Heir & Heiress (Chapter 1)

JUDUL: HEIR & HEIRESS, Chapter 1: The Beginning

RATING: PG-15 | GENRE: SCHOOL LIFE, ROMANCE, A LIL BIT ANGST | LENGTH: MULTI CHAPTER | AUTHOR : NANDANI P (@nandaniptr) & SAGITA T (@sagitrp) |MAIN CAST&SUPPORTING CAST : YOON HAERA (OC), OH SEHUN(EXO-K), LUHAN (EXO-K), soon. & the others, find by your own.

18___

FOREWORDS:

@nandaniptr: Annyeong…pertama kali bikin yang berseri dan bikin barengan sama sahabat sendiri. Dia ngasi ide-ide aku yang menuangnya menjadi tulisan, yah susah-susah gampang si nyatuin ide kita. Apalagi berhubungan cuma lewat line&email. Tapi akhirnya jadilah chapter 1 hasil duet ini… setelah melewati perdebatan alot dan edited di sana sini. Semoga kalian enjoy bacanya. Semoga kami ngga mengalami writer’s block jadi bisa nyelesein cerita ini sampe tamat.

NO PLAGIARISM OR BASH. Kritik&saran ditunggu, don’t be silent readers. Enjoy! *cheers*

Maaf kalo chapter 1 nya kepanjangan…

***

AUTHOR’s POV

Rutinitas.

Satu kata yang amat membosankan, mungkin begitu menurut Yoon Haera. Hidupnya penuh dengan batasan dan segala tetek bengek yang menurutnya terlalu mengekang. Ia terjebak dalam suatu keadaan yang amat menjemukan. Membuatnya merasa ingin muntah setiap hari karena harus memasang wajah tersenyum di hadapan para relasi ayahnya, atau harus bermanis-manis dengan rekan kerja ibunya. Berusaha menyenangkan mereka, berusaha menjaga imej keluarga di mata mereka.

Yoon Haera berusaha bertahan dan tetap menuruti kemauan kedua orangtuanya. Mungkin karena sudah terbiasa seperti itu dari kecil. Ia tanpa sadar, merasa tidak bisa meninggalkan zona nyamannya. Bermewah-mewah dengan memakai berbagai topeng di hadapan orang lain. Biarpun terkadang ia merasa muak, namun sulit rasanya meninggalkan kebiasaan yang sudah terpatri dalam darahnya sejak ia lahir.

Bisa dibilang, itulah sedikit gambaran tentang hidup Yoon Haera, pewaris perusahaan besar YH Corporation yang namanya sudah terkenal seantero Korea bahkan sudah merambah kancah mancanegara. Menyedihkan, memang. Menurut orang-orang yang melihat dirinya, mungkin mengira hidupnya sempurna. Tanpa kekurangan. Tanpa ada beban.

Namun mereka tidak mengetahuinya. Hati kecil Yoon Haera selalu merasa tersiksa karena harus melakukan apa yang tidak ingin ia lakukan.

Contohnya saja, saat ia berumur 5 tahun, bukannya  bermain bersama teman-temannya. Ia harus mengikuti berbagai les seperti les piano, vokal, balet, dan semua pelajaran. Saat ia mulai beranjak remaja, bukannya menikmati masa peralihannya itu dengan bersenang-senang  dan mulai membicarakan tipe cowok idaman seperti remaja lainnya, ia sebaliknya harus mengikuti les berbagai bahasa untuk mempersiapkan diri menjadi pewaris YH Corp dan berlatih terus menerus untuk berinteraksi dengan berbagai macam orang dari berbagai negara. Ia tidak pernah punya seseorang yang bisa disebut teman sama sekali dalam hidupnya. Seperti burung yang terkurung dalam sangkar emas.

Padahal sesungguhnya, ia senang sekali menulis dan merangkai kata-kata. Ia menyimpan bakatnya itu dalam sebuah notes kecil berwarna merah yang selalu ia bawa kemana-mana. Membuang impiannya jauh-jauh untuk menjadi penulis karena ia tahu, orang tuanya tidak akan setuju. Ia harus menjadi pewaris YH Corp. Titik. Dan mereka tidak pernah mau, dan tidak akan menerima penolakan dan kata-kata ‘tidak’. Ia tumbuh dengan sukses menjadi perempuan yang pendiam, kaku dan keras hati.

