Lovely Day

Lovely Day

Title                             : Lovely Day

Author                         : @indahwonwon
Genre                          :  Teen, Romance.
Main Cast                    : Kim Eunji (OC)

Park Chanyeol (EXO’s Chanyeol)

Rating                         : PG-16

Disclaimer                   : This story is pure from my imagination. Park Chanyeol’s cast is not mine, his belong to his company, EXO and his family (but I hope someday his will be mine lol kkkk~) and for OC is purely from my imagination, which I imagine it really happened between me and Chanyeol LOL ^^

[A/N]               : Annyeooooooooong~ thanks for publishing my story. Sebelumnya ff ini udah pernah di publish di blog lain sekitar setahun yang lalu dan sekarang aku bawain ff ini lagi dengan beberapa perubahan disana-sini dari segi alur juga judulnya karena rasanya emang perlu pengkoreksian di beberapa bagian. Dan ini salah satu ff dengan proses penulisan yang bikin aku sendiri senyum-senyum bodoh sambil berkhayal, LOL. Hopefully you like this story, i know i’m not pro but hope u love it. Like usual, i need your comment bcs your comment like Oxygen. Komentar saran dan kritik kalian para reader jadi hal berharga buat saya. Thanks before ^^

 Lovely Day

 

“All done!”

Lelaki itu bergumam pada diri sendiri menatap bangga hasil pekerjaannya sambil berkacak pinggang puas.

“Aku tak sabar menunggu saatnya tiba.” Ia kembali sibuk merapikan setelan santai berwarna cerah yang ia kenakan. Kaos Polo Shirt berwarna putih dan celana pendek selutut berwarna biru langit yang sangat serasi dengan converse berwarna senada dengan kaos yang ia gunakan. Ia mengacak sedikit rambutnya dan kembali merapikannya lagi, mencari tatanan yang pas.

“Yap, enought!” Ia berseru puas sambil kembali sibuk berkutat di depan cermin berukuran besar di hadapannya.

Just for you, and i hope it will be a special things.

***

Udara panas dan cuaca siang yang cukup terik di pertengahan musim panas. Namun lain halnya dengan suasana di tengah taman kota yang lumayan sejuk. Untung saja saat ini sudah pukul 3 siang, bukan pukul 12 tepat saat matahari berada di puncak, aku yakin pasti hawa saat itu lebih terik dari pada saat sekarang.

Aku berlari menyusuri taman membawa sebuah ice cream cone rasa strawberry dengan topping chocolate melt dan taburan hazelnut yang baru saja ku beli di depan gerbang taman. Rambutku yang panjang sepinggang sengaja dibiarkan terurai bergerak – gerak terkena terpaan semilir angin. Aku berlari menuju sebuah kursi taman dan mendudukkan diri di atasnya.

Seseorang berseru padaku dengan suara berat khasnya sambil berlari mengikutiku dengan langkah yang cukup besar dari derap langkahnya yang terdengar konstan.

“Ya! Baby-ya~ kau tega sekali meninggalkanku.” Anak lelaki yang kini telah duduk tepat di sebelahku, mulai mengguncang pelan bahuku sambil merajuk. Terlihat sangat imut karena mata bulatnya yang besar jadi sedikit menyipit.

“Merooong~”

Aku menjulurkan sedikit lidahku kearah lelaki yang kini mulai mengerutkan bibirnya lucu. Gemas. Aku mencubit lembut pipi kirinya, kemudian kembali sibuk dengan ice cream yang baru saja kubeli.

“Aku bosan!” Ia menghempaskan tubuhnya pada sandaran kursi kemudian menyilangkan kakinya, membuat celana biru langit selutut yang ia kenakan sedikit berkerut.

“Eunji-ya~ aku juga mau ice cream.” Lelaki itu berseru manja sambil menarik-narik ujung lengan dress selutut berwarna pastel yang ku kenakan.

“Hmm.. Itu beli saja di depan, pasti masih ada.” Aku bergumam sambil memunggunginya.

“Aku malas harus kembali lagi ke sana, jauh. Aku mau ice cream mu saja.” Ia mulai sedikit menjengkelkan. Dasar manja.

“Ah, Aniyo~ kau beli saja lagi di depan gerbang taman. Pasti masih ada.” Aku menolak permintaannya dengan lembut namun tegas. Ia pun mendenguskan nafasnya karena sepertinya kesal denganku.

Aku menghela nafas sebentar, padahal aku hanya bercanda tak ingin berbagi dengannya tapi ia selalu begini. Menganggap serius gurauanku. Aku bermaksud membagi ice cream milikku dengannya, walaupun sebenarnya ia bisa membeli yang baru di depan. Tapi sudahlah, ia memang selalu begini. Senang memaksa dan bermanja-manja denganku.

Aku hendak membalik badan sambil berkata padanya,

“Hmm.. Jangan merajuk, ini aku bagi I..”

Kata – kata ku terhenti saat sesuatu yang hangat dan lembut menyentuh bibirku yang terkena ceceran ice cream. Bibirnya kini menempel tepat pada bibirku. Otak ku seperti membeku sehingga tak memberi respon apapun pada tubuhku kecuali diam mematung. Dan tanpa sadar ice cream milikku telah jatuh. Kami pun terdiam untuk beberapa saat tanpa ada reaksi. Secara tiba – tiba ia mengecup bibirku lembut, dan sedetik kemudian melepas kecupannya.

