Unpredictable You (Chapter 3)

Title                        :               Unpredictable You

Author                   :               Mee-icha

Length                   :               Chapter

Genre                    :               School LIfe, Friendship

Main Cast             :               Nam Ji Hyun

Kris

Kai

Support Cast         :               Min Young, and others (find when you read it ^_^)

Author Note       :               Annyeonghaseyo chingudeul, piye kabare??? Hehe… l’m back again with the new chapter, it’s been a while since the last time I’ve updated my FF. Naneun jinja mianheyo. Udah diusahain sebisa mungkin untuk secepatnya update, tapi kadang susah dapat inspirasi. Ini cerita dari penantian yang cukup lama. Maaf kalau ceritanya tidak sesuai dengan apa yang kalian bayangkan. Masih banyak typo dimana-mana. Saran dan komennya ditunggu ya. Here is the story. Enjoy it and Happy reading chingudeul.

~ Sebelumnya ~

“hei kau, berhenti!” seru kris yang membuat siswa-siswa lain yang berada disepanjang koridor menoleh penasaran. Sedangkan ji hyun yang berpura-pura tidak tahu dan tidak dengar malah mempercepat langkahnya.

“anak itu benar-benar menyebalkan!” gumam kris sendiri dan memutuskan untuk mempercepat langkahnya juga.

~ Lanjut ya~

Memiliki badan yang tinggi menjadikan kris tidak kesulitan untuk segera menyusul langkah ji hyun. Hanya butuh sekitar 3 menit baginya untuk berada tepat dibelakang ji hyun. Sedangkan ji hyun yang masih saja berusaha mempercepat langkahnya dan belum menyadari kehadiran sunbae-nya itu.

“kau tuli ya? kenapa tidak berhenti ketika aku memanggilmu?” seketika badan ji hyun membeku karena tersentak oleh suara yang sangat dikenalnya itu. Bermacam umpatan keluar dari mulut sebelum dia memutar badan dan berhadapan dengan kris.

mianheyo sunbae, kau memanggilku? Tapi aku tidak mendengar kau menyebut namaku jadi aku kira kau memanggil orang lain.” Ji hyun beralasan sambil menghindari tatapan kris.

“kenapa kau memberi hormat saat melihat kai tetapi tidak saat melihatku? Yang jadi ketua basket itu aku bukan dia” tanya kris tanpa basa basi masih sedikit emosi.

“jadi itu masalahnya. Baiklah” jawab ji hyun cepat dan langsung membungkuk 90 derajat memberi hormat pada kris sambil mengeluarkan umpatan tanpa suara saat badannya menunduk.

“ck.. aku tidak memintamu memberi hormat padaku. Yang aku mau tahu alasanmu!” tegas kris walaupun sebenarnya dia puas melihat ji hyun membungkuk hormat padanya didepan siswa lain. Setidaknya hal ini membuktikan bahwa dirinya masih berpengaruh sebagai sunbae  dan ketua basket disekolah ini.

Sedangkan ji hyun, kalau bisa berkaca, mungkin dia akan melihat wajahnya yang sudah memerah entah karena menahan marah dan malu akibat sunbae  didepannya ini. Namun dia tetap berusaha sesantai mungkin, tidak ingin berulah macam-macam yang dapat menambah panjang masalahnya.

“alasan? Karena kai sunbaenim lebih berkarisma sedangkan kau menakutkan jadi aku langsung pergi begitu melihatmu.”celetuk ji hyun tidak peduli.

“apa? aku menakutkan? Hei, buka matamu! Kalau aku menakutkan, tidak mungkin aku bisa menjadi idola disekolah ini, mengerti?” ujar kris tidak percaya dengan jawaban yang diucapkan ji hyun barusan.

Apa urusanku kalau kau idola sekolah ini, yang penting kau bukan idolaku, ji hyun membatin sambil mencibirnya.

“kau tahu? kau telah merusak harga diri dan image-ku dimata para siswa.” Ujar kris lagi

mianheyo sunbae.” Ucap ji hyun setengah terpaksa.

“kau selalu minta maaf setelah melakukan hal seperti ini padaku.”

