendadak seperti tadi.

“Haiss, jadi bagaimana? Tidak masalah, kan? Kalau begitu—“

“T-tunggu dulu!”ucapku memotong kalimatnya.”Sebelumnya, aku mau tanya, kau tahu nOMOrku dari mana?”

“Well, menurutmu?’jawabnya malah berbalik tanya padaku.

“Aigoo~ Jawab saja.”ujarnya mulai senewen. Aku yakin tidak mungkin Baekhyun, itu karena aku yakin kalau aku belum memberitahu nOMOrku dengannya.

T-tapi tunggu. Bagaimana kalau dia bertanya dulu dengan Soona?

Haiss, tidak mungkin. Soona tidak mungkin memberikan nomorku sebelum mendapatkan izin dariku.

Tapi, bagaimana kalau dia diancam untuk tidak memberi tahu? Kau tahu sendiri, kan, bagaimana—terkadang—penakutnya yeoja satu itu. Tapi, apa mungkin?

Aigoo~ Kenapa aku jadi bingung sendiri seperti ini? >.<

“Haha, kau tenang saja. Baekhyun-ah tidak ikut campur dalam hal ini, kok.”jawabnya—yang entah mengapa—membuatku sedikit lega. Aneh memang -.-

“Jadi bagaimana? Tidak masalah, kan, kalau aku menjemputmu besok?”lanjutnya membuatku berpikir sejenak. Mengapa rasanya ada yang tidak beres eoh?

Baru saja beberapa menit yang lalu kenal, dia tiba-tiba menawarkan diri untuk menjemputku besok. Sebenarnya, ada apa ini?

“Kau tidak perlu takut Hyeon-ssi, aku tidak mungkin berani macam-macam padamu—dan lagipula aku tidak akan mungkin begitu. Soalnya—ah, ani, tidak jadi.”

Terdengar suara lain dari ujung sana yang membuatku menyernyit aneh. Sedang apa dia disana—ah, maksudku, dengan siapa dia disana?

“Hyeon-ssi? Kau masih disana, kan?”tegurnya membuatku tersadar.

“Ah, ne, ne. Aku masih disini.”jawabku.

“Jadi, aku boleh, kan, menjemputmu besok? Lagipula, rumahku dan rumahmu tidak begitu jauh, kok.”ujarnya membuatku lagi-lagi berlari menuju jendala dan mengedarkan pandanganku ke segala penjuru. Jangan-jangan benar dugaanku kalau dia sudah ada disekitar sini. ><

“J-jeongmal?”tanyaku ragu.

“Ne, jadi besok kau tidak perlu bersiap-siap terlalu pagi. Kurang dari 5 menit aku sudah ada di depan gerbangmu.”ucapnya membuatku jadi penasaran dimana letak rumahnya. Apa mungkin di depan rumahku, atau di sebelah? Haiss, kenapa dunia ini sempit sekali, sih -.-

“Jadi bagaimana? May I—“

“Ne, ne. Awas saja kalau kau sampai telat besok.”jawabku malas.

“Ah, jeongmal? Baiklah, pastinya aku tidak akan telat. Gomawo Hyeon-ssi~ Annyeong ^^”

“Ne, annyeong.”

Setelah sambungan terputus, segerombol perasaan tidak enak tiba-tiba menggerogoti tubuhku. Ah, ani. Bukan berarti aku tidak percaya dengannya, tapi… ini seperti perasaan—ah, entahlah, ini seperti perasaan aneh yang aku sendiri tidak tahu apa penyebabnya.

Baiklah, sebaiknya aku mandi dulu sekarang. Setelah ini aku mau mengerjakan tugas fisika-ku yang akan dikumpulkan besok -.-q

***

Mungkin kalau sekarang aku adalah roti yang sedang panggang, aku sudah matang utuh luar-dalam atas-bawah(?) -_- Tak henti-hentinya aku berbalik menghadap ke kanan-kiri, telentang, tengkurap, menutupi seluruh tubuhku dengan selimut, tapi tidak ada satupun yang berhasil menghantarku untuk segara tidur.

