The Last Wish (Chapter 5)

Judul               : The Last Wish

Author             : Mytha Raisila

Genre              : Drama, OC, Hurt, Romance

Length             : Multi Chapter

Genre              : Romance, Angst

Cast                 :

–          Park Minyoung

–          Oh Sehoon as Sehun

–          Park Chanyeol

–          Byun Baekhyun

–          Xi Luhan

–          Lee Hyera

–          Kim Soojin

Summary          : “Aku selalu di sampingmu, sayang. Kamu gak usah bingung siapa dia, karna aku yang memilihkannya untukmu, sayang.”

chapter 5

***

Sejak hari itu Minyoung mulai bisa menerima Sehun. Walau kadang-kadang ia merasa canggung didekatnya. Ya, setidaknya mereka bisa ngomong banyak hal.

Lomba tinggal 2 hari lagi. Semua pada sibuk. Minyoung ampe sakit seluruh badan gara-gara bolak balik ke kantin bawa sedus air mineral, bawa setas besar handuk untuk dilaundry, dan teriak-teriak memberi semangat. Minyoung udah geleng-geleng dah jadi manejer tim basket cowok.

“Kalo kalian sampe kalah, gue gebugin satu-satu!” ancam Minyoung saat membagi-bagikan air mineral pada semua anggota.

“Cium mau!” kata Baekhyun sambil menunjuk pipinya.

“Nih, mau dicium sama botol?” tanya Minyoung sambil mengangkat sebotol air mineral. Mukanya tersenyum iblis.

“Gak usah, gak usah repot-repot kok! Gak usah!” kata Baekhyun sambil senyum-senyum gaje. Dia sudah merasakan aura disekitarnya berubah mencekam.

“Udah, kalian itu ribut terus ya! Mau gue jewer?” tiba-tiba saja Chanyeol muncul entah dari mana. Cowok satu ini kok suka muncul tiba-tiba ya?

“Eh, nggak! Makasih!” kata Minyoung dan Baekhyun bersamaan.

“Makanya! Kita latihan lagi! Cepet-cepet!” teriak Chanyeol memekakkan telinga. Semua anggota pada ngibrit ke tengah lapangan yang sudah ada Minho songsaenim disana, sedangkan Sehun dengan santai berjalan bersama Chanyeol. Entah sejak kapan Chanyeol dan Sehun dekat. Yang pasti aksi mereka dilapangan keren abis. Biasanya Zelo yang selalu beraksi bersama Chanyeol, tapi sekarang Sehun, orang yang mirip Zelo.

17.05 pm…

“Latihan cukup sampai disini.” kata Minho songsaenim ditengah anggota tim basket cowok. “Saya harap dengan strategi serta kalian bisa membawakan kembali sebuah piala untuk menghiasi sekolah ini. Besok kalian tidak latihan. Kalian harus tampil fit dalam lomba nanti. Tapi kalian harus ingat! Walau kita sudah punya strategi yang hebat, juga kalian yang sehat bugar tak akan berguna tanpa doa! Oke, kalian boleh pulang!” Minho songsaenim akhirnya mengakhiri ceramah yang didengarkan dengan khidmat oleh semua anggota termasuk Minyoung.

“Dek, bisa pulang sendiri gak?” tanya Chanyeol pada Minyoung saat membereskan tasnya.

“Emang lo mau kemana?” tanya Minyoung balik.

“Ada deh!”

“Kalo gak mau kasi tau, gue gak mau pulang sendiri!”

“Yah adek! Please!”

“Gimana kalo Minyoung pulang sama gue?” kata seseorang dari belakang Chanyeol dan Prames. Kedua bersaudara itu seketika berbalik dan mendapatkan Sehun yang sedang menggendong tasnya.

“Oh, Sehun! Thank’s berat ya!” kata Chanyeol sambil menepuk pundak Sehun. “Dek, lo pulang sama Sehun!”

“Gue pulang sama Sehun?” tanya Minyoung dengan muka oonnya. Chanyeol dengan mudahnya mempercayai Sehun mengantarnya pulang?

“Ya, gue duluan!” pamit Chanyeol yang langsung ngibrit menuju parkiran. Minyoung yang akan mengejarnya ditahan Sehun. “Udahlah, lo pulang sama gue aja!”

Mereka berjalan lambat menuju parkiran. Mereka gak ngomong apa-apa, diam membisu. Minyoung masih canggung buat ngomong duluan, sedang Sehun entah memikirkan apa.

“Elo orang yang nganter gue pulang dulu kan?” tanya Minyoung yang akhirnya bicara. Didepannya terpakir sebuah Kawasaki Ninja hitam juga sebuah helm hitam bertengger di spionnya.

“Emang gue.” jawab Sehun polos. Minyoung masih bengong melihat motor itu. Dia pernah melihat motor yang sama tapi dengan warna lain. Sekarang dia baru sadar. Dia juga pernah melihat helm yang sama tapi dengan warna lain. Hijau. Zelo…

“Elo bener-bener gak mau pulang ya?” tanya Sehun yang sudah duduk diatas motornya serta helm sudah dipakainya. Minyoung sadar dan ikut duduk dimotor itu. Dia pernah duduk dimotor yang mirip. Motor Zelo.