“aahhh… terus kau maunya aku ngapain!” tukas ji hyun dengan sedikit berteriak karena sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya.

Kris bergidik melihat reaksi ji hyun “ya! kenapa berteriak seperti itu padaku?” Pletak! Sebuah jitakan mendarat dikepala ji hyun.

“awww.. appo!” Ji hyun meringis memegang kepalanya.

“makanya jangan berteriak seperti itu padaku. Aku akan terima permintaan maafmu tapi kau harus ikut denganku siang ini setelah jam pulang sekolah”

“ikut denganmu? kemana?”

“tidak usah berpikir macam-macam. Aku tunggu di halte bus dekat sekolah, awas kalau kau tidak datang, kupastikan kau akan menyesal. Mengerti?”

ne.” jawab ji hyun pasrah sambil tetap menahan kesal.

Kris berlalu begitu saja setelah mengatakan hal itu, namun senyum puas terpampang diwajahnya. Rencana itu tiba-tiba terbesit diotaknya saat melihat sifat berontak ji hyun tadi. Sedangkan ji hyun hanya bisa kesal sambil menduga-duga apa yang akan dilakukan kris pada dirinya nanti.

***

Kris bergerak cepat membereskan peralatan belajarnya yang hanya sebuah buku dan pena karena memang sejak awal dia tidak berniat ingin mengikuti pelajaran ini. Sedari tadi senyum tipis menghiasi wajahnya. Rencana itu benar-benar membuatnya sangat excited. Teman-temannya termasuk kai menjadi heran dengan sikap yang tiba-tiba gembira itu padahal saat keluar dari kantin dia terlihat begitu kesal. Walaupun hubungan mereka merenggang, kai tahu benar kris bukan tipikal orang yang akan bersikap seperti itu tanpa alasan. Apa ada hubungannya dengan yeoja itu lagi? Sepertinya hubungan mereka dekat sampai bisa membuat kris bersikap seperti itu, pikir kai sambil melihat kris yang berlalu begitu saja tanpa kata.

Hari ini akhirnya tiba. Akan kubuktikan sendiri kau sehebat apa. Pengamatan macam apa dan ahli seperti apa dirimu sebenarnya, batin kris selama perjalanannya menuju halte bus. Ya, tujuan dan rencana dia hari ini adalah untuk membuktikan kemampuan ji hyun yang selama ini membuatnya penasaran. Hari ini kris akan mengajaknya ke lapangan basket yang berada ditaman kota.

Sesampainya di halte, kris belum menemukan sosok hoobae-nya itu. “Dimana anak itu. Awas saja dalam 5 menit dia tidak tiba disini, apalagi sampai tidak datang. Akan kubuat dia menyesal meremehkan kata-kataku” gumam kris sambil melihat jam yang melingkar ditangan kirinya.

Disisi lain, ji hyun yang ternyata sedang menyelesaikan soal tambahan dari pelajaran Kang songsaenim. Itu adalah hukuman yang diterimanya karena tidak fokus selama jam belajar. Apalagi penyebabnya kalau bukan karena urusannya dengan kris. Berbagai kemungkinan dari negatif  berputar dikepalanya. Perasaannya semakin tidak menyenangkan mengingat senyum dengan seringai tipis diwajah kris tadi.

Setelah selesai dengan tugasnya, ji hyun berlari secepat dia mampu. Beberapa siswa tidak sengaja tertabrak olehnya dan segera dia menunduk minta maaf, tidak peduli itu sunbae atau hoobae-nya. Yang ada di otaknya saat ini hanyalah bagaimana cara bisa secepat mungkin berada di halte tersebut. Ji hyun menoleh memperhatikan jam tangannya, “aku sudah terlambat 15 menit. Apa dia masih disana? Apa alasanku. Masa’ iya kau harus bilang memikirkannya aku jadi tidak fokus dengan pelajaranku terus kena hukum? Arrggghhh.. bisa makin belagu dia. Terus aku mesti bil..” gumam ji hyun terputus saat dia sedang berusaha berjalan cepat dan segera berhenti karena merasa dipanggil seseorang.