Dengan kesal, kubuka selimut yang menutupi seluruh tubuhku sampai wajahku. Udara segar dari luar menyeruak masuk ke rongga paru-paru, memberikan sensasi segar menggantikan udara pengap yang kudapat sebelumnya di bawah selimutku tadi.

Pikiranku kembali ternginang-ngiang. Bermacam hal berkecamuk dalam benakku. Rentetan kalimat bergemuruh di dalamnya. Aku tidak bisa tidur dengan tenang dengan semua pikiran yang tak henti-hentinya bermunculan di dalam benakku.

Oke, kuakui, bukan sejak tadi saja, tapi sejak kejadian tadi sore.

(flashback: mode on)

“Benar kau tidak mau Baekhyun-ah?”tanya Chanyeol yang sengaja kuabaikan. Kubesarkan volume musik dari iPodku dan pura-pura untuk tidak dengar.”Baiklah kalau begitu, jangan menyesal, ne, kalau dia menerima ajakanku?”

Ingin rasanya aku merampas handphone-nya itu dan menggagal niatnya yang sepertinya mulai serius dia lakukan. Sementara Chanyeol tadi sibuk menggodaku, tak henti-hentinya mereka yang lain diam-diam tertawa di sela-sela kesibukkan mereka bermain billyard.

Haiss, mereka sama saja menyebalkannya -.-

Diam-diam kulirik Chanyeol yang ternyata benar-benar serius dengan ucapannya. Dia tengah melakukan sambungan telepon, yang sengaja diloud-speakernya. Mendengar nada sambungan telepon dari sana, bocah-bocah yang lain yang tengah sibuk bermain tadi tiba-tiba berhenti dan kini berdiri mengerubungi tak jauh dari Chanyeol. Sebenarnya tidak semua, masih dapat kulihat Sehun terlihat tidak begitu tertarik dan masih menekuni permainannya sendiri.

Terdengar suara panggilan dijawab, kemudian disusul suara yang sangat kukenal.

“Yeobeoseyo?”tanyanya di seberang sana. Bagus.

Pabo kau Hyeon menjawabnya -_-

Kulihat Chanyeol nampak melihat-lihat ke arahku sembari menjawab,“Annyeong Hyeon-ssi. Ini aku Chanyeol-ssi, chingu Baekki-ah.”jawabnya dengan sedikit menekankan namaku.

“Ah, w-waeyo Chanyeol-ssi?”tanyanya… gugup—mungkin.

“Mulai besok, aku mengantar-jemputmu ke rumah ne? Hitung-hitung sebagai hadiahku pertemuan awal denganmu. Bagaimana, heum?”ujarnya to-the-point. Haiss, pabo kau Chanyeol. Kau akan menyesal setelah bertanya seperti itu.

Aku menyunggingkan senyum, dan mulai sedikit tenang setelah melihat tindakan gegabahnya tadi.

“M-mwo?!”pekiknya keras sekali, membuat mereka semua meringis kesakitan—terutama Chanyeol. Bahkan Sehun sampai menoleh kaget setelah mendengar reaksinya. Tapi, sayangnya tidak untukku.

Tuh, kan.

Chanyeol menjauhkan sedikit handphonenya, kemudian mengusap telinganya yang kupastikan berdenging setelah mendengar suaranya tadi.

Aku sudah memperingatkan tadi, dalam hati.

“Yakk! Kalau kau mau teriak seperti tadi, sebaiknya kau memberitahuku dulu.”omelnya dengan suara dibuat sedatar mungkin. Kurasa, dia memang serius sampai-sampai dia tidak berani berteriak memakinya balik.

Well, kalau denganku, sudah pasti aku diomelinya habis-habisan.

“N-ne. Mianhae.”jawab Hyeon merasa bersalah. Haiss, kau teriak-teriaki terus juga tak masalah.

Eh—mwo? Apa yang baru saja kupikirkan? -,-

“Haiss, jadi bagaimana? Tidak masalah, kan? Kalau begitu—“

“T-tunggu dulu!”ucap Hyeon memotong kalimatnya.”Sebelumnya, aku mau tanya, kau tahu nOMOrku dari mana?”