*************************

Haera berjalan cepat tanpa memperdulikan sekitarnya sama sekali. Matanya menatap lurus ke depan tanpa menoleh lagi menuju ke tempat dimana ia memakirkan mobilnya untuk kembali ke rumah. Sesampainya disana, tidak lama kemudian ia segera memacu mobilnya dan melesat meninggalkan perusahaan.

Tak sampai lima menit kemudian, hujan mulai turun rintik-rintik di jalanan kota Incheon. Ia lalu berhenti sejenak di perempatan lampu merah. Matanya menatap bulir-bulir air hujan yang berjatuhan di kaca mobil dengan pandangan kosong. Otaknya memutar dan menayangkan kembali sekilas pembicaraannya bersama ayahnya tadi siang.

Ayahnya tiba-tiba memanggil Haera ke ruangan kerja di perusahaanya. Untuk berbicara secara privat. Apakah ada hal yang begitu penting dan bersifat darurat hingga ia dipanggil secara khusus?

Ia membuka pelan pintu ruangan kerja ayahnya. Disana Ayahnya sudah duduk di sofa.

“Duduklah.”

Tak lama kemudian, Ayahnya memulai pembicaraan dengan suara beratnya yang khas dan berwibawa.

“Begini, Yoon Haera…”

”Kau tahu agar koneksi perusahaan kita meluas, kau harus bisa menjalin hubungan dekat dengan Ohs Company, perusahaan dengan omzet terbesar nomor satu di Seoul. Kau mengerti?”

Yoon Haera sudah mulai menduga-duga kemana arah dan maksud tujuan pembicaraan ayahnya.

 “Cara satu-satunya, kau harus menikah dengan putra dari Pewaris Ohs Company, Oh Sehun. Kita akan semakin sukses jika bergabung dengan mereka, Haera. Kuharap kau memikirkan baik-baik yang aku katakan ini. Bersikaplah baik dengannya. Lusa kau akan bertemu dengan dia untuk pertama kalinya. Aku tidak memaksamu sekarang, cobalah dekat dengannya sedikit demi sedikit.”

Yoon Haera hanya bisa diam mematung. Rasanya ia ingin kabur saat ini juga. Meskipun dalam hati kecilnya ia mengerti cepat atau lambat, hal ini pasti akan terjadi . That arranged marriage, di keluarga konglomerat sepertinya itu sudah biasa.

“Bagaimana, Yoon Haera? Apa kau keberatan?” Tanya ayahnya.

“Terserah appa saja.” Haera memasang wajah acuh tak acuh. Lalu ia berdiri dan segera beralih, pergi meninggalkan ruangan kerja ayahnya tanpa permisi.

Lihat, ayahnya berkata begitu dengan mudahnya. Dengan nada datar tanpa tekanan perasaan sedikit pun. Seperti, pernikahan adalah hal yang sakral bukan? Haera memang bukan seseorang yang peduli dengan cinta dan segala macamnya. Tetapi mengapa ayahnya bahkan tidak menghargai hal itu sama sekali? Ia dipaksa menikahi seseorang yang bahkan tidak ia ketahui wajahnya, atau sifatnya. Dan ayahnya berharap ia akan hidup selamanya dengan orang itu? Ayahnya pasti sudah mulai gila.

Tapi ia hanya bisa pasrah. Orang tuanya tidak akan pernah mau mendengarkan pendapatnya dan tidak pernah mau tahu tentang apa yang sebenarnya ia inginkan. Ia hanya bisa diam. Menunggu waktu itu tiba, dimana ia akan bertemu calon suaminya. Yang benar-benar tidak ia ketahui siapa, wajahnya, suaranya. Membayangkannya pun sulit. Haera menghela nafas, berat.

Rasanya benar-benar menyedihkan karena harus menjalani masa depan yang bahkan sudah direncanakan jauh-jauh hari untuknya.

Lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau. Haera segera memacu gas mobilnya agar segera sampai ke rumah. Banyak pekerjaan sekolah yang membuat kepalanya hampir pecah, ditambah tentang perjodohan dan segala macamnya ini membuat sakit kepalanya berkembang menjadi 2 kali lipat. Mungkin lebih baik ia lupakan sejenak dengan mandi di bathtub sambil mendengarkan musik untuk merefresh pikirannya yang kacau akhir-akhir ini.

OH SEHUN’s POV

Aku pikir Ibuku aneh sekali.

Ia hendak menjodohkan aku dengan perempuan yang bahkan tidak aku tahu siapa dia, bagaimana wajahnya, sifatnya, dan lainnya. Yang aku tahu hanyalah, ia bernama Yoon Haera, seorang pewaris tunggal dari YH Corp, saingan perusahaan orang tuaku. Rasanya masalahku semakin rumit saja.

Saat ibu memberi tahu kabar itu padaku, aku melihat matanya berbinar-binar ceria. Ia terlihat senang sekali. Mulutnya tak berhenti berbicara mengenai rencananya jika anak itu sudah datang. Aku hanya mendengarkan sambil terkantuk-kantuk, bosan. Sambil mengedikkan bahu sedikit merespon ucapan ibuku. Dari bahasa wajahku, kentara sekali kalau aku tidak terlalu tertarik dengan bahasan yang sudah kuduga pasti akan segera disampaikan padaku cepat atau lambat. Arranged marriage. Cerita biasa di kalangan keluarga seperti ini.

“Bagaimana, Oh Sehun? Apa kau mau? Lusa kau akan langsung bertemu dengannya. Dia akan datang langsung kesini dari Incheon.” Ibuku bertanya hal yang sama lagi untuk ke sekian kalinya.

Eomma, bahkan aku masih sekolah.”  Aku memicingkan mataku heran.

“Tidak perlu kau menikah sekarang bukan? Coba saja melakukan pendekatan dengannya. Sekedar berkenalan apa salahnya?” Ibuku terus membujukku tanpa kenal lelah.

Karena pusing mendengar semua ocehan ibu, aku menanggapi perkataannya dengan datar.

“Terserah eomma sajalah. Aku bosan.”

Ibuku berteriak girang. Aku sampai menutup telingaku karena takut gendang telingaku akan pecah mendengar teriakannya yang melengking dan sedikit berisik. Aku segera pergi ke kamar untuk menghindari euforia ibuku yang berlebihan. Entah mengapa sebegitu istimewanya-kah Yoon Haera ini hingga sanggup membuat ibuku seperti itu.

Sesampainya di kamar, aku melemparkan diri ke kasur, lalu menerawang, menatap langit-langit kamar. Berpikir ulang. Memikirkan berbagai kemungkinan tentang perjodohan itu.  Siapa itu Yoon Haera? Aku bahkan tidak pernah melihatnya. Bagaimana sifatnya? Dan parahnya, aku harus hidup bersama dengannya selamanya? Kupikir-pikir lagi, ini absurd.

Mataku melirik ke arah jam, disana sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Kurasa, aku harus mulai tidur untuk menenangkan pikiran. Tenang, Oh Sehun. Lagipula jalanmu masih panjang, bahkan kau masih sekolah. Bisa saja kan sewaktu-waktu perjodohan itu akan batal?

Tetapi jika mereka tetap memaksa, pasti aku tak kuasa menolak permintaan ibuku, aku sangat menyayangi kedua orang tuaku. Selagi itu membuat mereka bahagia, aku akan menuruti apa kata mereka, itu tekadku. Meskipun aku tidak menyukainya. Mau tak mau, aku harus menerima dan menjalankan perintah mereka sepenuh hati. Seperti saat mereka mewajibkan aku untuk mempersiapkan diri menjadi pewaris Ohs Company, aku menurut saja. Daripada bersitegang dengan kedua orangtua, aku memilih mengalah.

Kali ini, apa aku harus mengalah lagi, eomma?

 

YOON HAERA’s POV

1 day before meeting.

