Loving You Like Crazy (Chapter 3)

Title: Loving You Like Crazy [Part. 3]

Author: nune

Main Cast: -Park Chanyeol

-Baek Jisun

-Kim Taeyeon

-Kai

-Shin Yeonhwa

Length: Multichapter

Genre: Drama, Romance

Ratting: PG-15

Backsound: Jikan yo Tomare – AZU ft. SEAMO // Suddenly – 2PM // Reason – 4MEN // You’re my spring (Secret Garden OST.)

loving you like crazy poster

*****

“Chanyeol-ssi kau tadi keren sekali! HAHA~ Terimakasih kau telah memberi pelajaran pada muridku yang tidak sopan itu!” Taeyeon tertawa puas sambil menoleh hati hati kesebelahnya. Hampir saja harga dirinya jatuh karena tersaingi oleh muridnya sendiri. Untung Chanyeol berpihak padanya.

Chanyeol tersenyum tipis “Jangan banyak tertawa noona, kau sedang menyetir!”

Taeyeon menahan gelakan tawanya, ia mengatur nafasnya dan kembali serius menyetir.

“Karena mobilku sedang rusak, aku jadi merepotkanmu begini. Mianhae.” Sesal Chanyeol, Taeyeon menoleh padanya sekilas.

“ck! Bukan masalah sama sekali. lagipula rumahku dan rumahmu searah~” Chanyeol mengangguk memahami. Sejujurnya ia paling merasa tidak nyaman jika menumpang di mobil orang lain, karena tadi Taeyeon terus memaksanya maka ia tidak bisa berbuat apa apa.

“jangan bilang kalau kau tertarik pada dia, ya? Baek Jisun?” tanya Taeyeon penuh selidik, Chanyeol tertawa kecil.

“dia hanya muridku, tidak lebih.” Jawab Chanyeol sekenanya. Taeyeon menghela nafas lega setidaknya bocah tengik itu bukan saingannya. Tidak lucu kan jika seorang guru secantik Taeyeon mempunyai saingan yang tidak lain dan tidak bukan adalah muridnya sendiri?

Perkataan Taeyeon membuatnya mengingat kejadian barusan. Apakah perlakuanku tadi sangat berlebihan? Chanyeol bertanya-tanya pada dirinya.

“mulai minggu malam aku akan berangkat observasi keluar kota.” Ujar Chanyeol.

“jinjja? Kemana? Berapa lama?” tanya Taeyeon beruntun.

“Belum ditentukan juga oleh dosenku. Sekiranya seminggu… hmm jika berjalan sukses”

Taeyeon mengerucutkan bibirnya “Aish lama sekali. Jadi kita tidak bisa berhubungan kontak selama itu?”

“…Bisa saja, sih. Tapi diatas jam sepuluh malam. Ketika observasinya selesai.”

“Kabari aku setelah kau tiba, ya!”

Chanyeol mengangguk dan tersenyum “ne~”

*****

Jisun menolehkan kepalanya ke kanan, ia lebih tertarik memandangi pemandangan kota yang bergeser dengan cepat lewat kaca didepannya. Ia termenung atas kata kata Chanyeol tadi. ‘Enyahlah dariku! Kau sama sekali tidak berhak mengatur kehidupanku! Kau fikir kau siapa?’  perkataan itu terputar lancar diotaknya, setelah mengingat semuanya ia merasa ada sesuatu desakan yang besar menghimpit hatinya.

Apakah Jisun segini menjijikannya? Apakah Chanyeol benar benar jijik jika Jisun berada disekitarnya? Apakah Chanyeol akan bahagia jika Jisun menghilang selamanya dari hidupnya? Akankah?

“Jisun-ah, kau benar benar tidak bisa melupakannya? Setelah apa yang ia perbuat padamu?” Yeonhwa memperhatikan Jisun yang kala termenung itu, ia bertanya dengan hati hati. Takut sepatah kata darinya merusak hati sahabatnya.

