My EXOrcist (Chapter 2)

Author : Nur RyeoRi0694

Title     : My EXOrcist

Cast     : EXO K’s Byun Baekhyun

EXO M’s Kris

EXO M’s Luhan

Choi Jun Hee (Juniel)

Heo Woori (OC)

Han Jinah (OC)

Cha Hyeri (OC)

Genre  : Romance, Fantasy

Rating : PG-15

Length : Chaptered

Disclaimer : Cerita ff ini terinspirasi dari komik karya Kuze Mizuki yang berjudul ‘first kiss’ dengan perubahan cerita yang keluar dari otak author sendiri 😀

my exorcist 22

*****

Author POV

“Sial… Sial… Sial….” Gerutu Woori dengan wajah ditekut masam.

“Ya ! Bersihkan yang benar, jika tidak, akan ku tambah hukumanmu menjadi membersihkan toilet sekalian.” Tegur Jung seonsaengnim melihat hukuman yang Woori terima tidak dilakukan dengan benar.

Sapu di tangan  yeoja itu memang dengan posisi yang benar, tetapi hasil yang dikerjakannya lah yang tidak benar. Dedaunan kering yang seharusnya berkumpul rapi menjadi sebuah gunung kecil malah masih berserakan dimana-mana. Seperti bukan disapu, malah seperti dengan sengaja dihamburkan olehnya.

Tentu, karena memang  yeoja itu tidak ingin melakukannya. Pagi-pagi berangkat dari rumah dengan keadaan cantik dan menawan malah harus mengerjakan hukuman, hukuman yang tidak seharusnya ia dapatkan. Seperti membuat kecantikannya luntur terbawa peluhnya yang berguguran membasahi pelipisnya, ditambah matahari yang memang sudah bersinar terang dan panas.

‘Mana mungkin aku menggunakan kekuatanku sekarang untuk menyelesaikan hukuman ini’ pikirnya dalam hati.

“Dedaunan itu minta dikumpulkan menjadi satu, bukan hanya dipandangi Woori-ah ckckck” Tegur namja yang telah berhasil membuat Woori dihukum pagi ini.

“Ya ! kalau bukan ulahmu, aku tidak akan terlambat dan menerima hukuman ini Baekhyun-ah. Aaiissshh.. Neo jinja.” Bentaknya pada namja yang baru saja menegurnya, Baekhyun.

“Hahahahah” Baekhyun hanya tertawa lepas kemudian meninggalkan Woori, menuju arah teman sekelas mereka juga, Chanyeol.

“Aaaa… Merepotkan sekali.” Yeoja cantik itu menggeretu cukup nyaring, membuat bukan hanya beberapa pasang mata, melainkan banyak pasang mata yang kemudian menatapnya. Menatap bagaimana yeoja yang cukup menyita perhatian seluruh penghuni sekolah mulai siswa tingkat 1 hingga tingkat 3 itu melaksanakan hukuman paginya.

Sudah seminggu sejak Woori menjadi bagian dari sekolah yang langka akan makhluk yang bernama yeoja itu. Dengan wajah cantik yang dimilikinya, tidak heran jika dia menjadi salah satu yeoja yang populer di sekolah mereka sekarang, menjadi bahan pembicara namja-namja tiap kelas.

“Jadi yeoja itu siswa baru ditingkat 2 yang menjadi topik hangat dikelas kita ?”

Ne. Yeppeo ?”

Neomu yeppeo.”

Dari jarak yang agak jauh dari Woori berdiri, terlihat dua orang namja yang tengah saling berbisik mengenai yeoja itu. Untuk ukuran manusia biasa tentu percakapan kedua namja itu tidak akan terdengar oleh Woori, tapi karena kekuatan yang dimilikinya membuat Woori dapat mendengar dengan jelas percakapan keduanya. Membuat senyum mengembang diwajahnya.

‘Aku populer ternyata.’ Bangganya.

Setelah merasa hukumannya terselesaikan dengan baik, Woori menghadap Jung Seonsaengnim untuk minta izin masuk ke kelas. Ia bersiap mengambil tasnya yang memang berada di tumpukan tas siswa lain yang juga kena hukuman sepertinya. Namun Woori sempat bingung, hilang kemana tasnya ? Kenapa tidak ada di tempat dimana semula ia menaruh ?

Setelah 2 menit mencari, Woori menemukan tasnya berada di bangku yang agak jauh dari tempat tumpukan tas tadi.

