Mon Ami (Chapter 1)

Title: Mon Ami- Chapter 1

Author : babocheonsa

Cast(s)  : EXO-K Sehun as Oh Sehun

EXO-M Chen as Kim Jongdae/Chen

f(x) Sulli as Sulli

EXO-K Chanyeol as Park Chanyeol

Kim Cheonsa as You (Readers)

Rating   : PG-13

Genre   : Friendship, Romance

Length : Two shot

Disclaimer : I just own the plot ©babocheonsa2013

Poster-Mon Ami1

Note      : Annyeong haeseyo. Ini FF pernah dipost di blog pribadi dengan cast berbeda dan judul berbeda. Sebenarnya author mau bikin satu part aja, tapi ternyata kepanjangan T.T. Mianhaeyo, kalo ceritanya jelek, sejelek wajah authornya ataupun kalo banyak typo sana-sini. Daripada terlalu banyak omong,mendingan langsung baca aja ya~

Summary:

Aku sangat mengenalmu, seseorang yang begitu menyilaukan mataku.

Aku tidak bisa menyembunyikan perasaan itu, aku tidak bisa menahan diri.

Aku tidak bisa melupakanmu untuk satu hari saja.

Aku tidak bisa berhenti.

Mencintaimu.

♣♣♣♣

                Langit begitu mendung. Tampaknya hujan akan segera mengguyur kota Seoul. Namun seorang namja tengah berdiri di depan sebuah rumah sambil menunggu yeoja yang dicintainya keluar tanpa sedikitpun terusik dengan cuaca itu.Benar saja, sesaat kemudian hujan pun turun sangat deras. Namun namja bernama Shin Sehun itu masih tetap tak beranjak dari tempatnya, ia masih menungguyeoja yang dicintainya itu keluar untuk menemuinya.

“CHEONSA-YA!” teriak namja itu. Berkali-kali ia mencoba memanggilnya keluar. Namun, nihil. Yeoja yang dipanggilnya tak kunjung datang menemuinya. Ia hanya ingin mendengar kepastian jawaban dari Cheonsa atas pernyataan cintanya tadi siang di sekolah.

♣♣♣♣

            “Sehun-ah. Apa yang kau lakukan disana?” gumam yeoja bernama Kim Cheonsa itu dibalik jendela. Sedari tadi ia hanya mengintip dari balik jendela mengamati namja bernama Oh Sehun itu terus-menerus memanggilnya. Ia tak tahu harus berbuat apa, apakah ia harus membuat Sehun menunggunya atau ia harus menemuinya. Ia takut, Sehun akan menyatakan perasaannya lagi. Ia terlalu takut untuk menolak Sehun. Ia takut persahabatannya dengan Sehun harus kandas.

“Cheonsa-ya, Kenapa kau tidak menemui Sehun?”seorang namja berambut coklat itu rupanya ikut memperhatikan Oh Sehun sedari tadi.

Oppa? Sejak kapan oppa berdiri di situ?”

“Sedang ada masalah dengan Sehun?” bukannya menjawab pertanyaan dongsaeng-nya, ia malah bertanya lagi.

“Chen oppa, eottokhae? Sehun bilang dia suka padaku..” gadis itu terlihat sangat bimbang.

“Lalu? Apa kau menyukainya juga? Kalau iya katakan saja yang sejujurnya” ujar namja bernama Kim Jongdae atau yang biasa dipanggil Chen itu santai.

“Aniyo. Seperti yang oppa tahu, aku sangat menyayanginya sebagai seorang sahabat. Tidak lebih”.

“Kalau begitu tolak saja dia. Beres kan?”

Mwo?  Tidak segampang itu oppa. Bagaimana dengan persahabatan kami? Apa ia masih mau bersahabat denganku jika aku menolaknya?”

Kim Jongdae hanya mengangkat bahu, ”Entahlah. Aku juga tidak tahu”. Lalu ia pergi berlalu meninggalkan dongsaeng-nya yang tenggelam dalam lamunannya sendiri. Setelah beberapa saat, gadis itu beranjak menuju ke luar rumah. Ia sudah siap untuk menemui Sehun. Ya, setidaknya ia telah mengambil keputusan.

