A Rainy Day’s

A Rainy Day’s

 

Author             : Nurfadeer

Genre              : Romance, Yaoi

Main Cast        : Xi Luhan (EXO-M), Oh Sehun (EXO-K), Kim Jongin (EXO-K)

Length             : Oneshot

Note:

Ini adalah FF pertama saya. Mohon jika ada kekurangan, saya minta saran dan kritiknya.

Happy reading! ☺

 

Gemericik suara hujan terdengar parau ketika sang mentari condong kearah barat. Seseorang dengan selimut yang menyelimutinya nampak bergumam. Wajahnya pucat dengan bibir merah mudanya yang mengering.

Pandangannya masih terkunci dengan sesuatu di depan sana. Tepatnya bukan sesuatu atau apapun itu, karena nyatanya pandangannya tak mengarah ke manapun. Manik mata itu kosong. Melompong. Seperti hati dan pikirannya saat ini.

Tepat di depan pintu, tanpa diketahui sang pemilik kamar, seseorang tengah menyandarkan dirinya. Jari-jarinya saling bertautan membagi kehangatan. Bibir bekunya melengkung. Ia menegakkan punggungnya dan berlalu pergi.
Rumput di bawah kakinya berkecipak. Beragumentasi dengan sepatunya yang telah basah. Itu menjadi langkah kedelapannya ketika ia berbalik. Menatap ruang gelap di belakangnya, sekelibat memori pun muncul.

“Yakin tak ingin menemaniku?” suara itu seperti undangan yang sangat menyenangkan. Pemuda berambut pirang itu menggeleng pelan. Tak yakin dengan jawaban yang ia buat sendiri.

Pemilik suara itu mengangguk-angguk. Masih tak kehilangan ide untuk menggoda pemuda pemilik rambut pirang tersebut. “Ah, baiklah. Mungkin kau tidak keberatan jika aku pergi dengan salah satu dari mereka,” matanya melirik dengan tak antusias kederetan wanita yang berteriak menggila.

Sekilas, wajah pemuda itu terangkat. Dengan gerakan cepat ia berdiri dan menutup bukunya dengan kasar. “Ya, Oh Sehun!!” suara pemuda itu melengking. Melengangkan sedetik suasana kantin kampus sebelum suara berbisik yang mendominasi. Pemuda itu lalu membungkuk dengan berlebihan.

“Luhan?” panggil Sehun pada pemuda itu.

Pemilik suara itu─Sehun memandang pemuda itu dengan iris matanya yang dalam. Rambut pirang pemuda itu menguarkan aroma yang ia sukai ketika tertiup angin. Kontras dengan aroma harum masakan yang baru diangkat dari penggorengan.

Sang pemilik nama menghentikan aktifitasnya dan mendongak, “Ya?” Luhan berseru pelan. Ia memicingkan matanya menatap Sehun yang terdiam. Luhan tak cukup tahu apa yang tengah dipirkan Sehun. Tapi, ia membalas tatapan itu pula dalam diam. Ia pernah mendengar…

Tak semua hal harus diucapkan dengan kata…

Cukup dengan tatapan mata itu, keduanya bertukar pikiran. Cukup dengan tatapan itu mereka seolah saling memasukkan diri mereka masing-masing ke dalam bola mata mereka sendiri.

Luhan yang pertama kali menyadari tatapan risih orang-orang disekitarnya lalu membuang arah pandangannya. Ia menyampirkan tasnya ke bahunya sebelum pergi dari tempat itu. Lengannya yang panjang menarik lengan Sehun dengan cepat.

Sehun berdecak dalam hati. Menatap punggung kecil milik pemuda yang tengah menarik lengannya dengan langkah cepat. Sehun melebarkan langkahnya mensejajarkan dirinya dengan Luhan. Sekali ayunan, lengan panjang miliknya mengait ke bahu pemuda berambut pirang itu.