Mwoya ? Kenapa berada disini ? Pasti ulah Baekhyun lagi.”

Ia menatap tajam ke arah Baekhyun yang sedang asyik bercanda ria dengan Chanyeol. Jika saja namja itu melihat tatapannya, mungkin akan merasa ngeri juga.

Bukan maksud Woori menuduh Baekhyun tanpa bukti nyata, hanya saja mengingat selama satu minggu ia bersekolah di sekolah barunya ini, hanya Baekhyunlah namja yang selalu menjahilinya, mencari masalah dengannya. Terutama jika diingat hari pertama ia masuk sekolah. Saat di mana Baekhyun menolongnya saat hendak terjatuh namun ternyata hanya kedok agar mengetahui ukuran tubuh yeoja itu, kemudian mengumumkannya di depan kelas. Jika diingat, membuat Woori malu dan geram pada namja yang sebenarnya memiliki senyum manis itu, tapi tidak manis sama sekali saat otak jahilnya yang beraksi. Itu lah Byun Baekhyun.

*****

Woori POV

Aku memasuki kelas dengan perasaan malas. Beruntung Yunho Seonsaengnim –guru pelajaran pertama– belum memulai pelajaran, sepertinya belum tiba juga beliau. Jika tidak, pasti aku akan sangat malas untuk mengikuti pelajarannya.

Kulihat Jinah dan namjachingunya, Tao, sedang asyik berbicara, saling tertawa mesra. Sedangkan Hyeri sedang asyik membaca komik yang baru dibelinya kemaren.

“Woori-ah, anyyeong.” Sapa Hyeri saat melihatku sudah duduk dibangku depannya.

Annyeong.”

Seminggu bersekolah sudah membuatku sangat akrab dengan Jinah dan Hyeri. Dua yeoja yang sangat baik dan asyik. Empat orang yeoja lainnya tidak terlalu akrab dengankku. Selain menemukan dua orang teman akrab, selama seminggu ini aku juga sudah mengatahui seluk beluk sekolah ini.

Sebuah sekolah yang dulunya hanya dikhususkan untuk namja kini berubah menjadi sekolah campuran. Kami di tingkat 2 merupakan siswa angkatan pertama untuk kelas campuran, sunbaenimdeul di tingkat 3 masih namja semua penghuninya, sedangkan di tingkat 1 juga sudah bercampur, dan memang belum terlalu banyak sih yeojanya, tapi cukup untuk disebut sekolah campuran.

Selama seminggupun belum ada apa-apa yang kulakukan, belum ada korban yang kuhisap energinya. Aku masih berusaha berorientasi dengan lingkungan baruku, dan masih menjaga diri kalau saja tiba-tiba aku bertemu  Exorcist. Karena tentu aku tidak ingin lenyap sekarang, aku masih harus mengalahkan kekuatan Juniel. Harus itu !

“Apa yang membuatmu terlambat pagi ini ?” Hyeri kembali berbica denganku. Akupun mengangkat kepalaku dan memutar posisi dudukku hingga berhadapan dengan Hyeri.

Aigoo. Seharusnya aku tidak terlambat tadi,, tapi semua karena Baekhyun.”

Waeyo ?” kali ini Jinah yang bertanya. Meski sedang ‘bermesraan’ dengan Tao, ternyata dia mendengarkan ku juga.

“Beberapa menit sebelum gerbang ditutup aku sudah berlari menuju gerbang. Kalian tahu apa yang terjadi ?”

“….” keduanya hanya menggeleng.

“Baekhyun menarik tasku, kemudian saling mengoperkan ke arah Chanyeol secara bergantian. Mereka berdua bersekongkol membuatku terlambat hari ini. Sangat menyebalkan.”

Jinah dan Hyeri hanya tersenyum kecut. Keduanya pasti sudah mengetahui bagaiman sikap menyebalkan Baekhyun padaku.

“Aku benci Baekhyun.”

Jinjja ? Hati-hati, benci bisa berubah jadi cinta lho, seperti Hyeri yang awalnya benci pada Chanyeol, sekarang jadi menyukai namja jangkung itukan hahahah”

Kulihat mata Hyeri melotot. Tidak terima dengan kata-kata Jinah barusan.

Aniyo.. siapa yang bilang aku suka Chanyeol ? Aku membencinya. Sangat.” Protes Hyeri.

