Guitar (Chapter 1)

Guitar

Author: Shin Hwa Chan

Genre: Romance, Humor, Friendship, Hurt

Length: Short Story

Rated: G

Main Cast:

Park Chanyeol (Chanyeol)
Go Min Ah (OC)
Wu Yi Fan (Kris)

Guitar

Disclaimer

Cerita ini MILIK saya, asli murni 100% berasal dari otak gue. Gue Cuma mau ngingetin jangan ada yang berani COPAS without credit lengkap dan izin dari gue, dan jangan membiasakan diri jadi SILENT READERS #SadisbangetluThor?

Warning!

Cerita gaje, typo beredaran di mana-mana, bahasa aneh, kalimat kurang jelas, dan karakter di sini sepertinya OOC semua. Kalau tak berniat membaca silahkan klik ‘x’ di pojok kanan atas, sedangkan yang mau membaca FF gaje gue, lebih-lebih mau memberi komentar gue sangat berterima kasih ^^

 

Summary:

Park Chanyeol, seorang namja hyperaktif berwajah tampan sangat menyukai gitar. Dia menyukai gitar karena saat ia masih kecil dia jatuh cinta pada seorang gadis kecil yang setiap hari bermain dengannya sambil membawa sebuah gitar, Minnie. Dan bertemu dengan seorang yeoja yang sangat menyebalkan dan selalu mengatainya ‘Tiang listrik’. Suatu hari dia melihat yeoja itu memainkan gitar di tempat pertama kali Chanyeol bertemu Minnie. Apakah dia Minnie? Dan apakah Chanyeol sanggup bersaingan dengan pangeran sekolah, Kris?

Chapter One

First Meeting

“Park Chanyeol!!! Kau belum makan siang nak!!” seorang bocah kecil dengan topi bertuliskan ‘Wolf’ malah berlari keluar halaman rumahnya, bocah itu bernama Park Chanyeol. Chanyeol adalah bocah yang sangat hyperaktif atau bisa dibilang hyperaktif akut. Dia berumur 8 tahun dan dia duduk di kelas 2-3 Cheongdam Elementary School. Chanyeol bersembunyi di balik pohon besar, Eomma Chanyeol terlihat panik “Chanyeol!! Park Chanyeol, odiseoyeo!!” Eomma Chanyeol segera berlari dan berusaha mencari Chanyeol.

“Kkkk~, ye Eomma ketipu!” Chanyeol dengan seringaiannya segera keluar dari tempat persembunyiannya, dia pergi menuju taman bermain yang tidak jauh dari rumahnya. Di sana, dia melihat banyak anak kecil yang bermain dengan gembira. Ada yang bermain sepak bola, istana pasir, petak umpet dan permainan yang menurut Chanyeol sangat asyik bila dimainkan bersama-sama.

“Eum.., boleh aku ikut bermain….?” Anak-anak yang sedang membuat istana pasir langsung menatap Chanyeol, seorang anak lelaki bertubuh gempal berdiri di hadapan Chanyeol dan menghancurkan istana pasir itu.

“Main saja sendiri!”

Setelah itu, gerombolan anak kecil yang bermain istana pasir langsung bubar. Chanyeol merasa sedih, dia kesepian. Selama ini Eommanya selalu mengurungnya di rumah dengan alasan ‘Kau itu butuh belajar, bukannya bermain! Eomma akan belikan apapun mainan yang kau minta agar kau tak kesepian. Pokoknya kau harus di rumah, tak boleh kemana-mana!’ Padahal yang Chanyeol inginkan hanya bermain selayaknya anak biasanya, bukan bermain dengan benda mati seperti mainan.

Rasanya Chanyeol ingin menangis, tapi dia ingat kata-kata Ayahnya ‘Seorang namja tak boleh menangis, itu sama saja dengan harga dirinya diinjak-injak.’ Chanyeol pergi dari sana dan duduk di bangku berwarna putih yang terletak tak jauh dari sana. Sampai sore, Chanyeol hanya bisa melihat anak yang bermain dengan senang, tanpa bisa merasakan kegembiraan itu.

‘Kruyukk~’

Perut Chanyeol mulai lapar, dia merutuki kenapa tadi dia tak makan sebelum pergi ke taman bermain. Dia memegangi perutnya, tangan kanannya merogoh kantung celananya, namun tak ada uang sama sekali di kantungnya.