Kini atmosfer canggung mulai tercipta diantara kami, ia mulai melakukan gerakan tak penting seperti menggaruk belakang kepalanya sambil mengulum bibir atasnya yang terkena sisa ice cream dari bibirku. Kemudian ia mulai tersenyum canggung sambil berusaha menenangkan suasana. Tetapi, semua sudah terlanjur. Refleks aku menyentuh bibirku. Otak ku yang pada akhirnya bisa mengirimkan sinyal terkejut membuat detak jantungku mulai memacu lebih cepat dan wajahku mulai terasa memanas, sepertinya pipiku sudah semerah tomat sekarang atau mungkin lebih.

“Neo…”

Aku menggantung kata – kataku dan kemudian berlari meninggalkannya yang masih terduduk dengan posisi badan yang sedikit condong kearahku. Sayup – sayup aku mendengar ia memanggil namaku, namun aku berusaha tak menghiraukannya dan terus berlari mencari tempat yang bisa membuatku sedikit tenang. Suasana hatiku campur aduk. Debaran jantungku tak kunjung memelan, semakin berdebar bahkan berdetak kian kencang.

Aku berhasil berlari menuju rumah karena taman yang hanya berjarak tiga blok dari komplek rumahku. Dan kini aku tengah melangkah gontai menuju lantai dua, menuju kamarku. Sesegera mungkin aku membuka pintu kamar dan menutupnya serampangan, menghempaskan tubuh di atas tempat tidur. Kemudian kembali duduk di pinggirannya, membiarkan kakiku menggantung tanpa menyentuh permukaan lantai sambil memeluk polar bear berbulu putih selembut salju pemberian darinya. Ya dia, lelaki yang sudah menciumku. Dia adalah Chanyeol, Park Chanyeol. Namja ku.

Tetapi, aish.. Sudahlah. Tubuhku benar – benar lelah, aku pun kembali merebahkan badan dan tak butuh lama akhirnya aku terlelap sambil tetap memeluk polar ku.

***

Tok.. Tok.. Tok..

“Eonnie, Eunji eonnie~ eomma memanggil untuk makan malam.” Si kecil Chanmi berteriak – teriak dengan suaranya yang terdengar lucu sambil menggedor pintu kamarku. Aku terbangun, kemudian mengucek mataku yang masih agak mengantuk.

“Ng.. Eo! Aku kebawah sebentar lagi. ” Aku bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi untuk mandi karena badanku sudah terasa sangat lengket.

Selesai dan aku memilih mengenakan piyama berwarna hijau kesayanganku, kemudian bermaksud untuk turun ke bawah menuju ruang makan. Sebelumnya ku melirik jam dinding sekilas,

“Sudah pukul 8, ternyata aku tertidur cukup lama. ” Aku bergumam pada diri sendiri, mungkin aku tertidur kurang lebih 4 atau 5 jam.

“Eunji, kau baru bangun?” Eomma bertanya padaku yang baru saja sampai di bawah.

“Aniyo eomma, aku baru selesai mandi makanya aku terlambat turun. ” Aku kemudian mendudukan diri tepat di sebelah Chanmi kecil.

“Eonnie, tadi sore aku menemukan sesuatu di teras rumah sepertinya itu untukmu.” Chanmi bergumam padaku sambil mengunyah makan malamnya.

“Benarkah? Apa itu? ” Aku berkata sambil tetap menyendok sup kimchi.

“Hmm.. Itu di atas meja di ruang tamu.” Si kecil Chanmi menjawab dengan mulut terisi penuh makanan, benar – benar lucu. Aku pun mencubit pipinya gemas.

Aku berjalan menuju ruang tamu, dan benar di atas meja terdapat sebuah keranjang bunga dengan sebuket penuh mawar putih di dalamnya dan juga sepucuk surat diatasnya. Ragu – ragu, aku pun membaca pesan yang tertera pada selembar kertas berwarna kecoklatan itu,

Dear Eunji. Untuk mu~

Aku membalik kertas itu dan tidak mendapati nama pengirimnya, selain beberapa kata dengan tulisan yang sama sekali tak familiar untukku.

Aku kembali ke meja makan bermaksud menanyakan pada Chanmi perihal pengirim titipan ini, siapa tahu Chanmi mengetahui siapa yang mengirimkan ini.

“Chanmi~ya, kau tau siapa yang mengantar ini?” Gadis kecil itu sedikit mendongak menatap ku, “Aniyo~ tadi aku menemukannya tergeletak di depan pintu dan aku lihat ada nama eonnie, jadi aku bawa masuk. ” Si kecil Chanmi menjawab dengan ekspresi lucunya yang selalu membuat ku gemas untuk mencubit pipi nya yang seperti tomat.

Aku pun menuju pintu depan untuk mengecek, siapa tahu ada petunjuk mengenai pengirimnya yang tak sengaja tercecer. Aku membuka pintu depan dan mulai mencari cari di sekitar teras rumah, tetapi aku tak menemukan apapun. Kemudian aku mendudukkan diri di tangga teras paling atas sambil mengedarkan pandangan ke sekelilingku. Pandanganku terhenti pada suatu benda yang tergeletak di pojok tangga paling bawah namun agak tersembunyi. Aku mendekatinya kemudian meraih benda yang ternyata sebuket besar mawar putih lagi. Aku memasukkan sebuket mawar itu kedalam keranjang yang sedari tadi ada di tanganku. Aku kembali mengedarkan pandangan dan berhasil menemukan buket mawar putih yang di selipkan di antara pagar rumah dan kembali memasukkannya kedalam keranjang.

