Eye to Eye

Tittle               : Eye to Eye

Author            : @anggitaratri

Rating             : PG 15

Genre              : Angst – Romance

Length            : Two-shoot

Location        : South Korea

Cast                :

  • Kim Jongin (EXO-K)
  • Lee Seungri (Bigbang)
  • Park Ji Eun (OC)
  • Kwon Eunri

FINAL2

DISCLAIMER : Saya menulis cerita ini murni dari ide, imajinasi dan inspirasi saya sendiri. Sebelumnya saya sudah pernah memposting cerita ini dengan tokoh dan jalan cerita yang sedikit berbeda. Apabila ada kesamaan karakter dan jalan cerita mohon dimaklumi. Maafkan juga apabila ada karakter tokoh yang kurang mengenakan karena ini hanya cerita fiksi J

*****

Dinginnya malam dan kencangnya angin membuat jalanan di sudut kota Seoul malam itu sepi. Ditambah dengan rintiknya gerimis yang terus turun sepanjang malam itu, semakin memperkelam suasana.

Waktu menunjukkan pukul 10.00 KST malam. Walaupun sepi dan terkesan tenang, ternyata tidak begitu dengan gejolak hati seseorang yang kini sedang berdiri di bawah rintiknya air, dengan wajah tertutup jaket hitamnya. Pikirannya melayang kembali pada peristiwa sepuluh tahun lalu. Dadanya kembali membara. Amarah itu kembali tersulut. Kebencian terpancar jelas dari matanya.
Tak lama, seorang lelaki dan perempuan yang kelihatannya adalah sepasang kekasih lewat di daerah itu. Mereka tidak menyadari, bahwa sedari tadi mereka telah menjadi incaran seseorang yang hatinya sarat akan dendam dan kebencian.

Oppa, aku merasa ada yang mengikuti kita,” ucap sang yeoja kepada kekasihnya. Mereka berdiri dalam naungan payung yang sama.

“Benarkah?”

Mereka pun menghentikan langkah, lalu memperhatikan sekeliling mereka.

Sang yeoja mengangguk pelan menjawab pertanyaan itu.

“Pasti hanya perasaanmu. Tenang saja, ada aku disini.” Jawab sang namja sembari tersenyum. Belum sempat mereka melanjutkan langkah, sesosok bayangan tiba-tiba muncul. Dalam hitungan detik, bumi kembali merekam kejadian itu. Angin dan hujan tetap menjadi saksi bisu yang setia.

Ia tidak takut. Dan tidak akan pernah takut. Hal inilah yang ia inginkan. Sesuatu yang dapat membuat jiwanya puas, dan inilah yang membuat batin dan kalbunya seolah kembali hidup. Senyum di bibirnya terkembang, sebelum akhirnya ia meninggalkan tempat itu dengan jejak yang terbang beserta derunya angin.

Ya, membunuh. Satu-satunya hal yang membuatnya puas.

***

Inhanam High School, Seoul

Bel tanda masuk telah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu, namun keadaan kelas 2-A masih gaduh. Tak lama, Eunhae sonsaengnim memasuki kelas itu bersama seorang murid dengan seragam berbeda yang berjalan di sebelahnya. Kegaduhan para murid terhenti. Tapi bukan karena kedatangan sonsaengnim mereka itu, melainkan karena kehadiran seorang lelaki asing di sebelahnya.

“Mulai sekarang, kalian akan kedatangan seorang teman baru lagi. Silakan perkenalkan dirimu!” seru Eunhae sonsaengnim.

Lelaki itu hanya tersenyum kecil, kombinasi antara antara malu dan menjaga image. Dan hal itu sangat cukup untuk membuat sebagian murid perempuan di kelas itu berteriak kecil karena terpesona akan sosok namja asing nan tampan di hadapan mereka.

Annyeong, naneun Kim Jongin imnida. Senang bertemu kalian, dan mohon bantuannya.” Jelas lelaki bernama Jongin itu singkat sambil membungkukan badannya.

Semua yang ada di kelas itu terlihat antusias, kecuali tiga orang murid yang terlihat sedang asyik dengan kegiatannya masing-masing.

”Ah Ji Eun-ah, menurutmu namja itu tampan tidak?” bisik Eunri teman sebangkunya seraya menatap Jongin sekilas.

Mollasseo,” jawab Ji Eun sambil tetap menulis. Ia sama sekali tidak tertarik dengan kehadiran anak baru itu.

Aish, coba kau lihat sebentar.” Pinta Eunri sedikit memaksa.

Dengan malas, Ji Eun memperhatikan wajah namja itu sekilas dan kembali menulis.

”Ya! Bagaimana pendapatmu?”

”Tampan.” Jawab Ji Eun datar.

Ya!  Kau ini!” Gerutu Eunri melihat respon sahabatnya itu. Ji Eun memang tidak memiliki ketertarikan yang spesifik terhadap lelaki, sekalipun lelaki itu sangatlah tampan. Eunri pun kembali melihat kearah Jongin.

“Hmm, jincca. Menurutku juga, tampan. Sangat tampan.” Ujar Eunri seraya tersenyum kecil sambil memandangi Jongin. Ji Eun yang meliriknya hanya mendengus pelan. Ia pun menoleh kepada Eunri dan melihat sebentar kondisi teman-temannya yang sedang sibuk berbisik-bisik.

 

Dasar. Tidak yeoja, tidak namja, semua sama saja.

 

Ji Eun menggerutu sebal melihat sikap teman-temannya dan akhirnya memilih untuk berpaling pada sosok seorang namja yang tertidur seperti biasanya di bangku pojok kelas.

Ji Eun tersenyum kecil mendapati lelaki yang selama ini disukainya lagi-lagi tidur di kelas. Lelaki itu, Seungri, memang sosok yang dingin dan menyimpan penuh misteri. Di sekolah ini pun, ia sama sekali tidak mempunyai teman, tentu saja karena keinginannya sendiri. Ia sangat suka menyendiri. Ia sering tidur di kelas, bermain gitar saat jam kosong, atau pergi ke suatu tempat di sekolah ini yang memang jarang orang datangi. Dan entah kenapa, justru itulah daya tarik yang membuat Ji Eun menyukai lelaki dingin dan pendiam itu.

Walaupun lelaki itu hampir selalu tidur di kelas, tidak pernah ada guru yang memarahinya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sosok seperti Seungri yang selalu mengabaikan pelajaran itu adalah murid yang sangat cerdas. Ia selalu mendapat peringkat pertama di kelas, tanpa belajar tentunya. Bahkan ia selalu masuk peringkat tiga besar paralel di sekolahnya. Itulah yang membuat siapa saja berpikir bahwa terkadang hidup itu tidak adil.

 

”Ji Eun-ah! Jangan katakan kalau kau sedang memikirkan Seungri.” Tegur Eunri membuat Ji Eun tersadar dari lamunannya.