“hei, kau. Anak baru! Berhenti !” penggil kai saat melihat ji hyun melewati dirinya dengan tergesa-gesa.

Ji hyun berbalik dan mendapati kai bersama dengan teman-teman basketnya. Secara naluriah mata ji hyun langsung menelusuri setiap wajah teman-teman kai itu. Kris sunbaenim tidak ada. Ah, matilah aku!, batin ji hyun.

Kai yakin ketergesa-gesaan ji hyun pasti ada hubungannya dengan kris tapi itu masih dugaannya. “kris mana?” tanyanya sekedar iseng ingin membuktikan dugaannya itu.

“ne? mungkin dia masih halte. Aku harap masih di halte” jawab ji hyun polos.

Dugaanku benar ini berhubungan dengan kris, “kau harap? Maksudmu apa?” tanya kai bingung.

“ah, itu. kris sunbaenim menyuruhku ikut dengannya setelah jam pulang sekolah ini.”

“memangnya kalian mau kemana?” ujar xiumin ikut penasaran.

molla. Aku hanya disuruh ikut dengannya. Sunbaenim, jinja mianheyo, tapi aku sudah telah hampir 20 menit. Aku harus cepat-cepat sebelum dia benar-benar marah padaku.” Ujar ji hyun cemas.

“kurasa dia sudah marah padamu. Dia itu orangnya cukup disiplin” ujar jong dae yang semakin membuat kecemasan diwajah ji hyun semakin kentara.

“pergilah. Aku tidak ingin dijadikan alasan keterlambatanmu. Sudah cukup masalahku dengannya” Kata kai berusaha cuek padahal masih banyak hal yang ingin dipertanyakannya.

“sebenarnya ada hubungan apa antara mereka berdua?” Celetuk jong dae.

“apa mereka pacaran?” ujar xiumin dengan lugunya.

“mana aku tahu. Sudahlah, ayo pulang. Aku benar-benar lelah dan ingin segera memeluk gulingku.” Celetuk jong dae sambil berlalu.

Kris merasa hari ini kesabarannya sedang di uji. 20 menit itu bukan waktu yang sebentar dan ji hyun masih belum terlihat tanda-tanda kehadirannya. Kris yang sedari tadi sudah bolak balik duduk dan berdiri menunggu kehadiran ji hyun akhirnya bisa bisa tersenyum puas saat melihat sosok ji hyun berlari kearahnya. Dilihat jarum jam ditangannya, setengah jam sudah ji hyun terlambat. Rasa kesal yang tertumpuk sejak tadi sudah dipersiapkan untuk ditumpahkan tepat diwajah ji hyun.

Ji hyun berlari sekuat tenaga melihat kris yang sudah berkacak pinggang menantinya. Dia berhenti pas didepan kris. “mianheyo sunbaenim, aku… tadi… dihukum…oleh… Kang songsaenim.” Ucap ji hyun terputus-putus.

“huh! Kau tahu aku sudah menunggumu dari tadi. Kau…” ucapan kris berhenti saat dilihatnya ji hyun dengan nafas masih terengah-engah dan tangannya bertumpu pada lutut kakinya. Niatnya ingin menumpahkan rasa kesalnya entah kenapa tak mampu dilakukannya. Dan entah mengapa, kris merasa bersalah karena membuat ji hyun terlihat begitu merana(?).

Bus tujuan mereka datang. “ayo, kita naik bus yang ini.” Ujar kris berusaha tidak peduli dengan keadaan ji hyun.

“kita mau kemana sunbae?” tanya ji hyun yang sudah kembali mengumpulkan tenaganya.

“jangan banyak tanya, simpan saja energimu untuk nanti.”

“energi?  Untuk apa? memangnya kita mau ngapain?” ji hyun semakin curiga dengan rencana kris.

“sudah kubilang jangan banyak tanya. Ayo!” ucapnya sambil menaiki tangga bus. Tapi dilihatnya ji hyun tidak bergerak memasuki bus. “perlu kutarik lagi seperti waktu itu supaya kau mau masuk?” tegas kris kembali.

“jawab pertanyaanku dan aku akan mengikutimu. Kalau tidak, aku tidak akan mau ikut denganmu.” Ji hyun bersi keras dengan sikapnya.

