Firework and Love

 FIREWORK AND LOVE

(Sequel Firework and Us)

 Tittle  : Fireworks and Love | Genre : Romance

Main Cast    : – Park chanyeol (EXO-K) as Park Chanyeol
                        – Eunji (A-Pink) as Hanna

                         – Tifany (SNSD) as Tifany

Author : yosa lee (@sabaekhyun)

 Note : ini sequel Firework and Us, sebenarnya gak mau buat sequel. Tapi, ada beberapa yang request. So, aku buatin deh J. Happy reading 😀

Ini link buat yang belum baca yang sebelumnya : https://exofanfiction.wordpress.com/2013/08/19/fireworks-and-us/

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Akankah besok aku bisa melihat senyum mu lagi?

Akankah besok kau akan memengang lembut tangan ku lagi?

Menautkan jemari-jemari besar mu dengan jemari ku?

***

“Hei, kau termenung terus” sebuah tangan besar terayun di hadapanku.

“chanyeol?” aku berkedip sesaat untuk menghilangkan tegang di kelopak mataku.

“sejak kapan kau ada disini?” aku bertanya lagi.

“sejak..” dia memegang keningnya “ku rasa sejak 20 menit yang lalu. Hahaha.. kau benar-benar suka melamun ya” dia mengusap pelan rambut ku.

Aku tersenyum tipis.

Chanyeol duduk perlahan di kursi panjang di hadapanku.

“apa kau sudah menetukan akan kuliah dimana?” chanyeol bertanya tanpa melihat ku, dia mulai sibuk dengan ipad nya.

“ahh..” aku mendesah, meletakkan daguku di atas lenganku yang terlipat di meja. “aku bingung”

“kau pasti sangat pusing ya? Aku bisa melihatnya. Jangan terlalu memikirkan hal yang rumit, lihat aku. Aku tak terlalu memikirkan tentang kuliah” aku melihatnya sekilas.

Senyumannya. Senyuman hangat itu lagi.

“ya! aku tak seperti mu. Aku ingin kuliah” aku memalingkan wajah ku gusar. Takut pria di hadapanku ini bisa melihat kalau wajah ku memerah.

“hahaha… kau malu ya? Reaksi mu membuat ku semakin suka” di menjulurkan tangannya untuk meraih kedua pipi ku dan mencubitnya gemas.

“ya, ya, ya!” aku gelagapan.

“hahah… lihat!  kau semakin memerah”

Di melepaskan tangannya dari wajahku dan mulai memegangi perutnya, seolah dia baru saja menonton film komedi.

“ aku menyukai mu yang seperti ini. Tetap lah seperti ini”

Dia tak lagi tertawa, manik itu menatap lurus ke arah ku.

Wajah ku terbakar.

“chanyeol, sayang. Kemana saja kau, dari tadi aku mencari mu”

Seorang wanita dengan rambut panjang dan berparas cantik menghampiri cahanyeol, memegang pundaknya dan tersenyum dengan lembut saat melihatku.

“hai hanna, bagaimana kabar mu?”

“oh, aku baik tifany” aku merasa suaraku seperti keluar dari dalam gua.

“ayo, sayang. Aku lapar” tifany  bergelayut manja di lengan chanyeol.

“kami duluan ya hanna” chanyeol meilhatku dengan pandangan yang tak terbaca.

Sejurus kemudian sepasang kekasih itu meninggalkan ku di taman sekolah seorang diri.

Ya, sepasang kekasih.

Chanyeol sudah berpacaran dengan tifanny bahkan sebelum chanyeol bersekolah di sekolah ini. Mereka sudah saling mengenal sejak kecil begitu juga dengan orang tua mereka yang sudah seperti keluarga.Aku tak bisa membanyangkan bagaimana wajahku saat itu, saat tahu kalau mereka adalah sepasang kekasih.

Aku menunduk dalam.

Sedetik kemudian lengan ku sudah basah.

***

Sudah empat bulan.

Dia yang memengang tangan ku saat malam tahun baru. Dia yang memegang tangan ku saat di kelas. Dia yang seoarang siswa baru. Dia yang membuat jantungku tak karuan setiap melihatnya tersenyum.

Dan…

Dia yang membuat ku sadar kalau cinta bisa sangat menyakitkan.

Sakit!

Chanyeol, pria yang entah mengapa bisa membuatku jatuh cinta seperti ini. Aku tak pernah paham apa itu cinta atau mengapa cinta datang tanpa aku bisa menahannya. Yang ku paham saat ini adalah chanyeol, cinta pertamaku dan cinta yang tak akan bisa aku miliki.

***

Aku masih duduk di bangku panajng di pinggir lapangan basket sore itu.

Entah mengapa aku selalu saja tak bisa menolak permintaan chanyeol. Senyumnya yang menyebalkan itu selalu bisa membuat hati dan pikiran ku tak lagi sejalan, saat aku ingin mengatakan tidak namun jawaban dari bibirku malah sebaliknya.