Ji Eun hanya memberikan senyuman kecil sebagai jawaban dan melanjutkan kegiatan menulisnya karena ternyata pelajaran sudah akan dimulai. Ia baru saja akan menulis saat tiba-tiba Eunri memukul tangannya pelan. Ji Eun kembali berpaling pada Eunri dengan tatapan ‘ada apa lagi?’ kepadanya. Eunri tidak menjawab dan justru tersenyum kepada seseorang di hadapannya. Ji Eun menengok kearah itu.

Pandangan keduanya bertemu. Ji Eun dan Jongin saling bertatapan dalam waktu sepersekian detik. Jongin terus menoleh kearah belakang saat matanya terpaut dengan tatapan gadis yang baru dilihatnya itu. Dan akhirnya Ji Eun lah yang terlebih dahulu memutuskan kontak singkat diantara mereka.

Tidak ada yang tahu bahwa setelah kejadian itu, ada salah satu dari mereka yang sebagian hatinya telah tercuri, pada pandangan pertama.

***

Bel istirahat berbunyi. Sebagian murid langsung bergegas menuju kantin atau sekedar keluar kelas untuk menghilangkan kejenuhan. Tapi nampaknya, hal itu  tidak berlaku bagi Ji Eun. Ia memilih untuk tetap tinggal di kelas dan memperhatikan seseorang, yang seperti biasa masih tetap tertidur di bangku pojok kelas.

”Mau ke kantin?” sebuah suara cempreng yang dibuat-buat terdengar oleh telinga Ji Eun. Ia pun menghentikan aktivitasnya. Ji Eun melirik sebentar kearah sumber suara dan hanya menggeleng. Ia segera mengambil novelnya dari dalam tas dan mencoba membacanya dengan serius.

Aniya, sepertinya aku sedang ingin di kelas.” Jawab Jongin yang sudah Ji Eun ketahui namanya itu. Ia yakin tidak akan lama lagi, namja yang duduk di depannya itu akan menjadi incaran para yeoja centil, dan pujaan para yeoja pada umumnya. Tapi, hal itu tidak berlaku bagi Ji Eun tentunya.

“Ah, kau harus tahu lingkungan sekolah ini Jongin-ssi, iya bukan?” ujar Hyemi yang dibalas anggukan oleh teman-temannya.

Jeongmal mianhaeyo, aku belum ingin keluar.” Jawab Jongin sekali lagi dengan tidak enak. Gadis-gadis di hadapannya hanya bisa mengeluh pelan dan pasrah, lalu akhirnya pergi meninggalkan Jongin dengan terpaksa. Ji Eun tersenyum kecil dalam hatinya. Bukan apa-apa, ia hanya tidak suka dengan kelakuan teman-teman perempuannya yang menurut dia terlalu centil dan agresif.

Tanpa sadar, ternyata hanya tertinggal tiga orang di kelas. Eunri sudah keluar kelas, entah sejak kapan. Ji Eun yang tiba-tiba merasa diperhatikan menengok kearah Jongin.

Mereka kembali saling menatap. Bahkan Jongin maupun Ji Eun dapat melihat pantulan diri mereka masing-masing pada mata keduanya.

Waeyo?” Ji Eun yang tidak tahan dengan tatapan itu segera menutupi wajahnya dengan novel yang ia baca. Baru kali ini ia bertatapan langsung dengan lelaki, dan dalam jarak yang relatif dekat pula.

“Kau tidak keluar?” tanya Jongin pada akhirnya. Ini pertama kalinya seorang Kim Jongin merasa aneh dan bingung harus bersikap bagaimana di hadapan seorang perempuan.

“Kau juga tidak keluar?” Ji Eun balik bertanya sambil tetap menutupi wajahnya.

Jongin yang sudah cukup merasa hal itu sebagai jawaban, akhinya kembali duduk dengan posisi semula. Ji Eun yang tidak mendapat respon segera mengalihkan novelnya dan mendapati Jongin sedang membuka-buka tasnya.

Aish, dasar namja aneh.

”Ini untukmu.” Tiba-tiba Jongin menyodorkan sesuatu kearahnya. Jepit rambut?

“Apa ini?” tanya Ji Eun bingung.

“Kau tidak bisa melihat? Itu jepit rambut dariku.”

“Ya! Aku tau itu. Tapi kenapa kau memberikannya padaku?”

“Entahlah. Aku hanya ingin memberikannya padamu. Itu saja.” Jongin langsung beranjak dari tempat duduknya setelah mengatakan itu. Ji Eun yang masih bingung hanya diam, dan melihat punggung Jongin yang menghilang keluar kelas. Tanda tanya besar bersarang di kepalanya.

Aneh sekali dia. Kenal denganku saja tidak!

“Sepertinya ia menyukaimu.” Sebuah suara mengangetkan Ji Eun dari lamunannya.

“Ah, Seungri-ssi, kau sudah bangun?” Wajah Ji Eun berubah cerah mendapati Seungri duduk di seberangnya.

Seungri hanya diam dan melangkah pergi keluar kelas. Ji Eun tidak tinggal diam. Ia segera mengikuti Seungri dengan senyum yang merekah di bibirnya. Ia selalu berpikir bahwa tindakan sebagian besar teman-teman perempuannya itu terlalu agresif. Tapi terkadang ia pun merasa bahwa dirinya sendiri tidak jauh berbeda dengan mereka, ketika ia harus berhadapan dengan Seungri. Butuh perjuangan ekstra untuk mendekati namja sepertinya.

”Seungri-ssi, mau kemana?” tanya Ji Eun sembari menyejajarkan langkahnya dengan Seungri.

Diam.

Ji Eun sudah biasa dengan hal ini. Dan mungkin karena pengaruh hal itu juga, Eunri sering mengatakan bahwa “penyakit” Seungri menular kepadanya. Ji Eun menjadi lebih sering diam dari sebelumnya, sama seperti Seungri, sejak ia menyukai lelaki itu.

Ji Eun tetap saja mengikuti langkahnya, sampai akhirnya Seungri berbalik dan menatap Ji Eun dengan tajam.

”Jangan ikuti aku. Pergilah.” Ucapnya dingin dan meninggalkan Ji Eun pergi entah kemana.

Ji Eun menghela napas sejenak.

Ya, sudah biasa Ji Eun, sabarlah. Tapi tatapan matanya.. kenapa begitu?

Ji Eun bertanya-tanya dalam hatinya. Setelah hampir satu tahun sekelas, baru kali ini Ji Eun dapat melihat dengan jelas tatapan mata Seungri. Kenapa ia baru menyadari bahwa tatapannya begitu berbeda? Apakah Seungri kesepian?  Apakah ia menyimpan sesuatu yang menyakitkan hatinya?

Ji Eun kembali menghela napas. Ia jadi teringat bahwa hari ini dia sudah bertatapan dengan dua orang namja yang berbeda.

Dan tidak ada pula yang menyadari, bahwa kehidupannya akan berubah sejak saat itu.

