Den (Chapter 8)

Den [ Chapter 8]

Title                 : Den

Author             : isanyeo

Main Cast        : Kim Hyosung [OC] ; Kim Jongin/ Kai  [EXO];

Support Cast    : Kim Jongdae/Chen [EXO]; Kim Joonmyun/Suho [ EXO ]; find them.

Genre              : Drama, Romance, Family.

Length             : Chaptered

Rating              : PG15

Fanfict             :

Ehm. Annyeong. Akhirnya saya kirim juga ini part 8 ^.^ Mian yaa readers harus nunggu lama T_T udah hampir setahun T_T

DEN

Chapter 8

“Khamsahamnida, Jongin-ssi. Sudah mau menemaniku untuk memilihkan baju untuk acara nanti.” Seorang wanita menatap Jongin berbinar.

“Ne. Lagi pula aku juga ingin membeli baju untuk seseorang.” Jongin melirik tas belanja yang ada di tangannya.

“Seseorang? Apakah itu kekasihmu?” goda wanita itu.

“Bisa dibilang seperti itu.”Kali ini Jongin nampak sedikit malu.

“Kau tipe orang yang sangat romantis, Jongin-ssi. Baiklah, terimakasih telah mau menemaniku, sebaiknya aku pergi dulu, ne?”

“Ne. Sampai jumpa, Noona.” Jongin melambaikan tangannya ke arah wanita yang sekarang berjalan menuju ke mobilnya itu.

Wanita itu membalas lambaian tangan Jongin dan bergegas pergi. Sedangkan Jongin juga masuk ke dalam mobilnya dengan senyum yang tak lepas sedari dia memilih gaun untuk Hyosung sebagai hadiah ulang tahunnya yang tak lama lagi.“Semoga Hyosung menyukainya,” lirihnya.

Hyosung berjalan lesu dengan belanjaan yang masih dibawa di kedua tangannya. Matanya tak fokus melihat jalan. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Ingin rasanya dia segera ambruk di jalan dan menangis sekencang-kencangnya. Namun dia tahu dia tak mungkin melakukannya. Dia tidak ingin menjadi tontonan orang-orang di sekitarnya.

Langkah Hyosung terhenti di sebuah gedung apartemen bertingkat. Raut wajah Hyosung menampakkan bahwa dia ragu untuk segera masuk ke dalam apartemen bertingkat itu.Hyosung tak menyadari lelaki itu masih di sana. Menatapnya dengan kilatan amarah yang ada di dirinya. Langkahnya sedari tadi mengikuti kemana Hyosung berada. Lelaki itu, Suho. Dia tetap berdiri beberapa meter dari Hyosung, berusaha untuk tidak terihat olehnya. Suho melihatnya masuk dengan langkah perlahan, hingga sosok Hyosung tak terlihat lagi oleh kedua matanya. Hingga beberapa lama kemudian, dia baru meninggalkan tempatnya berdiri dengan tatapan amarahnya. Dia mengepalkan tangannya terlalu kuat hingga tangannya bergetar.

                Suho memandang foto berpigura yang terpajang di dinding dengan nanar. Foto mendiang ayahnya.Desahan nafasnya terdengar begitu jelas. Rambutnya yang selalu rapi itu entah kenapa terlihat berantakan berdiri mengantri berwarna kemerahan.Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana, entahlah lelaki suka melakukan hal ini.

“Mianhamnida, Aboji,” lirihnya.

Senyuman miris terlihat di wajah Suho. Seperti dia telah melakukan sebuah kesalahan besar dan dia menyalahkan hal itu.

“Aku menemukannya. Aku sudah menemukan gadis itu. Seharusnya aku sudah membawanya pergi sedari tadi, tapi kenapa aku tidak melakukannya?” suara Suho meninggi.

“Aku sudah berjanji padamu untuk membuat keluarga Kim hancur, Aboji. Aku sudah melakukannya dengan mengambil alih perusahaan mereka seiring dengan menghilangnya Kim Jongin, aku juga sudah membuat Kim Jongin tak memiliki kekayaan seperti dulu dan aku mengetahuinya dari tempat tinggal yang mereka pilih sekarang, dan aku juga akan memisahkan kakak beradik itu, tapi ketika aku sudah tepat berada di depan gadis itu kenapa aku tidak bisa melakukan apa yang sudah aku rencanakan?”