***

            “Kalo gini terus bisa-bisa gue salah ngira Sehun jadi Zelo!” kata Minyoung frustasi. Sekarang dia sedang berada ditaman belakang sekolah yang sepi, bersama Soojin dan Hyera yang dengan senang hati mendengarkan keluh kesahnya.

“Tapi lo gak boleh anggep mereka satu, Minyoung! Mereka beda! Kalo lo anggep mereka satu, kasian Zelo disana, Minyoung!” jawab Soojin bijak. Jarang-jarang loh Soojin jadi orang bijak!

“Gue tau! Tapi semakin gue deket sama Sehun, gue makin ngerasa kalo Zelo yang dulu selalu disisi gue. Mereka itu sama!” Minyoung rasa dia harus menarik kata-katanya ke Minyoung dulu.

“Emang berat jadi lo, Minyoung.” kata Hyera buka mulut, “Gue ngerti perasaan lo yang masih sayang sama Zelo. Tapi lo gak bisa selalu hidup dibayangin sama Zelo. Sehun ya Sehun, Zelo ya Zelo. Pasti ada aja hal yang berbeda dari mereka.”

“Uh, pusing gue!” kata Minyoung sambil memegangi kepalanya.

“Elo gak perlu mendam hal ini sendirian, Minyoung. Lo bisa share ke kita. Kita sahabat kan?” kata Soojin sambil menepuk-nepuk bahu Minyoung.

“Kalian emang sahabat gue yang paling baik!” kata Minyoung sambil memeluk kedua sahabatnya itu.

***

Hamparan rumput hijau membentang dengan matahari sore menggantung indah. Sepintas orang takkan percaya kalau itu adalah pemakaman, terlalu indah. Tapi itulah tujuan dari pemakaman ini. Membawa keindahan pergi meninggalkan dunia yang menyedihkan ini.

Sehun berdiri didepan salah satu makam. Ditangan tangannya seikat bunga mawar putih terdiam. Ia memandangi makam itu dengan sedih. Tak terasa sebutir air mata turun menyusuri pipinya yang lembut. “Sorry, Zel. Gue gak bisa jadi kakak yang lo inginin.”

Ditaruhnya seikat bunga itu didepan batu nisan. “Ini bunga kesukaan lo kan? Lo selalu bilang kalo bunga ini harum dan suci karena warnanya, mirip banget sama bunga titisan Tuhan.”. Sehun jongkok disisi makam, memandangi makam itu lekat-lekat, “Lo selalu bilang kalo lo pasti bisa ngelawan penyakit lo. Lo selalu bilang kalo lo pasti sembuh demi gue. Lo juga selalu bilang kalo semua pasti berakhir indah. Tapi apa sekarang?”

Hujan gerimis membasahi rerumputan hijau, bersamaan dengan air mata Sehun yang mengalir deras.

***

Hari pertandingan yang ditunggu-tunggu dateng juga. Minyoung dengan semangat 45 kurang dikit menyiapkan air-air mineral. Dia udah siapin 2 dus air mineral dan masih ada sedus lagi dimobil Chanyeol, cadangan.

“Gue ganteng gak?” Baekhyun menghampiri Minyoung sambil mengangkat-angkat rambutnya.

“Lumayan.”

“Ah, Minyoung! Bilang gue ganteng gak!”

“Loh, kok maksa?”

“Hehehe, grogi gue. Tapi gue manis kan?”

“Iya, ngalahin gula seton dah.”

“Bilang gitu kek dari tadi!”

“Tadi lo nanya lo ganteng gak, kalo manis sih iya.”

Thanks, Minyoung! Aduh gue manis banget!” Baekhyun pergi sambil senyam-senyum yang menyisakan keraguan dihati Minyoung, Baekhyun sehat gak ya?

“Minyoung, gue ganteng gak?” Luhan datang sambil memamerkan senyum termanisnya.

“Tau gue!” Minyoung merasa sudah cukup Baekhyun aja yang membuat hatinya panas, gak perlu Luhan.

Sebagai satu-satunya cewek di klub basket cowok, Minyoung emang sering jadi tempat bertanya kalo lagi grogi gini. Example Baekhyun sama Luhan tadi, juga ada Chanyeol yang tadi pagi butuh waktu 15 menit buat pake gel rambut supaya pas tanding nanti rambutnya gak turun-turun. Gelo!

“Minyoung!” Minyoung berbalik dan mendapatkan Sehun dibelakangnya. “Sehun mirip banget sama Zelo kalo pake baju basket.” pikirnya.

“Minyoung!” teriak Sehun lagi. Minyoung tersadar dari kebengongannya tadi.

“Apaan, Hun?”

“Elo punya roti?”

Minyoung mengacak-acak isi tasnya dan menemukan sebungkus roti coklat. “Ada, emang kenapa?”

“Gue belum sarapan.”

“Cape deh!” Minyoung geleng-geleng. Orang mau tanding kok gak sarapan.

“Abis gue gak biasa sarapan, Youngie.”