***

Keesokan harinya, Ji Eun berangkat terburu-buru ke sekolah. Ia tidak sempat membereskan rumah dan langsung melesat pergi agar tidak ketinggalan bus. Ia memang tinggal sendiri di rumah yang cukup besar di daerah Daegu itu.

Sesampainya di kelas, pemandangan yang cukup mengejutkan membuatnya mematung di dekat pintu kelas.

Eunri terlihat sangat antusias berbincang-bincang dengan Jongin yang duduk di sebelahnya, menempati tempat duduknya. Ia pun segera menghampiri mereka.

“Ehem. Maaf ini tempat dudukku, bisa pergi sekarang juga?” Ji Eun bertanya dengan nada yang lebih terdengar sebagai sebuah perintah. Ia langsung mendapati tatapan tajam Eunri yang seolah mengatakan bahwa ia sedang tidak mau diganggu. Ji Eun tidak peduli akan hal itu. Ia pun masih tetap berdiri, menunggu Jongin beranjak dari tempat duduknya. Lelaki itupun akhirnya berdiri, lagi-lagi mereka saling bertatapan. Dan untuk pertama kalinya, Ji Eun merasa pipinya panas dan jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Jongin tersenyum kecil mengetahui bahwa pipi gadis di hadapannya itu bersemu merah.

Jongin justru mendekatkan wajahnya, membuat Ji Eun mundur satu langkah.

“Wajahmu.. memerah.” Ujar Jongin lalu mengeluarkan smirk-nya, yang entah kenapa lagi-lagi membuat jantung Ji Eun tidak berdetak dengan normal. Ji Eun baru saja akan membalas perkataan Jongin, andai saja tidak ada sepasang tangan yang kuat, yang membimbingnya duduk di tempat duduknya.

“Seung..Seungri-ssi?” Ji Eun kaget menemukan bahwa sosok Seungri lah yang membimbingnya duduk. Jantungnya berdetak lebih cepat seribu kali dari sebelumnya, bertambah tidak karuan.

Seungri hanya diam dan berjalan kearah tempat duduknya dengan segera. Jongin dan Eunri pun hanya menatap keduanya dengan tatapan bingung yang berbeda.

***

Bel istirahat terasa cepat berdering. Dan seketika itu juga murid-murid yeoja langsung mengerubungi Jongin. Ji Eun memutar bola matanya. Baru sehari, dan ia sudah berhasil mendapatkan perhatian dari murid-murid perempuan di sekolahnya. Tepat seperti dugaannya. Ia menoleh kearah Eunri yang ternyata sedang mengelap kotak makan yang dibawanya dengan tissue.

“Eunri-ya, kau membawakan bekal untuk siapa? Untukmu?” tanya Ji Eun heran.

Eunri hanya tersenyum dan meneruskan aktivitasnya. Setelah jumlah yeoja yang mengelilingi Jongin berkurang, Eunri pun bangkit dari duduknnya. Ji Eun yang akhirnya mengerti hanya menghela napas sebal mendapati bahwa Eunri, yang notabene sudah menjadi sahabatnya sejak SMP, juga merupakan salah satu fans dari Jongin.

Ji Eun menyipitkan mata menyaksikan kejadian yang berlangsung di hadapannya.

Ternyata begitu rasanya jadi namja populer. Tidak enak juga.

Ia baru saja akan membuka novel lain yang ia pinjam dari perpustakaan, ketika Seungri lewat di hadapannya sembari membawa gitar. Ji Eun baru tersadar bahwa sedari tadi lelaki itu tidak tidur di kelas. Ji Eun berniat menghiraukannya, sebelum akhirnya ia memilih untuk mengikuti Seungri diam-diam.

”Pasti dia ke taman belakang.” Batin Ji Eun sambil terus mengikuti Seungri dari jarak yang cukup jauh. Dan ternyata dugaannya benar.

Sekolahnya memang luas. Di samping sekolah juga ada taman yang dibuat khusus untuk para murid istirahat dan bersantai. Tapi berbeda dengan taman belakang ini. Tidak terawat. Pengunjung setianya hanyalah Seungri, yang seperti biasa sedang bermain gitar di bawah pohon oak sambil memandangi danau kecil yang ada di taman itu.

Ji Eun tersenyum dan memandangi Seungri dari kejauhan. Alasan pasti mengapa ia bisa jatuh cinta pada Seungri pun masih belum ia ketahui dengan jelas sampai sekarang.

Seungri memainkan gitarnya sambil memandangi burung-burung dara yang ada dihadapannya. Salah seekor burung dara yang sedang beristirahat di depan danau bersama kumpulannya itupun tiba-tiba terbang kearah Seungri. Ji Eun terus mengamatinya.

Beberapa lama kemudian, sesuatu terasa janggal. Seungri memegang burung itu dan menatapnya lekat-lekat. Aneh..

Dan Ji Eun hampir saja berteriak andai saja ia tidak menutup mulut dengan tangannya.

Seungri mencekik burung itu lama, sampai akhirnya burung itu mati. Burung-burung yang lain segera terbang mengangkasa sebelum akhirnya Seungri melempar bangkai burung dara itu ke danau dengan kasar.

”Ya Tuhan, apa yang ia pikirkan? ” Ji Eun bertanya lirih pada dirinya sendiri. Tubuhnya langsung gemetaran saat itu juga. Ia pun segera berbalik ke kelas.

Perasaanku tidak enak.

Karena terburu-buru, Ji Eun menabrak seseorang di koridor saat sudah dekat dengan kelasnya.

Mianhae ” ujar Ji Eun pelan sambil tetap menundukkan kepala .

Baru saja ia akan kembali melangkah saat tangan orang itu menahan Ji Eun agar tidak beranjak dari tempatnya.

”Gwaenchaneungoya?” tanyanya.

Ji Eun baru menyadari bahwa itu Jongin saat ia menatapnya. Walaupun baru beberapa hari berada di sekolah itu dan hanya beberapa kali menatap gadis di hadapannya, Jongin sudah bisa menangkap sebuah kegelisahan di mata Ji Eun.

Ji Eun segera melepaskan tangannya dari genggaman Jongin dengan kasar.

”Bukan urusanmu.” Jawab gadis itu dingin dan meninggalkan Jongin dengan perasaan tidak tenang.

***

Esoknya Ji Eun berangkat lebih pagi. Ia tidak ingin nasibnya sama seperti kemarin, harus berlari-lari dari rumahnya sampai halte, demi mendapatkan bus tepat waktu. Sungguh menguras tenaga, pikirnya. Dan ternyata, ia justru berangkat terlalu pagi sampai-sampai dialah murid pertama yang hadir di kelas. Ji Eun meletakkan tas sekolahnya dengan asal-asalan di atas meja, lalu menelungkupkan wajah berbantalkan tas miliknya. Entah kenapa, sejak kejadian kemarin, perasaannya menjadi tidak enak. Tatapan tajam Seungri dan apa yang ia lakukan di taman belakang waktu itu benar-benar membuatnya shock.

