Two Moons’s (Chapter 1)

Two Moons’s

Author             : @ttokii_pino

Twitter             : @minoo_irra

Tittle                : Two Moon’s

Main Cast        : Alicia Park (OC) | Park Hyerin (OC) | EXO Member | Hello Venus Member (Yoo Ara, Alice & Yoonjo) | Park Jungsoo | Shim Changmin | Victoria Song | And Other Cast

Genre              : Adventure, Fantasy, Romantic, Family and Friendship

Rathing           : 17+

Length             : 1/?

Song                : Infinite – BTD | Shin Min Ah – Black Moon | Infinite – Destiny | EXO – Wolf

Disclaimer         : This fanfiction is original my imagination. If you don’t like my fanfiction. Please don’t bashing and plagiarism.

Note                  : Ini sebuah fanfiction yang teradaptasi dari TWILIGHT. Siapa sih yang gak tahu Twilight? Nah dari twilight lah saya adaptasi itu cerita menjadi sebuah fanfiction. TAPI.. Gak semua jalan cerita-nya itu sama kok J Hanya part awal yang sama dan beberapa part berikutnya seterusnya ORIGINAL IMAGINATION!

Inpired by         : Twilight Saga

two moons 1

©©©

 

“Cold One”  -Full Alicia POV-

 

 

Aku tidak pernah berpikir bagaimana aku akan mati nanti.  Tapi mati di tempat orang yang aku cintai. Merupakan cara terbaik untuk pergi. Jadi, aku tidak menyesali keputusanku untuk pergi dari rumah. Aku akan merindukan Phoenix. Aku akan merindukan kehangatan. Aku akan merindukan kasih sayang, kebimbangan, dan ibuku yang baik. Aku seorang gadis kelahiran Korea Selatan, tapi semenjak umur 7tahun Ibuku membawaku pergi ke kota yang bernama Phoenix.

 

 

I love u mom..” Kupeluk erat tubuh ibu-ku –Lee Sora-. Sosok Ibu yang telah merawatku dari dalam perut hingga sebesar ini.

 

 

Hay guys come on.. We’ve to go to airport.

 

 

-Lee Dong Wook- ayah tiri-ku yang baru saja beberapa bulan ini menikahi ibu-ku. Sosok pria yang berhati lembut dan menggemari tentang olahraga. Tapi mereka ingin aku pergi, jadi aku akan habiskan waktu luang dengan ayahku. Ayah kandung-ku sendiri. Dan ini akan menjadi hal yang lebih baik. Aku rasa. Di Negara bagian Korea Selatan. Ada sebuah kota kecil bernama Mokpo. Populasi 6.000 orang. Ini tempat dimana aku pindah. Ayahku Park Jung Soo. Dia seorang kepala polisi.

 

 

“Rambutmu terlihat panjang” Kutolehkan kepalaku menghadapnya.

 

 

Oh— aku memotongnya saat terakhir bertemu denganmu Dad..”

 

 

Oh—” Serunya beroh ria. Mungkin sedikit terasa canggung antara aku dan dirinya. 10 Tahun kita telah berpisah dan sekarang dipertemukan lagi. Ketidakbersamaan-lah yang membuat kecanggungan diantara aku dan dirinya.

 

 

Terakhir aku datang ketempat ini ketika umurku 7 Tahun. Tapi itu sudah bertahun – tahun. Dan benar saja, tempat tinggal-nya tak ada perubahan sama sekali. Masih terlihat seperti dulu. Berbentuk klasik dan bergaya eropa.

 

 

“Kamarmu telah aku bersihkan begitu juga dengan kamar mandinya.”

 

 

Oh— ye? Great.” Ucapku seadanya. Ayah tipikal orang yang tidak mau berbasa – basi. Dan satu hal yang selalu aku ingat tentang ayah. Dia tidak suka menunggu.

 

 

Okay.. Beristirahatlah. Soal sekolahmu ayah telah urusi semua.” Katanya sebelum berlalu pergi dari kamarku.