Aku berlari kembali kedalam bermaksud mengambil jaket, saat melewati meja makan eomma bergumam padaku, “Eunji, kenapa berlari? Ayo makan dulu, kau kan belum menghabiskan makan malammu. ”

“Aniyo eomma. Aku sudah kenyang lagi pula tadi siang aku sudah makan. ” Aku sedikit berbohong pada eomma, dan melanjutkan berlari menuju kamarku. Aku mengambil baju hangat dan mengenakannya. Kemudian kembali turun dan berpamitan pada eomma untuk keluar sebentar.

***

Aku berjalan keluar dari rumah, dan kembali menemukan buket mawar putih tergeletak di dekat rumput di depan rumah. Aku kembali melangkahkan kaki sambil tetap mengedarkan pandangan mencari, mungkin masih ada mawar – mawar yang lain. Benar saja, tak beberapa langkah dari tempat aku menemukan mawar yang sebelumnya, buket mawar kembali di letakkan. Sepertinya ada seseorang yang menuntunku ke suatu tempat dengan menebar mawar – mawar ini. Tapi siapa?

Aku menatap keranjang yang ku bawa semenjak dari rumah dan kini sudah terisi penuh mawar yang kurasa sudah berjumlah ratusan, dan ini cukup berat. Tidak, tapi sangat berat. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Hmm.. sepertinya aku tahu kemana seseorang misterius ini menuntunku. Aku kembali menemukan buket mawar lain di depan gerbang menuju bukit kecil, tempat favoritku. Aku melangkahkan kaki menapaki setiap anak tangganya. Aku harus sedikit berhati – hati karena pencahayaan yang remang dan anak tangganya berukuran cukup kecil. Pada anak tangga paling atas terdapat buket mawar putih tergeletak dengan manis. Baru beberapa langkah berjalan aku kembali menemukan buket mawar putih. Aku melanjutkan kembali langkahku, dan aku menemukan sebuket mawar putih lagi tergelerak manis di atas sebuah batu seukuran kura – kura dewasa. Tepat di depan ku membentang padang rumput hijau dengan latar Seoul malam hari yang di hiasi lampu lampu yang berkerlip – kerlip. Sangat cantik, itulah alasan mengapa tempat ini menjadi tempat spesial untukku. Aku bermaksud menuju sebuah pohon yang hanya berdiri sendiri di tengah padang rumput hijau yang menghampar lumayan luas, beberapa meter dari pohon aku kembali menemukan buket mawar putih.

Dari jarak yang tak terlalu jauh aku dapat melihat sebuah cahaya kecil berpendar di bawah pohon. Aku pun mendekati sumber cahaya kecil itu yang tak lain sebuah lilin kecil yang di bawahnya terdapat secarik kertas berwarna sama dengan kertas yang ku dapat tadi. Aku pun berjongkok mengambil kertas itu, kemudian membaca tulisan yang tertera di atasnya.

Look up, and you can find what do you want! ”

Aku membatin membaca isi surat kecil itu.

Aku menatap keatas, tiba – tiba sekelilingku yang tadinya gelap dan hanya diterangi cahaya bulan dan bintang – bintang juga lilin kecil di tanganku kini semakin terang dengan cahaya lampu – lampu yang manis di sekeliling pohon. Pohon yang sudah tak di tumbuhin dedaunan kini berganti dengan pendaran lampu – lampu cantik berwarna – warni yang di lilitkan di setiap ranting – rantingnya, juga di sekeliling batangnya yang besar dan kokoh. Aku tersenyum bahagia menatap betapa indahnya pemandangan di depanku.

“Bukankah ini begitu cantik, sama sepertimu.” Sebuah suara misterius yang berasal dari belakang bergumam padaku.

Aku terkesiap dan refleks berbalik, “Nuguya? ”

Beberapa saat hening, seseorang yang tak dapat ku lihat jelas wajahnya dan yang tampak hanya siluetnya saja berdiri tepat di belakangku mengenakan sayap angel di punggungnya. Sangat cocok dengan tubuh tingginya, apa ini yang namanya malaikat? Entah lah.

Sosok itu melangkah mendekat, aku hanya berdiri mematung menatapnya yang mulai mendekat ke arahku. Kini sosoknya sudah berdiri di bawah pohon yang sama denganku, dan aku mengenali sosoknya. Dia Chanyeol, Park Chanyeol namja ku. Ia menyunggingkan senyum simpul padaku, aku membalas canggung senyumannya. Dari balik punggungnya muncul satu lagi buket mawar putih yang bahkan berukuran lebih besar dari semua buket yang sudah aku dapat dan ia memberikannya padaku, “Untuk seseorang yang sangat dan begitu spesial untukku. ” Kemudian ia kembali tersenyum padaku. Aku menerimanya dengan malu dan perasaan sedikit canggung kemudian menatapnya bingung.

“Kau tak ingat? ” Ia kembali bertanya padaku dengan suara yang begitu lembut. Aku menggeleng lemah, aku benar – benar tak mengerti.

“Mianhae~”

Chanyeol memecah keheningan singkat diantara kami berdua. Aku mengangkat kepala untuk melihat wajahnya, “Untuk apa? ”

Refleks aku bertanya padanya yang di ikuti dengan gerakan cepat menutup mulutku dengan kedua tanganku. Chanyeol tertawa melihat tingkah laku ku,

“Untuk tingkah bodohku padamu tadi siang. ” Ia berhenti tertawa kemudian menundukkan kepala dan meletakkan tangan kanannya di belakang tengkuk.

Aku kembali terdiam.

“Aku.. benar – benar tak bermaksud melakukan itu padamu, aku tak sengaja. Aku juga terkejut dengan gerakan refleksmu yang tiba – tiba membalik badan ke arahku yang kebetulan berpaling menghadapmu. ” Ia menjelaskan sambil sesekali melirik kearahku.