 

Aku menguap lagi. Ini sudah yang ketiga belas kali sepertinya saat kuhitung. Ini benar-benar sangat membosankan. Aku mendengarkan lagi dan lagi tentang bahasan kebiasaan makan dan minum yang benar di kelas etika dan tata krama yang diajarkan oleh pengajarku. Bahkan aku benar-benar tidak berminat sama sekali dari awal. Kusumpal kedua telingaku dengan memakai headset, dan kudapati lagi aku menguap lebar untuk yang ke-empat belas kalinya. Saat pengajar itu sedang sibuk menjelaskan di depan dan fokus pada papan tulis, aku berjingkat dan meninggalkan kelas diam-diam. Lari menuju perpustakaan.

Disinilah surgaku. Dimana aku benar-benar menikmati hidup cukup hanya dengan membaca. Melihat dunia hanya dengan membaca selembar demi selembar kertas yang membahas tentang berbagai hal. Semuanya mulai dari travelling, kuliner, sampai hukum pun ada. Aku benar-benar mencintai buku. Semua buku di perpustakaan rumahku sudah kulahap habis tanpa tersisa.

Saat sedang memilih-milih buku, tiba-tiba seseorang menabrakku dari belakang. Aku hampir terpelanting ke belakang. Buku yang kupegang jatuh berserakan. Untungnya ia dengan sigap menahan tubuhku sebelum jatuh ke lantai. Aku hampir saja mendampratnya, namun ia  buru-buru meminta maaf dan pergi begitu saja. Sebelum ia berbalik, aku sempat memperhatikan wajahnya sebentar. Yang kuingat hanyalah, wangi mint lembut yang keluar dari tubuhnya, serta rambut dan matanya yang senada, sama-sama berwarna cokelat.

Ah, aku tidak memperdulikan seberapa tampannya dia, atau seberapa kerennya dia tadi. Atau apalah. Dia sudah merusak konsentrasiku saat memilih buku. Dan aku benar-benar amat kesal karenanya. Segera aku ambil buku secukupnya untuk dipinjam dan dibaca dirumah. Lalu keluar dan segera pulang. Moodku berhasil dirusak dengan suksesnya oleh lelaki tadi.

.

*************************

Apalagi ini? Ibu membelikanku dua setelan baju yang sangat indah. Satu dress santai dan satu gaun resmi yang dilipat rapi dalam kotak di meja belajarku. Padahal di lemari ada sekitar puluhan baju berjejer yang bahkan belum sempat kupakai. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihatnya. Segera kusingkirkan jauh-jauh. Aku tidak mau berurusan dengan hal-hal remeh semacam ini. Hari ini aku hanya ingin membaca buku.

Baru saja aku meletakkan kotak itu di lemari, Ibu mengetuk pintu kamarku pelan.

Ne, ada apa eomma?” tanyaku. Ibuku memasuki kamar dan duduk di sofa terdekat dari kasur.

“Kau tahu maksud kedatanganku kesini, Haera. Serta gaun yang kubelikan. Aku yakin kau sudah melihatnya.”

Aku mulai penasaran, bingung dengan perkataan ibuku. “Apa maksud eomma?”

“Pertemuan pertama dengan calon suamimu. Jangan bilang kau lupa tentang hal itu, Haera-ah”

Aku menepuk dahiku pelan. Ternyata tentang pertemuan itu. Kemarin ayah mengatakan bahwa lusa aku akan bertemu dengannya. Lusa yang berarti besok.

“Ah. Tentang itu.” Aku hanya menanggapi seadanya.

“Pakailah gaun resmi yang kubelikan tadi. Bersikap baiklah padanya dan jangan merusakkan suasana. Kau tahu, eomma dan appa sangat berharap padamu. Kau kebanggaan kami.” Ibuku mengakhiri perkataannya. Tanpa sedikitpun memberiku kesempatan berbicara. Lalu ia berdiri dan bersiap meninggalkan kamar.

“Semoga kau bahagia, Haera.” Ibuku berbisik pelan. Setelah itu terdengar suara pintu yang tertutup.

Sedikitpun aku tidak akan peduli. Aku sudah bilang bukan? Hari ini aku hanya ingin membaca buku.