Hening… bahkan didalam taksi itu hanya haluan nafas berat pak supir taksi lah yang terdengar.

Jisun tersenyum tanpa menoleh ke Yeonhwa. Baru detik ini terbesit difikirannya untuk menyerah. Apakah ini benar benar akan berakhir? Yeonhwa bingung, ia baru sadar bahwa ini pertama kalinya Jisun tidak memberontak padanya. Aneh.

“Aku akan memikirkannya.” Jawab Jisun datar. Ia memejamkan mata tanpa terasa ada cairan bening yang melewati pipinya, keluar dari mata pilunya~

Hanya ada satu cara… Walaupun ini sedikit gila. Jisun membatin.

Taksi itu berhenti tepat didepan gerbang rumah besar nan simple milik Keluarga Baek. Yeonhwa meremas kedua pundak Jisun dengan halus dan menuntunnya keluar dari Taksi itu. Jisun menghentikan langkahnya, Yeonhwa yang menuntunnya-pun ikut terhenti, ia mengernyitkan alis dengan bingung.

“Setelah aku melupakannya… Apakah penderitaan ini akan berakhir juga?” tanya Jisun pelan, sangat pelan, seperti bisikan yang lembut. Yeonhwa menatap sahabatnya sendu.

“Sebelum kau mengenalnya? Apakah kau pernah merasa semenderita ini, Jisun-ah?” Yeonhwa malah balik bertanya.

Jisun menghela nafas berat dan mengulum bibirnya. Ia merasa sangat bimbang. Perkataan Yeonhwa sangat menohoknya! Ia mengingat pepatah cheesy yang pernah diketahuinya; ‘Orang yang kau cintai adalah orang yang malah selalu membuatmu menderita’ Jisun mentertawai dirinya.

“Aku akan mencoba menyingkir. Kalau bisa, menyingkir untuk selama-lamanya.”

*****

Jisun meringkukan tubuh mungilnya diatas tempat tidur. Sudah seharian ini ia tidak keluar dari kamarnya kecuali dengan hal hal yang tidak bisa dihindarinya. Fikirannya kacau dan jalan fikirannya tidak beraturan, otak dan hatinya terus terusan bertanya bagaimana cara ia melupakan seorang Park Chanyeol?

Jisun berkali-kali mencoba mengkosongkan fikirannya dan membuang nama Park Chanyeol jauh jauh. Namun yang ia dapat hanyalah wajah tersenyum merekah Park Chanyeol –walau ia sendiri belum pernah melihatnya- dan moment bahagianya saat Chanyeol membalas pesan-nya bahkan hanya dengan 4 sampai 6 huruf saja, saat laki laki itu mengomelinya, kata kata bijaknya, kritik saran-nya yang sangat pedas. Se-ga-la-nya.

Ia memasang topeng transparant cerianya saat ia dihadapan orang lain. Tanpa ada seorangpun yang tahu bahwa seseorang dibalik topeng itu ada tekanan yang sangat berat dan mendalam, luka hati yang sudah membabibuta dan isakan batin yang pilu. Mereka semua tidak mengetahuinya!

Jisun tersenyum miris tatkala memikirkan hanya ada satu cara untuk melepaskan ini semua… melepaskan semua penderitaannya tanpa ada bekas.

*****

Keesokan harinya…

Ting Tong~ Ting Tong~

Jisun menghela nafasnya, memejamkan mata dan membius jiwanya agar tidak terlalu Nervous. Ia hendak melayangkan jemarinya untuk menekan tombol bel untuk yang ketiga kalinya! Namun…

Cklek~ Pintu berhasil terbuka. Nampaklah seorang wanita paruh baya yang sangat dikenalnya, wanita itu membulatkan matanya seperti kelinci dan tersenyum gembira saat melihat Jisun.

“Jisunie?!” pekik wanita paruh baya itu pada Jisun, yang disapa hanya tersenyum kaku sambil membungkukan tubuhnya.