“Dan apa maksudmu.. dengan tak sengaja? ” Aku bertanya dengan suara yang begitu pelan.

“Aku.. Mianhae, jeongmal~ aku benar – benar terkejut dan refleks menciummu. ” Sekali lagi Chanyeol mencoba menjelaskan padaku dengan apa yang terjadi tadi siang.

“Aku juga minta maaf karena reaksi bodohku, aku malah meninggalkan mu begitu saja..”

“Aku tahu bagaimana perasaanmu saat itu. Aku pun juga begitu..” Ia berkata sambil tersenyum menatapku.

Chanyeol berjalan melewatiku, aku memutar tubuh untuk melihat apa yang akan ia lakukan. Chanyeol sedikit berjongkok mengambil sesuatu dari dalam sebuah kotak kecil berwarna coklat. Ia menyembunyikan sesuatu di belakang tubuhnya dan kembali melangkah ke arahku.

“Tutup mata mu.” Chanyeol bergumam lembut padaku memerintahkanku memejamkan mata. Aku pun mengikuti perintahnya lalu menutup kedua mataku.

Beberapa saat kemudian aku merasakan ada sesuatu di atas kepalaku, aku bermaksud membuka mata namun Chanyeol terlanjur membisikkan sesuatu padaku,

“Tetap pejamkan matamu, jangan di buka sebelum aku yang memintanya.”

Hening untuk beberapa saat, aku terkejut saat terdengar suara seperti sebuah ledakan namun tak begitu keras, aku pun membuka mata dan menengadah ke langit melihat apa sebenarnya itu. Suara tadi tak lain adalah suara ledakan kembang api, indahnya kembang api yang berwarna – warni menghiasi langit malam Seoul. Sebuah tangan yang hangat menggenggam tangan kananku lembut, aku melirik ke samping dan mendapati Chanyeol yang sedang menatap langit yang di hiasi kembang api. Aku tersenyum melihat ekspresi bahagianya.

“Sebegitu tampannya kah aku sampai – sampai gadisku tak henti – hentinya tersenyum menatapku. ” Ia bergumam tanpa melepaskan pandangannya dari langit.

Aish, ia selalu sukses membuat pipiku bersemu merah dengan ucapan atau perlakuannya padaku. Aku pun melepas genggamannya kemudian menggembungkan pipiku kesal karena sekali lagi Chanyeol berhasil menggodaku.

“Ya! Eunji, aku hanya bercanda. Jangan marah lagi, arra? ” Chanyeol mencubit gemas pipiku. Aku sempat lupa dengan sesuatu yang Chanyeol letakkan di kepalaku, kemudian aku menyentuhnya dengan kedua tanganku dan menurunkannya dari kepalaku untuk melihat benda apa itu. Tenyata sebuah mahkota yang terbuat dari rangkaian bunga – bunga musim semi yang sangat cantik.

“Johahae? ” Chanyeol kembali bertanya padaku dengan suara yang lembut sambil menuntun tanganku mengembalikan mahkota tadi ke kepalaku.

“Ne, naega johahaeyo, neomu neomu joah. Ini terlalu indah. ” Aku berucap sambil menahan air mata yang sepertinya ingin segera turun membasahi pipiku.

Chanyeol menyentuh pipiku lembut, kemudian mulai mendekatkan wajahnya pada wajahku. Kedua matanya kini mulai terpejam. Aku kembali merasa gugup. Bibirnya lembut menempel pada bibirku. Entah mengapa aku tak menolak saat ia mendaratkan bibirnya padaku. Rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu terbang didalam perutku, ada sensasi menggelitik juga mendebarkan ketika bibir kami saling bertemu. Aku juga ikut memejamkan mataku membiarkan bibir kami bertemu, menikmati debaran jantung yang berdetak semakin cepat.

Entah siapa yang memulai, kecupan Chanyeol berubah menjadi lumatan-lumatan yang hangat namun lembut dan cukup dalam. Perlahan ia meraih tenggkukku membuat tubuh kami semakin merapat. Aku mengikuti naluriku berusaha mengimbangi Chanyeol membalas lumatan-lumatannya. Lututku terasa lemas, refleks aku menggenggam bagian depan kaos polos yang ia kenakan, meremasnya perlahan. Chanyeol yang sadar kegugupanku berusaha menahan tubuhku dengan memeluk pinggangku dengan sebelah lengannya dan tangannya yang lain berada di belakang tengkukku. Ada rasa yang lain saat ia memeluk pinggangku, aku merasa aman dan nyaman.

Cukup lama, kami bersamaan melepas kecupan, ia menempelkan keningnya di keningku. Bersama-sama terengah mencari-cari oksigen. Menikmati debaran jantung masing-masing yang masih berdetak diluar kendali. Deru nafas ku dan dia terdengar bergantian. Nafasnya yang hangat bisa kurasakan menerpa wajahku yang kembali bersemu merah. Ia masih enggan melepas pelukannya dari pinggangku begitupun aku yang masih belum melepas cengkraman di bagian depan kaos polos miliknya. Kami masih sama-sama menikmati suasana hening.

“Kali ini bukan karena kecelakaan konyol, tetapi karena aku sayang padamu. Lost you like crushing my world.” Aku bisa melihat kesungguhan saat Chanyeol mengucapkan kata-katanya. Aku tersenyum memandangnya, aku menatap sebuah ketulusan dari kedua matanya.

“Kau yang pertama..” Aku berbisik padanya.

“Dan untuk selamanya..” Ia membalas bisikanku.

Aku bahkan lebih menyayangimu..

***

“Masih tak ingat hari ini hari apa? Hari ini adalah hari spesial kita. ” Chanyeol mengacak sedikit rambutku.