Manik mata milik Luhan melebar. Memandang wajah datar Sehun yang menatap lurus jalan di depannya. Luhan yakin dirinya tengah tersenyum dalam hati, menyembunyikan perasaan senangnya. Tapi tanpa sadar, Sehun dapat melihatnya. Senyum yang amat manis itu.

 

Ketika Sehun kembali kealam sadarnya, bola Jingga di langit kelabu itu telah mengenggelamkan dirinya. Meninggalkan Sehun di bawah guyuran hujan yang menusuki kulitnya hingga pori-pori terkecil sekalipun.

Sehun tak beringsut sedikitpun dari tempat itu walaupun tanah di bawah kakinya bergetar. Mengiringi suara gelegar petir dilangit yang gelap. “Luhan…” bibirnya yang terkatup menggumamkan nama itu dengan pelan. Mata tajamnya tetap mencoba menembus kaca gelap di depannya. Disana, pemilik nama itu berada.

 

Luhan membalik badannya menjadi terlentang. Ia merasa sekujur tubuhnya sangat sakit dan sendi-sendinya mati rasa. Ia mengangkat tangannya dan menelungkupkan punggung tangannya pada keningnya sendiri. Kepalanya berkedut-kedut dan ia merasa langit-langit kamarnya akan runtuh. Tapi ia sama sekali tak peduli. Tangannya beralih meremas kerah bajunya, disana ada sesuatu yang lebih menyakitkan.

Denting jam memenuhi seluruh ruangan kosong tersebut. Rumah gelap tanpa penerangan itu masih tak membuat Luhan berkutit agar segera menyalakan saklar lampu. Ia memukul dadanya sendiri dengan keras.

Dalam ruangan gelap itu, ia merasa ada seseorang yang memanggilnya dengan pelan. Lalu ketika ia mulai tertarik dan menoleh ke luar jendela, matanya bertemu pandang dengan orang itu. Seketika udara disekitarnya menjadi berkurang, ia merasakan sesak dalam dadanya. Tapi, kali ini berbeda, rasa sesak itu sangat ia rindukan.

“Sehun…” Luhan bersuara untuk yang pertama semenjak hari itu. Suara seraknya yang terhapus suara hujan tak sampai ditelinganya. Membuat ia sendiri tak yakin apa ia berhasil menyebut nama itu atau tidak setelah sekian lama.

 

“Sehun-ah! Ya, Oh Sehun bangunlah. Kita bisa telat karena tertinggal bis,” Luhan menggoyang-goyang tubuh Sehun dibalik selimut. Sehun tersenyum tipis di balik selimutnya itu. Tangan kirinya meraih pinggang Luhan, membuat sang pemilik tubuh meniban Sehun yang berada di atas ranjang.

Luhan berkedip beberapa kali sebelum menyadari apa yang baru saja terjadi.  Saat ia sadar, Luhan tersenyum kaku menyadari hidungnya berada di atas hidung Sehun. Tubuhnya merinding seketika.

“Se-Sehun, cepatlah mandi. Aku akan menunggumu di luar,” Luhan mengusap belakang kepalanya. “Tidak mau!” balas Sehun menekankan setiap kata. Luhan meneguk ludahnya, “Sebelum kau berikan ciuman pagiku, aku tidak mau bangun dan melepaskanmu.”

Luhan berdecak. “Kau mengancamku?” Luhan memutar bola matanya. “Ya, aku akan memberikan ciuman pagimu, hemmph…” Luhan cepat-cepat menutup mulutnya. “Ma-maksudku nanti setelah kau mandi,” lanjutnya. Setidaknya ia mempunyai sedikit waktu untuk berpikir agar Sehun melupakan permintaannya itu.

Sehun dan Luhan, keduanya berakhir di ruangan yang paling dienggani oleh semua murid di kampusnya itu. Ruang BK.

