Hello Precious! (Chapter 6)

FF EXO|[HELLO PRECIOUS!]|#6 Everything Has Changed

Title : Hello Precious!

Subtitle : Everything Has Changed

Author : @bbymomoo

Genre : Romace, Drama, Fluff, Sad

Rating : T-PG17+

Length : Chaptered

Main Cast :

Ahreum (T-ara),

Kai (Exo-k),

Suho (Exo-k),

Krystal (f(x)),

D.O (Exo-k),

Naeun (A-pink),

Sehun (Exo-k)

Support Cast :

Chanyeol, Baekhyun as Ahreum’s Senior

Woohyun as Ahreum’s Bestfriend

Shindong as Ahreum’s Father

Kangin & Sayumi as Kai and Suho’s Parents

Jung Yunho haraboji

Jessica as Krystal’s Mother

WARNING: Typo(s)

A/N : Happy Reading!

 Newcoverpart6

 “Apa lagi yang akan dilakukan gadis itu pada Ahreum?”geram Naeun. Ia mengikuti Suho yang lebih dulu menyusul kemana Krystal membawa Ahreum.

“Nona Soojung, lepaskan..”Ahreum mencoba memberontak. Krystal semakin mengeratkan cengkramannya pada lengan Ahreum—menyeretnya paksa ke arah kolam renang disana.

“Jangan pernah kau dekati Kim Jongin!”ucapnya penuh amarah—terlihat jelas dari matanya. Ahreum takut-takut membalas tatapan itu. Saat ini ia harus tahu diri dengan siapa ia berhadapan. Kalau ia melawan, maka pekerjaan Ayahnya lah yang jadi taruhannya.

“Nona Soojung a-aku..”ucapnya terpotong.

“Sekali lagi kau berdekatan dengannya, aku akan melakukan lebih dari ini Lee Ahreum!”lanjutnya. Tatapannya begitu mengintimidasi Ahreum.

 

6th

==========

HELLO PRECIOUS!

========

I wanna be your favorite hello…

…and your hardest goodbye

.

.

“Tapi aku—kyaaa..!!!”

Byurrr!

Dengan sekuat tenaga Krystal mendorong Ahreum hingga terjatuh ke kolam renang. Beberapa murid langsung berteriak kecil menyadari ada yang terjatuh ke kolam. Termasuk Naeun yang melihat kejadian itu.

“Ahreeeuuummm!!”teriak Naeun panik. “Dia gak bisa berenang, sunbae..”ucapnya pada Suho.

Sebenarnya Suho ingin memberi Krystal pelajaran atau semacamnya, namun mendengar penuturan Naeun ia langsung melepas jasnya dan menceburkan diri ke kolam juga. Apalagi kolam itu cukup dalam. Ahreum yang awalnya sempat berteriak, muncul-tenggelam di air dan menggapai-gapaikan tangannya ke atas sudah hampir kehabisan tenaga. Untung Suho cepat mengambil tindakan cepat. Ia langsung menyeret tubuh Ahreum berenang ke pinggiran. Membawa gadis itu keluar kolam.

“Uhukk uhukk..”

Ahreum terbatuk karena tenggorokannya hampir terisi air kolam. Tiba-tiba air matanya mengalir.

“Gwaenchana?”tanya Suho panik. Gadis itu menggeleng lemah. Suho masih memegangi bahu Ahreum. Berjalan menuntun di sampingnya.

Pemuda dengan senyum malaikat itu segera mengambil jasnya di pinggir kolam lalu dengan cepat memakaikannya pada Ahreum. Gadis itu menatap Suho penuh makna. Sehun dan D.O juga berada di sana. Mereka juga membuntuti Suho dan Naeun. Sehun pun langsung menghampiri Krystal.

“Ahreum kau tak apa?”tanya Naeun yang lagi-lagi dijawab gelengan lemah.

“Sebaiknya kita ke tempat kesehatan.” Suho langsung mengajak Ahreum keluar dari acara itu. Naeun hanya diam, mempercayakan sahabatnya kepada sunbaenimmnya itu.

“Kau!”geram Naeun. “Apa sih masalahmu sama Ahreum?”

“Soojung, kau benar benar keterlaluan kali ini!”Sehun hendak melayangkan tangannya ke wajah Krystal.

