Love Guarantee (Chapter 1)

Love Guarantee (Chapter 1)

 

Author : RahmTalks

Genre  : Romance, Friendship, Sad

Length : Chapter | Status : On going

Rating  : PG-15

Main Casts : Choi Nayoung | Byun Baekhyun | Do Kyungsoo | Park Kyura

Support Casts : EXO-K members, etc

 

love guarantee cover

===

Love drives us crazy. But it can give comfortable just by its small touch. What does exactly love mean? Love is just love, something that never can be explain. A simple answer but has a big meaning to every single soul. But, just watch out! Love also need a guarantee to keep it real, pure, and happen eternally.

Four love stories, now, past, and future. Will the past ruin everything that just happen now? And can something that just happen now, change the future that has been design in the past?

===

 

TING TONG

Kyungsoo beranjak dari laptopnya dan menuju pintu keluar dan membukanya.

“Nak, sepertinya temanmu terlalu lama menunggumu hingga ia ketiduran. Sudah kubangunkan beberapa kali namun ia tak juga bangun.” Kata seorang tetangga.

“Teman?” Kyungsoo bingung.

“Dia tidur di bangku itu.” ahjumma itu menunjuk bangku yang ada di halaman rumah Kyungsoo yang dekat dengan pagar, dan dapat dilihat seorang gadis tertidur disana.

Ahjumma itu memimpin dan Kyungsoo mengikutinya dari belakang. Begitu melihat wajah gadis itu, ia sama sekali tak mengenalinya.

“Baiklah ahjumma, terima kasih.”

“Baiklah, aku pulang dulu.”

Kyungsoo melihat gadis di depannya dari mulai ujung kaki hingga wajah dan kembali lagi ke bawah. Gadis itu terlihat seumuran dengannya.

‘Apa dia gelandangan?’ pikirnya.

Ia pun kembali masuk ke dalam tanpa mengambil pusing masalah gadis misterius itu.

Jam demi jam terlewat, Kyungsoo menaikkan suhu pemanas ruangannya.

‘Di dalam rumah dengan pemanas ruangan saja masih dingin, apalagi di luar. Eh, apa gelandangan itu masih disana?’ Ia menyibak tirai dan melihat keluar dan gadis itu masih dalam posisi yang sama, tak berubah sedikitpun. Ia mulai khawatir dengan gadis itu karena di luar angin sedang bertiup dengan kencang.

“Sebaiknya kubangunkan dia dan kusuruh pulang.” Desahnya dan ia berlari kecil keluar.

Kyungsoo mengguncang pelan tubuh gadis itu namun sama sekali tak ada tanda-tanda kalau ia akan bangun.

“Hei… Agasshi, bangunlah. Kau tidur di halamanku.” Perkataan Kyungsoo hanya didengar oleh angin. Ia merasakan tubuhnya agak merinding karena angin bertiup dengan sangat kencang.

Ia berfikir cukup lama sembari menatap gadis di hadapannya yang kini wajahnya berubah pucat. Di akhir perdebatan antara otak dan hatinya akhirnya ia memutuskan untuk membawa gadis itu ke dalam.

“Badannya dingin sekali. Aish, merepotkan!”

Ia meletakkan tubuh gadis itu di dalam kamarnya karena selain malas memindahkan pemanas ruang, kamar itu lah satu-satunya kamar yang bersih. Ia menyelimuti gadis itu kemudian mengemasi barang-barangnya dan memindahkannya di meja. Ia berniat akan melanjutkan mengerjakan tugas kuliahnya yang tertunda namun moodnya hilang seketika karena memikirkan sesuatu.

Pagi yang menyejukkan dengan matahari yang bersinar ramah, membuat awal hari bagi seseorang berlangsung dengan sempurna.

Gadis itu perlahan membuka matanya dan segera terbelalak menyadari dirinya berada di ruangan serba putih yang sangat asing baginya.

“Hei! Kau siapa?!” katanya dan membuat seorang pemuda yang tengah membuka jendela hampir melompat kaget.

“Apa yang telah kau lakukan padaku?!” Gadis itu membuat tanda silang di udara di depan dadanya.

“Aku ini orang baik-baik. Singkirkan semua pikiran bodoh yang mungkin terlintas di otakmu.” Lelaki itu melakukan gerakan yang sama dan berlalu keluar.

