Black Dove (Chapter 1)

PhotoGrid_1377281539506

Title                 : Black Dove

Author             : @claraKHB

Rating             : PG-16

Length             : Chaptered

Genre              : AU, Romance, Sad, Family

Main Cast        : Oh Se Ra (OC)

Wu Yi Fan (Kris)

Other Cast       :  Oh Se Kyung (OC)

Oh Sehun

And Other

DC                    : FF ini milik author dan jangan sampai meng-copast FF ini tanpa izin. RCL, gomawo ^^ maaf untuk typo(s). Happy reading.

—————————————–

Jika ketulusan itu ada, nampakkanlah padaku! Jika harapan itu ada, tunjukkanlah padaku! Dan jika cinta itu ada, biarkan aku mengetahuinya! Mengapa? Karena tak sekalipun aku pernah melihatnya.

————————————————————————————-

~~~ Black Dove ~~~

 

(Author POV)

Cinta itu buta.

Siapapun yang mengatakan hal demikian pastilah saat ini hatinya sedang melimpah akan cinta pada seseorang. Tidak salah. Namun, akan menjadi salah jika kebutaan akan cinta berubah dan memahitkan cinta yang manis.

“Jadi, kau bersedia?”

“Ya. Apapun itu akan kuberikan demi bersama dirimu.”

Gadis dengan rambut terhelai sepunggung itu tersenyum saat menjawab dengan yakin pertanyaan sang kekasih. Gadis dengan sikap yang begitu lembut, Oh Se Ra.

“Jangan kecewakan aku.” Ucap pria yang berdiri di hadapannya kini.

“Apapun itu, Kris..” lirih Se Ra dengan yakin.

Oh Se Ra, gadis berusia 21 tahun yang begitu mencintai kekasihnya. Ia beranggapan cintanya pada sang kekasih merupakan suatu hal yang tak dapat digantikan oleh apapun. Bahkan dengan hidupnya sekalipun.

Wu Yi Fan, lelaki yang sering dipanggil Kris boleh berlega hati karena memiliki kekasih yang amat sangat mencintainya.

*****

Pagi ini Se Ra akan bertemu dengan Kris yang meminta drinya datang ke rumah lelaki tersebut.

“Kau mau kemana?” sahut seorang gadis yang hanya mengenakan piyama karena baru bangun dari tidurnya.

“Aku hanya pergi sebentar. Ke rumahnya.”

“Hh.. Laki-laki itu?” tanya lawan bicara Se Ra dengan senyum hambar yang terlihat seperti meremehkan.

“Hentikan! Sampai kapan kau akan menghinanya terus? Sampai dia matikah?”

“Jika itu kau izinkan! Kau tak pernah mengenalkannya secara  langsung pada kami, kau hanya berkata ini itu tentangnya. Bagaimana kami mengetahui orang itu? Kau berubah semenjak mengenal dan berpacaran dengannya, pasti dia orang yang kacau, bukan?” gadis itu pun beralih ke kamarnya dan menutup pintu kamar dengan kencang sehingga menimbulkan suara yang begitu keras.

“Kau sudah gila, Oh Se Kyung!” batin Se Ra dengan tangan yang mengepal  memandang lekat kearah kamar Se Kyung, adik perempuannya.

Sepasang mata menatap dengan pandangan begitu nanar pada adu mulut yang baru saja terjadi di hadapannya. Bungsu dari tiga bersaudara ini mengumpat dalam hatinya karena telah gagal mendamaikan kedua kakaknya tersebut.

“Kau bodoh, Oh Sehun. Kau sangat bodoh. Kau hanya diam tanpa berbuat apapun untuk mendamaikan mereka. Pabbo namja~” runtuknya dalam hati.

Se Ra keluar dari rumah dengan perasaan yang yang kacau. Di satu sisi hatinya begitu marah akan perkataan Se Kyung baru saja. Namun, di sisi lain ia merasa sedih karena hubungannya dengan Se Kyung semakin renggang semenjak ia menjadi kekasih Kris.