Kulihat, Chanyeol melirik sekilas ke arahku. Mwo? Aku tidak memberi tahu apapun padanya. Awas saja kalau dia berani memfitnahku seenak jidatnya saja -___-

“Well, menurutmu?”

“Aigoo~ Jawab saja.”ujar Hyeon mulai sewot. Aigoo~ Mau beradu mulut dengannya Chanyeol?

“Haha, kau tenang saja. Baekhyun-ah tidak ikut campur dalam hal ini, kok.”jawabnya sambil melirikku lagi. Ketiga namja yang berada di sekitarnya itu, memalingkan wajah lalu tertawa tanpa suara seolah mengejekku. Haiss…

“Jadi bagaimana? Tidak masalah, kan, kalau aku menjemputmu besok?”tanyanya lagi.

Hening sejenak. Kurasa dia sedang berpikir keras sekarang.

“Kau tidak perlu takut Hyeon-ssi, aku tidak mungkin berani macam-macam padamu—dan lagipula aku tidak akan mungkin begitu. Soalnya—ah, ani, tidak jadi.”

Kau tahu kenapa dia tidak jadi melanjutkan kalimatnya? Yah, aku baru saja melemparnya lirikan death glare mematikanku. Yang sepertinya, cukup jelas untuk disadarinya.

“Hyeon-ssi? Kau masih disana, kan?”tegur Chanyeol karena sedari tadi belum juga ada jawaban. Yakk! Abaikan saja Hyeon! Kalau perlu kau matikan teleponmu -,-

“Ah, ne, ne. Aku masih disini.”jawabnya.

“Jadi, aku boleh, kan, menjemputmu besok? Lagipula, rumahku dan rumahmu tidak begitu jauh, kok.”ungkap Chanyeol masih keukeuh dengan usahanya itu.

“J-jeongmal?”

Chanyeol mengangguk dalam diam.“Ne, jadi besok kau tidak perlu bersiap-siap terlalu pagi. Kurang dari 5 menit aku sudah ada di depan gerbangmu.”jawabnya tersenyum sumringah saat melihatku. Dimasukkan tangan satunya ke dalam saku celana, seolah dia baru saja mencium aroma keberhasilan dari usahanya.

OMO~ Semoga tidak, bilang tidak…

“Jadi bagaimana? May I—“

“Ne, ne. Awas saja kalau kau sampai telat besok.”jawab Hyeon yang membuat jantungku mendadak mencolos mendengarnya.

JLEB.

Sakit—mungkin begitulah lebih tepatnya. Tanpa ada siapapun yang tahu, kukepal geram salah satu tanganku yang tersembunyikan sampai mencuat nadi-nadiku untuk meredam rasa aneh di sekitar dadaku sekarang.

Kulihat ketiga namja di sekitarnya tadi, sudah berdiri menjauh bersorak dan berhigh-five dalam diam. Sehun bahkan hanya tersenyum kecil sambil menggeleng-geleng—mungkin—karena melihat tingkah mereka.

“Ah, jeongmal? Baiklah, pastinya aku tidak akan telat. Gomawo Hyeon-ssi~ Annyeong ^^”

“Ne, annyeong.”

Setelah sambungan telepon benar-benar putus, barulah mode volume suara yang sunyi senyap seketika tadi kembali normal.

“Yoohoo~ Kau berhasil Chanyeol-ah!”ujar Kai seraya menepuk punggungnya keras. Aku masih berlagak tidak peduli, tidak mau tau dan tidak menyimak sama sekali.

“Ne, tentu saja. Pasti berhasil.”jawabnya terlihat girang dan puas sekarang. Kulihat dia kini melihat ke arahku dan mulai berjalan mendekat. Lagi-lagi aku berlagak tidak memperhatikannya.

“Yakk! Baekki-ya. Kau tidak akan marah padaku, eoh?”ujarnya seraya menepuk pelan pundakku.