“Kau mau apa? Menamparku? Mengadukanku pada haraboji, hah? Lakukan!”dengan nada marah dan menantang Krystal mengangkat wajahnya. Mempersilakan Sehun untuk menamparnya saat itu juga.

“Kau!”

Sehun langsung mengepalkan tangannya. “Kali ini aku tak akan melakukan apapun, tapi kalau kau berbuat semacam ini lagi.. Aku tidak akan segan membalasmu, walaupun kita adalah saudara.”lanjut Sehun memperjelas maksudnya.

Pemuda itu langsung pergi meninggalkan pesta. D.O menyeret Naeun keluar dari acara itu juga. Krystal hanya mendengus pelan.

“Ternyata kau sudah hampir merebut apapun yang ku punya, Lee Ahreum..”batinnya. Ia pun langsung mencari dua pengikut setianya—Luna dan Suzy.

Sementara Ahreum dan Suho berjalan berdua dengan diam. Sesekali Ahreum melirik ke arah sunbaenimnya itu. “Junmyeon sunbae baik sekali,”batinnya. Ia pun tersenyum, sejenak melupakan apa yang sudah Krystal lakukan apadanya tadi.

Sunbae—aku akan langsung ke kamarku saja.”ujar Ahreum. Suho langsung berhenti. Ia mengamati sekeliling, ternyata sudah dekat dengan gedung penginapan.

“Apa kau sudah merasa baikan?”tanya Suho. Ahreum mengangguk.

“Eum, aku hanya takut dan kaget saja tadi. Tapi aku tidak apa-apa. Malah sunbae yang seharusnya aku tanya seperti itu.”jelas Ahreum. Pipinya memerah. “Sunbae gak apa-apa?”tanyanya.

“Panggil aku oppa saja, Reum-a. Dan, gwaenchana.. aku hanya basah.”jawab Suho dengan tawa diakhir kalimatnya.

“Iya Suho oppa.”

Ahreum tersenyum lega. Suho benar-benar penjaga, seperti pangeran saja. Pikirnya. Ia tersadar dan mencoba melepas jas Suho di tubuhnya. Namun Suho menahannya.

“Wae? Bukankah ini jas milikmu, oppa?”

“Kalau kau kembalikan, kau tidak akan punya alasan untuk menemuiku kan?”goda Suho. Ahreum memalingkan wajahnya yang memerah perlahan. Sedikit terkekeh mendengar ucapan itu.

“Sampai jumpa lagi oppa, aku kembali dulu.”pamit Ahreum.

“Tunggu sebentar,”Suho menahan Ahreum. Gadis itu menatap heran pemuda itu. “Kalau ada apa-apa lagi tentang dirimu dan Krystal, katakan padaku.. Lee Ahreum.”jelas Suho. Ahreum hanya mengangguk lalu berlari ke gedung penginapannya. Suho menggaruk rambut belakangnya dan ikut meninggalkan tempat itu—kembali ke kamarnya juga.

Ia menutup pintu kamarnya dan langsung bersandar di sana. Tangannya memegang bagian dadanya yang berdegup kencang. Ahreum berpikir, semenjak kedatangan pemuda bangsawan itu hidupnya seolah—kacau. Mulai dari Sehun, cucu Yunho haraboji—putra keluarga bangsawan yang sekarang menjadi temannya. Kai, pemuda menyebalkan yang merusak ketenangan hidupnya di SMA Hanlim. Membuatnya terjerat lagi dengan putri darah biru keluarga Jung, Krystal. Dan, Suho.. Pemuda yang menyelamatkannya seperti pangeran berkuda.

“Aku gila.”gumamnya. “Kau gila, Lee Ahreum..”gumamnya lagi.

Ia segera melepas jas milik Suho dan langsung berganti baju. Pasti teman-temannya yang lain masih menikmati pesta itu. Sayang sekali ia harus bertemu dengan Krystal. Ahreum memutuskan untuk berjalan-jalan di area penginapan. Penginapan yeoja dan namja memang tidak terlalu jauh. Ia memilih untuk pergi ke daerah pantai yang jauh dari pesta. Pasti bisa melihat bintang, pikirnya. Tak jauh dari sana ia melihat sebuah dermaga kecil dari kayu.

