Loving You Like Crazy (Chapter 4)

Loving You Like Crazy [Part. 4]

Title: Loving You Like Crazy [Part. 4]

Author: nune

Main Cast: -Park Chanyeol

-Baek Jisun

-Kai

-Shin Yeonhwa

Length: Multichapter

Genre: Drama, Romance

Ratting: PG-15

loving you like crazy poster

                                                                        *****

Next Day… Ilsan. 11pm.

Chanyeol membaringkan tubuh jangkungnya diatas tempat tidur tingkat yang sudah tersedia. Untuk beberapa hari kedepan Chanyeol dan semua teman sefakultasnya menginap di Villa di daerah ilsan untuk melakukan Observasi. Hari pertama Observasi sudah selesai dan berjalan sukses! Chanyeol meninggalkan teman-temannya yang sedang pesta api unggun diluar sana, ia lebih memilih istirahat atau mengulang pelajaran yang tadi ia pelajari.

Ia menggapai ponselnya yang berada di atas nakas. Terdapat empat sms disana, 1 dari ibunya yang berpesan jaga diri baik baik selama ibunya dan ayahnya pergi ke Guangzhou untuk berbisnis, dan tiga yang lain-nya dari Taeyeon.

Chanyeol merasa ada yang kurang. Biasanya setiap hari Jisun mengirimnya sms minimal 6 kali sehari atau menelpon-nya minimal 2 kali sehari. Yaaah walaupun hampir semua pesan atau panggilan darinya tidak Chanyeol tanggapi, tapi kenapa hari ini Chanyeol tidak menerima apa-apa? ah sudahlah mungkin ada yang tidak beres pada ponselnya, sebaiknya ia tidur saja.

Disisi Lain…

Jisun terbaring tak sadarkan diri diatas tempat tidur putih dengan bau kaporitnya yang sudah khas. Seharian penuh ia diberikan perawatan terintensif agar lukanya cepat pulih. Dokter yang menangani Jisun adalah salah satu dokter terbaik dan beliau adalah teman dekat ayahnya, maka dokter tersebut melakukan Treatment terbaiknya pada Jisun.

Oh Hani (ibu Jisun) merendam handuk kedalam air hangat dan memerasnya, lalu ia mengelapnya ke kulit Jisun, membersihkan seluruh tubuh anak tersayangnya yang belum mandi selama seharian penuh. Sampai sekarang ia masih belum mengetahui apa dampak dari kecelakaan ini. Ia sangat memohon pada Tuhan yang maha kuasa agar anaknya masih tetap hidup dan ceria seperti semula.

Terdengar decitan pintu, Oh Hani menoleh ke asal suara dan mendapati kepala suaminya yang menyembul dicelah pintu.

“Dokter Song ingin bicara pada kita. Ayo!”

*****

Kini kedua orang tua Jisun berhadapan langsung dengan dokter profesional yang menangani Jisun selama ini.

“Jongki-ah.. bagaimana keadaan anakku?” Baek Seungjo atau yang kita tahu sebagai ayah Jisun bertanya pada teman baiknya yang paling ia percaya, Song Jongki.

Oh Hani yang duduk disebelahnya menggenggam jemari suaminya erat, takut sesuatu akan terjadi pada anak tersayang mereka.

“Satu atau dua hari lagi Jisunie akan segera sadar. Tapi…” Dokter Song menggantung pembicaraannya sehingga dua orang dihadapannya menahan nafas dengan tegang.

“Aku masih ragu jika prediksiku benar atau salah, tapi 98% Jisunie akan kehilangan sebagian ingatannya.” Jelas Dokter Song dengan nada yang menimbang-nimbang.

Oh Hani dan Baek Seungjo menatap Dokter Song dengan nanar, mereka masih speechless atas apa yang mereka dengar barusan.

“Apa penyakit anakku itu bisa disembuhkan?” tanya Baek Seungjo. Ia memang tidak terlalu mengerti tentang syaraf dan kinerja otak karena memang Baek Seungjo adalah dokter spesialis jantung.

“Kemungkinan pasti tetap ada, Seungjo-ah. Biarkan anakmu tetap menjalin hubungan dengan orang-orang terdekatnya selama dua tahun terakhir ini.” seru dokter Song panjang lebar.