♣♣♣♣

“Sehun-ah! Apa kau bodoh? Kenapa kau hujan-hujanan begitu?” Cheonsa berusaha bersikap seperti biasa seolah tak terjadi apa-apa. Sehun terkejut sekaligus lega, akhirnya Cheonsa mau menemuinya.

“Cheonsa-ya..” ucap Sehun lirih. Bibirnya bergetar, seluruh badannya menggigil. Wajar saja karena ia telah menunggu Cheonsa kurang lebih selama setengah jam ditemani hujan yang turun begitu derasnya.

“Ayo cepat masuk. Nanti kau mati kedinginan disini” Cheonsa menarik tangan Sehun dan langsung  membawanya masuk ke dalam rumah. Cheonsa segera mengambil handuk dan memberikan pakaian milik Jongdae untuk Sehun.

“Sehun-ah, sebaiknya kau cepat mandi, dan pakai baju ini. Ini baju Chen oppa. Jadi jangan sampai baju itu rusak. Arraseo?” omel Cheonsa layaknya ibu-ibu yang sedang memarahi anaknya.

Hajiman..” Sehun berusaha menyela.

“Sudah, tak usah banyak bicara. Cepat mandi, aku akan buatkan teh hangat untukmu” Cheonsa berusaha memotong pembicaraan Sehun agar Sehun tidak membahas soal pernyataan cintanya tadi siang.

GREP! Tiba-tiba Sehun mencengkram tangan Cheonsa dengan erat. Seakan-akan yeoja itu adalah tawanannya.

“Sehun-ah, apa yang kau lakukan?” takut-takut Cheonsa bertanya pada Sehun sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Sehun. Namun Sehun malah semakin mempererat cengkramannya dan membalikkan tubuh Cheonsa agar menghadap wajahnya.

“Kau belum menjawab pertanyaanku tadi di sekolah. Kau tahu? Aku menunggu di luar rumahmu tadi sampai kehujanan seperti ini hanya untuk menunggu jawaban darimu” pernyataan itu membuat Cheonsa tak bisa mengelak lagi.

Ne. Arraseo. Maaf aku membuatmu kehujanan seperti ini. Aku akan menjawabnya jika kau melepaskan tanganmu ini dan pergi mandi. Aku janji akan menjawabnya nanti” Cheonsa tersenyum, berusaha mencairkan suasana tegang diantara mereka.

♣♣♣♣

                “Jadi, maukah kau menjadi yeojachingu-ku?” Sehun kini duduk dihadapan Cheonsa sambil menatapnya intens. Tentu saja ia telah selesai mandi dan berganti baju.

Cheonsa menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan berat.

Mianhaeyo Sehun-ah. Aku memang menyayangimu, tapi sebagai seorang sahabat, tidak lebih. Sebenarnya berat sekali untuk menolakmu, tapi aku benar-benar tidak ingin membohongi perasaanku sendiri. Aku sungguh-sungguh tidak ingin kehilangan sahabat sepertimu ”

Suasana jadi hening, mereka mulai tenggelam dalam pikiran masing-masing.

“Sehun-ah, mianhae.. Jeongmal mianhae..” Cheonsa menggenggam tangan Sehun yang dingin dengan lembut.

Gwaenchana. Aku senang kau jujur terhadap perasaanmu. Harusnya kau bilang sejak awal Cheonsa-ya. Aku tidak apa-apa. Maaf aku telah membuatmu takut tadi” Sehun berusaha tersenyum menyembunyikan perasaan kecewanya. Cheonsa hanya menatap Sehun dengan tatapan nanar, ia sungguh tidak enak hati menolak Sehun.

“Sudah sore, sebaiknya aku pulang sekarang” Sehun melepaskan genggaman tangan Cheonsa dan bergegas pergi.

“Oh ya, dimana Chen hyung? Sampaikan salamku padanya. Dan baju ini.. akan kukembalikan secepatnya” Sehun berusaha untuk menutupi rasa kecewanya. Ia mencoba tersenyum pada Cheonsa, tapi Cheonsa tahu, pasti Sehun benar-benar sakit hati dan kecewa. Ia menatap punggung Sehun yang makin menjauh dengan tatapan bersalah.