Ji Eun masih terus menelungkupkan kepala, sampai-sampai ia tak menyadari bahwa seseorang telah duduk di sebelahnya. Lelaki itu tersenyum simpul. Ingin sekali rasanya, tangan lelaki itu membelai rambut hitam nan lurus milik gadis di sampingnya. Ya, lelaki itu adalah Jongin. Ia tak dapat memungkiri lagi, bahwa sebagian kecil perhatian dan hatinya telah tersita oleh gadis di hadapannya itu.

Ji Eun yang akhirnya merasakan kehadiran seseorang, segera mengangkat kepalanya. Ia cukup terkejut dengan kehadiran Jongin, namun buru-buru ia menutupi keterkejutannya.

“Sekarang kau berangkat lebih pagi,” ujar Jongin seraya mengalihkan pandangan dari Ji Eun.

“Hm,” Ji Eun menjawab pertanyaan Jongin dengan sekenanya. Jongin menghela napas pelan, kemudian melanjutkan perkataannya. “Kau percaya pada cinta pandangan pertama?”

Ji Eun mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Jongin. Ia merasa aneh kenapa tiba-tiba namja di sebelahnya itu bertanya demikian.

“Aku percaya. Karena aku pernah mengalaminya,” jawab Ji Eun. Tanpa sadar seulas senyum terpampang di wajahnya. Bayangan wajah seseorang yang kemarin membuatnya takut, tiba-tiba terlintas di hadapannya.

Jongin merasakan sensasi yang berbeda ketika melihat gadis di sebelahnya tersenyum seraya menerawang. Menawan, pikirnya. Namun sedetik kemudian senyum di bibir gadis itu lenyap dan tergantikan dengan ekspresi wajah yang tidak bisa Jongin tebak.

“Jeongmalyo? Siapa dia?” tanya Jongin pada akhirnya.

Ji Eun menghela napas. Lagi-lagi perasaan aneh bercampur khawatir itu muncul di benaknya, tapi buru-buru ia tepis perasaan itu.

“Jongin-ssi, kau pikir kau siapa berani bertanya hal itu padaku. Aku tidak akan pernah mengatakannya pada namja sepertimu.”

“Waeyo? Apakah aku punya salah padamu? Kenapa kau terlihat begitu membenciku?”

Ji Eun menoleh menghadap Jongin. Ia pun kembali bertanya-tanya pada dirinya sendiri, karena untuk kesekian kalinya, jantungnya berdetak tidak normal ketika harus bertatapan dengan lelaki di hadapannya itu.

A..aniya.. aku hanya, tidak suka dengan namja yang suka ikut campur sepertimu.” Jawab Ji Eun seraya menundukkan kepala. Ia membuka-buka tasnya gugup, apalagi ketika ada seorang temannya yang datang. Tiba-tiba saja jepit rambut pemberian Jongin waktu itu menyembul dari saku kecil di tasnya. Baik Ji Eun maupun Jongin sempat terdiam beberapa saat. Ji Eun diam karena ia tidak ingat bahwa lelaki bernama Kim Jongin itu pernah memberikannya benda itu. Sedangkan Jongin terdiam karena tidak menyangka bahwa Ji Eun masih menyimpan benda pemberiannya.  Jongin terkekeh kecil.

Waeyo? Ini tidak lucu.” Ucap Ji Eun dengan berbisik. Ia mengambil jepit rambut itu dan menggenggamnya erat, malu bahwa ia tertangkap basah masih menyimpan benda pemberian Jongin.

“Mwo? Apa yang kau katakan?” tanya Jongin seraya mendekatkan telinganya kearah Ji Eun sembari tersenyum jahil. Ji Eun hanya mendengus pelan lalu beranjak berdiri dari tempatnya. Spontan Jongin menarik tangannya sehingga Ji Eun terduduk kembali. Kedua tangan Jongin beranjak memegang pipi Ji Eun dan menghadapkan wajah gadis itu kearahnya. Ji Eun yang kaget baru saja akan protes ketika dengan gesit Jongin segera mengambil jepit rambut yang Ji Eun genggam, lalu perlahan Jongin semakin mendekatkan wajahnya. Ia pun memakaikan jepit rambut itu ke rambut Ji Eun, kemudian membelai rambutnya pelan. Ji Eun yakin sejuta persen bahwa wajahnya sudah benar-benar memerah seperti kepiting rebus saat itu. Jongin tersenyum kecil sembari melihat-lihat Ji Eun dengan memiring-miringkan kepalanya, lalu tersenyum lagi.

Ya, yeoppoda..” bisik Jongin.

Ji Eun benar-benar kehilangan kendali akan laju jantungnya kali ini. Bahkan ia sampai takut lelaki di hadapannya itu dapat mendengarnya.

“Pakailah ini terus, hm? Untukku, jebal. Meskipun aku orang asing bagimu, tapi..” Jongin menggantungkan kalimatnya. Ia kembali tersenyum sampai beberapa murid yang sudah datang di kelas berbisik-bisik.

“Tapi.. ini sangat cocok dipakai olehmu.” Lanjutnya seraya kembali lagi tersenyum. Sesuatu hal yang sebenarnya jarang sekali Kim Jongin lakukan, terutama terhadap seorang perempuan. Jongin yang kemudian menyadari bahwa keadaan kelas mulai ramai dan Ji Eun yang terus terdiam , akhirnya bangkit dari tempat duduknya dengan berat hati karena takut gadis di sebelahnya itu merasa risih.

Selama jam pelajaran berlangsung pun, entah kenapa Ji Eun benar-benar tidak bisa berkonsentrasi. Pikirannya terbagi-bagi antara Seungri, dan namja menyebalkan bernama Kim Jongin, yang sialnya mampu membuat jantungnya berdetak tidak karuan. Tanpa sadar tangannya membelai jepit rambut pemberian Jongin yang kini masih terpasang di rambutnya. Senyumnya terukir sejenak membayangkan hal yang tadi pagi baru saja terjadi. Ia tidak menyadari perubahan wajah dua orang di kelas itu yang sejak pagi tadi memperhatikan tingkahnya.

***

Sejak bel masuk sampai istirahat, Ji Eun menyadari bahwa Eunri bersikap tidak seperti biasanya. Ia terus saja menghiraukan Ji Eun selama pelajaran berlangsung.

Apa Eunri marah padaku? Tapi kenapa? Apa salahku?

Ji Eun sudah berulang kali mencoba membuka obrolan dengan Eunri, namun selalu gadis itu abaikan. Saat bel istirahat baru berbunyi pun, Eunri langsung melesat pergi keluar kelas. Ji Eun baru akan mengejarnya saat tiba-tiba sosok Seungri lewat di hadapannya. Sekelebat kejadian kemarin kembali terbayang-bayang di pikirannya. Namun, ia segera membuang pikiran itu jauh-jauh. Peristiwa kemarin tidak boleh membuat niatnya goyah.

