Different is Beautiful. Beautiful is You (Chapter 7)

Different is beautiful. Beautiful is you. (cover)

Author : bynx62 (@vnallia)

Genre : Romance, Teenager life, Friendship, (little bit) Comedy

Length : Multi chapter

Main cast :

– Kim Hyeon
– Jung Soona
– Byun Baekhyun
– Xi Luhan

Other cast :

– Tuan dan Nyonya Byun
– Byun Hyunji
– Tuan dan Nyonya Jung
– EXO-K

“Soona-yaaa! Luhan-ah berkata dia—hmph uhmhpai nmhmuu”

Suaraku yang tadi menggelegar, dan berhasil membuat Soona menoleh tapi berpaling kembali—karena dia langsung disuruh Hyeon untuk mengambil posisi—langsung di bungkam oleh tangan besar milik Luhan. Dia membungkam mulutku sampai aku tertarik ke belakang. Setelah dia melepas bungkamannya, aku terbahak sejadi-jadinya. HAHAHA XD

“Aiss, kau benar-benar menyebalkan!”sungutnya benar-benar malu sekarang. OMO~ Rasanya aku tidak bisa berhenti tertawa sekarang. Aku memegang perutku yang mulai terasa sakit karena terlalu banyak tertawa.

“Berhenti tertawa, Baekhyun-ah~”tukasnya dengan ekspresi datarnya.

Baiklah, baiklah. Cukup Baekhyun, jangan sampai dia marah padamu.

“Ne, ne. Mianhae..”jawabku sembari mengatur napasku yang belum teratur.

Haiss, gara-gara Luhan tadi aku benar-benar lupa dengan mood buruk yang mengganggu pikiranku tadi. Untuk kali ini, aku sangat berterima kasih padamu, Luhan ^^

PRIIIIIT!

Suara peluit panjang berbunyi terdengar pertanda permainan usai. Kulihat tim Hyeon, bersorak-sorai kegirangan. Aku yakin mereka pasti tim mereka menang. Kulihat Hyeon dan Soona tengah beranjak ke tempat kami setelah mengambil tas mereka di bangku bawah. Mereka terlihat berlomba-lomba untuk mencapai ke atas terlebih dahulu, dan duduk di sebelah bangku kami.

“Aigoo~ Benar-benar melelahkan.”tukas Soona kepada Hyeon setelah mengambil bangkunya. Ani, bukan di sebelahku. Dia duduk di sebelah Hyeon—yang duduk di sebelahku.

“Ne.”jawabnya sebelum meneguk habis minumannya.

Setelah mengatur napasnya dan mengelap peluhnya, kulihat Soona memajukkan tubuhnya dan menoleh padaku.”Oh ya, Baekhyun-ah. Aku dengar kau memanggilku tadi, memangnya ada apa?”tanyanya, membuatku langsung mati-matian menahan tawaku yang siap meledak.

“Yakk! Kenapa wajahmu seperti itu eoh?”tanya Hyeon yang melihatku dengan tatapan aneh

Aku hanya menggeleng pelan.”Aniya~ Kau tanyakan saja pada temanmu itu, Luhan-ah.”ucapku seraya menunjuk Luhan yang terlihat cemberut.

“Ng? Waeyo, Luhan-ah?”tanyanya seraya memajukan sedikit tubuhnya.

Luhan hanya menoleh sekilas kemudian menggeleng. Melihat itu, Hyeon hanya menyernyit heran. “Hais, kalian para namja memang aneh.”celetuknya.

“Yakk! Aku tidak termasuk eoh”tukasku cepat.

Kulihat dia melirik sekilas ke arahku.”Tsk! Siapa bilang? Kau malah yang paling parah.”ujarnya secara terang-terangan.

Mwo? Apa katanya? Dia menghinaku aneh? Haiss…

“Yakk! Kau…”

“Wae? Memang kenyataannya, kan?”tukasnya lagi sebelum menjulurkan lidahnya mengejekku.”Ayo, Soona-ya, kita ke ruang ganti. Aku gerah.”

Tanpa babibu dan banyak tanya lagi, Soona langsung mengikutinya yang menarikknya pergi. Aku menatap punggung gadis itu dengan ekspresi campur aduk. Samar-samar aku mendengar kekehan kecil dari seseorang yang tepat duduk di sebelahku. Kulemparkan tatapan death glare-ku kepadanya yang membuatnya seketika bungkam.

Bagus, sepertinya karma baru saja bekerja  -___-

***

KRIIIIING!

Bel pulang yang berbunyi sangat nyaring menghentikan penjelasan Shin songsaenim. Seluruh siswa langsung segera memasukkan buku-buku dan bersiap-siap. Begitu pula aku.