Dengan wajah tenang dan tanpa ada raut ekspresi apapun, aku mendongak menatapnya. Kemudian, kulepas salah satu headset yang menggantung di telingaku, seolah aku memang sedari tadi tidak mendengar apapun—bahkan tegurannya tadi.

”Mwo?”tanyaku.

“Aigoo~ Kau jangan marah padaku seperti itu Baekhyun-ah. Aku hanya akan berteman dengannya, kok. Tidak mungkin aku akan membuatnya suka padaku.”jelasnya yang sudah terlalu malas untuk kudengar.

Entahlah -,-

“Ne, kau juga tidak suka padanya, kan?”celetuk D.O yang langsung mendapat jitakan mulus dari Kai di sebelahnya.

“Aww, apa~”ringisnya pelan.

“Kau harusnya kira-kira dulu sebelum bicara, pabo!”rutuk Kai setengah berbisik.

“Ne, ne.”

Tiba-tiba terdengar bunyi klakson mobil yang sangat amat kukenal. Yah, itu appa dan eomma-ku. Mereka baru saja pulang dari acara pertemuan dengan beberapa kerabat appa.

“Aku permisi sebentar ne?”ujarku mencoba untuk tidak terdengar datar, kemudian langsung beranjak keluar.

Dengan begini, aku bisa sedikit mengurangi rasa aneh yang menyesakkan rongga dadaku.

(flashback: mode off)

Aaaaarrghh!

Kuacak-acak rambutku dengan jengkel dan kesal bercampur aduk. Sebenarnya, apa yang salah denganku, sih? Kenapa sekarang aku merasa gelisah dan gusar seperti ini? ><

Aigoo~ Memang apa peduliku dengannya? Itu haknya, dan aku tidak ada hak sama sekali untuk melarang. Lagipula aku sudah terlanjur keukeuh dengan sikap cuekku. Tidak mungkin, kan, kalau aku tiba-tiba bertindak bodoh—dengan mengomel tidak jelas—untuk kedua kalinya?

Toh, mereka juga hanya akan berteman. Yah, dia dan para chingu-ku yang lain. Maksudku, untuk apa juga aku sewot dan melarangnya nanti. Memangnya, aku siapa dia? Dan, apa salahnya kalau mereka—memang—hanya berteman? -,-

Tapi, kenapa aku jadi merasa sangat tidak senang mengetahui niat Chanyeol yang bahkan beberapa jam lalu baru saja ditunjukkan di depan mataku. Aku tahu mereka pasti tengah mempermainkanku, tapi—sungguh—ini emosi yang paling tidak mengenakkan yang harus kutelan sendiri bulat-bulat.

Mungkin aku bisa dibilang gengsi sekarang, tapi itu juga karena aku sedang bingung dengan perasaanku sendiri. Mana tadi emosiku sudah dicampur adukkan oleh sikap mereka tadi -.-

Haiss… Kalau sudah seperti ini, siapa coba yang pantas disalahkan?

Aku?

Chanyeol?

Atau, Hyeon?

Aiss, percuma saja. Semuanya juga sudah terlanjur terjadi.

Aigoo~ Justru itu yang membuatku uring-uringan seperti sekarang ><

Entah kenapa, aku ingin men-skip besok dan beberapa hari ke depan sampai semua ini selesai. Rasanya aku tidak sanggup. Mendengarnya saja rasanya sudah sangat menyiksa apalagi melihatnya di depan mata kepalaku sendiri besok.

Kira-kira, sampai kapan Chanyeol akan segera menghentikannya?

***

Aku baru saja selesai dengan sarapanku saat terdengar bunyi klakson mobil di depan rumah. Setelah berpamitan dengan kedua orang tuaku, aku langsung beranjak keluar. Kulihat sebuah mobil sport  sedan berwarna blue metalik di luar gerbang, sebelum akhirnya sang pemilik yang tersenyum hangat ketika melihatku.

“Seperti janjiku kemarin, aku datang kurang dari lima menit ke rumahmu.”ucapnya. Yah, dia Chanyeol. Dia memakai seragam sekolah pada umumnya—tapi terlihat sedikit berbeda. Seragamnya terlihat berkelas, terlebih dengan pin sebagai lambang sekolahnya. Academy High School; salah satu sekolah terelit dan berkelas di sini.