 

AUTHOR’s POV

That ‘X’ Day: Our first meeting.

 

Sehun menatap pantulan dirinya di kaca. Ia terlihat menawan dengan memakai pakaian resmi yang sudah disiapkan jauh-jauh hari oleh ibunya. Hari ini adalah hari pertemuannya dengan calon istrinya. Ada sedikit rasa penasaran dalam hati Sehun, namun ia berusaha bersikap sewajarnya. Lagipula perjodohan ini juga tidak terlalu menarik minatnya.

“Sehun, ia sudah datang.” Ibuku membuka pintu kamarku dan menyuruh Sehun keluar untuk menyambut tamu istimewanya hari ini.

Saat ia membuka pintu gerbang rumahnya. Ia melihat sesosok wanita yang amat cantik. Perempuan itu tingginya hanya sekitar sebahunya saja. Kulitnya putih bersih seperti boneka porselen. Matanya bulat berwarna cokelat muda dengan rambut panjang tergerai indah berwarna hitam. Ia memakai gaun pendek selutut sewarna dengan warna rambutnya yang kontras dengan kulitnya yang putih. Gestur dan mimik wajahnya memperlihatkan kesan aku-bahkan-sama-sekali-tidak-tertarik. Di belakangnya ada dua orang pasangan wanita dan pria berpenampilan high class yang menemani mereka. Sehun menduga itu adalah orang tua Haera.

Annyeon haseyo, joeneun Oh sehun imnida” Sehun memperkenalkan diri di hadapan calon istri dan orang tuanya. Haera hanya membungkuk sopan tanpa membalas salamnya ataupun memperkenalkan dirinya. Perempuan ini angkuh sekali. Orang tua Haera membungkuk dan membalas salamnya hangat.

“Silahkan masuk, anggap saja seperti rumahmu sendiri ya, Haera. ” Ibu Sehun dengan bersemangat mempersilahkan mereka masuk. Lalu ibunya mengajak ngobrol Ibu Haera. Ayahnya menyapa dan memeluk Ayah Haera seperti kawan lama.

“Terima kasih.” Ia tersenyum tipis. Langkahnya yang anggun membuat Sehun berdecak kagum. Perempuan ini pasti benar-benar bangsawan kelas atas, pikirnya.

“Makan malam sudah disiapkan, mari kita makan bersama.” Ibunya mengajak Haera beserta kedua orang tuanya dan Sehun untuk segera menuju ke ruang makan. Haera mengikuti dari belakang, berjejer dengan Sehun. Sementara orang tua Haera dan orang tua Sehun asik membicarakan bisnis dan hal-hal yang tidak mereka mengerti.  Mereka hanya diam. Karena sama-sama cuek, mereka tidak peduli satu sama lain. Sehun sibuk memainkan handphonenya sementara Haera melihat dan meneliti sekeliling rumah Sehun. Ekor matanya menangkap nama salah satu ruangan yang benar-benar membangkitkan minatnya.

Library’.

*************************

Suasana di meja makan benar-benar ramai oleh pembicaraan kedua orang tua mereka. Sesekali Ibu Sehun bertanya pada Haera tentang dirinya, yang dijawab sopan dengan bahasa yang singkat khas Haera. Karena Haera dan Sehun tidak mendengarkan pembicaraan orang tua mereka karena sibuk sendiri-sendiri, otomatis mereka tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.

Tiba-tiba Ibu Sehun mengajak Haera kembali berbicara.

“Ah, Haera-ssi. Aku sudah membicarakan ini matang-matang dengan orang tuamu. Aku menyuruh mereka untuk memindahkanmu ke Seoul. Mereka setuju. Kau akan sekolah di sekolah Sehun bersamanya, dan tinggal dirumah ini. Bagaimana? Kuberi kau waktu untuk berpikir. Putuskan secepatnya ya, Haera-ah.”

Haera mengangguk-angguk saja. Dalam hatinya ia tidak peduli dengan masalah kepindahan atau apalah itu. Sementara berkebalikan dengan Sehun, matanya membelalak mendengar perkataan Ibunya. Tinggal bersamaku di rumah ini?! Ibunya pasti sudah benar-benar gila.