“Aku sudah berusaha sebisa mungkin agar anakmu tidak hilang ingatan total! Kalau aku tidak segera menanganinya dengan sangat intensif, maka anakmu akan seperti terlahir kembali, Seungjo-yah~ Semua memori diotaknya akan hilang! Maaf aku telah mengecewakanmu, Seungjo-yah.” Sesal Jongki pada teman baiknya. Seungjo berusaha mengerti karena ia sering mengalami hal ini juga disepanjang karirnya sebagai dokter.

Oh Hani mulai terisak dan melemaskan kepalanya dipundak Baek Seungjo. Mereka sudah pasrah, karena memang Tuhan sudah mengatur semuanya dan mereka pasti yakin ada alasan dibalik semua ini…

*****

Beberapa hari kemudian…
“Eomoni… mengapa pagi-pagi sekali sudah kemari? Kalau Chun kesepian dirumah, bagaimana?” seru Jisun manja saat ketika ibunya (sebagai suster) memasuki kamar rawatnya, membawa sekantong buah apel untuk cuci mulut mereka.

Oh Hani tersenyum nanar “Chun akan baik-baik saja, sayang. Eomoni sudah memberinya makan.”

Sudah lima hari penuh Jisun terkurung di Rumah Sakit tempat ayah dan ibunya bekerja, dan ini membuat Jisun bosan sekaligus rindu pada keadaan rumah dan teman temannya terutama pada Yeonhwa. Prediksi Dokter Song tidak meleset! Jisun sadarkan diri sehari setelah dokter Song melaporkan hasil pengamatannya waktu itu.

Setelah diamati lebih jauh, Jisun memang kehilangan sebagian ingatannya! Detik ini resminya Jisun memang sudah berumur 19 tahun, tapi yang Jisun tahu ia masih tetap berumur 17 tahun. Bisa dikatakan Jisun kehilangan dua tahun terakhir memori ingatannya, ia hanya bisa mengingat jelas memori 17 tahun terakhir yang sudah ia jalani.

Ah! Dan satu lagi, Chun adalah anjing kesayangan Jisun yang sudah meninggal sejak satu tahun yang lalu. Entah bagaimana Oh Hani akan menjelaskan semuanya pada anak tersayangnya ini, ia takut jika Jisun akan menangis seharian seperti satu tahun yang lalu ketika Chun-nya benar benar sudah meninggal.

“Jisun-ah.” Seru seseorang. Jisun dan Oh Hani menoleh dan mendapati Yeonhwa yang menghampiri mereka. Yeonhwa memberi hormat pada Oh Hani dan duduk dibangku dekat tempat tidur Jisun.

Jisun tersenyum merekah dan segera menghambur memeluk Yeonhwa “aaaaaaa wanjan bogoshipo~~” ujar Jisun. Oh Hani tersenyum hangat dan keluar dari ruang rawat Jisun.

“Bagaimana keadaanmu? Sudah baikkan?” tanya Yeonhwa saat mereka sudah selesai berpelukan.

Jisun memajukan bibirnya “Walaupun aku tidak mengerti ada apa denganku sehingga jadi seperti ini, tapi aku merasa lebih baik kok. Hehe”

“ah, iya! Kai eodiya?”

DEG!  Yeonhwa tercengang, ia mengingat perkataan ibu Jisun beberapa saat yang lalu, beliau sudah menceritakan semuanya. Awalnya Yeonhwa merasa percaya-tidak-percaya namun sekarang semua sudah terbuktikan!

Yeonhwa hampir menitikan air matanya. Yeonhwa merasa kasihan pada sahabatnya ini, pasti hal ini sangatlah berat baginya! Tidak heran jika Jisun menanyakan keberadaan Kai, karena tepat dua tahun yang lalu Jisun masih mempunyai hubungan special dengan laki-laki yang kepopuleran-nya tidak usah ditanya itu.

“Waktu kau masih belum sadarkan diri, dia ada disini kok. Nanti aku hubungi Kai untuk datang.” Jisun mengangguk mengerti.

“Jisun-ah. Kau… tidak… menanyakan… tentang…….. Chan.. um Chanyeol?” ungkap Yeonhwa dengan hati-hati.