 

 

Dad..” Ayah berhenti melangkah ketika kupanggil. Tak ada perubahan dari sosok Ayahk -Park Jung Soo-. Dia masih saja terlihat tampan. Bisa saja orang beranggapan Ayah sosok pria yang tak beristri dan tak beranak. Karena wajah ayah masih terlihat begitu muda. Bahkan ketika tersenyum. Dua lesung dipipinya itu. Sebagai ciri khas senyuman manis milik ayah.

 

 

Thanks Dad..”

 

 

Anytime.”

 

 

Hilanglah senyuman manis itu dari gemerlap kamarku. Kini tinggalah aku seorang. Didalam kamar berbentuk segiempat. Bernuansa biru langit yang mempunyai interior klasik kuno. Semuanya serba biru langit karena kebetulan aku menyukai warna itu. Ayah masih jelas mengingat tentang kesukaanku. Sedangkan aku? Apakah masih mengingat semua kepribadian ayah-ku sendiri.

 

 

Suara sebuah mobil diluar terdengarkan dengan jelas di dalam pendengaranku. Aku pun berjalan kearah jendela kamar. Dari atas aku bisa melihat ayah sedang berpelukan dengan seorang gadis cantik. Mungkin gadis itu seumuran denganku. Dari raut wajah ayah aku bisa menyimpulkan kebahagiaan. Ayah merasa senang bertemu dengan gadis cantik yang tak kuketahui namanya.

 

 

Tak beberapa saat aku terbuat bingung ketika gadis itu marah tak jelas dengan ayah. Aku semakin penasaran ada hubungan apa ayah dengan gadis itu. Terlihat dari ayah yang mengejar kepergian gadis tersebut. Ayah berusaha untuk mengatakan sesuatu padanya. Namun dia –si gadis- tak mau mendengarkan perkataannya. Dia lebih memilih untuk pergi bersama dengan teman lelakinya.

 

 

Melihat ekpresi ayah yang berubah seperti itu membuatku ikut bersedih juga. Siapa gadis itu? Kenapa ayah harus bersedih karenanya? Beberapa pertanyaan bermunculan di dalam benakku. Ingin aku turun dan bertanya langsung dengan ayah. Namun niat itu aku urungkan. Aku baru tiba disini dan tidak mau ikut campur dalam kehidupan ayah.

 

 

 

~XXX~

 

 

 

Hari pertama di sekolahku. Di bulan Maret, pertengahan semester. Bagus sekali. Kyunghee High School. Ayah bilang sekolahan ini adalah sekolahan terbaik disini. Memiliki kualitas yang bisa dijamin. Mungkin yang dikatakan oleh ayah ada benarnya. Memulai beradaptasi dengan lingkungan baru. Setidaknya aku bisa mengenal satu orang dari ratusan orang yang bersekolah di Kyunghee High School.

 

 

“Telephone ayah kalau jam kuliah selesai. Nanti teman ayah suruh menjemputmu.” Aku hanya tersenyum simpul seraya menganggukan kepalaku dengan pasti. Mengiyakan perkataan ayahku.

 

 

Kulangkahkan kakiku memasuki pintu utama dari gedung besar ini. Tak lupa sebuah kertas yang sedari tadi aku pegang kubaca. Selembar kertas dimana bisa menjaminku untuk memasuki kelas baruku.

 

 

Hi— Are you Alicia Park?” Seseorang memanggil namaku yang membuatku menoleh kebelakang. Seorang pria berada disampingku. Dengan sigap dia meraih tanganku. Mengajakku berjabat tangan.

 

 

My name is Chen. Aku mata dan telinga tempat ini. Jika kau membutuhkan tempat curhat, tangisan, kencan dan pemandu. Aku bisa membantumu.” Serunya.

 

 

Ah— Yeah,,”

 

 

So.. aku ingin menjadikan kamu sebagai bahan pemberitaan di majalahku. Kau berada dihalaman pertama dan..”

 

 

Wait!” Dengan cepat kupotong perkataannya.