Hari ini tentu saja aku tidak langsung pulang ke rumah, karena harus ke rumah namja yang duduk tepat di belakangku ini. Huh… gara-gara kemarin terlalu semangat dengan rencana jahilku yang—err—bisa dikatakan berhasil, aku tidak memperhatikan dampak sial yang terjadi padaku untuk seterusnya. Yah, singkat cerita, setiap pulang sekolah selama seminggu, aku tentu ke rumahnya terlebih dahulu.

Aigoo~ setiap hari bertemu dengannya di sekolah saja sudah menjadi mood breaker-ku. Dan sekarang, selama seminggu ke depan aku mendapatkan tambahan waktu bertemu dengannya setiap sepulang sekolah. Haiss, pabo kau Hyeon (_ _!)

Setelah selesai merapikan buku-bukuku, aku langsung berhamburan keluar kelas—sama seperti yang lain—bersama Soona. Well, meskipun sehabis ini aku pergi bersama ke rumahnya, tapi tetap saja aku tidak mau terlihat jalan berdua dengannya. -,-

Bukan berarti aku ini gengsi, aku hanya tidak ingin beredar gosip-gosip murahan dan tidak jelas seperti tadi pagi. Itu tentu akan merusak reputasiku disini, kau tahu. :p

“Annyeong Hyeon-ah~ Sampai ketemu besok.”ujar Soona seraya berlari kecil menuju mobil jemputannya di depan gerbang.

“Annyeong Soona-ya~”balasku sambil membalas lambaiannya dari dalam mobilnya.

Kumasukkan salah satu tanganku ke dalam saku, sambil menoleh ke belakang dan sesekali memanjangkan leherku melewati beberapa siswa yang berlalu lalang. Kulirik arloji putih di pergelangan tangan kiriku.

Haiss, kemana namja itu? Lama sekali. >< Apa yang dilakukannya di dalam sana?

Ketika aku berbalik lalu menatap dengan malas trotoar yang dipenuhi kendaraan berlalu lalang, tiba-tiba aku dikejutkan dengan kendaraan yang sangat dapat kupastikan tengah menuju ke arahku. Dan aku sangat kenal dengan pemilik mobil tersebut.

“Chanyeol-ssi?”ucapku setelah mobil tersebut berhenti tepat di depanku, kemudian kaca jendelanya terbuka lebar.

“Annyeong, Hyeon-ssi~”sapanya sembari menunjukkan deretan gigi putihnya.

“S-sedang apa kau disini?”tanyaku sedikit gelagapan, sementara beberapa pasang mata mulai memperhatikan kami. Haiss…

“Waeyo? Aku sudah bilang, akan mengantar-jemputmu eoh?”jawabnya dengan nada santai.

Kugerakkan sedikit bola mataku ke sekitarku. Benar saja, kami secara terang-terangan tengah di perhatikan.

“Tapi, aku, kan—“

“Aku tahu. Kau hari ini ke rumah Baekki-ah, kan?”tebaknya sangat tepat.”Benar, kan, hyung?”

Mendengarnya mengucapkan itu dan menyadari arah tatapannya yang sudah berpindah, membuatku sontak menoleh ke belakang dan langsung mendapati Baekhyun tengah berjalan ke arah kami.

Ah, ani. Lebih tepatnya akan melewati kami.

“Mm.”jawabnya singkat.

Mwo? Hanya itu saja. Dia anggap aku ini apa*eh .__.

Sekilas kulihat memang raut wajahnya terlihat malas dan cuek seperti biasanya. Tapi, mengapa rasanya ada sesuatu yang berbeda terpancar dari bola mata cokelatnya itu.

“Jadi, tidak masalah, kan, kalau aku bersamanya heum?”ucap Chanyeol lagi membuatku langsung membulatkan kedua bola mataku dengan dahi mengkerut tajam. Mendengar cara bicaranya, ekspresi dan sikap dari kedua orang di depanku ini membuatku jadi heran sendiri. Sebenarnya ada apa dengan mereka berdua ini?

Baekhyun mengangkat bahu tak peduli.”Terserahlah.”jawabnya sebelum berlalu begitu saja.

Haiss, apa dengan sikap begitu mereka masih pantas disebut sebagai teman?

Kulihat Chanyeol sekilas nampak mengulum senyumnya.”Baiklah. Kajja, masuklah Hyeon-ssi.”ajaknya.

Dengan langkah ragu-ragu aku berjalan memutar menuju jok mobil di sebelah pengemudi. Sementara pandanganku tak henti-hentinya terarah ke punggung seseorang yang sudah berjarak cukup jauh dari kami.

Sikapnya mendadak berubah, sebenarnya apa yang terjadi di antara mereka berdua? :/

“Kalian sebenarnya ada masalah apa eoh?”tanyaku setelah mobil melaju menjauh meninggalkan sekolah.

“Mwo? Masalah? Kami tidak ada masalah apa-apa.”jawabnya masih dengan senyum lebar menghias di wajahnya.

