My Pretty Teacher (Chapter 2)

Title                   : My Pretty Teacher #2 (END)

Scripwriter     : sarahdeha (sarahdeha.wordpress.com)

Length              : Two shots

Genre                : Romance, school life

Main Cast     :

–          Tiffany Hwang (SNSD)

–          Oh Sehun (EXO-K)

Sipport Cast   :

–          Kim Taeyeon (SNSD)

–          Choi Siwon (Super Junior)

cover-pretty-teacher

\***********************

Esoknya Sehun datang ke ruang konseling lagi. Saat ia masuk kantorku, ia hanya duduk di sofa dan diam. Melihat gelagatnya yang aneh, aku segera menegurnya. “Ada apa lagi? Kenapa kau tiap hari harus ke sini, sih. Ini bukan kantin sekolah yang bisa masuk dan bersantai sesukamu.”

Ia tiba-tiba memberiku selembar kertas, sebuah tiket nonton film di bioskop. “Ini untukmu. Datang ya besok. Kujemput di apartemen mu jam 2. Ini permintaanku.”

“Yaaak! Oh Sehun.” Aku benar-benar merasa harus menyadarkan anak ini. “Kau tidak bisa berbuat begini terus.”

“Memangnya kenapa?”

“Sejak awal kubiarkan kau berbuat sesuka hatimu, memaksaku melakukan ini dan itu.” Aku mendekat ke arahnya. “Tapi ini sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Apa-apaan mengajak kencan gurumu sendiri? Jika ada yang tahu, aku bisa dipecat dan kau akan dikeluarkan!”

“Aku bukan mengajak kencan Hwang songsaengnim, melainkan Tiffany.” Katanya tenang.

“Apa bedanya? Aku adalah Tiffany sekaligus Hwang songsaengnim, ini tetap melanggar peraturan sekolah.” Aku menarik nafas, aku kewalahan menghadapi anak ini. “Sebagai guru, aku berhak menasihatimu atau bahkan menghukummu.”

“Dari awal aku tidak pernah merasa kau guruku, Tiffany. Kau marah tiba-tiba…”

“Bagaimana bisa aku tidak meluapkan emosiku menghadapi anak kecil macam kau? Kau memerintahku sepuasmu dan tidak pernah merasa bahwa itu menggangguku, memanggil nama kecilku seenaknya, menciumku dan sekarang mengajakku kencan?”

Ia mengernyit, “Anak kecil? Siapa yang kau bilang anak kecil?”

“Kau.” Aku menurunkan emosiku. “Mana bisa aku menyukai anak kecil yang bahkan tidak bisa membedakan perasaan serius atau main-main sepertimu? Dengarkan aku, Oh Sehun-haksaeng. Selama ini aku hanya menganggapmu anak kecil dan tidak pernah menyukaimu.”

“Kau menganggap perasaanku ini mainan anak kecil? Aku bisa terima jika kau belum menyukaiku tapi aku tidak terima jika kau mengatakan perasaanku ini hanya main-main.” Ia mendekatkan wajahnya. “Kuraeyo. Aku akan menunjukkan padamu bahwa aku serius.”

Ia lalu keluar ruangan dan terlihat memendam emosi. Aku menghempaskan tubuhku ke kursi dan memejamkan mata. Sebenarnya aku sendiri tidak tahu apakah yang kukatakan tadi seperti apa yang kurasakan atau tidak. Aku juga tidak menuruti satu permintaan konyolnya itu karena aku tidak janji. Tapi inilah yang terbaik, dia membenciku dan tidak akan ada skandal hubungan guru dan siswa di SMA Honggyu ini.

#n#n#

            Sudah 3 hari ini Sehun tidak datang ke kantorku, bicara padaku atau bahkan menatapku. Meski aku merasa kantorku jadi jauh lebih tenang dan pekerjaanku lebih cepat selesai, aku merasa ada sesuatu yang kurang.

“Aduuhh..apa sih yang kupikirkan!” seruku sambil melepas syal kotak-kotak yang menggantung di leherku sejak pagi. “Oh iya, aku harus pergi ke ruangan Kim sam.”

Aku berjalan ke kantor beliau sambil memikirkan siswa siapa yang akan pindah seperti yang dibicarakan Kim songsaengnim padaku. Beliau menyuruhku untuk mengurus berkasnya.

