Heir & Heiress (Chapter 2)

JUDUL: HEIR & HEIRESS, Chapter 2: New life: Unexpected

RATING: PG-15 | GENRE: SCHOOL LIFE, ROMANCE, A LIL BIT ANGST | LENGTH: MULTI CHAPTER | AUTHOR : NANDANI P (@nandaniptr) & SAGITA T (@sagitrp) |MAIN CAST&SUPPORTING CAST : YOON HAERA (OC), OH SEHUN(EXO-K), LUHAN (EXO-M)(soon), SOOJUNG (F(X)). & the others, find by your own.

 18___

FOREWORDS:

@sagitrp: annyeong haseyo /bows/ makasih banget buat yang udah nyempetin baca chapter 1, dan maaf kalo banyak typo bertebaran hehe. maafkan keterbatasan ff ini yaa, soalnya dibuat cuma lewat hubungan line+email. semoga kalian enjoy bacanya. semoga kami nggak mengalami writer’s block jadi bisa nyelesein cerita ini sampe tamat.

NO PLAGIARISM OR BASH. Kritik&saran ditunggu, don’t be silent readers. Enjoy! *cheers*

 

YOON HAERA’s POV

Disinilah aku sekarang, berada di dalam mobil limousine mewah yang akan membawaku menuju ke Seoul, tempat dimana, yah bisa dibilang, ‘calon suami’-ku tinggal. Mataku tak lepas dari halaman buku yang sedari tadi kubolak-balik. Sesekali aku melihat jam di tanganku. Jarum jamnya menunjukkan pukul sebelas siang. Aku menghela napas panjang.

Meninggalkan Incheon? Tidak masalah. Tak ada kenangan indah yang kupunya disana. Bagi seseorang yang bahkan tidak mempunyai teman seumur hidupnya seperti aku, aku tidak mempunyai sesuatu yang bisa diingat atau dirindukan dari Incheon. Mungkin hanya sedikit rasa sedih saat orang tuaku melepasku untuk tinggal dirumah Sehun, saat kulihat ibuku tak henti-hentinya menangis.

Tak lama kemudian, mobil ini tiba di jalanan distrik Gangnam, tempat presitisius bagi para kalangan kelas atas. Saat kulihat keluar ke jendela, yang menyambutku adalah gedung pencakar langit yang berada dimana-mana. Di pinggir jalan, banyak orang lalu-lalang dengan pakaian yang modis. Di mataku, mereka terlihat seperti manekin berjalan. Di daerah sini juga Oh Sehun tinggal. Tempat para orang-orang berkelas. Apalagi ia adalah pewaris Ohs Company, putra pemilik perusahaan dengan omzet terbesar nomor satu di Seoul. ‘Calon suami’ku benar-benar istimewa, bukan?

 

*************************

 

“Yoon Haera!” Ibu Sehun menyambutku dengan sumringah. Ia memelukku dengan erat. Aku tersenyum tipis dan membalas pelukannya. Lalu aku membungkukkan badan sopan ke arah ayahnya yang berada di sebelah ibu Sehun.

“Masuklah, barang-barangmu akan dibawakan oleh pelayan nanti. Akan kutunjukkan kamarmu disini.” Nyonya Oh menarik tanganku dan mengajakku ke lantai dua. Aku mengikuti saja langkahnya dari belakang. Saat tiba di ruangan yang disebut ‘kamarku’ itu…

Kamar itu membuatku takjub. Dengan cat dinding berwarna paduan antara hijau toska dan cokelat yang soft, lantai kayu yang berwarna krem terang, serta kasur berukuran queen size di tengah-tengah, membuat suasana di kamar ini menjadi sangat nyaman. Di pinggir kanan terdapat meja belajar yang di atasnya sudah bertengger manis notebook kecil berwarna putih. Meja itu menghadap langsung dengan jendela dan pemandangan jalanan Gangnam. Sebaliknya di pinggir kiri ada lemari baju beserta isinya lengkap.

Yang paling membuatku senang adalah, ada sebuah pintu kecil di sebelah lemari baju yang saat kubuka ternyata menyambung ke ruangan sebelah, sebuah perpustakaan pribadi. Khusus milikku sendiri. Dengan tempat baca yang nyaman beralaskan karpet beludru di salah satu sudutnya. Ada juga jendela di sisi kanan perpustakaan itu untuk ventilasi keluar masuknya udara dan sekedar melihat pemandangan luar.