Aku hanya mengangguk kecil dalam diam dan mulai menyibukkan diri memperhatikan jalan raya. Rasanya tidak penting bagiku untuk ikut campur dengan urusan antar kedua namja aneh(?) itu. Lagipula, apa untungnya bagiku memperdulikan namja eyeliner itu. -,-

“Haha, kau tidak perlu bingung dengan percakapan kami tadi, ne? Itu… sudah biasa.”jawabnya membuatku melirikkan tatapan aneh sekilas. Sepertinya ucapanku yang mengatakan dia aneh, tidak salah sepenuhnya—atau mungkin memang tidak salah sama sekali. Pantas saja dia aneh seperti itu, koleksi(?) temannya saja aneh begini. (_ _’)

Aku hanya tertawa hambar sebagai tanggapan atas ucapannya tadi. Aigoo~ Kenapa akhir-akhir ini aku sering bertemu dengan orang-orang seperti mereka, sih?

“Oh ya, menurutmu, hyungku itu bagaimana?”tanyanya tiba-tiba.

Aku menoleh heran.”Bagaimana apanya?”

“Yaah, bagaimana?”ucapnya mengulang kalimatnya sendiri.”Maksudku, bagaimana sifatnya, sikapnya, kelakuannya atau fisiknya—mungkin?”

Aku mendengus pelan. Apa maksudnya menanyakan hal itu padaku?

“Sejujurnya, dia itu namja menyebalkan dan teraneh yang pernah kutemui.”akuku dengan pandangan kosong ke depan.”Mungkin dia memang—cukup—pintar dan berbakat dalam seni, tapi… melihat sifatnya yang menyebalkan dan menjengkelkan itu, membuatku dia terlihat tidak ada apa-apanya—atau mungkin bisa dikatakan; payah.”

Tiba-tiba kudengar tawanya meledak. Aku menoleh dan mendapati wajahnya yang memerah seperti kepiting rebus. Sepertinya dia sedari tadi menahan tawanya sejak awal mendengarkan ceritaku. Haiss, memang apanya yang lucu? Aneh. .—.

“W-waeyo?”tanyaku karena tawanya belum juga mereda. Dia membuatku sedikit heran dan takut. Dia bahkan—menurutku—lebih aneh daripada namja menyebalkan itu.

”Hahaha.. aniyo~ Gwenchana.”jawabnya disela tawanya yang mulai mereda.”Mendengarmu menceritakan itu dan melihatmu mengungkapkannya, membuatmu benar-benar terlihat seperti Hyunji-ya. Haha”

Ooh, jadi itu alasannya. Jinjja…

“Eoh? Jeongmal?”ujarku berbasa-basi.

“Ne, apalagi kalau kau menambahkan pout sepertinya yang menggemaskan. Kalian benar-benar akan terlihat sama persis.”ujarnya.

Aku hanya mengangguk pelan, dan mengalihkan pandanganku lagi. Sementara untuk sejenak hening menggantung di sekeliling kami, aku tersadar kalau kami semakin dekat dengan tempat tujuan.

Kira-kira, namja aneh itu sekarang dimana eoh?

.

.

Aih, paboya~ Apa yang baru saja kupikirkan? ><

***

“Yakk! Bukan begitu caranya, pabo!”

“Aww! Yakk! Kau bilang tadi seperti ini.”

“Aigoo~ Sudah kubilang jangan terlalu dekat seperti ini. Kau bisa merusak tunasnya pabo!”

“Yakk! Berhenti menyebutku ‘pabo’, paboya!”

“Cih, memang kenyataannya kau begitu.”

Aigoo~ aku tidak tahu harus memulainya dari mana, yang pasti aku sedang—dan selalu—berdebat hebat dengannya. Ini adalah hari ketiga tugas pratek kami. Mungkin memang belum terdapat banyak perubahan, tetapi paling tidak, dari apa yang kami tanam beberapa hari yang lalu sudah mulai ada perkembangan.

Aku yakin biji yang kami tanam mulai mempunyai tunas dan akarnya semakin panjang. Untuk itu kami hendak mengukurnya dengan alat khusus sekarang. Tapi, bodohnya aku memperbolehkan namja pabo ini untuk mengukurnya—sementara aku tadi sedang mengambilkan sedikit air untuk disiram di atasnya. Bagaimana bisa dia seceroboh ini padahal sejak 2 hari yang lalu sudah memperhatikanku. Haish, dasar…

“Begini baru benar.”ujarku sebelum mengambil buku catatanku dan menulis laporan di dalamnya.

“Jadi, hanya begini saja?”tukas namja menyebalkan di sebelahku dengan nada sewotnya yang membuatku langsung berhenti menulis dan menatapnya tajam.