 

 

“Thanks untuk tawaranmu. But I don’t like it. Sorry, u can chosen another girl. I’m so sorry chen..” Aku pun berlalu pergi meninggalkannya. Aku sama sekali tak menyukai tentang ide-nya. Aku bukanlah tipe orang seperti itu. Bukan maksudku menghindarinya untuk menjadi temannya. Tapi aku tidak suka menjadi bahan pembicaraan orang lain.

 

 

 

~XXX~

 

 

 

1 jam telah aku lewatkan dengan berkutik didepan sebuah buku sejarah. Dan ini saatnya aku untuk beristirahat. Kantin sekolahan terlihat ramai. Banyak yang mengantri makanan ataupun bercanda ria dengan temannya. Sedangkan aku? Masih terlihat berdiri sendiri tak punya teman.

 

 

Hi— Alicia Park need help?”

 

 

Eh?” lagi dan lagi seseorang mengejutkanku dari belakang. Xiumin Pria yang baru aku kenal selama didalam kelas sejarah. Dia pria yang asyik dan gokil.

 

 

“Ah— Arizona girl you needs friends right? Oh— Come on. You must happy with us..” belum sempat aku menyetujui perkataannya. Namun Xiumin terlebih dahulu menarik pergelangan tanganku. Dia mengajakku untuk berkumpul dengan temannya. Dua orang gadis dan 3 pria that’s good. Xiumin menarik salah satu kursi dan mempersilahkanku untuk duduk disampingnya.

 

 

Hi— Alicia. I’m Sulli. Nice too meet you..

 

 

Yeah— nice too meet you too Sulli.”

 

 

I’m Bomi Lee.”

 

 

Hi— Bomi”

 

 

Sulli, Bomi, Jimin, Chen dan Xiumin mereka adalah sosok teman yang baru aku kenal disekolahan ini. Mereka semua baik denganku. Aku bahkan mudah untuk beradaptasi dengannya. Tidak terlalu sulit untukku beradaptasi dengannya. Disela – sela makan bahkan kita melakukan lelucon aneh. Aku hanya menanggapi lelucon mereka dengan senyuman sekilas. Aku bukanlah tipikal orang yang suka dengan keramaian. Karena selama tinggal di Phoenix aku tak terbiasa dengan dunia luar.

 

 

Sesekali kuedarkan pandanganku kepenjuru kantin sekolahan. Memperhatikan setiap kedatangan orang didalam kantin. Memandangi mereka dari jauh. Menilai kepribadian mereka dari gerak – gerik yang mereka lakukan. Satu objek pemandangan membuatku tak bisa untuk mengalihkan pemandanganku. Bayangan tentang kemarin melintas sejenak dalam ingatanku. Gadis itu. Gadis berambut panjang dengan wajah kecil-nya dan kulit putih susu. Mata yang sangat indah. Bahkan senyuman manis yang dimilikinya membuat siapapun akan terpukau melihatnya.

 

 

“Park Hyerin itulah namanya. Salah satu mahasiswi Kyunghee High School yang terkenal dari kecantikan dan kemisteriusannya.”

 

 

Eh?” Kualihkan pandanganku pada teman – temanku. Perkataan yang terlontar dari mulut mereka membuatku bingung.

 

 

“5 Tahun yang lalu.. Gadis itu terkenal dengan sikapnya yang ulet, pandai bergaul, cantik, pintar dan baik hati. Tapi perubahan terjadi ketika gadis itu mengalami kecelakaan. Kecelakaan yang begitu tragis sungguh mengerikan. Seharusnya dia sudah meninggal dengan keadaan seperti itu. Dan dokter telah menyatakan dia meninggal. Tapi mustahil dia kembali hidup dengan perubahan yang drastic. Hanya pria itulah yang dekat dengannya. Layaknya seorang kekasih.”

 

 

Kualihkan pandanganku kearahnya lagi. Dia gadis yang bertengkar dengan ayahku kemarin. Aku semakin dibuat bingung. Ada hubungan apa dia sebenarnya dengan ayahku. Gadis itu –Park Hyerin- terlihat menatapku dengan tajam. Membuatku mengalihkan pandangan dengan cepat – cepat. Kini pandanganku teralihkan dengan sekumpulan orang yang baru saja memasuki kantin sekolah.