There’s a song that inside of my soul

Tiba-tiba, Chanyeol mendengar suara seseorang tengah menyanyi. Mendengar dari suaranya Chanyeol tahu kalau yang menyanyi pasti seorang bocah perempuan -terdengar dari suaranya yang cempreng.

It’s the one that I’ve tried to write over and over again

Kaki Chanyeol mulai mengikuti arah suara itu, dengan pelan dia mulai melangkahkan kakinya ke semak-semak berimbun yang ada di pojok taman. Semakin lama, suara itu semakin dekat. Jantung Chanyeol berdetak dengan cepat, seakan ada bom yang siap meledakan jatung Chanyeol kapan saja.

I’m awake in the infinite cold, but you sing to me over

And over and over again

Chanyeol mulai takut, mungkin saja itu suara hantu bocah perempuan. Chanyeol memundurkan kakinya sejenak, namun keingintahuan Chanyeol lebih besar dari rasa takutnya dengan berani dia berjalan lagi.

‘Srek’

“Nuguya?!”

Betapa kagetnya Chanyeol melihat seorang bocah perempuan tengah duduk di sebuah kursi sambil memegang gitar berwarna putih. Bocah itu menatap Chanyeol tajam, matanya yang indah terus menatap Chanyeol tanpa kedip.

“Nuguya? Kenapa kau bisa ada di sini?”

“Aku mendengar seseorang menyanyi dan tanpa sadar aku mengikuti arah suara itu dan akhirnya aku ada di sini.”

“Padahal aku sudah bernyanyi dengan suara kecil!”

“Kau sudah bisa main gitar? Wah, hebat!!”

“Dari kecil aku sudah dilatih bermain gitar.”

“Oh..,”

‘Kruyukk..’

“Pfft~, kau lapar?”

Dengan wajah memerah Chanyeol mengangguk, sungguh ini memalukan! Apalagi di depan seorang yeoja!

“Kebetulan aku bawa kue, kau mau?”

Yeoja kecil itu memberikan sepotong roti pada Chanyeol, dengan malu-malu dia menerima kue itu.Wajah Chanyeol memerah, apalagi pipinya yang berubah warna semerah apel.

“Gomawo…, ngomong-ngomong namamu siapa?”

“Go  Min Ah, panggil saja Minnie!”

“Kalau aku Channie! Salam kenal!”

Bangapta Channie.”

Yeoja itu tersenyum manis dan itu membuat wajah Chanyeol tambah memerah. Chanyeol kau sungguh lucu! Bahkan sekarang telinganya ikut memerah.

“Minnie, kau sangat manis seperti permen!”

“Memang Minnie mirip seperti permen?!”

“Bukan, Minni yeoppo! Sangat cantik dan manis seperti seorang putri!”

#Kecil-keciludahgombal

#GangguajaluThor!

#DilemparReaders

“Minnie, lanjutkan permainan gitarmu! Aku ingin mendengarnya!”

“Mm~!”

Min Ah mengambil gitarnya dan mulai bernyanyi, tangannya memetik gitar dengan lembut, dia menutup matanya seraya menghayati lagu yang di populerkan oleh Mandy Moore, only hope.

So I lay my head back down

And I lift my hands and pray to be only yours

I pray to be only yours

I know now you’re my only hope

Suara Minnie benar-benar bagus, walau masih anak-anak dan sedikit cempreng tapi dia bisa menguasai lagu barat yang mungkin susah di pelajari untuk anak seumuran dia. Chanyeol menutup mata sembari menghayati lagu yang dinyanyikan Min Ah, muncul di benaknya dia ingin belajar gitar. Setelah Min Ah selesai bernyanyi, Chanyeol memberikan tepuk tangan dan matanya berbinar-binar.

“Wah~~! Sungguh indah! Aku suka suaramu dan petikan gitarmu! Selain wajahmu cantik kau juga pandai bermain gitar!”

Min Ah tersipu malu, dia menaruh gitarnya dan menghampiri Chanyeol.

“Channie kenapa tak bermain dengan anak-anak yang lain?”

“Kau sendiri kenapa tak bermain dengan mereka?”

Min Ah tersenyum sedih, dia duduk di samping Chanyeol.

“Ayahku melarangku pergi bermain bersama teman-teman karena jika aku bermain katanya akan ada hal buruk yang terjadi.”

“Hal buruk seperti apa?”