Kali ini kris tidak bisa menahan diri lagi apalagi dipelototi oleh para penumpang dan supir bus. Dia turun dan segera mendorong ji hyun dari belakang. “aku akan menjawabnya nanti. Dan satu hal aku tidak akan melakukan hal negatif yang kau pikirkan. Aku bukan namja seperti itu. Jadi, cepat naik sebelum mereka semua mulai marah.” Ujarnya pelan dari belakang ji hyun.

Ji hyun tidak bisa menolak lagi saat sang supir sudah menyuruh cepat masuk karena ada bus lain yang akan berhenti di halte ini. Bus ini tidak terlalu padat, tapi hanya tersisa satu bangku kosong. Ji hyun yang lelah berinisiatif segera menuju kursi tersebut, tapi kris memotong langkahnya dan duluan menduduki kursi tersebut.

Setelah sekitar 15 menit berdiri, ji hyun melirik kris yang asyik mendengarkan musik dari headset yang terpasang ditelinganya. Ji hyun menoel(?) pundak kris “sunbae, masih lama ya? Kakiku pegal berdiri, boleh tukaran?” tanya ji hyun hati-hati.  “sebentar lagi sampai.” Jawab kris.

“kau menjawab seperti itu terus setiap kali aku bertanya.” Ji hyun mulai kesal.

“makanya jangan bertanya lagi, jadi aku tidak perlu menjawab lagi. Diam dan tunggu saja.“ jawabnya cuek dan kembali mendengarkan musik sedangkan ji hyun cuma bisa mengumpat.

Ternyata memang tidak lama setelah pertengkaran tidak penting(?) tersebut mereka turun dari bus. Ji hyun yang belum banyak mengunjungi tempat-tempat di seoul, merasa sangat asing dengan daerah ini. Tapi dia memilih diam dari pada mengungkapkan kebingungan tentang tempatnya berada saat ini. Berjalan tepat dibelakang kris sambil memandangi keadaan sekitar membuatnya mengambil kesimpulan bahwa ini adalah taman kota seoul, tapi mengapa dia disini masih menjadi pertanyaannya dalam benaknya. Mereka masih terus berjalan hingga kris memecah keheningan diantara mereka berdua.

“dari tadi kau ingin tahu ‘kan kemana tujuan kita. Aku beritahu sekarang, itu tempat yang kita tuju.” Ucapnya sambil menunjuk lapangan basket. ”Dan hari ini aku akan membuktikan sendiri seperti apa hasil pengamatanmu selama ini.” Lanjutnya sambil tersenyum puas melihat ekspresi kaget di wajah ji hyun.

“maksud sunbae kita main basket?”

“ya. Sudah kubilangkan untuk menyiapkan tenagamu. One by one.” Kris memandang ji hyun tajam.

“tapi aku tidak pandai bermain basket.”

“tidak usah bohong lagi padaku. Aku ini orang yang berpengalaman dalam dunia basket. Aku juga sempat melihatmu lemparanmu selama jam pelajaran basket. Kau mengetahui semua cideraku padahal kau tidak mengenalku. Itu bukan hasil seorang pengamat. Kau memang pemain basket. Dan aku akan membuktikan itu sekarang sehebat apakah dirimu itu. Kalau kau menang maka akan kumaafkan”

Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus melakukan ini? tapi aku terlalu lelah. Sulit bagiku untuk menang, batin ji hyun.“kalau aku kalah?”

“ya tidak kumaafkan. Gitu aja masih ditanyain. Huh!”

“tidak masalah bagiku kalau tidak dimaafkan olehmu” gumam ji hyun sendiri.

“apa kau bilang?” kris merasa ji hyun berkata sesuatu. “kau menyumpah serapah supaya aku kalah? Hah! hal seperti itu tidak mempan terhadapku.” Lanjutnya angkuh.

aniya. Eopseo.” Ji hyun berkata sambil mengibaskan tangannya. Menyebalkan, kau akan kubuat malu, janjinya dalam hati.