~~~ Black Dove ~~~

 

“Apa benar ini rumahnya? Luas sekali.” Gumam Se Ra terperangah akan megahnya rumah Kris. Matanya tak berhenti memandangi tiap lekuk bangunan yang ada di hadapannya kini.

“Kau sudah datang?” sahut Kris begitu melihat Se Ra sedang berdiri di depan pintu rumahnya.

“Ehm, orang tuamu dimana?” nampak Se Ra menengok dan matanya berusaha mencari-cari keberadaan orang tua Kris dari ambang pintu rumah yang terbuka.

“Mereka sedang di Kanada. Entahlah, kapan mereka akan pulang.”

“Satu tahun kita berpacaran, aku baru tahu rumahmu. Selama ini kita hanya bertemu di universitas dan itu pun tidak sering kita lakukan. Ternyata, kau orang kaya. Berbanding terbalik dengan penampilanmu, Kris. Kau benar-benar orang yang baik.”

“Oh, kau. Jangan bicara seperti itu. Kedalaman hati seseorang siapa yang tahu? Ayo kita masuk.”

Se Ra semakin tercengang begitu memasuki rumah megah milik Kris. Manik matanya menyapu seisi rumah dan itu berhasil membuatnya berdecak kagum. Namun matanya kini menangkap suatu pemandangan yang aneh. Seorang gadis lain di rumah Kris.

“Kris?” panggil Se Ra.

“Hmm?”

“Itu.. siapa dia?” Se Ra bertanya dengan telunjuk yang mengarah tepat pada bayangan seorang gadis yang sedang duduk dan memainkan ponselnya di dapur.

“Oh, oh.. dia.. dia teman adikku. Ya, dia teman adikku.” Jawab Kris terbata-bata.

“Adik? Kau punya adik?”

“Kau tidak mengetahuinya? Tentu. Namanya Wu Yi Qian atau dia sering dipanggil Ammy saat di Kanada.” Setenang mungkin Kris melanjutkan jawabannya.

“Oh. Kris, dimana aku harus menunggu?”

“Kau langsung ke kamarku saja. Aku akan buatkan minum. Biar kuantar kau dulu.” Kris pun mengantar Se Ra menuju kamarnya. Kamar yang telah disiapkan Kris untuk ‘bercinta’ dengan Se Ra.

“Tunggulah disini sebentar.” Ucap Kris yang setelahnya menutup pintu kamar.

“Ya.” Se Ra tersenyum.  Sebuah senyum tulus dari bibirnya.

Cintanya begitu tulus pada Kris dan tiada dusta di dalamnya. Namun kenyataan yang dialaminya, Kris belum seutuhnya percaya akan ketulusan cintanya. Hingga malam sebelum fajar menyingsing pagi ini Kris telah meminta pembuktian akan cinta Se Ra padanya. Dengan cara yang mencengangkan.

“Hari ini akan kuberikan hartaku yang paling berharga supaya kau tahu bahwa cintaku tulus, Kris. Dan supaya dapat kutukarkan dengan cintamu yang tulus pula. Aku mencintaimu, Kris. Kuharap setelah kuberikan semuanya padamu, kita akan selalu bersama. Kehormatanku sebagai perempuan akan segara menjadi milikmu.” Lirih Se Ra dengan mata yang sedikit berair menahan tangis.

Se Ra masih sibuk mengamati kamar Kris yang didominasi warna putih tersebut. Namun kejanggalan dirasakan oleh batinnya.

“Mengapa tidak ada satupun fotoku bersamanya di sini? Bahkan foto dirinya pun tak ada?”

“Apa yang kau lihat?” Kris yang baru datang dengan secangkir teh hangat di tangannya nampak bingung oleh sikap Se Ra.

“Anni. Hanya saja.. aku tidak menemukan satu pun foto kita disini, bahkan fotomu sekalipun? Kau tak pernah menyimpannya?”