Keduanya yang tengah dihukum untuk membersihkan ruang perpustakaan karena telat, kepergok tengah menyatukan bibir mereka. Hal itu membuat Luhan mencak-mencak dalam hati ingin mencelotehi Sehun panjang lebar. Sedangkan Sehun? Dengan wajah datarnya, ia memutar bola matanya malas dengan kedua tangannya di dalam saku celana.

“Kalian berdua, apa yang kalian lakukan di dalam perpustakaan, huh? Apa laporan yang ku terima itu benar?” tanya guru BK itu. Name tag di seragamnya bertuliskan ‘Wu fan.’ Tidak salah lagi, nama guru berwajah dingin itu adalah Wu Fan.

“Benar…”Sehun memotong ucapan Luhan yang bahkan belum terlontar keluar. Menurutnya sekarang yang akan ia keluarkan adalah jantungnya yang berdentum keras.

“Ti-tidak Songsaenim. Sehun hanya bercanda,” Luhan menyiku rusuk Sehun disisi kanannya. “Kenapa kau berbohong?” tanya Sehun polos. Tidak menanggapi singa di depannya tengah menahan amarah.

Luhan melirik takut kearah guru itu. “Kau tidak bisa berbohong sedikit apa? apa kau mau mati, huh?” Luhan berbisik pelan.

“Kalian berdua diamlah!!” guru itu berkacak pinggang lalu mendekat kearah dua orang di depannya.

“Aku tidak peduli kalian melakukan apapun dengan siapapun, asal jangan membawa nama buruk di sekolah ini. Apa kalian mengerti?” keduanya terkejut hingga rahang milik Luhan tak bisa terkatup, membuat Sehun ingin memangsanya dalam waktu ini juga. Tapi, tentu saja ia harus mengurungkan niatnya itu.

“Baiklah, kalian berdua boleh keluar!!” Luhan lega dan ia menggandeng Sehun keluar.

“Aku kira Wu fan Songsaenim akan membunuh kita, syukurlah! Tapi kenapa ia tidak menghukum kita, ya?” Luhan berceloteh ria sambil mengayunkan tangan Sehun ke depan dan belakang. Langkah ringannya itu terhenti ketika langkah Sehun terhenti tepat di taman kampus. Luhan mengernyitkan dahinya.

“Ke…hemmph,” bibir milik Luhan tengah dibungkam dengan sesuatu yang lembut dan basah milik Sehun. Iris matanya melebar sebelum akhirnya ikut menutup matanya seperti Sehun. Kedua bibir mereka bertautan, saling berbagi rasa manis yang terus mereka inginkan. Perlahan, lidah hangat milik Sehun menjelajah rongga mulut Luhan. Luhan tak membalas ataupun menolak, ia hanya tersenyum disela-sela ciuman manis mereka. Hingga perburuan oksigenlah yang memaksa keduanya berhenti. Saling tersenyum manis dan menyatukan jari-jari mereka membagi kehangatan.

 

Denting jam kembali berbunyi. Menandakan bahwa waktu sudah jauh berputar saat Luhan mengingat kembali sedikit kenangannya dengan Sehun. Luhan menurunkan kedua kakinya pada ubin dingin dan berdebu di kamarnya. Sudah lama sejak ia tak lagi berdiri setelah hari itu, rasanya ia hampir lupa caranya berjalan.

Di tengah kamar dengan keadaan gelap, tangannya meraba-raba udara mencari saklar lampu. Langkahnya yang gontai membuatnya hampir terjatuh setiap kali menyeret kaki rampingnya. Luhan menyipitkaan matanya sembari menutup telinganya ketika cahaya lampu dan suara gemuruh kilat datang bersamaan.

Luhan tak tahu sudah berapa lama ia berada di dalam kamarnya yang pengap. Ia sangat yakin tak lagi merasakan lapar dan haus seperti yang dirasakan ketika seseorang tak mendapatkan kebutuhan mutlak itu. Ia bahkan tidak yakin ketika kakinya dapat menyeretnya lebih jauh sampai di ruang tengah rumahnya. Tangan miliknya meraih sesuatu dengan bingkai warna pirang lusuh.