Kembali hening..

“Happy Anniversary, sayang~” Chanyeol kembali memecah keheningan di antara kami yang sudah berkali – kali terjadi.

Astaga bagaimana mungkin aku bisa lupa hari sepenting ini, aku kemudian mengambil ponselku yang berada di dalam kantong jaketku dan mengecek sesuatu. Tak berapa lama, aku menggaruk kepala kemudian kepalaku tertunduk karena malu. Ternyata aku benar – benar lupa hari ini. Bodohnya, bagaimana bisa aku melupakan hal sepenting ini?

Setetes cairan bening mulai menganak sungai di kedua pipi ku. Air mata yang sedari tadi sudah berusaha ku tahan akhirnya tak bisa ku bendung, tumpah begitu saja menyadari semua hal spesial yang Chanyeol siapkan untukku.

“Kau menangis, kenapa? Apa ada ucapan atau tindakanku yang menyakitimu? ”

Chanyeol bertanya  padaku dengan suara yang pelan namun masih dapat ku dengar dengan jelas.

Aku menggeleng pelan, karena memang tak ada satupun tindakan yang ia lakukan yang salah di mataku. Hanya saja, semua yang ia lakukan teramat sangat manis untukku. Ganjil rasanya ia sudah susah payah mempersiapkan hadiah spesial ini sedangkan aku saja tak ingat hari ini.

“Aku tahu kau sedang berbohong, Eunji~ya! Kau sedang menangis kan. Lihat aku! ” Chanyeol sedikit meninggikan suaranya.

Aku angkat suara, “Iya, aku menangis. Tetapi kau tak berhak marah dengan alasan mengapa aku menangis. ”

“Mana mungkin aku tak marah jika aku melihat langsung gadis ku menangis di hadapanku dan menangis karena ku. Dan aku juga berhak untuk melarang gadis yang paling kucintai menangis di hadapanku, karena itu menyakitiku. ” Chanyeol masih tetap konstan dengan nada bicaranya.

“Aku menangis karena.. bahagia. Aku bahagia karena dirimu dan rasa cintamu padaku. Karena hal – hal manis yang sudah kau lakukan. ” Aku menatap langsung kedua bola matanya yang indah di mataku.

Chanyeol terdiam mematung, kemudian mengarahkan lengan kanannya ke wajahku. Mendekatkan jari – jarinya pada sudut mataku dan menyeka air mata yang masih tersisa,

“Sst.. Tolong jangan menangis lagi. ” Nada suaranya kembali melunak.

Aku tersenyum simpul tanpa mengalihkan pandanganku dari kedua bola matanya, mata bulat yang besar, yang selalu ku sukai.

“Maaf.. ” Aku berkata padanya sambil tetap menatap kedua bola matanya.

“Untuk? ” Chanyeol bertanya sambil mendelikkan sedikit kepalanya binggung.

“Maaf untuk.. maaf karena aku tak bisa memberikan apapun padamu, sedangkan kau sudah memberikan banyak hal manis padaku hari ini. ” Aku sedikit mengalihkan pandangan darinya saat mengucapkan kata – kata ini.

Chanyeol menyentuh kedua pipiku menatap langsung kedalam mataku, menatapnya dalam.

“Aniyo, aku tak akan memaafkanmu.. ”

Aku kembali berusaha mengalihkan pandanganku darinya setelah mendengar kata – katanya barusan, hatiku seperti terisis mendengarnya.

“Aku tak akan memaafkanmu karena tak ada satupun kesalahan padamu, tak ada yang perlu aku maafkan. Kau tak perlu memberikan apapun, hal terindah yang pernah kau berikan padaku adalah rasa cintamu padaku, kebahagiaan saat melihat kau tertawa juga senyuman tulus darimu itu semua sudah cukup dan itu lebih berharga. Jadi tolong jangan menangis lagi di depanku karena itu membuatku terluka.”

Aku kembali luluh dengan setiap ucapan manisnya, air mata kembali mengalir dari kedua bola mataku. Buru – buru aku mengelapnya dengan punggung tanganku sebelum Chanyeol kembali protes melihat aku meneteskan air mata di depannya.

***

Banyak sekali hal bodoh yang sering kami lakukan jika sedang berdua, seperti halnya saat ini. Berputar – putar berhadapan di hamparan rumput hijau tak jauh dari pohon lampu yang di buat Chanyeol sambil bergandengan tangan dan berteriak – teriak tak jelas. Begitulah, sifat tenang Chanyeol saat bersama dengan teman – temannya seolah hilang di telan bumi saat bersamaku, selalu bersikap manja dan kekanakan namun tak jarang sikap dewasanya berkali – kali berhasil membuat hatiku luluh.

“Chanyeol~a, aku pusing.. ” Aku berkata padanya sambil sedikit terhuyung.

Chanyeol menarik lenganku lembut, kemudian merebahkan tubuhnya di atas rerumputan, “Sini, di sebelahku. Dari sini bintang – bintang terlihat lebih cantik. ”

Aku mengikuti apa yang Chanyeol lakukan, merebahkan diri tepat di sebelahnya, ikut memandangi indahnya langit dengan taburan ribuan bintang – bintang.

Chanyeol mengangkat lengan kanannya, menunjuk sebuah bintang dan beralih ke bintang yang lain membentuk garis penghubung yang tak kasat mata.

“Kau tak mau mencoba. ”

“Chanyeol~a, kau kekanak – kanakan. ”

Aku terkekeh sambil memukul lengan kanannya lembut.

“Ayolah, ini menyenangkan. Kau tak bisa menebak bentuk apa yang sudah ku buat?” Chanyeol terus memaksaku kemudian menarik lengan kananku mengikuti gerakannya.