Ahreum pun mempercepat langkahnya ke sana. Jarang sekali ia bisa menuju dermaga waktu malam hari. Ia sudah tidak mengenakan gaun lagi dan berganti dengan pakaian kasual. Ahreum berjalan sendirian sambil bersenandung sesekali.

“Sedang apa kau di sini?”Ahreum terlonjak kaget. Hampir saja ia terkena serangan jantung mendadak—untungnya dia tidak tervonis penyakit itu.

“Kau membuatku kaget.”ujar Ahreum sambil membalikkan badannya. Ia tahu benar pemilik suara tadi, pemuda paling menyebalkan yang pernah dikenalnya. Walaupun cahaya saat itu remang, ia sudah tahu siapa itu—Kai. “Aku yang seharusnya bertanya itu padamu.”lanjut Ahreum.

Ahreum berpikir kalau ia yang sampai di tempat ini lebih dulu, sedangkan Kai baru muncul di belakangnya.

“Maksudku, kenapa kau tidak berada di pesta?”tanya Kai.

“Aku.. eum.. aku—kau sendiri juga tidak ke pesta kan?”jawaban Ahreum lagi-lagi sebuah pertanyaan kembali. Kai memutar bola matanya jengah.

“Aku sakit, lagi pula aku sedang malas ikut acara semacam itu.”ujar Kai. Ia berjalan melewati Ahreum dan langsung duduk di ujung dermaga. Melihat air laut yang gelap. Ahreum mengikuti Kai, ia duduk di samping pemuda itu.

Ia menengadah. Jutaan bintang terlihat indah sekali. Cahaya kecilnya sedikit terpantul ke laut—seperti berlian yang bertaburan. Sesekali angin berhembus membuat rambut basah Ahreum terbang-terbang. Kai hanya mengamati gadis aneh itu—menurutnya.

“Pernah terpikir untuk menghitung berapa banyak bintang?”tanya Ahreum.

“Bodoh, siapa pun juga tahu kalau ada jutaan bintang di luar angkasa.”jawab Kai. Ahreum tersenyum.

“Tidak, jumlahnya sama dengan jumlah bulu singa.”ujar Ahreum.

“Sama saja.”

“Hehehe,”Ahreum malah tertawa. Matanya masih saja menatap ke atas. “Kau benar. Tidak ada yang peduli seberapa banyak jumlah bintang, walaupun hanya ada satu, tetap saja bintang itu indah sekali. Aku benar kan?”oceh Ahreum.

“Tidak peduli seberapa banyak jumlah bintang?”batin Kai.

“Hatchii!”lagi-lagi Kai bersin.

“Ya! Kau ini masih sakit kenapa berkeliaran sih, sana kembali ke kamarmu.”perintah Ahreum yang khawatir dengan keadaan Kai.

“Aku baik-baik saja, haa haatchii!”

Kai mengelak beberapa kali, mulutnya berkata tidak namun keadaannya tidak bisa berbohong. Apalagi angin bertiup cukup kencang membuat malam itu semakin dingin.

“Aku hanya bosan, sendirian di kamar.”ujar Kai. Ahreum pun berhenti memaksa Kai.

“Kalau begitu biar ku temani, pokoknya kau harus kembali dulu ke kamar! Ayo!”

Kai pun menurut. Ia memang sangat bosan. Ia benci harus sakit. Dan ia benci sendirian. Ahreum menyeret tangannya menyusuri jalan menuju degung penginapan namja. Kamar nomor 88, adalah kamar Kai dan D.O berdua.

“Hoah? Kenapa bisa hanya kau dan D.O yang menempati kamar seperti ini?”tanya Ahreum heran. Kamar penginapan milik Kai ada di lantai 2. Karena bangunannya merupakan bangunan pantai bergaya klasik jadi harus menaiki tangga untuk ke lantai atas.

“Kau lupa? Aku kan anak pemilik sekolah.”sombong Kai lalu merebahkan badannya ke kasur. Ahreum malah sibuk menjelajahi kamar yang cukup luas untuk ukuran penginapan itu.

Ada dua tempat tidur di sana. Tempat tidur biasa, bukan bertingkat seperti di kamar Ahreum. Menyenangkan sekali menjadi siswa kelas A, yang rata-rata merupakan anak orang-orang kaya. Di kamar itu juga dilengkapi balkon yang langsung menghadap ke laut.