Suho berteriak. Matanya memerah dan tangannya terkepal kuat. Menyalahi dirinya sendiri atas apa yang dilakukannya tadi siang ketika bertemu dengan Hyosung. Suho memilih untuk mengikutinya daripada membawa gadis itu pergi dan tak pernah kembali ke kakaknya. Dia menyalahkan dirinya sendiri, kenapa dia terpana oleh gadis itu, kenapa dia hanya berdiri kaku dan -menampakkan senyumnya, kenapa dia mengenalkan dirinya seolah-olah dia tertarik untuk mengenal gadis itu, kenapa dia mengikutinya sampai kemana dia tinggal dan berniat kesana untuk menemuinya, bukan untuk membawanya pergi jauh dari kakakknya seperti yang dia renanakan dulu-dulu.

“Apakah aku, apakah aku merasakan apa yang diucapkan Eomma, Aboji?” lirihnya.

“Apakah aku, mulai menyukai seseorang, apakah aku begitu?”

                Hyosung sudah melakukan hal yang benar, pikirnya. Berpura-pura tidak melihat hal tadi dan bersikap seperti biasanya. Meskipun dia tidak bisa menutupi sepenuhnya, setidaknya dia akan menunggu sampai Jongin mengatakan sendiri pada dirinya, entahlah apa itu, yang penting baginya untuk saat ini adalah bersikap biasa.

“Hyo-ah, kau kenapa?” Sudah dia tebak. Dia tidak akan bisa menutupi dengan baik. Perubahan sikapnya itu jelas ketara untuk Jongin.

“Memangnya kenapa, Oppa?” Hyosung berusaha untuk terlihat bingung.

“Kau kenapa, Hyo-ah? Apakah kau sakit? Kau tampak berbeda.” Jongin mendekat ke arah Hyosung yang mengatur isi lemari pendingin.

“Ah, bernarkah? Mungkin iya. Dari tadi pagi aku merasa pusing dan sepertinya aku memang sakit.” Hyosung menutup pintu lemari pendingin dan berlalu.

Jongin menghela nafas panjang. Bukan itu. Sedari tadi pagi memang sepertinya Hyosung sakit. Namun bukan itu sepertinya, dia mengenal Hyosung dengan sangat baik, sedari tadi pagi Hyosung terlihat aneh, apalagi setelah dia kembali.

“Hyo-ah?” panggil Jongin.

“Ne, oppa?” sahut Hyosung.

Hyosung menoleh ke arah Jongin. Bisa dilihatnya Jongin nampak cemas. Hyosung tak tahu apakah lelaki itu cemas karena mengkhawatirkannya atau cemas karena takut Hyosung mengetahui apa yang dilakukan Jongin.

“Aniyo. Kau istirahatlah, sepertinya kau kelelahan.” Jongin tersenyum lembut kepada Hyosung.

Hyosung hanya diam dan tak membalas senyuman itu. Hyosung berjalan perlahan ke arah kamar dan menutup pintu kamar. Menguncinya. Setidaknya dia bisa tidur sendiri malam ini tanpa Jongin.

                Jongin mendengar suara pintu terkunci. Ingin ia masuk ke dalam kamar dan menanyakan apa yang terjadi pada Hyosung. Tapi entah kenapa dia hanya diam menatap pintu kamar seperti orang yang tengah bingung dengan apa yang harus dikerjakannya.

Jongin tak tahu ada apa dengan mereka berdua sekarang. Jongin takut sesuatu telah terjadi padanya. Sekelibat pikiran tentang Suho muncul di otaknya. Jongin semakin takut. Padahal mereka sudah lari sejauh ini tapi bayangan Suho masih saja menghantui Jongin.

                Jam beker berdering dan Hyosung mematikannya begitu saja, kemudian kembali dalam tidur tak nyenyaknya. Gadis itu semalam hanya terpejam beberapa saat. Entahlah, gadis itu merasa gelisah dan takut, jantungnya terus berdegup kencang, berkali-kali nafasnya berhembus berat. Hyosung sama sekali tak berminat untuk beranjak dari tidurnya, menyiapkan sarapan pagi seperti biasanya, menyiapkan air untuk mandi, dan membangunkan orang yang sangat dicintainya. Oh, itu sebelum kejadian yang kemarin dilihatnya. Cukup dia melihat Jongin bersama wanita lain yang bergelayut manja di lengannya.