“Mwoya? Begini saja katamu? Begini saja kau sendiri payah. Dasar!”balasku tak kalah sengit.

“Yakk! Apa katamu tadi?”ucapnya yang sengaja kuabaikan.

Kuraih air yang kubawa tadi, dan kusiram sedikit demi sedikit ke atas pot tersebut. Setelah selesai, kulirik jam tanganku lalu kucatat waktu yang tertera disana sebagai laporan. Dengan sekali hentakan, kututup buku catatanku. Tersadar ketika aku sedikit mendongak, kulihat namja itu tengah menatapku dengan—err—tatapan yang menurutku aneh.

Bagaimana tidak aneh coba? Sejak kapan—dan apa penyebabnya—dia menatapku lurus tanpa berkedip seperti itu?

Dasar aneh -,-

“Mwo?”ujarku dengan sedikit memajukan wajahku. Membuatnya seketika tersadar dan mundur beberapa inchi.”Kenapa kau melihatku seperti itu eoh? Apa ada yang aneh denganku heum?”

Kulihat dia langsung menggeleng-geleng, sebelum akhirnya mengangguk mantap. Haish, entah harus berapa kali aku menyebutkan namja ini memang aneh.

“Ne, ada.”jawabnya membuatku menyernyit heran sekaligus curiga.

“Mwoya?”tanyaku lebih kepada diriku sendiri sambil meraba-raba pipiku.

“Ini!”ujarnya sambil menorehkan tanah basah dari pot tanaman kami tadi.

Argh, sial. Dia mengerjaiku -.-

“Yakk! Beraninya kau! Akan kubalas kau.”seruku seraya mencoba mengejarnya yang sudah berlari terlebih dahulu. Awas saja kau Baekhyun! >< batinku.

Kupercepat langkahku berusaha menyamainya yang terus-terusan terbahak tidak jelas karena ulahnya sendiri tadi. Apa-apaan dia? Dia pikir itu lucu? Awas saja kalau tertangkap, akanku—ngg, memangnya akan aku apa, kan, ya? ‘–)

Tersadar dengan aksi kejar-kejaranku yang tidak akan membuahkan hasil yang setimpal, aku berhenti sejenak dan mengedarkan pandangan ke sekitar. Senyum evil-ku mengembang ketika teringat dengan selang air yang sangat panjang itu.

Secepat kilat, kuambil selang tersebut dan kuputar kerannya langsung dengan kekuatan penuh. Tanpa babibu lagi, langsung kuarahkan mulut selang tersebut ke arah namja aneh dan menyebalkan itu. Well, sesekali namja itu harus mandi supaya—err—lebih enak dipandang begitu. :p

“Yakk! Hyeon-ah hentikan, pabo!”serunya sambil berusaha menghalau air yang terarah padanya. Kali ini giliran aku yang tertawa, sambil sesekali menjulurkan lidah meledeknya yang terus-terusan merutuk di ujung sana.

Tanpa menyerah dia berusaha berjalan mendekat ke arahku, sepertinya dia tidak begitu peduli dengan bajunya yang sudah basah kuyup begitu. Entah apa niat utamanya mendekat, aku terus mengarahkan selang di tanganku ini ke arahnya.

Pabo. Apa sebenarnya yang sedang direncanakannya? >.<

Dengan satu tangan yang menghalau datangnya air dan satu tangannya lagi melindungi wajahnya, dia terus saja menerjang tekanan air yang tentu saja semakin keras kalau dia terus mendekat seperti itu.

Kusadari, ternyata dia bukannya ingin merampas selang di tanganku atau mengejarku atau apapun itu. Melainkan…

“Yakk! Apa yang akan kau—“

Kalimatku menggantung setelah melihat apa yang dilakukannya.

OMONA!! Dia mematikan kerannya. Mati aku O.O

“—lakukan…”gumamku melanjutkan kalimat yang sempat menggantung tadi.

Dengan napas tersengal-sengal dan satu tangannya bersandar di dinding menopang tubuhnya, perlahan namun pasti dia menoleh menatapku tajam.

Glek.

Mataku membulat menatapnya horor. Aku harap tidak ada hal buruk yang terjadi padaku selanjutnya. Melihat tatapannya tadi, dia seperti singa yang siap menelan bulat-bulat mangsanya. Aigoo~ Kenapa aku jadi ketakutan sendiri begini? ><

Karena tatapannya yang tak kunjung lepas dariku, refleks kulepaskan selang yang berada di tanganku seolah-olah aku tidak melakukan apapun tadi. Sambil tersenyum manis yang dibuat-buat aku berjalan mundur secara perlahan.

1…

2…

3…!

“Huaaaaaa!”seruku seraya berlari secepat yang aku bisa.

GRAB!

Tapi sayangnya, kekuatan penuh yang sudah terkumpul tadi menguap begitu saja saat sebuah tangan cukup besar menahanku dan tiba-tiba menarikku mundur.