Kojitmal. Aku sangat tahu yeoja tomboy ini sekarang sedang menyukaiku kan ?” Tiba-tiba Chanyeol sudah berada dibelakang Hyeri, membuat yeoja itu terkejut.

AniyoJinjja aniyo.. jangan terlalu percaya diri Chanyeol-ah.”

Keributanpun terjadi akibat suara gaduh dari dua orang anak manusia itu.

Tiba-tiba tak sengaja tatapan mataku bertemu mata Baekhyun. Senyum jahil terpancar diwajahnya.

Jebal. Hari ini saja jangan menggangku. Semakin sering kau menggangguku, semakin besar keinginanku menghisap energimu Baekhyun-ah.’

*****

Woori POV

Pelajaran terakhir akan segera dimulai, namun guru bahasa Inggris kami ternyata tidak dapat masuk untuk mengajar, jadi kami hanya diberi tugas.

Rasa malas yang sempat melandaku tadi pagi berhasil hilang sejak pelajaran kedua dimulai. Jadi untuk pelajaran terakhirpun aku siap. Saat ku keluarkan buku tulisku, kurasakan selembar kertas terjatuh dari bukuku itu.

Aku mengambil selembar kertas itu. Omo.. ini lebih dari sekedar selembar kertas. Ini….

Tidak sopan memang memintamu melalui sebuah tulisan saja, tidak permintaan langsung padamu, tapi kutunggu sepulang sekolah di taman belakang sekolah. Aku akan menunggu hingga kau datang.

Kuharap kau mau menemuiku.

XL’

Mataku melebar. Seorang namja memintaku menemui nya ? Ha ! Tidak perlu untuk terlalu tebar pesona untuk mendapatkan korban, bahkan korban yang mendatangiku dengan sendirinya. Tidak akan ku siasiakan kesempatan ini. Kesempatan untuk menambah kekuatanku. Kedua sudut bibirku tidak dapat kutahan agar tidak tersenyum. Tersenyum jahat kurasa.

“Woow.. dalam waktu seminggu saja kau sudah populer Woori-ah. Surat dari penggemarmu.”

Ternyata Hyeri juga ikut membaca isi kertas tadi. Jinah yang awalnya tidak ikut melihat, kini ikut mepet disebelahku, melihat isi kertas dari penggermarku tadi. Woow percaya diri sekali aku mengatakan itu dari pengemarku.

“Kau akan menemuinyakan, Woori-ah ?”

Gereumyeon. Mana mungkin aku menyianyikan kesempatan ini, aku tidak akan mengecewakan namja yang sudah mengirim ini.”

“Haha ! paling juga namja iseng yang mengirim itu. Lagipula inisial macam apa itu ? XL ? ukuran pakaiannya kah itu ? berarti namja itu berbadan cukup gemuk hahaha.” Ejek Baekhyun  yang  juga ternyata melihat tulisan itu. Baekhyun tertawa sambil terus mengungkit insial ‘XL’ tadi. Beberapa teman yang lain ikut tertawa bersamanya. Aku hanya menatap kesal ke arahnya.

“Bukan urusanmu Byun Baekhyun !!”

*****

Author POV

Sesuai permintaan dari sang penggemar, begitu bel tanda pelajaran terakhir telah usai Woori segera menuju taman belakang sekolah.

Dia yang terlalu bersemangat, atau memang  namja itu yang datang terlambat ? Karena tidak ada seorang manusiapun yang berada di taman belakang sekolah ini. Woori kemudian memilih untuk duduk menunggu  namja yang membuatnya cukup penasaran. Namja seperti apakah yang akan ditemuinya ? Jangan-jangan benar kata Baekhyun tadi, namja yang ingin bertemu dengannya adalah namja  yang memiliki ukuran tubuh cukup besar. Otthoke ?

Mianheyo. Sudah menunggu lama kah ?” Tegur seseorang yang membuyarkan lamunan Woori.

Aaanyio.” Jawabnya sedikit terkejut.

Seorang namja dengan wajah baby face dan tampan dengan tubuh yang tingginya sekitar 175an cm tengah berdiri dengan senyum menawan diwajahnya.

Annyeong Woori-ah, Xi Luhan imnida. Aku dari tingkat 3. Gomawo sudah mau menemuiku.”

Woori sempat terkejut, wajah imut begitu ternyata sunbae dari tingkat 3, bukan hobbae tingkatn 1.