“Anyeonghaseyo eomonim.”

Wanita paruh baya itu tersenyum hangat dan menggapai puncak kepala Jisun. Ia sangat ingin sekali jika gadis ini menjadi mantunya kelak. Gadis yang ceria, yang dapat merubah sifat dingin anaknya walau sedikit.

Wanita paruh baya itu mempersilahkan Jisun untuk masuk dan duduk diruang tamu.

“Ayo masuk, Jisun-ah. Kau kemari untuk mencari Chanyeol? Mengapa kau tidak bilang dari kemarin? Kalau tahu kau kesini, akan eomonim masakkan hidangan yang enak!” ujar wanita paruh baya itu yang tak lain dan tak bukan adalah ibu dari Park Chanyeol.

Jisun tersenyum tulus. Sebelum semuanya berakhir setidaknya ia tidak akan pernah melupakan sosok hangat keibuan ini. Wanita yang ia sayangi setelah ibunya dan Yeonhwa.

Nyonya Park mengantarkan Jisun tepat dihadapan kamar anak tunggalnya. Beliau menyuruh Jisun untuk menemui Chanyeol seorang diri. Ia begitu Nervous dan gemetar. Pasalnya, akankah Chanyeol ingin menemuinya? Setelah insiden kemarin? Apalagi ini baru pertama kali Jisun mencoba masuk dalam kamarnya. Apakah ia akan mengusirku setelah dua detik aku masuk? Gundah Jisun pada lubuk hatinya yang terdalam.

Ia mengetuk pintu dihadapannya beberapa kali, Jisun terkesima ketika ia mendengar suara decitan pintu, tanda pintu tersebut sudah dibuka.

“Apa yang membawamu kemari?” suara Bass Chanyeol menggema telinganya.

Jisun mendongak melihat Chanyeol yang sedang melipat kedua tangannya di dada, menyandarkan tubuh jangkungnya di ambang pintu sambil menatap menyelidik ke arah Jisun.

“tidak menawariku masuk?” Jisun berjingjit ke celah pintu yang terbuka untuk melihat apa saja yang terdapat didalam ruangan pribadi seorang Park Chanyeol.

“ck! Fikiranmu masih belum dewasa juga ya?! Kau bermaksud untuk menggodaku?! Apa kata orang jika seorang gadis masuk ke dalam kamar pria?”

Jisun menghela nafasnya dengan susah payah, tiada hari tanpa kata kata menyakitkan darinya. Jisun sudah terbiasa.

“aku kesini hanya ingin menagih hutang yang belum oppa bayar padaku.” Jelas Jisun dengan tenang tanpa memancing lagi perkataan pedas darinya.

Chanyeol mengernyitkan alisnya “huh? Hutang macam apa?”

“Permintaan ulang tahunku. Aku menagihnya sekarang dan jangan lagi oppa menolaknya. Pputakhae. (aku mohon)” Jisun menatap Chanyeol dalam, mencari pengertian dari sorot mata dinginnya.

“selama kau tidak minta yang macam-macam, aku menurutinya!” tanggap Chanyeol halus namun penuh penekanan pada setiap perkataannya. “lalu apa permintaanmu?” lanjutnya.

Jisun menundukkan kepalanya dalam-dalam “Jadilah pacarku untuk hari ini saja. Lalu kita kencan!”