Jisun terdiam, ia merasa sering mendengar nama itu, tapi dimana? Ia sama sekali tidak menemukannya! Ah mungkin hanya orang yang dikenalnya sekilas. Fikirnya.

“…Chan…yeol? Dia siapa?” Jisun menautkan alisnya bingung.

Yeonhwa semakin membisu. Ini tidak bisa dipercaya! Jadi Jisun sepenuhnya lupa dengan seorang namja yang membuatnya gila itu? Semudah ini? Tapi tidak apa, setidaknya Jisun tidak menyimpan penderitaan yang sangat besar lagi. Yaah… setidaknya. Yeonhwa berharap agar Jisun ‘seperti ini’ selamanya, agar namja tengik itu tidak menyakiti sahabatnya lagi.

*****

Home Sweet Home. Setelah melewatkan satu minggu yang melelahkan akhirnya Chanyeol kembali kerumah kesayangannya. Mengingat orang tua-nya sedang ada di Guangzhou dengan urusan bisnis, untuk beberapa minggu kedepan Chanyeol lah yang akan menguasai rumah ini.

Ah ngomong-ngomong, ini sudah hari ketujuh semenjak Chanyeol tidak menerima kabar apapun dari gadis yang selama enam bulan ini selalu mengintainya. Ternyata gadis itu menepati janjinya untuk tidak lagi mencintai dan mengusik Chanyeol sedikitpun. Tapi seharusnya ia merasa senang kan? Padahal inilah hal yang Chanyeol inginkan dari awal. Ketika gadis itu tidak menyukainya lagi.

Tapi ini aneh, ada yang hilang dari hatinya, entah apa itu. Biasanya setiap hari Jisun mengiriminya pesan, menelpon-nya dengan bercerita hal-hal tidak penting tentang kesehariannya seperti; cerita tentang Chun anjing kesayangannya, tentang banyaknya laki-laki yang mendekatinya, tentang Kai yang mencampakannya dulu, tentang Yeonhwa, tentang guru guru killer dikelasnya. Dan masih banyak lagi. Lama kelamaan Chanyeol merasa bahwa hari-harinya tidak lagi dipenuhi oleh celotehan gadis itu. Dan hal ini membuat Chanyeol kehilangan.

Chanyeol meratapi Bracelet yang melingkar dipergelangan tangannya itu, benda yang diberikan oleh Jisun tempo hari.

Bicara begini membuat Chanyeol mengingat dirinya dan gadis itu berkunjung ke Paraeso Falls, tapi sayang ia tidak berfoto-foto disana karena Chanyeol spontan menolak permintaan Jisun yang memintanya foto berdua. Bodoh!

Ting Tong…

Bel pintu terdengar, Chanyeol segera bangkit dari baringannya dan berlari kecil menuju pintu utama.

“Mrs. Baek? Apa kabar? Silahkan masuk.” Seru Chanyeol ketika ia sudah membuka pintu.

Chanyeol mempersilahkan Mrs. Baek atau Oh Hani untuk duduk disofa ruang tamu, lalu Chanyeol duduk disebrangnya.

“Orang tuaku sedang berada di Guangzhou, jadi keadaan rumah sedikit sunyi.” Ujar Chanyeol, Oh Hani tersenyum tipis

“Tak apa. Aku kemari memang ingin berbicara padamu.” Timbalnya.

“Tentang… apa?”

Oh Hani terlihat sedang berfikir keras, bingung ingin bicara mulai dari mana.

“Aku ingin memintamu untuk memperpanjang waktu belajar-mengajarmu bersama Jisun. Menjadi 3jam/hari dan dilaksanakan setiap hari.” jelas Oh Hani pada Chanyeol.

Chanyeol terlihat sedang menimbang-nimbang. Tugas pentingnya sudah terlewatkan sih, jadi untuk kedepannya ia punya banyak waktu bebas. Tapi bagaimana ya? yang membuatnya bingung mengapa ibu Jisun datang langsung dan minta padanya hal macam ini?