Gamsahamnida… Ini bagus sekali.” Pujian itu keluar begitu saja dari mulutku. Aku berjalan perlahan mengelilingi perpustakaan itu sambil meneliti detail-detailnya. Aku yakin pasti tempat ini akan menjadi tempat favoritku nanti.

“Ah, baguslah jika kau menyukainya. Sehun mengatakan padaku kalau kau suka sekali membaca. Ia memberikanku ide untuk membuatkan perpustakaan kecil ini padamu, dan notebook itu, mungkin kau suka menulis juga, kuharap itu akan berguna untukmu.” Ibu Sehun menjelaskan panjang lebar. Aku hanya mengangguk-angguk kecil.

“Ah maaf Haera-ah. Aku harus meninggalkanmu sebentar karena urusan perusahaan. Tenang saja, Sehun akan datang sebentar lagi. Besok kau akan mulai sekolah bersamanya. Kuharap kau bisa betah disini. Jaga dirimu baik-baik Haera.” Nyonya Oh berkata lembut sambil melangkah keluar dari kamar.

Kini, aku berada sendirian di kamar ini.

Kurebahkan badanku di kasur. Sambil melihat langit-langit, aku menerawang jauh. Memikirkan segala hal. Tentang orang tuaku. Tentang Sehun. Tentang masa depan. Lama-kelamaan mataku terasa semakin berat. Tak sampai lima menit kemudian, aku terlelap begitu saja.

Tanpa kusadari pintu kamar masih menyisakan celah yang terbuka sedikit.

 

 

OH SEHUN’s POV

Hari yang melelahkan.

Aku segera turun dari mobil dan melangkah ringan memasuki rumah. Sekolah membosankan. Sama saja dengan suasana di rumah ini yang juga tetap sepi, seperti biasanya. Namun kali ini rasanya berbeda, aku yakin Yoon Haera pasti sudah berada di rumah ini. Aku berkeliling mencarinya dan memanggil namanya berkali-kali. Namun tidak ada balasan yang kudengar sama sekali.

Aku menaiki tangga menuju lantai dua. Disana ada kamar tidur yang sudah dipersiapkan khusus oleh ibuku—dengan sedikit meminta pendapatku— untuk Haera. Pintu depannya terbuka sedikit. Saat kulihat melalui celah pintu itu, kudapati seseorang sedang tidur dengan pulasnya. Matanya terpejam dengan ekspresi wajah yang terlihat amat sangat damai.

Yoon Haera.

Ia benar-benar…Cantik.

“Ah.” Pipiku memanas. Kurasa aku sudah seperti penguntit yang lancang sekarang, dengan santainya aku melihat seseorang tidur dan mengomentarinya ‘cantik’. Kurasa otakku mulai tidak beres. Segera aku meninggalkan kamar Haera sebelum aku bertindak lebih jauh di luar akal sehatku. Ini benar-benar berbahaya.

 

*************************

 

Pagi ini cuaca benar-benar cerah. Dari lantai bawah terdengar suara tawa Haera dan ibuku. Saat kulihat, disana Yoon Haera sudah bersiap dengan memakai seragam sekolah yang sama denganku. Di sisi kanan lengannya ada tulisan besar-besar: “Kyunggi High School”.

Eomma, aku berangkat dulu.” Aku pamit pada ibuku. Haera membungkuk sopan. Lalu ia mengikutiku masuk ke mobil.

Hari ini adalah hari pertamanya bersekolah di sini. Selama perjalanan, kami hanya diam. Saling sibuk dengan kegiatan masing-masing, aku memainkan handphoneku, sementara Haera mengalihkan perhatiannya dengan membaca. Tiba-tiba Haera memanggil namaku pelan.

“Sehun-ssi.”

“Ya? Ada apa Haera?” Aku menanggapi panggilannya, sedikit heran. Tumben sekali ia memanggilku terlebih dulu.

“Terimakasih, untuk rancangan kamarnya, benar-benar indah.” Ia menatapku dalam-dalam. Baru kali ini kulihat ia mengucapkan terima kasih dengan tulus. Aku mengangguk-angguk senang.

My pleasure” Aku membalas perkataannya. Lalu, ia tersenyum dan kembali menekuni bacaannya.

Keadaan menjadi canggung kembali, kami sama-sama tidak mengerti harus membicarakan apa. Keadaan hening itu bertahan sampai kami tiba di sekolah.