“Aku haus,” lirih Hyosung. Matanya menatap ke arah laci, gelas kosong yang didapatinya.

“Haish!” keluhnya.

Hyosung melirik jam dinding. Sudah siang rupanya, mungkin Jongin sudah berangkat bekerja tanpa membangunkannya. Mungkin saja.

Hyosung bangkit dari kasurnya. Kalau tidak karena haus dan lapar mungkin dia akan memlih untuk di ranjang seharian tanpa melakukan apapun. Mungkin menenangkan diri sejenak dan mengistirahatkan hatinya yang sudah terlalu sakit. Hyosung membuka pintu perlahan, dan seketika pula sesuatu menimpa kaki Hyosung.

“O-oppa?” Hyosung menemukan Jongin terjatuh di kakinya.

Ia menebak bahwa Jongin semalam tidur di depan pintu dan bersandar di sana. Bukankah tersedia sofa di ruang tengah? Bukankah ada kamar lain? Danhari sudah siang tapi kenapa ia masih disini?

Mata Jongin sipit dan wajahnya terlihat kusut. Jongin mengusap wajahnya serta berusaha menghilangkan rasa kantuknya. Dia melihat Hyosung tengah berdiri di sampingnya dengan wajah heran.

“Hyo-ah, kenapa kau kunci pintunya?” tanya Jongin.

“Tidak apa-apa. Kenapa kau tidur di sini?” tanya Hyosung datar.

Jongin menaikkan sebelah alisnya. Ini bukanlah kata-kata yang Hyosung biasa lontarkan. Setiap pagi Hyosung akan memberikan kata-kata manis untuknya. Bukan kalimat dingin seperti itu. Setiap pagi dia akan mendapatkan tatapan hangat dari hyosung, bukan tatapan datar seperti yang didapatnya sekarang.

“Hyo-ah? Wae geurae?” tanya Jongin lembut sembari berdiri.

“Ani. Gwenchanhayo. Wae?” balas Hyosung.

“Hyo-ah. Ada apa denganmu? Dari kemarin kau tak seperti biasanya? Ada apa Hyo-ah?” Jongin menatap Hyosung lembut.

Hyosung mengalihkan pandangannya. Mencoba membuat dirinya bertahan dengan sikapnya seperti ini. Bersikap dingin dan membuat Jongin menyadari sendiri apa yang terjadi dengannya.

“Tidak apa-apa. Ini sudah siang sebaiknya Oppa cepat pergi bekerja. Aku lelah, kurasa aku akan tidur seharian hari ini,” ucap Hyosung.

Tanpa mendengar balasan Jongin, Hyosung langsung menutup pintu kamar dan menguncinya. Kemudian membantingkan dirinya ke kasur dan menarik selimut. Hyosung menghela nafas panjang, berusaha tidak mendengar ketukan pintu dan seruan namanya itu.

“Kenapa degup jantungku tak kunjung normal?” desah Hyosung.

                “Ya! Songsaenim!”

Suara itu cukup membuyarkan lamunan Jongin. Salah satu murid kursusnya meneriakinya dengan wajah yang kusut.

“Ne? Waeyo?” sahut Jongin.

“Kita sudah disini 15 menit dan kau hanya diam saja seperti patung, Saem? Apakah kau tak berniat mengajar kami?” celoteh muridnya.

“Ah, mianhaeyo. Baiklah kita mulai kursus hari ini.”

Jongin tersenyum kepada murid-muridnya itu, dan mencoba mengajar dengan baik kali itu. Berusaha melupakan masalahnya dengan Hyosung sejenak saja. Mungkin.

                Telepon selulernya berkali-kali berbunyi tanda panggilan masuk. Hyosung tak berniat sama sekali untuk menjawab panggilan masuk itu. Melihat siapa yang menghubunginya juga malas.  Mungkin bos di butik dia bekerja? Bos yang mungkin sudah menyiapkan semburan kata-kata pedas untuknya karena bolos tanpa keterangan hari ini. Atau mungkin Jongin?

Suara bel apartemen membuat lamunannya terbuyar. Hyosung berdecak. Siapa yang tega menganggu hari stress Hyosung, pikirnya. Hyosung melirik jam dinding, saat ini mungkin terlalu pagi untuk kepulangan Jongin.Mungkin orang lain, atau bahkan bosnya?

