Initially Just A Stranger (Chapter 3)

Author: Mingi Kumiko

Cast: Nagisa Park and Kim Jong In

Genre: Marriage life, family, and romance.

Rating: PG-17

initially just a stranger

 

== Initially Just A Stranger ==

Sehari setelah pulang dari bulan madu, aku langsung kejar setoran untuk mengerjakan semua tugas kuliah yang kutinggalkan selama 4 hari saat berlibur ke puncak.

 

Setelah selesai mengerjakan tugas kuliah, aku kembali ke kamar untuk tidur. Rasanya energiku sungguh terkuras karena otakku yang bersemangat untuk kerja.

Saat kubuka pintu, terlihat Jongin oppa yang sedang asyik berkutat dengan iPad-nya. Hmmm, tidak kaget, sih.

Oppa sedang ada pekerjaan?” tanyaku sok perhatian.

“Tidak. Cuma sedang online. Tugasmu sudah selesai?”

“Sudah.” setelah jawaban barusan, Jongin oppa pun tak memberi tanggapan lagi.

 

Kukeluarkan ponselku, sudah lama rasanya aku tidak membuka instagram. Upload foto cosplay terbaruku ah~~

 

Beberapa menit setelah fotoku ter-upload, tiba-tiba ada komentar masuk. Kubuka fotoku lagi, wah!!! Langsung lima orang berkomentar.

“Sugoi!”

“Kawaii!”

“Cute Chieri Sono <3”

“Namamu kan Nagisa, kenapa harus ber-cosplay Chieri? Tapi tetap imut sih… Terus berjuang ya!”

“Aku fotografernya!”

(Gak paham? Pura-pura paham aja ye… *peace)

 

Aku senyum-senyum sendiri saat membaca berbagai macam komentar itu. Fanboys-ku banyak sekali. Hahaha!!!

“Eqhemmm… yang mendapatkan banyak pujian di foto barunya…” celoteh Jongin oppa tiba-tiba. Eh? Bagaimana dia bisa tahu kalau aku baru saja mengunggah foto? Membuatku malu saja!

“Apa mereka tidak tahu kalau kau sudah menjadi istriku? Masih saja memberi komentar ganjen!” timpalnya lagi.

“Ya… karena aku memang tidak pernah memberitahu mereka.”

“O begitu. Mendekatlah!”

“Mendekat? Kenapa harus kulakukan itu?”

“Mau melawan suami dan mendapat amukan dari orang tuamu?”

“Eeeeh… tidak!” aku pun menggeser pantatku, mendekat, seperti yang ia inginkan.

“Berikan ponselmu!” suruhnya lagi.

“Ta… tapi…” aku berusaha menolak.

“Dilarang menolak perintah suami!”

“Huh!” dengusku sambil menyerahkan ponselku, walaupun dengan berat hati.

 

Jongin oppa mulai merengkuh pundakku, sebentar ia mengotak-atik ponselku yang ada di genggamannya, setelah itu, ia arahkan ponsel itu ke depan. Seperti orang yang ingin berfoto. O, jadi ia ingin mengajakku foto bersama?

“Tersenyumlah!” katanya.

CUP!

Tiba-tiba ciuman itu datang dari bibir Jongin oppa. Ia menciumku di pipi, namun entah kenapa, bibirku juga sedikit merasakan bibirnya. Ya, sedikit-sedikit ia mencuri kesempatan mungkin!

Oppa ini apa-apaan sih?!” tegurku.

“Ponselmu aku sita sementara,” katanya.

“APA?! Mana bisa begitu!” protesku.

“Sudah… kau tidur saja, aku tak akan berbuat yang macam-macam dengan ponselmu. Paling cuman membajak instagrammu dengan mengunggah foto yang barusan.”

“HYAAA… JANGAN!!! Aku mohon…” aku meraung dan memelas.

“Tak ada gunanya menolak, akan tetap melakukan itu.”

 

Aku menarik nafas sebentar dan mengerahkan seluruh tenagaku untuk menentangnya.

“KENAPA KAU SEENAKNYA SENDIRI, ITU PONSELKU, CEPAT KEMBALIKAN!!!” teriakku dengan wajah yang semarah mungkin. Jongin oppa terlihat terkejut sekali melihat kemarahanku.

Ia membuat keheningan sejenak, kemudian lanjut menatapku.

“Kau pikir pantas, seorang istri marah-marah seperti itu kepada suaminya?” tanya Jongin oppa dengan wajah yang dibuat sesantai mungkin, namun bermaksud menyindirku.

“Kau ini istriku, sebenci-bencinya kau dengan apa yang aku lakukan, hal itu tak mungkin membuatku mencelakaimu.”

“Tapi apa maksudmu menyita ponselku? Aku kan membutuhkannya!”