Bayangan gadis itu menerawang kejadian semalam dimana ia diusir dari rumahnya karena hutang mendiang ayahnya yang tak terlunasi. Ia berjalan terus tanpa arah tujuan, kemudian ia duduk di sebuah bangku dan setelah itu ia tak ingat apa-apa. Ia hidup sebatang kara tanpa ada tempat untuk bersandar. Melewati semuanya dengan keceriaan dan sebuah senyuman sepertinya sudah melekat pada dirinya karena ia tak ingin orang lain memandangnya sebagai gadis yang rapuh dan lemah. Ia menggeleng-gelengkan kepala karena ingatannya tentang masa lalu mulai berputar.

Ia menyibak selimutnya dan mendapati pakaiannya masih lengkap. Setidaknya yang menolongnya adalah orang baik. Pikirnya. Ia jadi malu bertingkah berlebihan di depan lelaki tadi.

Ia keluar dari kamar dan sorot mata tajam dari seorang pemuda, menyerangnya dengan tatapan mengintimidasi. Gadis itu mencoba tersenyum kepada pemuda itu. Ia berjalan mendekatinya berniat mengucapkan terimakasih.

“Kenapa semalam kau tidur di halamanku.” Pemuda itu berkata sinis.

“Selamat pagi. Kau pemilik rumah ini? Terima kasih telah menolongku.” Katanya dengan senyum yang hangat.

“Sekarang kau bisa pergi.” Jawab pemuda itu dingin dengan ekspresi datar.

“Apa aku bisa bertemu orang tuamu dulu? Aku ingin berterimakasih.”

“Orang tuaku tidak disini.” Pemuda itu lanjut mengunyah toast-nya.

“Kau tinggal sendiri?” Gadis itu terkejut dan pemuda itu mengangguk malas.

“Khamsahamnida.” Ia membungkuk dengan sangat sopan seperti yang diajarkan eommanya dulu. Sedetik kemudian ia merasa malu dan tak enak.

‘Berarti dia sendiri yang membawaku?’

“Mengapa kau seenaknya saja tidur di halamanku? Merepotkan saja.”

“Apa iya? Mianhae, aku tak tahu kalau bangku itu berada di halaman rumah. Mungkin karena pagar rumahmu terbuka lebar kukira itu taman.” Kata gadis itu polos.

Pemuda itu memiringkan kepala dan mengernyitkan alisnya lagi. Ia mendapati bahwa ada sesuatu yang tak beres pada gadis di hadapannya. Namun ia urungkan untuk bertannya karena itu bukan urusannya. Sebenarnya ia ingin sekali mengusir gadis itu saat ini juga namun karena adanya ketidak beresan itu, kembali lagi ia mengurungkan niatnya.

“Maaf, apa kau melihat tasku?”

“Masih di luar.”

Gadis itu segera berlari keluar mencari tasnya dan setelah menemukannya di bawah bangku ia memeluknya sambil tersenyum puas. Si pemuda kaget melihat kelakuan gadis itu. Entah sudah berapa kali ia kaget pagi ini.

Sampai di dalam rumah gadis itu membongkar-bongkar tasnya dan tersenyum lebar. Masih lengkap. Batinnya.

‘Jangan-jangan dia orang gila.’

“Mengapa menatapku seperti itu?”

“A… Aniya.”

“Kalau boleh tahu, siapa namamu?”

“K… Kyungsoo imnida.”

“Nayoung. Nayoung Choi imnida.” Gadis itu mengeluarkan senyum yang berasal dari hatinya.

“KYUNGSOO!! Bukakan pagarmu!” seseorang berteriak dari luar pagar.

“Gawat! Kau harus sembunyi!”

“Wae?”

“Sudah lakukan saja!”

“Dimana?” Kyungsoo dan Nayoung panik.

“Masuk ke sana!” Kyungsoo menunjuk sebuah pintu dimana di dalamnya ia menyimpan barang-barang yang sudah tak ia pakai atau lebih tepatnya disebut gudang. Nayoung segera menghilang di balik pintu.

“Aish! Kenapa lama sekali?” kata Baekhyun begitu Kyungsoo keluar.

“Mianhae, aku tak dengar mobilmu datang. Apa kau sudah sarapan?” Kyungsoo membuka pagarnya secara sempurna.

“Belum.”

Kyungsoo hampir saja menawari Baekhyun sarapan seperti biasanya namun tak ia lakukan hari ini, karena mengantisipasi kemungkinan terburuk dengan adanya seorang gadis asing di rumahnya.

“Nanti akan kutraktir di kantin kampus. Tunggu sebentar, aku mau mengambil sesuatu.”

Tanpa Kyungsoo ketahui Baekhyun mengikutinya masuk ke dalam dan duduk di sofa untuk menyalakan TV.

“Pagi ini kau tidak menonton berita apapun?”

“Aku tidak sempat.” Sahut Kyungsoo dari kamarnya.