Hyosung membuka pintu dan melihat siapa yang datang. Wajahnya yang kusut seolah berusaha ramah pada seseorang yang ada di depannya. Lalu berusaha tersenyum untuk orang itu.

“Kau? Bukankah kau yang kemarin?” tanya Hyosung berusaha mengingat-ingat.

“Ya, Hyosung-ssi. Ini aku, Suho.” Suho, lelaki itu datang menemui Hyosung.

“Ah, silahkan masuk dulu.” Hyosung mempersilahkan. Dia melirik 2 kantung plastik di kedua tangan Suho. Padahal dia hanya sekedar tak sengaja bertemu kemarin, tapi kenapa dia berani mempersilahkan masuk lelaki itu, mungkin dia hanya merasa bahwa lelaki itu adalah orang baik.

Suho, lelaki itu datang menemui Hyosung. Senyum licik terlukis jelas di wajahnya. Dalam benaknya, bagaimana bisa dia segampang ini masuk ke rumah mangsanya, apakah Hyosung memang terlampau polos dan ramah, ataukah memang Hyosung tak tahu siapa dirinya?

Hyosung datang sembari membawa nampan. Dia menampakkan senyum manisnya. Dan tanpa Hyosung sadari itu membuat Suho terdiam sejenak, kemudian berusaha mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Suho-ssi, apa yang membuatmu datang ke mari? Bagaimana kau tahu aku tinggal disini? Bukankah kemarin kita hanya sekedar berkenalan setelah kita saling meminta maaf?” tanya Hyosung.

“Ah, itu? Ini, kemarin ketika barangmu jatuh, kau lupa membawa ini, selain itu aku juga tidak enak hati karena kemarin telur-telur itu pecah, jadi aku menggantinya.” Suho menyodorkan satu kantong plastik kepada Hyosung. Suho tersenyum bak malaikat suci.

“Ah? Kau tak perlu melakukan ini, Suho-ssi.” Hyosung mendorong pelan kantung plastik itu pada Suho.

“Kurasa aku perlu. Karena kulihat wajahmu langsung kusut karena kemarin telur-telur itu pecah, dan aku berpikiran bahwa mungkin barang-barang kemarin itu sangat kau perlukan, jadi kurasa aku melakukan hal yang benar. Maafkan aku untuk yang kemarin.” Suho meraih tangan Hyosung untuk menerima pemberiannya. Tentu saja bohong besarnya itu membuat Hyosung sedikit tersipu.

“Sebenarnya yang kemarin itu tidak apa-apa. Kau tak perlu meminta maaf, Suho-ssi. Justru aku yang meminta maaf karena membuatmu merasa bersalah. Oh iya, kau tahu aku tinggal di sini, darimana?” tanya Hyosung.

“Oh itu, aku kemarin membututimu, maafkan aku, karena kupikir kalau mengembalikan barangmu itu kemarin, kau akan semakin kesal, jadi aku membututimu, kulihat juga kau kurang enak badan, wajahmu pucat. Dan aku tahu kalau kau di apartemen nomer ini dari tanya-tanya tetangga apartemenmu.” Suho, lelaki itu cerdik. Dia sudah menyiapkan kebohongannya dengan baik.

“Ah, maaf aku merepotkanmu.” Hyosung menunduk sekali sebagai permintaan maaf.

“Tak perlu. Untuk itu aku juga memberimu buah-buahan , ini.” Suho menyodorkan kantung plastik satunya. “Kau harus memakannya, agar kau sehat.”

Aigoo. Suho-ssi, kita baru kenal kau sudah sebaik ini padaku, dan maafkan aku telah merepotkanmu.”

Suho membalasnya dengan senyun. Matanya menjelajahi ruangan apartemen Hyosung. Dilihatnya foto Hyosung dan Jongin terpajang di dinding ujung.

“Hyosung-ssi. Boleh aku tanya sesuatu?” tanya Suho, tanpa melepas pandangannya dari foto itu di dinding.

“Boleh, apa itu?” sahut Hyosung.

“Kau tinggal disini bersama siapa? Lelaki itu siapa?” tanya Suho sembari menunjuk foto ke arah Jongin. Tatapannya penuh amarah, sangat berbeda ketika dia melihat Kim Hyosung, adik Jongin.

“Ah, aku tinggal bersama lelaki itu.” Hyosung mulai gusar, takut jika Suho akan bertanya siapa lelaki itu.