Baiklah Ji Eun, ayo lakukan..

Ji Eun mencoba mengejar Seungri yang sudah berjalan cukup jauh di depan. Jongin yang baru saja akan kembali masuk ke kelas melihat kejadian itu. Ia kembali bertanya-tanya, ada hubungan apa diantara keduanya?

Jongin baru saja akan mengikuti mereka saat dengan tiba-tiba pula para fans-nya muncul. Jongin segera berbalik dan mengurungkan niatnya mengikuti mereka berdua.

Sementara itu, Ji Eun yang sudah berjalan di samping Seungri masih tetap menutup mulutnya. Apakah tindakannya tepat? Apakah ini tidak terlalu agresif? Kenapa perasaannya benar-benar tidak enak?

Secara tiba-tiba Seungri berhenti, membuat Ji Eun dengan mendadak ikut berhenti.

“Ikut aku.” Ujarnya angkuh seraya berbalik arah. Ji Eun dapat merasakan dinginnya kulit Seungri menjalar ke tubuhnya. Ternyata Seungri membawa Ji Eun ke lantai atas, tempat latihan dance dan theatre berada. Namun ia membawa Ji Eun menuju rooftop sekolah. Seungri pun langsung melepas genggamannya setelah sampai disana.

”Cepat katakan, apa maumu?” tanyanya dengan sorot mata tajam.

Ji Eun masih terdiam di tempatnya berdiri dan mengeluarkan saputangan yang ada di saku roknya.

”Pakailah ini, tanganmu dingin sekali Seungri-ssi.” Ujar Ji Eun seraya memberinya saputangan.

Tapi, persis seperti dugaannya, Seungri hanya mendengus dan mengalihkan pandangannya dengan angkuh. Ji Eun menghembuskan napas berat dan mencoba mengontrol detak jantung serta perasaan kalut di hatinya.

Baiklah,mungkin aku harus mengatakannya sekarang juga.

”Seungri-ssi, aku menyukaimu. Mungkin kau terkejut dengan perkataanku. Tapi aku serius. Jauh sebelum ini, aku sudah menyukaimu.” Ji Eun mengungkapkannya dengan cepat seperti tanpa spasi.

Hening.

Ji Eun melirik kearah Seungri setelah sekian lama ia menunduk.

Dan.. ia tersenyum! Apa itu berarti..

”Kau gadis bodoh yang tidak tahu apa-apa ya.” Jawab Seungri mengagetkan Ji Eun.

”Seungri-ssi, aku tidak mengerti.”

Ia mendengus dan berjalan mendekati seekor kucing yang sedang tidur di tembok pembatas atap sekolah.

”Atas dasar apa kau menyukaiku, huh? Cinta? ” tanyanya sambil mengelus-ngelus kucing itu.

Ji Eun kembali terdiam. Ia mencoba sekuat tenaga untuk tidak meneteskan air mata, namun ternyata sangat sulit. Ia tidak dapat membendung air mata yang dengan mudahnya menetes begitu saja. Ji Eun tidak berani menjawab.

”Jeongmal baboya.” ujarnya lagi sambil menggendong kucing itu.

Seungri mendekat kearah Ji Eun, ia masih menatap gadis itu dengan tatapannya yang tajam.

”Kau akan menerimaku apa adanya?” tanyanya dengan nada aneh yang menakutkan.

Ji Eun tetap mematung di tempatnya, sebelum akhirnya mengangguk lemah. Dan tanpa terduga, Seungri mengambil sesuatu dari kantung celananya.

Pisau lipat?

”Seungri-ssi, apa yang ingin kau lakukan?” tanya Ji Eun mulai ketakutan. Tanpa sadar ia berjalan mundur dengan gugup. Ia sendiri mampu mendengar suaranya yang bergetar.

”Menurutmu apa? ” tanya lelaki itu dan semakin berjalan mendekati Ji Eun sampai punggung gadis itu menabrak tembok pembatas. Ji Eun hanya diam dan diam, menunduk. Sampai..

”mweaooong!!

Ji Eun menengok dan memekik pelan saat melihat apa yang terjadi.

Seungri menusukkan pisaunya kearah perut si kucing yang sedang terlena dalam dekapannya.

”Seungri-ssi! Apa yang kau lakukan?! Kejam sekali!!”

Seungri hanya tersenyum. Ia justru terus menusuk-nusukkan pisaunya sampai terdengar erangan kucing malang itu. Ji Eun tidak kuat mendengar suara rintihan semacam itu. Memilukan. Sangat memilukan.

Ji Eun menutup telinga dan matanya agar ia tidak mendengar suara kucing itu dan menyaksikannya lebih lanjut. Air matanya semakin deras mengalir. Ia benar-benar tidak tahan dengan semua ini.

“Seungri-ssi..” suara Ji Eun bergetar. Ia tidak mampu melanjutkan kata-katanya lagi. Tenggorokannya sakit akibat tangis yang mendadak itu. Seungri hanya tersenyum menakutkan. Dan entah sejak kapan, sebuah kardus kecil telah tergeletak tidak jauh di tempatnya berdiri.  Dengan lihai Seungri memasukkan kucing malang itu ke dalam kardus, lalu melempar kardus itu jauh sampai mendarat di atap gedung lain di sebelah sekolah.

”Apa kau teringat sesuatu?” tanyanya pada Ji Eun. Ia kembali mengeluarkan tatapan dan suara dingin yang membuat Ji Eun semakin menangis ketakutan. Seungri mengambil saputangan dari tangan Ji Eun dengan kasar, lalu mengelap pisaunya yang berlumuran darah dengan saputangan itu, lalu melemparnya kearah Ji Eun.

Ji Eun memekik pelan seraya menghindar melihat saputangan itu melayang kearahnya. Ia mulai sesenggukan akibat tangisnya yang semakin deras. Tenggorokannya semakin sakit karena ia menahan suara tangisnya agar tidak terdengar semakin keras.

Tiba-tiba saja Ji Eun teringat berita di koran beberapa hari yang lalu.

“Pelaku membunuh korban dengan cara yang sama, yaitu menusuk perut mereka dengan brutal sampai beberapa organ tubuh korban keluar berhamburan.”

Ji Eun menggeleng-gelengkan kepala mencoba menepis bayangan itu.

Tidak mungkin..tidak mungkin..

Seungri masih menatap Ji Eun sambil tersenyum. Ji Eun baru sadar bahwa senyuman Seungri sangatlah berbeda.

”Kau sudah mengerti?” tanya Seungri semakin mendekatkan jarak diantara mereka berdua. Bahkan sekarang, mereka berdua dapat merasakan hembusan napas mereka masing-masing. Napas Ji Eun yang hangat dan berhembus cepat menyentuh leher Seungri.

Tiba-tiba saja Ji Eun merasakan tubuhnya sangat lemas dan limbung sampai hampir terjatuh, jika saja tidak ada tembok pembatas di belakangnya.