“Oh, itu.. aku letakkan di suatu tempat, tidak perlu khawatir. Ini, minumlah.” Se Ra pun tersenyum dan mengahampiri Kris dan mulai mengambil cangkir yang berisi teh hangat tersebut serta mulai meneguknya hingga tak bersisa.

“Kau haus?” dengan mata terbelalak Kris menatap Se Ra dengan antusias.

“Ya, kau tahu saja.”

“Kau tunggu sebentar, aku akan segera kembali.” Ucap Kris seraya meninggalkan Se Ra seorang diri.

Lima menit berlalu dan Se Ra merasa pusing dan mengantuk. Matanya tidak dapat  berakomodasi dengan jelas. Ia pun telah terjatuh ke alam tidak sadarnya. Ia tertidur pulas.

“Kerja bagus. Sekarang keluarlah! Pastikan tak ada yang menggangguku.”

“Baik, sajangnim.”

~~~ Black Dove ~~~

(Kris POV)

Jahat.

Mungkin begitulah diriku saat ini. Maafkan aku, Se Ra. Bukan maksudku seperti ini, namun aku hanya ingin menyatakan apa yang pernah kau singgung. Ketulusan cinta.

“Apa dia di dalam? Ternyata kau berhasil, bukan? Hh.. kau tak pernah menyerah.” Sahut seseorang di belakangku seraya menepuk bahuku pelan dan diselingi senyuman darinya.

“Oh? Ya. Anda bisa saja, manajer Lee.” Jawabku sekenanya.

“Sepertinya akupun bisa mengandalkanmu.” Ucapnya kemudian dan aku pun hanya dapat membungkukkan badan kearahnya ketika ia beranjak pergi.

“Oh dan mengenai hal itu.. kau tidak keberatan?” lanjutnya tiba-tiba dan aku pun hanya mengernyitkan dahi heran.

“Tidak keberatan?”

“Kekasihmu itu. Kau tidak keberatan jika dia tidur bersama ketua?”

“Hh.. oh itu? Sebenarnya untuk tujuan inilah aku menjadikannya seorang kekasih. Tidak perlu khawatir.”

“Kau benar-benar profesional. Benar-benar bisa diandalkan. Bagus kalau begitu.” Dan kini ia pun berjalan menjauhiku.

Aku memang tak pernah menyesal. Menyimpan sedikit rasa pun tidak. Hanya saja aku tahu dia amat tulus mencintaiku, namun tidak denganku.

Ketulusan yang ia berikan tidak kukembalikan dengan baik kepadanya, namun untuk seseorang yang lain. Seseorang yang membuatku berani bertindak sampai sejauh ini, seseorang yang membuatku hampir gila karena selalu memikirkannya. Namun dia bukanlah gadisku. Oh Se Kyung.

Kuambil ponsel dari saku celanaku dan mulai mengetik sebuah pesan singkat untuknya. Sepertinya dapat menjadi awal yang baik untukku kedepannya.

To       : Oh Se Kyung

Bagaimana kabarmu?

Lima belas menit sudah tak kudapati balasan darinya. Namun sebelum kumasukkan ponselku kedalam saku, benda persegi panjang itu pun berbunyi.

From   : Oh Se Kyung

Apa urusanmu?

            To       : Oh Se Kyung

            Jangan seperti itu. Oh, iya apa kau sudah memiliki uang untuk membayar tagihan sekolah selama 3 bulan?

From  : Oh Se Kyung

Bukan urusanmu! Jangan pernah hubungi aku!

            To        : Oh Se Kyung

            Baiklah, baiklah. Semoga kau cepat menemukan donatur itu. Annyeong.

 

Ia pun tak pernah membalasnya lagi. Munafik memang, mengatakan hal yang tak sebenarnya ada di hati. Perih, mengetahui orang yang amat kucintai mengatakan hal yang begitu kasar dan menyayat separuh hatiku.

Suatu saat kau akan menyadari besarnya perasaanku padamu, Oh Se Kyung.