 

@Kyunggi High School, 7.30am

 

Sesampainya di halaman sekolah, aku segera turun dari mobil. Serentak semua perhatian langsung tertuju padaku. Aku membukakan pintu untuk mempersilahkan Haera turun. Saat melihatnya, semakin ramai terdengar suara bisik-bisik dari murid sekolahku yang sepertinya mulai bertanya-tanya siapa gadis yang ada bersamaku ini. Aku berjalan berjejer di sebelah Haera. Orang-orang terlihat semakin memperhatikan kami berdua. Bepuluh-puluh pasang mata sedang memperhatikan gerak-gerik kami dengan seksama.

Aku mulai risih. Kupandangi perempuan di sebelahku. Raut wajahnya tetap flat. Dingin, datar seperti tanpa ada beban. Haera yang biasanya kembali. Meski dipandang tajam oleh puluhan orang, ia tetap berhasil melangkahkan kaki dengan anggun, menyibakkan rambutnya santai dan memperlihatkan kesan aku-tidak-peduli kepada semua orang. Aku hanya tertawa kecil dan memutuskan untuk mulai meniru sikap cueknya. Keahliannya yang satu itu memang tidak bisa dipertanyakan lagi.

Ia benar-benar perempuan yang tidak terduga.

 

Kami segera memasuki ruang kepala sekolah untuk mengurus kelas dan kepindahan Haera. Karena ia anak baru dan berdasarkan prestasinya di sekolah lamanya, ia ditempatkan di kelas 2-2, pas berada di sebelah kelasku, kelas 2-1. Ia termasuk anak yang cerdas untuk ukuran anak baru. Karena sistem di sekolahku sangat ketat, mereka menempatkan siswa berdasarkan indeks ranking dan prestasi. Kelas 2-1 adalah yang terbaik dan berisi anak-anak istimewa. Begitu terus dan turun hingga ke kelas 2-8. Haera cukup mengejutkanku.

Yah, Aku memaklumi saja. Ingat, ia adalah pewaris tunggal YH Corporation. ‘Calon istri’ku memang istimewa, bukan?

 

SOOJUNG’s POV

 

“Siapa dia?”

“Aku tak pernah melihatnya sebelumnya, apa dia anak baru?”

“Cantik sekali ya! Pas sekali jika disandingkan dengan Sehun.”

“Jangan-jangan mereka adalah pasangan?”

“Sehun sangat tampan, kaya raya dan ia benar-benar pintar. Kurasa gadis di sebelahnya juga sama sepertinya. Berasal dari kalangan kelas atas. Mereka benar-benar cocok bukan?”

Dengung suara-suara asing itu sekejap saja sudah memenuhi indra pendengaranku. Mataku awas menatap sekeliling. Kutanyai satu-persatu apa yang mereka lihat dan jawaban mereka selalu sama.

Sehun pagi ini datang ke sekolah, bersama seorang perempuan.

 

Aku mempercepat langkah kakiku menuju ke kelas. Disana Sehun sudah duduk sendirian sambil memainkan PSP-nya. Aku mengambil tempat duduk di sebelahnya tanpa basa-basi. Ia hanya melirikku sebentar dan menyapaku dengan senyuman khasnya. Namun matanya tetap tak lepas dari layar PSP.

“Oh, Hei. Pagi, Soojung-ah.”

“Oh Sehun. Ceritakan padaku sekarang, siapa gadis yang datang bersamamu pagi ini. Semua orang membicarakan tentang itu dan aku tidak mengerti apa maksud mereka.” Segera kutanyakan to the point tentang apa yang kurisaukan sedari tadi. Sehun hanya tertawa, lalu menjawab singkat.

“Dia calon istriku.”

Aku terdiam sebentar. Berusaha mencerna kalimat singkat yang dilontarkan Sehun barusan. Lalu aku berteriak sedikit karena terkejut.

“Apa kau bilang..calon istrimu?!”

Mulutku segera dibekap oleh tangan besar Sehun. Ia meletakkan jari telunjuknya didepan bibir. Menyuruhku diam. Ia terlihat sedikit panik. Aku hanya menurut, dan kembali mengulangi pertanyaanku padanya dengan nada yang sedikit lebih pelan.

“Apa benar?dia calon istrimu?”

“Iya, kami dijodohkan. Tolong rahasiakan dulu tentang ini.”

 

Apakah aku salah dengar? Dijodohkan?

