Yours, Only Me (Chapter 3 : Quality Time)

Title                 : Yours, Only Me (Quality Time)

Author             : Leon

Genre              : Romance

Length             : Series

Rating             : PG-15

Main Cast        : Park Chanyeol (EXO) ; Choi Inhi (OC)

YOM (QTIME)

FYI , setiap chapter Yours, Only Me akan selalu selesai sesuai sub-judul yang aku cantumin di atas. Bisa baca duluan yang mana aja, tapi biar lebih jelas dari awal ya, tq! 😀

***

“Kau sadar, tidak, jantungmu kacau sekali? Apa selalu begini ketika bersamaku?”

 

Bila dihitung sudah lima hari sejak aku pindah ke rumah Chanyeol. Selama itu pula aku dan Chanyeol seolah berlomba-lomba untuk menjadi orang paling sibuk. Aku yang disibukkan dengan skripsi yang hampir selesai setiap hari harus berhadapan dengan laptop berjam-jam. Salahkan juga pembimbingku yang katanya sibuk itu susah sekali untuk diajak bertemu. Padahal aku hanya ingin memastikan beberapa hal yang kurang mengerti.

Seolah belum cukup, pekerjaan mengurus Chanyeol pun ikut membebani. Aku sendiri sebenarnya dalang dari semuanya. Aku yang meminta pelayan rumah tangga Chanyeol untuk memberikan tugas mencuci-gosok pakaian dan memasak padaku saja. Satu hal yang kupikirkan saat mengambil keputusan ini adalah aku tidak mau ada wanita lain yang errr.. Melihat dan memegang pakaian dalam Chanyeol. Okay, ingatkan aku untu mencuci otak setelah ini karena tiba-tiba saja bayangan khas orang dewasa memenuhi otakku.

Lalu soal Chanyeol, wooo~ pria itu betul-betul sibuk. Selama 5 hari ini aku bertemu dengannya hanya ketika sarapan dan malam hari ketika dia pulang. Waktu malam pun aku terus menerus melihat tubuhnya dilingkupi kaus dengan rambut basah. Dia juga selalu memberiku pakaian berkeringat selepas olahraga malam ketika sampai di rumah. Pernah kutanya kenapa dia tidak ikut aku jogging pagi bersamaku saja, daripada malam-malam harus lari sendirian di stadion. Dan dia jawab dengan 2 kata 1 makna, ‘aku sibuk’ , itu. Kalau aku jadi dia, tentu aku lebih memilih olahraga pagi saja, karena kebetulan ada yang menemani. Daripada olahraga sendirian, malam-malam pula. Siapa tahu akan ada err.. sesuatu. Tapi lagi-lagi kasusnya disini, dia Chanyeol, bukan Inhi.

“Errr Inhi..” Aku menoleh sedikit dan mendapati Chanyeol menghampiriku dengan wajah yang.. Stress? Tangan kanannya menggenggam sehelai dasi berikut tangan kirinya yang bergerak asal menggaruk rambutnya. Pria itu berjalan pelah ke dapur lalu menyandarkan bokong di meja bar yang berada di seberang kitchen set.

“Kenapa, Nyeol?” Tanyaku sambil mengangkat piring sandwich ke meja bar. Melepas apron, lalu menggantungnya di tempat awal.

“Bantu aku pakai dasi.” Chanyeol sudah berdiri lalu mengikutiku yang kini sibuk menaruh semua alat memasak kotor ke dishwasher.

“Jangan seperti anak kecil. Mengikat dasi saja tidak bisa.”

“Fyi, aku memang tidak bisa.” Seketika aku menatapnya horor.

“Selama ini pembantuku selalu menyimpulkan dasi-dasi sebelum di gantung di lemari,” lanjutnya dengan tangan menggoyang-goyangkan dasi dengan wajah yang lebih kusut.

Oh okay, pria ini aneh. Baru kali ini aku bertemu laki-laki workaholic yang tidak bisa mengikat dasi. Konyol. Tanpa perlu berkata apa-apa, aku segera mengambil dasi dari tangannya, mengalungkan di lehernya, dan mulai menyimpulkan dasi itu. Fakta soal tinggiku yang hanya sebatas lehernya sedikit membuatku terintimidasi. Tanpa perlu menoleh pun aku tahu Chanyeol sedang menatapku dengan senyum tanpa alasannya itu.

“Dahimu lebar. Seperti lapangan terbang,” ujar Chanyeol sambil menjentik-jentikan jarinya pelan di keningku yang terbuka. Memang kali ini aku mengikat poniku ke atas, panas.

