You’re My (Chapter 2)

Author : flwr29

Title : You’re My [Part 2]

Cast:

  • -Kim Seri (OC)
  • -Park Chanyeol
  • -Oh Sehun
  • and others can you find by your self..

Genre : Romance

Rating : G/PG13

Length : Chaptered

You're My
************************

Mari lanjutkan.. langsung saja, cekidott~ Ehh, maap kalau gaje segala macem serta typos bertebaran ^^ HAPPY READING!~

Sekali lagi diingatkan! Tidak diperuntukkan pada SIDERS dan PLAGIATOR serta sejenisnya~

**************************

-Author POV-

Hello yeogin icheon shibi nyeon iweol

Aju chuun gyeouriya

Suara yang tak lain berasal dari suara gadis yag dikenal dengan sebutan Seri ini, mengawali harinya hari ini. Gadis itu baru saja menemukan lagu korea yang mulai ia senangi.

Ya!” Seseorang yang sudah pasti dikenal Seri lewat suara khas-nya, mengejutkannya. Gadis itu memastikan benarkah ‘dia’ orangnya. Ternyata memang benar, ‘dia’.. Chanyeol. Seseorang yang memenuhi pikirannya akhir-akhir ini. Bahkan jantungnya selalu bertingkah aneh jika dekat dengan Chanyeol. Kadang Seri terlalu senang bertemu dengan Chanyeol sampai dia tak tahu harus bersikap seperti apa jika bersama namja itu.

“Kapan kau akan memberhentikan kebiasaanmu mengagetkanku, hm?” Tanya Seri sambil tersenyum lalu kembali berjalan menuju kelasnya.

“Sampai aku mati. Haha.” Jawab orang itu sambil tertawa. Seri hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Seri-ya, bagaimana kita membolos hari ini? Sekali saja.” Ucap Chanyeol.

“Kau gila? Bahkan aku baru saja menginjak 1 bulan bersekolah disini. Aku tidak ikut!” Jawab Seri.

“Aku tidak gila, Seri-ya.” Ucapnya sambil memberi tatapan kesalnya pada Seri. “Kau harus ikut! Siapa lagi yang akan kuajak?” Lanjutnya sambil menunjukkan.. puppy eyes-nya?

“Kau tidak lucu, Chanyeol-ah!” Seru Seri sambil menahan tawa yang sebentar lagi author yakin tak bisa ditahannya lagi.

“Kenapa kau tertawa jika aku tidak lucu? Lets go!!!” Serunya sambil menarik Seri tanpa meminta persetujuan Seri. Orang itu, sukses membuat Seri terlarut dan mengikuti apapun yang ia katakan.

“Kau harus menanggung akibatnya, Chanyeol-ah!” Teriak Seri disela-sela Chanyeol menariknya untuk mengikutinya.

Ye, arraseo.” Jawab Chanyeol santai. Terlihat senyuman lebar  yang terukir diwajah Chanyeol saat ini, apa dia terlalu senang? Sepertinya dia gila hari ini. “Kita makan dulu? Aku tidak ke kantin tadi dan aku lapar.” Lanjutnya.

“Gratis kan? Gomawo.” Jawab Seri.

***************

Ya! Seri-ya, apa yang kau suka?” Disela-sela acara makan siang mereka, Chanyeol memulai pembicaraan yang membuat Seri bingung.

Mwo?” Jawab Seri terlihat bingung. Ia berpikir kenapa seorang Park Chanyeol hari ini bergitu aneh sampai melontarkan pertanyaan itu. “Kau tidak sedang membuatku berpikir kau akan membelikan sesuatu yang kusuka padaku, kan?” Lanjut Seri.

“Tidak.” Singkat saja jawaban Chanyeol, sedikit mengecewakan Seri yang begitu mengharapkannya berkata ‘ya’ didalam hatinya.

“Te.. tentu saja.” Ucap Seri.

“Memang apa sesuatu yang kau suka?” Tanya Chanyeol lagi.

“Eum, sebenarnya kau menganggu acara makanku, tapi.. aku suka sesutau yang menarik perhatianku, pastinya.” Jawab Seri sambil menyeruput orange juice yang tadi dipesannya.

“Apa itu?” Terlihat Chanyeol yang sedikit tidak sabaran akan jawaban Seri membuat Seri sendiri merasa tambah bingung.

“Untuk apa kau menanyakan itu? Aku benar-benar terganggu.” Tanya balik Seri.

“Apakah aku tak boleh bertanya apapun itu untuk menghilangkan rasa bosan disini, huh.” Jawab Chanyeol dengan nada menyebalkan.