….

“Ahaha… Ada-ada saja. Hei! Kau harus dengar yang satu ini. Seorang ayah membunuh anaknya karena anaknya lebih memilih menghabiskan waktu dengan pacarnya ketimbang dengan keluarganya. Pertanyaanku, apakah ayah itu menyukai pacar anaknya sehingga ia cemburu? Hahahaha…” Tawa Baekhyun kembali meledak. Kyungsoo yang masih mengemasi barang-barangnya juga tertawa mendengar celotehan Baekhyun.

Baekhyun kembali fokus ke dunianya. Dia memang menyukai acara berita pagi di channel itu kerena selalu menghadirkan berita yang unik. Menurutnya.

“Kajja.” Tepat saat Kyungsoo keluar kamar ia mendapati Baekhyun tertawa hingga mukanya merah.

“Apa lagi yang kau dengar?” Kyungsoo tersenyum heran.

“Kyungsoo, yang satu ini sangat gila. Lebih gila dari yang pernah kau bayangkan.” Baekhyun melanjutkan tawa renyahnya.

“Ceritakan padaku!”

“Mendekatlah.” Suara Baekhyun berubah menjadi serius. Terpaksa Kyungsoo mendekati sahabatnya yang selalu dipertanyakan berasal dari galaksi mana.

“Apa kau pernah mendengar kasus seorang istri yang membunuh suaminya?”

“Tentu saja sering.”

“Dan setelah dibunuh, sang istri memotong organ paling esensial dari sang suami?”

“Hah?”

“Kau tahu apa yang kumaksud.” Baekhyun menyandar pada sofa dan menaikkan kedua alisnya.

Dua detik berlalu dan secara tiba-tiba rumah yang tidak bergitu besar itu dipenuhi oleh tawa kedua namja itu.

“Jinjja. Aku baru mendengar berita sesadis ini namun sekaligus dapat membuatku tertawa. Hahahaha.” Kata Kyungsoo di sela-sela tawanya.

Tanpa seorangpun yang tahu, gadis yang berada di balik pintu malah merasa malu mendengar berita semacam itu.

“Sudahlah. Kajja berangkat! Kelas dimulai jam 9 kan?”

“Ne. Ne…”

Tepat saat Baekhyun berdiri ekor matanya tertuju pada sebuah tas yang berada di pojok sofa yang baru ia sadari keberadaannya.

‘Kenapa Kyungoo menyimpan tas berwarna terang seperti itu? Biasanya juga hitam.’

Kyungsoo menyadari arah pandangan Baekhyun dan ia segera menarik Baekhyun keluar.

“Sepertinya temannya itu sangat lucu.” Gumam Nayoung yang baru keluar dari persembunyiannya.

 

===

 

“Waahh… Kenyang sekali. Annyeong Kyura!!” Baekhyun menyapa Kyura yang sedang duduk membaca sesuatu.

“Annyeong…” Balas Kyura dengan senyum khasnya yang mampu membuat hati Kyungsoo berdegup kencang.

Kyungsoo dan Kyura berteman sejak kecil. Rumah Kyungsoo dan Kyura bersebelahan dan sejak kecil mereka selalu melakukan suatu hal bersama-sama. Apapun mereka lakukan bersama dan bagai tak terpisahkan. Namun keadaan tak lagi menyenangkan saat mereka duduk di kelas 3 SD dimana anak-anak sangat memilih dalam bergaul. Laki-laki dan perempuan dalam satu kelas terbagi menjadi dua kubu yang tak pernah sepaham. Menurut anak-anak perempuan, anak laki-laki itu menjijikkan. Sedangkan di lain pihak, anak laki-laki selalu menggoda anak perempuan karena menganggap mereka lemah. Hal ini juga berdampak bagi Kyura dan Kyungsoo hingga suatu hari Kyungsoo secara sengaja melempar permen karet ke rambut Kyura dan mengejeknya karena belum keramas selama satu minggu. Kyura menangis dan mengadu pada ibunya. Ibu Kyura mengadu ke Ibu Kyungsoo dan Kyungsoo beranggapan bahwa semua orang berpihak pada gadis itu dan menyalahkannya atas semua hal sepele yang terjadi. Ia menjadi benci pada Kyura. Sejak saat itu mereka menganggap satu sama lain sebagai musuh terbesar.