Pusing, itulah yang Ji Eun rasakan. Ia mual mengaitkan semua kejadian ini. Ia berusaha tetap berdiri meski pusing itu semakin menghujam kepalanya, sampai akhirnya.. gelap.

***

Sedikit demi sedikit, Ji Eun mulai membuka mata dan melihat secercah cahaya perlahan-lahan menyeruak masuk ke retina matanya. Saat semuanya sudah dapat ia cerna, senyumnya mengembang saat melihat Eunri ada disampingnya.

Gwaenchanayo, Ji Eun-ah? Kau masih pucat.” Eunri berkata dengan cemas seraya memegang dahi dan pipi Ji Eun.

Nan gwaenchana.

”Geotjimarayo. Kau tidak baik-baik saja. Kau seperti orang ketakutan.” tambah Eunri. Ia tahu bahwa sesuatu hal telah terjadi. Ji Eun kembali memutar memorinya tentang peristiwa yang baru saja ia alami.

Ini bukan mimpi kan?

”Siapa yang membawaku kesini?” tanyanya mengalihkan topik pembicaraan.

”Seungri yang membawamu. Ia bilang kau tiba-tiba pingsan dan ia membawamu ke UKS. Tentu saja aku langsung kemari, takut terjadi hal yang tidak-tidak padamu.”

Ji Eun tersenyum tipis karena ternyata Eunri masih mempedulikannya.

”Apa.. kau sudah tidak marah lagi padaku?”

Aish, Ji Eun-ah, kenapa kau malah menanyakan hal itu? Mianhae, tidak seharusnya aku bersikap seperti tadi, jeongmal mian.” Jawan Eunri pada akhirnya, seraya menggenggam tangan Ji Eun erat.

Ji Eun tersenyum mendengar jawaban Eunri.

Gwaenchanayo Eunri-ah, justru aku yang minta maaf karena tanpa sadar membuatmu marah. Oh ya, apakah tadi Seungri tidak mengatakan sesuatu?” tanya Ji Eun hati-hati. Hal ini masih membuatnya penasaran.

Aniyo, memangnya ada apa? Ji Eun-ah, ceritakanlah padaku. Apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian? Apakah ia menyakitimu?” tanya Eunri bertubi-tubi. Ji Eun tahu kawannya itu sangat penasaran.

”Ah, sungguh. Tidak ada apa-apa, aku hanya pusing tadi. Mungkin karena aku belum sarapan.” Jawabnya asal.

Maafkan aku Eunri-ah, aku harus berbohong..

”Ya sudahlah kalau begitu. Tapi kuharap, kau segera menghubungiku jika telah terjadi sesuatu hal padamu. Kau bisa disini sendiri? Jika tidak, aku akan menemanimu.”

”Tenang saja, aku sudah biasa sendiri. Kau kembali saja ke kelas.” Jawab Ji Eun meyakinkan.

Arasseo, aku ke kelas dulu ya. Semoga lekas sembuh.” Ujarnya sambil berlalu ke kelas seraya tersenyum.

Ji Eun hanya diam saat itu, ia tidak bisa membalas senyuman Eunri. Bayangan kejadian yang membuatnya pingsan berhasil ia ingat kembali dengan jelas. Peristiwa yang membuatnya menyesal. Menyesal telah jatuh cinta pada seorang bernama Lee Seungri.

Apa benar hal ini ada hubungannya dengan berita di koran waktu itu?

Apa tadi itu benar-benar sifat aslinya?

Apa mungkin seorang Seungri sanggup berbuat seperti itu?

Lamunannya buyar saat seseorang tiba-tiba masuk dan menutup pintu UKS. Ji Eun sudah gemetar, ketika akhirnya ia bernapas lega saat tahu bahwa sosok itu adalah Jongin.

”Kau sudah sehat?” tanyanya.

Ji Eun tetap diam dan mengalihkan pandangannya kearah jendela. Cahaya mentari yang menembus kaca menyilaukan matanya. Memperlihatkan dengan jelas debu-debu yang beterbangan di udara.

”Kau bisa pulang bersamaku nanti.” Tambah Jongin seraya menutup tirai jendela agar tidak menyilaukan mata Ji Eun, lalu beranjak duduk di ranjang gadis itu.

”Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri.” Jawab Ji Eun ketus sambil menatap lelaki di hadapannya itu dengan tajam. Namun, Ji Eun justru melunak melihat tatapannya itu.

Hey, ada apa ini?

Jongin terus menatap Ji Eun dalam diam. Ia tahu ada sesuatu yang terjadi pada Ji Eun. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Ji Eun sama sekali tidak menaruh kepercayaan padanya. Padahal, sungguh teramat sangat menyakitkan bagi Jongin menyaksikan raut wajah Ji Eun yang gelisah, tidak tenang, dan ketakutan seperti itu. Ya, Jongin dapat merasakan bahwa Ji Eun sedang dalam kondisi kalut.

Tiba-tiba saja Jongin tersenyum melihat Ji Eun. Tentu saja gadis itu dibuat heran oleh kelakuan namja satu itu. Untuk kesekian kalinya, wajah Ji Eun panas dan jantungnya mulai berlomba membunyikan genderang. Ji Eun pun memalingkan wajahnya.

“Ya! Kenapa kau tersenyum seperti itu?” tanya Ji Eun gugup.

Jongin tidak menjawabnya dan justru menggenggam tangan Ji Eun. Reflek Ji Eun melepaskannya, seraya berusaha bangun dari tidur. Dengan cekatan Jongin pun segera membantunya.

Ada apa denganku? Detak jantungku yang seperti ini.. berbeda dengan apa yang kurasakan pada Seungri..

“Aku tahu aku orang asing bagimu. Tapi, apakah kau tahu bagaimana orang asing ini begitu khawatir akan keadaan gadis jelek menyebalkan, yang selalu ketus dan keras kepala di hadapannya ini?” Lamunan Ji Eun terhenti ketika Jongin mulai berbicara.

Mendengar itu, tanpa sadar Ji Eun pun menggembungkan pipinya sebal lalu memukul lengan Jongin pelan. Jongin terkekeh lirih, dan dengan reflek yang amat buruk, ia baru mengaduh dan mengusap-usap lengannya.

”Sepertinya ada sesuatu hal yang mengganjal di hatimu. Bisa tolong kau ceritakan?” tanyanya lagi. Rupanya Jongin tidak berputus asa untuk menggali informasi dari Ji Eun. Gadis itu awalnya sebal. Namun melihat usaha dan kebaikan Jongin, lama-lama ia pun melunak.

Mianhamnida Jongin-ssi jika aku membuatmu khawatir. Sebenarnya kau sangat tidak perlu merasa seperti itu padaku. Aku tidak butuh belas kasihan orang lain,” jawab Ji Eun lirih. Jongin menghembuskan napasnya berat saat mendengar itu.