“Siapa yang suruh mengajakku kesini? Kau kan tahu, aku tak banyak bicara sepertimu yang seperti cacing kedinginan.” Jawab Seri ketus tak mau kalah dengan Chanyeol yang sedang memberi teka-teki yang Seri rasa harus diselesaikan.

“Jawab saja, Seri-ya.” Ucap Chanyeol sambil melipat kedua tangannya didadanya.

“Kau tidak tahu kesukaan perempuan? Aksesoris seperti pita, bando, gantungan kunci dan lainnya. Boneka yang lucu, masih banyak lagi.” Ucap Seri. “Aku mengalah!” Seru Seri sambil mengangkat kedua tangannya seperti orang menyerah pada musuhnya.

“Aku akan membeli salah satunya.” Ucap Chanyeol cepat sambil tersenyum lalu kembali memakan makanannya.

Seri berpikir untuk siapa Chanyeol memberikan salah satu benda yang disebutkannya tadi. Mungkinkah Chanyeol akan membelikkannya untuknya karena semua benda itu termasuk benda yang disukainya. Tapi untuk apa tiba-tiba Chanyeol membelikannya? Jika Chanyeol mengetahui hari ulangtahunnya pun tak mungkin Chanyeol memberikannya pada Seri karena ulangtahunnya masih beberapa bulan lagi. Disisi lain Seri merasa aneh saat mendengar Chanyeol akan membeli salah satu benda yang disebutkan Seri tadi karena.. Seri sendiri tidak tahu kenapa, dihatinya begitu ingin tahu siapa seseorang yang akan Chanyeol belikan benda-benda tadi. Seri sangat senang jika orang itu memang dia. Seri juga akan sedih jika mengetahui bukan dia yang dimaksud Chanyeol.

“Untuk siapa?” Tanya Seri selang beberapa waktu dengan nada cuek. Dia tak mau Chanyeol tahu bahwa dia begitu penasaran.

“Seseorang.” Jawab Chanyeol dalam keadaan makanan memenuhi mulutnya saat itu.

“Aku mengenalnya kah?” Seri kembali bertanya. Chanyeol mengangguk tanpa melihat Seri.

“Sangat?” Tanya Seri lagi.

Maybe.” Jawab Chanyeol.

***

Seri dan Chanyeol memasuki sebuah toko pernak-pernik diujung jalan. Sebuah toko yang menarik untuk dikunjungi. Melihat-melihat apakah ada sesuatu yang menarik disana. Sesekali mereka mengunjungi satu sama lain yang sedang berpencar untuk menunjukka sesuatu yang menarik.

Ya! Seri-ya, bagaimana dengan yang ini?” Chanyeol mengunjungi Seri yang sedang melihat-lihat dibagian aksesoris. Yang dipanggil namanya pun menoleh. Seri hormat dengan salah satu tangan berada tepat disamping kepalanya pada Chanyeol.

“Ayay kapten! Kau kapten pelaut yang tampan.” Jawab Seri sambil tertawa melihat Chanyeol memakai topi seorang pelaut.

Mereka tertawa bersama sampai terkadang meledek satu sama lain.

“Permisi anak muda. Nenek tua ini ingin lewat.” Seseorang berkata sambil menyenggol Chanyeol. Chanyeol tertawa terbahak-bahak saat melihat orang yang bersuara itu ternyata Seri yang memakai wig berwarna abu-abu serta kacamata baca ala nenek-nenek juga tongkat yang membantunya berjalan. Mereka kembali tertawa lepas bersama.

“Jepitan ini cocok dengan rambutmu.” Ucap Chanyeol sambil menempelkan jepitan berwarna hitam yang diatasnya terdapat pita kecil berwarna abu-abu dikepala Seri.

Jinjja? Aku akan membelinya kalau begitu.” Jawab Seri tersenyum. Chanyeol mengangguk dan langsung pergi ke sudut lain toko itu.

Seri kembali melihat-lihat barang-barang di toko ini yang menurutnya sangat-sangat menarik. Dia berjalan menuju arah etalase boneka-boneka. Begitu banyak boneka yang lucu. Dia menghampiri sebuah boneka Tazmania mungil yang begitu lucu.

Kyaa~ Lucu sekali.” Ucapnya.

Begitu juga ucapnya saat melihat begitu banyak boneka lucu lainnya seperti boneka Snoopy, salah satu boneka kesukannya. Boneka beruang besar menarik sungguh-sungguh perhatiannya. Boneka beruang yang begitu besar, sebesar tubuh Serii. Wajah Seri terlihat senang melihatnya. Begitu lucu dengan lucu coklatnya yang lebat serta senyum menghiasi boneka itu sampai dia ingin membelinya.