“Pantas saja kau selalu pakai poni,” lanjut Chanyeol namun kali ini dia menusuk-nusuk jarinya di poniku yang kurasa mekar saat diikat itu. “Kau tahu rumput yang biasa digambar anak tk? Nah, ponimu terlihat seperti itu.”

“Sesukamu, lah, Nyeol,” ucapku bertepatan dengan simpulan akhir dasi itu lalu menariknya ke atas hingga berada tepat di bawah kerah.

“Bisa kau taruh sandwich itu ke kotak makan saja? Aku harus ke kantor lebih pagi hari ini.”

Aku mendelik cepat ke arah Chanyeol yang tengah menyesap kopi paginya. Dia balas memandangku dengan mata besarnya yang terlihat bodoh.

“Kenapa?” Tanya Chanyeol lalu menjauhkan cangkir kopi dari bibir.

“Sarapan tidak sampai 20 menit, Nyeol. Segitu sibuknya?”

Chanyeol mengangkat alis, terlihat bingung dan lagi-lagi bodoh. Atau mataku saja yang sejalan dengan kesensianku pagi ini. Pria itu berjalan mengambil piring sandwichnya lalu menaruhnya di atas tanganku.

“Kalau begitu suapi selagi aku menyiapkan presentasi,” ujarnya lalu berjalan keluar dapur. Aku pun mengikutinya dengan piring sandwich di tangan. Chanyeol duduk di single sofa ruang tv dengan macbook terbuka di depannya. Dahinya mengerut, berikut jari-jari keritingnya yang bergerak lincah di atas keyboard.

Aku mendudukkan diri di ujung sofa—yang pria itu duduki—sambil menyuapinya. Layar macbook Chanyeol menampilkan banyak sekali grafik, tulisan, dan bagan yang entah aku tidak mengerti sama sekali. Tidak sampai 15 menit piring yang berisi 2 lapis sandwich itu sudah habis. Entah karena lapar atau diburu waktu, tapi kurasa alasan kedua yang lebih besar kemungkinannya.

“Hari ini kau kemana?” Tanya Chanyeol setelah memasukkan kembali macbooknya ke dalam  tas.

“Tidak kemana-mana,” jawabku sambil mengimbangi langkah Chanyeol yang lebar ke depan pintu.

“Serius?” Tanyanya lagi dengan tatapan tidak percaya.

“Hum~ Aku hanya menyelesaikan skripsi di rumah, mencoba resep baru untuk makan malam, lalu menunggumu pulang.”

Chanyeol mengangkat alis, “Menungguku pulang?”

“Iya, Park Chanyeol!”

“Jangan sedih begitu, sayang.”

“I’m not!”

“Yes, you are.”

“In your dream!”

“Am I sleeping?”

“Sudahlah, berangkat sana! Aku tidak mau kau terlambat!” Seruku lalu menariknya hingga dia sudah duduk dibalik kemudi. Chanyeol tersenyum jahil, mengelus pipiku sesaat lalu kembali berujar, “Mukamu merah.” Saat itu juga dia langsung melesatkan Pajero-nya keluar halaman.

“Astaga, kau masih bisa-bisanya menggodaku, Nyeol,” gumamku yang sebenarnya hanya didengar diriku sendiri dan kembali ke rumah. Skripsi yang hampir jadi menungguku. Haaah, andai skripsi bisa instan seperti hidup Park Chanyeol.

***

Sesuai perkataanku pada Chanyeol, kini aku berkutat di depan laptop dengan kacamata bertengger di hidung. Perhatian yang seharusnya kucurahkan pada benda hijau menyala di depanku ini malah terbang kemana-mana. Ingin rasanya aku menjedukkan kepala ke layar, menutupi rasa malu yang datang terlambat ini. Seandainya apa yang dikatakan Chanyeol benar bahwa pipiku bersemu merah, tentu aku akan segera menutupi pipiku tadi. Hanya saja, itu akan terlihat terlalu kentara jika aku langsung melakukannya. Jadi yang kulakukan hanyalah berdiri di tempat, membiarkannya menggodaku sesuka hati. Nah, kenapa aku melantur begini?

Sekali lagi kuikrarkan pada diri sendiri, skripsi menungguku, dan aku menargetkan skripsi tersebut selesai lusa. Setelah itu aku langsung mengajukan skripsi ini, berdoa supaya dosen pembimbingku tidak menyulitkanku dengan meyuruh koreksi, dan terakhir sidang. Aah~ memikirkannya bisa membuatku mendadak jadi pemimpi. Lihat saja, aku akan menagih hadiah pada Chanyeol kalau aku lulus.