Sekarang aku hanya mengutuki diri ku yang bodoh ini, amarah ku seperti api yang membakar seluruh wajah ku.

Di sana. Di tengah lapangan basket yang lengang.

Sepasang kekasih sedang merebutkan bola basket sambil terus tertawa-tawa.

“hanna, ayolah ikut bermain bersama kami” chanyeol meneriakiku dari tengah lapangan.

Aku hanya menyilangkan kedua lengan ku keatas, tanda aku tak berminat. Benar-benar tak berminat.

Aku memalingkan wajahku setelahnya, mencoba bermain dengan handphone yang ku gengggam kini.Aku tak ingin melihat sepasang kekasih itu, aku takut kalau saja emosi ku tidak tertahan dan malah membuat kekacauan.

Aku hampir ingin pulang karena bosan, saat sebuah tangan mengusap lembut surai ku.

“chanyeol?”

Aku mendongak melihat wajah chnyeol yang sedang tersenyum lebar di hadapanku.

“Apa kau bosan? Maafkan aku”

“ahh..?” aku sedikit tersentak melihat wajahnya yang murung. Kini pria itu sudah mendudukan dirinya di sampingku.

“oh.. aa..ohh ti tidak aku tidak bosan. Bu.. bukan seperti itu” aku berusah berbicara dengan tenang, namu gagal.

“mana tifany?” akhirnya aku bisa bertanya dengan normal. Manikku menyapu seluruh lapangan basket yang kosong.

“oh, dia baru saja pulang, apa kau tidak sadar?”

“astaga kau benar-benar tidak sadar?”

Blush.

Chanyeol meraih wajah ku, tanganya yang hangat dan besar menutup kedua sisi rahangku.

“oh.. apa yang…” kalimatku terputus

Chanyeol menggerak-gerakkan wajahku ke kiri dan kenanan.

“kau tidak sakit kan? Atau ada sesuatu yang salah dengan mu?” dia bertanya lagi, kini membuat wajahku bergerak keatas-dan kebawah.

“ti.. tidak ada!” aku menepis tangan chanyeol dan berdiri dengan gusar.

“jangan sentuh aku!”

Itu kaliamt terakhir yang bisa aku ucapkan sebelum aku berlari meninggalkan chanyeol yang mungkin saja sedang kebingungan.

Aku berlari menembus gerimis sore itu, sejak kapan mulai gerimis. Aku pu tak tahu.

Aku terus saja sibuk mengusap pipiku yang basah, entah karena air hujan atau air mata.

“mengapa kau terus saja membuat hati ku sakit chanyeol. Jangan membuatku berharap”

Aku berhenti mendadak di tengah jalan sepi, mencoba mengatur nafasku yang mulai menyesakkan dada.

Kenapa ini begitu sakit!

Bulir-bulir air itu terus saja membasahi pipi ku, membuat pandangan ku mengabur. Tapi ini bukan bulir hujan, aku tak lagi merasakan air hujan.

“mengapa kau menangis?”

Suara itu.

“hei, mengapa kau berlari di tengah hujan?” chanyeol berdiri sedikit membungkuk dihadapanku, kedua tangangnya memeggang  jaket besar yang memayungi ku kini.

“Apa kau marah?” di membungkuk lebih dalam, mencoba melihat wajahku yang menunduk.

Aku masih diam.

“Lihat aku hanna, kumohon jangan diam saja. Apa aku memperlakukan mu dengan buruk?” suaranya terdengar khawatir.

“pergilah chan..” suraku terdengar seperti bisikan, tapi aku tahu dia mendengarnya.

“pergilah..”

“hanna.. apa maksudmu?..” aku menatap tepat dimatanya yang sendu kini.

“pergi dan jangan perdulikan aku!. Itu, itu yang seharusnya kau lakukan sejak dulu chan. Tak seharusnya kau menghampiriku saat malam tahun baru, tak seharusnya kau mengingat wajahku, tak seharusnya kau tersenyum untuk ku, tak seharusnya kau disini memayungiku dan membiarkan dirimu basah seperti itu!” aku berteriak sembari memukul tangan chanyeol yang memanyungiku, hingga jaket itu jatuh bebas ke jalanan yang basah.

“ Dan.. dan tak seharusnya aku mencintaimu..”  suaraku terdengar parau

Manik itu membulat sempurna di hadapanku.

“hahahah.. aku terdengar aneh kan?.. hahaha.. kau dengar chan aku baru saja mengungkapkan cinta, hahaha..”  aku tertawa sebisaku, namun air mata sialan itu terus saja mengalir.

“hanna..” chanyeol menggantung kalimatnya.

Dia tak lagi mengejarku.

Ya, dia membiarkanku menyusuri hujan di senja itu.

Sudah satu minggu sejak kejadian pengakuan cintaku. Hari-hariku kini terasa semakin menyakitkan, membuat seluruh persedian nafas di ruang paru-paruku terasa semakin menipis. Aku tak tahu apa yang sedang terjadi dengan diriku. Seperti sesuatu ya tak kasat mata sedang menyikasa hidup ku, membuatku seperti berada dalam ruangan pengap tanpa udara.