“Hei, bukankah di kamarmu ada balkon? Tidak perlu keluar ke pantai kan, di sini juga bisa melihat bintang.”celoteh Ahreum.

“Ya! Itu sih mau mu melihat bintang, bukan aku.”ujar Kai sedikit berteriak karena Ahreum sudah berjalan menuju balkon.

“Indah sekali.”batin Ahreum.

Langit seakan terasa dekat baginya. Baru saja ia akan menikmati semilir angin, namun suara bersin Kai membuatnya harus menekati pemuda itu.

“Kau bersin lagi? Sudah minum obatmu?”tanya Ahreum khawatir. Kai menggeleng. Pemuda itu paling benci dengan obat. “Dasar!”umpat Ahreum.

“Obatnya pahit.”protes Kai saat Ahreum mengambil obat di nakas samping tempat tidurnya.

“Dari jaman dinosaurus, obat itu memang pahit.”geram Ahreum. Bagaimanapun keadaannya pemuda di depannya ini sangat sangat menyebalkan.

“Tidak mau!”

“Minum obatnya!”

“Tidak!”

“Minum!!”

“Sudah ku bilang aku—”

Tok Tok Tok

Kai dan Ahreum saling berpandangan. Suara ketukan pintu membuat keduanya diam. Panik. Jangan-jangan semua siswa sudah selesai dengan acara final camp.

“Kai chagi-yaaa~!”

Deg

“Krystal?”

“Nona Soojung?”

Ucap Kai dan Ahreum bersamaan. Ahreum panik setengah mati, bagaimana kalau Krystal tahu ia berada di kamar Kai? Bisa-bisa tuan putri itu membunuhnya di tempat.

“Cepat ke balkon, biar aku yang urus.”ujar Kai yang menyadari perubahan air muka Ahreum. Sudah hampir seperti kertas hampir terbakar. Ahreum pun langsung berlari ke balkon. Menutup pintunya yang terbuat dari kaca. Kai pun bangkit untuk membuka pintu.

Klek

“Kai kau lama sekali membuka pintu!”Krystal langsung menghambur ke pelukan Kai. Pemuda itu merasa jengah sekarang. Ditambah kepalanya yang cukup pusing.

“Krys.. Lepaskan!”

Kai mendorong bahu Krystal untuk menjauh.

“Waee?”protes Krystal manja. Mood baiknya yang tadi hancur kini harus hancur untuk kedua kalinya. Apalagi ini karena Kai.

“Aku masih pusing, kembalilah ke kamarmu aku ingin istirahat.”ujar Kai sambil memegangi kepalanya. Tanganya mendorong Krystal keluar dari kamarnya.

“Wae? Kai aku kan hanya ingin..”

Brak

Kai menutup pintu kamarnya agak keras lalu menguncinya. “Tsk!”umpatnya kesal. Bagaimana bisa gadis itu kemari.

“Ya! Kai kau tidak bisa melakukan ini padaku! Yaaa!!”

Krystal masih meracau di depan kamar Kai. Kai yang masih diam di depan pintu bisa mendengarnya. Gadis itu masih mengenakan gaun hitamnya. Bedanya penampilannya sudah hampir lusuh. Rambutnya berantakan karena dia terus menjambaknya, make upnya hampir luntur. Karena tidak menemukan Luna dan Suzy, Krystal berinisiatif untuk menemui Kai namun Kai malah seperti ini.

“Aku muak..”batinnya. Airmatanya hampir keluar.

“Krystal?” Seorang pemuda menghampirinya. “Sedang apa kau di sini?”tanya pemuda itu. Ia heran kenapa bisa Krystal duduk menggembel di depan pintu kamar Kai—adiknya.

Krystal mengangkat wajahnya. “Eoh? Oppa..”

Suho tertegun melihat Krystal begini. “Kalau ketahuan penitia kau bisa dihukum. Ayo kuantar kau kembali ke luar.”

Krystal menurut. Ia heran, bukannya tadi Suho menolong Ahreum. Pemuda itu tahu benar kalau dia yang sengaja menceburkan Ahreum ke kolam tapi kenapa pemuda itu masih bisa bersikap baik padanya.