♣♣♣♣

            Sehun meremas rambutnya frustasi. Yeoja yang ia cintai, tak membalas cintanya. Harusnya ia dapat memaklumi itu, karena mereka sudah bersahabat sejak lama, sehingga tak mungkin Cheonsa memiliki rasa yang lebih terhadapnya. Sehun merasa dirinya hancur, ia menyesali cintanya pada sahabatnya sendiri, Kim Cheonsa. Hujan masih turun sangat deras, namun Sehun seolah tak peduli, ia tetap terus berjalan tanpa terburu-buru maupun berteduh. Pikirannya masih melayang pada kejadian di rumah Cheonsa tadi. Kekecewaan jelas terukir di hatinya.

♣♣♣♣

            “Hei gadis jelek, sampai kapan kau terus disitu? Ini sudah sampai tahu!” ujar Jongdae pada gadis yang diboncengnya.

“Mwo? Omo, aku tak sadar kalau sudah sampai” kata Cheonsa sambil turun dari motor Jongdae.

“Apa yang ada di pikiranmu? Apa kau masih memikirkan kejadian kemarin?”

Aniyo, kau ini sok tahu sekali oppa” Tentu saja Cheonsa berbohong. Sebenarnya sejak tadi ia memikirkan Sehun.

Geotjimal. Kau pasti sedang memikirkan Sehun” Jongdae mencibir, ia tidak bisa dibohongi adiknya sendiri. Cheonsa hanya terdiam.

“Sudahlah, kau tak perlu khawatir. Aku yakin hubungan kalian akan baik-baik saja” kata  Jongdae sambil mengelus rambut dongsaeng­-nya.

Cheonsa tersenyum, ia bersyukur mempunyai oppa yang begitu sayang dan peduli padanya. Walaupun tingkahnya kadang-kadang menyebalkan.

Gomawo oppa. Aku juga yakin Sehun dan aku akan baik-baik saja”

“Nah, kalau begitu cepat masuk sana, gadis jelek!” Jongdae menyentil dahi Cheonsa.

“Aish! Awas kau oppa!” gadis itu mencoba membalas, namun Jongdae buru-buru pergi melaju dengan motornya.

“Cheonsa-ya, annyeong!” sapa seorang gadis cantik bernama Sulli. Ia berlari-lari kecil dari gerbang sekolah menuju tempat Cheonsa berdiri.

Annyeong, Sulli-ah” balas Cheonsa sambil tersenyum.

“Hari ini kau tidak berangkat bersama Sehun? Tumben sekali?” Sulli menatap Cheonsa bingung. Setiap hari Cheonsa dan Sehun selalu berangkat bersama dan baru kali ini Sulli melihat Cheonsa tidak berangkat sekolah bersama Sehun.

“Eh, itu… memangnya kenapa? Sekali-kali  kan aku ingin diantar Chen oppa, hehehe”  jawab Cheonsa sedikit gugup. Namun Sulli sama sekali tidak menyadarinya, ia hanya mengangguk-angguk tanda mengerti.

Saat Cheonsa dan Sulli memasuki kelas, Cheonsa melirik ke arah bangku yang biasa ditempati Sehun, tapi bangku itu masih kosong. ‘Kemana perginya anak itu, apa dia tidak masuk sekolah?’ batin Cheonsa. Tak lama kemudian pertanyaan Cheonsa terjawab sudah, Sehun memasuki kelas dengan mengenakan jaket yang cukup tebal, sesekali terdengar suara bersin dari mulutnya. Tampaknya Sehun sedang sakit.

Dengan sedikit gugup,Cheonsa berjalan ke bangku Sehun yang tak jauh dari bangkunya.

“Sehun-ah, kau sakit? Pasti gara-gara kehujanan kemarin” Cheonsa menempelkan punggung tangannya ke dahi Sehun.

“Sudahlah Cheonsa, aku tidak apa-apa” Sehun menepis tangan Cheonsa dan langsung pergi keluar kelas. Cheonsa sempat terkejut akan reaksi Sehun, namun ia berusaha untuk menerimanya, ‘Mungkin ini ujian untuk persahabatan kita’ pikir Cheonsa.

♣♣♣♣

            Sehun pergi meninggalkan kelas menuju ke taman sekolah. Ia tak peduli jika ia harus meninggalkan jam pelajaran pertama, pikirannya benar-benar suntuk dan kepalanya benar-benar pusing. Ia merebahkan tubuhnya di atas rumput hijau yang menghiasi taman itu. Ia teringat saat ia menepis tangan Cheonsa tadi. Ia menyadari, tindakannya cukup kasar pada Cheonsa. Padahal ia tahu Cheonsa ingin memberi perhatian pada Sehun seperti yang dilakukannya sudah-sudah.