“Ah, ya. Maafkan aku, Sehunnie. Aku dan ayahmu serta kedua orang tua Haera harus meninggalkanmu disini sebentar bersama Haera karena suatu urusan. Kau tidak keberatan kan?”

Sehun menatap ibunya tajam. Ibunya hanya tertawa kecil

“Berjuanglah, Sehun.” Ibunya berbisik kecil di telinga Sehun.

Lima menit kemudian, ayah ibunya serta orang tua Haera telah hilang entah pergi kemana. Mungkin pergi ke ruangan kerja untuk mendiskusikan bisnis mereka. Sehun mulai resah. Berdua dengan Haera benar-benar membosankan. Ia hanya diam dan sesekali seperti menerawang entah memikirkan apa. Daripada keadaan ini terjadi terus menerus, ia memutuskan untuk memulai langkah pertama dengan mengajaknya berbicara.

“Apa hobimu, Haera-ssi?”

Ditanya tiba-tiba seperti itu, Haera tidak mempersiapkan jawaban apa-apa. Ia hanya menjawabnya singkat.

“Membaca.”

“Wah kebetulan sekali disini ada perpustakaan pribadi milik keluargaku. Kurasa koleksinya cukup lengkap, apa kau mau pergi kesana?” Sehun bertanya pada Haera. Respon yang ia dapatkan cukup bagus. Haera tersenyum dan mengangguk. Matanya berbinar, menunjukkan minat yang begitu besar saat ia mulai membahas tentang perpustakaannya.

“Ikuti aku.”

Haera mengikuti Sehun melewati lorong menuju ruangan yang tadi ia lewati dan membuatnya tertarik. Saat memasuki perpustakaan itu, ia terlihat senang sekali. Ia segera melangkah menuju salah satu rak buku dan melihat berbagai judul buku yang tertera disana.

Sehun mengikutinya dan ikut berdiri di sebelahnya sambil melihat Haera memilih-milih buku. Lalu ia terkejut saat Haera mulai mengajaknya bicara.

“Asal kau tahu, Sehun-ssi. Aku tidak peduli jika kau hendak menolak ataupun menerima perjodohan ini. Aku memberimu kebebasan untuk memilih. Asal itu tidak mengganggu atau merugikanku.” Haera berkata dengan raut wajah acuh tak acuh sambil melihat-lihat buku tanpa menatap wajah Sehun sama sekali. Sehun menoleh ke arahnya dan menatapnya.

“Kau serius?”

“Aku sangat serius. Aku benar-benar tidak peduli. Jika kau setuju, ayo saja. Jika kau menolak, tak apa untukku. Tidak ada ruginya.” Ia berkata datar.

Sehun merasa tertantang melihat Haera yang sifatnya benar-benar berbeda dengan yang lain. Biasanya, para wanita akan takluk padanya dengan sekali lihat karena ketampanannya, apalagi ia adalah idola sekolah. Perempuan ini benar-benar berbeda dari kebanyakan perempuan, yang biasanya akan langsung histeris jika melihatnya. Perempuan ini seperti masa bodoh dengan segala yang terjadi.

“Bagaimana kalau kita coba? Kita akan tahu jawabannya kan. Akankah perjodohan ini diteruskan atau dihentikan. Setujui saja ide ibuku untuk tinggal disini, bersamaku.”

Haera akhirnya balas menatap wajah lelaki di sebelahnya itu. Terdiam lama. Memikirkan berbagai kemungkinan di kepalanya. Lalu pada akhirnya ia sampai ke keputusan akhir. Ia menarik ujung bibirnya sedikit untuk membentuk seulas senyuman.

“Baiklah. Ayo kita coba saja.”

TO BE CONTINUED…

Iklan

70 pemikiran pada “Heir & Heiress (Chapter 1)

  1. Ahaaaiii ini sehun ma haera pake coba coba segala….. Beneran ajh sekalian iiihhh gemes. Ga sabar pengen baca lanjutannya Kekekekeke

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s