Luhan pun ikut duduk disamping Woori.

“Mungkin terlalu cepat jika aku mengatakan  aku menyukaimu hanya dalam satu minggu, tapi itu memang kenyataan. Sejak pertama kali melihatmu dihari pertama kamu masuk sekolah ini, aku rasa aku jatuh cinta padamu. Ehhmmm… Entah kamu sadar atau tidak, tapi tadi pagi juga kita terlambat bersamaan, mungkin ini takdir.”

Ucapan Luhan hanya membuat Woori terdiam, tidak tahu harus bagaimana menanggapinya.

“Aku tidak akan memintamu langsung menjadi yeojachinguku, tapi bisakah kita memulai sedikit-demi sedikit, saling mengenal satu sama lain ?”

Woori tersenyum, tentu  dia tidak akan menolak kesempatan ini, korban yang datang dengan sendirinya.

“Tentu Luhan sunbaenim, mana mungking aku menolakmu.”

Luhan tersenyum bahagia, merasa pendekatannya berjalan lancar. Awal yang baik untuk menuju tahap yang lebih serius dengan yeoja yang dapat mengusik tidurnya setiap malam, dengan selalu hadir dalam mimpi-mimpinya.

*****

Authori POV

Luhan sunbaenim orang yang menyenangkan, sikapnya sangat baik, berbicara dengannyapun sangat mengasyikkan. Benar-benar sosok namjachingu yang ideal. Sayang, Woori tidak bisa mencintainya, yah karena memang dia hanya menginginkan energinya. Jahat bukan.

Saat ini mereka berada di depan rumah sederhana namun  nyaman milik Woori. Terlihat Kris yang berdiri di ambang pintu, memperhatikan Luhan dan Woori yang baru tiba. Luhan sudah mengetahui tentang kehidupan Woori –bukan kehidupan yang sebenarnya– bersama Kris yang merupakan oppa dari yeoja tersebut, dan orangtua mereka yang sedang berada di luar negri.

Luhan membungkung sopan pada Kris, namun hanya ditanggapi senyum sinis oleh Kris.

“Sampai jumpa besok di sekolah. Kalkke.” Pamit Luhan.

Jamkkanmannyo sunbae !” Tahan Woori saat Luhan ingin berbalik  arah dan siap melangkah pergi.

Dipegang lengannya, kemudian ia kecup pipi kiri Luhan agak lama.

Männlich ab jetzt mein sklave hexe meimiaril geworden

Woori mulai mengucapkan mantranya dengan mantab, manik mata miliknya yang biasanya berwarna hitam kecoklatan kini berubaha menjadi biru, sebiru lautan. Indah untuk dipandang sebenarnya.

Namun keindahan manik matanya tidak seindah perbuatannya, karena dirasakannya 25% dari energi namja yang dikecup pipinya ini telah berhasil berpindah kedalam tubuhnya, membuat tubuhnya lebih terasa hidup dan segar dari sebelumnya.

“uuhhuukk… uhhuukkk..” Luhan terbatuk-batuk, wajahnya memerah juga.

“Itu sebagai tanda terimakasih karena sunbae sudah mengantarku pulang. Jeongmal kamsahamnia sunbaenim.” Manik mata Woori kini kembali seperti semula, hitam kecoklatan.

Ne. Kalkke.” Pamitnya sekali lagi kemudian pergi. Terlihat jalannya terhuyung-huyung, sambil memegang kepalanya, pasti kehilangan 25% dari energinya membuatnya merasa pusing.

“Dalam seminggu hanya mendapatkan satu korban ? Dan kau baru memulainya ? Lamban sekali pergerakanmu Heo Woori !” Sindir Kris saat Woori sudah memasuki rumah.

“Biarkan aku melakukannya dengan perlahan, lebih baik kamu urus yeoja mu sendiri, Kris ‘oppa’.” Dengan sengaja ditekan nada bicaranya saat kata ‘oppa’, karena Woori tahu Kris tidak menyukai saat dipanggil begitu. Karena memang di tempat asal mereka usia mereka sebaya, tetapi begitu di bumi ternyata Kris memasuki usia sebagai mahasiswa, sedangkan Woori lebih muda dan masih dibangku sekolah, senior high school.

“Jika pergerakanmu terus perlahan seperti itu, kamu akan tertinggal oleh Juniel. Ingat itu.” Ancam Kris.