“Cheonsa-ya, mianhae..” gumamnya. Sehun mengerti, Cheonsa pasti tidak enak hati karena kejadian kemarin dan berusaha bersikap seperti biasa. Namun saat ini hatinya masih terlau sakit menerima kenyataan bahwa Cheonsa tidak mencintainya. Setidaknya ia butuh waktu untuk menyembuhkan luka hatinya dan bersikap seperti biasa. Ia juga tak ingin perasaannya pada Cheonsa merusak persahabatan mereka yang terbangun sejak lama.

Tiba-tiba seorang namja datang menghampiri Sehun dan langsung merebahkan dirinya di samping Sehun.

“Sehun-ah, apa yang kau lakukan disini?” kata namja bernama Park Chanyeol itu sambil menatap langit.

“Kau sendiri juga sedang apa hyung, disini?” jawab Sehun sambil mencibir.

“Shim Songsaenim belum datang, makanya aku keluar kelas dan menemukanmu disini. Kau membolos pelajaran ya? Dasar murid nakal” Chanyeol meninju pelan lengan Sehun.

“Aish, aku sedang suntuk hyung. Makanya aku kesini”

“Sedang ada masalah?”

“Ya, ada sedikit masalah hyung

“Masalah wanita?” tebak Chanyeol asal. Sehun hanya diam tak menjawab.

“Hm, kalau kau tidak ingin cerita juga tidak apa-apa” kata Chanyeol masih menatap langit.

Lagi-lagi Sehun hanya diam. Chanyeol akhirnya menoleh ke arah Sehun. Ia melihat wajah Sehun yang agak pucat.

“Sehun-ah, kau sakit?” tanya Chanyeol sambil bangkit dan duduk mendekati Sehun.

“Hanya sedikit flu. Kenapa kau begitu cemas hyung?” kata Sehun sambil sedikit tertawa.

“Kenapa kau tidak ke ruang kesehatan? Malah tidur-tiduran disini. Perlu kuantar?”

“Aku bukan anak kecil hyung. Sudahlah, aku hanya sedkit flu. Tak perlu khawatir seperti itu”

Chanyeol menyerah, ia akhirnya bangkit dan berdiri karena ia melihat Shim Songsaenim akan memasuki kelasnya.

“Ya sudah. Kalau begitu jangan lama-lama disini. Aku harus kembali ke kelas sekarang” kata Chanyeol sambil menepuk pundak Sehun.

“Belajar yang rajin ya hyung!” teriak Sehun saat Chanyeol mulai menjauh.

Chanyeol membalikkan badan dan berteriak “Cerewet!”

Sehun hanya tertawa kecil melihat sunbae-nya yang sedikit kekanakan itu.

♣♣♣♣

            Seminggu semenjak kejadian itu, hubungan Cheonsa dan Sehun mulai membaik. Hari ini, mereka berangkat dan pulang sekolah bersama lagi.  Dan rencananya, hari ini sepulang sekolah Cheonsa akan menemani Sehun berjalan-jalan.

“Kalian sudah berbaikan lagi?” tanya Sulli heran mchenhat Sehun dan Cheonsa yang sudah tidak canggung lagi seperti sebelumnya.

“Memangnya siapa yang bertengkar?” Cheonsa tertawa.

“Seminggu belakangan ini kalian kelihatan seperti sedang bertengkar”

“Ah, itu hanya perasaanmu saja Sulli-ah” jawab Cheonsa berpura-pura.

“Hm, begitu ya. Ngomong-ngomong, pulang sekolah nanti temani aku ke toko buku ya”

Mianhae Sulli-ah. Aku sudah ada janji dengan Sehun” Cheonsa menatap Sulli penuh sesal.

Sulli hanya memanyunkan bibirnya karena kecewa.

♣♣♣♣

“Sebenarnya kita mau kemana?” Cheonsa bingung karena sedari tadi Sehun tidak memberitahu kemana mereka akan pergi.

“Ayo turun” kata Sehun sambil mematikan mesin motornya. Lalu ia menggandeng tangan Cheonsa memasuki sebuah toko olahraga.

“Kenapa kau membawaku kemari?”