Selama percakapan tadi ternyata mereka sudah sampai dipinggir lapangan basket. Bermodal semangat tinggi untuk mengalahkan sunbae-nya itu, ji hyun melangkah ke tengah lapangan basket mendekati kris yang sedang melakukan pemanasan untuk pertandingan tidak resmi ini. Badannya yang lelah setelah berlari dan berdiri lama di dalam bus tadi serta rok seragam sekolah yang dikenakannya saat ini akan memberikan banyak keuntungan bagi kris. Bagaimanapun pertandingan ini tidak adil, batin ji hyun.

Kris menyerahkan bola basket itu pada ji hyun, memberikan kesempatan pertama padanya. Ji hyun mulai melakukan dribble pelan, mencoba membaca situasi untuk melakukan penyerangan dan mencetak angka sebanyak mungkin. Kris tepat didepannya merentangkan tangannya berusaha bersikap defensive terhadap kemungkinan serangan ji hyun.

Ji hyun terus bergerak ke kanan kiri, begitu pula dengan kris. Ji hyun melihat sedikit kesempatan dan tanpa banyak pikir ji hyun melakukan gerakkan pivot -gerakkan yang menjadikan salah satu kaki sebagai poros dan kaki lain dapat berputar 360 derajat- secara tiba-tiba kemudian melakukan hook shoot –cara menembak dari samping- yang tidak diduga oleh kris. Meski sempat berputar di ring basket beberapa detik, bola tersebut tetap masuk ring dan memberi point pertama pada ji hyun. “yeeeaaaii…”pekik ji hyun pelan.

“sudah kuduga kau memang tidak bisa diremehkan.” Ujar kris dan ji hyun hanya bersikap tak acuh menanggapinya.

Kembali ke posisi awal. Kini ji hyunlah yang harus bersikap defensive terhadap serangan kris. Saat seperti ini, ji hyun baru menyadari bahwa kris benar-benar tinggi. Ji hyun sempat putus asa melihat senyum mengejek kris. Kris mulai men-dribble bolanya. Percaya dirinya tinggi sekali. Setelah kecolongan pada point awal, kris memantapkan dirinya tidak akan mengalah sedikitpun pada ji hyun. Gerakan maju, ke kanan, kiri yang dilakukan kris terus diikuti oleh ji hyun. Namun, gerakan pivot yang dilakukan kris ternyata terbaca oleh ji hyun dan mudah baginya untuk menghalangi shoot yang akan dilakukan kris. Dan saat bersamaan ji hyun mengambil alih bola dari kris dan langsung melakukan jump shoot. Point lagi untuk ji hyun.

Kris benar-benar merasa kesal dengan hal itu. Pada permainan berikutnya dia langsung melakukan jump shoot setelah melakukan dribble beberapa kali. Benar-benar tidak ingin memberikan kesempatan lagi pada ji hyun. Postur badannya yang tinggi memang mendukungnya untuk melakukan jump shoot dengan mudah bahkan dari jarak yang cukup jauh, apalagi ji hyun lebih pendek darinya. Awalnya kris hanya ingin bermain-main tapi setelah melihat ji hyun bisa meraih angka dengan mudah darinya, kris memutuskan untuk serius bermain.

Bola kini dipegang ji hyun. Sekarang dia berusaha membalikkan badannya dari posisi berhadapan dengan kris yang terus berusaha meraih bola yang sedang di-dribble olehnya. Sedikit demi sedikit ji hyun mencoba menggiring bola itu menuju posisi terdekat dengan ring basket sehingga dia bisa melakukan jump shoot, tapi keinginan itu hilang saat bola tersebut berhasil direbut kembali oleh kris saat dia memutar badannya. Dan kini mudah saja bagi kris untuk menciptakan point.

Pertandingan terus berlanjut. Awalnya point ji hyun dan kris saling mengejar satu sama lain tapi itu ternyata hanya terjadi dimenit-menit pertama saja. JI hyun tidak mampu lagi mengimbangi semangat kris yang ingin melihatnya kalah. Bagi ji hyun, hari ini sempurna penuh dengan kesialan. Entah apalagi yang akan terjadi setelah ini, ji hyun hanya bisa pasrah. Tersenyum pahit pada dirinya sendiri. Dia kalah oleh sunbae sombong ini.