~~~ Black Dove ~~~

(Se Ra POV)

Mataku terasa begitu berat. Aku tak dapat melihat dengan jelas, hanya bayangan isi kamar ini yang dapat kuterka dengan samar-samar. Dan kurasakan ngilu di sekitar selangkanganku. Kulihat sejenak dan betapa terkejutnya diriku melihat darah yang berceceran di sekitar selangkanganku dan juga di sprei.

Seharusnya aku tak perlu terkejut dan seharusnya aku bisa menerimanya. Bukankah aku sendiri yang menyetujui untuk memberikan hartaku yang paling berharga ini padanya? Seharusnya aku tak pernah menyesal. Ya.

“Dimana Kris?” gumamku dengan sisa-sisa tenaga yang aku miliki. Rasa perih yang menjalar bukan main, namun masih dapat kutahan.

Kugerakkan tubuhku supaya dapat duduk diatas ranjang ini. Kulihat sepintas setumpuk uang yang tebal. Aku rasa jumlahnya sangat banyak.

“Kau sudah bangun?” suara berat yang membuatku menoleh kearahnya.

“A.. anda siapa?” tanyaku dengan sigap seraya tanganku mengambil selimut yang tersampir di hadapanku untuk menutupi seluruh tubuhku yang terekspos secara langsung.

“Tidak perlu seperti itu..” pria setengah baya itu pun mendekat dan dengan cepat aku pun ikut mundur menjauhinya.

“Kita sudah sama-sama mengetahui ‘pribadi’ masing-masing, bukan? Bagaimana? Oh iya, itu uang untukmu. Selebihnya telah kuberikan pada Kris. Jika kau butuh sesuatu, katakan saja. Mengerti?” jelasnya dengan terperinci.

“K.. Kris? Uang? Apa maksudnya?!” suaraku meninggi dan membuat pria di hadapanku saat ini menjauhkan wajahnya dariku.

“Pelan-pelan saja.. tidak perlu agresif seperti itu. Kau telah memberikan hartamu berharga milikmu itu. Tubuh indahmu yang telah kunikmati itu tentu harus diganti dengan uang, bukan? Dan Kris telah menerima bayarannya karena telah mengantarkanmu padaku, nona manis.” Ucapnya yang kemudian menyentuh daguku dan dengan cepat kutangkis tangan besarnya itu.

“Kau sudah gila. Kris bukan orang seperti itu. Dia tidak mungkin melakukannya, dan semua ini memang telah kami rencanakan. Aku dan dia, kami..”

“Tunggu, tunggu.. ternyata Kris belum mengatakannya? Oh, tepatnya dia tidak mengatakannya padamu. Kau dibawa kemari untuk menjadi milikku. Bukan dia. Dia hanya mengantarkanmu saja. Jangan salah paham.”

“Mwo? Jadi ini..” aku menghela napas dalam dan sedetik kemudian setitik air mata berhasil keluar menerobos dinding pertahananku. Aku tak mampu lagi menahan tangisku.

“Kalian ini..” ucapku tertahan.

“Kalian ini manusia apa? Menjadikan orang yang tak bersalah sebagai boneka, begitu? Sebagai alat pemuas bagi kalian? Sepertinya kalian itu bukan manusia.” Ucapku tertunduk dan  kemudian mencari dan memunguti pakaianku yang berantakan di sembarang tempat.

Dengan segera kupakai pakaianku kembali di kamar mandi dan berlari meninggalkan kamar itu. Saat sedang menuruni tangga, kulihat Kris yang sedang duduk di sofa dan memejamkan matanya.

Ingin rasanya aku menampar pipinya sekencang mungkin. Namun ada sebuah perasaan yang menahan pemikiranku tersebut.

“Aku mencintaimu, Kris. Tapi mengapa kau lakukan ini padaku? Mengapa kau serahkan hartaku pada orang lain. Kau tahu milikku hanyalah milikmu, bukan orang lain. Dengan mudahnya kau lakukan ini? Kau jahat.” Lirihku sepelan mungkin.