“Aku tahu kau membutuhkannya, tapi yang aku perlukan saat ini ialah mengunggah foto barusan. Supaya semua temanmu tahu, kau sudah jadi istriku. Jadi mereka tidak seenaknya saja menggodamu.

“Bukan karena aku egois sih… Tapi kalau kerabat kita tahu kau seenaknya bergaul dengan lelaki sembarangan, padahal statusmu sendiri sudah jadi istriku, apa kata mereka nanti? Yang ada aku malah dikira tidak bisa menjaga istri, lagi!” tutur Jongin oppa panjang lebar. Mencoba memberi pengertian padaku yang –mungkin ia anggap– keras kepala ini.

 

Setelah mendengar perkataannya itu, akupun memeluk lutut dan menggigiti kuku-kuku jemari. Aku menangis dalam diam, entah mengapa, tiba-tiba saja rasa takut menghinggapiku.

 

Jongin oppa langsung merengkuh lenganku.

“Sudah tidak marah lagi padaku?” tanya Jongin oppa. Aku pun menggeleng dengan keadaan tetap menggigit kuku. Kemudian ia mencium kembali pipiku yang dibahasi air mata.

 

Setelah ciuman itu terlepas, ia pun menatapku.

“Tidurlah! Hmmm, bagaimana kalau aku membuatkanmu susu?” tawarnya.

“Tidak perlu repot-repot.”

“Aaaaah, aku akan tetap baik-baik saja. Tunggu sebentar ya!”

“Terima kasih.” ucapku. Ia pun tersenyum dan mengacak-acak rambutku. Sweet moment.

 

***

Hari ini adalah awal bulan. Jongin oppa bilang, hari ini dia gajian, lalu setelah pulang nanti, ia akan mengajakku pergi makan malam ke restoran yang makanannya sangat enak. Ah, aku sungguh tidak sabar!

 

CLECK!

Terdengar suara pintu terbuka, akupun segera berlari menuju pintu.

Saat sampai, betapa terkejutnya aku. Wajah Jongin oppa yang dipenuhi memar dan menggunakan gips yang dilapisi tensokrap di luarnya. Seketika aku panik dan menghampirinya.

Oppa, kenapa ini?” tanyaku.

“Tadi, setelah kami menerima gaji, segerombolan preman bersenjata datang, mereka memaksa kami untuk menyerahkan gaji. Kamipun menurut, kecuali Jongin. Dia bersi keras tak mau memberi gajinya. Jadilah, segerombolan preman itu menghajarnya. Mereka mau berhenti kalau Jongin menyerahkan gajinya, akhirnya dia menurut dan preman-preman itu berhenti menghajarnya.” jelas Sehun, teman yang meminjamkan punggungnya pada Jongin oppa dan menuntunnya berjalan.

“Ya tuhan… Sehun-ssi, tolong bawa dia ke kamar ya?”

“Oke!”

“Terima kasih.”

 

Oppaya, apa perlu aku ambilkan air es untuk sedikit meringankan memar wajahmu?” tawarku dengan perasaan cemas yang menyelimuti.

“Tidak perlu. Maaf ya, makan malam nanti tidak jadi…” ucapnya.

Oppa… Tidak perlu minta maaf. Lebih baik kau kehilangan gajimu, daripada mendapatkan luka yang lebih parah dari ini. Segini saja kausudah tersiksa, ya ‘kan?

“Makan malamnya, aku masih bisa masak sendiri kok! Aku belajar resep baru lho!”

“Terima kasih ya, sayang… atas pengertiannya.” Jongin oppa menempelkan telapak tangannya di pipiku sambil mengelus lembut poniku dengan ibu jarinya.

 

Mendadak saja jantungku berpacu, degupan ini sangat aneh!

 

Malamnya, aku ingin mempraktekkan resep yang baru mama ajarkan kemarin padaku. Mama sering marah karena aku tidak bisa masak dan melayani suamiku. Lebay deh! Jongin oppa saja tak pernah pusing dengan aku yang tidak bisa masak. Malah mama yang repot-repot ngoceh. Tapi ya sudahlah, belajar masak juga tidak ada ruginya ‘kan?

 

Tak kusangka memasak itu menyenangkan, ahaha~ Sekarang, tinggal menghidangkan makanan-makanan ini di meja makan. Aku ingin Jongin oppa mencoba masakanku ini. Sekalian menghiburnya juga, sepertinya dia sangat kecewa karena tak jadi makan malam.

 

“Jongin oppa, ayo makan malam!” ajakku padanya yang hanya berbaring di kasur. Kemudian ia menarik selimut hingga menutupi wajahnya.

“Aku malas!” kudengar jawabannya yang kelewat datar itu.

Oppa… tapi kan kalau sakit harus banyak makan biar cepat sembuh!”