“Kata Ayah aku punya penyakit jantung.”

“Penyakit jantung?”

“Ya, katanya kalau aku berlari 2 menit saja jantungku bisa sakit dan bisa membuat aku meninggal.”

“…….”

“Makanya aku diajari gitar agar aku tak kesepian, Channie kau mau jadi temanku tidak? Aku ingin kau menjadi temanku, walau aku tak bisa bermain seperti anak-anak lainnya, maukah kau menemaniku setiap hari di sini?”

Chanyeol tersenyum hangat, dia mengacungkan jari kelingkingnya, Min Ah bingung melihatnya.

“Aku janji aku akan terus menemanimu! Aku juga tak punya teman, Ibuku selalu melarangku bermain di luar. Dan akhirnya aku kabur. Aku tak menyangka ada seseorang yang sama sepertiku! Mulai sekarang kita sahabat!”

Min Ah tersenyum senang, dia mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Chanyeol. Mereka tertawa bersama diiringi matahari tenggelam yang sangat sayang jika melewatkannya, dan persahabatan mereka di mulai dari sekarang.

“Min Ah!”

“A.Appa..,”

“Neo, nuguya?”

“N.naneun Park Chanyeol imnida..,”

“Dia teman Minnie Appa! Dia berjanji tak akan mengajak Minnie berlari-lari, dia mau menemani Minnie di sini. Bermain gitar!”

Appa Min Ah mengangkat keningnya, dia menatap bocah bertopi, berkaos biru dan bercelana pendek itu tajam.

“Benar kau tak akan mengajak Min Ah berlari-lari?”

“Umm~!  Aku berjanji, Ahjussi!”

“Apa kau bisa di percaya?”

“Sumpah ksatria!”

Appa Min Ah tersenyum kecil dalam benaknya ‘Mungkin ini saatnya Min Ah punya teman.’, dia menepuk pundak Chanyeol pelan.

“Ahjussi percaya padamu, jaga Min Ah dengan baik ya.”

“aiyay~, kapten!”

Appa Minnie mengacak rambut Chanyeol pelan.

“Ngomong-ngomong di mana rumahmu? Ayo Ahjussi antarkan pulang.”

“Eh, gomawo Ahjussi!”

Minnie tersenyum  melihat Appanya bisa menerima teman barunya dengan baik, Minnie mengatupkan kedua tangannya dan berdoa ‘Semoga Chanyeol bisa menjadi temanku selamanya!’ Dan…, sebuah bintang jatuh jatuh melewati kepala Minnie.

“Park Chanyeol!! Kau dari mana saja, eoh? Eomma sangat mengkhawatirkanmu! Dasar anak nakal!”

“Eomma, appo~!”

“Em.., permisi.”

“Eh?”

Eomma Chanyeol sangat kaget melihat seorang pria tengah berdiri di belakang Chanyeol. Pria berjas hitam, berdasi biru dan berwajah tampan berjalan mendekatinya.

“Anda Eommanya Chanyeol?”

“Nde, kau siapa?”

“Aku Ayah Min Ah.”

“Min Ah?”

Min Ah maju takut-takut, tangannya mengenggam erat dress nya yang berwarna peach dan dia terus menunduk, tak berani mengangkat kepalanya karena takut. Chanyeol pulang terlalu sore karena menemaninya bermain gitar, dia takut dimarahi.

“Eomma dia temanku!”

“Aku mau mengucapkan terima kasih, Min Ah sebenarnya punya penyakit. Penyakit yang serius dan itu membuatnya di kucilkan dan tak percaya diri, tapi setelah bertemu Chanyeol, aku melihat dia tertawa dan tersenyum riang tanpa beban sama sekali. Aku sungguh berterima kasih dengan anak anda.”

Rambut Appa Min Ah mengacak rambut Chanyeol gemas, dan sesekali mengusap rambutnya lembut. Chanyeol senang di perlakukan begitu, karena Appa dan Eommanya jarang sekali melakukan hal seperti itu. Chanyeol sangat haus kasih sayang.

“Ah tidak apa-apa.., tapi Chanyeol butuh sekolah bukannya bermain. Jadi sepertinya Chanyeol tak bisa bermain dengan Min Ah. Chanyeol, ayo masuk.”

Min Ah terlihat sedih dan Chanyeol terlihat kaget, tangan Eomma Chanyeol menarik pergelangan tangan mungil Chanyeol, dengan tenaga yang dia miliki, dia meronta.