Saat akan menutup pintu utama, langkahku terhenti dan berbalik kearah Kris. Lelaki yang amat kucintai meski kini kutahu betapa ia tak menghargai ketulusan cintaku.

“Aku masih akan tetap mencintaimu, Kris. Meski kau telah melakukan ini padaku.”

Aku pun keluar dari rumah kotor ini. Rumah yang menjadi saksi betapa dengan kejamnya aku diserahkan untuk merelakan harta berhargaku pada orang yang sama sekali tidak kukenal apalagi kucintai. Betapa dengan kejamnya orang itu menipuku, menipu cinta yang kuberikan padanya. Kris.

*****

Kubuka pintu rumahku dengan lemas dan mulai memasuki kediamanku dengan langkah gontai. Hingga akhirnya kumasuki kamarku dan menguncinya rapat-rapat. Tungkaiku terasa lemah dan tubuhku tak dapat merasakan apa-apa lagi. Apa ini yang dinamakan mati rasa?

“Apa ini, Kris? Apa ini sebuah lelucon? Mengapa kau lakukan ini, Kris?” tangisku pun tak dapat kutahan lagi. Dengan menyender pada daun pintu, diriku terduduk sampai air mataku terasa kering dan tanpa kusadari aku pun telah terlelap dalam dunia mimpiku.

—– Flashback —–

“Kau tahu, kau itu sangat mengganggu!”

“Apa pun akan kulakukan demi bersamamu, Oh Se Ra.”

“Kata-kata itu sangat tidak terpercaya, kau tidak mengerti itu?”

“Kumohon, jadilah kekasihku. Dengan ketulusan hatiku akan kulindungi dirimu.”

“Apa yang kau bicarakan, Kris. Kita hanya teman, ingat itu!”

—– Flashback End —–

(Author POV)

Se Ra  terbangun dari tidurnya setelah kurang lebih empat jam lamanya ia terlelap. Dengan tubuh yang begitu lelah dan mata sembab ia berusaha bangkit dari posisinya yang terduduk dan menuju kamar mandi yang berada di luar kamarnya.

Ia tak melihat satu pun anggota keluarganya semenjak ia datang tadi, dan kondisi rumah pun amat sepi.

“Kau tertidur cukup lama, noona.” Sahut Sehun dari balik sekat yang memisahkan antara dapur dan ruang keluarga.

“Dimana semua orang? Kenapa begitu sepi disini?” tanya Se Ra penasaran.

“Eomma dan Appa sedang bekerja, kau lupa? Mereka bekerja di ladang selada tuan Choi. Dan Se Kyung noona dia sedang sekolah. Apa kau lupa?”

“Eoh? Memang sekarang pukul berapa? Dan mengapa kau tidak pergi ke sekolah?”

“Noona! Apa kau amnesia? Aku berhenti sekolah. Kita tidak punya biaya untuk sekolahku. Dan sekarang sudah pukul satu siang.” Ucap Sehun dengan nada kesal.

“Sehunnie~ maafkan noona. Noona benar-benar sedang tidak enak badan. Kalau begitu aku akan mandi dulu.”

“Kau darimana saja?” pertanyaan Sehun berhasil membuat langlah Se Ra terhenti.

“Bukankah tadi pagi kau sudah mandi? Dan mengapa matamu sembab seperti itu?” lanjutnya.

“I.. Itu..” tenggorokan Se Ra serasa tercekat dan tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.

“Jangan katakan ini karena laki-laki itu?”

“Sehun! Hentikan bicara seperti itu!”

“Kau lupa seseuatu, noona. Aku sudah bertumbuh menjadi laki-laki dewasa sekarang. Tentu aku tahu masalah seperti itu. Aku harap memang tidak terjadi apa pun padamu.”