Arayo.”

*****

Woori POV

Baru beberapa detik aku duduk di bangkuku, tapi Jinah dan Hyeri sudah heboh menghimpitku, di kanan dan di kiri ku.

“Jadi ?”

Jinah bertanya dengan nada menggantung.

“Jadi ?” kuulangi pertanyaanya.

“Ayolah. Jangan bersikap seolah kau tidak tahu. Jadi namja mana ?” Hyeri mempertegas maksud dari pertanyaan ‘jadi’ barusan.

“Ahahaha. Xi Luhan sunbaenim dari tingkat 3.” Jawabku dengan senyum bangga.

Omona. Jeongmalyo ?”

Neo ara ?” kali Ini Hyeri bertanya pada Jinah.

“Pasti. Luhan sunbaenim dari tingkat 3, namja baby face dan suara merdu itukan. Hyeri-ah, dia itu sunbae yang tampil solo saat acara musik sekolah kita tahun lalu. Lupa eoh ?”

Hyeri hanya mengganguk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jujur, dia tidak terlalu peduli pada sunbae maupun  hobbae di sekolah mereka ini. Tidak ada untungnyanya menurutnya.

Berbeda dengan Jinah,  yeoja satu ini merupakan yeoja yang up date mengenai berita yang sedang panas di sekolah maupun tentang namjaduel tampan yang bertebaran di sekolah kami ini. Namun urusan cinta, yeoja tinggi dan cantik ini hanya setia pada seorang namja, Huan Zi Tao.

Neo beruntung Woori-ah, Luhan sunbaenim kan populer dan banyak yang suka, walau tidak pernah ditanggapi olehnya. Chukkae.”

Senyumku makin mengembang. Wooww… Korbanku ternyata orang special ya.

*****

Author POV

Sudah seminggu lebih berlalu sejak Woori mulai dekat dengan Luhan, dan seluruh penghuni sekolah sudah mengetahui itu. Dan dapat dikatakan sudah seminggu Woori memperkuat dirinya dengan mendapatkan energi dari Luhan, dan namja korbannya itu sekarang hanya dapat berbaring lemah dirumah sakit, dengan 15% energi dari kehidupannya yang tersisa.

Kasihan ? Tidak ada rasa kasihan bagi Woori pada namja itu, karena memang itulah tujuannya datang ke bumi ini. Bertemu manusia bumi, menghisap energi mereka untuk mendapatkan kekuatan lebih, dan MENGALAHKAN Juniel.

Menjadi Queen ? Tidak termasuk tujuannya.

“Setelah 3 hari terbaring di rumah sakit, neo akan menjenguk Luhan sunbaenim sore ini kan ? Mianhae aku tidak bisa menemanimu.” Terdengar suara Jinah dari sebrang sana.

Ne. Gwenchanayo,aku akan pergi sendiri.”

Setelah melakukan beberapa percakapan, Woori menggeser layar handphone Android dan menghentikan obrolannya dengan Jinah, karena dia akan berangkat ke rumah sakit sekarang, menjenguk Luhan.

“Kau akan menghabisinya langsung sore ini kan ?”

Tanya Kris yang tiba-tiba sudah bersandar di daun pintu kayu coklat kamar Woori saat jeoya itu tengah memandang pantulan dirinya di depan cermin. Dapat dilihatnya juga Kris dari pantulan cermin itu.

Aniyo. Seperti kata Queen, kita tidak boleh benar-benar menghisap habis energi manusia bumi bukan ? Aku tidak sejahat Juniel.” Jawab Woori sambil mengambil tas bermerk terkenal miliknya kemudian melewati Kris tanpa menoleh pada namja itu.

“Jangan terlalu peduli dan kasihan pada manusia bumi yang lemah jika kau ingin menjadi yang terhebat.”

Berpura-pura tidak mendengar dan cepat keluar dari rumah yang Woori pilih daripada Kris harus memperpanjang ceramahnya. Yeoja itu tahu Kris bermaksud baik, tapi Woori tidak bisa begitu.

Neo, Woori right ?” Tanya seorang yeoja yang entah sejak kapan sudah berada di depan rumahnya.

Chagiya !!”

Terdengar suara Kris senang dari arah belakang Woori, membuat yeoja –yang jujur Woori tidak mengenalnya– tersenyum manis penuh bahagia.

