The Real Destiny (Chapter 3)

Title                 : The Real Destiny (Chapter 3)

Author             : @claraKHB

Rating             : T

Length             : Chaptered

Genre              : AU, Romance, School Life

Main Cast        : Park Ji Eun

Xi Luhan

Other Cast       : Ji Eun’s Friends

And Other

DC                    : FF ini milik author dan jangan sampai meng-copast FF ini tanpa izin. RCL, gomawo ^^ maaf untuk typo(s). Happy reading.

The Real Destiny

Preview:

“Kau.. jangan melihatnya. Kau tak boleh sakit hati lagi, mengerti?” suara itu kembali menyeruak masuk kedalam telinga Ji Eun. Kali ini ia lebih tenang dalam menyadari kehadiran seseorang yang selalu ada di saat ia hampir menangis karena seorang pria.

“Kau.. siapa? Mengapa selalu mendapatiku seperti ini?”

“Aku.. aku yang akan selalu bersamamu. Aku temanmu.”

“Terimakasih~” lirih seorang Park Ji Eun seraya tersenyum penuh ketulusan.

“Aku harap kita akan bertemu lagi..” gumam Ji Eun pelan.

———————————————–

Aku tidak pernah menyangka akan seperih ini rasanya. Entah mana yang harus kupilih? Persahabatankah? Perasaankukah? Atau… lebih baik aku berlari dengan menyisakan semua pertanyaan ini?