.

Hello Precious

.

“Hey, Lee Ahreum keluarlah, Krystal sudah pergi!”ucap Kai. Pemuda itu masih duduk di ranjangnya, mengurungkan niatnya untuk merebahkan diri karena sosok yang dia panggil tidak kunjung keluar dari balkon. “Tsk!” Karena penasaran ia pun berdiri, melangkahkan kakinya ke balkon itu.

“Hey Lee Ahreum..”Kai menepuk bahu gadis itu. Ahreum masih diam. Dahi Kai berkerut heran melihat  Ahreum terus melihat ke arah bawah.

“Ya! Kau tidak mendengar apa yang ku katakan—astaga!”lanjut Kai berdiri di samping gadis itu. Kepalanya ikut menunduk, melihat apa yangs edang dilihat Ahreum saat ini.

“Astaga!”pekiknya lagi. “Kau kenapa sih?”tanya Kai untuk yang kesekian kalinya. Tangannya menarik bahu Ahreum untuk menghadap padanya.

“Bukannya Krystal itu tunanganmu, kenapa bersama Suho oppa?”ujar Ahreum sedih.

“Kau—menyukai Suho hyung?”tanya Kai dengan nada yang entahlah, mungkin sedikit kesal. Dan.. cemburu. Ahreum mengangguk. Lagi-lagi selalu banyak perempuan yang menyukai kakaknya itu.

Bukankah tadi Suho yang membelanya? Kenapa tadi Suho memeluk Krystal seperti itu?

“Suho hyung memang baik kepada semua orang, mungkin dia hanya memberikan Krystal sebuah pelukan selamat malam. Kau tau kan.. Krystal itu sebenarnya gadis yang membutuhkan kasih sayang..” Kai sedikit dewasa di ucapannya kali ini.

“Aku kembali ke kamarku ya. Selamat malam.” Ahreum mencoba mencerna kata-kata Kai itu kembali. Ia mulai melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar tersebut. Namun Kai menarik lengannya. Menariknya jatuh ke dalam sebuah pelukan.

Kai memeluknya? Ia masih tidak bergeming, merasakan hangat di dada seorang Kim Jongin.

“Selamat malam.”ujar Kai sambil melepas pelukannya. “Aku tidak ingin membuatmu iri karena pelukan Suho hyung.”pemuda jangkung itu menggaruk leher belakangnya. Gugup—sedikit. Namun nada bicaranya masih terkesaan angkuh.

“Ah, sudah aku duga.”batin Ahreum. Gadis itu mengangguk lalu berjalan lagi. Kai mengekor dibelakangnya. Membukakan pintu dan membiarkannya kembali sendirian.

.

Hello Precious

.

Segalanya hampir berubah setelah acara Camp di Jeju. Sekarang, Ahreum jadi harus berpikir dua kali untuk ke rumah Yunho haraboji dan bertemu dengan Krystal lagi, ya tapi mau bagaimana lagi ayahnya kan sudah bekerja di sana. Sore itu—setelah pulang dari Jeju—Ia memasuki rumah kecilnya dengan langkah ragu, kecewa, dan takut. Kalau kalau Krystal akan mengadu pada Jessica—ibu Krystal—tentang kejadiannya bersama Kai. Apalagi kalau hubungan antara Krystal dan Kai sampai berantakan—stop! Ahreum menggelengkan kepalanya.

“Tidak, semuanya pasti baik-baik saja! Lagi pula, aku kan menyukai Suho oppa bukan Kai si menyebalkan itu! Ya, semuanya pasti baik-baik saja.”gumam Ahreum pada dirinya sendiri. Saat ini tidak ada yang bisa menenangkan pikirannya selain mensugesti diri sediri(?)

Ahreum pun mulai memasuki rumah kecilnya.

“Welcome home!”

“Appa?”kagetnya melihat Shindong ada di rumah. Seharusnya pria itu kan bekerja di rumah keluarga Jung.

“Wae? Kau tidak suka Appa menyambutmu pulang?”heran Shindong.

“Tidak!” Ahreum menghambur ke pelukan ayahnya itu. “Aku cuma heran, seharusnya Appa kan masih bekera di rumah keluarga Jung..”jelas Ahreum sambil melepaskan pelukannya.