“Kau ingin membelinya?” Seri menoleh.

“Sayangnya terlalu besar.” Jawab Seri pada orang itu yang ternyata Chanyeol.

Chanyeol mengangguk. “Apakah semua perempuan akan menyukainya?” Tanya Chanyeol menunjuk boneka beruang besar itu.

“Mungkin.” Jawab Seri masih dengan pandangannya yang tertuju pada boneka beruang tersebut. Sebenarnya Seri bisa saja membeli boneka beruang besar yang ia inginkan itu, tapi sayangnya terlalu besar untuk ditaruh dikasurnya di asrama karena akan memakan banyak tempat dan sedikit risih untuk membawanya. Apa boleh buat, dia harus merelakannya.

“Aku akan membelinya. Bagaimana?” Ucap Chanyeol tiba-tiba.

Mwo? Jinjja? Gomawo, Chanyeol-ah!” Seru Seri sedikit teriak karena senang mengetahui Chanyeol akan membeli boneka itu.

“Hey!” Satu jitakan berhasil mendarat di kepala Seri, membuat sedikit rambutnya berantakkan. “Aku tidak membeli itu untukmu.” Lanjut Chanyeol.

Aish~” Seri meringis karena tindakan Chanyeol.

“Jadi, untuk siapa? Kau tidak mungkin membeli boneka anak perempuan seperti itu, kan?” Tanya Seri sedikit ketus. “Oh, kau sudah punya pacar rupanya. Chukkae!” Lanjutnya dengan nada lebih ketus.

Mwoya? Aaniyo! Hanya.. sepupu. Ya, seperti itu.” Jawab Chanyeol.

“Tidak usah bohong.” Ucap Seri seakan meminta suatu kepastian.

“Kenapa kau menjadi pemarah seperti itu? Bukankah kita baik-baik saja, tadi?” Lanjut Chanyeol.

Ne.” Jawab Seri sambil berlalu.

*********************

“Tersenyumlah.” Ujar Chanyeol membujuk Seri yang sedaritadi berubah sifatnya. “Tunjukkan, apa salahku padamu. Aku minta maaf.” Lanjut Chanyeol sambil menghadang jalan yang dilalui Seri.

Ani! Aku hanya sedang malas. Kau tidak salah.” Singkat jawaban dari Seri tanpa ekspresi diwajahnya, hanya menatap Chanyeol. Seri mendahului Chanyeol, kembali berjalan.

“Seharusnya kau bilang jika ingin ikut denganku.. membolos seperti ini.” Ujar Chanyeol.

“Siapa yang memaksaku dengan puppy eyes-nya, huh?” Seri beralih menatap tajam Chanyeol.

“Eumm.. Kita tidak akan pulang, jika kau tak tersenyum!” Seru Chanyeol.

“Aku bisa pulang sendiri. Aku juga bawa kamus bahasa Korea.” Jawab Seri menunjukkan kamus kecil KoreaEnglish yang selalu ia bawa di tasnya, mengetahui dia tak pandai berbahasa Korea.

“Ini!” Dua benda yang digantungi tali berwarna coklat dengan gambar beruang kecil lucu, melayang tepat dihadapan wajah Seri. “Berikan ponselmu. Palli!” Lanjut Chanyeol lalu mengambil ponsel milik Seri yang dipegang kebetulan sedang digenggam Seri.

Mwo? S-E-R-I?” Ucap Chanyeol setelah melihat gantungan dengan gambar balok-balok yang menyusun nama Seri disana. “Jelek sekali.” Komentarnya lalu melepas gantungan itu dari ponsel Seri dan membuangnya ke sembarang tempat.

Ya! Itu pemberian dari kakakku!” Teriak Seri.

“Bilang saja lepas, dan ini dia~ baru. Sangat lucu. Cocok untukmu. Ya, kan?” Jawab Chanyeol sambil mengembalikkan ponsel Seri yang sedaritadi digenggamannya. Chanyeol mengganti gantungannya dengan gantungan baru berbentuk beruang kecil yang lucu darinya. “Ini untukku. Kita berpasangan.” Lanjut Chanyeol terlebih pada dirinya sendiri.

Gomawo.” Ucap Seri sambil tersenyum.

“Tersenyum lebih cantik.” Ucap Chanyeol membalas senyuman Seri.

“Sudah hampir malam, anak muda seperti kalian masih saja berpacaran di tempat seperti ini. Mau jadi apa kalian kedepannya, ha? Dasar anak muda jaman sekarang!” Tiba-tiba datang seorang nenek tua yang memarahi mereka. Mata mereka menjadi lebih bulat mendengarnya.