“Ne, ne. Aku tahu.”jawabku.”Ngomong-ngomong, kalau boleh tahu rumahmu dimana?”

“Lima blok dari sini. Lebih tepatnya setelah tikungan di ujung sana.”ujarnya sambil menunjukkan arah yang dimaksudnya. Ternyata sedekat itu, pantas saja.

“Kajja, masuk ke mobil. Jangan sampai nanti kau telat.”lanjutnya yang sudah membukakan pintu mobil, mempersilahkanku masuk.

Aku? Kenapa hanya aku saja? Lalu, bagaimana dengannya?

***

“Jangan lupa, beritahu aku kalau kau sudah pulang sekolah, ne?”katanya untuk ketiga kalinya semenjak perjalanan kami tadi. Kini, kami sudah berada di depan gerbang sekolahku.

“Ne, ne.”jawabku sedikit malas karena diberitahu seperti itu terus-menerus. Berpuluh-puluh pasang mata sudah menatap ke arah mobil yang kunaiki, dan lebih banyak lagi saat melihatku turun dari mobil.

Aneh. Sebenarnya, apa yang membuat mereka melihatku sampai seperti itu?

“Annyeong, Hyeon-ssi~”ujar Chanyeol setelah membuka kaca jendelanya.

“Ne, annyeong.”balasku seraya berbalik. Tak lama kemudian, kaca jendela kembali tertutup dan mobil mulai melaju membelah aspal dengan decitan ban mobil sebelumnya.

Aku lalu melenggang santai dengan—seperti biasa—menenteng skateboardku menuju kelasku. Kuhiraukan puluhan tatapan yang terarahku. Meski lama-kelamaan aku mulai merasa risih juga karena ditatap seperti itu. Diam-diam aku mendengarkan beberapa perbincangan mereka yang tak sengaja tertangkap oleh indra pendengaranku.

“Hebat sekali dia.”

“Ne, apa itu tadi namjachingu-nya?”

“Ah, mana mungkin.”

“Tapi bisa saja eoh?”

Aku mendengus pelan mendengarnya. Kurasa hanya sekedar isu murahan biasa. Paling, mereka hanya terkejut karena aku yang datang bersama seseorang—terlebih karena aku tidak pernah diantar, dan itu bukan appa atau supir keluargaku.

“Kurasa wajar saja jika dia punya namjachingu. Menurutku dia manis, kok.”

“Tapi, hebat sekali dia sampai mendapatkan namja elit dari sekolah Academy High School itu.”

Mwo? Tunggu dulu. Darimana dia tahu?—eh, maksudku, darimana dia tahu kalau Chanyeol adalah murid dari Academy High School?

Apa mungkin aku tidak memperhatikan suatu hal?

Aku baru saja hendak masuk ke kelas, saat kurasakan seseorang menarikku kencang untuk menjauh.

“Yakk! Soona-ya, lepaskan. Sakit tahu.”rutukku, kemudian mengusap pelan lenganku.

“Aigoo~ Hyeon-ah. Kau anggap aku apa, sih, sampai-sampai kau punya namjachingu saja tidak memberi tahuku lagi.”tukasnya dengan ekspresi yang tak jelas untuk digambarkan.

“M-mwo? Apa katamu? Namjachingu? Sejak kapan aku punya pacar?!”sungutku sambil melipat kedua tangan.”Isu darimana itu, huh?”

Kulihat dia menggaruk kepalanya pelan.”Ngg, aku baru saja dengar dari anak-anak. Katanya kau tadi datang bersama seorang namja dari sekolah Academy High School. Dia itu—“

Aku menghela napas singkat.“OMO~ Kau ini kenal dengan keluargamu sendiri atau tidak, sih?”cibirku lama-lama jengkel juga dengannya.

“M-mwo? Apa maksudmu?”tanyanya bingung.

“Namja tadi namanya Chanyeol-ssi. Dia itu chingu saudaramu itu, Baekhyun-ah.”ujarku.