“Tuan Yunho tahu kalau cucu-cucunya pulang sore ini, termasuk kau, jadi Appa boleh pulang cepat.”ujar Shindong. “Cepatlah, ganti baju atau membersihkan diri. Appa akan menyiapkan makan malam.” Pria tambun itu mendorong Ahreum untuk segera masuk ke kamarnya.

“Appa-ya..”protes Ahreum pelan. Shindong memandangnya sambil menaikkan alis. “Baiklah, aku akan cepat agar bisa membantu Appa.”lanjutnya lalu bergegas melakukan apa yang diperintahkan Shindong.

“Jadi bagaimana Jeju?”tanya Shindong begitu Ahreum sudah meyelesaikan apa yang ia suruh. Sekarag ayah dan anak itu tengah menyantap makan malam di ruang makan kecil rumah mereka.

“Cukup menyenangkan.”jawab Ahreum singkat sambil memakan kimbab nya. Sebenarnya Ahreum malas mengingat kejadian di Jeju kecuali saat final campnya malam itu tapi—ia malah teringat kejadian setelahnya. Gadis itu mengunyah kimbabnya pelan.

“Cukup menyenangkan?”Shindong mengulang jawaban Ahreum. “Lebih banyak tidak menyenangkannya, eoh?”tebak Shindong membuat Ahreum meelan bulat kimbab yang belum selesai ia kunyah. Tepat sekali tebakan ayahnya itu.

“T-tidak, tentu saja menyenangkan, Appa, kau tahu kan Jejuuu..”Ahreum tersenyum sambil mengacungkan sumpitnya.

“Ya ya, Jeju, Jeju..”Shindong kembali melanjutkan makannya. Sesekali mengajak Ahreum bercanda dan saling bercerita selama dua hari tidak bertemu.

“Hahaha, Appa, biar aku yang membereskan ini semua.”Ahreum mengambil alih pekerjaan Shindong yang hendak membereskan meja makan serta mencuci piring.

“Baiklah, Appa akan beristirahat kalau begitu.”ujar Shindong.

“Selamat malam, Appa bear.”Ahreum memeluk Shindong yang berbadan tambun itu sebentar, lalu melanjutkan pekerjaan rumahnya.

Kemudian, setelah pekerjaan malam itu selesai, ia juga masuk ke kamarnya. Menutup pintunya pelan dan langsung duduk di meja belajarnya. Menyibakkan korden agar bisa melihat langit malam itu. Tidak menyangka ia sudah di rumah lagi, di kamarnya yang tentu lebih luas—karena ia sendirian—dari pada kamar penginapan di Jeju. Ehm, kamar Kai adalah pengecualian.

“Ah, kenapa terpikir Kai sih?”gumamnya sebal. Ia menggelengkan kepalanya. “Suho! Suho oppa! Ya, tentu saja aku menyukai Suho oppa!”

“Aku akan menjadi fans Suho oppa! Si malaikat penjaga, yap!”

Dan malam itu Ahreum terus saja mensugegesti dirinya sendiri.

.

Hello Precious

.

                Naeun menopang kepalanya di kantin sekolah. Meja pojok dekat dengan lapangan basket itu diisi oleh tiga orang. Karena pelajaran kosong, kelas Ahreum bisa mengerjakan tugas di kantin sekolah—asal tidak mengganggu kelas lain. Dan, Sehun dan Ahreum juga Naeun tengah duduk di sana dengan Naeun yang bermuka kusut. Sangat kusut.

“Ya! Nona Son, ini adalah hari pertama kembali ke sekolah kenapa muka mu seperti itu?”tanya Ahreum yang mulai jengah melihat kelakuan sahabatnya.

“Kau masih sebal dengan pagi ini?”tanya Sehun.

“Huwaaaa..”Naeun berteriak kecil lalu membenamkan wajahnya diantara tangannya yang ia tumpukan pada meja kantin. Sehun dan Ahreum berpandangan. Sama-sama berpikir apa-aku-salah-menanyakan-sesuatu-pada-nya? Lalu keduanya sama-sama mengendikkan bahu.

“Aku.. aku tidak biasa duduk sendirian tanpa Woohyun..”ujar Naeun.