“Aish, baiklah akan aku lakukan.” Awalnya aku hanya sekedar menganggap ini permintaan Chanyeol tapi ternyata ini cukup mengasyikkan walaupun sangat kekanakan.

“Eunji~ya kau lihat bintang yang paling terang itu?” Chanyeol menyeggol sedikit lenganku dengan lengannya.

“Eo, aku lihat. Sangat cantik.”

“Itu polaris. Bintang selatan, dan jika kau tarik garis ke seluruh bintang itu, itu dan itu kau bisa melihat sesuatu.” Chanyeol mengucapkan kata – kata barusan dengan lantang.

“Itu.. Sayap Angel.” Aku menatap lurus menuju rasi bintang yang Chanyeol tunjuk.

“Dan bintang yang paling terang itu akan ku berikan untuk mu. Seseorang yang paling ku cintai!” Chanyeol mengarahkan tangannya pada bintang paling terang itu dan sesuatu tiba – tiba muncul dari tangannya, sesuatu yang berpendar indah di terpa sinar rembulan menggantung dalam genggamannya.

Chanyeol bangkit kemudian membantuku untuk berdiri. Aku masih tak percaya dengan apa yang Chanyeol genggam tadi.

“Aku sudah mengambilkan bintang paling terang tadi untukmu sekarang ayo tutup mata.” Chanyeol berkata sambil meraih lengan kananku. Kemudian meletakkan sesuatu di telapak tanganku.

“Sekarang buka matamu,” Aku mendapati sebuah liontin berbandul bintang yang bertautan yang sangat cantik berada dalam genggamanku.

“Ini..” Kata – kataku menggantung sebelum sempat aku melanjutkan, Chanyeol pun menjawab.

“Untukmu, satu lagi hadiah spesial dariku dan ini yang terakhir untuk hari ini.”

“Ini cantik sekali..”

“Ada dua bintang disini melambangkan kau dan aku yang akan selalu bersama. Selama bintang ini masih ada maka selama itu pula aku akan selalu ada di sampingmu, mendampingimu. Selamanya.”

Kemudian, Chanyeol mengambil liontin itu dan melepas bandulnya menjadi dua bagian terpisah,

“Satu bintang untukmu, Satu bintang untukku. Bintang yang berukuran besar melambangkan aku, yang akan selalu melindungi bintang kecil sampai kapanpun begitu pula dengan bintang kecil yang melambangkan dirimu yang selalu menghadirkan kebahagiaan untuk bintang besar.”

Chanyeol menjelaskan dengan antusias sambil memberikan senyuman padaku.

“Aku berjanji akan selalu menghadirkan kebahagiaan dan banyak cinta untuk bintang besarku. Juga rasa sayang yang tak ada habisnya bahkan sampai bintang besar merasa bosan karena terlalu banyak rasa sayang dari bintang kecilnya.”

Aku tersenyum malu saat berucap padanya.

“Janji..” Chanyeol bertanya ragu padaku.

“Janji!” Ucapku sambil mengacungkan kelingkingku padanya sebagai tanda janji. Chanyeol pun menyambut kelingkingku dan menautkan kelingkingnya sebagai bukti janji kami.

“Ayo berbalik!” Chanyeol melepaskan tangannya kemudian memaksa aku untuk memutar tubuh membelakanginya.

“Untuk apa?” Aku bertanya Binggung.

“Ayolah~ berbalik saja.” Ia mulai sedikit merengek.

“Eo, baiklah. Aku berbalik.” Akupun mengikuti kata – katanya. Kemudian dengan segera Chanyeol mengalungkan liontin berbandul bintang kecil tadi di leherku. Terlihat sangat pas menghiasi leher jenjangku.

“Gomawo, jeongmal gomawo Chanyeol~a!” Aku berusaha menahan kembali air mataku agar tak tumpah lagi di hadapannya.

“Aigoo~ kenapa kau masih memanggil namaku?” Chanyeol sedikit mengerutkan keningnya.

Aku sedikit binggung dengan ucapannya,

“Ng.. memang begitu kan, seperti biasanya aku memang selalu memanggil namamu?”

“Mulai sekarang aku tak mau kau memanggil namaku lagi,”

“Apa maksud ucapanmu? Kau tak suka aku memanggil mu?” Nada suaraku jadi sedikit bergetar.

“Ya~ kau selalu memanggil ku Chanyeol, mulai sekarang aku tak mau lagi di panggil Chanyeol. Ayolah Eunji jadilah sedikit lebih romantis. Kau bisa panggil aku jagiya, sayang, my sweetheart, my little pumkins, my baby atau apalah. Ayolaaaaaaaaaah~” Mulai lagi, ia mulai merengek dan aku hanya bisa menghela nafas lega,

“Aish! Baiklah. Sayang my lovely happy virus. Puas?”

“Ya! Terdengar sedikit memaksa!” Chanyeol protes lagi sambil menggembungkan pipinya.

“Neo..” Aku gemas namun juga sedikit kesal dengan keras kepalanya.

“Ne ne. Sekarang giliranmu, pasangkan liontin ini padaku.” Chanyeol memberikan liontin dengan badul bintang besar padaku.

“Ayolah, sedikit merunduk. Mana mungkin aku bisa memakaikan liontin ini padamu, berdiri berjinjinpun aku masih belum bisa menyamai tinggimu.” Aku protes karena ia mencoba mempermainkanku lagi. Bayangkan bahkan tinggiku hanya mencapai pundaknya, aish.