“Jeongmal? Teman Baekhyun-ah? Aku tidak pernah diceritakannya.”ungkapnya dengan suara perlahan memelan.

“Setidaknya kau dengarkan dulu tadi baik-baik penjelasanku, pabo!”rutukku.“Kau pikir tidak sakit kau tarik-tarik seperti tadi, eoh?”

Mendengar ucapakanku itu, dia langsung menyengir lebar.“Hhe, mianhae soal itu. Habisnya aku jadi terlalu heboh setelah mendengarnya tadi. Aku pikir kau tidak mau cerita apa-apa lagi padaku. kkk~ ^^v”

“Haiss, kau ini.”sungutku. Tiba-tiba aku teringat dengan bagaimana kecepatan kesadaran mereka tentang sekolah Chanyeol-ssi.“Oh ya, kau dan yang lainnya, bagaimana bisa tahu kalau dia berasal dari Academy High School? Apa semuanya kenal dengannya?”

“Aigoo~ Hyeon-ah. Memangnya siapa yang tidak kenal dengan lambang sekolah terelit itu, sih?”ucapnya seraya berjalan kesana kemari di depanku.

Tunggu dulu. Lambang katanya?

“M-mwo? Lambang? Memangnya kau… melihatnya?”tanyaku sambil mencoba mengingat-ingat. Tapi, dimana? Rasanya tidak mungkin saat Chanyeol menyapaku sebelum dia benar-benar pergi. Itu terlalu cepat. Belum lagi, tubuhku pasti menutupi pandangan mereka.

“Tentu saja. Kau tidak melihatnya heum? Itu tertempel jelas berdekatan dengan plat mobilnya, kau tahu.”terangnya membuatku terhenyak.

Mwo? Plat mobil? Memangnya ada yang seperti itu? -,-

“J-jeongmal?”tanyaku masih tidak percaya.

Dia mengangguk mantap.“Ne! Bukankah semua siswa yang bersekolah disana menggunakan lambang itu di kendaraan pribadi atau kendaraan yang mengantar-jemput mereka?”terangnya membuatku sekarang mengerti.

“Aigoo~ Aku benar-benar tidak tahu soal itu.”gumamku. Ooh, pantas saja mereka semua langsung tahu, batinku.

“Haiss, kau ini, kemana saja kau?”sungutnya sedikit kesal seraya menyenggol lenganku. Aku tersenyum lalu terkekeh kecil.

“Oh ya, ngomong-ngomong kenapa dia mau mengantarmu?”tanya Soona setelah selang beberapa detik hening seketika.

Aku melirik sekilas jam tangan putih yang melingkar di pergelangan tangan kiriku.”Ceritanya lumayan panjang. Itu termasuk bagian dari ceritaku kemarin. Mungkin kita lanjutkan nanti di taman, saat jam istirahat…”

“…seperti biasa~!”kata kami bersamaan pada kalimat terakhir. Kemudian kami tertawa singkat bersama.

“Kajja!”ajaknya seraya mengamit lenganku.

***

Aku mungkin terlihat sedang melamun sekarang. Yah, tentu saja. Beribu, bermacam, hal berkecamuk dalam benakku. Untunglah aku masih sanggup tidur semalam—atau lebih tepatnya aku ketiduran -.-

Pandanganku tak henti-hentinya lepas ke lapangan pada beberapa yeoja yang tengah sibuk merebutkan bola dan memasukkan ke dalam ring lawan. Mungkin lebih tepatnya pada seseorang—entahlah.

Sekarang sedang jam pelajaran olahraga, dan baru beberapa menit yang lalu tim namja bermain dan sekarang giliran tim yeoja. Aku tidak begitu peduli dengan timku tadi yang menang—3 skor unggul dari tim lawan. Untuk pertama kalinya, aku tidak begitu mood untuk bersorak seperti biasanya. Begitu tadi peluit berbunyi menandakan time up, aku merasa sangat lega dan langsung duduk di bangku penonton seperti sekarang.