“Sehun…” gumamnya lagi. Ibu jarinya mengelus wajah Sehun dengan gaya konyolnya saat berfoto dengannya. Sehun terlihat sangat manis dalam foto itu. Ya, Luhan pasti berpikir begitu, tapi baik hati dan lidahnya tak akan pernah mengakui itu. Sejak hari itu. Ya, sejak hari itu dunianya, dunia Sehun dan dunia orang itu menghilang.

 

Sehun berada di puncak kelelahannya bersama dengan hujan yang tak menunjukkan tanda akan mereda. Ia menghembuskan nafas beratnya dengan dada sesak. Matanya masih mencoba untuk menembus kaca gelap di depannya. Penghalang tipis itu ingin ia hancurkan hinga tak berbentuk lagi, tapi ia tidak bisa atau dipaksa untuk tak melakukannya. Itu bukan perintah orang lain, hanya saja ia takut membuat seseorang di dalamnya ketakukan karena dirinya. Menyadari hal itu, ia hanya menggeram frustasi.

Sehun menundukkan wajahnya yang basah. Air matanya telah membaur dengan air hujan, Membuat Sehun hanya tersenyum miris. Harusnya ia tidak menangis. Ia seorang pria dan larangan pertama seorang pria adalah menjadi lemah.

Sehun mendongak saat kilat tengah membelah angkasa. Disaat bersamaan, cahaya lain muncul. Setelah penglihatannya menormal, Sehun tahu orang di dalam kaca gelap itu telah menerangi rumahnya. Sehun mendesah lega, tak ada yang lebih ia inginkan kecuali doanya agar dunia kekasihnya itu kembali.

 

Hujan membasahi Kota Seoul sejak kemarin malam. Tak terlalu deras, tapi nyatanya suhu di Kota Seoul turun dan cukup membuat seisi Seoul kedinginan. Paginya, awan mendung menjadi penghias langit Seoul dengan gerimisnya yang membawa dingin.

Dua orang pemuda berjalan dengan obrolan ringan. Kiranya, hujan sama sekali bukan masalah bagi mereka. Salah satu pemuda dengan jaket yang kebesaran ditubuhnya, berjinjit dan membisikkan sesuatu ditelinga pemuda yang satunya. Mereka berdua dalam satu naungan payung warna kuning yang sama. Sesaat kemudian, pemuda yang lebih tinggi itu tertawa.

“Kau lucu Luhan,” Sehun menyentil hidung mancung Luhan.

Luhan balas tertawa, “Terima kasih.” Luhan merogoh sesuatu dalam saku celananya. “Pakai ini!! aku membuatkan satu pasang untukmu.” Sapu tangan warna soft pink dengan motif panda itu nampak manis di mata Luhan, tapi berbeda dengan Sehun. Sehun balik menatap Luhan dengan tatapan ‘Kau menyuruhku untuk memakai ini?’

Luhan mengangguk. Dengan atau tanpa persetujuan Sehun, ia memakaikan sapu tangan ‘nista menurut Sehun’ ke tangannya yang bebas. “Berikan tanganmu yang satunya lagi, biar payungnya aku yang pegang,” intruksi Luhan.

Sehun berdecak dan memutar bola matanya malas. Mimik wajah datarnya membuat Luhan memanyunkan bibirnya.

“Kau tidak mau pakai?” Luhan bertanya dengan mata berkaca-kaca.

Sehun mendesah panjang dan berkata,”Satu untukku, satu untukmu. Sapu tangan ini kita namakan sapu tangan couple. Kau setuju?” Sehun bernafas lega setelah melihat wajah manis milik Luhan kembali berbinar.

Guyuran hujan di jalanan Kota Seoul lebih deras dari sebelumnya. Sehun dan Luhan berlari-lari kecil mencari tempat berteduh yang ada. Atau lebih dari itu, mereka bisa mendapatkan tempat hangat yang lebih nyaman.