“Aniya!”

“Masuk!”

“Aniya! Pokoknya Eomma harus mengijinkanku main dengan Min Ah!”

“Masuk!”

Tapi, apa daya tenaga seorang anak kecil melawan orang dewasa? Appa Min Ah mengelus kepala Min Ah lembut, Min Ah mengusap air matanya dan dia bertanya dengan suara parau.

“Appa.., Chanyeol kenapa….?”

“Eomma Chanyeol hanya bercanda, kau tak perlu khawatir Minnie..”

“T.tapi tadi terlihat meronta-ronta, aku kasihan dengannya Appa..”

“Sudahlah, ayo pulang. Park Ahjumma pasti sudah makan masakan kesukaan Minnie. Kajja.”

Min Ah menatap rumah Chanyeol sedih, mereka baru bertemu dan baru saja memulai persahabatan mereka, tapi kenapa jadi begini?.

Chanyeol melihat mobil mercedez bens milik Appa Min Ah beranjak pergi dari sana, dia memegangi jendela kamarnya seakan ingin memberitahu mereka kalau dia sangat tersiksa di sini, sangat. Setelah Chanyeol digiring masuk ke kamarnya, Eomma Chanyeol langsung memarahi Chanyeol habis-habisan.

“Eomma..hiks…jahat..,”

“Sudah Eomma  bilang kewajibanmu itu belajar! Bukan bermain!”

“Aku benci Eomma..hiks…aku hanya ingin bermain seperti anak-anak lainnya..hiks..,”

“Kau..!”

“Eomma tidak pernah tau rasanya..hiks…aku kesepian Eomma! Aku tak butuh mainan-mainan tak berguna itu! Aku butuh teman dan kasih sayang, itu sudah cukup Eomma!!”

Eomma Chanyeol terdiam, dia menatap Chanyeol yang tengah menangis tersedu-sedu. Lama-kelamaan pandangan matanya mulai melembut.

“Chanyeolli.., maafkan Eomma ne.., Eomma sudah membuatmu kesepian.., mianhae…,”

“Eomma..yang penting Eomma harus mengijinkanku bermain seperti anak-anak lainnya! Aku janji prestasi sekolahku tak akan turun! Dan aku punya permintaan kecil..,”

“Apa? Kau ingin apa, beritahu Eomma.”

“Aku ingin akhir pekan ini kita piknik bersama, seperti dulu! Dan aku ingin sekali belajar bermain gitar bersama Min Ah!”

“Okidoki, kapten!”

“Yey~!!!!!”

Dan pekikan riang seorang Park Chanyeol menggema di ruangan itu, sang Appa yang baru saja pulang langsung tersenyum melihat tawa sang anak yang sudah lama dirindukannya. Selama ini dia tak pernah tertawa seperti ini, tak pernah sekalipun.

“Ngomong-ngomong, Channie suka sama Minnie ya?”

“A.aniya!”

“Aigoo! Lihat wajah mu merah, lucu sekali! Kkkk~.”

“Eommanya jangan menggoda Channie!”

“Tapi Channie harus ngaku kalau Channie suka sama Min Ah.”

“Eum.., nde..nde..nde! Channie suka Min Ah!”

“Aigoo~! Kau polos sekali, baby Chan!”

“Eomma, appo!”

Eomma Chanyeol tak henti-henti mencubiti pipi Chanyeol yang chubby, dia sangat suka menggoda anak lelakinya itu. Ternyata sifat Chanyeol yang suka menggoda di wariskan oleh Ibunya, astaga.

Setelah kejadian itu, setiap hari Chanyeol dan Min Ah selalu bermain bersama. Dan sekarang Chanyeol sudah bisa bermain gitar-walaupun masih sedikit-sedikit- dan biasanya mereka menghabiskan waktunya duduk di bawah pohon dan bermain gitar bersama-sama. Hari ini, Chanyeol dan Min Ah duduk di kursi putih tempat pertama kali mereka bertemu.

“Minnie…”

“………….”

“Minnie? Gwaenchana?”

“…………”

“Minnie! Minnie!”

Kepala Min Ah terjatuh ke bahu Chanyeol, Chanyeol kaget dan panik melihat wajah Min Ah sangat pucat. Dia segera menidurkan Min Ah di kursi dan berlari mencari Appa Minnie.