Tahun ajaran baru dimulai dan untuk pertama kalinya mereka memakai seragam SMP. Pemikiran mereka menjadi lebih berkembang dan dewasa. Mereka sadar bahwa mempermasalahkan hal sepele adalah hal yang paling kekanakan yang pernah ada. Jadi mereka memutuskan untuk menjadi sahabat dan Baekhyun yang baru mereka temui saat SMP juga turut bergabung. Namun meskipun sudah berstatus sahabat, selalu ada kejadian pembully-an diantara mereka dimana Kyura yang selalu jadi korban. Menurut mereka Kyura diciptakan untuk jadi bahan pembully-an para namja itu. Meskipun begitu Kyura tak pernah sekalipun membenci mereka.

Persahabatan mereka tetap berlangsung hingga SMA meskipun mereka tidak satu sekolah lagi. Masa-masa SMA merupakan masa yang penuh kenangan bagi mereka, terutama bagi Kyura. Ia pertama kali jatuh cinta sekaligus patah hati di saat yang hampir bersamaan. Dan tentu saja tetangga sekaligus sahabatnya, Kyungsoo, akan selalu menyediakan telinga untuk mendengar keluh kesahnya, mulut untuk memberikan nasihat dan dorongan, juga bahu untuknya bersandar dan menangis di atasnya tiap malam.

Sayangnya hal itu tak lagi mudah didapat oleh Kyura karena orang tuanya memutuskan untuk pindah rumah. Kyura merasa ada sesuatu dalam dirinya yang hilang, begitupun Kyungsoo. Beberapa minggu setelah penghuni baru rumah Kyura tinggal, Kyungsoo mulai merindukan tawa, cerita, bahkan tangis Kyura ketika malam hari. Dirinya tak pernah menyadari dan selalu menolak untuk menyadari bahwa sebenarnya ada suatu kekuatan dalam dirinya yang terikat dengan diri Kyura, sesuatu yang disebut cinta.

“Kau sedang membaca apa?” Baekhyun menyerobot buku Kyura sementara Kyungsoo duduk di belakang Kyura.

“Ya! Baekhyun, turunkan! Itu sedang seru!”

“Eternal Love.” Baekhyun menutup mulutnya setelah membaca judul di kover buku itu.

“Kenapa wajahmu begitu?” Kyura kesal.

“Aku. Tidak. Percaya.”

“Apa?”

“Sejak kapan kau menyukai buku semacam itu? Ha? Yang cocok untukmu itu semacam komik Doraemon, Sailor Moon, Pokemon… Detective Conan juga sepertinya layak untuk kau baca.” Kata Baekhyun sambil tertawa meledek.

“Apa-apaan kau ini! Kita sudah dewasa mengerti? Aku sudah bukan anak kecil lagi!” Kyura menyahut novelnya di tangan Baekhyun.

“Kau pikir menangis hingga seminggu setelah diputuskan kekasih bukan anak kecil?” Baekhyun hendak mengeluarkan makian lagi namun diselak oleh Kyungsoo.

“Berhentilah mengganggunya, Baekhyun.”

“Nah… Kau dengar sendiri kan? Hidupku saja sudah cukup menderita, apalagi ditambah dengan kehadiranmu.” Kata Kyura sambil menjulurkan lidah pada Baekhyun.

“Tapi kalian bahagia kan mempunyai sahabat setampan, sepopuler, dan semenyenangkan aku? Buktinya kalian betah terus bergaul denganku.” Kyungsoo menoleh ke arah lain sementara Kyura melirik malas.

“Sonsaengnim datang. Sonsaengnim datang!” Para yeoja yang menggosip di luar segera masuk ke dalam kelas –Saat mereka bubar berarti ada sesuatu yang terjadi, misalnya ada dosen datang- dan Baekhyun memutar untuk dapat duduk di sebelah Kyungsoo. Tepat di saat itu Kyura menoleh ke arahnya dan memberikan tatapan –Terima kasih-  yang membuat jantungnya berhenti untuk sejenak.

 

===

 

“Apa nanti malam kalian ada acara?” tanya Kyura sambil meneguk sodanya.

“Memangnya kau mau mengajak kami kemana?” Baekhyun balik bertanya.

“Sekedar jalan-jalan dan makan malam. Aku bosan sendirian di rumah.”

“Yah… Mianhae, aku ada kencan dengan Sujin.” Sesal Baekhyun.

Kini Kyura menatap Kyungsoo penuh harap dan tentu ia tak bisa mengabaikan tatapan itu. “Kujemput jam 7.”

“Gomawo Kyungsoo-ya…” Kyura memeluk lengan Kyungsoo yang menyebabkan gerakan refleks bagai hentakan dalam diri Kyungsoo. Namun tak ada yang menyadarinya karena ia masih terlihat tenang di luar.