Sehun kini telah meninggalkan Se Ra yang masih mematung dan termangu mendengar pernyataan Sehun, adik laki-lakinya barusan.

“Apa itu terlihat begitu jelas? Apa kebodohanku terlihat jelas sekali?”

~~~ Black Dove ~~~

Se Ra berjalan dengan cepat. Napasnya naik turun tidak teratur. Langkahnya tak menentu dan selalu menabrak setiap orang yang ada di depannya. Keringat dingin mulai tercucur dengan deras. Pikirannya telah ditutupi oleh kabut ketakutan. Ia takut, takut melihat laki-laki itu disini. Di Universitas.

“Se Ra~ Oh Se Ra! Tunggu!” suara itu terus memanggil nama Se Ra sambil pemilik suara tersebut berlari mengejar sang pemilik nama.

“Kau mau kemana?” tanya lelaki tersebut setelah berhasil menangkap lengan Se Ra.

“Itu bukan urusanmu, Kris. Kumohon lepaskan aku.”

“Ada yang ingin bertemu denganmu. Manajerku ingin bertemu denganmu.”

“Aku tak pernah mengenal dunia yang telah kau tawarkan ini, Kris. Jadi, pergilah!”

“Jangan munafik, Se Ra. Kau butuh uang, kan? Untuk membiayai kuliahmu? Jujur sajalah.”

“Aku tak pernah menyangka kau adalah seseorang yang jahat.” Mata Se Ra menelisik tajam ke arah Kris.

“Lupakan perasaanmu, Se Ra. Hadapilah kenyataan. Dan kenyataannya semua orang butuh uang untuk hidupnya. Dan cinta yang sering kau bicarakan itu.. jangan pernah kau pikirkan itu lagi.”

“Anni. Aku tahu cinta itu ada dan tiap cinta memiliki ketulusan dan harapan yang sama besarnya. Dan..” Ucap Se Ra dengan berlinang air mata yang hampir keluar dari pelupuk matanya.

“Aku telah mencintai orang lain.” Sergah Kris dengan cepat dan menarik tangan Se Ra dengan kasar. Se Ra yang mendengar hal tersebut hanya dapat termangu.

Kini mereka telah berada di dalam mobil limosin hitam milik manajer Lee dan sang pemilik mobil pun telah menunggu keberadaan mereka sejak tadi.

“Dia orangnya? Pantas ketua begitu bersemangat. Kau terlampau cantik untuk menjadi wanita penghibur.” Ucap lelaki yang kini menatap lekat tubuh Se Ra.

Mata Se Ra terbelalak seketika mendengar pernyataan lelaki paruh baya di hadapannya itu yang kini sedang menyeringai licik kearahnya.

“Kau boleh pergi, Kris.” Manajer Lee berkata pada Kris dengan pandangan yang tak dapat ditebak.

“Baik, manajer.” Kris pun segera keluar dari mobil limosin hitam itu.

“Kalian benar-benar bukan manusia. Kalian iblis!”

Di saat Se Ra benar-benar merasa marah di dalam mobil mewah tersebut, Kris justru sedang memerhatikan seorang gadis yang menyita perhatiannya dua tahun lalu.

“Apa yang kau lakukan di tempat ini? Apa kau telah menyadari perasaanku kepadamu? Apa kau telah memikirkannya? Apa kau telah bersedia menjadi kekasihku? Kekasih yang akan selalu kujaga, yang tak akan pernah kubiarkan satu pun tangan orang-orang itu menyentuhmu. Apa kau bersedia menerima ketulusanku?” gumamnya dalam hati.

“Oh Se Kyung!” teriak Kris dengan keras dan itu terdengar hingga ke dalam mobil.

“Oh Se Kyung? Apakah dia.. Se Kyung adikku?” ucap Se Ra dalam hatinya.

Il’ll fight for you

From the beginning to the end

And i’ll do all that i can

When a woman loves a man

—– To Be Continue —–

Iklan

12 pemikiran pada “Black Dove (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s