“Saya sudah datang, Bu.” aku mengetuk pintu.

“Silahkan masuk.” Beliau mempersilahkanku masuk dan kuambil posisi duduk. Raut muka Kim songsaengnim agak serius.

“Sebelum saya memberikan berkas yang saya katakan tadi, saya ingin bertanya sesuatu.”

Aku jadi agak gugup, ada apa ini? “Ada apa, Bu?”

“Apakah benar, gossip yang beredar tentang anda bahwa anda telah menjalin sebuah hubungan khusus dengan seorang siswa?”

Aku terkesiap. Apa-apaan ini? Siapa yang menyebar gossip murahan seperti itu? Siapa maksudnya hubungan khusus? Jangan-jangan…

“Saya bahkan tidak tahu ada gossip seperti itu, Bu. kalaupun ada, saya berani bersumpah saya tidak ada hubungan khusus dengan siapapun di sekolah ini.” Jawabku tegas. Kim songsaengnim harus tahu bahwa aku tidak akan goyah hanya dengan gossip seperti itu. Dia harus menangkap sinyal kejujuranku.

Beliau tampak berpikir sebentar. “Saya mendengarnya dari seorang guru yang tidak perlu saya sebutkan siapa. Gossip ini tidak boleh menyebar ke siswa meskipun ini benar atau tidak, Hwang songsaengnim.”

“Saya mengerti, bu. tapi saya mau menanggung apapun konsekuensinya jika hal itu benar terjadi.”

Ia tampak puas dengan jawabanku. “Baik, saya akan berusaha agar masalah ini segera diluruskan dan tidak sampai menyebar ke kalangan siswa. Saya juga akan menyelidikinya secara personal sebelum dewan guru tahu.”

Aku bernafas lega, bersyukur sekali memiliki wakil kepala sekolah yang bijak sepertinya. “Saya sungguh bicara pada orang yang tepat. Saya yakin sekali anda orang yang obyektif, Kim songsaengnim. Sekali lagi, kamsahamnida.”

“Algesseumnida, ini berkas siswa yang akan pindah itu dan tolong segera urus. Anda boleh pergi.” Ia mengisyaratkanku untuk pergi dari ruang ‘interogasi’nya.

#n#n#

            “Ternyata Sehun siswa yang akan pindah itu??” seruku saat membaca berkas dari Kim songsaengnim. “Apa alasannya??”

Aku membaca detailnya, semuanya. Sehun ingin pindah dari sekolah karena ia menginginkan ekstrakurikuler basket yang lebih baik, yaitu di SMA Kyongdong yang ada di kota sebelah. “Alasan inikah yang membuatnya ingin pindah? Aku tahu dia jagoan basket, tapi dia…bagaimana..”

Aku membanting berkas itu dan merasa kesal sekali. Entah kenapa, aku hanya terkejut. Sangat terkejut malah. Aku memang menyuruhnya membenciku, tapi… Dia bahkan tidak pernah memberitahuku, ya dia tidak perlu memberitahuku sih, hanya saja…ahh! Aku benar-benar kesal!

“Kenapa sih, dia? Akhir-akhir ini pun dia aneh sekali. Tidak pernah menyapaku, menatapku saat pelajaran dan tidak datang ke kantorku. Sekarang tiba-tiba ingin pindah.” Aku berpikir keras dan tidak menemukan jawabannya. “Apa dia membenciku? Karena cintanya bertepuk sebelah tangan? Kenapa dia begitu cepat berubah pikiran?? Ahh! Menyebalkan!”

#n#n#

            Berkas milik Sehun sudah selesai sejak seminggu lalu dan harusnya hari ini dia sudah tidak masuk sekolah untuk mengurus semuanya di SMA Kyongdong.

“Hwang songsaengnim, saya senang sekali mengetahui bahwa gossip yang menimpa anda itu tidaklah benar. Saya sudah melakukan beberapa penyelidikan dan ternyata tidak ada bukti. Gossip ini pun bahkan sudah tidak terdengar lagi.” Kim songsaengnim memanggilku ke ruangannya untuk memberitahuku masalah ini.