Chanyeol menatap gadis didepannya ini dengan nanar “Yak! Apa maks—“

“Setelah itu aku janji, aku tidak akan mendekati oppa lagi! Aku akan berusaha melupakan oppa dan berhenti mencintai oppa! Aku akan berusaha menghindar dari oppa sebisaku~ Tes masuk Perguruan Tinggi akan segera tiba, aku akan me review sendiri apa yang telah oppa berikan. Aku janji!” Jisun meremas kedua tangannya hingga jari jarinya memutih, air matanya tidak bisa lagi terbendung, pada akhirnya ia memperlihatkan apa yang telah ia sembunyikan selama ini. Akankah hati Chanyeol tergetar walaupun hanya sedikit saja? yaahh.. Jisun harap

“kau yakin ini yang terakhir?” Chanyeol menyipitkan matanya dan menatap Jisun intens. Entah apa yang ia ragukan pada gadis ini, hatinya mengatakan bahwa gadis ini tidak akan pernah bisa menghindar darinya. Tapi ini cukup menghibur bagi Chanyeol. Entahlah yang pasti mempermainkan gadis ini membuatnya puas.

“Setelah hari ini aku janji, aku tidak akan mendekati oppa lag-“

“AISH! ARRASEO ARRASEO! Tunggu aku dibawah, aku akan siap siap!” Chanyeol menutup telinganya dengan kedua tangannya dan menutup pintu kamarnya dengan kasar sampai sampai tubuh Jisun tercondong kebelakang saking terkejutnya.

*****

Mereka berdua melangkah naik memasuki kereta yang sudah tersedia dari stasiun terdekat Seoul, menuju tempat yang sudah direncanakan Jisun. Entah berapa kali Jisun memandangi penampilan Chanyeol hari ini. Kemeja kotak-kotak biru yang sangat pass seakan akan menjiplak dadanya yang bidang, jeans hitam yang pass dengan tubuh jangkungnya. Sangat memukau.

Kereta yang mereka tumpangi akhirnya mulai berjalan dan menuju ketempat tujuan. Mereka duduk berhadapan tanpa mengucapkan sepatah kata apapun atau memulai bicara duluan. Jisun sangat gugup karena ini kali pertamanya kencan bersama Chanyeol. Impian yang selama ini selalu ia impikan akhirnya terlaksana juga. Terimakasih Tuhan. Puja Jisun dalam benaknya. Tapi orang yang dikagumi Jisun hanya memalingkan wajahnya pada pemandangan diluar jendela dengan acuh.

Seakan teringat sesuatu, Jisun merogoh tas tangannya dan mengambil sesuatu.

“oppa. Berikan tanganmu!” titah Jisun, Chanyeol memalingkan pandangannya menatap Jisun bingung. Ia menghela nafas berat dan perlahan memberikan tangan kirinya tanpa bertanya apa yang akan dilakukan gadis ini. Bukankah khusus hari ini Chanyeol adalah miliknya? Jadi apa boleh buat.

Jisun tersenyum hangat dan mengaitkan Bracelet  rajutan berwarna campuran kuning dan hitam ke pergelangan tangannya.

“mwoya igae? 0__o” tanya Chanyeol seperti orang bodoh. Ia mendelik sekilas ke pergelangan tangan Jisun, ternyata Jisun juga memakai bracelet dengan motif yang sama namun warna yang berbeda. Milik Jisun adalah perpaduan warna antara Putih dan Kuning. Mungkin memakai Bracelet Couple sedang menjadi trend dimasa kini. Chanyeol membatin.

“Hanya untuk hari ini. Oppa memakainya hanya untuk hari ini. Setelah itu oppa boleh membuangnya atau terserah apa yang ingin oppa lakukan pada Bracelet itu.” Jisun tersenyum getir. Tapi memang benar kan? Fikir Jisun, ia memang tidak berarti apa-apa bagi Chanyeol.

Chanyeol terdiam. Mengapa hari ini Jisun terlihat lebih sensitive, sih? Ia merasa ada yang berbeda dalam diri Jisun hari ini. Ia memperhatikan setiap lekuk bracelet itu dan menunjukan senyuman tipis.

“Keren juga.” gumam Chanyeol pelan.

*****

Mereka berjalan menuju pedalaman pelosok hutan belantara. Mereka sudah hampir ada ditempat tujuan, yaitu di desa Ulsan. Chanyeol yang sudah mengeluh dari tadi tidak bisa menahan lagi rasa lelahnya. Sudah setengah jam mereka mengitari hutan Ulsan ini. tapi tempat tujuan mereka belum kunjung sampai.