“Kau mau kesana?” tawar Sehun menunjuk sebuah kedai ramen yang nampak ramai. Walaupun kedua orang itu berdiri jauh dari sana, mereka dapat mencium aroma kuah ramen yang hangat. Luhan mengangguk dan keduanya berjalan kearah sana.

Aroma kuah ramen yang menguar menyambut Luhan dan Sehun yang baru saja tiba di kedai ramen tersebut. Asap mengepul dari arah dapur dan membuat suasana kedai semakin hangat. Luhan memutar kepalanya, mencari meja dengan dua kursi yang kosong untuk dirinya dan Sehun.

“Disana…” Sehun menunjuk sebuah meja dengan telunjuknya. Disana seorang pemuda dengan kulit gelap khas miliknya tengah meniup-niup isi mangkuk ramen. Ya, hanya meja itu yang masih kosong. Meja yang terletak di sudut kanan dekat dapur.

“Hanya tinggal satu meja? Baiklah, kalau begitu ayo!!” Luhan dengan semangat berjalan menuju meja itu diikuti Sehun.

“Boleh duduk di sini?” Luhan bertanya hati-hati pada pemilik pertama meja itu. Padahal Sehun dengan tak acuhnya telah duduk di kursi yang kosong tersebut. “Sehun-ah…” Luhan mengisyaratkan Sehun untuk berdiri dengan tatapan matanya.

Pemuda berkulit gelap itu mendongak. Matanya tepat memandang pada bola mata milik Luhan. ‘Ini pasti mimpi, kan?’ batinnya dalam hati. Ia menepuk pelan pipinya. Sakit. ‘Jadi ini bukan mimpi?’ ia membatin lagi.

Luhan yang memperhatikan pemuda itu, mengangkat alisnya bingung. “Kalau tidak boleh, tidak apa-apa. Kami akan pergi.”

“Ti-tidak, silahkan,” pemuda itu menunduk. Menatap isi mangkuknya dengan gelisah.

Luhan duduk tepat di sebrang pemuda itu. “Ramen spesial dua…” Luhan menangkat tangannya pada pelayan kedai itu. “Dan satu botol arak beras,” Sehun menyahut ucapan Luhan dengan santai.

“Ya, Oh Sehun kita belum boleh meminum arak,” ingat Luhan.

“Jangan melarangku atau aku akan menciummu di sini.” Sehun mendekatkan wajahnya pada Luhan yang reflek memundurkan kepalanya. “Aku kedinginan sampai bibirku biru begini, mungkin dengan ciumanmu akan membuatnya normal lagi.”

Luhan gelagapan, menutup bibirnya dengan tangannya sendiri dan menggeleng. “Ba-baiklah. Tapi jangan habiskan semuanya.” Sehun mengangguk.

Seseorang berdehem. “Maaf. Aku permisi ke belakang sebentar.” Pemuda berkulit gelap itu berjalan sebelum Luhan membalas perkataannya.

Ketika pemuda itu kembali dan duduk dikursinya, Luhan tersenyum manis padanya. Ia merasakan degup jantungnya lebih tak terkendali daripada sebelumnya. Disaat ia tengah diam-diam bersembunyi di balik tembok dan mengamati Luhan tanpa diketahui siapapun. Ketika ia melihat Luhan tersenyum walau bukan padanya. Ketika ia mendengar tawa Luhan dan ia akan ikut tersenyum.

“Luhan imnida,” Luhan mengulurkan tangannya. Pemuda itu memandang uluran tangan Luhan lama. Apa ia akan mengulurkan tanggannya juga dan menggenggam tangan itu? Kenapa ia merasa sedang bermimpi sangat indah, padahal ia tahu itu nyata.

“Ka-Kai imnida.” Setelah berpikir lama, Kai membalas uluran tangan itu dengan tangannya yang berkeringat dingin.