“Dan..kau…setuju?” Aku bertanya lagi, namun kali ini intonasi suaraku mulai berubah.

“Iya. Kami tepatnya. Aku dan dia sama-sama setuju, kami masih dalam tahap mencoba.” Sehun menjawab lagi dengan tenang. Aku menatapnya tak percaya.

“Kau pasti bergurau.”

Sehun berkata tegas. “Aku serius.”

 

YOON HAERA’s POV

 

Sekolah baru. Teman baru. Semuanya serba baru.

Hari ini hari pertamaku yang disambut dengan bisik-bisik dari segala penjuru sekolah. Sedikit-sedikit pembicaraan mereka tertangkap samar-samar telingaku. Mereka sepertinya membicarakan aku dengan Sehun. Entah apa masalah mereka, atau apa ada yang salah? Ah, aku pun tidak terlalu peduli. Ini hidupku bukan? bukan hidup mereka.

Setelah beres mengurus ini, itu dan semuanya, Sehun mengantarku masuk ke kelas baru. Aku masuk dengan langkah mantap. Tanpa menunggu lama, mereka segera mengerubungiku seperti semut yang melihat gula. Aku mulai bosan. Mereka menanyaiku berbagai macam pertanyaan seperti ‘Siapa kau?’ ‘Ada hubungan apa kau dengan Sehun?’ dan sebangsanya. They’re just too annoying. Sebagai balasan pertanyaan mereka, aku hanya menggeleng kecil dan tersenyum simpul. Berusaha tetap terlihat ramah. Meskipun, sulit.

Terlalu malas menjawab, segera kukeluarkan headset untuk menyumbat telingaku dari rentetan pertanyaan mereka. Cara yang simpel untuk menghindar. Akumengeluarkan buku yang kubawa dari rumah dan mulai membaca. Sepuluh menit kemudian, bel berbunyi nyaring, pertanda pelajaran hari ini sudah dimulai. Aku mengikuti pelajaran dengan serius, hingga tak terasa jam sudah menunjukkan waktu makan siang.

Semua siswa bersorak senang dan satu-persatu dari mereka keluar dari dalam kelas. Aku mengambil lagi buku yang kusimpan di laci dan melanjutkannya. Tak lupa dengan headset yang sudah terpasang di telinga. Mungkin karena terlalu sibuk membaca buku dan menikmati lagu, aku tak menyadari seseorang sudah berada di depan kursiku. Tangannya bergerak-gerak berada tepat di depan mataku, menghalangiku untuk membaca buku. Saat aku mendongak untuk melihat siapa yang menggangguku kali ini, kudapati Sehun sudah berdiri disebelah kursiku. Di belakangnya ada seorang perempuan cantik berambut panjang yang menarik-narik seragamnya. Wajahnya terlihat muram.

“Hei, ada apa?” tanyaku.

“Kau sudah kupanggil dari tadi. Namun sepertinya kau tidak mendengar.” Sehun mengernyitkan dahinya.

“Ah, mianhae. Aku sedang mendengarkan musik.” Kubuka headset yang terpasang di telingaku.

“Oh, pantas saja. Ayo, makan siang bersamaku.” Ia menarik pergelangan tanganku untuk segera mengikutinya. Aku membawa bukuku lalu berdiri dan mengikuti langkahnya menuju cafeteria. Perempuan itu masih mengekor di belakang Sehun. Saat aku berjejeran dengannya, ia terlihat makin gelisah.

Entah mengapa, rasanya aku mempunyai feeling ada sesuatu yang buruk akan menimpaku kali ini.

 

@Cafeteria, 11.00am

“Perkenalkan, ini Soojung. Dan Soojung, ini Haera.” Sehun saling memperkenalkan kami. Kulihat raut wajah Soojung berubah semakin mendung. Ia memaksakan senyum dan menjabat tanganku. Aku membalas jabatan tangannya dan membungkuk memberi salam dengan sopan, namun wajahku tetap sama, tanpa ekspresi. Lalu ia duduk dan diam, fokus pada makanannya.

Sementara Sehun terus mengajakku berbicara ringan tentang berbagai hal. Sambil memakan sushi-nya, ia bertanya sedikit-sedikit mengenai kesanku di sekolah baru, bagaimana teman-teman sekelasku dan membahas tentang pembicaraan orang-orang seantero sekolah hari ini yang menggosipkan tentang aku dan dia. Sesekali aku menjawab pertanyaannya dengan seadanya, dan jika bisa, sesingkat mungkin. Konsentrasiku tetap ada pada halaman-halaman buku di depanku.