Chanyeol mendaratkan telapak tangannya kebatang pohon, ia membungkuk sambil mengatur nafasnya yang tidak beraturan.

“oy! /hosh/ kenapa kau tidak mengajakku ke taman hiburan atau Namsan tower saja, sih? /hosh/ kalau sejauh ini lebih baik aku menolaknya!” pekiknya pada Jisun yang sudah berjalan menjauh dari tempat ia berpijak. Satu hal aneh lagi yang Chanyeol dapat dari gadis ini. GADIS INI ADALAH SUPERWOMEN GILA!

“Aku ingin mengajak oppa ke tempat yang sangat menakjubkan. Taman Hiburan dan Namsan Tower adalah tempat biasa, bukan?” Jisun tersenyum dan menghampiri Chanyeol yang kelelahan disana. “Sebentar lagi sampai. Bersabarlah.”

Jisun menghampiri Chanyeol dan melayangkan tangannya

“ayo genggam tanganku”

Chanyeol melangkah lunglai mendahului Jisun yang terdiam disana.

*****

“WELCOME TO… PARAESO FALLS~” seru Jisun sambil melebarkan senyum dan lengannya, mempersembahkan pemandangan yang indah pada laki laki yang ia cintai.

Chanyeol tergagap. Matanya dimanjakan oleh pemandangan yang luar biasa menakjubkan! Air terjun yang mengalir berlomba-lomba dari atas sana sehingga cipratan airnya membuat warna pelangi yang sedikit tampak, udara yang sangat sejuk, pepohonan yang rindang disekitar air terjun dan suara burung pipit yang berdecitan.

Pemandangan ini membayar habis semua kelelahan, keluhan dan keringat yang sudah mereka berdua keluarkan sepanjang perjalanan. Ternyata Jisun benar, tempat inilah yang paling menakjubkan! Pemandangan alam yang tidak ada dua-nya memberikan kesan tersendiri bagi semua pengunjungnya. Mengingat ini sudah sore tanpa mereka sadari hanya ada mereka berdua yang meramaikan pemandangan Air Terjun ini. Mereka saling pandang dan merasa tambah canggung.

Mereka berdua duduk diatas batu yang lumayan besar sambil merendamkan kedua kaki mereka didalam air menghirup sejuknya udara disekitar dan memanjakan mata mereka pada pemandangan alami yang tersaji dihadapan mereka. Bagi Jisun, tidak ada hal apapun yang lebih membahagiakan selain ia berada disisi Chanyeol seperti ini. Ya… tidak ada.

“Bagaimana? Oppa suka, kan?”

“Biasa saja, tuh. Aku tidak terlalu menyukai suasana yang sepi dan membosankan seperti ini. Tadi saja, aku pulang.” Jawab Chanyeol dengan acuh. Ia membohongi diri sendiri. Padahal hatinya sangat terpukau dan tersentuh mengingat ada seseorang yang mengajaknya ketempat menakjubkan seperti ini.

Jisun tertohok dengan jawaban yang Chanyeol berikan. Sekeras apapun Jisun berusaha ternyata tidak ada sedikitpun tempat untuknya dihati Chanyeol. Walaupun disaat saat terakhirnya? Benarkah?

Jisun sedikit kecewa. Ia-pun bangkit, berniat untuk mengajak Chanyeol pulang. Karena permukaan batu yang ia pijak sangat licin karena lumut, hal itu membuatnya kehilangan keseimbangan! Jisun oleng dan tanpa disadari ia menarik ujung lengan baju Chanyeol yang sedang duduk disampingnya! Mau tak mau mereka terpeleset jatuh kepermukaan air yang tingginya hanya sebetis orang dewasa.