***

“Kau benar-benar menungguku pulang?”

Aku menganggukkan kepala gugup dan tiba-tiba merasa konyol sendiri. Hampir setiap hari jam 6 sore aku selalu duduk di sofa ruang tamu untuk menunggu Chanyeol pulang. Dan untungnya Chanyeol selalu datang beberapa menit setelah aku duduk. Kalau dipikir lebih detail aku bingung tentang bagaimana statusku di rumah ini, bagaimana anggapan Chanyeol tentang aku, dan bagaimana lain yang membuatku bingung dalam satu waktu.

Aku menyumpah dalam hati saat pria itu dengan semena-mena memberikan tas kerja super berat, berikut jas dan dasi ke tanganku. Membuat segala khayalanku menyublim layaknya kapur barus.

“Aku bertanya padamu, Nona Choi.”

“Ya, memangnya apalagi yang bisa kulakukan?” Aku menaruh tas kerja Chanyeol di sofa panjang yang ada di kamar, berikut jas dan dasinya ke tempat cucian kotor. Chanyeol tiba-tiba memandangku sendu dengan sebelah tangan memijat tulang hidung.

“Pusing!” Erangnya kemudian menjatuhkan kepalanya di pundakku sementara kedua tangannya memelukku ringan. Seolah menyandarkan tubuh sepenuhnya padaku. Ugh, berat! Tapi bagaimanapun aku tidak tega. Ketika melirikpun yang kudapati hanya wajah letih Chanyeol yang memejamkan mata.

“Itu karena terlalu banyak bekerja. Bandel!” Kusisir rambutnya yang terasa sedikit kasar dengan tanganku. Chanyeol mengerang pelan. Dan kurasa itu cukup membuktikan dia benar-benar sakit.

“Kau sudah makan?” Tanyaku lagi sambil meletakkan telapak tangan di keningnya. Tidak hangat. Tahu-tahu saja aku menghembuskan napas lega. Chanyeol menggeleng dan pelukannya di pinggangku semakin erat.

“Mandi lalu makan malam. Aku akan membuatkan sup..” Kemudian hening, sementara kami terus berpelukan. Aku membiarkan Chanyeol membenamkan kepalanya ke leherku, membiarkan dia berbuat sesuka hati selama itu membuatnya nyaman.

“Bukannya kau mau mencoba resep baru?”

“Tidak jadi. Kau sakit, dan terlihat menyedihkan.”

Chanyeol bergeming, hanya mengembuskan napas yang langsung mengenai kulit leherku. Rasanya errr.. Geli.

“Mandi dulu sana, Nyeol. Sudah kusiapkan air hangat.” Tubuh tinggi pria itu langsung berdiri sementara matanya mengerling jahil. “Mandikan aku, dokter Choi!” Ujarnya girang sambil melompat-lompat di tempat. Demi mantra sihir Ara, kenapa Chanyeol semakin hari semakin pervert?!

“Park Chanyeol!”

“Arasso-arasso.” Chanyeol mengambil handuk berikut kaos dan celana pendek lalu masuk ke kamar mandi dengan langkah lunglai.

***

Setelah makan malam, Chanyeol kembali menarikku ke kamar untuk menemaninya tidur. Cih, rasanya aku harus mengingatkannya kalau berbaring setelah makan berpotensi menjadi gemuk. Dan di sinilah aku, di atas tempat tidur ukuran king milik Chanyeol.

Pria itu mendekapku erat, seolah-olah takut bila dia melepasnya sedetik saja aku akan lari. Tidak berbeda seperti tadi dia memelukku sebelum mandi. Bedanya hanya sekarang kami berbaring dengan kaki dalam selimut yang saling mengait.

Aku hampir mengira Chanyeol tidur kalau saja tidak berkata, “Rambutmu wangi. Tubuhmu juga. Kau sadar tidak kalau aromamu seperti bayi? Atau permen ya?” Tanya pria itu sambil sibuk menciumi baju yang kupakai dan rambutku yang berserakan di bantal.

“Kurasa kau sudah menemukan jawaban soal peralatan bayi yang kubeli si supermarket waktu itu.”

Chanyeol mengerutkan alisnya sesaat sebelum akhirnya tertawa.

“Aku sempat mengira kau menjadi babysitter dadakan saat aku kerja.”