“Tanganmu dingin. Kau tidak apa-apa?” Luhan bertanya dengan nada khawatir. “Coba gosokkan kedua tanganmu begini…” Luhan mempraktekan dengan menggosokkan kedua telapak tangannya sendiri. “Atau coba kau tiup saja,” Luhan mempraktekan ucapannya sekali lagi.

“Kau lucu Luhan,” sahut Sehun meneguk arak berasnya. “Tanpa kau praktekan, siapapun juga tahu caranya.” Luhan hanya balas menggembungkan pipinya.

Kai tersenyum. Hari ini akan menjadi hari bersejarah dalam hidupnya.Ia ingin mengukir kisahnya pada apapun. Menuliskannya hingga tangannya tak mampu memegang pena lagi. Bahkan jika itu hari terakhirnya, Kai berjanji tidak akan meminta wasiat apapun pada orang tuanya.

Senyuman itu, senyuman Luhan yang membingkai manis wajahnya akan selalu ia kenang. Suaranya yang untuk pertama kalinya ia dengar itu akan selalu menjadi lagu untuknya. Dan ketika untuk pertama kalinya ia dapat melihat rajukan manja dari Luhan. Apa yang lebih diinginkannya selain berharap itu bukan mimpi? Kai tersenyum dan mendapati Sehun menatapnya tajam.

 

Luhan melompati kubangan air dengan payung ditangannya. Ia sengaja memberi pelajaran pada Sehun agar mau menuruti nasehatnya dan tak menggodanya lagi di depan orang lain. Alhasil, Sehun dengan tubuh basah kuyup harus berlari kecil menerjang hujan untuk bisa menangkap kekasihnya itu.

“Xi Luhan, kembali kau. Kau harus bersiap-siap kalau aku menangkapmu, aku tidak akan membiarkanmu kabur lagi,” ancam Oh Sehun tersenyum tipis. Sehun tahu hukuman apa yang pantas untuk menghukum kekasihnya itu.

“Tidak mau,” Luhan menjulurkan lidahnya dan terus berlari.

“Kau akan menyesal Xi Luhan. Kembali atau kau benar-benar ku hukum?” Sehun makin memperjelas seringai tipisnya. Ia tidak sabar untuk segera memangsa rusa kecil itu.

“Aku tidak memilih keduanya,” Luhan berteriak dari kejauhan. Jaraknya cukup jauh dari posisi Sehun yang hanya berlari-lari kecil.

Sehun berhenti dan mencoba memperjelas arah pandangnya. Luhan berada jauh dari dirinya. Ya, Luhan dengan payung kuningnya tengah memperhatikan jalan untuk menyebrang. Sehun melihat kontainer besar melaju kencang kearah Luhan yang telah seperempat menyebrang jalan. Tidak sempat, Sehun tidak sempat untuk berlari kesana dan menyelamatkan Luhan.

Sehun berdecak sambil menerjang debit hujan yang semakin turun menggila. Langkahnya terseok-seok karena banyaknya kubangan air dan licinnya aspal.

“Luhan… pergilah dari sana! Ada mobil di depanmu,” Sehun berteriak, namun tak cukup keras karena terhapus jejak hujan.

Luhan menoleh kearah Sehun. “Apa yang kau katakan?” sahut Luhan. Sehun terus saja berlari sambil menggigit bibirnya. Tak menjawab pertanyaan pertanyaan kekasihnya itu. Tidak sempat. Ia tidak akan sempat jika ia tidak menambah kecepatan larinya.