BYURRR~~

Kemudian Hening……

Mata mereka saling bertemu setelah menyadari mereka duduk diatas permukaan air dan itu membuat sebagian tubuh mereka basah. Mengapa hal bodoh ini bisa terjadi? Memalukan! Keluh mereka pada batin masing masing.

“HAHAHAHAHAHAHAHAHA….” Mereka berdua tertawa lepas seperti anak balita yang bebas tanpa masalah.

Sesekali Chanyeol memegangi perutnya yang geli dan mengipakkan tangannya ke permukaan air sehingga cipratan-nya mengenai tubuh Jisun. Jisun tidak tinggal diam! ia segera menyerang Chanyeol dengan mengipakkan kedua tangannya kearah Chanyeol membuat pakaian laki-laki itu basah kuyup.

Mereka terus melakukan hal ini didalam waktu yang berkepanjangan. Tanpa Chanyeol sadari ada sesuatu yang hangat disana, tepat dihatinya.

*****

Jisun menanjak bebatuan kecil untuk turun dari permukaan air, lalu Chanyeol menyusulnya. Angin yang berhembus melewati tubuhnya yang lemas membuat Jisun kedinginan tanpa ampun. Ia memeluk tubuhnya sendiri dan menggesekan telapak tangannya kuat kuat. Ia baru sadar bahwa matahari akan segera tenggelam, ia tersenyum nanar.

Chanyeol mendelik kearah Jisun yang menggigil kedinginan. Ia mendekatinya dan menggesekan kedua tangannya dengan sedikit kencang, setelah itu Chanyeol menangkupkan kedua pipi Jisun dengan telapak tangannya yang hangat.

Jisun refleks menatap bola mata Chanyeol yang tak jauh dari pandangannya. Selalu ada getaran aneh yang ada dilubuk hatinya setiap kali Jisun menatap kedua bola matanya. hal itu adalah hal yang paling terindah bagi Jisun. Tangan hangat Chanyeol membuat hatinya ikut menghangat. Jisun ingin menghentikan waktu agar hal ini tidak cepat berakhir. Tetap bersamanya… Bersama Park Chanyeol.

Jisun menyentuh halus tangan Chanyeol yang menangkup kedua pipinya lembut tanpa sedikitpun memalingkan tatapannya.

“saranghae~”

Chanyeol terpaku atas pengakuan Jisun barusan, padahal kejadian ini tidak sekali atau dua kali terjadi.

Jisun menarik kerah Chanyeol sehingga wajah mereka tepat berhadapan. Jisun memejamkan mata dan mendekatkan wajahnya pada Chanyeol. Jantung Jisun rasanya ingin memuncah sekarang juga!

5cm

4cm

3cm

2cm

1cm

Kening mereka bersentuhan, bahkan helaan nafas Jisun terdengar jelas oleh Chanyeol. Dan sebagai laki-laki normal, hal itu membuat otak Chanyeol tidak bisa berfikir jernih.

“Terimakasih. Oppa telah menjadi pacar sehariku dengan sangat baik.”

Jisun menarik kepalanya pelan. Jisun-ah baboya! Untuk apa kau berusaha mencium orang yang sama sekali tidak mencintaimu, huh? Jisun menyesali apa yang ia perbuat barusan.

Chanyeol menegakkan tubuhnya dengan semula dengan rasa sedikit… kecewa? Ada apa dengan dirinya?! Kenapa dia tidak melontarkan tolakan sadis yang sudah dihafalnya diluar kepala? Kenapa dia tidak menghindar saat Jisun mendekati wajahnya? Kenapa? Tidak tidak! Pasti ia melakukan ini karena terbawa suasana! Tapi tetap saja…. Aish Chanyeol ingin sekali rasanya meremas rambutnya dan mengerang frustasi.

“Matahari akan segera tenggelam. Ayo kita pulang!” pekik Chanyeol sambil melangkah menjauh, mencoba mengabaikan apa yang ia rasa.