“Ya, nanti saja…” katanya dengan tetap berselimut dan tak bergerak sedikitpun.

 

Aku pun keluar dari ruang kamar ini, kembali ke meja makan. Kutatap nanar nasi dan piring berisi lauk itu. Aku yakin rasanya enak. Jongin oppa juga belum tahu aku masak apa, tapi dengan seenaknya ia tetap menolak untuk kuajak makan. Kenapa? Apa yang salah?

 

Aku menumpukan dahiku pada tangan yang terlipat,  kubenamkan kepalaku, dan bulir-bulir air mata tak sengaja keluar. Tangisku makin menjadi, JONGIN OPPA JAHAT!

 

– Jongin POV –

Sudah jam 9 malam, ke mana si Nagisa? Biasanya kan dia tidurnya jam segini. Ahhh, perutku lapar juga. Di meja makan, ada apa ya? Kenapa tadi Nagisa antusias sekali mengajakku makan malam. Apa jangan-jangan dia mau aku mencicipi masakannya?

 

Aku pun berjalan menuju meja makan. Berat sekali hanya berjalan saja, dasar preman-preman sialan!

Di meja makan, kulihat Nagisa yang membenamkan kepalanya. Kok dia seperti sedang sedih begitu? Kupercepat langkahku untuk menyegerakan mengetahui kondisi Nagisa.

“Nagisa…” panggilku lirih. Ia tak menjawab, yang aku dapatkan malah suara isakan. Apa dia menangis?  Tapi… kenapa?

Aku duduk di sebelahnya, memperhatikan baik-baik, memastikan apa benar ia sedang menangis atau tidak.

 

Sepertinya benar, aku pun berusaha membangunkannya dengan satu tanganku.

“Nagisa… tolong lihat aku!”

Setelah ucapan itu, ia pun mulai mengangkat kepalanya, namun tetap menunduk. Kuperhatikan ia dari samping, wajahnya terlihat merah, matanya pun sembab.

“Kenapa?” tanyaku.

“Bodoh! Masih pura-pura tidak tahu.” cercanya pedas.

 

Aku pun menoleh ke depan meja makan, melihat apa yang ada. Terlihat sangat banyak makanan. Sekarang aku tahu apa yang membuatnya menangis. Ini memang salahku.

“Seburuk itu kah sampai kau tidak mau makan?” tanyanya dengan suara bergetar.

“Tadi itu… aku susah bangun, Nagisa… Aku jalan ke sini saja aku perlu perjuangan. Maafkan aku ya… Aku mohon,”

“Makanlah, biar aku memaafkanmu.”

“Ini masakanmu?”

“Tentu saja, cobalah!”

“Baiklah, semoga enak ya!”

– Jongin POV End –

 

***

Aku terbangun dari tidur semalam, menoleh ke samping dan terlihat suamiku yang masih mempunyai luka memar di wajahnya. Kasian juga jika kulihat. Sepertinya hari ini aku harus cuti kuliah untuk merawatnya.

“Jongin oppa, sudah pagi, apa kau tidak mau bangun?” ucapku menggugahnya.

“Hoammmm…” terdengar suara menguap Jongin oppa.

“Tutuplah mulut ketika menguap, jorok tahu!” omelku.

“Hehehe…” cengirnya.

“Cepatlah mandi, kau kan harus kuliah. Aku mau cuti dulu, bosku sudah tahu kalau aku sedang sakit, jadi diizinkan.” ujar Jongin oppa.

“Tidak. Aku juga akan cuti untuk merawatmu.”

“Yang benar?”

“Iya… Aku tidak mau kena marah ibumu kalau kaukubiarkan sendirian di rumah dalam keadaan sakit.”

“Terima kasih,”

“Siip! Aku mandi dulu ya, setelah itu kusiapkan sarapan.”

.

.

 

“NAGISAAAAAA!” terdengar teriakan dari kamar mandi, apa yang terjadi dengan Jongin oppa?

“Ada apa, oppa?” tanyaku yang panik setelah sampai di kamar mandi. Kulihat dengan jelas, Jongin oppa yang topless dan hanya menggunakan handuk untuk menutupi tubuhnya. Aku menelan ludah, yang seperti ini baru pertama kali kulihat. Walaupun kami suami istri sih… Tapi kan, setiap Jongin oppa berganti baju, aku selalu memalingkan wajah dan tak ingin melihatnya.

“Aku boleh minta tolong?” tanya Jongin oppa.

“Minta tolong apa?”

“Aku kesusahan untuk mandi.”

DEG!

Apa yang ia katakan tadi? Kesusahan untuk mandi? Jangan-jangan… dia… memintaku… untuk… me… man… AAAAHHH!!! INI TIDAK MUNGKIIIN!!!!!!!

 

To be continue…

 

27 pemikiran pada “Initially Just A Stranger (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s