“Ya udah nih makan.” Minyoung menyerahkan rotinya ke Adit. “Sejak kapan lo manggil gue ‘Youngie’?”

“Gak boleh?”

“Boleh aja sih.”

Sehun duduk dikursi sambil membuka bungkus rotinya, tapi dia kembali memandang Minyoung.

“Apaan lagi, Hun?” tanya Minyoung yang ngerasa risih dipandangin terus.

“Temenin.” jawab Sehun manja.

Minyoung akhirnya duduk disamping Sehun. Ruang ganti GOR memang sedang penuh, banyak orang yang lalu lalang. Sepintas dia melihat Baekhyun masih mengangka-angkat rambutnya, juga Luhan yang bertanya pada Chanyeol dia ganteng.

“Lo gak sarapan dirumah?” Minyoung menoleh, menatap Sehun yang masih asik memakan rotinya.

“Gue bahkan tadi nambah 2 kali!”

“Pantes lo berat banget ya, ternyata…”

“Ya nggak tiap hari juga! Khusus buat hari ini doang! Soalnya gue mesti bawa air sama handuk buat kalian and nyorakin kalian!”

“Terus, ngapain lo bawa roti?”

Minyoung terdiam. Tadi saat dia membeli air 3 dus, masih sempat juga dia ngambil roti itu tanpa ia sadari. Oh iya, Zelo…

“Zelo sama kayak lo.” Minyoung akhirnya buka mulut. “Dia gak biasa sarapan. Makanya tiap pertandingan gue selalu sempetin beli roti. Gue gak tahu ini jadi kebiasaan. Gue belum lupain dia.” Minyoung kembali terdiam.

“Bagus deh. Jadi kalo ada pertandingan, gue tinggal minta roti sama lo. Jadi lo gak rugi kan?” Sehun bangun sambil tersenyum.

“Hahaha. Gue bawain roti basi dah buat lo!”

***

Minyoung duduk dibangku penonton. GOR saat itu cukup penuh, secara LG High School gitu!
“Prrriiiiitttt…” pluit berbunyi nyaring. Pertandingan quarter 1 dimulai!

LG High School mengeluarkan para jagoannya yang gak lain dan gak bukan Chanyeol dan 2 goce, Baekhyun dan Luhan. Tentu aja ada juga Sehun yang ikut menghiasi lapangan bersama Chanyeol and yang lain. Banyak banget cewek-cewek dari sekolah mereka juga sekolah lain yang teriak-teriak nama mereka. Minyoung yang duduk dibarisan depan harus menahan sakit dikupingnya karena teriakan itu. “Bisa-bisa kuping gue kebelah jadi 2 nih!”

Chanyeol meliuk lincah diantara para pemain lawan. “Ah, sombong lo mentang-mentang cepet!” batin Minyoung. Tapi teriakan ribut dibelakngnya semakin menjadi-jadi. “Kok ribut gini ya? Keterlaluan nih namanya!”

Lawan mereka, Inter High School memang cukup sulit buat dilawan. Sekolah itu memang bagus dalam segi materi dan infrastruktur. Tapi sekolah itu sering berlaku curang dalam pertandiangan-pertandingan. Gak Cuma olahraga aja sih sebenernya, dalam olimpiade juga menurut gosip iya. Gak tau deh apa mereka pake siasat licik lagi sekarang.

“Gue rasa kuping gue bisa luntur!” Baekhyun berkata sambil meminum air mineralnya. Quarter 1 telah usai dengan skors 18-22 untuk Inter High School.

“Gue juga! Teriakan mereka kayak tiap orang pake toa!” Luhan ikut nimbrung sambil mengelap keringat yang bercucuran disekeliling wajahnya.

“Gue jadi curiga.” Chanyeol ikutan juga.

“Maksud lo?” Minyoung melemparkan sebotol air mineral pada Chanyeol yang diterima dengan mulus.

“Gue rasa ini taktik busuk Inter High School.”

“Gue masih gak ngerti.” Baekhyun garuk-garuk kepala kayak biasa. Muka adenoidnya yang kayak Triska sangat melekat diwajahnya itu.

“Maksud gue, mereka bisa aja nyuruh murid-murid dari sekolah lain atau sekolah kita juga untuk nyorakin kita. Emang keliatannya ngedukung kita, tapi pasti bisa bikin konsentrasi kita sedikit pecah.”

“Pantes tadi gue liat mereka pake penutup telinga gitu. Ternyata ini toh rencana mereka.” Luhan menunjuk-nunjuk kupingnya.

“Gue ketinggalan apa nih?” semua berpaling, mendapatkan Sehun berdiri dibelakang mereka dengan wajah polosnya.

“Lo gak ketinggalan apa-apa kok.” Minyoung tersenyum. “Tapi lo udah kelewatan!”

***

RCL Guys!

7 pemikiran pada “The Last Wish (Chapter 5)

  1. Lanjut thor, keren nih XD
    Aku selalu nunggu ff ini, apalgi aku suka banget kalo cerita tntng basket hahaha
    Cpetan yaa thor next chap, fighting! 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s