 

 

That’s Cullens Family.” Bisik Sulli tepat ditelingaku.

 

 

Cullens Family? What’s that?” Kukernyitkan alisku bingung. Cullen’s family? Semacam kelompok keluarga-kah? Atau marga keluarga?

 

 

“Mereka adalah anak asuh dari Dr. dan Ny. Cullen. Pindahan dari Kanada beberapa tahun yang lalu.” Seru Bomi layaknya seperti orang berbisik tetangga.

 

 

“Mereka semua seperti menutup diri. Ya, karena mereka semua bersama – sama.” Timpal Sulli menyambungi perkataan Bomi.

 

 

“Gadis berambut panjang itu adalah Yoonjo dan Pria yang berambut hitam gelap adalah Tao. Mereka seperti ada hubungan. Aku bahkan tak yakin apakah itu legal?”

 

 

“Sulli-aah. . Mereka tidak punya hubungan darah.” Sela Bomi

 

 

“Ya.. Arraseo! Tapi mereka jalan bersama. Itu aneh.” Balas Sulli yang membuat perdebatan kecil dengan Bomi. Aku hanya bisa memandangi ulah mereka berdua. Tapi sesekali kedua bola mataku berputar memperhatikan keakraban antara Yoonjo dan Tao. Benar yang dikatakan oleh Sulli. Mereka berdua layaknya memiliki suatu hubungan khusus.

 

 

“Okay Alicia.. Gadis kecil berambut pirang itu adalah Alice. Dia terlihat sangat aneh. Dan dia bersama dengan Chanyeol. Pria berambut hitam yang tampak sedang sakit.” Ujar Sulli kembali.

 

 

“Dr. Cullen itu seperti Ayah asuh yang suka menjodohkan setiap anak asuhnya.” Lanjut Sulli yang di timpal dengan perkataan Bomi.

 

 

“Yah— Mungkin sebentar lagi mereka akan mengadopsiku.” Kata Bomi dengan yakin. Kembali. Mungkin Sulli dan Bomi akan berdebat kecil lagi. Kuhela nafasku sejenak. Dan kembali kuedarkan pemandanganku.

 

 

Who’s he?” Seruku ketika tidak sengaja melihat seorang pria bertumbuh jangkung, berambut hitam, berkulit putih, mata indah dan tampan. Menarik.

 

 

“Dia adalah Kris Cullen. Dia sangat menawan, itu jelas. Tapi sepertinya tak ada satu seorangpun yang disini cukup baik untuknya. Memangnya aku peduli, kau tahu?”

 

 

“Karena kau hanya peduli dengan seorang Xiumin bukan?” Timpal Bomi yang membuat Sulli mendelik kearahnya.

 

 

“Alicia~aah. . Sebaiknya kau jangan habiskan waktumu.”

 

 

Eh? No. . I don’t planning on,” Seruku pada Sulli. Tapi entah kenapa kedua mataku tak pernah mau beralih untuk menatapnya sekilas. Kedua mata ini seakan terhipnotis untuk melihat pria itu. Mungkin dia sedang menatapku aneh karena aku menatapnya terus. Tapi entahlah.. I don’t know about this.

 

 

 

~XXX~

 

 

 

Annyeong— Sonsengnim. .”

 

 

Nado Annyeong Xiumin. . And Hi— Miss Alicia Park?” Seru Mr. Jonghyun selaku guru biologi pelajaranku kali ini. Jam istirahat telah berlalu. Dan sekarang saatnya aku untuk mengikuti pelajaran berikutnya. Biologi. Terlihat membosankan bukan? Ketika mendengar nama mata pelajaran ini. Tapi bagiku Biologi terlihat sangat menarik. Kelas Biologi menarik perhatianku. Hanya satu. Pria yang tengah duduk sendiri, di bangku depan pojok.

 

 

“Miss Alicia Park kau bisa duduk di sebalah sana.” Mr. Jonghyun menunjukkanku sebuah bangku kosong, tepat di samping pria itu. Aku pergi melangkahkan kaki menuju bangku kosong tersebut. Ada niatku untuk menyapanya terlebih dahulu. Namun niat itu aku urungkan ketika melihat gelagat aneh dari pria disampingku.