Kini  aku tak lagi akrab dengan chanyeol, walaupun kami berada di kelas yang sama aku tak berniat untuk menyapanya. Chanyeol juga terlihat kikuk saat bertatapan langsung dengan ku.

Ini terasa sangat menyiksaku. Walaupun aku tahu ini yang terbaik.

“hei, nanti malam aku jemput kau ya” aku menoleh malas kearah yoo-in yang duduk di sebelahku.

“memangnya ada apa?” aku akhirnya bertanya walaupun tak terlalu tertarik dengan topik hari itu.

“ya! kau benar-benar tidak tahu? Nanti malam ada pesta kembang api untuk menyambut musim panas tahun ini”

“oh”

“kau harus pergi hanna, aku akan menjumputmu nanti malam” yoo-in mengedipkan matanya.

“ah.. ayolah yoo-in. Aku tak berminat” ujarku seraya memasukkan buku-buku ke dalam tas, kelas sudah selesai hari ini.

“aku akan menjemputmu!”

***

Saat kilatan kembang api memenuhi langit, saat itu aku merasakan hatiku penuh dengan cahayamu

Ini seperti dejavu.

Aku berada di pinggir sungai han lagi.

Dengan suasan gelap dan keramaian yang tak terlihat.

Ya, yoo-in lagi-lagi berhasil memaksaku untuk pergi dan sekali lagi meninggalkanku sendirian.

“Kembang api akan segera di luncurkan. Bersiaplah!” sebuah suara memecah keramain malam ini.

Dejavu!

“kembang api akan segera bergerak di atasmu. Pandangan mu hanya akan menuju cahanya, cahaya dari sinar lain tidak begitu penting” sebuah suara mengagetkanku.

“aku tak bertanya” jawabku refleks.

“kau tak perlu bertanya hanna, aku hanya ingin mengatakannya”

Suara itu.

“chanyeol?”

“ya, aku” dia mendekatkan wajahnya agar aku bisa melihatnya diatara kegelapan malam ini.

Wajahku memerah, tentu saja.

“a.. mengapa kau ada disini?” aku bertanya dengan suara datar sebisaku.

“hah, aku rasa ini tempat umum, hanna” aku melihat kedua bibir itu tertarik ke atas. Dia tersenyum lebar.

Hatiku berdesir lagi.

Aku tak ingin menjadi wanita bodoh yang bermimipi bisa menggenggam angin.

Aku membelah keramain itu, dan berjalan menjauh secepat yang aku bisa. Aku baru saja ingin berlari karena dadaku yang tak karuan sebelum sebuah tangan memegang lenganku dengan kuat dan berhasil membuat langkahku terhentui di ujung pinggiran suangai han yang sepi dan sedikit terang.

“kau mau apa?” aku bertanya pada orang yang tak lain adalah chanyeol.

“mengapa kau seperti ini hanna? Mengapa kau menghindariku?” aku menagkap nada sedih dari suaranya.

“chan, kau tak seharusnya..” aku tak bisa menghabiskan kalimatku karena sebuah lengan besar mendekapku erat. Sangat erat sampai aku bisa merasakn bau harum dari tubuhnya.

“jangan lakukan lagi, jangan jauhi aku. Aku sudah mencoba tak menghiraukan perkataan mu kemarin, tapi kau tak bisa hanna. Aku tak bisa. Aku.. aku mencintaimu”

Aku merasa bahuku mengejang seketika.

Dia menarik wajahnya menjauh dari ku.

“oh” aku melihat setetes air mata di pipi putihnya.

Aku berusaha untuk tak menyentuh pipi itu.

“chan jangan egois, bagaimana dengan tifanny. Dia pacarmu”

“Aku sudah lama putus dengannya, bahkan aku tidak pernah yakin kalau kami berpacaran. Itu hanya kata-kata saat kami masih kecil. Dia memang dekat dengan ku, namun tak seperti kau. Aku menyukainya tapi aku masih bisa bernafas tanpanya, sedangkan kau… melihat wajahmu yang sendu saja sudah seperti hukuman bagi ku. Aku seperti kehilangan oksigen dalam paru-paruku. Kumohon, jangan tinggalkan aku”

“tapi chan..” aku menggantung kalimatku lagi.

Karena setelah itu rasa hangat menjalari wajahku.

“Tetaplah seperti ini, sebentar saja…”

Chanyeol meletakkan bibirnya yang hangat dan lembut di bibir ku.

END

15 pemikiran pada “Firework and Love

  1. AAAA! suka dengan FF Fireworks & Us dan Fireworks & Love >.<
    walaupun classic, tapi dengan tema fireworks yang cukup jarang, jadi beda. Apalagi pas di cerita awal waktu Chanyeol jadi "stranger" xD
    nice FF, author Yosa Lee 🙂 berencana untuk buat series kah? kekekek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s