Chanyeol membenamkan wajahnya ke dadaku. Kalau tidak mengingat kepalanya yang pusing aku sudah mendaratkan 5 jitakan di kepalanya saat ini juga. Karena.. Dia kembali menjadi Park Chanyeol yang mesum setelah melewati 5 hari menjadi Park Chanyeol sang businessman super sibuk. Dan kekanakan tentu saja. Satu hal yang aku harap dengan sangat sekarang, semoga pria ini tidak menyadari jantungku yang berdebar keras. Bukan debaran takut yang menyakitkan, lebih kepada debaran jantung yang memiliki sensasi tersendiri untuk dinikmati.

“Kau sadar, tidak, jantungmu kacau sekali? Apa selalu begini ketika bersamaku?” Shit that heart. Chanyeol terkekeh sambil membuat suara yang menggambarkan detak jantungku.

Aku tidak menyahut apapun sampai Chanyeol melanjutkan, “sebegitu nervous-nya bersamaku, eoh?”

“Sure not!”

“Definitely yes!”

Aku menghela napas. Tidak ada gunanya juga aku berbohong kalau Chanyeol bahkan tahu yang sebenarnya.

“Ada hal yang lebih kukhawatirkan daripada jantungku, Nyeol.”

“Apa?”

“Aku akan menyerahkan skripsiku lusa. Aku.. Bingung.”

“Bingung kenapa?”

“Bagaimana kalau skripsiku dapat banyak koreksi? Lebih parah lagi ditolak. Lalu jadwal sidangku akan diundur? Dan.. Dan.. Aku..”

“Sebenarnya sekarang aku atau kau yang pusing?”

“Nyeol.. I’m serious!”

“So am I.”

“Aaarrhh~ stress!”

“Confident, pray, and.. Kiss me. I’m sure u’ll pass faster.”

“Tsk~”

Aku berusaha mendorong tubuh Chanyeol menjauh. Bisa-bisanya pria itu bercanda disaat aku sedang sebegini sensitifnya soal skripsi. Salahkan siapa dan apapun yang membuatku seperti ini.

“Aku hanya bercanda,” ucap Chanyeol teredam karena dia memelukku lebih erat hingga rasanya sesak. Aku butuh oksigen secepatnya!

“Aku tidak bisa bernapas, Nyeol!”

Pria itu melonggarkan pelukannya berikut memijat punggung bagian bawahku perlahan. Tanganku sendiri bergerak mengusap bahunya yang hanya ditutupi sehelai t-shirt hitam tipis.
“But I’m serious about, yah.. Confident and pray. Nothing else you can do.”

“Kau dulu sepertiku juga?” Tanyaku lalu mencium rambutnya diam-diam. Bersamaan dengan itu aroma mint khas shampoo laki-laki terhirup dan aku menyesal. Menyesal karena nyatanya aku tidak bisa berhenti mencium rambutnya ini.

“Tidak juga sih, aku kan pintar,” ucapnya lalu tertawa bangga. Aku memutar bola mata, merasa bertanya pertanyaan yang salah.

“Ngomong-ngomong, kau ingat janjimu saat kita masih di rumah orang tuamu, tidak?” Tanyaku mengalihkan topik. Aku tidak bisa membiarkannya tertawa dengan suara besar terlalu lama. Di samping dia sakit, aku juga bisa ikut berpotensi sakit kepala karena suara beratnya itu.

Chanyeol mengangkat kepala menatapku. Kali ini aku bersorak dalam hati, karena tinggi Chanyeol jelas-jelas dibawahku saat ini. “Yang mana, baby?”

“Itu.. Cerita kenapa aku bisa berakhir bersamamu seperti ini.”

“Ooh, kau mau tahu?” Tanya Chanyeol lagi.

Aku terkekeh lalu menjentik dahinya, “jangan sok serius begitu. Mau flashback saat di pesta anniversary?”

Chanyeol tertawa, “tidak juga, sih. Ringkas saja ya? Aku tidak tahu harus memulai dari mana.”

Aku mengangguk mengiyakan. Selagi membiarkannya berpikir tanganku sendiri bergerak di luar kendali mengelus pipinya.

“Waktu itu ayahmu datang ke rumah orang tuaku. Kebetulan aku ada di rumah, jadi aku tahu apa yang mereka bicarakan. Ayahmu bilang dia tidak sanggup membayar hutangnya dan meminta appa yang mencari cara apapun asal ayahmu bebas dari hutang. Setelah berpikir dan melihatku menyebrangi ruang tamu, appa setuju melunaskan hutang-hutang ayahmu dengan memberi seorang putrinya untuk menjadi asistenku. Atau bahasa kasarnya sebut saja pelayan. Ayahmu awalnya tidak setuju, dia sangat menyayangi kau dan adikmu, kau tahu?”