“Untuk apa minta maaf? Aku khawatir karena aku ingin, Ji Eun-ah. Dan aku akan sangat senang jika kau mau berbagi denganku, orang asing ini. Lagipula, aku tidak mengasihanimu,” ujar Jongin seraya kembali memegang kedua tangan Ji Eun. Kali ini Ji Eun pun tidak menolak. Ia mulai merasakan kenyamanan saat Jongin berada di sisinya.

Satu tangan Jongin beranjak menyentuh rambut Ji Eun. Ia membenarkan jepit rambut pemberiannya itu.

“Tadi aku tersenyum karena aku senang melihatmu tidak melepas jepit rambut ini.”

Ji Eun terkesiap. Ia juga baru menyadari kalau ternyata ia sangat menyukai benda kecil itu menghiasi rambutnya, sampai-sampai seharian ini ia tidak melepaskannya.

“Nah, sekarang sudah rapi.” Ucap Jongin, lalu kembali tersenyum. Ji Eun bukan orang bodoh yang sering melakukan kesalahan yang sama. Kali ini ia pun membalas senyuman Jongin. Sontak Jongin terdiam melihat gadis itu membalas senyumnya. Senyuman yang tulus.

Nde, aku menyukainya. Gomawoyo Jongin-ssi.”

Jongin membeku di tempatnya mendengar nada suara Ji Eun yang lembut, tidak seperti biasanya. Bahkan mendengar gadis itu mengucapkan terima kasih, telah sanggup membuat Jongin tidak dapat menjawab kata-kata Ji Eun.

“Dan.. kenapa kau juga bertanya seperti tadi? Aku baik-baik saja. Percayalah.” Jawab Ji Eun lagi sambil tetap tersenyum.

Jongin ikut tersenyum melihat Ji Eun. Senyumnya berubah menjadi senyum malu-malu, yang jujur saja membuat Ji Eun heran sekaligus ingin tertawa.

Ada apa dengan lelaki ini?

”Jam berapa sekarang? Sebaiknya aku pulang.” Ujar Ji Eun sambil melepas pegangan tangan Jongin. Ia mencoba menghentikan keadaan semacam itu diantara mereka. Kalau tidak, lama-lama kerja jantungnya akan benar-benar tidak dapat dikendalikan lagi.

”Sepuluh menit lagi bel pulang. Kau memang lebih baik pulang sekarang. Tunggu sebentar!” seru Jongin sambil berlari keluar.

Ji Eun diam melihat punggung Jongin yang menghilang dari balik pintu. Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, kenapa bisa ia diam saja saat Jongin menggenggam tangannya seperti tadi? Tidak mungkin kan kalau ia telah jatuh cinta pada namja itu? Ji Eun masih memikirkan hal tersebut sampai akhirnya Jongin kembali masuk ke UKS. Ia tersenyum simpul seraya memberikan tas Ji Eun padanya.

“Ji Eun-ah, kkaja, pulanglah bersamaku. Aku sudah izin sonsaengnim dan beliau mengizinkan kita pulang terlebih dahulu.”

Aniya, aku bisa pulang sendiri Jongin-ssi.” Tolak Ji Eun halus. Ia benar-benar mulai melunak pada namja bernama Kim Jongin ini.

Aish, sirrheo! Kau harus pulang denganku. Kalau sampai terjadi sesuatu hal padamu, maka aku adalah orang yang seumur hidup akan terbayang-bayang rasa bersalah. Dwaesseo, ikutlah denganku, hm?”

Ji Eun berpikir sebentar sebelum akhirnya mengangguk lemah. Jongin tersenyum lagi lalu menggandeng tangan Ji Eun keluar dari UKS saat itu juga, takut-takut gadis itu akan berubah pikiran.

***

Sudah dua hari ini Ji Eun terus pulang bersama Jongin. Entah kenapa, semakin gadis itu ingin menjauh dari Jongin, semakin sulit pula bagi gadis itu untuk menghindari dan menolak setiap tawaran Jongin padanya. Jujur saja, sesuatu dalam diri Jongin membuatnya sulit untuk berpikir jernih. Ingin sekali ia membetaknya agar menjauhinya, tapi gadis itu tidak bisa. Apalagi jika ia harus bertatapan dengan bola mata hitam milik Jongin. Ada sesuatu dalam diri lelaki itu yang membuatnya tertarik. Tatapan matanya yang tajam sekaligus lembut itu mengandung beberapa makna, yang bagaimanapun sulit Ji Eun ungkapkan. Sampai sekarang pun ia masih menebak-nebak bagaimana sifat Jongin sebenarnya.

Dan mungkin karena hal itu, Ji Eun merasa Eunri mulai sering mendiamkannya lagi. Sepertinya ia sudah bisa menebak mengapa sahabatnya itu bersikap demikian.

Eunri menyukai Jongin. Ya, tidak salah lagi.

“Eunri-ya, kau marah lagi padaku?” tanya Ji Eun saat Jungha sonsaengnim sedang membaca sesuatu di mejanya.

Aniya.

“Ya, aku tahu kau berbohong. Sepertinya aku tahu kenapa.” Ujar Ji Eun sambil tetap mengerjakan soal.

“Oh ya, akhir-akhir ini aku jarang melihatmu melamun dan mendekati Seungri lagi. Apa kau sudah tidak menyukainya?” tanya Eunri mencoba mengalihkan pembicaraan.

Ji Eun yang mendengar nama itu sontak terdiam. Badannya menegang secara tiba-tiba. Sudah dua hari, sejak peristiwa itu, Ji Eun tidak pernah lagi memperhatikan, atau menyapa lelaki itu. Bahkan untuk sekedar memikirkannya saja membuat Ji Eun pusing dan takut.

Eunri yang menyadari perubahan raut wajah Ji Eun hanya terdiam dalam kebingungannya. Ia justru meresahkan, bahwa gadis di sebelahnya itu mulai merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan pada Jongin.

Waktu terasa cepat berlalu terutama ketika bel istirahat yang ditunggu-tunggu sebagian besar para murid itu telah berbunyi. Ji Eun malas sekali pergi ke kantin yang pastinya akan ramai dan sesak. Tapi ia juga tidak ingin tetap tinggal di kelas. Ia pun akhirnya memilih untuk tetap menyusul Eunri ke kantin.

Baru selangkah ia berjalan, sosok Seungri mendadak muncul di hadapannya.

”Kenapa kau menjauhiku?” pertanyaan itu keluar dari bibirnya dengan suara lirih, namun sama sekali tidak mengurangi ketajamannya.

Ji Eun terpaku di tempatnya. Ia tidak bisa menyangkal bahwa tubuhnya gemetar begitu hebat. Takut mendominasi perasaannya.

Ji Eun tetap terdiam. Keringat dingin pun meluncur dari pelipisnya.

“Jawab aku.” Bisik Seungri tepat di telinga Ji Eun. Gadis itu semakin gemetaran.

”Ku.. kurasa.. itu hanya.. perasaanmu saja.” Ji Eun akhirnya dapat menjawab dengan suara yang lebih terdengar seperti racauan.