 

 

Kucoba mencium bau tubuhku. Tak ada bau aneh dalam tubuhku. Bahkan sebelum berangkat ke sekolah aku sudah menyemprotkan tubuhku parfum. Lantas pria ini? Ada apa dengannya?. Dia seakan ingin menghindariku yang berada disampingnya. Aku bagaikan bunga busuk yang bau-nya menyengat sehingga membuatnya untuk bertahan nafas selama beberapa jam.

 

 

Detik demi detik telah berlalu. Jam pelajaran semakin berputar. Aku dan dia. Aneh memang. Tak ada percakapan sama sekali. Bahkan sikapnya terlihat begitu aneh ketika melihatku. Aku sendiri bingung. Penasaran, takut, dan aneh itulah yang aku rasakan ketika berada disampingnya. Selama jam pelajaran dia terus menatapku. Seakan aku bagaikan mangsa empuk-nya yang ingin dia makan segera.

 

 

-Tet-

 

 

Jam tanda pulang sekolah telah berbunyi. Tanpa mengucapkan kata pamit atau apapun dia berlalu pergi keluar dari kelas. Aku hanya bisa terbengong melihat tingkahnya. Aneh memang. Mengerikah aku sehingga dia harus cepat – cepat pergi dari kelas.

 

 

Huh—” Kubereskan semua buku – bukuku seraya beranjak berdiri. Untuk melangkah pergi meninggalkan kelas.

 

 

 

~XXX~

 

 

 

Hi— Alicia Park” Sapa seorang pria berambut panjang dan kulit tubuh agak hitam. Tapi mempunyai wajah tampan dan senyuman manis.

 

 

I’m Kim Jong In dan kau biasa memanggilku Kai. Masih ingat denganku? Kita dulu waktu kecil sering bermain pistol air ditaman. Do You remember me?”

 

 

Kukernyitkan alisku sembari menatap dengan lekat pria yang bernama –Kim Jong In ataupun Kai-. Dia. . Teman masa kecilku di sini? Dulu?

 

 

Oh My God. . Kai!” Aku berteriak gembira ketika mengingat sosok Kai. Pria yang selalu jadi temanku semasa kecil ketika tinggal disini. Pria yang akan kuajak bermain pistol air ditaman. Masa kekanak – kanakan yang menarik.

 

 

How are you?”

 

 

I’m fine,” Balasku sembari tersenyum simpul.

 

 

“And then.. What are you doing here? Oh— are you school here, right?” Tanyaku. Kulihat Kai terkekeh pelan. Manis memang senyumannya. Pria yang baik. Jika kau bisa mengenalnya.

 

 

No. . I don’t school here. Aku kesini untuk menjemputmu pulang. Ayah-mu menelephoneku tadi dan memintaku untuk menjemputmu. Dia sibuk.”

 

 

Oh—” Aku hanya bisa ber-oh ria. Yah, setidaknya aku ada orang yang mau menjemputku untuk pulang kerumah.

 

 

“Baiklah. Kajja!” Aku pun mengikuti langkah pergi Kai. Meninggalkan konidor sekolahan dan berjalan menuju ke parkir kendaraan. Sebelum aku enyah dari sekolahan ini. Sekilas aku bisa menatap mata pria itu. Pria yang membuatku merasa aneh ketika bersampingan. –Kris Cullen- pria yang akan menatapku dengan tatapan seorang harimau ingin memburu mangsa-nya.

 

 

~XXX~

 

 

 

“Aku hanya tak percaya kau sudah sebesar ini.  Dan begitu menawan.” Puji seorang wanita cantik yang menyajikan makanan dimeja makanku bersama Ayah. Aku lupa siapa dia. Tapi sepertinya dia mengingat siapa aku. Yah, karena disampingku ada ayah-ku.