Suara klakson terdengar jelas ditelinga Xi Luhan ketika ia menghadap ke sisi kanannya. Kontainer bermuatan penuh itu menerjang hujan dengan kecepatan di luar batas keamanan. Luhan tak berkutit dari tempatnya. Iris matanya melebar dan bergetar di dalam bola matanya. Luhan merasakan tubuhnya kaku, tak dapat digerakkan. Suaranya pun tak dapat ia keluarkan. Saat kontainer itu mendekat, ia menutup matanya…

Luhan membuka perlahan kelopak matanya. Ia merasakan tubuhnya menghangat. Tidak salah lagi, ia dalam pelukan seseorang. Luhan menggeliat dalam pelukan orang itu. Lengan kekarnya melonggar perlahan seiring dirinya yang jatuh di aspal. Luhan mendudukkan dirinya dan mendapati pemilik lengan kekar itu berlumuran darah.

‘Kenapa? Kenapa dia yang harus menolongku?’ Luhan membekap mulutnya. Seluruh tubuhnya bergetar ketakutan.

“Luhan… Luhan, kau tidak apa-apa, huh?” Sehun menerobos kerumunan yang mengelilingi Luhan dan orang itu. Sehun sama terkejutnya dengan Luhan, kenapa orang yang baru dikenalnya menolongnya kekasihnya itu? Ia tidak tahu harus mengintrogasinya atau berterima kasih lebih dahulu. Sehun berjongkok lalu memeluk tubuh Luhan yang bergetar.

“Di-dia?” Luhan menunjuk orang itu. “Ka-kai, kenapa kau menolongku?” Luhan menaruh lengannya di belakang leher Kai. “Kenapa kau menolongku, huh?” Luhan berteriak melihat Kai yang justru tersenyum padanya. Membuat hatinya terasa sakit dan pedih.

“Ka-kau ti-tidak apa-apa?” Kai bertanya setelah terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya.

Luhan mengangguk. “Kau jangan bicara dulu. Kita akan ke Rumah Sakit, oke? Kau harus baik-baik saja.” Luhan berucap dengan sesenggukan.

Kai menggeleng. “A-aku ingin… uhuk,” Kai terbatuk untuk yang kesekian kali. “Me-mengatakan sesuatu pa-padamu.”

“Katakanlah! Tapi nanti setelah kita sampai di Rumah Sakit.” Luhan berteriak pada orang-orang disekitarnya, “Kenapa tidak ada yang memanggil ambulance? Sehun, cepat panggilkan ambulance.”

“Sudah. Mereka pasti akan segera sampai. Luhan, tenangkan dirimu dulu!” Sehun mengelus punggung Luhan pelan, mencoba menenangkannya.

Untuk pertama kalinya, Luhan benci menunggu sesuatu. Luhan berdecih lalu beralih lagi kepada Kai. Tangan Kai yang berlumuran darah itu menyentuh wajah putih Luhan. Masih dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia mencoba mengatakan sesuatu. Tapi, tak cukup keras dan Luhan tidak dapat mendengarnya.

Luhan menggenggam tangan Kai yang berada di wajahnya dengan bergetar. Tangan itu sangat dingin dan membutnya berpikir untuk menjauhkan tangan itu dari wajahnya. Tapi itu tidak mungkin. Luhan mendekatkan wajahnya ke bibir Kai yang menggumamkan sesuatu. Setelah mata Luhan melebar, ia membungkam mulutnya sendiri. Matanya yang hampir berhenti menangis, malah lebih mengeluarkan air mata yang lebih deras. Sederas hujan di Kota Seoul hari ini.

Kai tersenyum untuk yang terakhir kalinya. Lengan dinginnya melemas dan lepas dari genggaman tangan Luhan yang bergetar. Kemudian, ia merasa sebuah cahaya menyelubunginya. Ia juga dapat mendengar tawa itu, tawa seorang Xi Luhan.

 

Luhan berada di depan Sehun. Tinggal beberapa langkah lagi, ia dapat melihat kekasihnya itu dengan jelas. Luhan mengamati Sehun dengan lengkungan senyum di wajahnya tengah diam mematung. Luhan berpikir apa Sehun tak ingin menemuinya?