“Lelaki itu? Siapa?” tanya Suho.

Hyosung terdiam. Dia tak mau menjawab siapa itu Jongin. Kenyataan bahwa Jongin adalah kakak sekaligus kekasihnya, membuatnya bingung harus menjawab apa.

“Kekasihmu?” tanya Suho.

Hyosung hanya menganguk ragu. Berusaha terlihat tenang di depan Suho. Entahlah, Hyosung ragu ketika mengakui Jongin sebagai kekasihnya. Dia masih tidak mengerti kenapa harus menyembunyikan bahwa dia adalah adik sosok Kim Jongin. Sedangkan Suho melihat itu hanya tersenyum kecil.

“Hyosung-ah, kurasa aku harus pergi. Ada pekerjaan yang sedang menungguku.”Suho bangkit dari duduknya.

Hyosung ikut berdiri dan mengantar kepulangan Suho. Teman yang baru saja dikenalnya itu sangat ramah menurutnya. Tampan dan baik.

“Hyosung-ssi. Awalnya, kukira lelaki itu adalah kakak atau mungkin adikmu, karena kulihat kalian sangat mirip.” Suho memasang wajah terheran-heran pada Hyosung.

Ya. Kami memang kakak beradik. Kandung!”ucap Hyosung dalam hati. Di dalam hati Hyosung menjerit.

“Baiklah sampai bertemu lagi, kuharap masih ada kesempatan untuk bertemu denganmu.” Suho menundukkan kepalanya. Entah kenapa, kali ini dia benar-benar mengucapkannya dengan tulus.“Di waktu yang baik,” tambahnya.

Suho berjalan cepat menjauhi pintu apartemen Hyosung. Hyosung menatap punggung lelaki itu hingga dia tak terlihat lagi. Ada buncahan perasaan senang di dalam hatinya. Entahlah, mungkin hanya sekedar pelipur lara karena kejadian Jongin kemarin. Sedangkan Suho berjalan merutuki dirinya. Yang pergi dengan cara yang bodoh.

“Apakah dia sudah tertarik padaku? Bodoh! Kenapa aku semakin tertarik padanya!” Suho mengepalkan tangannya.

Dia hendak pergi dari tempat itu. Namun matanya menangkap sosok yang dia benci. Kim Jongin, lelaki itu mengemudikan mobilnya menuju basementapartemen. Suho teringat akan sesuatu. Bodoh! Bagaimana jika Hyosung berkata bahwa ia datang menemuinya. Lalu Jongin akan kabur lagi darinya dan kesempatan untuk mengambil Kim Hyosung akan hilang.

“Bodoh! Kau bodoh!” Suho memukul kemudinya dan mengerang.

                Jongin membuka pintu apartemen. Tidak dikunci. Jongin mencium aroma kopi, mengernyitkan dahinya kemudian menatap cangkir kopi yang tak habis di atas meja.

“Hyosung-ah?”

Hyosung muncul. Wajahnya kembali datar di depan Kim Jongin. Berusaha menampakkan kalau dia benar-benar malas untuk menghadapi orang itu, namun dia juga tak menyangkal kalau dia merindukannya juga.

“Siapa yang datang?” tanya Jongin.

“Seorang teman.” Hyosung menjawabnya singkat.

“Teman? Siapa?”

“Apa urusanmu?” Hyosung hendak masuk ke kamar namun tangannya ditarik oleh Jongin.

Mereka dekat. Sangat dekat. Hyosung bisa merasakan gemuruh di dada Jongin. Serta nafas Jongin yang terdengar jelas.

“Aku punya hak atas dirimu. Katakan siapa yang datang?” Jongin merengkuh Hyosung.

“Seorang lelaki. Teman baruku.” Hyosung menjawab sembari melepaskan pelukan Jongin

Hyosung masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya dari dalam. Kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Berusaha melepas penatnya karena Jongin. Entahlah, untuk pertama kalinya dia tak suka pelukan Jongin.

Jongin berdiri mematung. Lelaki? Siapa? Perasaannya mulai gusar. Takut akan sesuatu. Entah apa itu

“Lelaki? Siapa itu?” Jongin bergumam.

 

Ada typo(s)? Mian yaaa T_T Pendek ya iniii?

Iklan

49 pemikiran pada “Den (Chapter 8)

Tinggalkan Balasan ke Fanfictions | Saudade Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s