 

 

Hi— Alicia do you remember me?” Seorang pria datang diantara kami. Dia terlihat begitu akrab dengan wanita itu. –Tiffany Hwang- itulah namanya. Salah satu teman akrab ayah disini. Pria itu? Aku tak tahu siapa dia. Aku hanya bisa tersenyum simpul dan melirik kearah ayahku.

 

 

“Aku memainkan Santa setahun lalu,” Tuturnya seakan menyakinkanku untuk mengingat siapa dirinya.

 

 

Yah— Chansung, dia tidak melewatkan natal di sini semenjak usianya 7 tahun.” Seru ayahku.

 

 

“Aku yakin aku sudah memberinya kesan, bukan?” Sahut pria yang bernama –Chansung- tersebut.

 

 

“Kau selalu begitu!” Balas ayah-ku

“Santa yang konyol bukan?” Timpal Tiffany.

 

 

“Oke biarkan dia makan bersama ayah-nya. Saat kau sudah selesai, aku akan membawakanmu makanan kesukaanmu. Es buah Beri ingat? Ayahmu selalu mengingatnya. Setiap hari kamis dia memasan itu.” Ujar Tiffany seraya melirik kearah ayah-ku yang saat ini tengah sibuk memotong daging.

 

 

Thank you. .” Kataku seraya tersenyum. Kini tinggallah aku dan ayah di bangku yang berdekatan dengan jendela. Agak canggung memang. Tapi inilah yang aku suka. Makan bersama satu meja dengan ayah. Biasanya aku akan melakukan hal ini bersama Ibu dan Dong Wook. Tapi sekarang tidak. Karena aku telah bersama Ayah.

 

 

Sambil menikmati hidangan makananku. Kuedarkan pandanganku keluar jendela. Satu objek pemandangan menyita pandanganku. Gadis itu –Park Hyerin-. Dia terlihat berdiri sendiri tengah menatapku dengan tajam. Menakutkan dan aneh. Kenapa dia menatapku seperti itu? Apakah ada yang salah denganku?. Pandanganku pun beralih ke ayah lalu ke gadis itu –Park Hyerin-. Ada hubungan apa ayah dan dia? Pertanyaan itu bermunculan kembali didalam pikiranku.

 

 

“Makanlah sebelum makanan itu menjadi dingin.” Seru ayah-ku yang membuatku lepas dari pemikiranku tentang gadis itu dan ayah.

 

“Oh— Ye?,”

 

 

Aku pun kembali berkutik dengan makananku. Tapi pemikiranku tentang hal tadi masih membekas dalam ingatanku. –DEG- kutoleh kearah jendela kembali. Menatap dunia luar. Dia telah pergi menghilang. Secepat itukah dia pergi menghilang dari penglihatanku.?

 

 

~XXX~

 

 

 

Aku berencana berbicara dengannya. Dan mencari tahu apa masalahnya. Tapi dia tak pernah muncul.

 

 

“Alicia. ,” Sebuah pesawat kecil yang terbuat dari kertas mengenaiku. Kutolehkan kepalaku kebelakang. Kulihat Xiumin tersenyum kepadaku bersama dengan teman – temanku yang lainnya. Mereka semua seakan ingin mengajakku untuk bermain bersamanya. Tapi kali ini aku tak bisa. Aku hanya tersenyum simpul kearah mereka seraya menunjukkan buku yang kupegang. Menandakan bahwa aku tengah membaca dan tak mau bermain.

Dan hari berikutnya, tak muncul juga. Beberapa hari berlalu.  Semua menjadi sedikit aneh. Pria itu tak pernah muncul dihadapanku.

 

 

 

~XXX~

 

 

 

Hujan deras membasahi kota Mokpo. Ditempatku dulu Phoenix hujan sangat jarang untuk turun membasahi bumi. Tapi disini hujan akan bebas turun kapanpun selama musim itu adalah musim hujan.

 

 

Hi— Alicia. Apa kau senang dengan hujan? Whooaa. . Bukankah negaramu dulu hujan tidak pernah ada?” Seru Chen

 

 

“That’s girl not like rain chen. .” Sela Xiumin seraya membasahi Chen dengan cipratan air hujan dari jas hujannya.