“Mwo?! Pulang dengan basah kuyup begini?!” tanya Jisun dengan logat polosnya.

Chanyeol mendecak “Aku yakin baju kita akan mengering selama diperjalanan.”

*****

Jisun duduk dikursi kemudi dengan lunglai. Ia melepas bracelet-nya dengan kasar dan menyimpannya kedalam Dashboard mobil. Ia mengendarai mobilnya perlahan dengan tatapan datar. Ia mencoba membasmi kenangan yang ia buat bersama Chanyeol tepat enam jam yang lalu.

Jisun baru saja meninggalkan Bar Soju yang berada dipersimpangan Seoul, ia memecahkan rekor pertamanya! Tiga botol soju dalam satu malam! Setelah merasa kepalanya ingin jatuh, ia memutuskan untuk istirahat dan pulang kerumah. Dengan alasan lelah karena memikirkan ini sepanjang waktu membuat Jisun stress.

Kali ini dibenaknya ia teringat dengan seorang pria yang selama ini menjadi alasan mengapa Jisun masih bisa tersenyum. Tapi kini ia sadar! Sampai kapanpun hati Chanyeol tidak pernah bergetar untuknya. Sekarang laki-laki yang sangat ia cintai melirik wanita lain, mungkin beberapa hari lagi mereka akan jadian. Entahlah, urusan untuk janjinya melupakan Chanyeol adalah urusan ke 54 baginya.

Terlihat bagaimana cara Chanyeol menatapnya, mengacuhkannya, tidak membalas pesan-nya, menyakitinya, mengoloki-nya manja, merendahkannya dan bahkan mempermalukannya –membuat Jisun sadar bahwa Chanyeol bukan seseorang yang pantas untuk ia gapai. Ia harus menepati janjinya! Jisun harus berhenti mencintai Chanyeol bagaimanapun caranya.

Jisun menambahkan kecepatan mengemudinya sehingga jarum speedometer terus bergeser kearah pojok kanan. Air matanya jatuh tanpa henti, ia memikirkan bagaimana jika ia tidak dapat melupakan Chanyeol dan pada akhirnya ia menyimpan perasaannya dan menyakiti hatinya seperti orang bodoh seorang diri?! Lama lama hal ini dapat membunuhnya perlahan. Apakah ini yang disebut sebagai Cinta gila?

Jisun terus menambahi kecepatan mengemudinya bagai orang yang sedang hilang akal! Tanpa ia sadari mobil Jisun terus berlaju pada tikungan yang tertera lampu merah dipalang yang sedang berdiri, tanda larangan keras untuk tetap melaju.

Jisun membulatkan matanya sempurna saat melihat Bus yang berlawanan arah darinya seakan akan menghampirinya tak terkendali!

BRAAAAAAAAAAAK…
Seolah terlempar tanpa ampun, Jisun mengerjabkan matanya perlahan Jisun berusaha mengangkat kepalanya dari setiran mobil, ia mengerang kesakitan, kepalanya sakit tak tertahankan, bau anyir menyeruak memasuki hidungnya. Kepalanya berdarah!? Dimana dia sekarang? Ada apa ini? dia bahkan tidak ingat.

“nghhhh~”

Tabrakan yang cukup keras membuat mobil Jisun terlempar enam meter dari pusat kejadian. Hal itu membuat setengah dari mobilnya sedikit ringsek! Tak kuat menahan pusing yang melanda dengan sekejap kepalanya melemas diatas setir kemudi. Darah mulai mengucur dari keningnya.

Tak lama kemudian beberapa ambulance dan polisi datang menjemputnya.

~To Be Continued~

Gimana part ini? Pasti part ini paling weirdo deh-_- Makasih yang masih setia nunggu FF ini di post makasih juga komentar positif yang membangun semangat ini buat ngelanjutin nih FF. oke~ imma wait for your comment xD /throw heart

60 pemikiran pada “Loving You Like Crazy (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s