Luhan terbaring di Rumah Sakit dan mengalami amnesia ringan. Sehun sedikit bernafas lega, kekasihnya tak mengalami hal yang ia takutkan. Tapi ia juga harus menelan kekecewaan. Dari apapun yang berada diingatan Luhan, hanya dia dan peristiwa hari itu yang tak bisa Luhan ingat.

Sehun tak menyerah. Setelah tiga bulan ia mencoba mengingatkan Luhan tentang dirinya, ia memang berhasil. Namun, Luhan juga mengingat peristiwa hari itu. Kecelakaan yang mengakibatkan Kai meninggal karena menyelamatkan kekasihnya. Sehun merasa dirinya payah dan lemah.

Sehun menarik kedua sudut bibirnya ketika Luhan berjalan mendekat. Dengan payung warna kuning digenggamannya ia memayungi Sehun yang basah kuyup.

“Kau bodoh. Apa yang kau lakukan di sini?” Sehun semakin menarik kedua sudut bibirnya. Itu pertama kalinya setelah satu bulan ia tak pernah mendengar suara itu. “Apa yang kau lakukan?” Luhan kembali bertanya. Walau nadanya terdengar datar dan dingin, ia cukup tahu jika Luhan mengkhawatirkannya. Luhan peduli dengannya.

“Aku merindukanmu…” Sehun menangkupkan kedua telapak tangannya pada wajah Luhan. “Kau terlalu lama meninggalkanku. Itu membuatku takut tak akan melihatmu lagi,” Sehun terisak pelan. “Kau tak perlu menyalahkan dirimu lagi. Jangan lagi.”

Hati Luhan mencelos, Kekasihnya itu semakin terisak hingga terdengar suara sesenggukan. “Kau laki-laki Oh Sehun, berhenti menangis!”

“Aku tidak menangis. Ini hanya air hujan,” kata Sehun sambil terkikik kecil. “Kau juga merindukanku, kan?” mata Sehun memandang dalam mata Luhan yang memantulkan dirinya. Ia menutup matanya dan menyatukan bibir dinginnya dengan bibir hangat milik Luhan.

Luhan ikut menutup matanya. Melingkarkan lengannya pada leher Sehun.

“Terima kasih selalu menungguku. Aku tak akan menyakitimu lagi dan mengecewakannya,” Luhan berkata lirih ketika menyebut orang itu.

“Aku tahu,” Sehun menenggelamkan kepala Luhan pada dada bidangnya. “Dan selamat datang kembali Luhan.” Luhan menganggukkan kepalanya. Ia merindukan kehangatan yang diberikan Sehun dan memeluk tubuhnya lebih erat. Sangat erat.

Lembayung pagi bergerak pelan di atas kepala dua insan itu. Hingga tanpa ia sadari seseorang tengah melihatnya dari balik awan, ia tersenyum dan hatinya serasa terisi kembali. Hatinya, Xi Luhan, akhirnya dapat tersenyum kembali dan membuat dadanya menghangat. Kini, ia bisa beristirahat dengan tenang.

Flashback

Kai membisikkan sesuatu ketelinga Luhan. Ia berkata dengan suara terputus-putus, “Lu-Luhan… uhuk, a-aku men-mencintaimu. Ber-berjanjilah kalau kau ti-tidak akan menyalahkan di-dirimu sendiri. Ter-tersenyumlah da-dan ber…uhuk, bahagialah dengan dia.” Kai melirik Sehun sekilas dengan ekor matanya. “Se-selamat Ti-ti-tinggal.”

Sepotong ingatan Luhan itu terhapus ketika ia telah mengingat semuanya. Luhan memberanikan diri mengeluarkan dirinya dari kediamannya yang senyap. Pandangannya bertemu dengan Oh Sehun yang terpaku menatapnya. Pada saat itu, sepotong kenangan terakhir dari Kai berputar di kepalanya bagai kaset usang dan menampilkan semuanya dengan jelas.

END

5 pemikiran pada “A Rainy Day’s

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s