Sial, aku tertangkap. Eommaaa~!! >,<

Entah karena dia memang cepat, atau akunya saja yang bereaksi terlalu lambat, tau-tau aku sudah tertarik dan disudutkannya di dinding. Aku tersadar tangannya sempat berada di punggungku, yang (mungkin) sengaja agar tidak melukaiku. Pantas saja punggungku tidak terasa sakit yang semestinya. Meskipun sekarang kedua tangannya sudah berada di samping tubuh, seolah menahanku pergi.

Aigoo~ Mengapa jadi begini eooh?

Dengan segenap keberanian yang ada, kedongakkan kepalaku sedikit untuk sekedar melihat ekspresinya. Tapi, bukannya menunduk lagi atau berpaling, aku malah terdiam—terkesima— mungkin. Terlihat cukup jelas olehku wajahnya yang mulus dan matanya yang polos tanpa eyeliner—mungkin terhapus karena air tadi, rambutnya yang basah jatuh ke bawah dihiasi bulir-bulir air yang sedikit demi sedikit terjatuh—bahkan beberapa sempat mengenai wajahku, napasnya yang masih sedikit tersengal-sengal, dan juga, jarak wajahku dengannya yang hanya satu setengah jengkal saja.

Aku rasa, jarakku dengannya tidak begitu dekat, di sekitar sini terlalu banyak pohon rindang—dan sangatlah jelas—kalau aku masih berada di bumi. Mengapa sekarang rasanya aku begitu sulit bernapas? Kemana semua oksigen yang biasa kuhirup? Dan lagi, kenapa dadaku—lagi-lagi—terasa sesak?

Kulihat bola mata cokelatnya yang sebelumnya lurus ke bawah, tiba-tiba langsung terarah lurus ke mataku. Semua anggota tubuhku rasanya terkunci, otakku berhenti bergerak, jantungku rasanya seperti baru saja dikejutkan pengejut jantung dan sengatan kecil terasa menyengat di sekitar wajahku. Aku rasanya seperti menjadi patung bernyawa sekarang. Memiliki anggota dan organ tubuh lengkap, tetapi semua fungsi dan kerjanya tertahan oleh tubuhku yang mengeras dan membeku seperti patung.

Sekilas, terlihat sesuatu yang berubah dari tatapannya saat bertemu dengan mataku tadi. Haish, aigoo~ apa-apaan dengan semua ini? Kenapa mendadak dramatis begini?

~~~

Sementara itu…

“Yakk! Yeollie, tundukkan sedikit badanmu. Aku tidak bisa melihat apa-apa.”

“Haish, kau ini berisik sekali. Ya sudah, kau sebaiknya disini saja.”

“Suho-ah, jangan  geser-geser terus, aku tidak bisa melihat apa-apa.”

“Aigoo~ Kalian ini berisik sekali. Diam sebentar. Aku sedang menerka-nerka apa yang akan mereka lakukan.”

“Ssttt! Diam, pabo! Kalau kedengaran bagaimana? Kalian ini ribut sekali.”

“Bukan salahku, hyung. Mereka ini—“

“Sstt! Tidak perlu dibahas lagi. Sekarang diamlah.”

“Yakk! Yeollie, jangan mendorongku terus. Badanmu berat tahu.”

“Ssst!!”

“Ne, ne. Mian ><”

~~~

Perlahan namun pasti, kusadari wajahnya semakin dekat saja denganku. Refleks kumundurkan kepalaku, sampai benar-benar menyentuh dinding dan tak bisa berkutik lagi.

Huaaa! Sebenarnya apa yang tengah dia pikirkan sekarang?!! ;A;

Kumajukan kedua tanganku dan menahan tubuhnya agar tidak semakin mendekat. Aku merasa dadaku semakin sesak saja. >.<

“Y-yakk! Me-menyingkir dariku, pabo. Kau pikir apa yang kau lakukan sekarang, huh.”tukasku akhirnya berhasil mengeluarkan suara juga, sekaligus tengah mengumpulkan sebanyak mungkin energi untuk menjauhkannya dariku yang rasanya sudah tersedot entah kemana.

“Memangnya kau pikir apa, huh?”jawabnya membuatku langsung mendongak menatapnya sewot. Terkadang, emosiku yang sering meluap kelewat besar mengalahkan segala apa yang kurasakan, yang kuhadapi dan yang ada di sekitarku dalam sekejap saja.

Alhasil, aku terpaku lagi pada tatapannya yang—err, entah apa artinya.

Tiba-tiba—sangat tiba-tiba—dengan sekali gerakan cepat, dia..—sungguh aku tidak sanggup mengatakan ini -,- —…memelukku cukup erat. Aku terhenyak sekejap. A-apa maksudnya melakukan ini?

