Suckling Hopes, the Crumbling Anarchy

Suckling Hopes, the Crumbling Anarchy
Zhang Yixing (EXO), OC; angst, monologue? kind of?; G; 999 words
written by leesungra; crossposted at recited ideas

Next question, what is one-sided love?”

Ia berharap bukan kelebat wajah manis seorang lelaki dengan mata sipit dan senyuman berhias lesung pipit kecil yang muncul dalam benaknya, tapi,

One-sided love consists of many things…

Melihatnya pertama kali, ia tahu ada sesuatu yang berbeda di diri laki-laki itu. Zhang Yixing, begitu katanya, dengan tangan terulur menunggu balasan jabat tangan di tengah hiruk-pikuk murid yang berebut membaca pembagian kelas. Ah, kelas baru, sekolah baru, cara belajar baru, wajah-wajah baru yang harus dihapalkan namanya satu persatu. Ada satu yang sudah ia hapal–Yixing, Yixing, Zhang Yixing, terasa aneh ketika ia mengulang-ulang nama itu di bibirnya.

“Incessant hopes, beautiful smiles, butterflies in your stomach.

Tapi ia tak ingat kapan tepatnya ia jatuh. Yang melekat jelas dalam kilas memorinya adalah betapa ia jatuh dengan cepat, cepat, sangat cepat, seperti gravitasi telah menelannya bulat-bulat tanpa memberinya kesempatan untuk menolak. Ia tak sempat meraih pegangan apa-apa–tapi memangnya ada sesuatu yang bisa kau raih ketika kau jatuh dalam lubang hitam yang tidak ada dasarnya?

Namun sesekali Yixing mengulurkan tangannya, memberi bantuan hingga ia bisa tersuspensi di udara meski hanya sekejap; ketika Yixing menyapanya sambil tersenyum padanya di pagi hari. Ketika Yixing mengantarkannya pulang sewaktu tak ada yang bisa menjemputnya di sekolah, atau berbagi payung dengannya ketika hujan turun dan ia lupa membawa payung. Lebih sering sengaja meninggalkan daripada lupa karena, yah, apa ada alasan lain yang lebih baik demi bisa berjalan dengan laki-laki itu di bawah guyuran hujan dengan lengan yang sesekali bersentuhan?

It’s like plainly falling in love, but…

Bila menghapalkan nama-nama pejabat negara menimbulkan kantuk tak tertahankan atau rumus-rumus matematika terasa terlalu menyesakkan, sekilas pandangan ke arah Yixing sudah cukup untuk membuat kabut yang menyaluti pikirannya menghilang.

Langkahnya menuju sekolah selalu terasa lebih ringan karena ada janji-janji yang mengawang di alam bawah sadarnya dan suara-suara kecil yang berkata, ‘Kau harus berangkat ke sekolah, ada Yixing di sana‘. Ia bahkan pernah sengaja berangkat beberapa saat lebih awal dari biasanya karena Yixing selalu tiba paling pagi di kelas.

Pains, heartbreak, seething wounds.

Ketika kakinya hampir menapak keramik terakhir menuju kelas, suara yang tertangkap telinga membuat langkahnya terhenti. Yixing tak sendirian.

Ia bersandar ke dinding, diam-diam menguping ketika suara kedua–bukan Yixing–kembali terdengar. Seorang gadis. Siapa?

Gadis itu memanggil nama Yixing, memohon agar Yixing berhenti mengerjainya dan serius mengajarkan tugas yang ia tak paham. Kemudian Yixing tertawa, tawa yang beda dari yang pernah ia dengar. Tawa Yixing yang satu ini terdengar lebih lugas, lebih lepas, lebih bahagia, seperti ada energi tambahan yang menyusup di dalam suara itu, membuatnya sebening kristal sekaligus penuh warna.

Ia menduga-duga apa itu ada hubungannya dengan gadis yang tengah bersama Yixing di dalam kelas, tapi ia tak ingin membuat dirinya makin merana.

But in lieu of dodging the heartbreak, you crave for more.

“Kemarin kau tidak sendirian di kelas?”

Yixing menghentikan kesibukannya mencatat, “Kemarin kapan?”

Ia menghela napas. Ini Yixing, Yixing yang bahkan lupa ia berada di kelas mana meski sudah hampir setahun bersarang di kelas itu. Jadi, “Kemarin, hari Selasa. Pagi hari. Kau… tidak sendirian, bersama seorang gadis, sepertinya.”

Ia sudah bersiap untuk melontarkan penjelasan tapi-aku-tidak-menguping tapi Yixing sepertinya tak peduli soal dari mana ia mendengarnya, “Oh. Itu…”

“Kekasihmu?” ia berjudi saat ia tahu kemungkinannya menang begitu tipis, dan ia mempertaruhkan terlalu banyak. Sama seperti bertaruh pada seseorang yang akan membunuhmu untuk membiarkanmu lolos bila kau berhasil mengalahkan mereka dalam adu pedang, padahal mereka pembunuh terlatih dan kau hanya pernah menyentuh pisau dapur.