Kris dengan sigap Kris menghampiri yeoja itu, dan mereka saling mencium mesra, Woori hanya memutar bola matanya dengan jengah.

‘Berciuman diluar rumah ? Di tempat terbuka seperti ini. Gila.’

Setelah melepaskan bibir basahnya dari sang yeoja, Kris tersenyum puas. Karena ia memang sengaja melakukan itu dengan maksud agar Woori cemburu padanya. Dan dia berharap agar Woori benar- benar cemburu.

‘Dan aku tidak cemburu sedikitpun. Lakukan apapun yang ingin kau lakukan, Kris-ah’

*****

Woori POV

“Annyong hasimnika.”

Sapa ku sambil membungkuk sopan saat memasuki ruang di mana Luhan oppa –setelah dekat selama seminggu, Luhan oppa memintaku memanggilnya oppa  bukan sunbae– dirawat. Nyonya Xi baru saja pergi keluar, membiarkan kami berdua saja.

Oraenmaniyo oppa.” Aku memposisikan diriku duduk di samping kanan ranjang Luhan oppa.

Ne. Bahkan tidak bertemu denganmu selama tiga hari saja rasanya seperti tiga tahun kekekeke.”

Luhan oppa tertawa, mencoba menunjukkan bahwa dirinya masih terlihat bahagia. Padahal jelas terlihat ia tidak bahagia, ia sakit, sangat sakit. Wajahnya pucat pasi, tubuh kurusnya semakin kurus saja, ia bahkan pasti sulit untuk bergerak.

Terbesit dibenakku rasa kasihan sekaligus rasa bersalah, seharusnya aku tidak menghisap energinya sebanyak ini. Seharusnya aku cukup menghisap 50% dari energinya. Itu cukup.

Mianhaeyo oppa. Jeongmal mianhaeyo.” Bahkan aku tidak mampu menatap wajahnya sekarang. Hanya menunduk.

“Untuk apa ? Bahkan kamu tidak salah apa-apa Woori-ah.” Suaranya terdengar lemah, sangat lemah. Bahkan seperti sangat susah untuk dikeluarkan dari mulutnya.

Mianhaeyo, oppa….

*****

Woori POV

Dinginnya udara malam menerpa kulitku, membuatku harus menggosok-gosokkan telapak tanganku untuk mengurangi rasa dingin ini. Hal yang salah adalah, saat pergi ke rumah sakit tadi, aku tidak mengenakan sweter, jaket ataupun penutup lainnya yang seharusnya aku gunakan.

Kulangkahkan terus kakiku maju menuju rumahku, kenapa Kris harus memilih rumah yang letaknya tidak terlalu strategis seperti ini.  Menyebalkan.

“Ttttooo…..toollooongg.”

Samar-samar dari sebuah lorong yang cukup gelap ku mendengar suara yeoja. Beruntung dengan kekuatan yang kumiliki, aku dapat mendengar suara yeoja yang berada di ujung lorong, sangat jauh dari depan lorong sekarang ku berada.

Kutajamkan penglihatanku ke dalam kegelapan lorong panjang ini, dan apa yang kulihat ? Seorang yeoja dengan tubuh gemetar dan air mata yang berlinang tersudut di ujung lorong, dengan seorang namja –preman sepertinya– yang memegang sepucuk pisau tajam dan mengancam yeoja malang itu.

“Tidak ada yang akan mendengar suaramu, manis. Jadi lebih baik kau memuaskan nafsu ku, jika tidak ingin pipi mulusmu dan seluruh tubuhmu tercabik-cabik pisau ini.” Anjam sang preman.

Beraninya pada yeoja lemah, dan hanya berani karena menggunakan senjata. Benar-benar pecundang.

“Lepaskan yeoja itu. Sebagai gantinya, akan ku serahkan diriku.”

Sang preman menyipitkan matanya, menatap ke arah ku.

“Woow ! Mangsa yang lebih empuk ternyata.”

Beruntung, sang preman tertarik padaku dan menjauh dari yeoja tadi.

Ppali ka. Dan jangan pernah berkeliaran sembarang lagi saat malam.” Pesanku pada yeoja yang hampir terenggut mahkotanya tadi saat ia melewatiku dan segera pergi menjauh dari kami.

“Ini pilihanmu sendiri cantik. Ppali, puaskan aku.”

Sang preman mendekat ke arahku. Dapat kucium aroma alkohol dari tubuhnya. Dasar pemabuk.