 

 

Yakk! Kau. .” Chen berlari mengejar kepergian Xiumin. Selalu saja bertingkah seperti anak kecil. Kuedarkan pandanganku kepenjuru kelas. Satu pemandangan menyita pandanganku. Pria itu. Dia terlihat muncul dihadapanku. Dan kali ini, sifatnya terlihat berubah dari yang kemarin ketika pertama kali bertemu. Cepat – cepat aku duduk disampingnya. Meletakkan tasku diatas meja.

 

 

Hallo. . Maaf aku belum mengenalkan diriku minggu lalu, I’m Kris Cullen. You Alicia Park?”

 

 

Ah— Ya,” Jawabku sedikit grogi dihadapannya.

 

 

Sel ujung akar bawang. Itulah yang ada di slide kalian sekarang. Okey,  Maka pisahkan dan beri label ke fase mitosis dan rekanan pertama yang benar akan memenangkan Golden Onion.” Ujar Mr. Jonghyun mengawali pelajaran tentang biologi hari ini.

 

 

Bahkan disaat jam pelajaran sudah dimulai, aku masih tidak bisa menghilangkan rasa grogiku ini. Entahlah kenapa aku seperti ini. Apakah ini terjadi disaat Kris mau berbicara denganku?

 

 

Ladies First,” Ujarnya seraya menyodorkan alat microskop padaku. Aku pun menerimanya dan mulai mengamati penelitian hari ini.

 

 

“Kau menghilang?” Ucapku begitu saja sambil melakukan sebuah penelitian kecil.

 

 

“Ya~ Aku menghilang.  Aku pergi keluar kota selama beberapa hari ini. Urusan pribadi.” Jawabnya.

 

 

“Prophase,” Kataku seraya menyodorkan microskop padanya. Memberi kesempatan dia untuk melihat apa yang aku lihat.

 

 

“Itu Prophase,”

 

 

“Seperti yang aku katakan.” Seruku.

 

 

“Jadi, Kau menikmati cuaca hari ini?” Tanyanya yang membuatku menoleh kearahnya.

 

 

“No, I don’t like the rain. Any cold, wreathing I don’t like” jawabku. Aku lebih suka kehangatan dari pada hawa dingin seperti ini.

 

 

“Benarkah?”

 

 

Waktu berlalu begitu saja. Dan percakapan kita terjadi begitu panjang, walau perasaan canggung satu sama lain masih menyelimuti. Aku tak tahu. Tapi sepertinya percakapan ini terasa aneh. Pembicaraan biasa tapi bagiku ini pembicaraan yang sangat bagus.

 

 

 

 

 

 

AUTHOR P.O.V

 

 

 

Hujan turun semakin deras membasahi Kota Mokpo. Disebuah pabrik, terlihat seorang pria berlari tergesa – gesa. Dia berlari menghindari kejaran dari hal yang sangat menakutkan dan mengerikan. Di belakang pria itu, Nampak 3 makhluk berlari mengejarnya. Lariannya begitu cepat sangat cepat.

 

-brukk-

 

Pria itu terjatuh tersungkur. Membuat dirinya semakin terancam dengan kedatangan ketiga makhluk tersebut.

 

 

“A. . .”

 

 

-srekk-

 

 

Secara kasar ketiga makhluk itu mencabik tubuh pria tersebut. Menghisap darahnya sampai habis. Mengigit seluruh tubuhnya bagaikan makanan lezat yang baru mereka dapatkan.

 

Dari jauh, dibalik aksi mereka betiga. Satu makhluk juga tengah menyaksikannya dari jauh. Menerawang aksi mereka bertiga seraya tersenyum meremehkan. Menampakan gigi taringnya. Mata merah kental dan mengerikan.

 

 

Bloods” Gumamnya pelan.

 

 

TBC

9 pemikiran pada “Two Moons’s (Chapter 1)

  1. waw lanjut thor ceritanya bgs emang kris itu cocok bgt jd edward cullen sih pst klo dulu produser twillight lihat kris duluan dr robbert pattinson pst yg di ajak main twillight itu kris*bicara apaan sih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s