Mianhae. Tapi dia bukan pacarku.” Tegas Seri sambil membungkuk meminta maaf.

“Sayang sekali. Padahal kalian cocok.” Jawab nenek tua itu. “Cepat pulang!” Lanjutnya.

“Oh, ne, ne. Gomawo.” Ucap Chanyeol.

Mereka terdiam setelah nenek tua itu pergi meninggalkan mereka, sibuk dengan pikiran masing-masing tentang kata-kata si nenek tua yang mengatakan mereka cocok satu sama lain.

“Jadi, apa kita jadi pulang?” Tanya Chanyeol memecah keheningan.

“Oh, ne. Kita pulang bersama.” Jawab Seri sambil berjalan berdampingan dengan Chanyeol menuju halte bis terdekat.

******************

-Seri POV-

Terdengar suara yang mengangguku. Aish.. sudah waktunya bangun dari tidur rupanya. Aku kekurangan waktu tidur dan aku masih mengantuk. Kali ini kembali terdengar suara yang kembali membangungkanku. Suara berasal dari pintu yang diketuk paksa.

YA! MATIKAN ALARM-MU!” Teriak seseorang yang tidak lain adalah Suho oppa, kakakku. Aku mendengus kesal.

“KUBILANG MATIKAN ALARM-MU! KAU BISA SAJA MEMBANGUNKAN SEMUA TETANGGA DENGAN ALARM KEBESARAN SUARA ITU!” Teriaknya lagi sambil mengetuk pintu kamarku kembali, kali ini lebih kencang. Mana ada alarm kebesaran suara, apa lagi bisa membangunkan semua tetangga. Dasar lebay!

Arraseo.” Jawabku pelan—walaupun aku tahu, Suho oppa pasti tidak mendengarnya—sambil mematikan alarmku yang sedaritadi mencoba membangunkanku. Asal kau tahu oppa, aku pun membenci alarm yang terus berbunyi itu. Aku merasa malas hari ini. Aku beranjak bangun dengan malas. Menuju kamar mandi untuk mandi tentunya.

*******************

Aku mencoba mengeringkan rambut panjangku yang basah dengan handuk. Hey, ada yang menarik disudut meja itu, meja kecil yang berada disamping kasur tidurku. Jepitan berwarna hitam juga terdapat pita kecil abu-abu yang bertengger disana (?). Kurasa jepitan itu merasa nyaman selama dirambutmu. Seragam sekolah pun sudah rapi melekat ditubuhku. Aku siap memulai pagi ini!

*SKIP*

“Jadi, untuk apa dia mendapat boneka besar itu?” Tanyaku pada Jessica, keingintahuanku pada boneka beruang besar yang ingin aku beli tetapi terlalu besar yang sekarang tiba-tiba terpampang jelas dihadapanku bukan sebagai kepunyaanku itu sudah memuncak dibenakku.

Flashback

Aish! Aku lupa!” Seruku saat mengetahui aku melupakan sesuatu hari ini.

Wae? Whats wrong?” Tanya Chanyeol dengan sok inggrisnya.

“Kau tak perlu menjawabnya dengan bahasa Inggris jelekmu itu. Begini-begini aku mulai mengerti bahasa Korea. Tenang saja.” Jawabku sambil mencari handphoneku yang kutaruh tas sebelumnya untuk menghubungi temanku.

“Ya.. memangnya ada apa? Kau kan tak perlu mengejekku.” Ucapnya.

“Aku lupa sesuatu. Aku bilang untuk meminjam catatan pelajaran kelas hari ini pada Jessica.  Aku akan kerumahnya. Lebih baik kau pulang duluan. Lihat! Bis-nya sudah datang.” Ucapku dengan cepat namun jelas. Dan aku menunjuk bis yang terlihat diujung sana yang menuju ke tempat dimana kami berada.

“Tidak.. tidak.. tidak. Kita berangkat ke rumah Jessica bersama.” Ujarnya sambil memegang tanganku. Betapa terkejutnya diriku saat dia menggandeng tanganku.

“Disana rumah Jessica. Dekat, kan?” Ucapku sambil menunjuk perumahan dekat halte dimana tempat aku dan Chanyeol berada, dengan tanganku yang lain. “Aku akan meminjamnya dan langsung pulang ke rumah. Tidak usah khawatir karena seharusnya kakakku yang khawatir karena aku belum pulang.” Ucapku lagi sambil tersenyum

Gwenchana. Sekali-kali aku ingin kerumahnya.” Jawabnya tetap pada pendiriannya.

“Tidak baik namja berkunjung ke rumah yeoja malam-malam.” Ucapku.