As your wish, baby.

Sebagai jawaban atas otak kotornya, akupun memulai aksiku.

Ku katup kedua pipinya dengan telapak tangan kanan dan kiriku, kudekatkan wajahnya ke wajahku. Terlihat bibir kotornya siap mendekat ke arahku, namun ku gerakkan kepalaku menghindarinya.

Männlich ab jetzt mein sklave hexe meimiaril geworden !!!!”

Ku tekan kuat kedua tanganku yang berada di pipinya. Ku kerahkan semua kekuatanku untuk menghisap energi namja busuk seperti ini.

“Lebih baik kau mati daripada terus mengusik yeoja lemah seperti tadi !! Mati Kauuuu !!!” Semakin besar amarahku, semakin kuat kekuatanku untuk menghisap energinya.

“Aaaaarrrggggghhhh……”

‘Brug’

Tanganku terlepas darinya, membuat tubuh tanpa nyawa itu terjatuh begitu saja, terlihat mengenaskan. Kedua pipinya melepuh terbakar, badanya sengat kurus hanya seperti kulit-kulit keriput yang menutupi tulang-tulangnya, persis seperti haraboeji tua berumur 100an tahun.

*****

Author POV

Seperti bukan dirinya sendiri. Itulah yang Woori rasakan saat ini.

Ini pertama kalinya ia menghisap energi korbannya hingga benar-benar habis dan mati. Ini tidak benar, ini melanggar aturan Queen nya.

Tubuhnya tidak dapat berhenti bergetar, dibalik energi besar yang baru didapatnya ia merasa ada yang salah dengan dirinya. Ia mengerikan. Ia membunuh.

Aa…aannndwee. aku tidak seharusnya seperti ini.” Woori berkata dengan frustasi, rambutnya kini acak-acakan.

Ia sendiri tidak mengerti, mengapa kemarahannya dapat menguasainya hingga melampaui batas seperti ini, semarah apapun dia, tapi ini pertama kali baginya. Menghisap energi korbannya hingga meninggal.

Saat hendak membuka pintu depan rumah, Woori dapat mendengar suara  yeoja yang tadi sore menemui Kris, di dalam, terdengar saling bercanda ria dan mesra. Bohong jika Kris tidak bermaksud untuk membuat Woori cemburu seperti apa yang dilakukannya sebelumnya. Karena Kris jelas tahu bahwa Woori berada di depan rumah. Karena memang mereka dapat merasakan kehadiran sesama kaum mereka dalam jarak tertentu.

“Terserah apapun yang ingin kalian lakukanlah.”

Woori membalik tubuhnya dan menjauh dari rumah. Sepertinya bertemu dengan Kris saat ini bukanlah saat yang tepat. Karena jelas Kris akan mengintrograsi Woori jika Woori masih belum bisa menghentikan getaran tubuhnya seperti ini, tubuhnya yang terus bergetar seperti gugup dan takut.

Woori lebih memilih duduk di kursi sebuah mini market yang cukup jauh dari rumahnya. Ditekut kedua kakinya, dibenamkan wajahnya. Berusaha menenangkan dirinya sendiri. Hingga seseorang menendang kasar kursi yang sedang didudukinya. Membuat tubuhnya terguncang sedikit.

“Aiisshhh.”

Gumam Woori kesal sambil mengangkat kepalanya ke atas.

Neo !!!” O_o

*TBC*

*****

Author Talks

*Annyeonghaseyo readers, author kembali dengan membawakan chapter 2 nya.. ada yang nunggu lama g hehehehe. Jeongmal mianhaeyo karena kesibukan author FF ini sempat ngadat.

*Bagi yang sempat bingung dan g ngeh sama cerita FF ini d chapter 1 nya, semoga chapter 2 ini dapat lebih memberikan penjelasan maksud dari FF ini. Amiin

*FF ini author kirim k EXO Fanfiction dan Alviana FF

*Jeongmal kamsahamni bagi yang sudah baca + comment di chapter 1nya. Chapter 2 ini comment jg y. Sedikit kata-katapun dapat membangun untuk perbaikan author n FF author ini. Dan semoga masih setia menunggu chapter 3nya, yang Insya Allah adalah chapter terakhir.

Annyeong ^_^

#dadah dadah bareng Baekhyun, Luhan & Kai

5 pemikiran pada “My EXOrcist (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s