———————————————————————————–

~~~ The Real Destiny ~~~

(author POV)

Drap..drap..drap.. terdengar langkah kaki seseorang yang sedang berjalan melewati koridor sekolah. Ya, derap langkah kaki itu milik Ji Eun, gadis yang telah lebih dari satu setengah tahun menjadi murid di salah satu sekolah di Jinan.

“Ji Eun-ah! Tunggu aku!” Ji Eun yang mendengar suara seorang gadis meneriaki namanya itu pun menoleh kearah sumber suara.

“Ji Eun-ah~ kau mau temani aku ke cafe di seberang sana nanti sepulang sekolah?” dan ternyata Hye Bin yang memanggilnya.

“Tentu. Aku juga.. mau bicara denganmu, Hye Bin-ah~”

“Eo? Tentang apa?”

“Nanti aku ceritakan. Sampai bertemu nanti sore~” ucap  Ji Eun yang langsung meninggalkan Hye Bin seorang diri dengan penuh keheranan.

“Sebenarnya ada apa dengannya? Aneh.” Gumam Hye Bin sambil memiringkan kepalanya.

Sesuai dengan apa yang mereka berdua bicarakan saat di koridor siang tadi, Ji Eun dan Hye bin pun menuju cafe sore ini.

Sesampainya mereka di cafe, bangku di ujung cafe ini pun menjadi tempat yang mereka pilih untuk menyesap secangkir cokelat panas mengingat cuaca hari ini begitu dingin.

“Haah hangatnya..” Hye Bin yang baru saja meneguk cokelat panasnya.

“Ada apa?”

“Eo? Aku hanya memintamu menemaniku kemari. Kau yang ada apa? Tadi kau bilang ingin bicara sesuatu padaku?” mata Hye Bin membulat seketika saat Ji Eun bertanya padanya.

“Oh itu.. aku hanya meminta pendapatmu tentang sesuatu.”

“Tentang?” Hye Bin bertanya sambil memasukkan kembali cokelat panas ke dalam mulutnya.

“Jadi begini, temanku mempunyai seorang sahabat. Lalu, sahabatnya ternyata mengatakan bahwa dia akan membuat seseorang yang telah melukai temanku itu menyesal, tapi rupanya temanku melihat seseuatu yang tidak ingin dia lihat, seseorang yang telah menyakiti temanku itu.. justru sahabatnya menyukainya..”

“Intinya? Jangan bertele-tele seperti itu, aku bingung.” Hye Bin yang kebingungan pun akhirnya bertanya.

“Ah, intinya.. sahabat temanku itu menyukai orang yang telah melukai temanku.”

“Lalu? Kau meminta pendapatku mengenai hal ini? Memangnya siapa dia? Apa aku mengenalnya?”

“Kau tidak mengenalnya, Hye Bin-ah~ dan parahnya.. temanku masih belum bisa melupakan orang yang telah melukai hatinya itu, dia.. masih menyukainya.”

“Aku tak tahu kau punya seorang teman yang sebodoh itu.”

“A..apa? Tapi..”

“Tapi apa? Ya kalau tidak bodoh apa namanya? Naif? Itu keterlaluan. Dia disakiti tapi masih menyukainya? Ya ampun apa-apaan ini? Seperti di drama-drama saja.”

“Ya.. kau benar.”

“Aku memang benar. Maka dari itu, belajarlah mengenai hal-hal seperti ini, Ji Eun-ah jangan terlalu naif!”

“Ma..maksudmu?”

“Yang kau maksud ‘teman’mu itu adalah kau, kan? Dan sahabatmu itu adalah Ji Hyun? Haah.. benar-benar seperti di drama.”

“Ka..kau.. bagaimana..”

“Bagaimana aku bisa tahu? Itu terlihat jelas, Ji Eun-ah. Kau lupa siapa aku? Mana mungkin aku tak bisa membaca situasi seperti ini? Lalu bagaimana? Dia mengakuinya?”

“Siapa yang mengakui apa?”

“Park Ji Eun.. kau ini benar-benar. Tentu saja Ji Hyun. Apa dia mengakui kalau dirinya menyukai Jong In?”

“Entahlah. Aku belum mendengar pernyataan dari mulutnya sendiri.”

“Hmm.. aku turut prihatin. Bagaimana bisa hal seperti ini terjadi?” Hye Bin menggembungkan pipinya terlihat sperti sedang berpikir.

“Aku juga tak tahu. Tapi.. bagaimana ini? Apa sebaiknya aku menghindari Ji Hyun?”

“Ya! Kau selalu begitu. Melarikan diri saat masalah seperti ini datang. Kau kira aku tak tahu? Menurutku lebih baik kau bersikaplah biasa saja, lalu lihat bagaimana reaksi Ji Hyun. Kalau dia memang memiliki hati seorang sahabat, ia pasti mengatakan semuanya padamu dan mengakuinya serta meminta maaf padamu.”

“Begitukah menurutmu? Haah.. ternyata kalau dipikir-pikir aneh juga ya, kisahku ini? Pabbo!”

“Ya~ aku tahu kau pabbo.”

Dan seketika Ji Eun memberi death glare nya pada seorang Kang Hye Bin.

‘Benarkah? Benarkah seharusnya aku tak menghindar?’

 

*****

“Ji Eun-ah~ nanti temani aku ke toko buku di seberang sana, ya? Kumohon..” pinta Shin In Joo, teman dekatnya selain Hye Bin dan Ha Na. Bahkan Ji Eun telah menganggap In Joo sebagai adiknya sendiri.

“Ne, pasti. Apa yang mau  kaubeli?”

“Kiat-kiat Menghindari Pasangan.”

“M..mwo? Apa maksudmu?”

“Ne, aku sudah mulai bosan dengan hubunganku dan Jung So. Aku.. berniat mengakhirinya.” In Joo berkata dengan kepala yang tertunduk menatap tanah kering dibawahnya.

“Kau tahu dia sangat mencintaimu, bukan? Apa-apaan ini, In Joo-ya?” cerca Ji Eun kesal.

“Aku.. aku tahu, Ji Eun-ah. Tapi.. aku merasa ini tidak dapat diteruskan. Aku~ terlalu jenuh dengan semua ini.”

“Mwo? Kau..”

“Lupakan, Ji Eun. Aku akan kembali ke kelas dulu. Kau, menyusullah.” Ucap In Joo seraya berjalan menjauh dari Ji Eun.

“Tapi.. sebentar lagi Jung So akan berulang tahun, In Joo-ya~” lirih Ji Eun yang masih belum bergeming di tempatnya.

‘Bip!’

Ponsel Ji Eun berbunyi sekali menandakan ada pesan singkat yang masuk dari seseorang.

From : Song Jung So

Ji Eun-ssi. Apa kau sedang bersama In Joo?”

To : Song Jung So

Anni. Ada apa?

From : Song Jung So

Eo? Benarkah? Eum.. dia tidak membalas pesanku dan tidak mengangkat teleponku. Kukira dia pasti sedang sibuk.

To: Song Jung So

Itu.. kupikir kita perlu bicara. Aku segera menuju bangsal kaca, kau pergilah kesana juga.

‘Aku akan mengusahakan hubungan kalian agar dapat bertahan’

 

*****

“Ji Eun-ah~ ayo kita pergi sekarang!” ajak In Joo seraya menarik tangan Ji Eun dengan bersemangat.

Sesampainya kami di toko buku, Ji Eun memberanikan diri memulai pembicaraan dengan In Joo yang masih asyik mencari-cari buku.

“Eum.. In Joo-ya~ kau serius ingin mengakhiri hubunganmu dengan Jung So? Kau pasti tidak bersungguh-sungguh, kan?” tanya Ji Eun ragu.

Seketika In Joo yang sedang serius memperhatikan judul-judul buku pun langsung menghentikan kegiatannya dan menghela nafas pelan sebelum berbalik menghadap Ji Eun.

“Ini urusanku, Ji Eun. Aku.. tetap akan melakukannya. Tapi sebelum itu… aku ingin memberinya hadiah terakhir. Eum.. lusa dia akan berulang tahun, kan?”

“Kau.. masih menyukainya? Anni. Mencintainya?”

“Kau bercanda? Aku jelas masih menyukainya, Ji Eun. Aku hanya jenuh dengan hubungan ini,  bukan padanya.”

“Kau.. bukan jenuh. Kau masih belum bisa menempatkan persaanmu yang sesungguhnya.”

“Mungkin. Mungkin seperti itu.” Lirih In Joo begitu pelan.

“Aku hanya tidak ingin kau melukai perasaanmu sendiri, In Joo. Aku menyayangimu, Hye Bin, dan Ha Na. Bagiku.. kalianlah temanku, sahabatku, dan keluargaku.”

Ji Eun begitu miris melihat In Joo yang naif akan perasaannya sendiri. Namun tiba-tiba ia tersentak akan suatu hal.

‘Bukankah aku mengalami yang lebih buruk darinya? Mengapa aku menilai dia sebagai gadis yang naif? Mungkin aku yang bodoh bertindak seperti ini.’

 