“Sepertinya ada yang memperhatikanmu.” Kata Kyura pada Baekhyun.

“Yah aku tahu aku tampan. Inilah resiko menjadi orang tampan yang selalu diperebutkan oleh wanita. Menyusahkan bukan?” Baekhyun bertanya pada Kyungsoo yang hanya ditanggapi dengan anggukan –Iya terserah apa katamu. Aku bosan mendengarnya tiap hari- dari Kyungsoo. Sementara Kyura lagi-lagi melirik malas.

“Kurasa aku harus pergi sekarang. Annyeong.” Kata Baekhyun kemudian berjalan dengan gembira menghampiri Sujin seperti anak kecil menghampiri penjual balon.

“Dia terlalu memanjakan gadis itu.” kata Kyura sinis.

“Wajar saja. Mereka kan berpacaran.”

“Aku hanya khawatir, apa Baekhyun benar-benar mencintainya dan sudah melupakan Eunji?”

“Sebaiknya kita tak pernah menyebut nama itu lagi. Itu hanya sebagian masa lalu dari Baekhyun. Sekarang ia sudah mulai bangkit jadi tidak seharusnya kita mengacaukannya.”

“Aku bahkan belum pernah bertemu dengan Eunji.”

“Kau pikir aku pernah? Baekhyun hanya sekedar bercerita padaku tentang seorang gadis sederhana bernama Eunji yang tinggal tepat di depan rumahnya namun entah sejak kapan ia berhasil mendapatkan hati seorang Byun Baekhyun. Mereka berpacaran dan siapapun yang melihat pasti beranggapan bahwa nantinya hubungan mereka akan berakhir bahagia di pelaminan.”

“Tapi bisa saja sampai sekarang Baekhyun terus berharap dapat menemukannya. Ia masih yakin bahwa Eunji belum meninggal.”

“Sayangnya aku juga berharap begitu, namun bagaimana dengan Sujin?”

“Jika dilihat dari mata keduanya, mengapa seolah aku melihat bahwa mereka tidak saling mencintai.” Bisik Kyura.

“Mereka berdua dijodohkan. Awalnya mungkin tidak saling mencintai, namun kurasa setelah dua tahun berpacaran, mana mungkin keduanya tidak saling mencintai. Apalagi mereka sering kencan.”

“Maksudku… Mungkin…” Kyura menggantungkan kalimatnya.

“Apa?” Kyungsoo penasaran.

“Mungkin saja kan, mereka hanya pura-pura di depan satu sama lain.”

“Mana mungkin? Lalu jika mereka tidak saling mencintai untuk apa mereka berkencan hampir setiap hari.”

“Molla. Itu hanya tebakan randomku.”

“Ada apa dengan jalan pikirmu? Mengapa tiba-tiba membahas ini, huh?”

“Wajah gadis itu semakin hari terlihat semakin mengesalkan. Matanya seolah malas melihat Baekhyun dan senyumnya adalah senyum yang dibuat-buat. Namun kakinya seperti tak bisa menahannya untuk mengikuti kemanapun Baekhyun pergi.” Ungkap Kyura kesal.

Kyungsoo terkekeh, “Apa kau cemburu? Mengapa kau terlihat sangat membenci Sujin, huh?”

“Ani! Untuk apa aku cemburu terhadap Bacon.”

“Lalu? Apa arti ucapanmu tadi.”

“Aku hanya khawatir padanya!”

“Arraseo. Akan kuadukan pada Baekhyun kalau kau tak setuju dengan hubungan mereka.” Katanya sambil terus menatap layar handphone dengan ekspresi yang masih datar seperti semula.

“Ya! Apa maksudmu Do Kyungsoo! Kau pikir aku siapa, diantara mereka?”

“Kau tak mengerti? Aigoo… Pantas saja nilaimu tak pernah bisa melebihiku.”

Kyura mulai menyerang bahu Kyungsoo dengan novel yang ia baca sedangkan Kyungsoo diam-diam ujung bibirnya terangkat sangat sedikit membentuk senyum dalam mengarungi penderitaannya itu.

“Hei hei! Aku yakin kau tak akan sanggup membayar biaya rumah sakit jika aku cidera karena pukulan liarmu ini.” Kyungsoo meraih pergelangan tangan Kyura berusaha menghentikan serangan liar darinya.

“Sssttt!! Apa otakmu sedang terganggu hingga tak sadar bahwa kita sedang menjadi objek perhatian dari semua orang?” Kyura menoleh ke segala penjuru kantin dan menunduk meminta maaf. Ia kembali menoleh ke sebelahnya dan manusia yang tadinya duduk disana kini telah lenyap.