“Tidak baik yeoja berkeliaran malam-malam.” Jawabnya. Aku mengalihkan pandanganku pada bis yang sudah berada didepan kami berdua.

Ahjussi, tolong bawa namja baik ini sampai tujuannya dengan selamat, ne? Tanyakan saja dimana alamatnya padanya, tentu saja dia akan bayar ongkosnya.” Ucapku pada ahjussi supir bis itu. Tanganku dengan refleks melepaskan genggaman—hangat—dari seorang Park Chanyeol dan segera mendorongnya ke bis itu, tak lupa senyuman aku tampakkan.

Mwoya? Neo!” Seru Chanyeol. Aku hampir saja tertawa karena ia hampir terjatuh saat aku mendorongnya menuju bis itu.

“Kalian pasangan serasi yah.” Ujar ahjussi itu membuatku terkejut. Aku hanya tersenyum menanggapnya.

Sekarang terpampang beruang kecil didepanku saat aku mengangkat handphoneku kehadapanku. Aku tersenyum melihatnya. Tanpa ba-bi-bu lagi aku mulai mengetikkan pesan pada Jessica.

To : Jessica

Kau belum tidur, kan? Tunggu aku!

Sudah terkirim.. dan satu lagi.

To : Suho oppa

Aku lupa mengabarkan kabarku. Tidak usah khawatir. Aku akan pulang telat. Mianhae.

Sudah selesai. Aku harus segera cepat menuju rumah Jessica yang berada di seberang sana.

********************

“Mianhae. Aku lupa.” Jawabku pada Jessica setelah mengomen karena aku telat datang, padahal aku sendiri yang membuat jadwal bertemuku padanya untuk meminjam catatannya.

“Ya sudah, tunggu disini, jangan kemana-mana. Akan kuambilkan minum dan bukunya.” Ucap Jessica pada akhirnya.

Ne. Bukunya saja, aku harus segera pulang.” Jawabku.

“Huh, siapa sih yang membuatmu pulang selarut ini?” Ucapnya sambil mulai berjalan ke kamarnya, sepertinya.

Hanya diam bisa kulakukan saat ini. Rumahnya sangat sepi saat ini. Mungkin semua sudah tidur. Atau mungkin Jessica juga sudah tertidur namun terbangun saat aku mengirim pesan padanya atau saat aku menekan bel rumahnya! Omo! Mianhae, Sica-ya. Nan jeongmal paboya!

“Eh? Mengapa dia meninggalkan handphonenya? Bagaimana jika aku mencurinya? Mungkin dia akan menangis setiap hari.” Ucapku saat melihat handphone Jessica yang terletak begitu saja di meja dihadapanku saat ini.

Aku pun mulai membuka kunci layar handphone itu. Terpampang jelas foto Jessica dengan Krystal—teman sekelas kami—dengan boneka beruang besar yang hampir menutupi tubuh mereka dua, dengan ekspresi terkejut, senang, apalah itu aku susah menjelaskannya. Bonekanya mengingatkanku pada boneka di etalase itu…

“Ini dia. Sebaiknya kau pulang. Bukankah kau bilang tadi kakakkmu terus meneleponmu. Dan kembalikkan handphoneku!” Ucap Jessica yang tiba-tiba mengejutkanku. Dia memberikanku buku berwarna pink dan mengambil handphonenya dariku.

“Aku baru saja melihat wallpapermu. Sepertinya foto itu baru diambil. Ceritakan padaku.” Jawabku.

“Memang. Besok saja.” Ucapnya.

“Eum.. Baiklah. Gomawo. Aku pulang dulu, kalau begitu. Annyeong! Kita bertemu besok.” Akhirnya aku pulang dengan rasa penasaran yang datang padaku.

************************

“Dia? Oh, Krystal? Semacam hadiah ulangtahun.” Jawabnya.

“Kapan?”

“Hari ini. Aku belum mengucapkannya secara langsung..”

“Aku akan mengucapkannya jika berpapasan. Akanku sampaikan salam darimu.” Ucapku. “Jadi Krystal punya.. pacar?” Lanjutku sedikit ragu karena.. ya kalian tahu ini sedikit privasi orang.

Aniya, hanya seorang Park Chanyeol.”

DEG! Seakan dipanah oleh ribuan panah. Ada sakit yang datang padaku saat mengetahui orang yang mengirimi hadiah itu. Jadi benar? Park Chanyeol yang memberinya, berarti benar, boneka itu yang ada didalam etalase toko itu, boneka beruang besar yang ia sendiri tahu bahwa aku menyukainya. Kenapa? Kenapa Park Chanyeol? Bahkan dia berbohong padaku yang mengatakan dia akan memberikan boneka itu pada sepupunya.