~~~ The Real Destiny ~~~

 (Ji Eun POV)

“Ji Eun-ah! Cepatlah! Cepat ambil gambarnya. Kau mau melihat gigi kami mengering karena menahan pose seperti ini, huh?” seulas senyum terukir begitu tipis dari bibirku. Tidak terasa, sudah lima bulan berlalu…

“Ya! Bersabarlah! Kalian ini benar-benar… sudah tidak mengajakku foto bersama, sikap kalian justru tidak sopan.”

“Untuk apa? Sudah, cepat ambil gambarnya!” seru Hye Bin dari seberang kamera polaroid miliknya ini dengan bibirnya yang mengerucut.

“Aish, benar-benar! Diam dan jangan bergerak. Satu..”

Sekilas bayangan itu muncul kembali dan mulai membuatku tak nyaman..

“Aku janji tak akan berbicara lagi denganmu.”

Mataku mulai  melirik tak tentu arah. Aku sedikit merasa panik sampai tanganku yang sedang memegang kamera ini pun gemetar.

“Ada apa, Ji Eun? Cepat!” teriak In Joo dari jarak yang lumayan jauh.

“Dua..” lirihku dengan suara bergetar dan mata yang mulai berair.

“Aku.. aku yang akan selalu bersamamu. Aku temanmu.”

