Wolf (Chapter 3)

Tittle : WOLF

Author : Fitaa

Main Cast

  • Luhan
  • Hyorin (karakter fiktif)
  • Kai

Support Cast

  • Anggota EXO-K dan EXO-M (selain Kai dan Luhan)
  • dll

Genre : Romance, Friendship, School

Length : Chaptered

wolf

Note : Maaf ya kalo ceritanya gak bagus ato gak jelas..

Part 3

“ada hal yang tak akan berubah walau waktu terus berjalan..”

 

            Hyorin pulang dari sekolah. Berjalan santai menuju rumahnya, ia memandang sebuah mobil yang dikenalnya terparkir di halaman rumahnya. Ia tersenyum lebar, ia merpercepat jalannya menuju rumahnya. “Suho Oppa..” panggilnya.

Suho menoleh pada seseorang yang memanggilnya. Suara khas yang ceria itu sudah hafal dalam otaknya. Ia membalas panggilan Suho dan tersenyum. Sudah sepuluh hari ia tak bertemu dengan gadis manis ini. Ia merindukan obrolan ceria dan candanya yang selalu membuatnya bahagia di sampingnya.

“Suho Oppa, kapan kau datang?” Tanya Hyorin ketika sudah berada di sebelah Suho.

“Tadi pagi,” jawab Suho. Ia memandangi Hyorin sejenak tanpa diketahui gadis itu yang sedang memandang ke arah lain. “Hyorin-ah,” panggil Suho. Hyorin menoleh. “Kau ingin makan es krim?” tawar Hyorin.

Hyorin memandang Suho sejenak. “Oh..” kata Hyorin menyetujui. “Geundae Oppa,” Hyorin teringat sesuatu. Suho menoleh. “Kau mengajakku bukan karena kau lupa membawa oleh-oleh kan?” Tanya Hyorin. Suho tertawa kecil. Ia memang baru datang dari perjalanan bisnisnya ke Jepang. “Benarkan?” kata Hyorin sok ngambek.

“Tentu saja tidak, bagaimana bisa aku melupakan adik kesayanganku…” ucap Suho. Hyorin sudah dianggap adik oleh Suho sejak lama.

“Lalu mana oleh-oleh ku?” Tanya Hyorin sambil menadahkan tangannya meminta.

“Oleh-olehnya adalah kepulanganku yang lebih cepat dari Jepang. Karena aku tahu kau akan merindukanku,” kata Suho bangga. Sedangakan Hyorin hanya membalas dengan senyuman malas. “Ayo kita berangkat!” ajak Suho.

“Aku ganti baju dulu.” Kata Hyorin.

“Tidak usah. Terlalu lama.” Cegah Suho. Hyorin menuruti. “Kau pamitan saja pada emmamu,” tutur Suho.

“Baiklah,” Hyorin masuk ke dalam dan berpamitan pada eommanya. Tentu saja eommanya menyetujuinya. Karena dia tahu kedekatan antara putrinya dengan Suho ataupun Kai sekalipun.

Hyorin keluar dari rumah dari rumah. Ia dan Suho memasuki mobil Suho dan berangkat menuju es krim langganan keduanya. Seperti biasa Hyorin memesan es krim stroberi kesenangannya. Ia menyatap dengan lahap es krim itu. Suho memandang sambil tersenyum.

“Hyaaa, Hyorin-ah. Kau tahu umurmu sudah berapa? Tak malu dengan cara makan es krimmu seperti itu?” Suho menjitak kepala Hyorin.

“Appoo…” rintih Hyorin. Ia melanjutkan keasyikannya memakan es kri. “Oppa, ada hal yang tak akan berubah walau waktu terus berjalan..” kata Hyorin sok bijaksana.

Suho tersenyum tipis. “Termasuk kau yang selalu menuruti kata Kai dan berpihak padanya?” ucap Suho.

Hyorin menyangka jika Suho sudah mengetahui tentang Kai yang menyuruhnya pindah sekolah. Tapi ia tak menduga jika Suho akan berkata kalimat tadi. Teguran itu tak kasar, namun langsung terarah pada batinnya. “Kai Oppa tak salah. Aku bisa saja menolaknya. Tapi aku menerimanya,” terang Hyorin.

“Lihatlah kau selalu membelanya,” ucap Suho lagi.

“Tapi kenyataannya memang begitu,” tegas Hyorin lagi.

“Dari dulu Kai selalu seenaknya sendiri. Aku akan bicara padanya,” tegas Suho.

“Ani-ah, Oppa. Jinja.” Hyorin meyakinkan.