“Kita selesaikan permainan yang kau mulai, Do Kyungsoo!!” Dengan lincah Kyura menyahut tasnya dan mengejar Kyungsoo yang kini berlari menjauh hingga hampir tak terlihat.

Mereka berhenti di sebuah taman tak jauh dari kampus pusat untuk mengambil nafas.

“Kau boleh juga.” kata Kyungsoo dengan nafas menderu.

“Payah!” Kyura menjentikkan jari dan berjalan tegak berusaha terlihat tetap cool seolah tak merasa lelah, padahal sendi-sendi kakinya serasa mau lepas. Kemudian duduk dan mengambil botol minuman yang ada di tasnya untuk meneguk setengah isinya.

“Aku juga mau.” Kyungsoo menyerobot botol itu dan meminum semuanya dalam sekali teguk. Kyura berusaha melarangnya namun terlambat karena bibir Kyungsoo sudah terlanjur menempel pada ujung botol itu.

Andwae! Aku terlambat! Dalam novel itu Shinyeong merampas botol itu lagi dari tangan Jungho karena ia tak mau berciuman secara tidak langsung dengannya. Ternyata gerakan refleks-ku harus dilatih lebih keras lagi. Pikir Kyura. Namun tanpa bisa ia hindari, pipinya terlanjur bersemu merah.

“Kenapa dengan wajah itu? Kau tidak ikhlas? Ini aku kembalikan.” Kyungsoo dengan cuek memberikan botol kosong pada Kyura dan merebahkan diri di atas rumput.

Kyura kesal dan membuang botol itu ke tanah. “Jangan membuang sampah sembarangan. Ambil!” Perintah Kyungsoo namun Kyura malah meninggalkannya sendirian. Kyungsoo hanya tersenyum melihat kepergian Kyura.

Kenapa kau tak pernah berhenti untuk terlihat menggemaskan di mataku? Batin Kyungsoo.

 

===

 

“Kenapa kau masih disini?” tanya Kyungsoo kaget. Nayoung yang baru memasak menoleh ke belakang.

“Apa kau lupa? Tadi pagi kau mengunci pintunya.”

“Ah… Eum. Aku hanya menghindari kemungkinan kau kabur membawa barang-barangku.” Kata Kyungsoo asal kemudian dia duduk di meja makan.

“Apa mukaku ada bakat untuk melakukan tindak kriminal?” Nayoung tidak terima.

“Mungkin. Who knows?” Kyungsoo menyunggingkan senyum meremehkan. “Kapan kau pergi?” tanya Kyungsoo dingin sambil meneguk segelas air.

Nayoung diam dan beberapa detik kemudian baru mengeluarkan suara. “Apa aku boleh tinggal di sini?” ucapnya pelan sekali. Mata Kyungsoo terbelalak dan iapun tersedak. Nayoung hanya menatapnya prihatin sekaligus takut terhadap jawabannya nanti.

“Tidak bisa!” Kata Kyungsoo setelah lama terbatuk.

“Jebal. Tolong bantu aku. Aku mau menjadi pembantumu meskipun tanpa dibayar dan makan sehari hanya sekali.”

“Tidak. Jika orang tuamu mencarimu, bisa-bisa aku dikira penculik dan dituntut di pengadilan.”

“Itu tidak akan terjadi. Aku tidak punya orang tua.” Nayoung memohon sedangkan Kyungsoo hanya tertegun. Nayoung mengucapkan itu dengan datar tanpa terlihat sedih. Mungkinkah ia sudah lama ditinggal pergi kedua orang tuannya sehingga sudah terbiasa? Atau mungkin aku yang terlalu tidak peka terhadap perasaan perempuan? Batin Kyungsoo.

“Bagaimana jika kakakmu, adikmu, dan keluarga yang lain mencarimu?”

“Aku… Aku tak mempunyai siapa-siapa lagi. Tolong, terimalah aku bekerja disini. Aku hanya butuh tempat untuk bernaung.”

“Jadi kau tak punya rumah?”

“Tidak lagi.” Katanya sambil menunduk.

Kyungsoo menyadari perubahan dari tatapan mata Nayoung dan pada akhirnya ia menerima Nayoung bekerja menjadi pembantunya. Sebenarnya ia ragu, namun ia segera menepis semuanya dan berniat menolongnya.

“Baiklah.” Kata Kyungsoo sambil menuju ke kamar. Nayoung mendongakkan kepalanya dan tersenyum lebar, membuat wajahnya berubah seperti anak kecil yang baru mendapat permen.

“Gomawo.” Katanya semangat dan ia segera melanjutkan memasak.