“Ahjussi! Ahjussi!”

“Eh, Chanyeol? Mana Min Ah?”

“Ahjussi! Saat aku dan Minnie duduk di kursi tiba-tiba dia pingsan, ayo cepat tolong Minnie Ahjussi!”

“Mwo?! Baiklah, ayo cepat!”.

Dan ternyata, jantung Min Ah kumat dan harus di bawa ke rumah sakit. Chanyeol sangat cemas melihat Min Ah terbaring dengan wajah pucat, dia bahkan lupa tentang mottonya ‘Kalau anak laki-laki tak boleh menangis.’ dan jika boleh, author akan menambahkan ‘kecuali untuk orang yang disayangi.’.

“Bagaimana keadaannya dok?”

“Jantungnya sudah parah, dia harus cepat dapat donor jantung.”

Appa Min Ah berwajah pucat, bagaimana jika anaknya tak mendapat donor jantung apakah dia juga akan meninggalkannya seperti Ibunya? Ini tak boleh terjadi!.

“Apakah sampai saat ini ada yang mau menyumbangkan jantungnya untuk Min Ah?”

“Selama ini belum ada. Tapi jika anda mau, selama menunggu donor jantung, Min Ah bisa di rawat di Amerika. Karena di sana banyak dokter yang lebih ahli daripada di Korea dan perlatan medisnya lebih lengkap.”

“Baiklah, apapun untuk Min Ah!”.

Chanyeol yang mendengarnya ikut sedih, itu berarti dia tak bisa bertemu Min Ah lagi. Dia tak mau itu terjadi, tapi dia juga tak mau Min Ah meninggal. Chanyeol menghampiri Appa Min Ah, dia menatap Appa Min Ah.

“Ahjussi.., Chanyeol mau pulang dulu..”

“Ah, biar ahjussi antarkan ya…,”

“Tapi Min Ah, dia..”

“Sudah, hanya sebentarkan tak apa.”.

Setelah Chanyeol sampai di rumahnya, dia segera membuka pintu rumahnya dan mencari Eommanya.

“Chanyeol! Dari mana kamu? Kau itu selalu membuat Eomma cemas!”

“Hiks..Eomma!!”

Chanyeol menubruk Eommanya, dia memeluk Eommanya untuk menyalurkan rasa sakitnya pada Eommanya. Eomma Chanyeol yang kaget langsung mengusap kepalanya lembut.

“Kau kenapa, Yeolli?”

“Min Ah mau pergi Eomma..hiks..,”

“Pergi? Pergi ke mana?”

“Ke Amerika..,”

“Eh?”

“K.kata Ahjussi dia butuh..hiks..donor jantung..hiks….”

“Aigoo.., sabar ya Yeolli..,”

Chanyeol makin memeluk Eommanya erat, baju Eomma Chanyeol basah karena air mata Chanyeol yang tidak habis-habis. Sungguh malang sekali kau Chanyeol, baru saja kau mendapat seorang teman yang mengerti mu, mau menerimamu apa adanya tetapi sekarang dia akan meninggalkanmu. Sungguh kau masih terlalu kecil untuk merasakan sakitnya cinta dan pedihnya takdir.

Keesokan harinya, Chanyeol dan keluarganya pergi ke rumah Min Ah. Halaman rumah Min Ah sangat besar, apalagi rumahnya yang mirip sebuah istana karena sangat luas dan besar. Berbekal sebuah boneka beruang bergambar hati bertuliskan ‘I Love You. PC’. Dia mengetuk pintu kokoh itu perlahan, tangannya gemetar dan dia benar-benar kebelet pipis sekarang. Di halaman rumah Min Ah banyak sekali box-box yang terlihat sedang di angkut menggunakan mobil pick-up.

“Nuguseyo? Ah, Chanyeol! Ada apa kau ke sini?”

“Paman mau pindah kan? Pindah ke amerika?”

“Nde.., Ahjussi memang mau ke Amerika. Ah ada Tuan Park dan Nyonya Park, silahkan masuk.”

“Ahjussi, boleh aku bertemu Min Ah?”

“Nde.., tentu saja. Dia ada di lantai dua, kamarnya berpintu pink.”

Chanyeol segera berjalan menuju tangga dan segera menemui Min Ah, pintu pink yang di cari Chanyeol akhirnya ketemu. Pintu itu bertuliskan ‘Minnie’s Room’, dengan perlahan dia mengetuk pintu itu. Sebuah suara serak menjawab dengan perlahan.