Aku menganggukkan kepala sekali lagi. Tidak tahu harus menyahut apa lantaran otakku yang saat ini hanya mampu menyerap dan berusaha mengingat setiap perkataan Chanyeol.

“Tapi akhirnya ayahmu setuju setelah berpikir cukup lama. Beliau berkata akan menyerahkan anak bungsunya, tapi aku mengacaukannya dengan memintamu. Salahkan dirimu sendiri karena membuatku tertarik saat pesta anniversary itu. Mengingatnya membuatku malu. Aku terlihat agresif sekali, ya, waktu itu?”

Aku tertawa dan mengangguk lagi. Kalau dipikir-pikir, aku juga tidak kalah agresif ketika menciumnya dengan membabibuta saat itu. Sekarang apa aku harus menyalahkan diriku atas apa yang sudah terjadi hingga saat ini? Kurasa tidak. Karena.. Keadaan sekarang tidaklah buruk.

“Appa pernah bilang, semua putri Jong Hwan Ahjussi itu berkelas, berpendidikan. Jadi kalau aku tiba-tiba jatuh cinta pada salah satu yang bersamaku sekarang, appa tidak perlu khawatir aku salah pilih. Hah, awalnya kukira appa berlebihan tapi ternyata..”

“Ternyata?”

“Tidak jadi!”

“Kau menyebalkan!” Aku sontak menggelitik pingganya hingga suara tawanya memenuhi seisi kamar. Membuat tubuh kami yang awalnya berada di tengah menjadi di pinggir tempat tidur dengan tubuhku yang akan jatuh kalau dia melepas pelukannya.

“Ahahahah~ berhenti, jebal. Kita bisa jatuh, Inhi!” Perintahnya dan aku benar-benar berhenti menggelitiknya. Tawanya mereda seiring tubuhku yang diseret hingga kembali di tengah tempat tidur. Dia tidak mau melepas pelukannya sedetikpun. \(OuO)/

“Kau menganggap statusku apa sekarang?” Tanyaku ketika dia mendongak. Kusentuh segala bagian pada wajahnya. Dan seolah menikmati, Chanyeol menutup mata sambil terkekeh senang.

“Yang pasti bukan asisten, pelayan, atau yang sederajat.”

“Lalu apa?” Tanyaku lagi, menatapnya dengan perasaan tak karuan.

“Menurutmu? Arrhh~ Ngantuk! Tidur!” Ucap Chanyeol tidak jelas lalu dengan semena-mena mematikan lampu dan menarik selimut hingga batas dada.

“Aku akan menagih hadiah kalau sudah lulus nanti. Lihat saja,” ucapku lalu mengacak-ngacak rambutnya gemas.

“Mau apa memangnya? Mobil? Rumah? Rumah sakit? Atau jangan-jangan.. Kau mau aku ya?” Dalam kegelapanpun aku masih bisa melihat matanya mengerling jahil, bersamaan dengan senyuman lebar yang mengembang di wajah tampannya. Ya, tampan. Aku tidak mau munafik.

“Mesum! Akan kupikirkan nanti.”

“Asal tidak sampai bingung ya mikirnya.”

“Haah! Kalau aku tidak menyayangimu, wajahmu sudah penuh cakaranku, Nyeol! Geramku kesal.

“Apa kau bilang? Kau menyayangiku?”

“…”

Aku menutup wajah dengan selimut.

“Kau bilang menyayangiku, kan, tadi?”

“…”

“Ayolah jawab, baby? Hunny? Sweetie?”

“Menurutmu?” Tanyaku balik lalu membalikkan badan. Memunggunginya.

“Aku juga menyayangimu, baby In.. Muaahh!”

Astagaaa, Chanyeol mengecup leherku! Mesum!!!

***

Iklan

39 pemikiran pada “Yours, Only Me (Chapter 3 : Quality Time)

  1. di tunggu lanjutannya .. keren banget lho… jangan lama lama y plis… satu kata buat author “keren abiz”…
    semangat buat author….

  2. aduh aduh makin so swett ^_^
    makin semangat utk di bca lagi, coz ff ini bner2 GA bikin bosen 😀
    yeey slamat utk authornya atas inspirasinya yg WaW bgt 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s