TOK TOK TOK

“Kyungsoo-ssi. Sebaiknya kau makan malam dulu.” Ini sudah yang kesekian kalinya Nayoung mengetuk pintu kamar itu namun tetap tak ada jawaban. Merasa khawatir akhirnya ia masuk ke dalam kamar yang rupanya tidak dikunci.

“Kau harus makan dulu sebelum tidur. Dan sebaiknya kau juga mandi dulu.” Ia berkata di sebelah ranjang Kyungsoo yang nampak tertidur dengan pulas.

“Mungkin ia terlalu lelah.” Ekor mata Nayoung menangkap ruangan itu agak berantakan jadi ia memutuskan untuk membereskannya –ia ingin melakukan tugasnya sebagai pembantu dengan baik.

Mendengar suara di dekatnya membuat Kyungsoo sedikit terusik dan sesaat kemudian ia membuka matanya dan melihat Nayoung sedang membereskan mejanya. Ia mengabaikan gadis itu dan ingin melanjutkan tidurnya. Ia membalik posisinya dan secara tiba-tiba matanya terbelalak lebar. Ia segera mencari ponselnya.

“Kenapa tidak membangunkanku dari tadi?!” Mendengar teriakan tiba-tiba dari Kyungsoo membuat Nayoung kaget dan menjatuhkan beberapa buku yang ia tata.

“Aku sudah membangunkanmu puluhan kali.” Jawab Nayoung polos.

“Arrgghh!!” Kyungsoo segera beranjak dan pergi ke kamar mandi sementara Nayoung menatapnya bingung.

 

===

 

Berkali-kali Kyungsoo menelpon Kyura namun tak ada jawaban, sementara Kyura sudah tidak ada di rumah. Akhirnya ia menuju ke Restoran tempat biasa mereka bertiga berkumpul karena menurut instingnya Kyura sedang berada di sana.

Setibanya disana, ia juga tidak melihat Kyura. Ini sudah lewat satu setengah jam dari jam yang sudah ia tentukan sendiri. Kembali ia menelpon Kyura dan kali ini diangkat olehnya.

“Yeob…”

“Aku di Namsan tower. Kemarilah.” Kyura memotong perkataan Kyungsoo dan langsung menutup telfonnya.

Kyungsoo lega akhirnya ia tahu dimana Kyura berada namun setelah itu ia khawatir, pasti Kyura akan marah besar padanya.

Kyura berdiri di membelakangi Kyungsoo, ia satu-satunya yang sendirian diantara beberapa pasangan lain yang juga menikmati malam disana. Ia sedang sibuk melihat nama-nama yang ada di setiap gemboknya dan begitu menyadari ada langkah kaki yang mendekat ia menoleh, mendapati Kyungsoo dengan wajah pucatnya.

“Kau berlari?” Tanya Kyura tidak percaya.

“Ne. Mianhae…” Kyungsoo mengambil nafas sebanyak-banyaknya.

“Kenapa kau buru-buru sekali?” Kyura duduk di sebuah bangku dan Kyungsoo mengikutinya.

“Mianhae. Tadi aku ketiduran. Maaf telah mengecewakanmu.”

“Gwaenchana. Aku tidak kecewa sama sekali.” Kyura tersenyum santai.

“Kau tidak marah?” Kyungsoo kaget.

“Ani.” Kyura mengambil tissue dari dalam tasnya dan mengusap dahi Kyungsoo yang berkeringat.

“Gara-gara aku kau sampai berlari malam-malam begini.” Kata Kyura yang seolah tidak menyadari perubahan ekspresi dari Kyungsoo karena perlakuannya yang tiba-tiba. Kyungsoo sadar dan meraih tissue pada dari genggaman Kyura, “Aku bisa sendiri.” Katanya sambil menatap wajah Kyura namun tak berani melihat matanya.

Kyura mengalihkan pandangannya melihat ke langit dimana hanya ada sedikit bintang dan bulan sabit.

 

===

 

Kyura’s POV

Diam-diam aku mengamati pasangan-pasangan lain yang juga ada disini. Mereka terlihat sangat manis. Apa kalian tahu? Aku iri, sangat iri kepada mereka. Selama 21 tahun hidup aku baru sekali berpacaran, itupun saat SMA. Aku masih menunggu, menunggu seseorang untuk menyatakan perasaannya padaku, dan aku harap ia adalah namja yang kini ada di sebelahku.