“Masuk…,”

Chanyeol membuka pintu itu hati-hati. Aroma kamar itu berbau obat-obatan yang sangat tajam, kamarnya sangat bersih dan rapi. Di dalam kamar itu, Min Ah tengah terbaring di sebuah ranjang bersprei stroberi. Alat-alat medis terpasang di seluruh tubuhnya, matanya berbinar melihat Chanyeol.

“Channie…,”

“Minnie kau sudah baikan?”

“Mm..”

“Ini buat Minnie.”

Chanyeol menaruh boneka beruang itu di samping Min Ah yang terbaring lemas, Min Ah tersenyum.

“Gomawo..Channie..,”

“Minnie mau pergi ya?”

“N.nde..,”

“Hiks..Minnie..hiks..cepat sembuh ya..supaya kita bias bermain lagi..,”

“Nde..”

“Minnie..hiks..juga..hiks..jangan lama-lama di Amerika..,”

“Channie..hiks..Minnie sebenarnya juga tak mau berpisah dengan Channie..”

“Minnie..hiks..aku akan..selalu menunggumu di sini..hiks..pokoknya Minnie janji harus balik ke Korea setelah sembuh..”

“Ini..hiks..untuk Minnie..,”

Chanyeol memberikan sebuah kalung, kalung itu berbandul sebuah cincin perak. Di cincin itu terukir nama ‘PC’ dan Chanyeol menunjukan cincin yang dipakainya terukir nama ‘GMA’. Min Ah tersenyum melihatnya, dia berkata perlahan

“Aku Janji akan kembali kesini, apa Channie mau berjanji menungguku..?”

Minnie mengacungkan kelingking mungilnya, dengan perlahan Chanyeol mengaitkan kelingkingnya di kelingking mungil cinta pertamanya, Minnie.

“Channie.., Min Ah sudah mau berangkat. Ayo turun sayang..,”

Eomma Chanyeol membawa Chanyeol turun, sementara Appa Minnie dan suster menggendong Min Ah dan membawa alat-alat medis Min Ah ke ambulan. Chanyeol menatap Minnie sedih, tanpa dia sadari air matanya sudah mengucur dari tadi. Eommanya memeluk Chanyeol erat dan mengusap rambutnya lembut.

“Minnie..”

Min Ah menatap Chanyeol sedih, dengan sekuat tenaga dia melambaikan tangannya perlahan. Dia tersenyum manis untuk terakhir kalinya pada Chanyeol.

‘Channie, aku berjanji Kita akan berjumpa lagi. Aku tak akan melupakanmu, sahabat terbaikku dan teman pertamaku. Saranghae Channie..,’

Setelah itu, kelopak mata bulat Min Ah tertutup damai. Appa Min Ah yang melihatnya langsung panik.

“Cepat jalankan ambulannya! Keadaannya semakin memburuk!”

Ambulan itu segera berjalan meninggalkan Chanyeol yang masih mematung di depan halaman rumah Min Ah.

‘Saranghae Min Ah.., aku yakin kita pasti berjumpa lagi.., kau cinta pertamaku yang tak akan bisa kulupakan..,’

TBC

Preview:

“Dasar gadis pendek!”

“Tiang listrik!”

“Lepaskan tanganmu darinya..,”

“Apa hubungannya denganmu?!”

“Sudah, ayo Kris Oppa kita pergi..,”

“Cih.., dasar menyebalkan.”

P.s: Annyeong!!!! Shin Hwa is back!!#gakadayangnungguluThor #mianT_T Ini FF ke 2 gue!! #Gakadayangnanya Mungkin ada yang ngira FF ini angst, tapi aku sudah bosen sama yg namanya FF angst. Jadi aku buat FF yang kayak angst (?) tapi romance. Maaf banget kalau aku gak bisa bikin kata-kata romantic :3 karena aku emang gak romantis :D. Jadi mian banget kalau gak suka alur, poster, cast, dll. Mulai chapter 2 mulai ada konflik KrisYeol :3 Dan.., kalau mau boleh follow aku di @salsa_cahyawati :3 #huu..promosiajaluThor #iya..iya.. dan lagi gue…#KEPANJANGANTHOR! Oke dah, sampai jumpa di chapter selanjutnya! :3

11 pemikiran pada “Guitar (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s