“Yakk! Baekhyun-ah.”tegur Luhan dengan menyenggolkan botol minumannya pada pundakku, membuat pundakku sedikit terlonjak karena terkejut.”Kulihat sedari tadi kau melamun terus—sejak tadi pagi malah. Sedang ada masalah apa, heum?”

“Aniya~”kilahku sambil menyandarkan pundakku pada bangku.

“Haiss, bohong—pasti. Ayolaaah, pasti ada sesuatu yang menganggu pikiranmu sekarang, ne?”tebak Luhan sangatlah benar. Tapi, aku hanya mengangkat bahuku acuh. Pandanganku masih tertuju pada lapangan. Entahlah, mungkin lebih tepatnya seperti pandangan kosong.

Haiss, jangan sampai aku kesambet nanti ><

Kulihat Luhan mendekatkan kepalanya padaku, mencoba mensejajarkan arah pandanganku yang berpindah seketika. Aku mencoba bergeser untuk menjaga jarak dengannya, tetapi dia malah juga ikut menggeser kepalanya.

“Aiss, yakk! Menyingkir dariku, pabo! Kau ingin orang-orang mengira yang tidak-tidak apa?”sungutku sewot seraya mendorongnya menjauh.

“Aigoo~ Aku hanya ingin melihat seseorang yang spesial di matamu itu?”ucapnya membuatku menyernyit heran.

“Mwo? Apa maksudmu? Aku tidak melihat siapa-siapa, kok.”ucapku sedikit benar dan tidak semuanya benar. Bisa dikatakan berdusta, bisa juga tidak. Aku melamun sebelumnya tadi, jadi aku tidak sadar kemana arah pandangan mataku.

Dia kini menatap lekat-lekat mataku sambil bergumam.”Mmm, pasti ada.”ujarnya, pasti menebak-nebak.

“Ani!”jawabku seraya berpaling. Tatapannya tadi membuatku risih -,-

Pandanganku teralihkan lagi ke arah lapangan. Tapi kali ini, aku tahu dan sangat jelas sadar ke arah mana aku melihat sekarang. Tidak tahu kenapa dan apa, semuanya bergerak di luar kendali otakku sendiri.

Sejenak aku memperhatikan, sekarang aku tahu dia sebagai penyerang di dalam timnya. Aku baru sadar karena dia terlihat yang paling serius dan berbicara paling banyak. Rambutnya yang panjang terurai, kini dikuncir satu seperti ekor kuda. Meski sudah banyak peluh membanjiri pelipisnya, entah mengapa dia terlihat yang paling semangat. Dia… sama sepertiku.

“Yakk! Aku tau sekarang!”seru Luhan membuatku terkejut sekaligus kaget. Jantungku hampir melompat keluar mendengar suaranya yang keras tadi—dan juga detak jantungku bertambah dua kali lipat karenanya. Entahlah. Itu karena suaranya atau seolah aku baru saja terpergok seperti maling.

“Aiss, paboya! Telingaku sakit sekarang, Luhan-ah!”seruku tepat di telinganya. Tapi gagal, karena dia lebih sigap menutup telinganya rapat.

Aku tidak peduli lagi dengan beberapa pasang mata yang menatap heran ke arah kami. Bahkan, para yeoja yang berada di lapangan sempat menoleh… karenaku…? Aiss, ini semua gara-gara Luhan!!

Tapi, memangnya sekeras itukah aku berteriak eoh? -.-

“kkk~ mianhae, Baekhyun-ah. Aku terlalu girang soalnya.”ucapnya kemudian tersenyum menunjukkan deretan rapi gigi putihnya.

“Dasar!”sungutku kesal.

“Hehe, tapi sekarang aku tau sesuatu~”ujarnya mengulang kalimat yang diucapkan sebelumnya. Haiss, kukira dia sudah lupa.

“Mwoya?”sahutku malas.

Lagi-lagi dia tersenyum lebar.“Sekarang aku tahu siapa yang kau.. sukai.”ucapnya sambil menyandarkan lengannya di pundakku.

Kugerakkan punggungku untuk menyingkirkan lengannya.“Haiss, siapa memangnya?”tanyaku tanpa menoleh.