Ahreum dan Sehun menghela napas. Dari tadi pagi tak ada jawaban Naeun yang berubah dari rentetan kata itu. Mau kau bertanya Naeun apa kau sudah makan siang? Naeun bagaimana proyek seni mu minggu depan? Untuk hari ini, sepertinya Naeun diprogram untuk berbicara kalimat itu saja. Sehun dan Ahreum sampai bingung, padahal Ahreum juga sudah menawarkan diri untuk mengisi bangku Woohyun tapi naeun menolaknya, Naeun pikir pemuda itu datang terlambat tapi ternyata tidak masuk sekolah.

Kring Kring

Bel istirahat berbunyi. Sehun dan Ahreum masih berusaha membujuk Naeun—dan menghiburnya. Mengajaknya makan siang. Naeun masih menekuk wajahnya, sampai ada D.O menghampiri meja mereka. Entahlah, akhir-akhir ini D.O selalu bergabung dengan mereka. Dan kali ini pemuda bermata bulat serta ‘white rich’ itu membawa sebuah amplop berwarna putih ditangannya.

“Ada apa di sini?”D.O duduk di samping Naeun yang masih seperti itu. Matanya melihat ke arah Ahreum-Sehun dan Naeun bergantian.

“Woohyun tidak masuk sekolah tanpa memberikan kabar padanya.”jawab Sehun setengah berbisik. Tapi jelas saja Naeun masih mendengarnya. D.O mengangguk mengerti.

“Ah, Naeun-ah, aku membawakan mu hasil foto dari Lomokino dan Polaroid.”ujar D.O sambil meletakkan amplop itu di depan Naeun.

“Eoh? Terimakasih, ya. Nanti akan aku lihat.”ujar Naeun sambil memainkan aplop itu. Meski raut mukanya tidak memperlihatkan perubahan. D.O mengangguk senang. Sehun dan Ahreum kembali berpandangan, apa-apaan Naeun? Dari tadi bahkan dia tidak merespon kita? Ya begitulah kira-kira telepathy dari Sehun dan Ahreum.

“Ehm, sudah makan siang semua?”tanya D.O.

“Bagaimana kalau kita makan siang?”ajak D.O—yang sebenarnya menginginkan Naeun agar pikirannya teralihkan. Setidaknya untuk sementara ini. Sehun mengangguk, begitu juga Naeun. “Baiklah, karena Naeun mau, jadi biar aku yang traktir.”lanjut D.O.

“Kalian makan sianglah, aku ada urusan. Ppai!”Ahreum membereskan buku dan tugasnya di meja kantin. Kemudian keluar dari kawasan kantin yang mulai ramai.

“Kenapa dia?”tanya D.O heran.

“Entahlah, ayo pesan. Aku lapar.”ujar Sehun.

“Kau mau makan apa?”tanya D.O pada Naeun. Gadis itu sudah berubah kembali murung. “Astaga.. Naeun, sudahlah, mungkin Nam Woohyun-ssi sakit. Kau kan masih bisa menjenguknya setelah pulang sekolah.”ujar D.O menebak.

Sehun mengerutkan alis. Sakit? Kenapa aku dan Ahreum tak terpikirkan kalau Woohyun sakit ya? Pikir Sehun.

“Dia pasti menghubungiku tapi—”

“Bagaimana kalau nanti aku temani ke rumahnya?”tawar D.O yang langsung disambut puppy eyes Naeun. Andaikan ada Ahreum di sana, pasti gadis itu akan langsung menepuk kepala Naaeun dengan buku.

“Iya, aku mau!”

“Oke, temani aku melihat kamera baru juga kalau begitu.”ujar D.O.

“Ya!! Kalian ini. Biar aku yang memesan makan! Aish.” Sehun benar-benar tidak tahan dengan D.O dan Naeun yang sudah terlibat percakapan seputar fotografi yang tidak ia mengerti itu. Sudah seperti pasangan kekasih saja.

.

Hello Precious

.

                Ahreum membuka lokernya. Ia sengaja tidak ikut makan siang dengan yang lain karena hari ini dia sengaja bangun pagi dan menyiapkan bekal sendiri. Bukannya tidak ingin merepotkan Shindong—appanya, namun hari ini ia membawa dua kotak bekal sekaligus. Kotak miliknya berisi sandwich biasa dengan selai kacang, sedangkan bekal yang satunya adalah bento buatannya.