“Eum, sebenarnya aku minta kau menemaniku membeli perlengkapan untuk pertandingan baseball bulan depan” Sehun mengusap-usap tengkuknya, canggung.

Mwo?             Jadi kau ikut pertandingan baseball di Incheon bulan depan?” Cheonsa membulatkan kedua matanya.

“Ya, begitulah” Sehun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Aigoo, kenapa kau tidak cerita kalau kau terpilih di seleksi itu? Chukhaeyo Sehun-ah” seru Cheonsa kegirangan sambil memeluk Sehun. Ia merasa senang melihat Sehun terpilih menjadi salah satu pemain yang akan bertanding di pertandingan baseball tingkat nasional.

Sementara Sehun masih bingung dengan perasaannya, antara sedih atau senang. Di satu sisi ia kaget Cheonsa memeluknya, di satu sisi lain ia tahu pelukan itu hanya pelukan seorang sahabat yang turut bergembira atas kebahagiaannya.

“Jadi minggu depan kau sudah harus berangkat ke Incheon?” Cheonsa mengendurkan pelukannya sambil menatap Sehun yang lebih tinggi darinya itu dengan gembira.

“Tentu saja, aku kan harus mengikuti latihan intensif selama dua minggu sebelum pertandingan” Sehun tersenyum bangga.

“Waah, keren. Temanku ini ternyata seorang atlet baseball berbakat” Cheonsa menyikut lengan Sehun pelan.

“Hahaha. Kau jangan merindukanku ya, selama aku pergi”

“Aish, siapa yang mau merindukanmu. Ngomong-ngomong kau tidak ingin mentraktirku akan keberhasilanmu ini?”

Sehun tampak berpikir, sedetik kemudian ia telah menemukan jawabannya,

“Bagaimana kalau kita akan es krim saja?”

“Ide bagus Sehun-ah” Cheonsa tersenyum senang.

♣♣♣♣

Sehun dan Cheonsa sudah sampai di depan sebuah kafe. Kafe itu terlihat ramai dipenuhi banyak orang. Maklum, sekarang adalah jam makan siang, wajar saja kafe itu begitu ramai. Apalagi, kafe bernama ‘Embrasser Café’ itu memang cukup terkenal di kalangan masyarakat.

“Kau yakin kita akan makan es krim disini?”

“Memangnya kenapa? Tenang saja, es krim disini dijamin enak” kata Sehun sambil mengacungkan jempolnya.

“Bukan begitu, kau lihat sendiri kan kafe ini sangat ramai. Apa ada tempat yang kosong?”

“Sudahlah, kita masuk saja dulu” Sehun menarik tangan Cheonsa untuk segera memasuki kafe itu.

Benar saja. Kafe  bergaya Prancis itu rupanya sudah penuh.Cheonsa dan Sehun sampai berputar-putar mencari tampat kosong. Namun nihil. Saat mereka akan beranjak untuk pergi, seorang namja datang menghampiri mereka.

“Sehun-ah!” ternyata namja itu adalah Park Chanyeol.

“Chanyeol hyung?”

“Sedang mencari tempat kosong?” Sehun lupa bahwa pemilik kafe itu adalah noona-nya Chanyeol. Park Yoora.

“Ah, iya hyung. Bisa kau bantu kami?”

“Di atas masih ada banyak tempat yang kosong” kata Chanyeol sambil menunjuk ke arah tangga.

“Hyung, bukannya tempat itu khusus untuk tamu-tamu VIP?”

“Kau juga kan tamu VIP-ku. Hahaha. Oh ya, khusus hari ini kalian boleh pesan apa saja, gratis untukmu dan juga nona…” kata-kata Chanyeol menggantung karena Chanyeol belum mengetahui nama Cheonsa.

“Cheonsa. Kim Cheonsa” Cheonsa mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Chanyeol.

“Oh, namaku Park Chanyeol. Kau anak klub dance kan?”

“Ne. Kenapa sunbae bisa tahu?”

“Ah, kebetulan saja aku pernah melihatmu sewaktu latihan” ujar Chanyeol sambil tersenyum.

♣♣♣♣

Sehun dan Cheonsa telah menghabiskan es krimnya masing-masing. Mereka hendak pulang, namun wajah mereka masih dipenuhi banyak lelehan es krim. Karena Sehun dan Cheonsa memakan es krim mereka sambil mencolekkan es krim satu sama lain.