Suho tahu jika ia terus menyalahkan Kai, maka sebanyak itu juga Hyorin akan membela Kai. “Kau tahu kan jika dia membuatmu tak nyaman, kau bisa bilang padaku. Aku akan memberinya pelajaran!” tegas Suho pada Hyorin.

“Ara.. Kenapa kau selalu berpihak padaku? Bukankah Kai Oppa itu adikmu?” Tanya Hyorin.

“Aku hanya membela yang benar.” Tegas Suho.

Hyorin tersenyum. Itulah Suho selalu menjadi pahlawan kebenaran baginya. Itulah yang membuatnya kagum pada Suho. Suho selalu berjiwa bijaksana, tegas, tapi tetap berhati lembut. “Oppa..” Kata Hyorin sambil tertawa manja pada Suho.

“Jika bisa aku akan menukarkan Kai denganmu jadi adikku,” ucapnya.

“Ani-ah,” tutur Hyorin. “Kau dan Kai Oppa sungguh saudara yang pas..” Hyorin mengacungkan dua jepolnya.

“Aku sangat heran kenapa kau betah sekali berpacaran dengannya.” Suho memang bertanya-tanya sejak dahulu.

Hyorin tersenyum. “Seharusnya memang aku berpacaran denganmu, Oppa,” canda Hyorin.

“Oh..” Suho meladeni candaan Hyorin. “Bagaimana jika kau memutuskan Kai dan berpacaran denganku?” canda Suho pada Hyorin.

Hyorin tertawa dengan respon Suho. “Lalu bagaimana dengan Seohyun eonni?”

“Aku juga akan memutuskannya,” canda Suho.

“Hyaaa, Oppa! Kau ini lupa kah dengan perjuanganku menjodohkan kalian berdua! Tidakkah kau harus berterimakasih padaku atas jasaku membantumu mendapatkan Seohyun eonni?” tutur Hyorin.

“Aku sangat berterima kasihhhh padamu,” kata Suho dengan nada bercanda. “Hyorin-ah,” panggil Suho. Kali ini Suho serius. “entah kau bersama Kai atau namja manapun, asal dia membuatmu bahagia aku selalu mendukungku,” ucap Suho serius.

“Ara..” jawab Hyorin seris juga. Hyorin melanjutkan makan es krimnya. Ia jadi teringat pertemuan pertamanya dengan Kai dan Suho.

Flashback

Hyorin memasuki rumah yang begitu megahnya dengan Appa-nya. Hyorin memandang sekeliling rumah itu. Ia tak ingin potret setiap sudut rumah itu terlewat dari pandangannya saat melewatinya. Rumah berwarna cokelat ini benar-benar mengundang rasa ingin Hyorin untuk memilikinya.

“Gildong-si,” panggil seseorang dari dalam rumah yang mengetahui kedatangan Hyorin dan Appa-nya.

Appa Hyorin segera memberi hormat kepada si pemanggil. Dia adalah presdir di tempatnya bekerja. Presdir dan istrinya mempersilahkan Hyorin dan Appa-nya untuk memasuki rumahnya dengan ramah. Mereka berempat duduk di ruang tamu yang bergaya classic itu.

“Appa..”  panggil Hyorin. “Rumah ini benar-benar bagus,” puji Hyorin. Ia menunjukkan wajah kekagumannya.

“Hyorin-ah,” Appa Hyorin memperingatkan. Ia tak enak jika Presdir mendengar kata-kata Hyorin. Nanti dikiranya Hyorin tak tahu sopan satun.

“Gwencana,” ucap halus Presdir dibarengi dengan senyumannya. “Hyorin-ah,” panggil presdir itu.

“Ne..” jawab Hyorin dengan singkat namun sopan.

“Kau suka rumah Ahjussi?” Tanya Presdir pada Hyorin.

“Ne… Rumah ini tak hanya besar tapi juga indah. Kalau besar nanti aku ingin punya rumah sebesar ini.” jawab Hyorin bersemangat. “Ahjussi, kau pasti sangat kaya karena bisa memiliki rumah ini. Kau pasti sangat sukses dalam pekerjaanmu” Tambah Hyorin

“Saya minta maaf jika anak saya kurang sopan,” kata Hyorin Appa yang takut Presdir tersinggung dengan ucapan Hyorin. “Hyorin-ah, minta maaf dengan Sasang-nim” suruh Appa-nya pada Hyorin.

Hyorin mengerutkan keningnya. “Wae? Kenapa aku harus minta maaf, Appa?” Tanya Hyorin tak mengerti dengan perintah Appa-nya.

“Ucapanmu kurang sopan, sayang,” jelas Appa-nya pada Hyorin.