“Y-yakk! Kau pikir apa yang kau lakukan? Lepaskan aku, pabo!”cecarku seraya berusaha melepaskan diriku dari pelukannya yang semakin erat saja. Huaaa aku sesak dalam dua hal berbeda sekarang. Pertama, karena pelukannya yang terlalu erat dan kedua.. karena sesuatu yang bergemuruh hebat di dalam rongga dadaku yang membuatnya terasa sesak saja.

“Yakk! Namja pabo! Kau tidak mendengar ucapanku apa, huh? Kubilang lepaskan aku, pabo!!”seruku masih dengan usahaku untuk menyingkirkannya. Tapi, seperti kataku sebelumnya. Rasanya energiku semakin lama semakin terkuras habis entah kemana. Aku merasa tubuhku melemah. Ada apa sebenarnya denganku?

Ini aneh. Sungguh aneh. Mengapa sesuatu di dalam diriku seperti ingin balas memeluknya?

Aigoo~ Kenapa juga debaran jantungku terasa bergema sampai terdengar olehku sendiri? I-ini pasti ada yang salah denganku. ><

“Aniya~ Aku tidak akan melepaskanmu.”tolaknya sambil mengeratkan pelukannya lagi.

Degdegdeg. Degdegdeg.

OMO~ kalo dia tidak juga melepaskanku, bisa-bisa aku terkena serangan jantung karena jantungku berdetak terlalu kencang karenanya.

“Ini sebagai balasan karena kau sudah membuatku jadi basah kuyup begini.”lanjutnya.

Mwo? A-apa maksudnya? Apa ini yang disebutnya sebagai balasan? T-tidak elit sekali sih. -.-

“Yyakk! Apa maksudmu, pabo! Aku sesak tahu!”rutukku masih berusaha melepaskannya.

“Karena kau sudah membasahiku tadi, kau juga harus basah sepertiku.”tukasnya seraya akhirnya melepaskan pelukan anehnya(?) tadi.

Mwoya? Basah sepertinya?

Seketika aku mengerti dengan ucapannya. Refleks, aku melihat bajuku yang kini juga ikut basah kuyup sepertinya.

“Kyaaa! Bajuku~!! T^T”seruku refleks.”Kau! Beraninya kau Baekhyun-ah!!”

“kkk~ Salahmu sendiri menyiramku sampai basah begini.”tukasnya kemudian menjulurkan lidahnya.

Aku mendelik menatapnya sengit.“Yakk! Tapi itu salah kau duluan, pabo! Kau mengangguku terlebih dahulu. -.-“balasku tak mau kalah.

“Tapi aku tidak membuatmu sampai kotor eoh.”ujarnya sambil melipat kedua tangannya.

“Tapi, tetap saja kau yang mencari masalah duluan.”balasku keras kepala sembari berkacak pinggang.

“Aniya! Tidak bisa. Ini semua salah kau, Hyeon-ah!”cecarnya membuat emosiku menjadi-jadi.

“Yakk! Kau benar-benar mencari masalah denganku rupanya. Kemari kau Baekhyun-ah, akan kuhabisi kau sekarang juga.”seruku yang kemudian mulai mengerjarnya yang lebih dahulu mengambil ancang-ancang berlari menjauhiku.

Awas saja kau Baekhyun! Kalau sampai tertangkap, akan aku kucincang habis-habisan badanmu itu. -.-

TINTIN!

Langkahku spontan terhenti ketika mendengar bunyi klakson yang menggema. Sebuah limusin hitam yang terlihat megah bagiku, melewati kami sebelum kemudian berhenti di depan teras. Aku bahkan tidak sadar kalau ternyata deretan pelayan sudah berjajar rapi di depan pintu masuk. Mereka seperti sudah sejak awal ditunggu dan disambut kedatangannya.

Mereka… siapa? Apa mungkin—

“Aigoo~ Baekhyun-ah, kenapa bajumu basah kuyup begitu changi?”ucap seorang ajjumma yang pertama kali keluar dari limusin tersebut dan langsung berjalan mendekat ke arah kami. Terlebih, seorang ajjusshi keluar tak lama setelahnya kemudian langsung mengikutinya dari belakang.

Aku rasa, mereka orang tua Baekhyun. Huaaa bagaimana ini? ><

“Ah, mianhae ajjumma. Ini semua karena ulah saya. Jeongmal mianhae.”akuku sambil menunduk meminta maaf. Berulang kali aku merutukki diriku yang pabo ini. ><

OMONA~ Bagaimana jika eomma Baekhyun marah? Ottokhae?

“OMO~ Bajumu juga kenapa bisa basah begini? Apa yang sudah kau lakukan Baekhyun-ah?”ucapnya membuat aku maupun Baekhyun terkejut bukan main.

Mwo?