“Untuk Suho sunbaenim, sebagai terimakasih waktu itu.” Ahreum mengepalkan tangannya memberikan semangat pada dirinya sendiri. Ia langsung terkikik geli.

Setelah itu Ahreum menutup pintu lokernya. Ia langsung berlari kecil ke arah koridor kelas 11—tempat Suho berada. Kalau ia mengkira-kira mungkin saat ini suho ada di ruang Osis dekat koridor kelas 11 itu. Mata kelincinya menengok ke kanan-kiri, siapa tahu siluet tubuh Suho tertangkap matanya. Yap! Suho baru saja masuk ke ruang Osis dengan membawa beberapa map besar.

“Kerennya..”gumam Ahreum terpesona.

Ahreum mulai berjalan pelan sambil mengendap-endap ke arah ruang Osis—yang tentu saja tidak sembarangan murid bisa masuk ke dalam sana. Ahreum berdiri di samping pilar kokoh yang ada di samping pintu ruang Osis itu. Memegang bekalnya erat-erat sambil menunggu Suho keluar dari ruang itu.

“Lama sekali, aku intip saja.”batinnya.

Ia pun mulai membungkukkan badannya dan mengintip ke arah ruang Osis. Namun sepasang kaki menghalangi pandangannya. Glek. Ahreum menelan ludah. Jangan sampai yang memergokinya itu si ketua Osis paling dingin—Kris. Ia pun mendongakkan kepalanya. Lagi-lagi ia harus  mendapati orbs kelam itu memandanginya.

“Kyaa!”teriak Ahreum saking kagetnya hingga kotak bekalnya terjatuh. Bento dengan nasi berbentuk hati yang ia buat pun berceceran di lantai koridor.

“Ya! Apa sih yang kau lakukan di sini?”tanya pemuda itu datar dan sedikit kesal—Kai.

“Apa? Seharusnya aku yang bertanya begitu padamu!” Ahreum tak kalah kesal. “Lihatlah, bekalku jatuh! Tanggung jawab!!”teriak Ahreum menjadi. Ia hampir manangis melihat bento itu. Seharusnya bekal itukan jatuh di tangan Suho. “Bento..”gumamnya malang.

“Enak saja! Salah mu sendiri mengintip ke ruang Osis, kau lupa ya ruangan Osis sekolah kita itu khusus!”balas Kai sambil memandang penuh intimidasi pada Ahreum. “K-h-u-s-u-s!”ejanya sekali lagi sambil mengetuk dahi Ahreum menggunakan jari telunjuknya. Seolah Ahreum yang berasal dari kelas D itu adalah kelas buangan.

Ahreum memandangi Kai yang lebih tinggi darinya itu geram. “Yah!!”teriaknya lalu dengan cepat menyingkirkan tangan pemuda itu. “Apa-apaan sih? Dasar! Lihatlah tatanan rambutku jadi rusak begini, huhh..”ujar Ahreum berakting seolah ia bukanlah dari kelas golongan D. Karena koridor itu mulai ramai. Tak jarang mereka melirik ke arah Kai dan Ahreum.

Kai kaget sekaligus menahan tawanya melihat Ahreum yang menurutnya menirukan tingkah Krystal tersebut. “Tidak usah bertingkah seperti itu!”ujar Kai yang mmbuat Ahreum memberikan deathglare dari mata kelincinya.

“Kau ini! Tanggung jawab sama kotak bekalku!!”teriak Ahreum. Sudah tak peduli ada dimana dia sekarang. Yang jelas ia sudah benar-benar kesal dengan pemuda bernama Kai itu.

“Apa? Kenapa aku? Kau sendiri yang menjatuhkannya!”teriak Kai membalas gadis itu.

“YA! Kalau kau tidak me—”

“LEE AHREUM!!!”

-ToBeContinued:)-

Ps: Halo, apa kabar? Maaf jarang nyapa hehe, tapi aku selalu lihat Review kalian kok 😀 Gimana chapter ini? Makin gaje ya? Eh. Kalo boleh sih, mau minta kritik dan saran para readers ya tentang ff ini. Gomawooo before *bow*

11 pemikiran pada “Hello Precious! (Chapter 6)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s