“Yah, wajahku jadi belepotan es krim. Aku ke toilet dulu ya”

“Aku juga mau ke toilet, wajahku yang tampan ini juga sudah ternoda es krim-mu”

“Aish, siapapun yang bilang kau tampan pasti orang yang rabun” ledek Cheonsa.

Sehun sudah keluar dari toilet, sambil menunggu Cheonsa, Sehun menemui Chanyeol yang sedang duduk di pojok kafe sambil memainkan laptopnya.

“Hyung, gomawo atas es krim gratisnya” kata Sehun sambil menepuk pundak Chanyeol

Cheonmaneyo, anggap saja itu ucapan selamat dariku atas keberhasilanmu masuk seleksi tim baseball”

“Sekali lagi, gomawo hyung”

“Oh ya, ngomong-ngomong Cheonsa itu yeojachingu-mu?” mendengar pertanyaan itu Sehun tersenyum pahit.

“Bukan hyung. Dia hanya teman”

“Jinjjayo? Tapi kalian terlihat mesra sekali tadi, seperti pasangan kekasih. Kau yakin kalian tidak berpacaran?”

Sehun mengangguk. Mendengar kata-kata Chanyeol hati Sehun mencelos. Seandainya saja Chanyeol tahu bahwa Sehun mencintai Cheonsa dan ia menginginkan hal itu menjadi nyata.

“Sehun-ah, oh.. Chanyeol sunbae..” Cheonsa menepuk pundak Sehun dari belakang, ia cukup terkejut karena tadi ia mengira Sehun sendirian, ternyata ia sedang mengobrol dengan Chanyeol yang duduk berhadapan dengan Sehun.

“Cheonsa-ya, tak perlu memanggilku begitu, panggil oppa saja”

“Ah, ne. Chanyeol oppagomawo telah mentraktir kami tadi” kata Cheonsa sedikit membungkukkan badannya.

Cheonmaneyo, lain kali sering-seringlah datang kemari”

“Ne oppa”  jawab Cheonsa sambil tersenyum.

Hyung, kami pulang dulu ya. Gomawo hyung” Sehun menggandeng tangan Cheonsa untuk segera pulang.

“Ya. Hati-hati di jalan”

♣♣♣♣

Pertandingan baseball tingkat nasional telah berakhir, kini saatnya Sehun kembali ke Seoul. Ia tak sabar untuk menemui Cheonsa, orang yang paling dirindukannya. Tiga minggu sudah mereka tidak bertemu, bahkan sms atau telepon saja jarang sekali. Karena memang Sehun sangat disibukkan dengan latihan intensif.

Setelah meninggalkan rumahnya, Sehun langsung melangkahkan kakinya ke rumah Cheonsa yang  jaraknya tak jauh dari rumahnya. Ia benar-benar merindukan gadis itu, sengaja ia tak mengabari Cheonsa kalau dia sudah kembali ke Seoul sebagai kejutan nantinya.

Sehun memasuki gerbang rumah Cheonsa dan mendapati sebuah motor terparkir disana. ‘Apa ini motor baru Chen hyung? Tapi rasanya aku pernah melihat motor ini sebelumnya..’ pikir Sehun. Seingat Sehun, motor milik Chen hyung tidak seperti ini. Sehun tidak ambil pusing dengan hal itu, ia memencet bel rumah Cheonsa dengan tak sabar. Akhirnya, gadis yang paling ditunggunya itu membukakan pintunya. Senyum terpancar dari wajah Sehun, namun sedetik kemudian wajahnya itu berubah menjadi penuh tanya.

“Sehun-ah! Sejak kapan kau kembali? Aigoo, kenapa tidak mengabariku?” pekik Cheonsa sambil memeluk Sehun.

“Sehun-ah, akhirnya kau kembali  ke Seoul” Bingo! Akhirnya Sehun tahu siapa pemilik motor itu.

-To be continued-

Kekeke, mianhaeyo readers.Terpaksa saya cut sampe sini biar gak kepanjangan. Pasti ceritanya gampang ketebak ya? Maklum saya kan author paling tidak kreatif yang pernah ada. Hehe, gomawo udah mau membaca FF ini. Ppyong~♥

 

Iklan

14 pemikiran pada “Mon Ami (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s