“Mwoya? Kenapa aku yang disalahkan? Ini semua karena—“

“Haiss, kau ini suka sekali beralasan. Kajja, kita masuk ke dalam. Ajjumma akan mengganti bajumu. Pokoknya ajjumma tidak mau lihat sampai kau sakit karena masuk angin.”ucapnya sambil perlahan menuntunku membuatku semakin menyernyit dahi heran.

Sungguh. Baru kali ini aku melihat seorang eomma yang lebih memperdulikan orang lain dari pada anaknya sendiri. -,-

“T-tapi aku—“elakku masih terlalu aneh dengan semua ini. OMO~

“Ani, ani. Tidak ada penolakan. Kau harus ganti baju sekarang, kalau tidak kau bisa sakit. Kajja!”ujarnya keukeuh.”Kau juga Baekhyun-ah, ganti segera bajumu. Eomma tidak mau sampai dengar kalau kau sakit.”

Aku menoleh ragu-ragu ke belakang. Sedikit berharap dia berkata sepatah saja sehingga aku tidak begitu kebingungan seperti ini. Tapi, seperti yang kulihat sekarang, dia hanya berdiri di sana dengan ekspresi tidak percayanya.

Aigoo~ Rupanya dia juga tidak menyangka dengan sikap eommanya sendiri.

Jinjja…

“Eommaaaa!! Appaaaaaa!!”seru Hyunji seraya berlari menuju appanya yang berdiri tak jauh dari kami. Dengan sigap sang appa langsung menangkapnya, kemudian menggendongnya.”Eomma, Appa, tumben sekali pulang cepat? Ada apa?”

“Waeyo? Kau tidak senang kami pulang cepat, heum?”goda appanya.

“Aniya~!! Aku hanya bertanya saja kok.”jawabnya sambil menunjukkan wajahnya yang cemberut.

“Haha, ne, ne. Hari ini tugas appa dan eomma tidak banyak, jadi kami pulang lebih cepat.”terang appanya yang kemudian mencubit cuping hidung Hyunji.

“Oh ya, pelayan.”ucap eomma Hyunji membuat perhatianku teralihkan lagi. Aigoo~ Bagaimana dengan nasibku ini?? ><

“Ya, nyonya.”

“Ng, tolong kau keringkan dia, ganti bajunya dan jangan biarkan dia terlihat lusuh, ne?”titahnya.”Oh ya, jangan lupa berikan dia minuman hangat. Saya tidak ingin sampai tahu dia masuk angin.”

“Ne, Algesseoyo.”

“Oh ya, ngomong-ngomong nama kamu siapa jagiya?”

“Aku—“

“Yakk! Hyeon eonnie kenapa sampai basah begini?”seru Hyunji tiba-tiba.

Haiss, mati aku.

“Hyunnie, kau mengenalnya?”

“Tentu saja eomma. Dia sudah tiga hari ke sini terus untuk mengerjakan tugas kelompoknya bersama oppa.”terangnya panjang lebar.“Dia juga yang mengajarkan Hyunnie menggambar eomma!”

“Ne? Jeongmal?”

“Ne! Kajja, Hyunnie tunjukkan gambar-gambarnya.”serunya yang segera menuju eommanya setelah diturunkan oleh appanya.

“Arra, arra.”ujarnya sembari tertawa kecil.“Pelayan, segera rapikan dia. Saya ingin ini semua segera selesai dalam 10 menit.”

“Ne, nyonya.”jawab seorang yang lebih tepat kusebut eonnie, yang berdiri tak jauh disebelahku. “Mari, ikut saya nona.”

“Eh? Ng, t-tapi—“

“Lewat sini nona.”

Haisss, baiklah, baiklah. Kenapa aku terlalu sial hari ini? -.-

.

.

.

“Y-yakk! Apa-apaan ini?!”seruku spontan ketika melihat pantulan diriku di cermin. OMO~

“Mianhae nona. Tapi beginilah yang diperintahkan oleh nyonya.”

“Tapi kenapa aku jadi begini? Pokoknya aku mau penampilan biasa aku! ><”rutukku kesal. Penampilanku berubah 180˚ dari sebelumnya. Sudah cukup kesal karena aku harus memakai baju dress berkerah panjang selutut—berwarna abu-abu dengan pita di pinggang—lengan panjang—berwarna hitam—dengan bagian atas berwarna putih—berbahan dasar lembut—menutupi dada. Ditambah stocking hitam super ketat menutupi kaki jenjangku. Sekarang, rambutku dipermak juga menjadi bergelombang.

Aigoo~ Memang aku ini apa? Boneka barbie yang bisa seenaknya didandani, eoh? Haish, semua yang kupakai ini begitu membuatku risih. Meski kuakui aku masih cukup beruntung karena ajjumma itu tidak menyuruh pelayannya memberikanku pakaian kekurangan bahan. -,-

“Mianhae nona, tapi saya tidak bisa membantah perintah nyonya. Mau tidak mau nona harus memakai ini.”ucapnya membuatku semakin kesal.