Sudah sejak lama aku menyukainya dan entah apa yang ada di pikiranku sehingga aku bisa menyukai namja ini. Maksudku, dia sangat tidak peka, tidak seru, dan cuek terhadap wanita. Tapi dibalik sifatnya yang dingin di luar, ia adalah seorang yang sangat baik di dalam. Sejak dulu aku selalu berharap perasaanku ini bisa terbalas, namun sampai sekarang sepertinya aku harus memendam perasaan ini sendirian dan mungkin untuk selama-lamanya.

Namun dibalik itu aku juga selalu bertanya-tanya, bagaimana perasaannya padaku? Ia menganggapku sebagai apa? Satu-satunya yeoja –yang kuketahui- yang ia perlakukan dengan baik hanyalah aku. Aku merasakan hal itu, dengan sangat jelas. Namun mengingat kami berteman sejak kecil bahkan bisa dibilang kami tumbuh bersama, sudah cukup bagiku untuk menjawab semuanya.

Keheningan ini… Arrghh! Aku tidak pernah tahan berada di situasi seperti ini. Ayolah, kenapa ia tidak bertanya kenapa aku kesini, bagaimana aku kesini, dan sebagainya.

“Lama sekali kan kita tidak kesini.” Ucapnya tiba-tiba. Aku langsung menatapnya karena terkejut.

“A… Aniya. Aku tidak bermaksud apa-apa.” Katanya. Rupanya ia mengartikan lain pandanganku tadi. Mungkin ia kira aku menatapnya begitu karena ia pikir telah membuatku ingat pada namjachinguku yang dulu.

Dulu setiap malam aku bercerita kepadanya tentang namjachinguku itu. Bahkan aku memamerkan gembok cinta kami padanya juga Baekhyun. Sungguh kenangan yang ironis karena tak beberapa lama kemudian namja itu meninggalkanku tanpa alasan yang jelas. Pada malam harinya ia menemaniku melepas kunci gembok itu dan aku segera melempar gembok itu ke udara, ia mencegahku namun terlambat.

“Bagaimana bisa kau melakukannya?” katanya panik pada saat itu.

“Waeyo?” Aku terisak keras.

“Gembok itu bisa mengenai kepala seseorang.” Ia mengguncang bahuku. Aku bahkan tak memikirkan hal itu. Kemudian aku tertawa, karena dia. Dia selalu ada untukku dan selalu membuatku tertawa di kala sedih. Namun kadang juga sangat sangat menjengkelkan hingga membuat hari baikku menjadi buruk.

Aku tahu datang kesini merupakan ide yang buruk karena bayangan namja itu langsung muncul begitu saja di hadapanku. Namun selama ada Kyungsoo disini tak masalah bagiku, karena hanya dia yang mampu mengubah pandanganku tentang tempat yang dulunya kuanggap terkutuk ini.

“Kau… Tidak gila kan? Mengapa kau tersenyum, padahal…” Ia menatapku bingung.

“Ah… Gwaenchana. Hanya teringat sesuatu yang menyenangkan.”

“Menyenangkan?” Ia bergumam dengan tatapan bingung. Ini ekspresi yang paling kusukai darinya. Melihatnya dalam kebingungan.

“Sudah, jangan berfikir terlalu keras. Kepalamu bisa botak.” Aku terkekeh dan ia memasang death glarenya.

Aku segera beranjak mendekati pagar dan melihat ke bawah untuk menghindarinya. “Kemarilah.” Ia menurut.

“Apa kau lihat lampu itu? Yang berwarna merah.”

“Ne. Bukankah itu Restoran tempat biasa kita berkumpul? Sangat besar dan berbeda dari yang lain hingga terlihat sampai disini.”

“Tepat sekali. Tadi aku melihatmu berlari kecil masuk ke sana dan sesaat kemudian berlari lagi keluar sebelum akhinya masuk ke mobil.”

Ia bingung. Tentu saja. Aku sendiri bingung apa yang kubicarakan.

“Ya! Kau menggodaku, hah? Mana mungkin terlihat sampai disini. Lampu itu saja hanya terlihat sebagai noktah kecil.” Dia mencubit pipiku.

“Appo.” Aku mengelus pipiku yang masih berharga.

“Jeongmal? Mian. Mian. Mwo? Lihat, pipimu berdarah!” ia memasang muka panik. Aku meraba lagi pipiku dan kemudian ia mundur secara perlahan. Aku memasang death glare dan ia berlari mendahuluiku.

“Awas kau Do Kyungsoo!!” aku berlari mengejarnya.

 

===

 

To be Continued

 

===

 

 

Chapter pertama emang ngebosenin, saya akui karena belum kelihatan konfliknya. Mian untuk segala typo. Thanks for reading.

Iklan

19 pemikiran pada “Love Guarantee (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s