“Hmm.. baiklah tuan putri.” Chanyeol pun sedikit merundukkan badannya agar aku bisa mengalungkan liontin itu untuknya.

“Ada satu hal yang harus kau lakukan untuk menebus semua yang sudah kulakukan untukmu hari ini..” Chanyeol bergumam dengan ekspresi yang teramat sangat serius.

“Mwo? Tadi kau bilang aku tak perlu melakukan apapun, tapi kenapa sekarang kau malah mengancamku.”

“Mana aku tahu, kau harus bertanggung jawab karena kau sudah membuatku melupakan makan siangku dan juga menyita waktu makan malamku.” Chanyeol berkata sambil mengerling padaku.

“Baiklah. Untuk menebus kesalahanku, aku akan memasak makanan yang spesial untukmu. Yasudah, sekarang ayo ke rumahku saja. Nanti akan aku masakkan sesuatu untukmu.”

“Aigoo~ terimakasih sayang..” Chanyeol bergumam gemas sambil mencubit pipi kiriku.

“Chanyeol~a, sakit..” Aku memajukan bibirku kesal.

“Ayolah, perutku sudah tak bisa di ajak berkompromi.”

“Aish, kau cerewet sekali. Kajja!”

“Baiklah, yang terakhir sampai di rumahmu adalah telur busuk!” Chanyeol mencuri start mendahuluiku.

“Ya, Chanyeol~ya! Kau curang mendahuluiku.” Aku berusaha mengejarnya, namun tetap saja aku tak bisa menyaingi langkahnya yang jauh lebih besar dariku.

“Merooong~” Chanyeol berpaling ke belakang, kearahku sambil menjulurkan lidahnya lucu.

“Kalau begitu, aku tak mau membuatkan makanan untukmu..”

Chanyeol berhenti tiba – tiba dan berjalan ke arahku, “Aish, baiklah. Apa maumu sekarang?”

“Gendong aku sampai ke rumah..” Aku meminta asal – asalan.

“Aku tak mau!” Chanyeol melipat kedua tangannya di depan dada sambil mengalihkan wajah dariku.

“Ayolah, sayaaang~ apa kau tak kasihan melihat gadismu kelelahan setelah mencari sekeranjang penuh mawar putih?” Aku berucap padanya dengan nada suara yang sengaja ku buat manja untuk menggodanya.

“Baiklah! Kau menyusahkan saja, cepat naik ke punggungku.” Chanyeol pun melepas sayap angel yang tadi ia kenakan dan memakaikannya padaku.

“Kau serius? Barusan aku hanya bercanda..”

“Ya! Cepatlah, aku sudah hampir mati kelaparan dan sekarang kau malah mengajakku berputar – putar dengan kalimatmu. Naik sajalah, kajja!” Ia mulai berisik.

“Baiklah baiklah..” Aku mengikuti perintahnya dan naik ke punggungnya. Punggungnya yang lebar terasa hangat dan nyaman.

Selama perjalanan menuju rumahku, kamu habiskan dengan berdepat soal makanan untuk makan malam lebih tepatnya makan malam kami berdua karena sebenarnya aku tak sempat menghabiskan makan malamku bersama eomma. Namun ia masih saja protes soal panggilan “romantis” untuknya karena menurutnya panggilan sayang itu sangat penting. Sebenarnya, aku tak keberatan menanggilnya dengan panggilan sayang, namun keusilanku sedang terusik sehingga aku selalu membantah permintaannya yang satu ini. Karena ia pasti selalu cemberut sambil menggembungkan pipinya lucu saat aku tak mau memanggilnya “jagiya atau apalah yang menurutnya romantis”, dan aku suka saat ia mulai cemberut dengan pipinya yang di gembungkan. Itu sangat lucu, dengan kedua mata bulatnya yang besar.

“Oh iya Park Chanyeol-ssi berapa banyak mawar putih yang sudah kau beli, ini benar-benar berat luar biasa.. ”

“YA! Park Chanyeol nugu! Kau lupa harus memanggil aku apa, ugh!” Dasar, bocah ini kembali protes.

“Sayaaaang, berapa banyak mawar putih yang sudah kau beli, ini benar-benar berat sekali, kau sudah puas, eo?”

“Nah, begitu lebih baik.” Ia kembali bergumam sambil tersenyum bodoh.

“Memangnya kenapa dengan semua mawar dariku, kau kan sangat suka mawar putih. Atau sekarang kau sudah tak suka lagi?”

“Aaah bukan begitu, tetapi ini sangat banyak dan berat.”

“Coba ku ingat dulu. Hmm.. kalau tidak ada setangkaipun yang kau buang seluruhnya ada seribu tangkai.”

“Itu banyak sekali, kenapa harus sebanyak itu Chanyeol-ah?”

“Kenapa masih Chanyeol, eo? Chanyeol nugu!! Baby-ya masa kau juga masih tak peka dengan jumlah mawar itu, kau jadi sangat menyebalkan.”

“Sayaaaaang, sudah puas sekarang? Sayang sayang sayang sayang. Tunggu dulu, tadi kau bilang seribu tangkai?”

“YA!! Itu terdengar sangat memaksa. Kau menyebalkan sekali baby-ya.” Ia mengerucutkan bibirnya lucu.

“Aku tahu, seribu melambangkan seribu hari yang sduah kita lewati bersama, benarkan. Kenapa kau suka sekali merajuk, itu tak cocok untuk giant baby sepertimu kkkk!”

“Dan baby-ya kau benar-benar pabo, neomu neomu paboya!”

“Hmm.. Sepertinya aku ingin makan Bbibimbap, bulgogi, sup kimchi, kimbap juga japchae.”