Semua orang sepertinya sedang melihatku sekarang. Melihatku bersama Sehun dan Soojung, mungkin menjadi topik pembicaraan hangat yang seru dan sedang diperbincangkan oleh seluruh murid di sekolah ini. Entah apa yang mereka gosipkan. Aku berusaha menulikan telingaku. Terserahlah mereka mau berkata apa.

Kulirik gadis di depanku ini. Aku cukup merasa bersalah melihatnya. Ia hanya diam sambil memotong-motong steak di piringnya. Hanya terdengar suara garpu dan pisau yang berdenting. Rasanya kali ini ia terlihat invisible di depan mata Sehun karena kehadiranku sepertinya membuatnya merasa tersingkir. Ah, tapi siapapun dia aku tidak peduli. Seperti biasanya.

 

Tiba-tiba suara mikrofon sekolah terdengar nyaring memanggil-manggil nama Sehun agar segera datang ke kantor kepala sekolah karena suatu urusan. Sehun segera pamit untuk meninggalkan kami sebentar.

“Ah aku harus ke ruangan kepala sekolah sekarang. Baik-baiklah disini sebentar.” Setelah itu, ia berlalu dari hadapan kami.

Kali ini tinggal aku dan perempuan itu. Kami saling berdiam diri di tempat. Setelah agak lama, ia lalu berdiri mendatangiku, dan berbisik.

“Kau bisa ikut aku sebentar, Haera-ssi?” Wajahnya tenang, namun suaranya terdengar seperti sedikit menahan emosi.

 

Ah, sudah kukira, dugaanku memang selalu benar.

 

SOOJUNG’s POV

@ Rooftop, 12.12pm.

 

“Sehun mengatakan padaku, bahwa kau adalah calon istrinya. Apa maksud dari semua ini, Haera-ssi?” Aku mencoba mengatur nafas. Berusaha untuk tidak meledak-ledak di hadapan perempuan berwajah datar di depanku ini. Tahan dirimu, Soojung.

“Oh, kau sudah mengetahuinya. Darimana? Sehun?” Yoon Haera menjawab santai sambil melipat tangannya.

“Maafkan aku, Haera-ssi. Tapi kau harus mengetahui ini sebelumnya. Aku sudah menyukai Sehun sejak lama…dan..” Aku memberi jeda sebentar. Mencari kata-kata yang pas untuk melanjutkan kalimat yang kuucapkan.

“Dan…kurasa ia juga menyukaiku. Dan kuharap kau tidak merusak semuanya.” Aku kembali diam. Berusaha menahan tangis.

“Biarkan aku bersama Sehun saja. Kau, kumohon tolong tolak perjodohan bodoh itu.” Lanjutku. Aku menekankan suaraku di kata-kata ‘Perjodohan Bodoh’ sambil memandang matanya dalam-dalam dengan sorot mata sedih. Kuharap Haera mungkin sedikit mengerti apa yang kurasakan sekarang. Lagipula aku yakin, Haera tidak menyukai Sehun.

Haera membalas tatapanku dengan pandangan mata yang tajam dan menantang.

“Aku tidak pernah peduli apakah kau yang menyukai Sehun, atau sebaliknya. Yang pasti, aku tidak akan membatalkan perjodohan ini. Jika Sehun memang menyukaimu, itu bukan urusanku. Itu urusannya sendiri.”

Mataku membelalak kaget. Kata-kata Haera benar-benar tidak berperasaan. Spontan saja aku membalas perkataannya dengan segala kata makian yang terlintas begitu saja di kepalaku.

“Aku tak menyangka kau ternyata adalah perempuan yang seperti ini. Apa yang kau inginkan dari Sehun? Kau perempuan tak tahu diri, Haera-ssi. Aku mengerti, kurasa kau hanya mengincar hartanya bukan?” Perasaanku bergejolak, sakitnya mulai menggerogoti sedikit demi sedikit dari dalam, membuatku sedikit sesak.

Yang kulihat selanjutnya adalah, sesuatu yang benar-benar membuat kadar kebencianku padanya melonjak drastis. Haera hanya menanggapi omonganku dengan mendongak dan menatapku sambil mengedikkan bahunya sedikit.

“Terserah kau saja.”