“Tapi saya—“

Kalimatku menggantung ketika pintu ruangan terbuka, dan pelaku utama semua ini masuk dengan wajah berbinarnya. -.-

“Ottokhae?”tanyanya sembari menjalan mendekat.”Wah, kau terlihat lebih rapi dan cham yebbeoyo sekarang. ^^”

“Ngg, tapi—sejujurnya—saya tidak suka dengan ini semua—terutama rambut saya.”akuku jujur.”

“Mwoya? Bukankah semua wanita suka berdandan cantik begini?”ujarnya sambil memperhatikan pantulanku di cermin.

“Ne, tapi terkecuali saya.”

“Eoh?”ujarnya nampak terkejut.

“Saya tidak terbiasa dengan tataan dan baju ini. Bukan berarti saya tidak suka, tapi.. memang beginilah saya.”

Kulihat dia tersenyum simpul.“Oh, baiklah, baiklah. Arayo. Tapi, untuk kali ini tidak masalah kan, kalau saya secara pribadi meminta kamu untuk berpenampilan seperti ini?”

Mwo? Aigoo~ Mengapa rasanya kalau memakai baju ini aku terlihat begitu memalukan ><

“Ngg, tapi—“

“Tidak masalah kok. Tenang saja. Tidak ada yang mungkin menertawakanmu. Kau sungguh cantik, kau tahu. ^^”jawabnya seolah bisa membaca kegelisahan dan raut gugup(?) dari wajahku.

Aku hanya tersenyum kecil sebagai jawaban. Kalau sudah seperti ini, mau diapakan lagi?

“Ya sudah, setelah ini kau akan mengajari Hyunji-ya menggambarkan, bukan?”tanyanya yang langsung kujawab dengan anggukan. Tiba-tiba sekelebat bayangan tentang namja menyebalkan dan chingunya itu ketika berada di ruang tamu.

OMO~ Bagaimana jika mereka nanti ada disana dan, dan…. melihatku?

“Baiklah, kau bisa menemuinya sekarang.”ucapnya.”Oh ya, sebelumnya gomawo sudah berbaik hati mau mengajari dan menemaninya menggambar.”

“Ne, cheommanayo. Itu bukan apa-apa kok ^^”jawabku sambil tersenyum tulus.

Dengan sedikit terburu-buru aku segera keluar dari ruangan tersebut, setelah mengambil tas karton berisi pakaianku yang hampir seluruhnya basah. Ngomong-ngomong, aku sedikit beruntung karena aku masih memakai sepatu sekolahku—bukan salah satu sepatu gaya yang—entah apa saja—bisa saja diberikan ><

Usai menutup pintu, aku langsung menatap was-was sekelilingku. Entah mengapa, aku bisa saja merasa gugup dan malu kalau sampai dilihat oleh siapapun dari salah satu keenam namja itu -,-

Huft, baiklah. Tangga menuju lantai atas hanya beberapa langkah. Tidak begitu jauh, batinku seraya menggegam erat tali tas di tanganku.

Kemudian, dengan cepat aku langsung mengambil seribu langkah ke depan. Aku melangkah begitu cepat dengan kepala sedikit ditundukkan. Aku sangat berharap aku tidak bertemu salah satu dari mereka—terutama namja menyebalkan itu.

Ketika aku hampir sampai….

“Haha, jinjja… Jeongmal eoh?”

Suara itu…..

Haish, kenapa mereka semua ada di ruang tamu? >< Ottokhae?!!! ;A;

Huuh, sial. Benar-benar sial!!

Aku tidak begitu memperhatikan apa yang bicarakan. Sesekali aku hanya mendengar gelak tawa mereka. Pendengaranku seluruhnya sudah tertutupi dengan suara detak jantungku sendiri. Aigoo~ Anyone, please help meeee!!!

~TBC~

———————————————————–

Annyeong~

Kalo boleh jujur sih, ini ff terakhir yang tuntas. Jadi, untuk chapter selanjutnya dimohonkan untuk bersabar sedikit karena akhir-akhir ini author sedang dikerumuni banyak tugas. Jadi akan sedikit repot dan cukup lama untuk lanjut menulis lagi. Mian! >< *bow

Tapi, author akan tetap berusaha semampu yang bisa untuk segera menyelesaikannya. Jadi bisa dapet lebih banyak waktu luang. ^^

Don’t be a silent reader, ne? And don’t be a plagiator or copycat-or(?) God always see you everywhere and everytime~

Gomawo untuk admin yang udah mau ngepublish ff ini~

–  Author  ^^

Iklan

45 pemikiran pada “Different is Beautiful. Beautiful is You (Chapter 7)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s