Kris tersenyum puas karena point-nya kini sudah lebih banyak dibanding ji hyun. Ji hyun hanya memandang kesal kris, hampir setengah total point yang didapat kris adalah hasil mencuri bola darinya. Ji hyun sudah mulai kelelahan. Keringat bercucuran membasahi baju seragamnya. Point-nya juga sudah tertinggal cukup jauh. Bermain lebih lama lagi sama saja membunuh dirinya perlahan-lahan. Walaupun ji hyun masih berhasrat ingin mengalahkan kris dan menghilangkan senyum sombong itu, tapi tubuhnya benar-benar sudah kehabisan energi. Ji hyun berjalan ke pinggir lapangan menuju tempat tasnya berada. Sedikit istirahat  kemudian akan cabut pulang.

“hei, mau kemana kau?” teriak kris saat melihat ji hyun menuju pinggir lapangan.

“…” ji hyun menoleh sekilas tanpa berkata apapun.

Setelah ditanggapi seperti itu, kris yang berniat melakukan lemparan ke ring malah melepas bola basketnya begitu saja dan melangkah menuju tempat ji hyun duduk dan sedang mengelap keringatnya. “kalau begitu aku menang” ucap kris setelah tiba disamping ji hyun.

Ji hyun hanya melirik sekilas dan memutar bola mata mendengar ucapannya. Menurutnya, dilihat dari sisi manapun, bahkan tanpa bertanding, sudah ketahuan siapa yang akan menang.

“kenapa diam? Kau tidak terima dengan kekalahanmu? Ternyata kau tidak sehebat yang aku duga” ujar kris dengan nada sedikit angkuh dan itu semakin membuat ji hyun kesal padanya. “kurasa kau masih harus menjadi pengamat lebih lama lagi kalau ingin mengalahkanku. Hahaha…” lanjutnya kali ini dengan nada mengejek.

Ji hyun yang tidak ingin mendengar ocehan sombong kris lagi, langsung berdiri dan mengambil langkah pergi. Tanpa aba-aba tangan kris langsung menyambar pergelangan tangan ji hyun. Kaget. Sontak ji hyun menoleh. “mau kemana? Aku sedang  bicara. Aku ini sunbae-mu dan kau harus menghargai aku.” Kris kesal karena dari tadi tidak ditanggapi satu kalimat pun oleh ji hyun.

sunbae, kau sudah menang.  Mau apa lagi? Aku sudah lelah. Aku benar-benar ingin istirahat. Omonganmu, aku dengarkan lain kali saja.” Jawab ji hyun tak bersemangat. Ingin marah tapi rasanya tidak ada gunanya.

Kris tidak menduga reaksi ji hyun akan seperti itu. Dia kira ji hyun akan marah padanya seperti biasanya. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Tangan ji hyun segera dilepaskan dari genggamannya. “aku juga lelah, sebaiknya kita pulang saja.”ujar kris salah tingkah.

Mereka berdua berjalan beriringan namun tidak satupun yang berinisiatif untuk memulai pembicaraan. Ji hyun yang terlalu lelah, tidak ingin peduli lagi dengan keadaan sekitarnya tapi kering tenggorokan yang telah dirasanya sejak tadi tidak bisa ditahan lagi. “sunbae, kau tahu dimana aku bisa membeli minuman didaerah sini? Aku haus” kata ji hyun

Badan kris berputar dan matanya memperhatikan keadaan sekitar. Sebenarnya dia sudah lama tidak kesini dan kalaupun kesini jarang sekali membeli minuman atau semacamnya. Dia ingat pernah ada kios kecil penjual hamburger disekitar taman ini, menurutnya disitu juga pasti ada jual minuman. “seingatku ada kios kecil penjual hamburger didekat kolam buatan ditengah taman, aku rasa mereka juga jual minuman ringan. Aku juga haus. Mau coba kesana karena aku juga sudah lama tidak kesini?” tawar kris tulus. Ji hyun hanya mengangguk.