Mungkin ini aneh bagi kalian. Tidak. Ini juga begitu aneh bagiku, baru saja aku memikirkannya. Kenapa aku merasa, merasa sakit disini, dihatiku. Aku tak ada hak untuk melarang Chanyeol untuk memberikan hadiah istimewa untuk Krystal maupun perempuan lain. Tidak ada, bukan? Aku juga tak ada hak untuk melarang mereka menjalani suatu hubungan yang akan membuat orang lain cemburu termasuk aku—mungkin. Toh, Chanyeol dan Krystal satu sama lain terlihat cocok. Senyuman yang selalu mereka pancarkan begitu manis. Mungkin jika mereka akan menjadi pasangan tercocok disekolah ini. Yap, Chanyeol dan Krystal. Bukan aku.

Padahal kukira dia mulai menyukaiku saat menggenggam tanganku, saat kulihat wajahnya yang menggambarkan kekhawatiran. Aku tertawa mendengarnya. Semuanya palsu. Seharusnya aku tahu itu, sehingga aku tidak seperti ini sekarang. Sakit. Mungkin ya… itu yang kurasakan. Semuanya berbalik dari dugaanku.

Hey, apa yang kau pikirkan, hm? Hanya mendengar berita seperti itu, kau langsung ingin menangis serta merasa tidak ada gunanya lagi kau hidup.. dasar manusia, ya..

Kau tidak mengerti, evil! Tidak. Aku juga tidak mengerti, kenapa?

Jangan menangis Seri-ya~ Mungkin hanya kebetulan Chanyeol berteman dengan Krystal

Terimakasih untuk kau, Angel~ Kau sedikit menghiburku.

Sudah! Kau tak usah berteman bersama Chanyeol lagi! Dia sudah menyakitkan hatimu dan membuatmu menjadi pemurung dipagi ini. Hukum dia, Seri-ya!

Aku tidak mungkin memusuhinya tanpa alasan yang jelas. Aku juga tak mungkin bilang kalau aku cemburu atau sejenisnya.

Kau harus lebih dekat dengan Chanyeol.. itu lebih penting! Membuatmu punya kesempatan untuk menjadi kekasih Chanyeol.

Jinjja? Aku kurang yakin.

Kau hanya memperburuk, Angel! Stop it.

Hah?

Kau lebih memperburuk, Evil! Stop it.

ENYAHLAH KALIAN!!!!!

Ada benarnya juga. Untuk apa memikirkan hal seperti itu dipagi yang cerah ini? Untuk apa memikirkan Chanyeol yang mungkin akan mempunyai hubungan spesial dengan Krystal? Itu bukan urusanmu, Seri! Sekarang pergilah menemui udara pagi diluar.

“Bukankah kau mengenalnya? Chanyeol.. orang itu sekelas denganmu juga satu grup dengan Suho oppa yang kau bilang kakakmu itu.” Lanjutnya sedikit kesal saat mengucapkan kata ‘Suho oppa yang kau bilang kakakmu’. Maksudnya, Suho oppa memang benar kakakku, kakak kandungku!

“Aku tidak mengada-ada, Jess. Dia kakakku. Apa aku harus menunjukkan akte kelahiran kami?” Aku berlalu darinya.

Saengil chukka hamnida, Krys!” Ucapku. Kebetulan aku bertemu dengannya didepan kelas.

“Oh, gomawo. Bagaimana kau bisa tahu? Ah, pasti Jessica.” Jawabnya sambil tersenyum.

Ne.. dia juga titip salam untukmu.” Ucapku.

“Hadiahmu besar dan spesial tentunya.” Ucapku lagi tanpa ekspresi juga tanpa niat untuk membalas senyumnya kali ini.

“Hadiah pertamaku. Chanyeol yang mengirimkannya lewat jasa, kemarin. Chanyeol namja yang baik dan sedikit perhatian.” Jawabnya membuatku iri pada Krystal.

“Begitukah? Aku duluan.” Jawabku lalu berlalu darinya sebelum dia kembali bercerita lebih banyak tentang baiknya Chanyeol. Sepertinya dia tahu banyak tentang Chanyeol.

Ups! Aku tak sengaja menabrak seseorang. Park Chanyeol.

Annyeong.” Seperti biasa. Dia selalu tersenyum saat menyapaku seperti ini. Senyum yang manis.

“Kau mencari Krystal?” Aku menebaknya tanpa senyuman yang muncul diwajahku. Kurasa dia tersenyum saat bersama denganku itu hanya menjaga sopan santun.