Aku terseyum senang, “Kamsahamnida Kim songsaengnim atas segala bantuan anda. Saya juga senang gossip ini tidak benar. Terkadang terjadi persaingan antar guru, tapi itu hal yang wajar kan? Saya hanya merasa harus lebih memperbaiki diri.”

Ia tertawa, “Jangan terlalu merendahkan hati, Hwang songsaengnim. Saya tahu benar bagaimana reputasi anda di kalangan siswa. Mereka sangat menyukai anda bahkan di hari pertama anda mengajar.”

Tuh kan, semua mengakuinya kok. “Kamsahamnida, anda berlebihan.”

“Oh iya, siswa bernama Oh Sehun yang pindah itu seharusnya hari ini dia sudah tidak masuk bukan? Anda sudah tahu bagaimana SMA Kyongdong itu?”

Kenapa Kim songsaengnim mengingatkanku pada hal mengesalkan ini. “Iya. Memang benar, disana ekstrakurikuler basket sangat diminati dan menonjol, mereka juga sering memenangkan kejuaraan.”

“Yah, baguslah kalau begitu. Paling tidak, salah satu jagoan basket SMA ini tidak jatuh ke tangan yang salah. Anda boleh pergi.” Ia mengusirku halus.

“Terimakasih, permisi.”

#n#n#

            Aku berjalan gontai menuju apartemenku. Sehun sudah tidak akan muncul lagi, kan. Kurasa seminggu lebih tanpanya membuatku terbiasa. Aku kan gurunya, mana boleh aku mencemaskannya diluar konteks sekolah dan pelajaran.

“Hai.”

Sosok yang tersenyum padaku, duduk di samping motornya tepat di depan apartemenku. Dia Sehun. Oh Sehun-haksaeng, siswa nakal yang mengganggu pikiranku belakangan ini. Aku malas sekali bertemu dengannya, sudah bagus terbiasa tidak ada dia dan sekarang dia malah datang ke apartemenku. Dia kira itu kejutan?

“Kenapa kau disini? Aku mau ke dalam, pulanglah.”

“Hei, ada apa? Kau sama sekali tidak terkejut melihatku? Paling tidak katakan selamat atas kepindahanku.” Ia mulai bicara.

Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana menyikapinya. Aku memang mencemaskannya belakangan ini tapi bertemu dengannya membuatku serba salah. apalagi setelah kasus gossip itu. “Iya, selamat atas kepindahanmu. Kemampuanmu basket akan lebih berkembang disana.”

“Ijinkan aku bicara denganmu. Sebentar saja.” Ia menggenggam tanganku dan mengajakku duduk di bangku taman.

Tiba-tiba aku merasa senang sekali ia kembali kesini menemuiku. Kupikir aku tidak akan melihatnya lagi. Perasaanku jadi campur aduk. Wajah seriusnya yang tampan membiusku.

“Aku bingung aku harus mulai dari mana. Ehm, pertama-tama aku…” ia salah tingkah seperti anak kecil. “Nan…jeongmal mianheyo.”

“Untuk apa?” gemas sekali aku melihatnya. Tidak bisa kubayangkan anak ini sudah membenciku sekarang, dia pindah sekolah pasti karena ia kecewa padaku dan tak ingin melihatku lagi.

“Karena aku tidak memberitahumu terlebih dulu atas kepindahanku, karena aku cuek padamu saat menjelang aku pindah dan karena aku tidak mengatakan apapun tentang semua yang terjadi belakangan ini.”

“Memangnya kenapa kalau kau cuek padaku? Bukankah itu bagus karena kau sudah melupakanku bahkan membenciku sekarang?” aku bingung sekali pada cowok ini. Dia tidak perlu minta maaf jika dia membenciku!

Ia mengernyit, “Melupakan? Membenci? Demi Tuhan, Tiffany apa maksudmu?”

Aku rindu sekali mendengar panggilannya yang lancang padaku ‘Tiffany’. “Kau pindah sekolah karena sudah membenciku karena aku selalu mengabaikanmu kan?”

“Jadi selama ini kau berpikir begitu?” raut mukanya juga bercampur aduk, sepertiku. “Tuh kan jadi salah paham. Aku akan menjelaskannya sekarang. Alasan utama aku pindah adalah karena gossip itu.”