“Baiklah. Lagi pula, aku tidak keberatan. Tapi mengapa tiba-tib—“

Oh Hani menceritakan semuanya pada Chanyeol. Dari mulai kecelakaan Jisun dan juga lupa ingatan yang menderanya. Alasan mengapa Oh Hani meminta Chanyeol hal ini karena Jisun tidak bisa mengingat materi-materi penting untuk masuk ke perguruan tinggi nanti! Jadi terpaksa Jisun harus mengulangi materinya dari awal.

“Jika Jisun bersikap aneh padamu, tolong jangan tanyakan dia banyak hal!” Pesan Oh Hani.

Chanyeol menelan saliva-nya, fikirannya sudah berakar kemana-mana. Jadi inikah alasannya mengapa Jisun tidak menghubunginya lagi?! Jadi dia akan kehilangan Jisun-nya yang ceria? Si gadis bodoh itu, apakah benar ia baik baik saja? Chanyeol membatin.

*****

Baek’s Family House~
“Aku tidak membutuhkan tutor, eomoni! Lagipula tes perguruan tinggi-ku masih lama! Dua tahun lagi.” pekik Jisun sambil menyembunyikan dirinya dibawah selimut.

Hati Jisun masih muram saat ia tahu bahwa Chun-nya sudah meninggal satu tahun lalu.

“ayolah, sayang. Katanya kau ingin cepat-cepat kuliah dan membahagiakan eomoni dan aboeji. Eoh? Lagipula Chanyeol oppa orangnya sangat menyenangkan kok. Kau kan sangat menyukainya”

Nama Chanyeol terdengar lagi ditelinganya. Dua orang terdekatnya sudah menyerukan nama misterius itu.. Sebenarnya siapa dia? Gumam Jisun.

“Bersiap-siaplah. Chanyeol oppa sudah datang~”

Jisun beringsut bangkit dari baringannya dan duduk bersila dihadapan meja bundar pink dengan malas. Terdengar derap langkah menghampiri. Jisun menegakan kepalanya keatas. Wuah laki-laki ini tinggi sekali. Ujar batin-nya.

Laki laki berpostur tinggi itu ikut duduk bersila dihadapan Jisun. Jisun spontan berdiri dan membungkuk 90 derajat, berniat memberinya salam perkenalan. Tapi tunggu dulu! Rasanya Jisun tidak asing dengan wajah ini. Hatinya mengatakan sedemikian namun otaknya memaksa Jisun untuk menghapus nama ini jauh-jauh. Ada apa ini?

“Anyeonghaseyo.. joneun Baek Jisun imnida. Manaseo bangapseumnida~”

Chanyeol menatap Jisun dengan tatapan yang tidak bisa diungkapkan. Jisun kembali ke posisi semula, ia mendengus pelan. Huh angkuh sekali, bahkan dia tidak membalas bungkukan dan sapaanku. Menyebalkan!  Keluhnya.

“Kita sudah saling mengenal, jadi kita tidak butuh perkenalan lagi.” ketus Chanyeol sambil mulai membuka halaman demi halaman buku yang ada dihadapannya

“Tapi bagiku ini adalah pertama kali kita bertemu, Chanyeol-ssi. Namamu benar Chanyeol kan? Park Chanyeol kalau tidak salah.”

Chanyeol menghela nafas pelan. Apa tadi? Chanyeol-ssi dia bilang?! Entah, tapi panggilan ini sangatlah asing baginya. Biasanya Jisun memanggilnya dengan ‘oppa’ tapi sekarang semuanya sudah berubah. Semua bagaikan terulang dari awal lagi.

Saat Chanyeol menatap sendu mata Jisun untuk pertama kalinya setelah satu minggu penuh tidak bertemu dan berhubungan kontak, ia ingin sekali rasanya menoyor kepala Jisun keras-keras, mengutarakan kemarahannya karena Jisun tak kunjung memberinya kabar. Kau bisa anggap ini hal bodoh, karena Chanyeol adalah orang yang bodoh.

“Kita mulai pembelajaran. Banyak materi yang harus kau kuasai.” Ujar Chanyeol dingin.

Jisun mendengus “Ish tidak seru sekali, sih. Hari pertama pengajaran sebaiknya jangan terlalu tegang begini, perkenalan dulu atau ngobrol-ngobrol sedikit.”