“Appa mianhe..” ucap Hyorin pada Appa-nya. “Aku tak ingin minta maaf padanya. Karena aku tak merasa salah,” ucap Hyorin. Ia melihat Appa-nya bingung dengan ucapannya barusan. “Aku hanya memuji Ahjussi itu. Aku tak mengerti jika kita memuji seseorang, maka kita harus minta maaf,” celoteh Hyorin.

Presdi tertawa kecil mendengar ucapa Hyorin. “Ani-ah Hyorin. Kau tak perlu minta maaf. Malah Ahjussi harus berterimakasih karena pujianmu,” tutur Presdir dengan menunjukkan senyumnya. “Anakmu sangat cantik. Pemikirannya juga bagus,” puji Presdir pada Appa-nya Hyorin. “Melihat anakmu, aku jadi ingat keinginanku memiliki anak perempuan,” kata Presdir.

“Iya, benar. Yeobo, kau ingin punya anak perempuan dulunya.” Tambah istri presdir.

“Appuji,” panggil seorang anak laki-laki.

Presdir dan istrinya menoleh ke arah datanya suara panggilan. Ternya yang memanggilnya adalah Kai, anak bungsu mereka berdua. “Ada apa Kai?” Tanya Presdir.

Kai duduk di antara ayah dan ibunya. “Suho Hyung menjewerku,” adu Kai sambil memegangi telinga.

“Itu karena kau tak mau belajar,” Suho menyusul dari belakang dan menjitak kepalanya Kai.

“Suho, Kai, ada tamu tak sopan jika bertengkar di depannya,” omel istri presdir.

“Mianhe, Eommoni..” Suho meminta maaf. Tapi Kai hanya diam saja.

Kai melirik tamu yang ada di rumahnya. Ia berhenti sejenak saat memandang Hyorin. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan dengan cepat menuju arah Hyorin. “Hyaaa, kamu cantik sekali,” puji Kai. “Siapa namau?” Tanya Kai.

Hyorin sedikit kaget dengan sikap Kai. Ia hanya bisa diam di tempat dan memandang sosok namja di depannya ini. “Hyorin..” rintih Hyorin untuk menjawab pertanyaan Kai. Hyorin tersenyum, walau sedikit dipaksakan.

Plakkk, Suho minjatak Kai dari belakang. Suho membuyarkan pandangan Kai yang sedang terfokus dengan senyuman Hyorin. “Dengan tingkahmu itu, kau masih saja bilang dirimu sakit!” omel Suho. Kai mengaduh karena jitakan dari Suho. “Appujji, suruh dia bersekolah besok. Dia sudah tidak sakit. Sudah berapa hari dia membolos,” pinta Suho pada ayahnya.

“Ani!” tentang Kai dengan keras. Ia menghampiri. “Appujji. Kepalaku masih sakit. Badanku masih lemas,” rengak Kai pada ayahnya.

“Hyaaaa, sampai kapan kau beralasan,” ucap Suho.

“Ani!” tentang Kai lebih keras. “Eommoni, aku masih sakit. Jinja,” Kai kini meyakinkan ibunya.

“Kai-ah, dokter bilang kau sudah sembuh sejak 2 hari yang lalu,” kata ibu Kai lembut. “Sudah cukup tidak masuknya. Kau sudah banyak ketinggalan pelajaran.” Ibu Kai mencoba memberi pengertian pada anak bungsunya ini.

“Tapi aku masih sakit!” bentak Kai kesal. “Kenapa kalian tak ada yang percaya padaku,” Kai marah. Semua orang tak mempercayainya. Ia membenci ayah, ibu, dan kakaknya. Ia ingin pergi saja dari tempat itu.

“Ne… Kau sedang sakit, Kai.” Ucap Hyorin tiba-tiba. Semua orang menatap Hyorin karena ucapannya. Ia membalasnya dengan tersenyum.

“Dia hanya berpura-pura. Kau jangan tertipu olehnya,” Suho member saran pada Hyorin.

“Animida..” Hyorin menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menatap Kai dan tersenyum. “Dia benar-benar sedang sakit.” Ucap Hyorin yakin.

“Hyorin-ah,” tahan ayah Hyorin agar tak mencampuri urusan keluaga presdirnya.

“Hyorin-ah, kenapa kau yakin jika Kai masih sakit?” Tanya Presdir ingin mendapatkan jawaban atas keyakinan Hyorin.

“Dia sakit disini,” ia menunjuk dadanya yang berarti perasaan. “dan disini,” ia menujuk kepalanya yang bearti pikirannya. “Sakit perasaan dan pikiran bukan sesuatu yang terlihat tapi itu juga bedampak pada tubuhnya. Itu mengapa Kai merasa lemas dan sakit kepala,” terang Hyorin. “Kai mungkin tak menemukan sesuatu yang membuatnya senang di sekolah,” tambah Hyorin.