“Ngg, Soona-ya, kan?”tukasnya—sangat salah. Baru saja aku hendak menyemburnya dengan deretan kalimatku yang sudah di ujung lidahku, tersadar aku melihat sesuatu yang aneh dari sikapnya. Aku baru sadar dia sudah tertunduk sambil memainkan botol minumannya dengan senyum yang masih menghias wajahnya.

Aku tertegun, terdiam sejenak. Aku tahu senyum itu Luhan~

Ide brilian tiba-tiba muncul dalam benakku.“Kalau iya, wae?”jawabku seolah menantang sambil tersenyum dan menautkan alis.

Mendengar jawabanku dia menoleh terkejut—pasti—tidak menyangka.“Ng? Jeongmal? Ternyata aku tidak salah, haha.”ucapnya sebelum tertawa hambar.

Haha, aku tau sekarang sesuatu yang kau sembunyikan darimu. Kutatap wajahnya dari samping, masih dengan ekspresi yang sama. Menyadari tatapanku, dia menoleh heran.

“Mwo?”tanyanya. Sekilas, aku melihat sesuatu yang sangat jelas terbaca dari kedua bola matanya. kkk~ Akan kubalas perbuatanmu tadi Luhan :p

“Aku tau itu Luhan-ah~”ujarku seraya menyenggol bahunya.

Kulihat dia terhenyak seolah tersadar sesuatu.“T-tahu apa?”tanya terbata-bata. Tidak salah lagi.

“Kau cemburu ne~?”godaku kepadanya.

Buru-buru dia memalingkan wajah.“A-aniya~”

“Ah, sudah, sudahlah Luhan-ah~ Matamu itu tidak bisa berdusta, kau tahu.”kataku ketika sekilas membaca matanya tadi. Kuteguk air di dalam botol minumku sampai habis.

“Aigoo~ Aku tidak suka pada Soona-ya, Baekhyun-ah~”dustanya, lagi-lagi.

Aku menoleh, senyum jahil terukir di wajahku.“Eoh? Aku tidak bilang kau suka padanya.”tukasku membuatnya seketika menegang.“Aigoo~ Ketahuan juga kau Luhan-ah.”

“Yakk! Kau keterlaluan Baekhyun-ah!”sunggutnya. Aku tahu dia pura-pura, pasti perasaannya campur aduk sekarang.

“Hahaha, tapi benar, kan? Hahahaa…”ledekku sambil tertawa melihatnya tadi.“Mukamu merah tuh, hahaha…”

Dia menoleh, dan—benar—dengan wajah sedikit memerah.“Yakk! Berhenti tertawa Baekhyun-ah! Atau aku akan—“

“Akan apa?”potongku membuatnya terdiam.”Akan mengaduh pada Soona-ya? Baiklah..”ucapku sambil menaruh botol minumku di kursi sebalah yang kosong, lalu mulai berdeham sedikit.

Dia menatapku heran sekaligus aneh dengan sikapmu.

“M-mwo? Y-yak!”

“Soona-yaaa! Luhan-ah berkata dia………….”

~TBC~

———————————————————–

Annyeong~

Sebenernya author lagi mumet parah gara-gara sebentar lagi ujian kenaikan kelas, secepatnya menyelesaikan ff ini dan harus mengerjakan tulisan author yang lain sebelum deadline! > < Makin hari makin banyak jadwal dan kegiatan yang numpuk. Huh, kepala tuh kalo bisa meledak, mungkin sudah meledak dari kemaren-kemaren. xS

Haha, kok author jadi curhat gini sih. kkk :p

Don’t be a silent reader, ne? And don’t be a plagiator or copycat-or(?) God always see you everywhere and everytime~

Gomawo untuk admin yang udah mau ngepublish ff ini~

–  Author  ^^

Iklan

25 pemikiran pada “Different is Beautiful. Beautiful is You (Chapter 6)

  1. Chanyeol Chanyeol … *geleng-geleng*
    kaya mobil marinir aja thor di platnya ada lambang x_x
    Luhan suka sama Sonna? hahaha…
    udah lah Baekki jujur sama perasaan sendiri :v

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s