Ne. Aku mau mengecek hadiahnya apakah sudah sampai. Kau pasti sudah tahu, kan? Haha.” Ujarnya sambil tertawa lepas. Aku mengisyaratkan Krystal yang sedang berada diluar kelas. Orang itu segera keluar untuk menemui Krystal. Aku benar.

*******************

Angin menembus wajahku, membuat rambutku berkibar-kibar (?). Pagi yang indah. Aku duduk disebuah bangku taman sekolah yang dikeliling bunga-bunga indah. Sebenarnya kelasku tidak mulai sepagi ini, hanya saja aku ingin menikmati pagi hari ini. Aku ingin berbagi kesenangan pada matahari juga dunia, pagi ini. Namun sepertinya semuanya tak akan terjadi pagi ini. Baru saja aku kehilangan kesenanganku pagi tadi karena.. Chanyeol. Apa aku benar-benar menyukainya? Mencintainya? Seharusnya itu tak pernah terjadi jika Chanyeol dan Krystal sudah ditakdirkan untuk bersama. Itu hanya membuatku patah hati.. ya.

*******************

-Sehun POV-

Ahh, segarnya pagi ini. Tidak sia-sia rupanya aku bangun terlalu pagi hari ini. Aku berjalan menuju, entah kemana mengikuti langkahku, sebelum aku melihat sesosok yang sudah kukenal menyendiri dibangku taman sekolah yang dikelilingi bunga-bunga indah. Kuhampiri orang itu. Ide jail terlintas dipikiranku.

“BOO!” Seruku. Eh? Kenapa dia tak terkejut padahal teriakanku itu biasanya membuat orang lain berteriak padaku bahwa jantungnya mau copot. Ada apa dengannya? Pandangannya begitu kosong. Dia tidak sakit, kan? Wajahnya tidak menunjukkan kalau dia sakit, pucat pun tak muncul, malah mukanya sangat segar.

“Sehun-ah.” Hanya itu yang ia respon. Dia begitu kosong pagi ini, seperti layaknya seseorang yang putus cinta. Putus cinta.. Haha, dengan siapa? Demi apapun aku tak mau melihatnya kosong seperti itu.

Ya! Seri-ya! Kau sangat jelek tanpa senyummu.” Ucapku mengejeknya untuk membuatnya tersenyum.

“Lalu untuk siapa aku tersenyum?” Jawabnya.

Mwo? U-untuk semuanya! Untuk temanmu, keluargamu, juga dunia.. ya untuk semuanya.”

“Sehun-ah, jika seseorang menyakitimu, apakah kau akan terus selalu tersenyum untukknya? Untuknya yang tak memperhatikanmu?” Berkata apa dia. Mengapa jadi serumit ini. Aku teringat sesuatu….

Flashback~

Aku duduk berdampingan bersama Seri serta anak kecil yang sedaritadi bermain bersama kami ditaman ini. hahh lelahnya! Tapi lelah ini terasa hilang jika melihat Seri tersenyum senang seperti itu. Mungkin berlebihan, tapi aku tidak bisa bohong.

Hari ini aku berniat menyatakan perasaanku pada Seri. Aku tak tahu, tapi perasaan ini begitu saja datang. Aku berpartisipasi bersama anak kecil yang sedang duduk manis diantara kami saat ini, haha. Aku telah membuat rencana yang harus ia laksanakan.

“Sehun hyung… Seri noona… aku sangat senang hari ini!” Seru anak itu. Aku tersenyum setelah melihat Seri tersenyum manis.

Jinjja? Noona juga begitu.” Jawab Seri. Aku mengangguk.

“Heheh. Bagaimana jika hyung dan noona menjadi eomma dan appa pura-puraku? Jebalne!” Ujarnya tiba-tiba. Aku tidak terkejut, itu bagian dari rencanaku, hihi. Aku pura-pura menampakkan wajah terkejutku lalu menatap Seri.

Mwo? Bolehkah?” Tanya Seri begitu senang.

Ne. Aku sangat senang jika noona dan hyung menjadi eomma, appaku.” Ucapnya lagi.

“Wah! Noona.. eum, eomma sangat suka punya anak pintar dan lucu sepertimu!” Seru Seri sambil memeluk anak itu lalu tersenyum padaku setelahnya. Sampai sekarang rencanaku berhasil.

“Tapi kenapa kau ingin menjadikan kami sebagai orangtua pura-puramu?” Tanya Seri.

“Sehun hyung menyuruhku!” Seru anak itu. Dengan segera aku membekap mulutnya dengan tanganku. Hanya terkekeh pada Seri.

Mwoya?”

“Anak kecil selalu bisa bercanda dengan baik ya?” Ujarku.