Chanyeol mulai mengoceh padaku tentang menu makan malam yang ia inginkan. Tetapi, dengan segera aku membantahnya.

“Tidak, aku hanya akan membuatkanmu ramyun instan, kau tak sadar ini sudah pukul berapa dan aku harus memasakkanmu sebanyak itu. BIG NO!! Aku tak mau!” Aku mencibir padanya.

“Ya! Jagiya my babyboo my cuttie pie my sweetheart my little pumpkins~ Kau kan sudah janji..” Chanyeol tak terima dengan penolakanku, sedetik kemudian ia mengerjaiku dengan sengaja melonggarkan pegangannya sehingga dengan cepat aku harus mempererat pelukanku agar tak jatuh dari gendongannya.

“Ya! Kau.. Aku nyaris jatuh karena ulahmu!” Aku protes tak terima.

“Merong~ mana ku tahu. Kau sudah janji akan membuatkanku apa saja, jadi kau harus menepatinya!” Sifat kekanakannya mulai muncul lagi, kalau sudah begini bagaimanapun aku melawan sudah di pastikan aku akan kalah argumen.

“Eo, tetapi aku tak janji akan membuatkan seluruh ya. Ini sudah malam dan lagi pula belum tentu semua bahan masakannya ada di dapurku.” Aku menjawab argumennya sambil memukul lembut kepalanya.

“Sippo! Terimakasih sayang~” Bibirnya membentuk huruf ‘O’ pertanda setuju dengan ucapanku. Aku yang gemas dengan tingkah lakunya mencubit lembut pipinya gemas. Kami berdua kembali melanjutkan perjalanan menuju rumahku yang mulai terlihat namun tetap keukueh di gendongan Chanyeol yang sedari tadi mulai usil sambil sesekali mengomel keberatan.

 

Jeongmal gomawo, ne Namja.. Yeongwonhan sarang~

~KKEUT~

Oke, thanks for reading my story guys. Hope you enjoy it. Jeongmal gomawo for reading my story till the end ^^

Komentar, kritik dan saran yang membangun dari seluruh reader-deul sangat ditunggu.

*deep bow*

21 pemikiran pada “Lovely Day

    • Hai~ thanks for reading
      benarkah? chanyeol emang gitu manja-manja ga jelas tapi bikin cinta.
      hmm.. sequel ya? coba aku pikirin dulu ya ^^
      atau boleh baca karya aku yg lain, maybe hehehe
      btw, jeongmal gomawooooooo ^^

  1. walaupun ceritanya simple tp penggambarannya + feelnya ngena bgt.percaya ga percaya kejutan2 yg dicerita persis bgt sm apa yg aku pengenin. punya pacar kaya yeollie disini asik bgt rasanya..
    manis bgt ceritanya.sukses thor buar crta slnjtnya 🙂

    • Hai~ thanks for reading
      woaaah benarkah? penggambarannya bisa pas gitu? awalnya malah takut mau ngepost ini takutnya jelek dan lebay. syukur ternyata dpt respon positif
      chanyeol emang gitu, manja-manja nyebelin tapi ngangenin
      kalo ada waktu boleh mampir liat karya aku yg lain, maybe
      btw, jeongmal gomawoooooo ^^

    • Hai~ thanks for reading
      benarkah? bisa pas bgt feelnya? aduh padahal awalnya takut buat ngepost ini takutnya jelek, syukur ternyata respon reader positif buat tulisan ini
      kalo mau boleh baca karya aku yg lain, maybe hehe ^^
      jeongmal gomawoooo ^^

    • Hai~ thanks for reading
      hahaha chanyeol sih idiot gitu sebenernya romatis loh, walaupun manja minta ampun kkkk~
      aduh padahal awalnya takut buat ngepost ini takutnya jelek, syukur ternyata respon reader positif buat tulisan ini
      kalo mau boleh baca karya aku yg lain, maybe hehe ^^

    • hai~ thanks for reading
      woah benarkah feelnya bisa pas? syukur ternyata respon positif banyak buat tulisan ini
      sempet takut hasilnya bakal jelek, ternyata banyak yg nyambut baik
      kalo mau boleh baca karya aku yg lain, maybe hehe ^^

  2. Manisss bangeet ceritanyaaa ><
    Eunji cewek yang beruntung banget bisa punya seorang park chanyeol.
    Ffnya bgusss thor, karakternya pas huaa bagus bagus bagus thor ^^
    Kebayang gimana author yang bakal senyum senyum sendiri bayangin cerita ffnya. Hihi xD
    Romantis,lucu,gemas 🙂

    Semangaat terus berkarya ya author, hihi ditunggu karya berikutnya 🙂

    • Hai~ thanks for reading
      woaaah benarkah? penggambarannya bisa pas gitu?
      chanyeol emang gitu, manja-manja nyebelin tapi ngangenin
      yah kebayang deh gimana idiotnya aku duduk di dpn laptop ngetik sambil senyum gaje kebayang chanyeol
      btw, jeongmal gomawoooooo ^^ @KEYPENTOK a.k.a PARK YEONGCHA yg rela jadi model aku buat 2 ff aku sebelumnya hahahahah

      • Huaa athooorr, ga papa, harusnya uci yang banyak makasih sama author, terharu ^^
        Makasih banyak sekali lagi 🙂

        Hihihi iyaa, ff yang ini pas banget karakternya, kebayang wajah chanyeol yang manja-imut-romantis-senyum khasnya hahahahaha xDDD
        Iya, kebayang juga gimana author bakal senyum senyum nulis fic nya 🙂

        Huaaaa next project ditunggu thor 🙂 semoga dapet banyak ide 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s