“Ti..tiga..”

“Aku hanya tidak ingin kau melukai perasaanmu sendiri, In Joo. Aku menyayangimu, Hye Bin, dan Ha Na. Bagiku.. kalianlah temanku, sahabatku, dan keluargaku.”

“Sudah. Cepat kemari dan lihat hasilnya.” Teriakku pada mereka bertiga dan sesekali menghapus air mataku.

“Aish.. aku tidak mengerti. Mengambil gambar seperti ini saja lama sekali. Kau tidak profesional, Ji Eun-ah.” Cibir Ha Na seraya melayangkan sentilan kecil pada keningku.

“Sudah bagus aku mau mengambil gambar kalian.” Balasku dengan menggembungkan pipiku kesal.

“Eo? Apa ini?” tiba-tiba In Joo terkejut dan membelalakan matanya.

“Ini.. sepertinya dia.. aku tahu dia.”

 

*****

(Author POV)

“Menurutmu apa yang membawanya sampai di tempat itu?” Ha Na dengan kehebohannyan mulai memunculkan sifatnya yang suka menyelidik.

“Angin mungkin..” Hye Bin menjawab dengan acuh dan tidak peduli.

“Ya! Mana mungkin angin bisa membawanya ke tempat seperti itu? Ini tidak masuk akal.”

“Apa yang kalian bicarakan, sih?” kali ini In Joo yang mulai sedikit kesal dengan suara Ha Na yang begitu berisik baginya.

“Eo? Tapi tidakkah kalian tahu siapa laki-laki ini? Aku seperti tidak asing melihatnya.” Ha Na tetap mengoceh tanpa menghiraukan cercaan In Joo barusan.

“Molla~” sahut Hye Bin dan In Joo bersamaan.

“Ini. Minumlah.” Ji Eun yang baru datang langsung bergabung dalam pembicaraan rumit teman-temannya dan meneguk lemon teanya.

“Apa yang kalian bicarakan?” dan seketika tiga pasang mata telah menatapnya dengan pandangan menyelidik.

“Kau.. bukankah kemarin kau bilang kau tahu laki-laki dalam foto kita itu?” Ha Na menyipitkan matanya dan begitu pula dengan yang lainnya. Menunggu jawaban dari mulut Ji Eun.

“Eoh? Itu.. aku tidak yakin, tapi..” ketiga teman Ji Eun pun semakin mencondongkan tubuhnya mendekat kearah Ji Eun.

“Ah molla~” lanjut Ji Eun yang disambut lenguhan kesal dari ketiga temannya.

“Jadi.. apa ini yang dinamakan ‘destiny’?” Hye Bin menambahkan.

“Ya! Bukan seperti itu. Maksudku aku seperti telah mengenalnya sebelumnya. Tapi.. aku tidak tahu siapa dia. Ini.. benar-benar aneh.”

“Eumm.. jadi seperti itu ya? Aneh jika hal seperti itu terjadi. Apa maksudnya, ya?” Ha Na memiringkan serta menggaruk kepalanya bingung.

“Aku juga belum pernah melihatnya. Kau bahkan tidak pernah menceritakannya pada kami?” In Joo masih setia menyipitkan matanya untuk mengintimidasi Ji Eun.

“Ak..aku.. benar-benar tak tahu.” Ji Eun nampak panik.

“Eoh? Itu.. itu bukankah?” Hye Bin nampak begitu terkejut.

“Whoa.. ayo!” kini justru Ha Na yang tampak senang.

(Ji Eun POV)

“Mereka ini benar-benar. Kukira ada sesuatu yang penting.” Runtukku malas.

“Kau seperti tidak tahu mereka saja.” Dengus In Joo sama kesalnya denganku.

“Ji Eun-ah, In Joo-ya! Kemari! Setelah kami, giliran kalian.” Sahut Ha Na.

“Ck, apa-apaan ini? Baiklah. Kami akan kesana.” Ucap In Joo.