“Belum,” Yixing tersenyum malu-malu. Ia terdiam, membiarkan detik jam dinding memenuhi telinganya. Belum. Belum. Belum yang mendekati, atau belum yang sama sekali?

Ia bertaruh lagi, kali ini memilih yang pertama. Dikembalikannya bilah pisau ke si pembunuh, kemudian ia menunggu.

And it can be found in any form, you see. It’s so many it’s ridiculous. Like the infamous friend-zone. Being stuck as best friends.

Ketika akhirnya Yixing mengenalkan keduanya, ia berkata, “Darling, meet my best of best of best of best friend here.”

Garbage can where said person dumps all his or her feelings to the poor person without acknowledging their feeling.

Kadang ia terbangun tengah malam karena Yixing meneleponnya, lalu ketika ia mengomel pelan karena dibangunkan dengan tak sopan, Yixing akan berkata maaf, ia tak sadar ini sudah tengah malam. Yixing memang pelupa, tapi menurutnya tak separah itu sampai tidak sadar ini sudah terlalu malam untuk mengganggu seseorang yang sudah tidur pulas, bahkan meski orang itu sahabatmu sendiri. Toh kenyataan berkata lain.

Ia kadang menyalahkan Yixing dalam hati karena ia selalu, selalu membangunkannya tengah malam hanya untuk bercerita soal masalah-masalah dengan kekasihnya tanpa menyadari bahwa ia sekaligus menyakiti orang lain, tapi memangnya Yixing tahu soal perasaannya? Memangnya Yixing akan paham, bila ia tahu?

Partner in crime, formality prom dates.

Kekasih Yixing tiba-tiba jatuh sakit menjelang acara. Yixing hampir-hampir batal berangkat kalau saja kekasihnya tak memaksa dengan berkata, “Bukankah sahabatmu juga tidak punya pasangan? Kau bisa pergi dengannya. Sayang kalau kau tidak datang ke acara yang kau ikut menyiapkan, bukan?

Acara berjalan sesuai yang diharapkan para panitia penyelenggara, tapi Yixing tak begitu senang karena bukan kekasihnya yang ada di sebelahnya. Ia tak begitu senang karena bukan dirinya yang ada di mata Yixing ketika mereka berdansa.

Then the one who drowns in jealousy.”

Tidak ada perhatian ekstra, tidak ada ucapan selamat tidur, tidak ada panggilan khusus. Bagaimana Yixing memperlakukan teman-teman yang lain sama dengan bagaimana laki-laki itu memperlakukannya.

Kadang ia bertanya-tanya apa Yixing hanya mempedulikannya ketika keberadaannya dibutuhkan oleh laki-laki itu, tapi akal sehatnya tahu bukan itu masalah sebenarnya. Yixing peduli padanya, tapi ia yang meminta lebih dan tak bisa menerima kenyataan bahwa Yixing tak mungkin memberikan hal itu untuknya.

The one who watches from afar, that’s the most painfully miserable human being ever alive in this world, you know?

But it was me.

—–

You seemed like you’re pretty familiar with this topic, aren’t you?”

Why, yes I am.

Do you know how to survive it, then?

Ia melirik ponselnya yang tiba-tiba berkedip, layar menampakkan reminder bertuliskan ‘Yixing’s wedding, 3 PM‘, dan ia tersenyum kecil lalu menggeleng pelan, “No, not the tiniest bit.”

end.

note: somebody searched for ‘apa itu one-sided love’ and he/she landed on my blog. somehow inspired me to do this. whoever searched for that, i thank you.

Iklan

36 pemikiran pada “Suckling Hopes, the Crumbling Anarchy

  1. Duh, ffnya miris banget sih thor. Meingatkan masa lalu aja sih ㅠㅠ *curcoldikit*
    Walaupun ada beberapa kata yang ga aku ngerti artinya sih hehe
    But at last, good job thor and keep writing!!♡

  2. aduh thor demi penguasa bumi dan surga ya pertama kalinya lagi baca ff straight /? ;__; dan aduh mampus kan ya ini keren banget mampus kan. gilaaaa mewek dulu ya di ujung kamar /mojok.
    hnnng bagian terakhir itu keren banget sumpaaah ; u ; )b
    omaigat sumpah gatau ngomong apalagi ya pokoknya keren, pengin komentar panjang tapi bingung apa yaaa ;__; terus berkaya! ❤

  3. nyesek banget critanya apalagi seperti berkaca di kehidupan sendiri aja /nangis dipojokan/ meskipun singkat tapi mengena sekali!
    Oya, ngomong-ngomong lee sungra gimana kabarnya anterograde tomorrow? Pengen sekali baca kelanjutannya ;–;

    • /gives you some tissue/
      eh… anterograde… oke, chapter dua masih dalam tahap pengerjaan. ada rated scene yang… um… saya nggak yakin bisa translate apa nggak, though sudah dibantu beberapa orang. diusahakan secepatnya. tenang, nggak saya abaikan, kok. thanks for bearing with me, anyway. 🙂

Tinggalkan Balasan ke leesungra Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s