Aku tidak tahan menatap tatapan tajam Seri. Dia begitu berubah saat mengetahui sesuatu yang harus segera ia selidiki. Itu fakta tentang Seri yang baru saja kudapatkan dari sumbernya langsung.

“Aku bisa jelaskan.” Aku menghela napas panjang.

******************

Mianhae, Sehun-ah.” Aku suka dengan kalimatnya terlebih pada kalimat selanjutnya yang akan dia ucapkan, ‘Mianhae aku tidak bisa menolakmu.’, lalu berlari kedalam pelukanku. Dia hanya berpura-pura memasang wajah bersalah.. ya, kan?

“Aku menyukai orang lain.” Satu kalimat yang membuatku down dengan sangat cepat.

“Aku tahu.” Jawabku sambil tersenyum palsu.

Flashback end~

“Aku berkata aneh ya? Aku pun tidak tahu pasti kenapa kata-kata itu keluar begitu saja. Aku merasa malas hari ini.” Ucapnya lagi.

“Kau punya banyak alasan untuk itu. Aku mengerti. Tapi..”

“Tak usah dipaksakan.” Ucapnya lagi.

“Eum, bagaimana ya..” Aku benar-benar bingung menjawabnya. Kulirik gadis itu. Dia masih menunggu jawabanku, sepertinya.

“Begini.. Aku pasti akan terus selalu tersenyum untuk orang yang menyakitiku itu. Tapi aku berharap dia tak menyakitiku, tentu saja. Jadi kau juga harus tersenyum sekarang.” Jawabku tersenyum. Bukankah saat itu aku tersenyum padamu, Seri-ya? Disaat kau menyakitiku tanpa sadar.

Aku mengambil bunga berwarna merah muda disudut kursi yang sedang kami duduki ini. Lalu aku menaruhnya tepat didaun telinganya. Dia begitu cantik, unfortunately, she’s not my.

Gomawo.” Ucapnya sambil tersenyum. Aku hanya membalas senyumannya.. hanya itu yang bisa kulakukan sekarang.

“Nah! Begitu lebih cantik.” Ucapku. “Kajja! Kita masuk kelas.” Lanjutku.

*******************

-Author POV-

February 17th~

Menyebalkan.. pasti. Apalagi yang bisa kuperbuat setelah ini, selebihnya untukku, untuk masa depanku? Aku tak bisa melakukan apapun selain merelakannya. Merelakan seseorang yang sangat kupastikan, aku menyayanginya. Ya.. sangat.

Pengecut. Begitu, kalian menyebutku? Mungkin memang ada benarnya. Aku setuju dengan kalian! Aku hanya seorang pengecut yang selalu tersenyum untuknya. Aku hanya seorang pengecut yang selalu bersikap biasa-biasa saja dihadapannya tanpa memikirkan yang ‘lalu’ diantara kami—yang tak ada apa-apanya, tidak special.

HAHA~ Itulah aku. Aku terlalu pengecut untuk merebutnya. Aku terlalu pengecut untuk tidak lebih bersemangat untuk merebutnya. Aku terlalu pengecut untuk kalah.. kalah dari seseorang yang lebih berarti dihidupnya. Aku terlalu pengecut untuk tidak lagi-lagi memintanya.. menjadi milikku sebagai masa depanku. Aku terlalu pengecut.. kalian benar. Aku lebih suka melihatnya diam-diam tanpa seseorang pun yang tahu.

Hari ini.. hari yang sangat tidak ingin kunantikan. Hari dimana dia mengucapkan dia menyukai seseorang. Hari dimana dia mengucapkan dia menyukai sahabatku.

 

…………………………………….

Sebuah diari yang seharusnya tidak author baca, terbaca tanpa izin pemiliknya, oleh author.

**********************

TO BE CONTINUED

**********************

AHAHA~ how? 😀 Part ini sepertinya banyak galau-galau ya -_-

Hope you enjoy this!

Write all that you feel when reading this in my first fanfiction coments box~ Also write down criticism and advice! 😀

Waiting for continuation of the story~ Thanks for reading..

6 pemikiran pada “You’re My (Chapter 2)

  1. jad bingung kkk sehun ama seri apa seri ama chanyeol? heumm ah lbh baik sehun ceye sama aku aja /plak/. ada kata cacing kedinginan haha bukannya cacing kepanasan thor/?

    • Jiah gak usah bingung.. cukup pemikiran EXO itu gebetan aku semua hoho 😀
      Cacing kedinginan ya mungkin di Korea lagi musim dingin, jadi ya otomatis cacing kedinginan ._.
      Makasih udah baca^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s