Yah, ternyata sesuatu yang membuat Ha Na begitu heboh adalah ini. Ada ramalan garis tangan. Dan kini giliranku dan In Joo yang masuk kedalam.

“Jangan lupa ceritakan pada kami, ya? Kalau sudah keluar.” Ucap Ha Na yang langsung kusambut dengan anggukan kepala.

Kami pun masuk ke ruangan yang sedikit gelap itu. Dan ada papan yang bertuliskan ‘Lady Jung’. Apakah itu nama peramalnya?

“Kau.. kalian berdua. Silakan duduk di hadapanku.” Serunya dan kami pun duduk dengan sedikit ragu.

“Nona, apakah kau telah melewati masa sulit beberapa bulan lalu?” tanya Lady Jung dengan seksama pada In Joo sambil terus mengamati garis telapak tangannya.

“Masa sulit? Anni.” Jawabnya singkat.

“Asmaramu? Maaf sebelumnya, tapi bukankah itu kandas?”

“Eoh? Ba..bagaimana anda bisa tahu?” In Joo terlihat begitu terkejut. Sama halnya dengan In Joo, aku pun tersentak mendengar pernyataan peramal itu.

“Terlihat jelas nona. Dan.. kurasa kau belum bisa melupakannya.”

“I..itu. aku.. aku itu.. benar. Lalu bagaimana? Apa yang harus kulakukan?” In Joo nampak khawatir sekarang.

“Jangan pernah bohongi hatimu.” Lady Jung pun melepaskan tangan In Joo dan beralih menatapku dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.

“Kemarikan tanganmu.” Ucap peramal tersebut dan aku pun memberikannya.

“Sejak kapan kau menyukainya?” tanya Lady Jung tiba-tiba.

“Eoh?”

“Sejak kapan kau menyukai laki-laki itu? Yang telah melukai hatimu.”

“Oh.. itu.. sudah lama sekali.”

“Lupakan saja. Kau harus tahu, ada seseorang yang menantimu selama ini. Dia ada di dekatmu. Tidakkah kau tahu?”

“Be..benarkah? Siapa?”

“Bagaimana aku bisa tahu? Kau yang harus mencaritahunya sendiri.”

“Eoh? Terimakasih.” Ucapku dan mulai beranjak keluar bersama In Joo.

“Terimakasih.” Kini In Joo yang berkata sambil membungkukkan badannya.

Siapa yang ada di dekatku? Siapa yang menantiku? Ada apa sebenarnya? Mungkinkah ini hanya ramalan rendahan untuk membuatku penasaran saja? Hh penipu. Tapi bagaimana kalau memang benar seperti yang dikatakan wanita itu? Mungkinkah dia?

Hatiku terus berkecamuk mengingat perkataan Lady Jung tak lama tadi.

“Ayo ceritakan!” seru Ha Na dengan suaranya yang mengganggu. Dan In Joo hanya menaikkan bahunya dan melihatku dengan tatapan ‘aku tak tahu’.

“Wanita itu bilang ada orang di sekitarku yang sebenarnya sedang menantikanku dan aku harus melupakan, eumm.. Jong In.”

“Benarkah? Mungkinkah itu laki-laki yang kemarin?” Ha Na kembali mengoceh.

“Ha Na-ya~ diamlah. Biarkan Ji Eun menyelesaikan ucapannya.” Kini Hye Bin yang merasa kesal dengan sikap Ha Na. Semenjak ketiga temanku tahu tentang masalahku dengan Jong In dan Sae Ri mereka jadi sering menekanku dengan banyak pertanyaan.

“Dan aku tidak tahu~ siapa dia? Siapa yang menungguku?”

“Mungkin belum saatnya Ji Eun-ah~” ucap In Joo pada akhirnya.

“Eoh.. hari ini aku harus pergi. Aku akan menemui ibuku di suatu tempat.” Ucapku ketika teringat janji dengan ibu.

“Emhem. Pergilah sebelum terlambat. Jangan terlalu dipikirkan, Ji Eun-ah.” Sahut In Joo dengan tersenyum.