Seungri hanya mendengus mendengar jawaban gadis itu.

”Kau bilang kau menyukaiku bukan?” katanya sambil menatap mata Ji Eun dalam.

Ji Eun tidak bisa berkutik. Ia seperti mayat hidup yang bingung harus berkata apa, karena ia yakin wajahnya saat ini sangatlah pucat.

”Ji Eun-ah, ayo ke perpustakaan.” Seru sebuah suara yang akhir-akhir ini akrab di telinga Ji Eun.

Jongin segera menarik tangan gadis itu menjauh dari Seungri. Seungri pun hanya diam dan mengepalkan tangannya menyaksikan kejadian itu.

”Apa yang terjadi? Tanganmu dingin sekali. Wajahmu juga sering pucat sejak peristiwa dua hari yang lalu. Kumohon, ceritakan saja padaku.” Tanya Jongin seraya tetap menggandeng tangan Ji Eun dengan erat. Mereka tidak memiliki tujuan lain selain memang benar-benar menuju perpustakaan.

“Jongin-ssi, kenapa kau baik sekali padaku?” tanya Ji Eun, tidak menjawab sama sekali pertanyaan Jongin.

Jongin menghentikan langkahnya. Ia berbalik menghadap Ji Eun dan menatapnya tajam. Baru kali ini gadis itu melihat seorang Kim Jongin dipenuhi dengan emosi.

“Aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu Ji Eun-ssi.” Jawabnya penuh penekanan. Ji Eun terhenyak sejenak saat mendengar Jongin berbalik menyebut namanya secara formal.

Mereka tetap saling bertatapan dengan genggaman tangan Jongin yang masih belum terlepas dari tangan Ji Eun. Semua murid yang lewat di koridor  tidak bisa berhenti memandangi mereka yang menjadi pusat perhatian dan terus berbisik-bisik. Hal itu tentu saja membuat Ji Eun merasa risih.

“Jongin-ssi.. ah ani, Jongin-ah, kumohon jangan seperti ini. Ayo kita kembali ke kelas saja.” Pinta Ji Eun seraya mencoba melepaskan genggaman tangan Jongin yang begitu erat. Namun hal itu sia-sia. Jongin sama sekali tidak mendengarkan Ji Eun dan justru membawa gadis itu ke aula sekolah yang sedang kosong.

Jongin mendorong tubuh Ji Eun sampai merapat ke tembok. Gadis itu terus terdiam dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Jongin pun sadar kalau tindakannya pada Ji Eun terlalu kasar. Ia merasa menyesal akan hal itu.

“Ji Eun-ah, mianhamnida. Aku tidak bisa mengontrol emosiku melihatmu terus-terusan seperti ini padaku.” Jelas Jongin dengan kepala tertunduk. Ji Eun masih terdiam, tidak tahu harus merespon bagaimana.

Jongin yang tidak segera mendapat jawaban pun akhirnya kembali berpaling pada gadis itu. Mata Ji Eun yang mulai meneteskan air mata membuat tangan Jongin beranjak mengusap pelan pelupuk mata gadis itu.

“Mianhae, jeongmal mianhae.” Jongin berbisik.

Ji Eun hanya menggeleng pelan, berharap Jongin tahu bahwa ia tidak marah pada namja di hadapannya itu. Keduanya saling menatap dalam diam. Seolah keduanya sedang saling berkomunikasi dengan tatapan itu. Ji Eun memegang tangan Jongin yang masih menyentuh wajahnya, berusaha melepasnya. Namun hal itu tidak berarti apa-apa. Jongin justru semakin mendekatkan wajahnya. Tangannya mulai turun mengelus pipi lembut Ji Eun, hingga turun ke dagunya. Ji Eun bisa merasakan napas hangat Jongin yang membelai kulit wajahnya, meneruskan sengatan listrik yang seolah menjalar ke seluruh tubuhnya. Entah gelora apa yang ia rasakan, Ji Eun pun memejamkan matanya. Jongin terus mendekat, sampai akhirnya tidak ada jarak yang memisahkan bibir mereka.

***

Malam ini gerimis turun. Gelapnya malam menyelimuti perasaan Ji Eun yang sejak tadi terus gelisah. Hawa dingin serasa menusuk sampai ke daging dan tulangnya.

Bayangan kejadian yang tadi siang ia alami masih terngiang-ngiang dengan jelas. Bagaimana sensasi yang ia rasakan saat bibir Jongin tepat menyentuh bibirnya dengan lembut. Bagaimana pula sedikit kekecewaan menyergap perasaannya ketika lelaki itu melepaskan tautan bibirnya. Ciuman singkat, yang sangat membekas di hati keduanya.

Tadi siang pun, Jongin lah yang mengantar Ji Eun pulang ke rumah. Walaupun sejak kejadian itu mereka berdua menjadi agak canggung, namun Jongin tetap berusaha menjaga hubungan baik yang mulai terjalin diantara keduanya.

Ji Eun tersenyum memikirkan semua kejadian hari itu. Ia mulai menyadari sesuatu, sesuatu yang baru kali ini menyapa perasaannya. Bukan perasaan semu seperti yang ia rasakan pada Seungri. Ji Eun menggeleng pelan seraya menghembuskan napas berat saat pikirannya mulai mengingat nama lelaki itu. Ia pun akhirnya tersadar keadaan sudah semakin larut, dengan derunya angin yang kencang ditambah hujan deras yang turun di luar sana.

”Perasaanku tidak tenang.” Ji Eun menggumam pelan seraya menyeruput sedikit demi sedikit cappucino yang ia buat.

Andai saja kedua orangtuaku masih hidup, aku tidak perlu tinggal di rumah besar ini sendirian..

Lagi-lagi, Ji Eun kembali teringat dan hanya bisa menyesali kepergian orang tuanya. Dipandanginya foto keluarga yang terpasang di ruang tengah itu.

Ji Eun segera menghapus air matanya yang mulai menetes untuk kesekian kalinya setiap mengingat kematian orangtuanya. Ia benar-benar kesepian. Tidak ada tempat baginya untuk berbagi keluh kesahnya setiap saat.

Ji Eun akhirnya memilih untuk segera tidur. Setelah mengecek semua pintu dan jendela sudah terkunci, ia pun segera menaiki ranjangnya. Karena dinginnya malam, gadis itupun  langsung terjaga. Namun baru beberapa menit ia terlelap, tiba-tiba saja tirai kamarnya melambai-lambai disertai dinginnya angin yang masuk ke kamarnya karena jendela kamar Ji Eun yang tiba-tiba menjeblak terbuka.

Apa malam ini akan ada badai? Kenapa anginnya kencang sekali? Kukira aku sudah mengunci jendela..

“Rupanya kau belum tidur.”

Seru sebuah suara yang terdengar jelas di telinganya secara tiba-tiba.

 

 

 

*) to be continued

 

22 pemikiran pada “Eye to Eye

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s