Mereka memutar balik tujuan ke tengah taman. Ji hyun yang sudah tidak tahan dengan rasa hausnya mengambil langkah di depan. Kepalanya celangak celinguk mencari keberadaan kios hamburger yang disebutkan sunbae-nya itu. “sunbae, dimana kiosnya?” tanya ji hyun tidak sabaran.

“ ‘kan sudah kubilang seingatku ditengah taman, dekat kolam itu.” kris juga ikut tidak sabaran

sunbae, yang itu ya?” tunjuk ji hyun pada sebuah kios kecil berwarna biru kuning. “aku rasa begitu” jawab kris sekenanya.

Ji hyun berlari menuju kios tersebut, namun langkahnya terhenti saaat dilihatnya ada sepasang kekasih yang sedang bermesraan. Matanya melotot karena tidak percaya dengan pemandangan didepannya. Ji hyun tahu siapa yeoja itu. Seakan teringat sesuatu, “kris” gumam ji hyun dan segera berbalik untuk mencegahnya melihat hal ini tapi terlambat karena kris sudah berdiri tepat dibelakangnya sejak tadi dan terdiam, tapi jelas ada amarah besar yang akan meledak jika tidak segera menghentikannya melihat pemandangan itu.

sunbae?” ji hyun coba memanggil kris. “sunbae?”…”sunbae?” panggilan ji hyun masih juga tidak direspon oleh kris. Ji hyun frustasi ingin mengalihkan pandangan kris dari sepasang sijoli itu. Tatapan mata kris mulai menakutkannya.

Entah pikiran dari mana ji hyun langsung merengkuh wajah kris dengan kedua tangannya. “sunbae, lihat aku. Lihat aku!” pinta ji hyun memaksa. Kris akhirnya menoleh padanya. “kita pergi dari sini” lanjutnya memberanikan diri. Untuk sesaat kris merasa tertegun dengan hal tersebut. Karena sijoli itu, dia lupa ji hyun masih berada didekatnya. Berbagai pikiran telah mengisi kepalanya.

“aku tidak bisa membiarkan ini terjadi. Apa maksudnya dia melakukan itu?” pandangan kris kembali kearah sepasang kekasih itu meski dia tidak melepaskan tangan ji hyun dari wajahnya. Rasa kesal dan marah sepertinya hampir sempurna menguasai diri kris.

“kita urus itu nanti. Sekarang kau mau apa? Memukul pria itu? Itu tidak akan merubah apa yang telah terjadi. kau hanya akan menambah masalah baru. Ayolah, kita pergi sekarang. Oke?” ujar ji hyun berusaha mengalihkan kembali pandangan kris.  Cemas mulai menghinggapi diri ji hyun ketika wajah kris yang terasa bergetar ditangannya. Kemarahan kris benar-benar menakutkan bagi ji hyun.  “Kris, lihat aku! kita pergi sekarang!” tegas ji hyun, kali ini dengan menggerakkan paksa wajah kris menghadap padanya. Ji hyun menatap lekat mata kris, berusaha menyampaikan pesan tak terucap padanya. Sedangkan kris tidak ada pilihan lain selain diam dan menatap balik mata ji hyun, sekedar mencari alasan kenapa dia melakukan itu.

“ayo!” ji hyun menggenggam tangan kris dan menariknya pergi dari tempat itu.

To be Continued

Sekian dulu chingudeul. Semoga masih seru ya, maaf jika update-nya cukup lama, tapi diusahakan tetap akan terus update kok.  Jangan lupa comment ya, mau itu ceritanya atau bentuk penulisannya. Maklum author masih amatiran jadi butuh banyak masukan. Gumawo chingu.

Iklan

32 pemikiran pada “Unpredictable You (Chapter 3)

  1. Eoh emang itu selingkuh?
    Waaah ji hyun berani bgt yah
    Tenang chingu, masih seru kok
    Pokoknya lanjutannya ditunggu yaaa
    Mau tepat ato aga sedikit lama juga ngga apa apa
    Yg penting di update teruuuuus hehehe 😀

    • makasih chingu udah mau baca 🙂
      iya, diusahan apapun caranya tetap update… hehehe

      ji hyun emang cewek super… hahahaha
      tungguin chapter berikutnya ya.

      makasih juga udah comment 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s