Chanyeol memutuskan untuk mengabaikan Jisun, ia kembali membuka halaman demi halaman sambil dirinya menjelaskan materi fisika dengan jeli.

Chanyeol mendelik kearah Jisun yang sedang mengutak-atik ponselnya sambil tersenyum-senyum sendiri. Jisun sedang sms-an dengan Kai.

BRAAAK…

Chanyeol menggebrak meja bundar Pink yang ada dihadapannya, terdengarlah suara yang cukup keras dan itu membuat jantung Jisun ikut melompat.

“Jangan main-main! Mood-ku sedang tidak bagus!” ketus Chanyeol.

Jisun merasa kesal sambil menatap Chanyeol sinis, ia beringsut bangkit dari duduknya dan berbaring diatas tempat tidur, menyembunyikan seluruh tubuhnya dibawah selimut.

“Aku masih belum pulih total. Kau boleh kembali lagi besok!”

Chanyeol terbelalak tak percaya. Seorang Baek Jisun… Mengusirnya???

*****

Chanyeol menatap kosong kearah piring sisa makan malamnya barusan, ia masih belum beranjak dari kursi makan. Fikirannya bercabang kemana-mana, ia mengingat bagaimana Jisun memperlakukannya seperti orang yang tidak mengenalnya sama sekali.

Kini senyuman merekah Jisun saat Chanyeol memasuki kamarnya untuk memulai pelajaran tidak ada lagi. Kini panggilan manja Jisun pada Chanyeol yang ia lontarkan setiap hari tidak ada lagi. Kini mata indahnya yang memperhatikan Chanyeol dengan intens dan kagum tidak ada lagi. Kini tidak ada lagi Jisun yang melonjak kegirangan saat Chanyeol bilang ada pelajaran tambahan. Semuanya sudah terbalik total!

Chanyeol memijat pelipisnya. “Sial. mengapa aku jadi banyak memikirkan bocah itu?”

*****

“Halo… Kai. Kau sedang apa?” tanya Jisun pada seseorang disebrang sana. Jisun berbaring ditempat tidur hangatnya sambil sesekali mengelus lembut boneka-bonekanya.

((Halo~ Aku baru habis makan. Bagaimana keadaanmu Jisun-ah?)) Jisun tersenyum. Setidaknya mood buruk itu perlahan menghilang.

“Ish tadi aku bertemu dengan namja yang sangaaaaaaaaaattt menyebalkan! Dan sialnya dia adalah guru les private-ku!! Menyebalkan.” Dengus Jisun mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.

Kai tersenyum samar disana, ia sudah tahu betul hubungan antara Jisun dan Chanyeol. Yeonhwa sudah menceritakan hal ini padanya.

((Park Chanyeol? HAHA awas lho kau jadi jatuh cinta padanya.)) Candanya. Ah bukan, kok. Sebenarnya Kai memang serius.

Jisun terdiam. Satu lagi orang yang mensangkut pautkan dirinya dengan Park Chanyeol. Jisun semakin penasaran siapa laki-laki itu sebenarnya.

“Kai, kau cemburu? Percayalah aku tidak tertarik padanya sama sekali.” Jelas Jisun melembut.

Kai tersenyum lagi. Jujur, Kai memang merasa senang diperlakukan begini oleh Jisun. Tapi… bagaimana jika suatu saat Jisun sudah mengingat Chanyeol dan mengabaikannya lagi, memperlakukan Kai dengan dingin lagi? Kai lebih baik mundur dari pada maju melangkah ke lubang yang lebih besar.

((Tidak kok. Kau belajar lah dengan giat, ya! Sudah dulu Jisun-ah, aku ingin mandi. Nanti ku sms lagi.))

“Baiklah. byee”

Setelah menutup telepon-nya, Jisun memutuskan untuk mengutak atik ponselnya. Matanya membulat sempurna, Jisun bertanya-tanya mengapa di riwayat panggilannya dipenuhi dengan sebuah kontak yang bernama ‘Chanyeol oppa♥’, disitu tertera bahwa selama ini Jisun sudah menelpon Chanyeol kurang-lebih 148 kali!