Tak terasa air mataku sudah menumpuk di pelupuk mata. “Gosip? Gossip yang… maksudmu, gossip yang ‘itu’??”

“Iya. Gossip bahwa kau menjalin hubungan khusus dengan siswa disini, aku sudah tahu itu sebelum kau mengetahuinya. Sejak itu aku berpikir, bagaimana jika itu terdengar sampai ke siswa lain? Aku memikirkan segala cara supaya kau tidak dijadikan sebagai korban. Karena kau memang tidak bersalah, makanya aku memutuskan pindah dari sekolah sebelum berita itu tertuju pada kau dan aku.”

Aku mendengarnya tak percaya. “Kau menghindar?”

“Bukan! Bukan menghindar, aku ingin melindungimu. Dan hanya ini yang bisa kulakukan. Jika berita itu terbongkar, kemungkinannya adalah kau dipecat atau aku dikeluarkan atau kita sama-sama angkat kaki dari SMA Honggyu. Aku tidak ingin kau dipecat dan itu akan menghancurkan reputasimu, Tiffany.” Wajahnya terlihat sangat mencemaskanku. “Mengertilah, aku hanya ingin melindungimu.”

Aku hampir jatuh lemas. Tidak bisa dipercaya! “Kau mengorbankan kenanganmu dari kelas 1 sampai sekarang untuk melindungi ku?”

Ia mengangguk menyesal. Air mataku tak terbendung, dia benar-benar melindungiku. Siswa tidak sopan dan menyebalkan ini mati-matian melindungi seorang Tiffany Hwang. “Tiffany? Kau menangis, kau tidak apa-apa? Badanmu kurang sehat ya?”

“Pabo gatteun!” aku makin menangis. “Nappeun namja! Bodoh sekali kau melakukan hal sejauh ini hanya untuk seorang guru tidak becus sepertiku.”

“Iya, aku minta maaf karena tidak bisa melakukan sesuatu yang lebih baik. Mianhe…”

Seketika aku memeluknya. “Maaf nya sudah cukup! Beraninya kau melakukan perbuatan senekat ini hanya untuk melindungi orang yang selalu mengabaikanmu! Tidak bisa kupercaya!”

“Ada apa Tiffany? Aku tidak mengerti…”

“Kupikir kau membenciku karena selalu mengabaikanmu hingga akhirnya kau memutuskan untuk pindah, ternyata kau malah melakukan hal sebaik ini. Harusnya kau membalasku, pabo!”

Ia menyentuh wajahku dan menatapku. “Mana bisa aku membalasmu, aku masih menyukai Tiffany. Sudah seharusnya aku melindungi orang yang kusukai! Kau itu guru tapi kenapa kau bodoh sekali, sih?”

“Kau membuat pikiranku kacau! Pindah tiba-tiba, bikin panik saja!” aku mengusap air mataku.

“Kau memikirkanku? Kau…menyukaiku??” matanya berbinar-binar.

“Siapa bilang, aku kan gurumu. Mana boleh begitu.” Aku berlagak cuek. Yakk! Tiffany bodoh kenapa masih sok gengsi segala!

Dia mencium bibir ku dengan sangat tiba-tiba. “Jangan sok cuek lagi. Aku kan bukan muridmu lagi. Kau kalah.”

Wajahku seketika memerah dan terasa sangat panas. Sehun tertawa sedangkan bibirku cemberut seperti gurita “Lalu, bagaimana ini? Kita hanya bisa berhubungan lewat email?”

Ia menunjuk motornya. “Kan ada motor. Lagipula, naik kereta hanya butuh waktu 1 jam.”

“1 jam? Astaga, dekat sekali. Kukira SMA Kyongdong itu lebih jauh…”

“Pokoknya kita sekarang pacaran.” Sehun menyentuh wajahku.

“Tidak bisa. Aku masih seorang guru dan reputasiku masih dipertaruhkan.” Ucapku sok.

Ia tertawa, manis sekali. Sehun ku, sungguh, cowok ini sudah jadi milikku. “Bilang saja pada muridmu, pacarmu itu cowok tampan berusia 18 tahun yang tinggal di kota sebelah.”

                        ~END~

 

 

Iklan

12 pemikiran pada “My Pretty Teacher (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s