Bingo! Jawaban Hyorin tepat dengan apa yang di rasakan Kai. Ia benar-benar jenuh dengan kehidupan sekolahnya. Itu membuatnya bosan dan tertekan. Kalau bisa ia tak ingin sekolah selamanya.

“Daripada memaksanya, lebih baik menawarkan hal yang membuatnya tertarik dengan sekolah,” saran Hyorin.

Semua anggota keluarga Presdir kagum dengan ucapan Hyorin. Presdir tersenyum kagum. “Pemikiranmu bagus sekali, sayang.” Puji presdir lagi.

“Animida,” Hyorin merendah. “ Aku hanya berkaca pada diriku. Aku pun sering seperti itu. Tapi Appa bilang dengan rajin bersekolah akan mudah bagiku untuk mencapai cita-cita,” terang Hyorin.

“Kau benar. Benar sekali. “ puji Presdir sekali lagi pada Hyorin. “Gildong-si, aku tak salah menilaimu. Kau sangat hebat. Kau mendidik anakmu dengan sangat baik,” puji Presdir pada ayah Hyorin.

“Karena kau yang mengenali penyakitku, maka kau yang harus menyembuhkannya,” kata Kai pada Hyorin.

“Ne??” Hyorin kaget dengan pernyataan Kai.

Kai tersenyum saja melihat kekagetan Hyorin. “Appujji, aku ingin 1 sekolah dengannya.” Pinta Kai pada ayahnya.

“Kai-ah, aku sudah 2 kali pindah sekolah. Tapi tetap saja tak ada perubahan.”keluh ibu Kai.

Presdir memikirkan permintaan Kai. Tapi juga memikirkan omongan istrinya. “Gildong-si, dimana anakmu bersekolah?” Tanya Presdir.

“Hanyoung. Sasang-nim.” Jawab ayah Hyorin.

“Hanyoung?” Kai-ah kau tak mampu bersekolah disana. Hanyoung adalah sekolah terfavorit di kota ini, Hanyoung juga tak semudah itu menerima murid pindahan. Apalagi seperti kau” tandas Suho.

Kai cemberut dengan omongan Suho. “Jika aku tak bisa ke sekolahnya, pindah saja dia ke sekolahku,” celoteh Kai.

“Mooo?” Hyorin kaget.

“Kenapa? Kau tak mau?” tanya Kai ketus.

“Aku terikat beasiswa di Hanyoung.” Terang Hyorin.

Kai semakin cemberut. Ia hanya ingin satu sekolah dengan Hyorin. “Baiklah. Aku juga tak akan bersekolah jika seperti itu,” jawabnya santai.

Presdir menghela nafanya. Ia memandang Kai. “Kai, bisakah kau berjanji pada Appujji, kau akan serius bersekolah kali ini?” tanya Presdir.

“Ne. Jinja.” Jawab Kai pasti untuk meyakinkan Appuji-nya

“Baiklah, Appujji memegang janjimu. Appujji akan mengatur semuanya agar kau bisa sekolah di Hanyoung.” Ucap Presdir pada Kai.

            Flashback end

Akhirnya Kai pindah ke sekolah Hyorin dengan bantuan nama besar Ayahnya. Tak sedikit uang yang dikucurkan ayahnya untuk menyekolahkan Kai di sekolah Hyorin. Tapi Kai menepati janjinya. Kai bersungguh-sungguh bersekolah. Walau bukan ranking 3 besar di kelasnya, nilai Kai juga tak jelek, selalu di atas rata-rata. Sejak SD kelas 5 sampai SMA kelas 11, Kai dan Hyorin selalu satu sekolah. Jika bukan karena kejadian itu, mereka pun bisa terus bersaam hingga lulus SMA bahkan mungkin sampai perguruan tinggi.

Bersambung…

Review part 4 :

“Aku hanya merasa takut…” tutur Kai lirih sambil menundukkan kepala. “jika kau akrab dengan orang lain. Itu mungkin akan membuatmu tak sepenuhnya milikku,” jelas Kai

Itulah kata-kata Kai saat datang menemui Hyorin jam 1 malam di depan rumahnya. Hyorin yang mendengar kalimat itu, menjadi sadar akan sesuatu.

Di sekolah Hyorin kembali berurusan dengan Luhan cs. Dan selalu ada tindakan Hyorin yang membuat Luhan cs hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah wanita cantik itu. Apa itu? Bagaimana kejadian sebenarnya?

 

*Terima kasih sudah baca. Ditunggu komentarnya ya biar author semangat ngelanjutin ceritanya*

26 pemikiran pada “Wolf (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan ke Naya Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s