Jisun mengembungkan pipinya dan meleguhkan nafas panjang dari sana. Apakah Park Chanyeol sangat berarti untuk hidupnya? Merenung seperti ini membuat Jisun sadar bahwa sampai kapanpun ia tidak akan menemukan jawabannya.

Ia memutuskan untuk mengambil catatan pelajaran dan mulai menekuni materinya. Ia terlonjak tatkala melihat isi halaman terakhir disetiap catatannya, Terlalu banyak nama Chanyeol dan hati berwarna pink disana. Jisun menggeram saat menemukan hal yang sama di semua catatan pelajarannya.

“Park Chanyeol… Sebenarnya, apa hubunganku dengan kau?”

*****

Keesokan Harinya…

Jisun menatap intens pada Chanyeol yang sedang mengoreksi latihan-nya dengan teliti.

“Chanyeol-ssi…”

Chanyeol mengalihkan perhatiannya pada Jisun. Seakan matanya berkata ‘apa?’

“Sebenarnya…kau…siapa?”

Chanyeol tertegun, apakah ada kemungkinan jika Jisun sedikit-dikit mengingatnya? Ada kebahagiaan tersendiri dilubuk hatinya.

“aku Chanyeol. Park Chanyeol!”

Jisun berdecak sebal “Bukan! Aish bagaimana, ya… Aku heran mengapa disekelilingku pasti ada saja hal yang menyangkut tentangmu.”

Chanyeol menghela nafas panjang “Nan kiyeog anha (kau tidak mengingatku) ?”

Kedua alis Jisun bertautan. Mengapa dia menggunakan bahasa Informal padaku? Seingatku aku baru kenal dengannya beberapa hari ini. Jisun membatin.

“Jangan balik bertanya, jawab pertanyaanku dulu!” Seru Jisun dingin.

“Aku orang yang kau sukai. Ah bukan, aku orang yang sangat kau cintai!” Chanyeol menatap Jisun dalam, berusaha meyakinkan-nya.

Hening….

“ppfftt… puahahahahahahaha… Aku? Mencintaimu? Puahahahahaha…”

Chanyeol balik menatapnya dingin, dadanya serasa didesak oleh batu besar, rasanya sakit. Jadi inikah rasanya diabaikan oleh orang yang kita harapkan?

“puahahahahahhaha Jangan bermimpi. Lagipula, kau sama sekali bukan tipeku.” Jisun meremas perutnya yang sedikit perih karena terlalu banyak tertawa.

“Bagaimana jika aku-yang-benar dan kau-yang-salah?” Chanyeol buka suara, ia mencoba untuk mempertahankan ucapannya. Tidak mau kalah.

“Maksudmu? Aku mencintaimu? Begitu? Bila kau tertarik padaku katakan saja, Chanyeol-ssi~ jangan menggunakan godaan kuno seperti ini. haha” Jisun terkekeh pelan. Huh ternyata mengecehkan orang jenius seru juga. Fikirnya.

Jisun mendelik sinis pada Chanyeol yang mengguratkan wajah kesal disana, ia buka suara lagi “Hmm… sepertinya kau begitu yakin akan pernyataanmu, ya? Begini saja, Chanyeol-ssi. Kau kuberi waktu 3 bulan untuk membuktikan perkataanmu dengan cara apapun! Tapi jika kau gagal, enyahlah dari pandanganku selamanya. Deal?”

Chanyeol menatap Jisun dalam, mencoba meyakinkan gadis ini sekali lagi. Seberapa sirna kah nama ‘Park Chanyeol’ dihati gadis ini? Sampai-sampai ia membuat taruhan bodoh macam ini. Baiklah, jika Chanyeol menolak sebuah taruhan bukan pria namanya. Bukankah begitu?

“Aku setuju! …Tapi bagaimana jika aku yang menang?”

 

~To Be Continued~

Akhirnya selesai juga part. 4 ini haha.. nah inilah induk konfliknya xD bagaimana? Makin menarik apa makin gak menarik? Nune butuh komentar kalian semua. Oia, anggap aja ini sebagai Playful Kiss generasi kedua xD tapi direktor dan penulis naskahnya aku sendiri kekeke… ok, after read please leave your comment 😀

Iklan

60 pemikiran pada “Loving You Like Crazy (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s