“Ne, aku pergi dulu. Annyeong.”

Aku segera berlari menuju halte bus dan menunggu bus yang akan mengentarkanku ke suatu tempat di daerah Gangnam. Aku tak tahu pasti apa nama tempatnya, akan kutelepon ibu nanti.

‘Bug!’

Kudengar ada suara sesuatu yang jatuh. Ternyata ada dua orang yang saling bertubrukan sehingga membuat buku-buku yang dibawa salah satu diantara mereka terjatuh. Nampak dua orang laki-laki. Yang seorang memakai kacamata transparan dan yang seorang lagi seperti pegawai kantoran.

“Cheosonghamnida. Aku tak melihat.” Ucap laki-laki berkacamata tersebut sambil membungkukkan badannya berulang-ulang. Dan dibalas dengan anggukan serta senyuman oleh seorang yang ditubruknya tadi.

Hmm.. laki-laki yang sopan. Kualihkan pandanganku menuju bus hijau yang akan segera datang. Dan kakiku bergerak untuk berdiri dan bersiap untuk naik ke bus.

“Aku.. aku yang akan selalu bersamamu. Aku temanmu.”

Tunggu!

Suara itu. Suara yang saat ini sukses menghentikan langkahku.

“Cheosonghamnida. Aku tak melihat.”

Bukankah dia…

*****

(Author POV)

Ji Eun berlari mencari seorang laki-laki berkacamata yang dilihatnya barusan. Ia yakin dan sangat yakin, dialah yang telah menjaganya selama ini.

“Dimana kau?” gumam Ji Eun dalam hatinya.

Sepintas matanya menangkap bayangan laki-laki itu lewat kaca jendela sebuah toko dihadapannya saat ini. Ia memperhatikan laki-laki itu sedang menggendong ransel dengan jas biru muda serta celana panjang cokelat muda dan sepatu kets. Ia memperhatikannya dengan seksama, laki-laki yang sedang mengobrol dengan orang lain.

Mata laki-laki itu tiba-tiba melihat kearah Ji Eun berdiri.

“Jangan-jangan ia tahu aku mengikutinya?” lirih Ji Eun dengan panik. Terlihat laki-laki berkacamata itu berjalan mendekat kearah Ji Eun.

“Aku belum siap bertemu dengannya. Bagaimana ini?” runtuknya panik.

Semakin dekat jarak antara keduanya. Hingga tiba-tiba..

“Luhan-ah! Xi Luhan!” seru seseorang.

“Eoh? Ne. Aku akan datang sekarang.” Dan laki-laki itu pun berlari menjauh dari tempat Ji Eun berdiri saat ini.

“Huh, hampir saja.” Ucap Ji Eun dengan mengelus dada.

Namun Ji Eun gagal mengikutinya lebih jauh. Sedikit lega perasaan Ji Eun karena mengetahui nama laki-laki itu.

Luhan. Ya, setidaknya dia tahu namanya.

‘Bip!’

Sebuah pesan singkat masuk di ponselnya.

From : Eomma

Kau dimana? Tidak jadi kemari?

To : Eomma

Sepertinya aku sedang tak enak badan. Eomma pulang naik taxi saja, ya. Sampai bertemu.

“Huh.. gara-gara laki-laki itu..” ucapnya kesal.

‘Siapa sebenarnya kau? Aku tidak mungkin salah kali ini. Jika saja aku tak menyadarinya dan terhanyut dalam dimensiku sendiri serta pergi~ mungkin aku tak akan pernah tahu siapa dirimu atau.. jawaban atas semua ini…’

But I know if I go now

If I leave and I’m on my own tonight

I’ll never know the answer~

—– To be Continue —–

Gimana chingu? Maaf ya kalo jelek hehe. Kalo mau interactive bisa mention di @claraKHB atau ig: claraapr ^^ see you!

Iklan

23 pemikiran pada “The Real Destiny (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s