Saat Haera hendak berbalik untuk meninggalkan rooftop. Segera kutarik seragamnya, lalu tanpa segan-segan lagi, kutampar pipinya dengan sekuat tenaga. Antara amarah, sakit hati, dan kebencian menyebar menjadi satu mencapai puncaknya kali ini. Wajahnya terlihat sedikit terkejut.­­ Namun dengan cepat ia kembali menguasai diri.

 

YOON HAERA’s POV

“PLAK!”

Di sekolah hari pertama, dengan statusku sebagai murid yang baru saja masuk, aku sudah dihadapkan dengan masalah rumit seperti ini. Seseorang memaki-makiku, dan menamparku, hanya karena aku adalah  ‘calon istri’ dari seorang Sehun. Benar-benar hidup baru yang mengejutkan, dan tidak terduga.

Tamparan keras itu telak mengenai pipiku. Aku terhenyak. Rasanya sedikit panas.

Aku menggosok-gosok bekas tamparan itu. Perempuan di depanku sudah terduduk di tanah, tergugu sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Air matanya mengalir deras. Aku mendengus keras. Sudah kuduga hal seperti ini akan terjadi. Tapi tak kusangka, benar-benar secepat ini.

Aku tahu Sehun memang terkenal di sekolah ini. Ia cerdas, baik dan tampan, tentunya. Aku yakin semua orang menyukainya. Dan sepertinya orang didepanku ini termasuk salah satunya. Aku mendorongnya menjauh dariku dengan kasar. Kuangkat dagunya, kutatap kedua matanya dengan tajam.

“Hanya begitu saja yang bisa kau lakukan, Soojung-ssi? Hmm, kurasa jika kau dan Sehun saling mencintai. Seharusnya kau perjuangkan itu bersamanya. Bukan dengan menamparku dan berbicara hal-hal tak berguna seperti ini. Apa kau punya otak? Tak ada gunanya melakukan ini semua padaku karena aku tidak akan berubah pikiran.” Kata-kataku cukup menusuk. Wajahnya berubah lagi. Ia mulai bangkit, menepis tanganku dan balas menatapku.

“Apa maksudmu?” Dengan mata yang masih memerah sehabis menangis. Ia mengernyitkan dahinya, tetap dengan ekspresi wajah yang sama, menyiratkan kebencian yang amat sangat.

“Ah, kukira kau anak yang pintar, Soojung-ssi. Ternyata, kau bahkan lebih bodoh daripada aku.” Aku membentuk seulas senyum melecehkan yang berhasil membuatnya naik darah kembali. Ia bersiap-siap melayangkan tamparan kedua. Aku diam saja. Sampai tangan itu mendarat dengan sukses di pipiku untuk kedua kalinya.

Sesungguhnya mau ia menamparku hingga tamparan ke-dua, ke-tiga, ke-empat, aku tidak akan peduli. Sesukanya sajalah. Aku tidak akan membalasnya. Membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna tidak pernah ada dalam kamus kehidupanku.

 

AUTHOR’s POV

Dengan nafas terengah-engah, Soojung menampar Haera untuk yang kedua kalinya. Dadanya seperti terhimpit, susah untuk bernafas. Luapan perasaan kesal, sedih dan sakit hati berbaur menjadi satu.

Tanpa ia sadari, sebuah kejutan sudah menanti.Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan keras yang membahana di sekitar rooftop. Soojung menoleh ke sekelilingnya, mencari asal suara itu. Dari sisi kiri rooftop, keluar sesosok laki-laki yang berjalan dengan santai ke arahnya.

Soojung seketika membeku. Badannya tidak bisa bergerak. Lelaki itu… terlalu familier.

“Hei, Soojung-ah. Sudah lama aku mengenalmu tetapi aku tidak pernah mengira sama sekali ternyata kau orang yang seperti ini. Baru aku tahu kalau ternyata hobimu adalah menampar pipi orang lain ya, ckckck… Kau tahu? hobimu berbahaya, Soojung..”

Lelaki itu berkata dingin sambil berdecak, lalu menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum sinis.

TO BE CONTINUED..

Iklan

63 pemikiran pada “Heir & Heiress (Chapter 2)

  1. Woww bravo ceritanya tambah menarik ajh…. Apalagi nih pas mau tbc ada cowok yang tepuk tangan…. Jadi pengeb tau dia siapa….
    Ijin baca part berikutnya ya ka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s